Dr. H. Moh Hatta

Moh Hatta bwMohammad Hatta dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada tanggal 12 Agustus 1902. Ia menyelesaikan pendidikan di Europese Lagere School (ELS; setingkat Sekolah Dasar) di Bukittinggi dan Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO; setingkat Sekolah Menengah Pertama) di Padang. Sesudah itu ia memasuki Handels Middelbare School (Sekolah Menengah Ekonomi) di Jakarta. Tamat dari sekolah ini, pada tahun 1921 ia berangkat ke negeri Belanda untuk mengikuti kuliah di Handels Hogere School (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam. Semula ia memilih jurusan ekonomi perdagangan, kemudian pindah ke jurusan ekonomi kenegaraan. Akibat perpindahan jurusan dan kegiatan dalam Perhimpunan Indonesia (PI), Hatta terlambat menyelesaikan kuliah. Barulah pada tahun 1932 ia memperoleh gelar sarjana ekonomi.
Ketika masih sekolah di MULO, Hatta sudah aktif dalam organisasi Jong Sumateranen Bond (JSB) cabang Padang. Di Jakarta, ia diangkat sebagai bendahara JSB Pusat sekaligus mengurus penerbitan majalah Jong Sumatera. Kegiatan dalam organisasi dilanjutkan Hatta di negeri Belanda dalam Indische Vereniging (kemudian berganti nama menjadi Indonesische Vereniging dan akhirnya Perhimpunan Indonesia). Dari kedudukan sebagai anggota biasa, ia dipercayai menjadi bendahara merangkap anggota dewan redaksi majalah Hindia Putera (kemudian menjadi Indonesia Merdeka), dan akhirnya selama empat tahun berturut-turut (1926 – 1930) menjadi ketua Perhimpunan Indonesia (PI).
Perjuangan politik menentang penjajahan Belanda dimulai Hatta melalui PI. Sebagai ketua PI, ia menggariskan haluan politik PI, yakni nonkooperasi dan mencanangkan semboyan “ Indonesia merdeka sekarang juga ”. Diluar PI, Hatta juga aktif dalam organisasi yang bertujuan untuk menghapuskan penjajahan, seperti Liga menentang kolonialisme. Dalam kongres Liga di Brussel, ia menguraikan perjuangan bangsa Indonesia melepaskan diri dari penjajahan Belanda.
Pada akhir tahun 1926 dan awal 1927 di beberapa tempat di Indonesia meletus pemberontakan yang digerakkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemberontakan ini dengan mudah ditumpas pemerintah dan PKI dibubarkan. Samaun, salah seorang tokoh PKI, melarikan diri ke luar negeri. Di negeri Belanda, ia mengadakan perundingan dengan Hatta yang akhirnya melahirkan Konvensi Samaun – Hatta. Isinya yang utama ialah, PKI akan menyerahkan semua miliknya kepada partai nasional yang akan didirikan oleh Hatta. Akibat konvensi ini, Pemerintah Belanda menuduh Hatta sudah menjadi komunis dan menyiapkan pemberontakan melawan Pemerintah. Berdasarkan tuduhan itu, ditambah dengan kritik-kritiknya yang tajam terhadap Pemerintah dalam beberapa tulisannya di majalah Indonesia Merdeka, pada tanggal 25 September 1927 ia ditangkap dan dipenjarakan. Tokoh PI lainnya yang juga dipenjarakan ialah Datuk Pamuneak, Ali Sastroamijoyo, dan Abdul Majid Joyodiningrat.
Selama lima bulan Hatta dan kawan-kawannya meringkuk dalam penjara. Mereka kemudian diadili. Dalam sidang pengadilan (22 Maret 1928) Hatta membacakan pembelaannya yang berjudul “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka). Dalam pembelaan itu ia mengupas praktik-praktik kolonial yang dijalankan Belanda di Indonesia. Tentang PI dikatakannya bahwa PI memang berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, akan tetapi perjuangan itu dilakukan melalui saluran politik, bukan dengan kekerasan. Pengadilan tidak dapat membuktikan kesalahan Hatta dan kawan-kawannya, sehingga mereka dibebaskan.
Pada akhir tahun 1929, Ir. Sukarno, ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) ditangkap Pemerintah dan dipenjarakan dengan tuduhan menghasut rakyat untuk memberontak. Mr. Sartono, ketua muda PNI, membubarkan partai dan mendirikan partai baru, yakni Partindo. Tindakan Sartono tidak disetujui sebagian anggota PNI. Mereka menamakan diri “Golongan Merdeka”. Berdasarkan saran Hatta, Golongan Merdeka mendirikan partai baru, Yakni Pendidikan Nasional Indonesia yang lebih dikenal sebagai PNI baru. Seperti PNI (lama) dan Partindo, PNI baru juga berhaluan nonkooperasi.
Untuk memperkuat PNI baru, Hatta meminta Syahrir pulang lebih dulu ke Indonesia. Hatta sendiri baru kembali pada tahun 1932. Ia meletakkan dasar perjuangan bagi PNI – baru. Intinya adalah, mendidik rakyat dalam hal-hal politik dan sosial dengan memperhatikan asas-asas kedaulatan rakyat.
Pada tahun 1930-an Pemerintah Belanda menjalankan politik represif. Partai-partai politik, baik yang berhaluan nonkooperasi maupun kooperasi, dibungkam dengan dikeluarkannya Vergader Verbod (larangan mengadakan rapat). tokoh-tokoh pergerakan nasional ditangkap. Sukarno yang sudah dibebaskan pada akhir 1931 dan langsung memimpin Partindo, ditangkap kembali pada Juli 1933. Hatta dan Syahrir serta beberapa tokoh PNI baru lainnya ditangkap pada bulan Februari 1934. Setelah mendekam dalam penjara selama hampir satu tahun, pada awal tahun 1935 Hatta dan kawan-kawannya dibuang ke Digul, Irian. Hatta dan Syahrir kemudian dipindahkan ke Banda Naira. Pada bulan Februari 1942, kurang lebih satu bulan sebelum Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, keduanya dipindahkan ke Sukabumi, Jawa Barat. Sesudah Jepang berkuasa, mereka dibebaskan.
Walaupun membenci fasisme, Hatta tidak mungkin menolak sama sekali tawaran Jepang. Ia bekerja sebagai penasihat Pemerintah pendudukan Jepang. Dalam jabatan ini ia berusaha mencegah diberlakukannya peraturan-peraturan yang dapat melukai perasaan rakyat, baik yang bersifat agama maupun norma-norma sosial. Pada tahun 1943 Pemerintah pendudukan Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Hatta diangkat sebagai salah seorang pemimpin Putera di samping Sukarno, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansur. Badan yang dibentuk Jepang untuk kepentingan perang itu, mereka manfaatkan untuk tetap menghidupkan semangat Nasionalisme di kalangan rakyat. Jepang yang mengetahui siasat ini, akhirnya membubarkan Putera dan membentuk badan baru, yakni Jawa Hokakai yang langsung dipimpin oleh orang Jepang.
Situasi perang yang semakin tidak menguntungkan, memaksa Jepang memberikan konsesi kepada daerah-daerah pendudukannya. Pada tanggal 7 September 1944 Perdana Menteri Koiso mengucapkan janji bahwa Indonesia akan diberi kemerdekaan. Sehubungan dengan janji itu, pada bulan Mei 1945 dibentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia; BPUPKI). Dalam BPUPKI ini Hatta duduk sebagai anggota panitia kecil yang bertugas menyusun undang-undang dasar.
Setelah tugas-tugas BPUPKI selesai, badan ini dibubarkan dan dibentuk badan baru, yakni Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sukarno diangkat sebagai ketua dan Hatta sebagai wakil ketua. Pada tanggal 9 Agustus 1945, dua hari setelah PPKI dibentuk, Sukarno, Hatta, dan dr. Rajiman Wediodiningrat (bekas ketua BPUPKI) berangkat ke Dalat, Vietnam, menemui Jenderal Terauchi, Panglima Angkatan Perang Jepang di seluruh Asia Tenggara. Terauchi mengatakan bahwa kemerdekaan sudah dapat diumumkan bila persiapan sudah matang.
Waktu mereka tiba kembali di Jakarta, Jepang sudah menyerah kepada sekutu. Para pemuda yang sudah mengetahui berita itu mendesak Sukarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Sukarno, dan juga Hatta, menolak. Mereka ingin mengadakan rapat dengan PPKI terlebih dulu. Akibat penolakan itu, dinihari tanggal 16 Agustus mereka dibawa oleh para pemuda ke Rengasdengklok, dekat Karawang. namun para pemuda tetap tidak berhasil mendesak Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan di tempat itu. Sehabis Maghrib, atas usaha Ahmad Subarjo, mereka kembali ke Jakarta. Malam itu juga diadakan rapat dengan anggota PPKI yang juga dihadiri oleh wakil-wakil pemuda, di rumah Laksamana Muda Maeda yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Teks proklamasi pun disusun oleh Sukarno, Hatta, dan Ahmad Subarjo. Tepat pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945 teks proklamasi itu dibacakan oleh Sukarno didampingi oleh Hatta di jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Esoknya, 18 Agustus 1945, sidang PPKI secara aklamasi memilih Sukarno dan Hatta masing-masing sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI). Jabatan sebagai wakil presiden dipangku Hatta sampai ia mengundurkan diri tanggal 1 Desember 1956, diselingi oleh periode singkat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (RIS) dari Desember 1949 sampai Agustus 1950. Dalam memegang jabatan sebagai wakil presiden, Hatta pernah pula merangkap jabatan sebagai perdana menteri dan sekaligus menteri pertahanan (Januari 1948 sampai Desember 1949).
Dengan proklamasi kemerdekaan, mulailah periode baru dalam perjuangan bangsa Indonesia, bukan lagi merebut kemerdekaan, tetapi mempertahankan kemerdekaan, khususnya menghadapi Belanda yang masih berusaha untuk menguasai kembali Indonesia. Untuk menghadapi Belanda, Pemerintah RI menempuh jalan diplomasi. Pada bulan Maret 1947 ditandatangani Perjanjian Linggarjati. Untuk menggalang kekuatan di Sumatera, pada bulan Juli 1947 Hatta berkunjung ke Bukittinggi. Dari sini ia berangkat ke India menemui Gandhi dan Nehru dalam rangka mencari dukungan politik. Pada waktu pulang dari India, Belanda sudah melancarkan agresi militer. Selama agresi militer itu dan beberapa bulan sesudahnya, Hatta berkedudukan di Bukittinggi.
Sementera itu, kabinet Amir Syarifuddin jatuh akibat diterimanya persetujuan Renville (17 Januari 1948). Hatta kembali ke Yogya untuk membentuk kabinet baru. Pada akhir Januari 1948 terbentuk kabinet Presidensial dengan Hatta sebagai perdana menteri merangkap menteri pertahanan. Salah satu program kabinetnya ialah melanjutkan perundingan dengan Belanda atas dasar Renville.Sementara itu, kabinetnya juga dirongrong oleh golongan kiri yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) pimpinan Amir Syarifuddin. Mereka menuntut agar persetujuan Renville dibatalkan, padahal persetujuan dibuat ketika Amir menjadi perdana menteri. Program lain yang dijalankan kabinet Hatta ialah reorganisasi dan rasionalisasi angkatan perang. Pengurangan jumlah anggota angkatan perang dirasa perlu untuk menghemat pembiayaan. Anggota-anggota yang terkena rasionalisasi disalurkan ke bidang-bidang pekerjaan yang produktif.
Perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan Komisi Tiga Negara (KTN) yang dibentuk oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PPB), tidak berjalan dengan lancar. Sebenarnya, Hatta banyak mengalah mengikuti kemauan Belanda. Ia bersedia mengakui kekuasaan Belanda dalam pemerintahan sementara (interim) sebelum terbentuknya negara Indonesia Serikat. Akan tetapi, ia bersikukuh mempertahankan eksistensi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pemerintahan sementara. Sebaliknya, Belanda menuntut agar TNI dibubarkan dan hanya mereka yang lulus dalam seleksi yang akan diterima dalam angkatan perang pemerintahan sementara. Akibatnya, perundingan buntu sama sekali.
Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi militer untuk kedua kalinya. Ibu kota RI, Yogyakarta, mereka duduki pada hari itu juga. Sebelumnya, kabinet masih sempat bersidang. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pimpinan negara tidak akan meninggalkan ibu kota. Dengan cara itu mereka masih akan dapat berhubungan dengan KTN dan melalui badan ini membuka kembali perundingan dengan Belanda. Akibatnya, mereka ditawan Belanda dan diasingkan ke luar Jawa. Hatta dan beberapa menteri diasingkan di Bangka, sedangkan Presiden Sukarno dan Syahrir di Prapat, Sumatera Utara, namun kemudian dipindahkan ke Bangka.
Resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB dan aksi-aksi gerilya TNI yang semakin meningkat, memaksa Belanda untuk membuka perundingan kembali dengan RI. Perundingan ini United Nations Commissiion for Indonesia (UNCI), sebuah badan yang dibentuk oleh PBB sebagai pengganti KTN diawasi oleh yang akhirnya melahirkan pernyataan Roem-Roijen (7 Mei 1949). Intinya adalah, pemimpin-pemimpin RI yang ditawan Belanda akan dibebaskan dan selanjutnya akan diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB). Pada tanggal 6 Juli 1949 Presiden Sukarno, wakil Presiden Hatta dan lain-lain kembali ke Yogya.
Sesuai dengan isi pernyataan Roem-Roijen, pada pertengahan Agustus 1949 Hatta berangkat ke Negeri Belanda memimpin delegasi RI untuk menghadapi Belanda dalam KMB. Salah satu keputusan KMB ialah pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri atas RI dan negara-negara federal yang dibentuk oleh Belanda. Pada tanggal 20 Desember 1949 Sukarno diangkat menjadi Presiden RIS, sedangkan Hatta sebagai Perdana Menteri. Dalam kedudukan sebagai Perdana Menteri RIS, Hatta menandatangani naskah “Pengakuan Kedaulatan” oleh Belanda terhadap Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949 di Amsterdam.
RIS tidak berlangsung lama. Pada tanggal 17 Agustus 1950 RIS dilikuidasi dan Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan. Hatta pun kembali memegang jabatan sebagai wakil Presiden. Pada tanggal 1 Desember 1956 Hatta mengundurkan diri. Akan tetapi, ia tetap menyampaikan saran-saran untuk mengatasi berbagai kemelut yang menimpa negara dan bangsa. Ia ikut dalam Musyawarah Nasional dan Musyawarah Nasional Pembangunan yang diadakan dalam rangka meredakan hubungan yang tegang antara Pemerintah pusat dan beberapa daerah. Hatta juga mengadakan “koreksi” terhadap tindakan-tindakan Presiden Sukarno yang dinilainya menjurus ke arah diktator. Koreksi itu disampaikan dalam tulisan berjudul “Demokrasi Kita”.
Dalam masa orde baru, Hatta berusaha mendirikan partai Islam, tetapi gagal. Ia kemudian mendapat kepercayaan dari Pemerintah untuk membentuk sebuah panitia (dikenal sebagai panitia lima) dengan tugas membahas masalah Pancasila.
Dr. Muhammad Hatta yang lebih dikenal dengan sapaan Bung Hatta meninggal dunia pada tanggal 14 Maret 1980. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Tanah Kusir, Jakarta, sesuai dengan amanatnya untuk dikuburkan di tengah-tengah rakyat. Pada tahun 1986 Pemerintah RI menganugerahi Hatta gelar Pahlawan Proklamator (Surat Keputusan Presiden RI No.081/TK/Tahun 1986 tanggal 23 Oktober 1986).

Dr. Ir. Soekarno

Ir Soekarno bwDia dikenal sebagai seorang Maha Pecinta, karena ia mencintai negerinya, ia mencintai rakyatnya, ia mencintai seni, ia mencintai wanita, dan lebih dari segalanya ia mencintai dirinya. Dia sering pula disebut sebagai seorang manusia perasaan dan putra sang fajar. Dialah Soekarno.
Soekarno seorang putra Indonesia yang besar, karena dia lah yang bersama-sama Bung Hatta telah mengambil keputusan paling bersejarah, mengumandangkan Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus” 1945. Dengan Proklamasi Kemerdekaan itulah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, terangkat derajat dan martabatnya di mata bangsa-bangsa di dunia.
Tanpa Proklamasi Kemerdekaan itu kita mungkin tetap menjadi bangsa yang hina dan terbelakang. Dan dengan Proklamasi Kemerdekaan itu pulalah kita sekarang telah berdiri tegak dan sejajar secara terhormat dengan bangsa-bangsa merdeka dan berdaulat lainnya di dunia ini. Dan karena Kemerdekaan Nasional itu kita sekarang dapat setapak demi setapak melaksanakan pembangunan untuk mendekati cita-cita kemerdekaan kita ialah masyarakat yang maju, sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Soekarno, Presiden Republik Indonesia yang pertama dilahirkan di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901 bersamaan dengan saat terbitnya sang Fajar. Soekarno lahir dari seorang Ibu berasal dari Bali bernama Ida Nyoman Rai, dan seorang ayah bernama Raden Sukemi Sosrodihardjo, seorang guru berasal dari Blitar, Jawa Timur.
Soekarno dilahirkan dalam lingkungan kelas bangsawan, karena sang Ibu berasal dari keturunan bangsawan Bali, dan ayahnya dari kalangan bangsawan (Sultan) Kediri, tetapi Soekarno selalu menyerahkan perhatian dan pengabdiannya untuk kemerdekaan rakyat.
Soekarno termasuk salah seorang penduduk pribumi yang beruntung pada jamannya, karena dapat menikmati pendidikan cukup yang hal ini tidak dimiliki oleh semua orang pribumi. Mula-mula Soekarno bersekolah di Volkschool (Sekolah Rakyat), Standard School, Europeesche Largere School di Sidoarjo, Jawa Timur. Kemudian pada tahun 1915 ia melanjutkannya di HBS Surabaya, dan lima tahun kemudian melanjutkan di THS (Sekolah Tinggi Tehnik) di Bandung. Masa pendidikan di Perguruan Tinggi dapat diselesaikannya pada tahun 1925 dengan menyandang Sarjana Tehnik atau Insinyur.
Selama perjalanan hidupnya, Soekarno telah pula menerima berbagai gelar penghormatan di bidang Ilmu Pengetahuan (Doctor Honoris Causa) tidak kurang dari 25 Universitas baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Sementara itu kegiatannya di bidang kemasyarakatan dan politik telah dipelajarinya sejak Soekarno masih menjadi pelajar atau mahasiswa. la banyak belajar tentang politik dari seorang politikus kesohor bernama Haji Omar Said Tjokroaminoto. Bahkan Soekarno pernah ikut tinggal bersamanya ketika masih di Surabaya.
Pada tahun 1925 Soekarno mendirikan dan menjadi Ketua Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung, yaitu suatu perhimpunan pelajar/mahasiswa yang berjiwa nasionalisme. Kemudian pada tahun 1927 bersama-sama dengan Mr. Sunario, Soekarno mendirikan sebuah organisasi pergerakan yaitu Perserikatan Nasional Indonesia, yang kemudian pada bulan Mei 1928 diubah namanya menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).
Pada tanggal 29 Desember 1928 bersama-sama dengan Gatot Mangkuprodjo, Maskun dan Supriadinata, Soekamo ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda karena dicurigai melakukan kegiatan agitasi menentang Pemerintah, sehingga mereka diajukan ke meja pengadilan atau Landraat. Setelah menjalani proses peradilan selama l(satu) tahun akhirnya pada tanggal 22 Desember 1930 mereka dijatuhi hukuman 4 tahun penjara oleh Landraat di Bandung. Dengan ditangkapnya para pemimpin PNI ini, akhirnya PNI membubarkan diri.
Namun masa hukuman tidak sampai dijalani sepenuhnya selama 4 tahun, karena pada bulan Desember tahun berikutnya mereka telah dibebaskan kembali. Sekeluarnya dari hukuman, kemudian Soekarno masuk menjadi anggota Partindo (Partai Indonesia). Setahun kemudian, yaitu pada bulan luli 1933 ia ditangkap lagi oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan tuduhan melakukan kegiatan agitasi anti Pemerintah Hindia Belanda, yang membawa akibat Soekarno dibuang ke Endeh (Flores).
Setelah empat tahun dalam pembuangan di Endeh, kemudian pada tahun 1937 dipindahkan pengasingannya ke Bengkulu dan setelah pecahnya Perang Dunia II ia dipindah lagi ke Padang. Akhirnya dengan pengambil alihan kekuasaan pemerintah dari Pemerintah Hindia Belanda oleh Pemerintah Pendudukan Jepang. Soekarno dibebaskan dari hukuman pembuangan, pada tahun 1942.
Pada awal masa Pendudukan Jepang, Soekarno bersama dengan Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan K.H.M. Mansur mendirikan dan memimpin ”Pusat Tenaga Rakyat” atau PUTERA. Pada bulan September 1943 Soekarno diangkat menjadi Ketua ”Tjuoo Sangi In” (Dewan Penasehat Pusat), disamping juga menjadi pemimpin ”Djwa Hookookai” (Pengganti Putera). Dan pada bulan Agustus 1945, menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI Soekarno terpilih sebagai Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno bersama-sama dengan Moh. Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia di Jl. Pegangsaan Timur 56 (Jl. Proklamasi 56 – Sekarang), dan sehari kemudian ia terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama didampingi Moh. Hatta sebagai Waki/ Presiden. Dalam Agresi Militer Belanda ke II
tahun 1948 Soekarno dan Hatta serta beberapa pemimpin Republik lainnya ditawan Belanda untuk kemudian berturut-turut diasingkan ke Prapat, kemudian Bukit Manumbing, Bangka.
Tanggal 6 Juli 1949 ia kembali ke Yogyakarta, dan pada 16 Desember 1949 dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat. Pada tanggal 17 Agustus 1950 dilantik menjadi Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pada tanggal 5 Juli 1959 ia mengeluarkan Dekrit Presiden tentang kembali ke UUD’45. Soekarno wafat pada tanggal 21 Juni 1970, dan berdasarkan Keputusan Presiden No. 081/TK/Tahun 1986 tanggal 23 Oktober 1986 dikukuhkan sebagai Pahlawan Proklamator.

Sultan Mahmud Badaruddin II

Sultan Mahmud Badaruddin II bwI. Riwayat Hidup
1. Nama kecil dan gelar : Raden Hasan dan sebagai Raja Palembang yang ke-VII bergelar Sultan Mahmud Badaruddin (II).
2. Tempat/tanggal lahir Palembang, Pada malam Ahad tanggal 1 Rajab 1181 (1767 M)
3. Putera dari Sultan Muhammad Badaruddin bin Susuhunan Ahmad Najamuddin (I) dan Ratu Agung Puteri Datuk Murni bin Abdullah Alhadi.
4. Dinobatkan pada hari Selasa 22 Zulhijjah 1218 (1803 M)
5. Diasingkan ke Ternate pada hari Rabu tanggal 4 Syawal 1236 (3 Juli 1821)
6. Wafat di Ternate pada pagi hari Jum’at tanggal 14 Syafar 1269 (26 November 1852)

 

II. Sejarah Perjuangan
1. Peristiwa Loji Sungai Aur (1811 M)
Pada tanggal 14 September 1811, yaitu empat hari sebelum terjadi penyerahan di Tuntang, Sultan Mahmud Badaruddin II telah mengakhiri pengaruh kekuasaan Belanda di bumi Palembang. Dalam peristiwa ini.
Sultan Mahmud Badaruddin II telah membuktikan bahwa beliau sebag.; seorang pemimpin mempunyai pandangan yang jauh ke depan dan dapat mempergunakan kesempatan (timing) yang tepat untuk membebaskan kesultanan dan rakyat Palembang dari pengaruh kekuasaan asing.

2. Perlawanan terhadap kolonial Inggeris (1812 – 1816 M)
Berdasarkan perjanjian Tuntang tanggal 18 September 1811 yang diperbuat antara Belanda dengan Inggeris. Belanda menyerahkan Palembang kepada Inggeris, karena Palembang di samping Timor dan Makassar oleh Belanda dihitung sebagai daerah takluk pulau Jawa. Utusan Inggeris datang ke Palembang untuk menerima warisan daerah dari Belanda. tetapi dengan tegas ditolak oleh Sultan Mahmud Badaruddin II. Untuk memaksakan kehendaknya menguasai Palembang, Raffles mengirim exspedisi militer pada tanggal 20 Maret 1812. Setelah dengan segala kekuatan dan daya upaya mengadakan perlawanan terhadap angkatan perang Inggeris di kota. Sultan Mahmud Badaruddin II menyingkir ke daerah pedalaman untuk kemudian mengatur perang gerilya bersama rakyat.
Perang gerilya yang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II di daerah pedalaman inilah memaksa Inggeris harus mengakui keunggulan Sultan, dan kemudian mengakui pula kedaulatannya sebagai seorang Raja.

3. Perlawanan terhadap kolonial Belanda (1819 – 1821 M)
Belanda yang berdasarkan perjanjian Inggris – Belanda tanggal 13 Agustus 1814 dibenarkan mengambil kembali daerah-daerah yang pernah didudukinya dari Inggeris. K. Heines telah gagal untuk mengambil kembali Palembang sebagaimana telah ditetapkan dalam serah terima yang berlangsung di Mentok pada tanggal 10 September 1816. Mr. H.W. Muntinghe pada mulanya menemui kegagalan pula untuk menguasai Palembang, namun dengan segala tipu dayanya ia akhirnya berhasil menjalankan peranan adu dombanya. Muntinghe harus membayar ulahnya itu dengan mahal. Serangan Muntinghe yang pertama dapat dipatahkan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II dan memaksa Muntinghe berikut sisa-sisa pasukan dan Pada tanggal 1 September 1819 dengan kekuatan pasukan yang cukup kuat dan dengan perhitungan yang cukup matang, Muntinghe kembali menyerang Palembang. Serangan yang kedua ini dapat pula dipatahkan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II dan oleh karenanya Muntinghe beserta pasukannya mundur pula dan pada tanggal 3 November 1819 tiba di Muara Sungsang. Sebagian dari pasukannya mengadakan blokade diperairan kuala untuk melemahkan perdagangan dan perekonomian rakyat namun blokade inipun tidak berhasil mematahkan semangat juang Sultan Mahmud Badaruddin II. Belanda menebus kekalahan-kekalahannya dibumi Palembang. Pemerintah Hindia Belanda di Betawi mengerahkan kekuatan angkatan perangnya dibawah pimpinan Jenderal Baron de Kock menyerang Palembang untuk ketiga kalinya. Angkatan perang Belanda ini tiba di Palembang pada tanggal 10 Juni 1821. Peperangan berlangsung dengan dahsyatnya dan serangan demi serangan dari pihak Belanda dapat dipatahkan oleh pasukan Palembang. Akhirnya dengan tipu dayanya juga Jenderal de Kock dapat mengerahkan angkatan perangnya menembus garis-garis pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin. Pada tanggal 24 Juni 1821 dinihari angkatan perang Belanda bergerak lagi dengan dahsyatnya, hingga akhirnya dapat menduduki benteng pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II. Sultan Mahmud Badaruddin 11 tidak kalah perang, tetapi telah diperdayakan oleh Jenderal de Kock.
Beliau tidak pernah menyerah dan tidak pernah memperbuat sesuatu perjanjian yang lazim diperbuat baik merupakan lange verklaring maupun korte verklaring dengan Belanda.

4. Sultan Mahmud Badaruddin II ditawan dan diasingkan.
Pada hari Ahad tanggal 24 Juni 1821 atau bersamaan tanggal 25 Ramadhan 1236 Keraton Kuto Besak diduduki oleh angkatan perang Jenderal de Kock dan Sultan Mahmud Badaruddin II beserta puteranya Pangeran Ratu ditawan.
Sultan Mahmud Badaruddin II dan Pangeran Ratu serta keluarga-keluarga yang lainnya diberangkatkan ke Betawi pada hari Rabu tanggal 3 Juli 1821 atau bersamaan tanggal 4 Syawal 1236 untuk kemudian diasingkan ke Ternate. Selama lebih kurang 32 tahun hidup dalam pengasingan. Sultan Mahmud Badaruddin II senantiasa menunujukan sifat keagungannya yang antaralain dinyatakan oleh Gubenur Jenderal Barron vander Capellen mengenai Sul­tan Mahmud Badaruddin II dalam buku hariannya ” Sama sekali tidak biadab. dalam peperangan ia tahu mempertahankan kedudukannya; orang ini betul-betul memperlihatkan sifat-sifat sebagai Raja”.

 

 

Sultan Mahmud Badaruddin II oleh Belanda telah dipisahkan dari rakyatnya, namun semangat perjuangan yang diwariskan oleh Sultan Mahmud Badaruddin II kepada rakyatnya tidaklah dapat dikekang. Ini ternyata dan dirasakan oleh Belanda di Palembang adanya pemberontakan Prabu Anom ditahun 1824, perlawanan terus menerus secara diam-diam oleh Pangeran Kramo Jaya sampai ditahun 1851, perlawanan rakyat di Komering Ulu (Tihang Alam) dalam tahun 1854, perlawanan rakyat didusun Jati dalam tahun 1856, disusul perlawanan rakyat Pamesah, Empat Lawang dan Empat Petulai. Dalam tahun 1881 Belanda (Resident Tobias) harus pula mengeluarkan berpuluh-puluh zuriat dan kaum kerabat Sultan Mahmud Badaruddin II dari Palembang karena memberontak terhadap kekuasaan Belanda dan seterusnya diasingkan terpencar-pencar dikepulauan Maluku. Sultan Mahmud Badaruddin II adalah seorang pejuang yang bertahun-tahun berjuang untuk kemerdekaan rakyatnya dan seorang pemimpin yang telah berhasil menanamkan semangat perjuangan untuk merdeka kepada rakyatnya.
Atas jasa dan perjuangan, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 63/TK/1984 tanggal 29 Oktober 1984.

Tengku Amir Hamzah

Tengku Amir Hamzah bwGaya bahasa dan irama pantun atau syair Melayu dibawanya ke pulau Jawa hingga ke Sala pusat kebudayaan Jawa di Jawa Tengah. Tutur kata dan sikap lakunya yang halus dan priyayi menunjukkan kebangsawanannya. Itulah Amir Hamzah, nama lengkapnya : Tengku Amir Hamzah gelar Pangeran Inderaputera. Di sekolah AMS (Sekolah Menengah Atas zaman penjajahan Belanda) dan di dunia pergerakan pemuda serta di majalah-majalah Panji Pustaka, Timbul dan Pujangga Baru tertera namanya sebagai pengarang: Amir Hamzah. Kemudian setelah tiada dan dibahas karya-karyanya, oleh kritikus sastera H.B. Jassin ia disebut Raja Penyair.
Amir Hamzah dilahirkan di Binjai, Sumatera Barat, pada tanggal 26 Pebruari 1911. Ia adalah putera Tengku Muhammad Adil gelar Pangeran Bendahara, saudara Sultan Langkat. Langkat adalah salah satu kesultanan Melayu sebelum perang dunia ke-2 di seberang-menyeberang Selat Malaka dengan kesultanan-kesultanannya Selangor, Johor, Pahang di tanah Melayu dan Deli, Langkat, Siak Sri indrapura dan Iain-lain di pulau Sumatera. Jadi, Amir Hamzah adalah kemenakan Sultan Langkat, keturunan Sultan-sultan di Sumatera Timur yang beragama Islam. Waktu kecilnya lebih dulu ia mendapat pendidikan agama, mengaji Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama. Sejak kecil ia suka membaca, terutama pantun-pantun Melayu dan buku-buku cerita lama, ccrita-cerita Hang Tuah dan kepahlawanan lain- lainny a. Setelah tamat HIS (SD zaman penjajahan Belanda) di Medan, hanya sampai kelas 2, kemudian pindah ke Jakarta.
Ayahandanya adalah penggernar sejarah dan sastera Melayu seperti kebanyakan orang-orang tua dimasa itu. Dalam perkumpulan tamu yang diadakannya sering kali pada malam hari orang membaca Hikayat-hikayat Melayu lama, syair-syair seperti Hikayat Amir Hamzah, Muhammad AH Hanafiah, Bustanussalatin, Syair Bidasari, Ken Tambunan, Haris Fadillah dan sebagainya. Yang amat disukainya ialah cerita Nabi-Nabi dengan perjuangannya. Kadang-kadang puteranya, yaitu Amir Hamzah disuruhnya membaca.
Amir Hamzah dibesarkan dalam suasana dan keluarga yang demikian, maka ia berbeda dengan kawan sebayanya. Bagaikan latihan ia suka mendengar buah pikiran orang-orang tua, suka mendengarkan orang-orang bercakap-cakap tentang sejarah negerinya, adat-istiadatnya serta pantun-pantun dan teka-teki Melayu.
Dengan bekal kesusasteraan yang mendasari jiwanya Amir Hamzah berangkat ke Jakarta untuk meneruskan pelajarannya. Rupanya ia tidak mendapatkan apa yang dicita-citakan sehingga ia terpaksa masuk kelas tertinggi MULO Kristen hingga tamat. Waktu meninggalkan keluarga dan tanah yang dicintainya Amir Hamzah yang masih murid kelas dua MULO telah mampu menulis sajak curahan jiwanya a.l. berbunyi sebagai berikut:
Tinggallah Tuan, tinggallah bunda tanah airku Sumatra raya Anakanda berangkat ke pulau Jawa memungut bunga sunting kepala.
Setelah menamatkan MULO di Jakarta ia meneruskan pelajarannya ke AMS Sala (bagian Sastera dan Kebudayaan Timur) hingga tamat. Di sekolah itu kepandaian Amir Hamzah dalam syair-syairnya amat menonjol hingga sering syair karangannya dibaca di muka kelas. Anak bangsawan Langkat ini tidak kikuk dalam pergaulan di Sala. Ia amat pandai membawakan dirinya baik di tengah-tengah kawan sekolahnya maupun di luarnya. Hampir tidak pernah ia memperlihatkan kelebihan atau kebanggaan seorang bangsawan. Manakala ia tak setuju pada sesuatu, ia diam namun ia mempunyai humor yang disertai senyum dan tertawanya.
Waktu di kelas tertnggi AMS Sala pergerakan pemuda Indonesia telah maju selangkah. Sebagai kelanjutan ”Sumpah Pemuda” tahun 1928, perhimpunan-perhimpunan pemuda yang berbentuk Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon dan Iain-lain yang serba Jong (muda) meleburkan diri dalam persatuan pemuda yang bernama ”Indonesia Muda” (IM). Amir Hamzah tidak ketinggalan mengikuti gerakan pemuda kebangsaan ini dan ia adalah ketua IM cabang Sala yang pertama-tama. Sifat kepemimpinannya tampak dengan sifatnya yang sabar, ramah, dan tidak angkuh. Di dalam IM itu ia menunjukkan perhatiannya kepada seni drama yang termasuk bagian sastera pula. Dalam Kongres Bahasa Indonesia yang ke-1 di Sala pada tahun 1938 ia gigih menganjurkan agar bahasa Indonesia digunakan dalam percakapan sehari-hari di kalangan terpelajar.
Setamat AMS Amir Hamzah meneruskan pelajarannya ke RHS (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta. Di sanalah ia bertemu dalam kancah perjuangan sastera dengan Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, Sanusi Pane, Muhammad Yamin dan Iain-lain. la duduk dalam redaksi majalah Pujangga baru (PB) yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Secara de facto ia duduk sebagai anggota redaksi PB dari semula hingga ia meninggalkan Jakarta, tetapi namanya tidak pernah tercantum sebagai anggota redaksi yang resminya selalu dipegang oleh STA dan Armijn Pane. Nama Amir Hamzah hanya tergantum sebagai pembantu tetap. Sebabnya, sebagai mahasiswa asal kerajaan Langkat tak dapat ia ikut bertanggung jawab akan PB sepenuh-penuhnya. Demikianlah tulis STA dalam risalahnya ”Amir Hamzah Penyair Besar antara dua zaman dan Uraian Nyanyi Sunyi”, Dian Rakyat. Jakarta 1979.
Banyak karangan Amir Hamzah yang dimuat dalam PB baik prosa maupun puisi. Karangan-karangan prosanya yang telah dimuat dalam PB dapat disebut: Sultan Alaudin Rakyat Syah dan Raja Kecil yang menguraikan tentang kehidupan di istana. Tulisan-tulisannya yang lain menunjukkan perhatiannya kepada kehidupan rakyat jelata, yaitu dalam karangannya : Nyoman, Atik dan Gambang. Karangan-karangan itu dimuat di dalam PB 1933 – 1934. Terjemahannya Bagawatgita dimuat pula dalam PB. Ia pun banyak menulis dalam majalah Panji Pustaka dan Timbul, media kaum intelektual Indonesia dalam Bahasa Belanda yang dipimpin oleh Mr. Singgih, kemudian Sanusi Pane.
Kemahirannya mengubah syair dapat dikatakan luar biasa, sehingga sastrawan H.B. Jassin menulis buku ”Amir Hamzah Raja Penyair” P.T Gunung Agung. Himpunan syair-syairnya yang sudah diterbitkan oleh PB sebagai nomor-nomor istimewa ialah : Nyanyi Sunyi (PB 1937) : terjemahan syair-syair Tiongkok, India dan Parisi dan Iain-lain berjudul ”Setinggi Timur” (PB 1939); dan Buah Rindu (PB 1941). Yang terakhir itu diterbitkan pula oleh Dian Rakyat, usaha STA.
Amir Hamzah berangkat dari rumah sebagai penyair Melayu karena sejak masa kanak-kanaknya ia sudah bergumul dengan sajak-sajak dan cerita-cerita Melayu, namun pengalaman di Jawa membawa perkembangan jiwanya. Perkembangannya telah berjalan alamiah, tidak dipaksa-paksa. Ia mampu merangkum suasana Indonesia dalam sajak-sajaknya. Amir Hamzah adalah seorang bangsawan yang ”maju”.
STA menulis tentang sajak Amir Hamzah yang berjudul ”Berdiri Aku” :
”Di sini kesusateraan Indonesia yang baru dapat menyamai buah
kesusasteraan negeri luaran yang sesempurna-sempurnanya Tiap
tiap kata, tiap-tiap bunyi turut berlagu dalam persatuan lukisan, irama
dan suara yang tiada tercela, oleh karena tepat letaknya masing-masing dalam leretan alun nafas pujangga.
Angin pulang menyejuk bumi menepuk teluk mengempas emas lari ke gunung memuncak sunyi berayun alun di atas alas.
dan amat-amatilah bahagian yang saya miringkan. Alangkah mesra visi, penglihatan penyair terlukis dan oleh keberanian kiasan menggempas emas, memuncak sunyi. Berayun alun di atas alas menggetarkan di sekeliling turunnya sinar hidup seperti dalam mimpi nikmat yang jauh”.
Nikmat, memang nikmat sekali membaca dan mendengarkan sajak-sajak Amir Hamzah, serba berirama, bergelombang mengayun perasaan dan jiwa.
Gaya sastera Indonesia Amir Hamzah seperti yang dikutip di atas dan yang banyak terdapat dalam sajak-sajak lainnya, pada hakekatnya tidak berbeda dengan gaya sastera tembang Jawa karangan pujangga Ranggawarsita (1802 -1873) yang disebut dengan istilah Jawa ”purwakandii”, artinya : permulaan yang bersambungan, yaitu suku kata/kata terakhir bersambung dalam irama indah dengan suku kata/kata berikutnya. Bandingkanlah :
Amir Hamzah : menepuk teluk – memuncak sunyi – berayun alun – di atas alas;
Ranggawarsita : Rarasing tyas sanityasa tistis, de ta mardi
mardawaning basa, ngayawara puwarane
(Kitab ”Jayengtilam”).
Korup Kareping ngaurip, riptane si Jayeng baya
(Kitab ”Jayeng baya”).
Dalam kiasnya Amir Hamzah mengundang berbagai bunga ; cempaka, sedap malam, kemboja, mawar dan Iain-lain. Mengundang alam : mega, awan, bayu, angin dan sebagainya tidak ubahnya puisi bahasa Jawa dan bahasa daerah lainnya dalam gaya lamanya. Amir Hamzah tidak mengikuti gaya ”soneta” seperti Muhammad Yamin dan Sanusi Pane. Semua karangan Amir Hamzah baik prosa maupun puisi tidak satupun menggunakan bahasa asing, kecuali mengutip kata-kata Arab, Jawa Kuno, Sansekerta yang menunjukkan kemahiran dan luas pengetahuannya tentang bahasa-bahasa Timur.
Mengkisahkan Amir Hamzah memang lebih banyak menguraikan karya sasteranya yang keindahannya tahan uji. Karya sastera itu niscaya menjadi warisan berharga dan masih akan berharga selamanya untuk dipelajan dan ditelaah oleh angkatan sekarang dan angkatan yang mendatang.
Di samping itu sejarah hidupnya pun patut mendapat perhatian untuk dimanfaatkan sebagai pengalaman manusia berjuang, manusia berusaha, namun Tuhan semata yang menentukan segala.
Amir Hamzah bersekolah dibiayai oleh pamannya, yaitu Sultan Langkat. Kepadanya ia berhutang budi. Pada tahun 1937. la dikawat untuk pulang, dan dalam tahun 1938 dikawinkan dengan puteri Sultan Langkat yang tertua. Sebulan kemudian ia kembali ke Jakarta, namun tampak tak bergairah, bahkan ia menutup diri di kamarnya di jalan Sabang, Jakarta. Baru sebulan kemudian ia keluar dan pergi menyerahkan kumpulan sajaknya Nyanyi Sunyi kepada STA yang kemudian diterbitkan sebagai nomor istimewa P.B., satu nomor hanya memuat Nyanyi Sunyi oleh Amir Hamzah.
Sajak itu merupakan curahan jiwanya, betapa sebenarnya ia merasa sepi, sepi dari kebebasan yang telah dihirupnya selama ia menjadi pelajar dan mahasiswa. Rupanya perkawinannya dengan puteri Sultan merupakan kewajiban moral yang tidak dapat dihindarinya.
Disamping itu ia tak dapat meluapkan cintanya yang konon pemah dicurahkan kepada seorang gadis Jawa semasa AMS-nya. Dengan demikian Amir Hamzah terombang-ambing antara kewajiban dan kebebasan, antara cita-cita dan kenyataan. Kiranya ia ditakdirkan Tuhan hidup di antara dua bara api, kekiri terjilat, ke kanan terbakar. Hidupnya berkelanjutan laksana senantiasa dibayangi oleh keterombang-ambingannya.
Amir Hamzah, manusia bermoral tinggi Untuk membela sifatnya itu ia bersedia berkorban. Mungkin disanalah letak kunci dari pada tragedi Amir Hamzah.
Amir Hamzah tidak mencapai akhir studinya, hanya sampai Kandidat atau Sarjana Muda Hukum, kemudian pulang ke Tanjungpura dan kembali kepada pangkuan kesultanan Langkata dengan mendapat gelar kehormatan Tengku Pangeran Inderaputera dan menjabat pekerjaan kepala Luhak Langkat Hilir, Langkat Hulu dan Iain-lain. Dalam jabatannya itu ia berkesempatan menyelenggarakan perpustakaan dan pendidikan rakyatnya. Dan selama itu ia sering mengadakan ceramah-ceramah tentang sastera dan kebudayaan bersama dengan Dr. Amir. Di zaman pendudukan Jepang ia lerpilih sebagai anggota Balai Bahasa Indonesia di Medan yang antara lain menciptakan istilah-istilah modern.
Di zaman kemerdekaan Amir Hamzah diangkat oleh Pemerintah RI menjadi asisten residen untuk daerah Langkat. Sejak proklamasi ia memang giat mempertahankan kemerdekaan. Sementara itu pergolakan revolusi di Sumatera Timur mencapai puncaknya dengan memusuhi orang-orang yang berdarah bangsawan. Tujuannya ialah bertindak kepada mereka, kaum feodal yang reaksioner, namun dalam keadaan yang semrawut dan tindakan massa yang tidak terkontrol, maka terjadilah tindakan dan perlakuan terhadap orang yang tidak bersalah. Itulah resiko revolusi.
Dalam suasana yang demikian itulah Amir Hamzah, asisten residen RI di Langkat tertimpa nasib malang. Dia ditindak oleh kaum sok-revolusioner yang terbakar semangatnya oleh suasana pergolakan tak terkendalikan. Amir Hamzah terdapat mati terbunuh di kuala Begumit.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak boleh diraih.
Demikianlah nasib Amir Hamzah menjadi korban apa yang disebut ”revolusi sosial di Sumatera Timur”
Amir Hamzah, seorang republikein yang besar jasanya dalam kesusasteraan dan kebudayaan bangsanya, dan sedang pula berjuang ikut menyelenggarakan hasil perjuangan di daerahnya, mati terbunuh karena tindakan yang terbakar oleh semangat revolusi menjulang angkasa.
Tiada seorang pun yang dapat disalahkan, kecuali menerima takdir Illahi. Hanya Dialah yang tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi UmatNya.
Jenazah Amir Hamzah yang telah dikubur, kemudian pada tahun 1946 dipindahkan ke makam di samping Mesjid Azizi di Tanjungpura, Sumatera Timur. Beliau meninggalkan seorang puteri bernama Tahura. Putera-puterinya yang empat orang meninggal dunia lebih dahulu.
Pemerintah RI menghargai jasa Tengku Amir Hamzah dan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dengan SK Presiden RI No : 106/ TK/Tahun 1975 tanggal 3 November 1975 sebagai penghargaan atas tindak kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa”.

Supriyadi

Supriyadi bwEnam bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, di kota kecil Blitar, yang terletak di kaki Gunung Kelud, Jawa Timur telah terjadi peristiwa heroik yang bergema di seluruh tanah air. Peristiwa tersebut adalah terjadinya Pemberontakan Pasukan Pembela tanah air atau Peta terhadap kekuasaan pemerintah pendudukan Tentara Jepang di Indonesia. Tepatnya pemberontakan tersebut pecah pada tanggal 14 Pebruari 1945 pada dini hari.
Pemberontakan itu dipimpin oleh Supriyadi, seorang pemuda yang dilahirkan pada tanggal 13 April 1925 di Trenggalek, Jawa Timur. Ayahnya bernama Darmadi, seorang pejabat Pamongpraja sejak zaman Hindia Belanda hingga di zaman kemerdekaan. Bapak Darmadi mula-mula seorang wedana di Gorang-garing, Madiun, kemudian menjadi Fukukenco atau Patih pada zaman Jepang dan diangkat sebagai Bupati Blitar pada zaman RI. Supriyadi adalah putera sulung. la masih mempunyai dua belas saudara lagi. Ibu kandung Supriyadi bernama Rahayu, meninggal waktu Supriyadi masih kecil. Kemudian anak sulung itu diasuh oleh ibu tinnya bernama Susilih.
Supriyadi mula-mula bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), Sekolah Dasar berbahasa Belanda. Sesudah tamat ia melanjutkan pelajarannya di MULO, setingkat dengan SMP, kemudian meneruskan pelajaran di Sekolah calon Pamongpraja (MOSVIA) di Magelang. Ketika pasukan Jepang mendarat di Indonesia Supriyadi bersekolah di Sekolah Menengah Tinggi (SMT), kemudian mengikuti pendidikan semi militer atau Latihan Pemuda (Seinindojo) di Tanggerang. Di antara pelatihnya yang bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia ialah Yanagawa dan Nakajima.
Supriyadi merasa terpanggil masuk Tentara Pembela Tanah Air atau Peta. Ia mendapat latihan yang keras dalam barisan Peta dan diangkat menjadi Syodanco Dai Ici Syodan dari Dai San Cudan atau Komandan Peleton I dan Kompi III Tentara Peta di Blitar, Kompi III adalah kompi bantuan yang menguasai persenjataan berat dari Daidan Blitar.
Sementara itu keadaan masyarakat Indonesia di bawah kekuasaan Jepang makin menyedihkan. Penghidupan rakyat sudah sangat berat, bahkan dapat dikatakan morat-marit. Mereka kekurangan makanan, pakaian dan obat-obatan. Jumlah orang yang menderita kelaparan serta penyakit makin banyak. Pihak balatentara Jepang tidak tampak ada usahanya untuk mengatasi keadaan yang buruk itu. Mereka hanya mementingkan keperluan tentara dan orang-orang Jepang sendiri, bahkan bertindak kejam dan memeras rakyat dengan membentuk Romusya, tenaga kasar yang dikirim ke luar Indo­nesia untuk keperluan perangnya. Syodanco Supriyadi bersama kawan-kawannya merasa prihatin menyaksikan penderitaan rakyat akibat perbuatan pemerintah Jepang yang tidak mengenal perikemanusiaan. la keras sekali berkeinginan untuk mengakhiri penderitaan rakyat. Hal ini niscaya tercapai dengan kemerdekaan Indonesia. Merenungkan dan mempertimbangkan hal itu Syodanco Supriyadi sampai pada kesimpulan untuk memberontak. Itulah jalan satu-satunya. Sekarang juga!
Pada suatu siang antara jam 12.00 sampai jam 14.00 di kamar Bundanco Halir Mangkudijaya diadakan pertemuan rahasia pertama yang dipimpin oleh Syodanco Supriyadi dan dihadiri oleh Syodanco Muradi, dan Bundanco Sumanto. Mereka bersepakat untuk melakukan pemberontakan melawan pemerintahan pendudukan Jepang. Persiapan segera dilakukan. Para perwira, bintara dan tamtama dalam Daidan Bihar sendiri dihubungi dan diajak serta memberontak. Demikian pula anggota pasukan Peta dari Daidan-daidan lainnya. Dihubungi pula tokoh-tokoh masyarakat untuk bantuannya.
Rupanya para anggota Peta yang mendukung rencana pemberontakan makin banyak. Pada akhir bulan Juni 1944, di waktu malam hari antara jam 21.00 sampai 24.00 di kamar Bundanco Halir mangkudijaya, kembali diadakan pertemuan rahasia yang kedua. Di dalam pertemuan ini tampak wajah-wajah baru scperti Syodanco Sumardi, Bundanco Sudarmo dan Bundanco Suryono, sedangkan Bundanco Tarmuji diberi tugas menjaga keamanan. Pada pertemuan tersebut Syodanco Supriyadi kembali berkata, ”Kita sebagai bangsa yang ingin merdeka tidak dapat membiarkan tentara Jepang terus menerus bertindak sewenang-wenang menindas dan memeras rakyat Indonesia. Tentara Jepang yang makin merajaiela itu harus dilawan dengan kekerasan. Apa pun dan bagaimana pun pengorbanan yang diminta untuk mencapai kemerdekaan In­donesia kita harus rela memberikannya”.
Kemudian Syodanco Supriyadi menambahkan, ”Akibat dan resiko dari perjuangan kita sudah pasti. Paling ringan dihukum tahanan dan paling berat dihukum mati. Kita yang berjuang jangan sekali-kali mengharapkan pangkat, kedudukan atau pun gaji yang tinggi. Bagaimana kalau kita mengadakan pemberontakan melawan tentara Jepang?”
Semua yang hadir menyetujui dan siap melakukan pemberontakan. Mereka menyadari bahwa menyetujui pemberontakan berarti ”teken mati”. Sebab yang akan dihadapi adalah musuh yang kejam dan bengis terhadap rakyat di mana-mana. Sementara itu Cudanco dr. Ismail, Syodanco Darip dan Syodanco Partoharjono juga mendukung rencana tersebut.
Pada pertengahan bulan Agustus 1944, kembali diadakan pertemuan rahasia yang ketiga. Yang nadir makin bertambah banyak. Rencana sudah makin matang. Pembagian tugas sudah diadakan.
Kebetulan sepuluh Daidan di Daerah Jawa Timur akan melakukan latihan gabungan yang dipusatkan di Tuban dan Bojonegoro. Syodanco Supriyadi dan kawan-kawannya merencanakan untuk melakukan pemberontakannya di Tuban itu.
Pada awal Pebruari 1945, diadakan lagi pertemuan rahasia kelima dihadiri oleh dua belas orang seperti pertemuan sebelumnya. Persiapan sudah makin mantap. Waktu akan dilakukannya latihan gabungan sudah ditetapkan. Sementara itu dibentuk organisasi pelaksana pemberontakan terdiri dari :
Pemimpin : Syodanco Supriyadi
Komandan pertempuran : Syodanco muradi
Komandan-komandan
Pasukan : Syodanco Sunaryo
Syodanco S. Jono
Syodanco Dasrip
Syingianco Sunarto
Perbekalan : Syodanco Sumardi
Bundanco Halir Mangkudijaya
Keuangan : Bundanco Pracoyo
Peralatan : Bundanco Sungkono
Angkutan : Bundanco Atmojo
Pergudangan : Bundanco Tarmuji
Penasehat : Bundanco dr. Ismail
Bundanco Halir Mangkudijaya
Menurut rencana, pemberontakan akan dicetuskan di Tuban. Begitu pemberontakan di mulai, semua peluru dan senjata Daidan Blitar harus dibawa ke Madiun lewat Tulungagung, Trenggalek, dan Ponorogo. Daidan Blitar akan menuju ke sana.
Pada tanggal 2 Pebruari 1945, sebagian Daidan Blitar sudah berangkat menuju Tuban dan Bojonegoro. Sebagian besar perwira, bintara, staf dan pelatih, termasuk para peserta pertemuan rahasia semuanya sudah berangkat dalam rombongan pertama ini.
Tiga hari kemudian, yaitu tanggal 5 Pebruari 1945, gelombang kedua diberangkatkan. Semua peralatan dan makanan diangkat dengan kereta api. Kepada para anggota pasukan sudah dibagikan peluru, masing-masing IS butir. tetapi rupanya ada sesuatu hal yang dirasakan agak luar biasa. Rombongan kedua ini setibanya di Kertosono, secara mendadak diperintahkan untuk kembali ke Blitar. Latihan gabungan sepuluh daidan juga dibatalkan.
Mengapa terjadi demikian? Alasannya ialah Daidanco Bojonegoro lelah meninggal dunia. Apakah komandan Daidan Bojonegoro itu meninggal karena sakit, ataukah karena alasan lain? Demikian banyak di antara para anggota Peta yang mengajukan pertanyaan pada diri sendiri. Yang jelas ialah gagalnya latihan gabungan berarti gagalnya pemberontakan Peta yang diprakarsai Syodanco Supriyadi dan yang direncanakan akan dicetuskan di Tuban.
Rupanya pihak Jepang sudah mencium adanya rencana pemberontakan. Peraturan ketat segera diumumkan, para prajurit Peta dilarang bergerombol melebihi lima orang. Tidak diberikan kebebasan melancong. Juga pada hari Jum’at tidak ada lagi kebebasan. Dilarang keras membicarakan tentang keadaan Daidan kepada para tamu. Pengawasan makin diperketat. Syodanco Supriyadi dan kawan-kawannya makin disorot dan diawasi.
Akhimya para prajurit Peta di Blitar itu mengadakan pertemuan rahasia lagi dan bersiap benar-benar untuk melakukan pemberontakan. Pada tanggal 13 Pebruari 1945 jam 20.00 mereka mengadakan rapat yang terakhir dikunjungi oleh dua puluh lima perwira dan bintara. Sepasukan khusus ditugaskan untuk mcngawasi markas Kempeitai dan rumah-rumah orang Jepang. Apabila ada gerakan orang Jepang yang mencurigakan, maka akan diambil tindakan, tanpa membunyikan senapan.
Dalam rapat tersebut dikemukakan, bahwa pihak Jepang sudah mengetahui rencana pemberontakan, bahkan sepasukan Kempeitai dari Semarang sudah datang dengan kereta api pada jam 14.00. Sudah jelas mereka itu akan digunakan untuk menangkap para prajurit Peta Blitar dan menganiaya mereka.
Syodanco Supriyadi Ialu berkata,
”Lebih baik kita mati terhormat melawan tentara Jepang yang sudah jelas bertindak sewenang-wenang terhadap bangsa Indonesia. Lebih baik kita melakukan pemberontakan melawan Jepang sekarang juga. Dengan terjadinya pemberontakan ini besar kemungkinan kemerdeka-an Indonesia akan lebih cepat datangnya”
Selanjutnya ia pun menegaskan,
”Kita mengadakan pemberontakan sekarang juga, tidak lain untuk mencapai kemerdekaan tanah air dengan secepat-cepatnya. Kemerdekaan Indonesia harus kita rebut dengan kekerasan senjata. Sebagai bangsa yang ingin merdeka kita harus berani berjuang dan rela berkorban untuk menghentikan penindasan dan pemerasan yang sewenang-wenang terhadap rakyat Indonesia.
Akibat dari pemberontakan paling ringan kita dihukum atau disiksa, dan paling berat dibunuh. Dan kita harus mencegah sejauh mungkin jangan sampai berhadapan dengan bangsa sendiri”.
Prajurit Peta di Blitar itu pun sepakat dan mereka mendukung dan persiapan pemberontakan pun segera dimulai pada malam itu juga.
Tepat pada jam 03.00 dinihari, tanggal 14 Pebruari 1945, pasukan pun sudah bersiap. Syodanco Supriyadi keluar dan berdiri di dekat penembak mortir, lalu berteriak memberi komando : Hajimee … ” yang berarti mulai!
Kemudian tembakan mortir pun berdentuman dan pemberontakan Peta Blitar sudah dimulai. Bendera Merah Putih pun sudah dikibarkan di lapangan besar di seberang jalan di depan Daidan.
Prajurit Peta itu masing-masing lalu membagi dirinya ke dalam rombongan yang menuju ke medan utara, medan timur, medan selatan dan medan barat. Syodanco Supriyadi mula-mula berada di medan timur, kemudian menuju ke medan barat. Berbagai aksi pemberontakan telah dilakukan. Mereka memutus kabel-kabel telpon dan menewaskan orang-orang Jepang di kota maupun di luar kota yang sempat dijumpai. Sementara itu tentara Jepang segera mengambil tindakan. Mereka bersikap berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Mereka menyadari, sikap yang gegabah akan menyulitkan kedudukan mereka.
Pesawat-pesawat terbang dikirimkan untuk melakukan pengintaian. Jepang pun tidak langsung menghadapi para prajurit Peta yang melawan itu, tetapi menggunakan para pemimpin Indonesia, seperti Daidanco, Cudanco, bahkan seorang guru kebatinan, Mbah Kasan Bendo yang terkenal di Blitar itu, untuk memadamkan pemberontakan. Karena para prajurit Peta itu masih muda dan belum cukup mempunyai pengalaman liku-liku hidup, maka mereka pun dapat dilemahkan hatinya sehingga percaya akan janji-janji pihak Jepang yang ternyata tidak dipenuhi.
Kolonel Katagiri atau Katagiri Taisan sendiri telah menemui Syodanco Muradi di medan barat dan berjanji akan memperlakukan para prajurit Peta yang telah memberontak itu sesuai dengan persyaratan yang diminta. Tetapi ternyata janji tersebut tidak dilaksanakan. Para pemimpin pemberontakan Peta Blitar beserta para prajurit, kemudian ditangkap dilucuti dan dijatuhi hukuman. Enam perwira dihukum mati di pantai Ancol, Jakarta. Banyak yang dihukum penjara seumur hidup, 15 tahun, 10 tahun, 7 tahun, 4 tahun, 3 tahun, 7 bulan di penjara Cipinang, Jakarta dan Sukamiskin, Bandung. Banyak pula yang dihukum secara kolektif, diasingkan di daerah Gambyok di Jawa Timur yang tandus. Sesudah Proklamasi kemerdekaan mereka dibebaskan dan terus ikut berjuang mempertahankan Republik Indonesia.
Mengenai nasib Syodanco Supriyadi sendiri tidak ada yang mengetahui secara pasti. Sementara pihak berpendapat, Supriyadi gugur dalam pertempuran melawan pasukan Jepang, atau dibunuh sesudah ditangkap. Pendapat lain mengatakan Supriyadi dapat meloloskan diri dan berjalan menuju ke barat sampai di daerah Banten dan gugur disana. Tidak seorangpun yang mengetahui keadaan yang sebenarnya. Tetapi bangsa Indonesia pada tahun 1945 mempunyai dugaan bahwa Supriyadi mungkin masih hidup. Karena itu sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Supriyadi telah diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Presidential R.I yang pertama (19 Agustus 1945 -14 November 1945), tetapi beliau tidak pernah muncul. Hingga hari ini bangsa Indonesia tetap tidak mengetahui, bagaimana nasib Syodanco Supriyadi di masa akhir hayatnya yang sebenarnya.
Pemerintah R.I menghargai jasa-jasa Supriyadi dan memberikannya gelar Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I No. 063/TK/ Tahun 1975, tanggal 9 Agustus 1975.

Kolonel.TNI. ANM. I Gusti Ngurah Rai

I Gusti Ngurah Rai bwPulau Bali yang dikenal sebagai Pulau Dewata, melahirkan seorang pahlawan nasional. la adalah I Gusti Ngurah Rai, lahir tanggal 30 Januari 1917 di desa Carangsari sebagai putra kedua dari tiga orang bersaudara. Ayahnya bernama I Gusti Ngurah Palung yang dalam zaman Belanda pernah bekerja sebagai Manca (Camat).
Ngurah Rai menempuh pendidikan umum tetinggi pada MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs, Sekolah Menengah Pertama sekarang ) di Malang, Jawa Timur. Tamat dari MULO ia memasuki Militaire Cade School (Sekolah Militer) dari Korps Prayodha Bali di Gianyar. Pendidikan di sekolah militer ini diselesaikannya dalam tahun 1940 dan ia berhak memakai tanda pangkat letnan dua. Pendidikan di bidang militer di lanjutkannya dengan mengambil spesialisasi artileri di Magelang yang dalam zaman Belanda dikenal sebagai kota militer.
Masa dinas Ngurah Rai dalam militer Belanda tidak berlangsung lama. Dalam bulan Maret 1942 di Indonesia terjadi pergantian penguasa. Pemerintahan Belanda berakhir setelah Panglima Tentara Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati pada tanggal 9 Maret 1942. Sejak saat itu Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang.
Dalam masa pendudukan Jepang, Ngurah Rai bekerja sebagai pegawai pada Mitsui Hussan Kaisya, sebuah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang pembelian padi rakyat. Waktu Jepang membentuk organisasi kemiliteran, antara lain tentara Pembela Tanah Air (Peta), Ngurah Rai tidak mau memasukinya. Hal itu disebabkan oleh rasa antipatinya terhadap penjajahan Jepang. Ia menghimpun pemuda – pemuda Bali untuk menyusun kekuatan menentang Jepang dan melakukan gerakan bawah tanah yang diberinya nama “Gerakan Anti Fasis” (GAF).
Ngurah Rai menikah dengan Ni Desok Putu Kari. Dari perkawinan ini mereka memperoleh empat orang anak, tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Anak perempuan ini meninggal dunia tidak lama setelah lahir. Ketiga anak-anak laki-laki itu adalah I Gusti Ngurah Gede Yudana, I Gusti Ngurah Tantera, dan I Gusti ngurah Alit Yudha. Anak yang terakhir ini masih dalam kandungan pada waktu Ngurah Rai meninggal dunia.
Sampai masa akhir pemerintahan Jepang Ngurah Rai tetap melakukan gerakan bawah tanah. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, ia menghimpun kekuatan para pemuda untuk melakukan usaha-usaha merebut kantor-kantor pemerintahan dari tangan Jepang. Karena kegitan – kegiatan tersebut, maka pada tanggal 8 Oktober 1945 Jepang menyerahkan kekuasaan kepada Gubernur Mr. Ketua Puja. Tetapi pasukan Jepang Sekutu untuk memulangkan mereka ke tanah air mereka.
Perkembangan – perkembangan yang terjadi di Jakarta diikuti oleh pemuda-pemuda Bali. Demikianlah, ketika pemerintah membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat), maka pemuda – pemuda Bali pun segera pula membentuknya. Setelah TKR (Tentara Keamanan Rakyat Rakyat) terbentuk, BKR ditransformasikan ke dalam TKR. Dalam rapat yang diadakan Novem­ber 1945 di puri raja Badung, di Denpasar I Gusti Ngurah Rai dipilih sebagai pimpinan TKR Bali (waktu itu namanya TKR Sunda kecil). la dibantu oleh Wayan Ledang sebagai Kepala Staf dan I Gusti Putu Wisnu sebagai Kepala Barisan Penggempur.
TKR yang baru berdiri ini sudah harus menghadapi bentrokan-bentrokan bersenjata dengan pihak lawan. Awal Desember 1945 utusan Sekutu mendarat di Benoa. Peristiwa ini menimbulkan perubahan sikap pasukan Jepang, yang tadinya bersikap lunak, kini berbalik memperlihatkan sikap permusuhan terhadap para pemuda. Karena itu TKR merencanakan untuk menyerang pasukan Jepang dan merebut senjatanya. Dalam salah satu pertemuan diputuskan bahwa serangan serentak akan dilancarkan tanggal 13 Desember. Rupanya rencana ini sudah di ketahui Jepang, sehingga mereka menyerang terlebih dahulu. Konsentrasi-konsentrasi TKR diserbu. Pasukan TKR terdesak dan akhirnya meninggalkan kota Denpasar. Esok harinya Jepang melancarkan gerakan pembersihan. Mereka menangkap orang-orang yang dicurigai, termasuk Gubenur Ktut Puja.
Kegagalan serangan itu merupakan pukulan yang cukup berat bagi Ngurah Rai. Kekuatan yang sudah dihimpun kini berantakan. la sendiri mengundurkan diri ke Munsiang di Tabanan Utara dan berusaha menyusun kembali pasukannya yang sudah tersebar. Di Tabanan ia berkumpul kembali dengan tokoh-tokoh TKR. Mereka sepakat untuk berangkat ke Jawa guna mencari senjata dan sekaligus membicarakan status TKR Bali dengan Markas Umum TKR di Yogyakarta.
Sesudah pertempuran berakhir, Ngurah Rai mengatur siasat. la yakin bahwa Belanda pasti akan melancarkan serangan kembali. Karena itu ia membuat pertahanan semu. Di tempat-tempat tertentu sepanjang lereng gunung anak buahnya diperintahkan meletakkan topi-topi bambu. Sesudah itu pasukan diperintahkan supaya terus naik ke tempat yang lebih tinggi. Perkiraan Ngurah Rai ternyata tepat. Esok hari dua buah pesawat bomber Belanda menembaki pertahanan semu yang di buat oleh pasukan Ngurah Rai.
Ngurah Rai bermaksud membawa pasukanya ke arah barat. Ternyata jalan ke arah barat sudah ditutup Belanda. Jalan ke arah timur dan selatan pun sudah di kuasai Belanda. Mereka mengadakan pengepungan secara ketat. Satu-satunya jalan yang masih mungkin untuk dilalui ialah menempuh puncak Gunung Agung. Pasukan dalam keadaan letih, setelah hampir satu minggu mengalami kurang makan dan kurang minum. Daerah yang mereka lewati adalah daerah tandus. Namun akhirnya mereka berhasil mencapai sebuah cekungan berisi air dekat pura di puncak gunung. Pasukan akhirnya berhasil mencapai Buleleng bagian timur.
Untuk beberapa waktu lamanya pasukan Ngurah Rai tidak melancarkan serangan. Ia mulai mengubah taktik. Anak buahnya dalam rombongan-rombongan kecil di perintahkan kembali ke tempat asal masing-masing dengan tetap membawa senjata. Tugas mereka ialah menghidupkan kembali semangat perjuangan di kalangan keluarga mereka. Di beberapa tempat usaha itu membawa hasil yang baik. Sesudah itu Ngurah Rai mengadakan konsolidasi kembali, dan serangan-serangan gerilya mulai dilancarkan.
Sesudah berhasil memojokkan Ngurah Rai di Gunung Agung, Belanda mengira bahwa kekuatan Ngurah Rai sudah lumpuh. Tetapi serangan-serangan gerilya menyadarkan mereka bahwa Ngurah Rai masih merupakan ancaman. Pimpinan Militer Belanda di Bali berusaha mencari perdamaian dengan Ngurah Rai. Komandan pasukan Gajah Merah, Letnan Kolonel Ter Meulen, mengirim surat yang isinya mengajak Ngurah Rai untuk mengadakan perundingan dengan Belanda. Dalam surat jawaban singkatnya Ngurah Rai mengatakan, ”Soal perundingan kami serahkan kepada kebijaksanaan Pemerintah Republik di Jawa. Bali bukan tempatnya perundingan diplomatik dan saya tidak suka kompromis”.
Sementara itu antara pemerintah RI dan Belanda sudah dicapai persetujuan penghentian tembak – menembak. Dalam perundingan-perundingan yang di adakan antara delegasi kedua belah pihak akhirnya dicapi persetujuan politik. Persetujuan itu diparaf dalam pertemuan di Linggarjati, Jawa Barat, pada tanggal 15 November 1946. Dalam salah satu bagian tercantum bahwa Belanda mengakui kekuasaan de facto RI alas Jawa, Madura, dan Sumatra. Hsl itu berarti bahwa pulau-pulau lain, termasuk pulau Bali, tidak diakui sebagai bagian dan Rl. Bali sudah dimasukkan ke dalam Negara Indonesia Timur yang dibentuk oleh Belanda.
Menanggapi hasil-hasil yang dicapai di Linggarjati itu Ngurah Rai di depan pasukanya mengatakan antara lain, ”Jangan gentar, Sunda kecil harus mampu’berdiri sendiri. Lanjutkan perjuangan dengan apa yang ada walaupun perhatian dari pusat kurang.” Sesudah dengan ucapannya bahwa ia tidak mengenal kompromi, maka iapun semakin meningkatkan kegiatan gerilya. Menjelang pagi hari tanggal 18 November 1946 Ngurah Rai memimpin pasukannya menyerang Tabanan. Serangan itu di luar dugaan Belanda, dan mereka mengerahkan kekuatan dari seluruh Bali yang diperkuat pula dengan pasukan dari tempat-tempat lain di Sunda Kecil untuk menghancurkan pasukan Ngurah Rai. Pasukan gabungan yang di kerahkan itu terdiri atas pasukan”Gajah Merah ”. ”Anjing Nica”, ”Singa”,dan satuan-satuan Polisi Negara dan Polisi Perintis. Selain iu dikerahkan pula tiga buah pesawat terbang. Sasaranya ialah daerah sekitar Tabanan.
Pasukan Belanda yang demikian besar itu bukan tandingan bagi pasukan Ngurah Rai. Namun pasukan Ngurah Rai yang dikenal dengan pasukan ”Ciung Wanaar”, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka tetap memberikan perlawanan, sampai akhirnya mereka terdesak ke desa Marga.
Pertempuran terakhir terjadi tanggal 20 November 1946 di desa Marga. Kurang lebih pukul 05.30 pasukan Belanda mulai melepaskan tembakan-tembakan. Tetapi mereka belum mengetahui secara pasti posisi pasukan ciung Wanara. Menghadapi lawan yang jauh lebih kuat, Ngurah Rai memerintahkan anak buahnya supaya menghemat peluru. Pukul 09.00 pasukan Belanda mulai mendekat dari arah barat-laut. Namun sampai saat itu mereka belum melihat dengan jelas sasarn mereka. Pada saat pasukan Belanda semakin dekat dan berjarak hanya kira-kira 100 meter dari posisi Ciung Wanara, Ngurah Rai memrintahkan pasukannya melepaskan tembakan, yang menewaskan beberapa orang tentara Belanda.
Karena adanya tembakan balasan dari pasukan Ciung Wanara, maka Belanda dapat mengetahui posisi musuhnya. Sepasukan tentara Belanda melancarkan serangan dan arah timur. Anak buah Ngurah Rai membalas dengan menembakan senapan mesin. Usaha itu berhasil untuk sementara waktu menahan gerak maju pasukan Belanda. Namun kemudian Belanda Melancarkan serangan serentak dari arah barat dan arah selatan. Bersamaan dengan itu dikerahkan pula pesawat terbang pengintai. Menghadapi serangan serentak itu pasukan Ngurah Rai memberikan perlawanan sengit dan berhasil memukul mundur pihak penyerang. Kesempatan itu dipergunakan oleh pasukan Ngurah Rai untuk meloloskan diri dari kepungan. Kekuatan hanya tinggal satu kompi. Mereka bergerak di arah utara menyusur lembah. Pada saat itulah pesawat terbang Belanda melepaskan tembakan dari udara. Ngurah Rai mernerintahkan anak buahnya menyebar, tetapi mereka tidak dapat bergerak dengan cepat. Jalan sukar di tempuh, sebab ada jurang yang dalam. Berbarengan dengan tembakan roket dari pesawat terbang, pasukan Ngurah Rai menghadapi pula tembakan dari pasukan Belanda yang mulai mengejar mereka. Situasi semakin kritis. Dalam keadaan demikian Ngurah Rai berseru, ”Puputan” (yang berarti habis -habisan). Ngurah Rai bersama sebagian besar anak buahnya gugur dalam pertempuran yang penuh keberanian itu.
Pemerintah RI menghargai jasa – jasa dan perjuangan Ngurah Rai dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negaranya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No. 063/TK/Tahun 1975 tanggal 9 Agustus 1975. Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi kolonel. Namanya diabadikan pula dalam nama lapangan terbang di Denpasar. Sebuah kapal ALRI diberi nama Ngurah Rai, KRI Ngurah Rai.

MARSMA. TNI. ANM. R. Ishwajudi

R Iswahyudi bwIswahjudi dilahirkan tanggal 15 Juli 1918 di Surabaya, Jawa Timur. la adalah anak kedua dari sembilan orang bersaudara. Ayahnya bernama Wiryomiharjo dan ibunya Issumirah.
Pendidikan umum tertinggi ditempuh Iswahyudi di NIAS (Nederlandachi Indiache Artaen School, sekolah dokter), tetapi tidak sampai tamat. Rupanya pemuda yang menyenangi musik ini lebih tertarik untuk menjadi penerbang daripada menjadi seorang dokter. Demikianlah, dalam tahun 1941 ia mengikuti pendidikan pada Luchvasrt Opleiding School (sekolah penerbang) di Kalijati, Jawa Barat.
Pada saat itu bahaya perang mulai mengancam Indonesia. Sudan sejak bulan September 1939 Eropa dilanda oleh perang yang kemudian dikenal dengan nama Perang Dunia n. Di Asia, Jepang mulai memperlihatkan sikap agresif. Tujuan Jepang ialah menguasai Asia dan Pasifik dan hal itu merupakan ancaman terhadap bangsa -bangsa Eropa yang berkuasa di sebagian wilayah ini, termasuk Belanda yang keuka itu masih menjajah Indonesia Karena adanya ancaman perang itulah Pemerintah In­dia Belanda memindahkan para siswa sekolah penerbang ke Adelaide, Australia. Iswahjudi pun ikut dipindahkan. Di tempat yang baru ini pendidikan merekadilanjutkan. Pada waktu kemudian sebagian para siswa ini melanjutkan pendidikannya di Amerika Serikat. Ada di antara mereka yang kelak ikut serta sebagai penerbang dalam perang dunia H
Umumnya Siswa – siswa Indonesia tidak senang di pindahkan ke Australia. Sebagian dari mereka berusaha kembali ke Indonesia. Dalam tahun 1943 Iswahjudi dan beberapa orang temannya berhasil melarikan diri dari tempat pendidikan. Dengan menggunkan dua buah perahu karet berlayar menuju Indonesia. Resiko yang dihadapi cukup besar, bahaya di laut dan kemungkinan tertangkap oleh Jepang yang ketika itu sudah menguasai lautan sekitar Australia dan Indonesia. Sebagian anggota rombongan memang tertangkap dan kemudian dibunuh oleh Jepang. Tetapi Iswahjudi berhasil mendarat dengan selamat di pantai Lodoyo, daerah militer di Kediri Selatan.
Kedatangan Iswahjudi diketahui oleh mata – mata Jepang. Bagaimanapun ia tercatat sebagai anggota angkatan udara Belanda. Karena itu ia ditangkap dan dimasukan kedalam kamar tahanan Karangmenjangan di Surabaya. Beberapa waktu kemudian status tahanannya diubah menjadi Tahanan kota. Selain itu ia juga berhasil memperoleh pekerjaan sebagai pegawai Kotapraja Surabaya. Tugasnya adalah mengawasi tempat – tempat rekreasi. Status sebagai tahanan kota ini tidak pernah di cabut sampai saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, walaupun pelaksanaannya tidak terlalu ketat. Malahan untuk melakukan pernikahan dengan Suwarti, 27 Maret 1944, Iswahjudi diijinkan pergi ke Probolinggo.
Pada waktu Proklamasi Kemerdekaan, Iswahjudi tetap berada di Surabaya. Bersama dengan pemuda – pemuda lain, ia turut serta dalam pengambilalihan kantor – kantor pemerintah dari tangan Jepang. Ia memimpin sekelompok pemuda menyerbu kantor Jawatan Kereta Api, menurunkan Bendera Jepang di kantor tersebut dan menaikkan bendera Merah Putih. Sebagai pemuda yang pernah mendapat pendidikan terbang, iapun ikut mengamankan pesawat terbang dan peralatannya yang berhasil direbut dari tangan Jepang di Tanjung Perak.
Situasi dalam kota Surabaya semakin hari semakin panas. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Jepang terjadi hampir setip hari. Karena itu Iswahjudi memindahkan keluarganya ke Madiun, sedangkan ia sendiri tetap tinggal dalam kota.
Suatu kali terjadi salah paham di antara kelompok – kelompok pemuda. Iswahjudi ditangkap dan bersama dengan beberapa orang temannya ia di tahan oleh kelompok pemuda lain. Setelah terbukti bahwa ia tidak bersalah, barulah ia dibebaskan kembali. Iswahjudi kemudian menggabungkan diri ke dalam satuan Polisi Kota Surabaya.
Perebutan – perebutan kekuasan dari tangan Jepang di kota Surabaya berakhir pada awal Oktober 1945. Tetapi sejak minggu terakhir bulan itu para pemuda Surabaya menghadapi musuh baru, yakni pasukan Inggris yang datang ke Indonesia mewakili sekutu. Tugas mereka sebenarnya hanyalah melucuti pasukan Jepang, memulangkan orang – orang Jepang ke tanah airnya dan membebaskan orang – orang Sekutu yang ditawan Jepang. Dalam kenyataanya Inggris berusaha mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia.
Insiden bersenjata antara pihak Inggris dengan pemuda Surabaya mulai terjadi dua hari setelah mereka mendarat. Dalam satu insiden tanggal 30 Oktober 1945 panglima pasukan Inggris di Surabaya, Brigadir Jenderal Mallaby, mati terbunuh. Pada tanggal l0 November 1945 Inggris dengan kekuatan satu divisi melancarkan serangan besar – besaran dari laut, dan udara terhadap kota Surabaya. Pertempuran berlangsung selama tiga minggu. Barulah pada akhir November 1945 pejuang – pejuang Surabaya meninggalkan kota untuk membangun pertahanan baru di luar kota.
Sementara itu di Yogyakarta sedang berlangsung kesibukan dalam rangka menyusun kekuatan udara. Pada tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah RI membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Dalam Organisasi TKR terdapat satu bagian yang disebut TKR Jawatan Penerbangan. Bagian inilah yar»g diserahi tanggung jawab untuk menyusun kekuatan udara. Masalah yang di hadapi TKR Jawatan Penerbangan cukup berat. Jumlah penerbang sangat sedikit dan umumnya belum banyak berpengalaman. Pesawat terbang yang ada hanya beberapa buah, merupakan warisan dari tentara Jepang, itupun dalam keadaan rusak.
Dengan segala kemampuan yang ada dan fasilitas yang sangat kurang, pimpinan TKR Jawatan penerbangan berusaha membangun kekuatan udara RI. Salah satu usaha yang dilakukan ialah mendidik calon – calon penerbang. Dalam bulan Desember 1945 TKR Jawatan Penerbang membuka Sekolah Penerbang di Yogyakarta. Sekolah itu dipimpin oleh Adisujipto yang mendapat pendidikan tebang dalam zaman Belanda. Sebagai seorang yang juga pernah mendapat pendidikan penerbang. Iswahjudi berangkat ke Yogyakarta dan menggabungkan diri dengan pimpinan TKR Jawatan penerbangan. Berkat Pimpinan Adisujipto, dalam waktu tiga minggu ia sudah mempu menerbangkan pesawat setelah kurang lebih tiga tahun lamanya tidak pernah menyentuh kapal terbang. Berkat keterampilannya ia kemudian diangkat menjadi instruktur Sekolah Penerbang dengan pangkat Opsir Udara II. Sekaligus ia juga diangkat menjadi pembantu utama Adisutjipto.
Mendidik calon penerbang pada masa itu bukanlah pekerjaan yang ringan. Mereka harus melakukan percobaan terbang, sedangkan pesawat yang ada umumnya dalam keadaan rusak. Karena itu diperlukan terlebih dahulu perbaikan pesawat. Namun berkat ketekunan Adisudjipto dan Iswahjudi di percobaan – percobaan terbang berhasil dilaksanakan yang sekaligus dikaitkan dengan tugas – tugas lain. Pada taggal 23 April 1946 tiga buah pesawat cukiu tingal landas dari lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta menuju lapangan terbang Kemayoran, Jakarata. Penerbangan berbentuk formasi ini membawa rombongan delegasi RI yang terdiri dari Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) S. Suryadarma dan Jenderal Mayor Sudibyo yang akan mengadakan perundingan dengan delegasi Sekutu mengenai penyelesaian tawanan perang dan orang – orang interniran. Iswahyudi ikut dalam penerbangan ini bersama-sama Adisutjipto, Imam Suwongso Wirjosaputro, dan Abdul Halim Perdanakusuma.
Bulan berikutnya dilakukan latihan terbang formasi. Satu formasi menuju Serang, Jawa Barat, sedangkan formasi lainya menuju Malang dan Madura. Dalam latihan ini digunakan pesawat Cureng dan Cukiu. Pesawat Cureng berada dibawah pengawasan Iswahjudi dan I.S. Wiryosaputro, sedangkan pesawat Cukiu di bawah pengawasan Adisutjipto. Latihan terbang ini berhasil dengan baik.
Dalam usaha untuk meningkatkan minat kedirgantaran, pada tanggal 10 Juli 1946 diadakan demontrasi terbang di Pangkalan Udara Cibeureum, Tasikmalaya. Dari Yogyakarta didatangkan lima buah pesawat Cureng untuk memeriahkan demontrasi ini. Iswahyudi dan rekan-rekannya berhasil menarik perhatian masyarakat berkat ketangkasan yang diperlihatkannya dalam menerbangkan pesawat.
Pembina-pembina AURI selalu berusaha memperbaiki pesawat-pesawat rongsokan peninggalan Jepang. Salah sebuah pesawat itu diberi rrama ”Diponegoro I”. Untuk mengadakan uji-coba, maka pada tanggal 10 Agustus 1946 Adisutjipto, Iswahjudi dan Husein Sastranegara beserta juru teknik Kaswan dan Rasyidi, menerbangkan nya dari Maguwo ke Maospati, Madiun.
Percobaan – percobaan terbang yang berhasil baik itu menambah keyakinan pembina-pembina AURI bahwa mereka akan berhasil membangun kekuatan udara yang sangat diperlukan oleh sebuah negara yang baru saja merdeka dan sedang menghadapi ancaman musuh. Pembangunan itu termasuk pula pembinaan wilayah dan dalam hal ini AURI melakukan inspeksi ke pangkalan-pangkalan yang tersebar di Jawa dan Sumatra. Tanggal 27 Agustus 1946 enam buah pesawat jenis Nishikoren, Cukiu, dan Cureng tinggal landas dan lapangan Maguwo menuju Sumatra bagian Selatan. Dalam perjalanan kembali ke Yogyakarta, pesawat yang dikemudikan Iswahjudi mengalami kerusakan mesin. Tak ada pilihan lain selain melakukan pendaratan darurat. Berkat keterampilan Iswahjudi pesawat berhasil mendarat di pantai Pameunpeuk, Garut Selatan, Jawa Barat, tanpa mengalami kerusakan berat. Dalam pesawat itu ikut KSAU, Komodor Udara S. Suryadarma.
Iswahjudi termasuk salah seorang perwira andalan AURI. Semua jenis pesawat terbang yang ada ketika itu sudah diterbangkannya dan dikuasainya dengan baik. Pesawat Dakota C-47 VT-CLA milik seorang industrialis India, Patnaik, yang mendarat di Maguwo bulan Pebruari 1947, pernah pula diterbangkannya. Untuk itu, Iswahjudi bersama Adisutjipto berlatih selama dua hari. Pesawat inilah yang pada tanggal Juli 1947 ditembak secara brutal oleh pesawat terbang Belanda di atas udara Yogyakarta sehingga terbakar dan menewaskan beberapa orang pimpinan AURI, antara lain Abdulrachman Saleh.
Sebagai seorang militer, Iswahjudi pun mengalami perpindahan tugas. Pada mulanya ia diserahi tugas sebagai instruktur Sekolah Penerbang di Yogyakarta. Sesudah itu ia diangkat menjadi Komandan Pangkalan Maospati, Madiun, menggantikan Abdurachman Saleh yang diangkat menjadi Komandan Pangkalan Bugis, Malang. Jabatan sebagai Komandan Pangkalan Bugis dipangku Iswahjudi selama satu tahun. Beberapa waktu lamanya ia ditempatkan di Yogyakarta dan setelah itu, diserahi jabatan sebagai komandan Pangkalan Udara Gadut, dekat Bukittinggi, Sumatera Barat. Di samping itu, bersama-sama Abdul Halim Perdanakusuma ia bertugas pula membentuk dan menyusun organisasi AURI di Sumatera. Bahkan ia mendapat tugas khusus untuk menyelenggarakan hubungan udara dengan luar negeri.
Tugas menyelenggarakan hubungan dengan luar negeri merupakan tugas yang cukup berat dan berbahaya. Pada waktu itu Belanda melakukan blokade yang ketat terhadap wilayah RI, baik di darat, di luar, maupun di udara. Di darat Belanda selalu berusaha memojokkan RI ke daerah-daerah yang miskin. Blokade laut dan udara dimaksudkan Belanda untuk melumpuhkan perdagangan RI dengan luar negeri dan juga untuk mencegah masuknya senjata dari luar ke Indonesia. Namun Blokade ini, dengan keberanian yang luar biasa, dalam beberapa hal berhasil ditembus oleh pihak RI. AURI beberapa kali berhasil menerbangkan diplomatik RI ke luar negeri, antara lain Misi Haji Agus Salim, Misi Sutan Sjahrir, dan Misi Wakil Presiden Moh. Hatta dalam kunjungan tidak resmi ke India. Misi Agus Salim berhasil menarik simpati beberapa negara Arab sehingga mereka mengakui RI. Dalam membawa misi Wakil Presiden, Iswahjudi bertindak sebagai kopilot.
Untuk melakukan tugasnya, AURI memerlukan pesawat yang cukup. Masyarakat diajak berpatisipasi dalam hal pembelian pesawat terbang. Sewaktu bertugas sebagai Komandan Pangkalan Udara Gadut, Bukittinggi, Iswahjudi menghimbau masyarakat setempat untuk mengumpulkan uang guna membeli sebuah pesawat terbang. Himbauan itu berhasil baik. Secara bergotong royong masyarakat Bukittinggi mengumpulkan uang dan harta benda mereka, walaupun keadaan ekonomi pada masa itu cukup sulit. dana yang terkumpul ditukar dengan emas seberat 12 kilogram itulah dibeli sebuah pesawat terbang jenis Avro Anson dari seorang pedagang Amerika bernama Keegan. Pesawat itu kemudian. diberi registrasi RI-003. Sesuai dengan perjanjian, Keegan akan mengantarkan pesawat ke Bukittinggi dan kemudian ia akan diantarkan kembali ke Bangkok.
Sesudah pesawat tiba di Bukittinggi, Iswahyudi mengadakan percobaan terbang dan berhasil dengan baik. Sesudah itu bersama dengan Halim Perdanakusuma ia berangkat ke Bangkok untuk mengantarkan Keegan. Selain mengantarkan Keegan, meraka mendapat tugas pula untuk mengadakan kontak dengan pedagang-pedagang Singapura dalam rangka membeli senjata yang akan dibawa ke tanah air lewat Singapura.
Tanggal 14 Desember 1947 pesawat terbang di udara Perak, Malay­sia. Tiba-tiba cuaca berubah memburuk. Hujan lebat turun disertai badai yang cukup kuat. Iswahyudi berusaha melakukan pendaratan darurat. Karena jarak penglihatan sangat pendek, pesawat membentur pohon kayu ketika berusaha menghindari suatu ketinggian di pantai. Pesawat akhirnya jatuh di laut di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia.
Sore hari tanggal 14 Desember 1947 itu Polisi Lumut, Malaysia menerima laporan tentang terjadinya kecelakaan pesawat terbang. Pada waktu itu mereka belum mengetahui bahwa pesawat yang jatuh itu adalah pesawat RI-003. Seorang anggota Polisi berangkat ke tempat kecelakaan. tetapi karena air sedang pasang, ia hanya dapat melihat ekor pesawat. Keesokan harinya beberapa orang nelayan menemukan sesosok mayat terapung di laut beberapa ratus meter dari pantai. Pencarian terus diadakan. Akhirnya di temukan barang-barang lain dan kepingan-kepingan pesawat. Salah satu barang yang ditemukan ialah kartu nama Halim Perdanakusuma. Ditemukan pula sebuah dompet berisi lembar uang ketas Siam, kartu – kartu bertuliskan Iswahyudi dan sarung pisau dengan tulisan di atasnya Keegan.
Dari bukti-bukti yang ditemukan itu diambil kesimpulan bahwa pesawat terbang yang mengalami kecelakaan itu adalah pesawat milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Disimpulkan pula bahwa kecelakaan terjadi bukan karena kerusakan mesin, tetapi karena cuaca yang sangat buruk.
Berita mengenai kecelakaan pesawat segera tersebar luas. Tokon-tokoh masyarakat Malaysia yang bersimpati terhadap perjuangan Indonesia menaruh perhatian yang besar terhadap peristiwa tersebut. Dilumut di bentuk panitia pemakaman untuk menguburkan Halim Perdanakusuma. Mayat Iswahyudi tidak pernah di temukan, walaupun pencarian dilakukan secara insentif.
Kecelakaan pesawat RI-003 merupakan pukulan yang berat bagi AURI khususnya dan perjuangan Indonesia umumnya. AURI kehilangan dua orang perwira yang sangat diandalkan dan tenaganya masih sangat diperlukan. Beberapa bulan sebelumnya AURI telah pula kehilangan perwira-perwiranya, antara lain : Abdurachman Saleh dan Adisucipto ketika pesawat Dakota CT-CLA ditembak Belanda di udara Yogyakarta.
Berita duka itu diterima isteri Iswahyudi dan segenap anggota keluarga dengan rasa pedih dan pilu. Wakil Preisiden Hatta yang sedang berada di Bukittinggi secara khusus mengirim surat belasungkawa kepada isteri Iswahyudi. Dalam surat itu Wakil Presiden mengatakan bahwa Iswahyudi di gugur sebagai pahlawan bangsa.
Pemerintah menghargai jasa dan perjuangan Iswahyudi untuk kepentingan bangsa dan negara. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 06/TK/Tahun 1975, tanggal 9 Agustus 1975, Isawahyudi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Bertepatan dengan Hari Pahlawan tanggal 10 November 1975 makam Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi secara simbolis dipindahkan dari Lumut ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pemerintah RI dengan SK Presiden No. 063/TK.1975 tanggal 9 Agustus 1975 menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Marsekal Muda TNI Anumerta R. Iswahyudi.

Marsda TNI. ANM. Abdul Halim Perdanakusuma

Marsda TNI. ANM. Abdul Halim Perdanakusuma

Sejak zaman Majapahit, bahkan sebelumnya hingga zaman Mataram pulau Madura merupakan unsur penting dalam kerajaan di pulau Jawa. Sekarang pulau madura termasuk wilayah Jawa Timur dan terkenal dengan karapan sapinya. Di kota kabupaten Sampang di pulau Madura Trunajaya dilahirkan sebagai seorang pejuang yang berani melawan kekuasaan Belanda pada abad ke-17. Di kota Sampang ini pulalah dilahirkan pada tanggal 18 Nopem,ber 1922 Abdul Halim Perdanakusuma, Laksamana Muda TNI Angkatan Udara.
Abdul Halim Perdanakusuma adalah putera Patih Sampang sebelum menunaikan ibadah haji, beliau bernama Raden Mohammad Siwa. Sekembalinya dari tanah suci berganti nama menjadi Raden Haji Mohammad Bahauddin Wongsotaruno. Ibu Abdul Halim bernama Raden Ayu Asyah, puteri Raden Ngabehi Notosubroto, Wedana Gresik Jawa Timur.
Abdul Halim adalah anak keempat dari sembilan bersaudara sekandung sedangkan seluruhnya saudaranya lain ibu berjumlah 27 orang. Pada tahun 1928 Abdul Halim Perdanakusuma mulai masuk Sekolah Dasar (Hollandsch Inlandsche School/HIS) di kota Sampang. la termasuk anak yang cerdas dapat menamatkan sekolah dengan lancar.
Sejak kecil ia tidak suka banyak bicara. la termasuk anak pendiam. Kalau bicara selalu bersungguh-sungguh atau serius. Meskipun demikian ia cukup ramah dan suka bergaul. Ia pun mempunyai sifat rendah hati. Hingga dewasa sifat-sifat itu dibawa terus. Tindakannya selalu dilakukan dengan hati-hati dan diperhitungkan dengan masak-masak oleh karenanya apa yang direncanakannya banyak yang berhasil.
Ia pandai bergaul dengan segala golongan tanpa membedakan antara yang ningrat dan yang bukan. Sebagai hobby atau kegemaran ia bermain biola dan melukis. Di sekolahnya ia berhasil membentuk sebuah band yang dipimpinnya.
Sesudah tamat ELS pada tahun 1935, ia melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Pertama (MULO). Sementara ia masih duduk di bangku SMP, ay ahnya meninggal dunia selanjutnya ia mengikuti kakaknya yang tertua, yaitu Abdulhadi di Surabaya. Sewaktu di MULO ia mengembangkan bakatnya melukis. Hasil karyanya berupa lukisan yang diserahkan kepada kakaknya untuk dijual di pasar Tunjungan, Surabaya. Dengan hasil karyanya itu Abdul Halim dapat memperingan biaya sekolahnya. Kegiatan lainnya ialah bermain musik seperti telah diuraikan di atas.
Sesudah tamat dari MULO ia melanjutkan ke MOSVIA, yaitu Sekolah Pamong Praja di kota Magelang, untuk meneruskan jejak ayahnya yang semasa hidupnya bekerja di Pamong Praja. Setelah lulus dari MOSVIA Abdul Halim bekerja sebagai calon mantri polisi dikantor Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Sementara itu keadaan dunia makin gawat. Pada bulan September 1939 pec’ah Perang Dunia II. Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1940, negeri Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman. Hubungan antara Hindia Belanda dengan negara Belanda putus, dan pasukan Jepang dapat menyerbu Hindia Belanda setiap waktu. Dengan terbum-buru pemerintah Hindia Belanda menyiapkan kekuatan pertahanan untuk menangkis pertahanan Jepang. Menjelang masa yang gawat itu pemerintah Hindia Belanda memberi sedikit kesempatan kepada para pemuda Indonesia untuk memasuki pendidikan perwira pada angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara.
Abdul Halim yang sedang bekerja di kantor Kabupaten Probolinggo, ditunjuk oleh bupati untuk mengikuti pendidikan perwira Angkatan Laut. Sesudah lulus dari tes ia ditempatkan di bagian pendidikan calon perwira kapal torpedo. Dengan demikian ia masuk Angkatan Laut Hindia Belanda.
Pada bulan Maret 1942 pasukan Jepang mendarat di pulau Jawa. Angkatan Laut Hindia Belanda berusaha melawan Jepang, tetapi sia-sia belaka. Banyak kapal Hindia Belanda yang tenggelam dan terkubur di dasar lautan. Sisanya berlayar menuju Cilacap dalam rangka persiapan mengungsi ke Australia dan India. Dalam iring-iringan kapal Belanda itu termasuk pula kapal torpedo tempat Abdul Halim bertugas.
Di kota pelabuhan Cilacap, kapal torpedo itu diserang oleh pesawat terbang Jepang sehingga tenggelam. Abdul Halim Perdanakusuma terjun ke laut dan beruntunglah ia diselamatkan oleh kapal perang Inggris. Bersama mereka yang selamat Abdul Halim dibawa ke Australia dan kemudian diangkut ke India.
Di India Abdul Halim Perdanakusuma tetap berada dalam lingkungan Angkatan Laut. Kegemaran melukisnya masih tetap ditekuninya. Pada suatu hari yang luang, rupanya ia melukis potret Laksamana Mountbatten. Panglima Armada Inggris di India. Lukisan itu digantungkannya dikamarnya. .
Suatu ketika, Laksamana Mountbatten mengadakan inspeksi. Semua kamar anak buah di asrama itu diperiksa. Dikamar Abdul Halim, Laksamana Mountbatten melihatnya lukisan wajahnya tergantung di dinding. Ia lalu bertanya, siapa yang melukis itu? Abdul Halim menjawab singkat, bahwa dialah yang melukis.
Sejah itu terjadilah hubungan pribadi antara Laksamana Mountbatten dengan Abdul Halim. Apalagi sesudah mengetahui bahwa Abdul Halim itu putera Indonesia, Laksamana Mountbatten lalu menawarkan kepada Abdul Halim apakah suka menambah pendidikan di negara Inggris ? Abdul Halim menyetujui tetapi mohon agar diperkenankah pindah bidang, yaitu Angkatan Udara. Permintaan itu dikabulkan. Sesudah itu Abdul Halim diterbangkan ke Jibraltar dan selanjutnya ke London. Kemudian iamengikuti pendidikan juru terbang di Kanada. Di Kanada ia berlatih di Royal Canadian Air Forte jurusan navigasi. Sejak itu mulailah pengabdiannya di Angkatan Udara.
Sesudah selesai dengan pendidikannya, Abdul Halim ditempatkan di Inggris sebagai perwira navigasi Angkatan Udara Inggris. Sebagai manusia biasa tentu ia sangat rindu tanah air, bangsa dan keluarganya. Selama berkecamuknya peperangan itu, ia sama sekali tidak mendengar kabar tentag nasib keluarganya. Sedangkan keluarganya ditanah air sudah menganggap, bahwa Abdul Halim tentu sudah gugur dan tenggelam di lautan ketika kapal torpedo yang ditumpanginya dibom Jepang di perairan Cilacap pada awal Perang Pasifik itu.
Tentulah Abdul Halim dapat juga mengirim surat melalui Palang merah Internasional memberitahukan keadaannya kepada keluarganya di Surabaya dan Sampang, tetapi Abdul Halim juga menyadari resikonya. kalau Jepang mengetahui dia perwira Inggris, niscaya akan menangkap dan menganiaya seluruh keluarga Abdul Halim. Karena itu Abdul Halim tetap menahan dan menyabarkan diri. Satu-satunya harapan ialah agar perang dapat lekas selesai.
Abdul Halim makin memusatkan pekerjaannya pada bidang Angkatan Udara. Berkali-kali ia mengikuti pemboman ke Jerman. Ia mengalami berbagai pertempuran sengit di udara, berupa duel-duel antara kapal-kapal terbang Inggris dengan kapal-kapal terbang Jerman. Abdul Halim masuk dalam skuadron tempur yang terdiri dari pesawat Lancaster dan Liberator. Waktu itu ia berpangkat kapten Penerbangan dan merupakan salah seorang perwira Angkatan Udara berkulit berwarna yang tidak banyak jumlahnya.
Dalam operasi serangan pemboman ke Jerman, Kapten Abdul Halim tercatat 42 kali mengikutinya. Sasaran utamanya ialah pusat-pusat industri Jerman. Serangan-serangan itu dilakukan pada siang dan malam hari. Pernah terjadi dalam penerbangan kembali ke pangkalannya di Inggris, skuadronnya dicegat oleh pesawat-pesawat Fockewulf yang membawa senjata roket. Terjadilah duel di udara yang seru. Pihak Sekutu kehilangan tiga buah pesawat pembom B-17 karena tembakan roket Jerman.
Setiap kali mendarat di pangkalan dengan selamat. kawan-kawannya selalu membicarakan pengalaman-pengalaman di medan pertempuran, sesudah itu tidak jarang mereka mengambil pena dan menulis pengalamannya kapada keluarganya di rumah. Alangkah sedihnya bagi Abdul Halim karena ia tidak dapat menceritakan pengalamannya atau menulis surat kapada keluarganya. Ia tetap menahan diri demi keselamatan keluarganya. Karena itu hidupnya di tanah Inggris itu bagaikan seorang anak yatim piatu.
Satu hal yang mengherankan setiap kali Abdul Halim ikut dalam serangan udara di atas kota-kota Jerman dan Perancis, maka pastilah seluruh pesawat dalam skuadron itu kembali dengan selamat ke pangkalannya. Karena itu Angkatan Udara Inggris memberi sebutan The Black Mascot atau Si Jimat Hitam kepadanya. Para perwira senior pun menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Tentu hal-hal tersebut menggembirakan hatinya.
Sesudah perang di Eropa berakhir, maka selesai pula tugas Abdul Halim. Ia kini tinggal menunggu waktu untuk pulang kembali ke tanah air. Tetapi untuk sementara waktu ia harus bersabar, karena Jepang masih menduduki Indonesia.
Untunglah pasukan Jepang segera menyerah kepada Sekutu sehingga Abdul Halim dapat segera pulang ke tanah air. Kapten Abdul Halim ikut bersama pasukan Inggris yang mendarat di Jakarta pada bulan September – Oktober 1945. Pasukan Inggris itu atas nama Sekutu bertugas melucuti tentara Jepang dan memulangkan ke negerinya. Begitu mendarat di Jakarta ia lebih dulu menelpon gadis, Kussadalina yang bekerja di Rumah Sakit Bersalin Budi Kemulyaan Tanah Abang, Jakarta.
Gadis berasal Madiun itu dikenalnya waktu ia bertugas dalam Angkatan Laut Hindia Belanda di Surabaya. Alangkah terkejutnya Kussadalina menjumpai Abdul Halim dalam keadaan hidup dan segar bugar. Kussadalina dan seluruh keluarga di Surabaya dan juga keluarga Abdul Halim di Sampang sudah bertahun-tahun menduga bahwa Abdul Halim sudah gugur di perairan Cilacap.
Dengan tabah dan penuh haru Kussadalina berkata lirih ”Saya mau menerimamu, asal jangan memakai seragam penerbang Angkatan Udara kerajaan Inggris. Pakaian seragam itu akan menyulitimu dan diriku. Sekarang Indonesia sudah merdeka. Semua yang bercorak kebelandaan tentu dimusuhi” Abdul Halim menjawab, ”Saya tidak mempunyai pakaian lain kecuali piyama untuk tidur. Apakah saya harus ganti dengan piyama”. Kussadalina menjawab, ”Piyama lebih baik dari pada seragam RAF (Royal Air Force, Angkatan Udara Kerajaan Inggris)”.
Keesokan harinya Abdul Halim dengan surat dari Perdana Menteri Syahrir pergi menengok keluarganya ke Kediri. Tetapi di Kediri ia ditahan oleh pasukan Republik Indonesia dan dimasukkan ke dalam penjara karena dicurigai sebagai tentara NICA (Belanda).
Sementara itu Residen Kediri, yaitu Pratalikrama adalah termasuk kakak Abdul Halim sendiri. Residen Kediri sesudah mendengar adiknya ditahan, segera memberi kabar ibu Abdul Halim, yaitu Ibu Wongsotaruno. Sang ibu pun lalu pergi ke Kediri tetapi alangkah kecewa hatinya, karena yang berwajib hanya mengizinkan Ibu Wongsotaruno selama sepuluh menit saja untuk menjenguk putranya yang sudah tiga setengah tahun tidak dijumpainya.
Di penjara itu Abdul Halim berbaur dengan tahanan lainnya. Ia pun menulis perjalanan hidupnya di tembok rumah tahanan Kediri, sehingga menarik perhatian para petugas penjara, siapakah gerangan sebenarnya orang yang ditahan ini.
Sesudah beberapa waktu dan sesudah jelas semuanya. Pemerintah segera membebaskan Abdul Halim. Ia lalu pulang ke Sumenep. Kepala Staf Angkatan Udara RI Suryadi Suryadarma segera memanggil Abdul Halim Perdanakusuma ke Yogyakarta untuk memperkuat Angkatan Udara RI yang baru saja didirikan. Tentara Keamanan Rakyat atau TKR Jawatan Penerbangan yang kemudian menjadi AURI dan TNI Angkatan Udara, mulai giat membangun dengan menggunakan pesawat terbang tua Jepang jenis Cureng dan Ciukyu. Dengan pesawat rongsokan itu pula Abdul Halim melatih pemuda-pemuda untuk menjadi penerbang Angkatan Udara RI. Pada tanggal 23 April 1946 jam 12.30 tiga buah pesawat AURI bermotor satu terbang di udara Jakarta dan mendarat di Kemayoran. Dalam penerbangan percobaan itu ikut serta Abdul Halim Perdanakusuma.
Selanjutnya Abdul Halim juga terbang ke arah timur dan mendarat di lapangan pegaraman di Sumenep, Madura. Ia juga memimpin penerbangan formasi ke Malang.
Waktu itu ia berpangkat Komodor yang selalu mendampingi Kepala Staf AURI Suryadarma dan sering pula berkonsultasi dengan Panglima Besar Jendral Sudirman. Komodor Halim Perdanakusuma juga melatih pasukan penerjun payung yang menggunakan pesawat Dakota.
Dengan gugurnya komodor Agustinus Adisutjipto di Maguwo yang menjabat Wakil Kepala Staf AURI, maka Komodar Halim Perdanakusuma diangkat sebagai penggantinya.
Dengan keberanian yang luar biasa, Komodor Halim Perdanakusuma memimpin operasi pemboman ke kota-kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang yang waktu itu diduduki Belanda. Mereka membom kota-kota tersebut dengan pesawat-pesawat Cureng yang sebenarnya bukan pesawat pembom. Sungguh luar biasa. Bom-bom itu diikat pada bagian bawah sayap pesawat untuk kemudian dilepaskan dan jatuh ke tanah.
Baru saja dua bulan Komodor Halim Perdanakusuma menikah dengan Kussadalina, ia sudah diperintahkan berangkat ke Bukittinggi bersama Opsir I lswahyudi untuk membangun AUR1. Pekerjaan itu sungguh berat, karena mereka harus mampu menembus blokade Belanda untuk berhubungan dengan luar negeri gunamembeli perlengkapan, persenjataan dan obat-obatan. Sering pula ia menerbangkan para pejabat negara untuk berbagai tugas. Komodor Halim Perdanakusuma juga memimpin penerjun pasukan payung di daerah Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947. Pada waktu isterinya mengandung empat bulan Komodor Halim Perdanakusuma ditugaskan untuk menerbangkan pesawat terbang Auro Anson RI-003 dari Muangthai ke Indonesia. Tugasnya itu dilakukan bersama Opsir lswahyudi melakukan penerbangan tersebut dari Muangthai menuju Singapura untuk mengambil obat-obatan. Di sekitar Tanjung Hantu, Malaysia, udara sangat buruk. Ketika pesawat akan melakukan pendaratan darurat, terjadi kecelakaan. Sayap pesawat melanggar pohon dan patah, kemudian meledak. Malapetaka itu tepatnya terjadi di Labuhan Bilik Besar, antara Tanjung Hantu dan Teluk Senangin di Pantai Lumut, Malaysia. Komodor Halim Perdanakusuma dan Opsir lswahyudi gugur dalam malapetaka itu.
Selama bertahun-tahun jenazah Laksamana Muda TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma dimakamkan di Tanjung Hantu, Malaysia. Kemudian kerangka jenazahnya dipindahkan ke Indonesia, ke makam Pahlawan Kalibata pada tanggal l0 November 1975.
Laksamana Muda Halim Perdanakusuma besar sekali jasanya dalam membina dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia. Segala pikiran, kemampuan, serta pengalamannya, baik berupa teknik penerbangan, taktik perang udara, penguasaan navigasi pesawat terbang dan sebagainya telah dimanfaatkan dan disumbangkan untuk membina Angkatan Udara Republik Indonesia.
Atas jasa-jasanya bagi Negara dan Bangsa itu pemerintah RI dengan SK Presiden No. 063/TK/Th. 1975 tertanggal 9 Agustus 1975 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsekal Muda TNI. Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma.

Hj. Rasuna Said

Hj. Rasuna Said

Dalam tahun 1932 suhu perjuangan rakyat di Sumatera Barat menentang penjajahan Belanda meningkat, bahkan memuncak dengan ditangkapnya seorang wanita muda pemimpin PERMI (Partai Muslimin Indonesia), seorang jago pena.
Rasuna Said, demikianlah nama wanita pemimpin tersebut yang waktu itu baru berusia 22 tahun. la ditangkap, ditahan dalam penjara, akhirnya dihukum dan diasingkan ke Semarang, JawaTengah. Peristiwa itu sangat menggemparkan. Beritanya dimuat didalam surat-surat kabar Indonesia dan Cina Melayu. Pers Indonesia banyak yang membuat usulan, mencela tindakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Peristiwa itu terjadi setelah Bung Karno, pemimpin tertinggi PNI (Panai Nasional Indonesia) dalam tahun 1930 dijebloskan dalam penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Perhitungan Belanda sama sekali meleset, bahwa dengan menangkap dan memenjarakan pemimpin-pemimpinnya, pergerakan rakyat akan menjadi lumpuh. Kenyataannya menunjukkan kebenaran pepatah: ”Patah tumbuh hilang berganti”. Satu penjarakan, seratus bangkit, bahkan seribu orang tampil kedepan dengan semangat perjuangan yang menyala-nyala melawan penjajah. Taktik dan strategi perjuangan dapat bertukar, namun tujuan kemerdekaan Indonesia, lepas dari Belanda, tidak pernah pudar.
Gerakan kegiatan Rasuna Said selaku wanita muda Islam dari dan tanah Minagkabau merupakan kejanggalan di jaman itu. Wanita Minang masih banyak sekali terikat kepada adat dan agama, namun Rasuna, puteri Haji Mohammad Said itu dengan segala keberaniannya telah merintis gerak kaum wanita Minangkabau dengan tidak menyalahi adat dan agama. la maju bergerak berkat pimpinan guru-gurunya dari kelompok ”Kaum Muda”, yang membawa aliran pembaharuan Islam di Sumatera Barat. Pemimpin-pernimpin ”Kaum Muda”, Buya H. Abdul Rasyid, Buya Abdul Karim Amarullah (ayah almarhum Dr. Hamka), H. Udin Rahmany dan Iain-lain adalah guru-guru yang telah menempa jiwa Rasuna Said. Dalam pada waktu itu ayahnya sendiri termasuk orang pergerakan, demikian pula kakak ayahnya yang mengasuh Rasuna dimasa kecil.
Rasuna Said bukan pemimpin yang muncul mendadak. tetapi tampil dengan bakat dan pendidikan sejak masa kecilnya, didukung oleh kemauan keras dan keyakinan yang teguh. la dilahirkan pada tanggal 14 September 1910 di Maninjau Sumatera Barat. Waktu kecil ia tinggal pada kakak ayahnya yang memimpin keluarganya dan memimpin usaha bersama mereka, yaitu C.V. Tunaro Yunus. Usaha dagangnya berhasil hingga keluarga itu cukup kaya dan terpandang didalam masyarakat.
Umur 6 tahun Rasuna disekolahkan pada sekolah Desa di Maninjau sampai kelas 5 tamat, kemudian meneruskan pelajarannya pada sekolah Diniyah yang disebut ”Diniyah School” di Padang Panjang dibawah pimpinan Zainudin Lebai El Yunusi.
Di Sekolah ini ada kebiasaan murid mengajar di kelas yang lebih rendah. Dengan demikian Rasuna Said mendapat latihan mengajar.Tugas itu dilakukannya dengan baik dan berhasil. Pada tahun 1923 didirikan Sekolah Diniyah Puteri oleh Ibu Rahmah El Yunusi. Rasuna Said diangkat menjadi pembantu mengajar di Sekolah itu. Disamping itu, bersama ibu Rahmah Ei Yunusi pula ia belajar secara pribadi kepada Dr. H. Abdul Karim Amurullah, seorang pemimpin terkemuka dari Kaum Muda di Padang Panjang. Kemudian Rasuna meneruskan pelajarannya kepada Sekolah ”Meses”, yaitu Sekolah Mengatur Rumah Tangga dan masak memasak.
Pada tahun 1926 terjadi gempa hebat di Padang Panjang dan Rasuna pulang kembali ke Maninjau. Di tanah kelahirannya itu ia tidak tinggal diam. ia belajar pada Sekolah yang dipimpin oleh H. Abdul Majid dan golongan ”Kaum Tua”. Karena merasa tidak memperoleh keserasian jiwa, akhirnya ia pindah belajar di Sekolah ”Thawalib” di Panyinggahan Maninjau. ”Sekolah Thawalib” itu didirikan oleh perkumpulan Islam ”Sumatra Thawalib” yang menganut paham nasionalisme dan berhaluan radikal.
Di Sekolah tersebut Rasuna Said termasuk murid terpandai. Pelajaran yang menurut jadwal tamat setelah 4 tahun belajar, dapat diselesaikan oleh Rasuna dalam waktu 2 tahun. Menurut H. Udin Rahmay pemimpin ”Sekolah Thawalib” dengan menamatkan Sekolah itu kepandaian dan kedudukan dan pengalamannya itu Rasuna sudah cukup memperoleh ”senjata” untuk hidup dan berjuang bagi bangsa dan agamanya.
Bakat dan kepandaiannya mendukung Rasuna memasuki pergerakan rakyat. Ia mempunyai sifat jujur dan ikhlas sehingga terpenuhilah persyaratan sebagai pemimpin pergerakan rakyat. Haluannya radikal, keras berlandaskan tabiat suka berterus terang, baik dengan kawan maupun dengan lawan. la pun pandai menyimpan rahasia, khususnya rahasia pergerakan demi keselamatan anggota-anggotanya.
Muka-mula pada tahun 1926 Rasuna masuk perkumpulan ”Serikat Rakyat” (SR) dan duduk didalam pengurus sebagai penulis. Kemudian SR menjelma menjadi (PSII) Partai Serikat Islam Indonesia. Rasuna pun tetap menjadi anggota dan duduk dalam pengurusnya pula. Disamping itu ia menjadi anggota PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia).
.PERMI didirikan oleh perhimpunan ”Sumatra Thawalib” dalam konperensinya pada tanggal 22 – 27 Mei 1930 di Bukit Tinggi. Pada mulanya ”Sumatra Thawalib” bergerak dibidang sosial, khususnya pendidikan. Perhatian PERMI lebih banyak kepada soal-soal politik, bahkan akhirnya dalam tahun 1932 menyatakan dirinya sebagai partai politik. PERMI berubah arti menjadi ”Partai Muslimin Indonesia” dengan haluan radikal non-koperasi (tidak bekerjasama dengan Pemerintah Hindia Belanda). Pemimpin utamanya H. Muchtar Luthfi, keluarga Universitas Al Azhar di Mesir.
Karena PERMI menjadi partai politik dan PSII pun suatu partai politik, maka Rasuna Said yang menjadi anggota dari kedua partai itu. terkena disiplin PSII yang sejak Kongres pada tahun 1921 telah melarang keanggotaan rangkap dan partai politik. Disiplin itu dipatuhi oleh Rasuna Said dengan menetapkan pilihannya pada PERMI. Dengan demikian ia keluar dari PSII dan tetap menjadi anggota PERMI.
Didalam PERMI kegiatan Rasuna amat menonjol, demikian pula ketangkasannya terpuji. Ia memberikan kursus-kursus, antara lain pelajaran berpidato dan berdebat sebagai latihan ketajaman pikiran. Dimana-mana ia memberikan ceramah untuk para anggota PERMI dan berpidato dimuka umum membentangkan azas dan tujuan partainya, yaitu: Kebangsaan (Nasionalisme) yang berjiwa Islam, dan berhaluan non-koperasi untuk mencapai Indonesia Medeka
Ia terkenal sebagai ahli pidato (Orator) dengan semangatnya yang berkobar-kobar. Bung Karno dan Bung Hatta dikenalnya dengan surat menyurat dan dari kedua pemimpin besar itu ia merasa pula mendapat bimbingan dalam perjuangannya.
Nama Rasuna said makin terkenal dan meningkat tenar bersama dengan nama partainya, PERMI, sampai dipelosok-pelosok Sumatera Barat. Usahanya dalam pendidikan telah menyebabkan rakyat dipedesaan mengenal PERMI dengan Rasuna Said nya. Usaha pendidikan yang dilaksanakan atas prakarsa dan oleh Rasuna Said antara lain :
1. Kursus Pembrantasan Buta Huruf dengan nama Sekolah ”Menyesal”,
2. Membuka Sekolah Thawalib Rendah di Padang dan mengajar di ”Sekolah Thawalib Puteri”.
3. ”Kursus Puteri” yang dipimpin oleh Rasuna Said disamping ia mengajar pada ”Kursus Normal”, kedua-duanya di Bukit Tinggi. Dimana sekaligus digembleng kader-kader partai PERMI.
PERM1 berkembang cepat. Di seluruh Sumatera Barat berdiri cabang-cabangnya, bahkan sampai di Tapanuli, Bengkulu, Palembang dan Lampung. Bersama dengan berkembangnya PERMI, kegiatan, kepandaian, pengaruh Rasuna Said dikalangan rakyat menjadi bertambah besar. Ha! ini menarik perhatian Polisi Urusan Politik Hindia Belanda (PID) = Politike Inlichtingen Dienst. Pada tiap-tiap rapat umum PERMI dan Iain-lain partai tentulah dihadiri oleh wakil PID. Kalau ada pidato yang dianggapnya terlalu keras yang dapat dianggapnya melanggar ketentraman umum, maka pidato itu diketok, pembicara diperingatkan. Hal seperti tersebut terjadi berkali-kali pada waktu Rasuna Said berpidato hingga akhirnya pada waktu ia berpidato di rapat umum PERMI di Payakumbuh dalam tahun 1932, sedang semangatnya menyala-nyala, ia diperingatkan, bahkan akhirnya dilarang meneruskan pidatonya. Kemudian ia ditangkap, ditahan dalam penjara, akhirnya diajukan ke muka Pengadilan Kolonial. Ia dijatuhi hukuman 1 tahun 2 bulan dengan pengasingan ke Semarang Jawa Tengah. Di tempat pengasingannya itu ia disimpan di penjara Wanita Bulu, dalam kota Semarang. Di dalam penjara yang sama itu wanita pemimpin terkemuka, Surastri Karma (S.K) Trimurti, bekas Menteri Perburuhan R.I (sekarang sarjana ekonomi) berkali-kali dijebloskan karena tulisan-tulisannya yang tajam yang dianggap oleh penguasa menghasut rakyat menentang penjajah. Tuduhan yang sama itu pulalah yang membawa Rasuna Said masuk penjara di Bulu. Semarang itu.
Dimasukan penjara selama 1 tahun 2 bulan tidak menjadikan luntur semangat Rasuna Said. Keberaniannya tidak surut. Setelah selesai menjalani hukuman ia pulang ke Sumatera Barat dan tinggal di Padang. Kemauannya masih tetap keras untuk meneruskan perjuangan, khususnya didalam PERMI. Tetapi selama ia didalam penjara, Pemerintah Hindia Belanda terus mengobrak-abrik PERMI. Para pemimpin utamanya, trio: Muchtar Luthfi, Jalaluddin Thaib dan Ilyas Yakub, ketiga-tiganya keluaran Universitas AI Azhar di Mesir dan pendiri “Sumatra Thawalib” ditangkap pada tanggal 11 Juli 1933, kemudian dalam tahun 1934 mereka dibuang ke Digul, Irian.
Kenyataan tersebut amat memilukan hati Rasuna Said, namun ia tidak tinggai termenung dalam kepiluannya. Ia segera mengisi waktunya dengan belajar. Meskipun ia telah berusia 23 tahun, ia masih menuntut pelajaran di “Islamic College” yang dipimpin oleh Muchtar Yahya (sekarang Kyai Haji, Pensiunan Dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta) dengan penasehat almarhum Mr. Dr. Kusumah Atmaja, Jaksa Agung RI yang pertama. Dalam hal menuntut ilmu, Rasuna Said berpegang teguh pada ajaran Islam. Menuntut ilmu tidak mengenal umur dan jarak jauhnya tempat ilmu didapat.
“Islamic College” memang didirikan oleh Dewan Pengajaran PERMI pada tahun 1931. Selain memberikan pengetahuan dan pendidikan guru agama Islam, College itu memberikan pula pendidikan untuk menjadi pemimpin (PERMI). Lama pelajarannya 4 tahun. Dengan menggunakan kesempatan belajar itu, Rasuna Said berhasil mengisi waktunya dengan bermanfaat. Ia terpilih sebagai pemimpin redaksi majalah ”Raya” yang diterbitkan oleh para murid Islamic College. Pena Rasuan Said terkenal tajam menjelaskan keberaniannya yang menyala-nyala hingga majalah itu mampu membawakan cita-cita pendidikan sosial dan politik.
Kegiatan Rasuna Said dalam PERMI tidak berkurang, namun tindakan pemerintah Hindia Belanda terhadap partai itu makin kejam dengan menjalankan intimidasi kepada masa pengikut PERMI. Oleh karena itu rakyat anggota PERMI dilanda kebingungan dan ketakutan. Maka tertutuplah jalan bagi PERMI untuk bergerak. Gerak langkahnya amat dibatasi oleh berbagai peraturan dan larangan sehingga praktis PERMI tidak dapat berkutik. Dalam pada itu tindakan terhadap pemimpinnya makin kejam. Akhirnya tidak ada jalan lain bagi PERMI kecuali membubarkan diri. Pembubaran PERMI itu terjadi pada tanggal 28 Oktober 1937.
Bubarnya PERMI merupakan pil yang paling pahit yang harus ditelan Rasuna Said. Ia tidak setuju dengan pembubaran partainya, tetapi apakah daya seorang diri dan seorang wanita ? Hatinya amat masgul dan kemasgulanya itu kemudian dibawanya meninggalkan Sumatera Barat, tanah kelahirannya yang penuh kenangan duka dan suka. la pindah ke kota Medan, Sumatera Utara dan disanalah ia meneruskan perjuangan dengan cara yang berlainan, tetapi sama tujuan, yaitu Kemerdekaan Indonesia.
Di Medan ia merintis jalannya sendiri, yaitu melaksanakan rencana yang meliputi 2 bidang, yaitu:
Pendidikan dengan mendirikan ”Perguruan Puteri”, dan Jurnalistik dengan menerbitkan majalah ”Menara Puteri”.
Peranannya yang menonjol ialah dibidang jurnalistik dengan majalah ”Menara Puteri” tersebut. Majalah itu membawakan suara perjuangan kaum wanita yaitu: emansipasi (persamaan hak) bagi kaum wanita dengan dasar pembaharuan Islam, bertujuan Kemerdekaan bangsa dan tanah air Indonesia. Majalah itu terkenal dengan semboyan: ”Ini dadaku, mana dadamu”. Semboyan itu mempunyai arti ganda, baik untuk para pembacanya maupun untuk pihak manapun juga, termasuk pihak penguasa. Semboyan itu mengajak berbicara dan berbuat secara terang-terangan, blak-blakan, namun jujur dan adil.
Rasuna Said tinggal dan berjuang di Kota Medan hingga Pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut pada Jepang. Pada permulaan jaman lepang ia kembali ke Padang. Disana pun ia tidak berhenti berjuang.
Bersama dengan Chotib Sulaeman ia mendirikan ”Pemuda Nipon Raya” untuk mempersatukan pemuda-pemuda di Sumatera Barat. Pada lahirnya perkumpulan itu bekerjasama dengan Pemerintah Jepang, namun hakekatnya membentuk kader-kader perjuangan Kemerdekaan. Cita-cita yang hakiki itu kadang-kadang tidak dapat disembunyikan oleh para pemimpin pemuda itu, khususnya Rasuna Said. Pada suatu saat ia berhadapan dengan pembesar Jepang, Mishimoto. Kepada pembesar itu Rasuna Said mengungkapkan ”ini dadaku” dengan mengatakan, ”Boleh tuan menyebut Asia Raya, karena tuan menang (perang), tetapi Indonesia Raya pasti ada di sini”. Berkata demikian ia menunjuk pada dadanya sendiri, maksudnya di ”dalam dadanya”, dalam cita-citanya yang tidak boleh ditawar-tawarkan lagi berkobar cita-cita kebesaran tanah air dan bangsa Indonesia.
Setelah Jepang mengetahui cita-cita yang sebenarnya dari ”Pemuda Nipon Raya”, maka perkumpulan itu dibubarkan. Para pemimpinnya ditangkap tetapi kemudian dibebaskan karena pengaruh mereka sungguh besar di kalangan rakyat dan pemuda. Terus menyekap pemimpin-pemimpin itu, berarti Jepang menghadapi resiko bertentangan dengan rakyat. Dan resiko itu mereka hindari.
Pemimpin-pemimpin rakyat di Sumatera Barat yang tak luntur keyakinannya, terus berjuang, meskipun jaman Jepang banyak ranjau dan penuh bahaya. Setelah di Jawa dibentuk Heiho dan PETA (Pembela Tanah Air), maka para pemimpin rakyat di Sumatera Barat mengusulkan kepada pemerintah Jepang untuk membentuk Laskar Rakyat yang disebut ”Gya Gun”.
Usui tersebut diterima. Gya Gun dibentuk dan sebagai pelaksanaannya ditunjuk Chotib Sulaeman, sedang Rasuna Said duduk memimpin bagian puteri dengan nama: ”Tubuh Ibu Pusat Laskar Rakyat”. Rasuna Said giat pula didalam propaganda, khususnya dengan tujuan membentuk kader perjuangan bangsa. Dengan kader-kader yang sudah mendapat gemblengan itu, kemudian menjadi tokoh-tokoh dalam Bidang Keamanan Rakyat (TKR), lalu menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan akhirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada tanggal 13 Agustus 1945 Rasuna Said bersama-sama dengan tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin lainnya membentuk ”Komite Nasional Indonesia” (KNI). Sumatera Barat sebagai Badan yang pertama-tama didirikan di Sumatera Barat untuk memantapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sudah di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta.
Rasuna Said giat sekali dan melebarkan sayap KNI Sumatera Barat dengan membentuk KNI Kawedanan dan Nagari. Untuk itu ia mengunjungi daerah-daerah untuk menggembleng rakyat.
Pada waktu dibentuk ”Panitya Pembentukan Dewan Perwakilan Nagari” yang bersama-sama Wali Nagari (Kepala Daerah) jasanya cukup besar dalam pembentukan Dewan Perwakilan Nagari itu.
Kelanjutan dari pada usaha tersebut, pada tanggal 17 April 1946 dibentuk Dewan Perwakilan Sumatera (DPS) dan Rasuna Said terpilih mewakili daerah Sumatera Barat, bersama-sama dengan Iain-lain tokoh seluruh Sumatera.
Karir Rasuna Said dalam politik terus meningkat. Pada sidang Plen. KNI Sumatera Barat yang ke 8 pada tanggal 4 – 6 Januari 1947 ia terpilih menjadi salah seorang dari 15 orang anggota yang mewakili Sumatera untuk duduk di dalam KNI Pusat di Jakarta. Dari 15 orang itu akhirnya 12 orang yang diangkat menjadi anggota KNI Pusat 11 orang lainnya dari Sumatera Barat mengikuti sidang KNIP di Malang dalam tahun 1847, suatu sidang yang bersejarah karena menetapkan (meratifikasi) Perjanjian Linggarjati.
Selanjutnya didalam segala hal mengenai Sumatera Barat, Rasuna Said tidak pernah ditinggalkan. Atas anjuran Bung Hatta dibentulah ”Front Pertahanan Nasional” (FPN) yang diketuai oleh Hamka. FPN itu beranggotakan seluruh kekuatan yang ada didalam masyarakat, baik parta-partai politik, maupun organisasi massa serta kekuatan sosial ekonomi. Dalam kegiatan ini Rasuna Said duduk pula sebagai anggota pengurus seksi wanita.
Kemudian Rasuna Said diangkat menjadi anggota Badan Pekerja (BP) KNIP yang berkedudukan di Yogyakarta. Dengan terbentuknya Republik In­donesia Serikat (RIS) sebagai hasil Konferensi Meja Bundar, Rasuna Said ditunjuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia Serikat.
Pada tanggal 17 Agustus terbentuklah negara Kesatuan Republik In­donesia. Dalam DPR sementara Rasuna Said ditunjuk menjadi anggotanya. Kemudian pada tanggal 11 Juli 1957 ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Nasional dan setelah Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 ia ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Selama di Jawa ia pun giat dalam PERWARI dan pernah diangkat menjadi ketua Panitia Penyelenggara Kongres Nasional Perdamaian.
Dimuka telah diterangkan, bahwa Rasuna Said selalu bersikap terbuka, terus terang, ini dadaku, mana dadamu. Sikapnya yang terus terang dan konsekuen tidak pernah dilepaskan. Dalam menghadapi pemberontak PRRI di Sumatera Barat, ia pun berterus terang kepada Akhmad Husein, pemimpin tertinggi PRRI dengan mengikatkannya, agar jangan memberontak membawa-bawa rakyat Sumatera Barat.
Rasuna Said sejak masa gadisnya berjuang terus, tak mengenai berhenti, kecuali diistirahatkan di dalam penjara oleh penguasa Kolonial. Seluruh perhatiannya, kepandaiannya, kesanggupannya, tenaga dan pikirannya ditumpahkan untuk perjuangan. Dapat dikatakan hampir-hampir tidak ada waktu memikirkan keperluan pribadinya.
Tidak banyak cerita tentang kehidupan rumah tangganya, kecuali ia kawin dengan pemuda pilihannya, yaitu Dusky Samad dan dari perkawinan itu ia memperoleh seorang putri, bernama Auda yang sekarang Nyonya Auda Zaskhya, tinggal bersama suaminya di Jakarta. Keluarga Zaskhya itu telah dikarunian beberapa orang anak.
,”H. Rasuna Said benar-benar tidak pernah berhenti dari perjuangan sehingga rupanya kurang merasakan, bahwa ia sedang mengandung penyakit yang membahayakan, yaitu penyakit kanker. Karena penyakit itulah ia meninggal dunia pada tanggal 2 November 1965. Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pada saat meninggal dunia, almarhumah adalah Anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Pemerintah R.I menghargai jasa-jasanya. Dengan S.K. Presiden R.I No. 084/ TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974 almarhumah Hajjah Rasuna Said dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Teuku Nyak Arif

Teuku Nyak Arif

Namanya telah menunjukkan, bahwa Teuku Nyak Arif seorang bangsawan Aceh. la dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1899 di Ulee-lee, Banda Aceh. Ayahnya Teuku Nyak Banta yang nama lengkapnya Teuku Sri Imeum Nyak Banta, Panglima (kepala Daerah) Sagi XXVI Mukim. Ibunya bernama Cut Nyak Reyeuh, bangsawan daerah Ulee-lee pula. Teuku Nyak Arif adalah anak ketigadari lima orang bersaudara sekandung. 2 laki-laki dan 3 perempuan. Saudara tirinya yang dilahirkan dari 2 orang isteri ayahnya yang lain, 3 perempuan dan 2 laki-laki.
Teuku Nyak Arif, setelah menamatkan Sekolah Dasar di Banda Aceh pada tahun 1908, meneruskan ke Sekolah guru (Kweek School) di Bukit Tinggi jurusan pangrehpraja, kemudian melanjutkan ke OSVIA(Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren = Sekolah Calon Pangrehpraja) di Banten, tamat tahun 1915. la memang disiapkan sebagai pegawai pamongpraja untuk menggantikan ayahnya sebagai Panglima Sagi XXVI. Sebenarnya sejak 1911 ia sudah mewarisi kedudukan itu, namun masih terlalu muda, ayahnyalah yang mewakilinya hingga 1919.
Sejak kecil Nyak Arif sudah tampak cerdas dan berwatak berani dan keras. Ia membenci Belanda karena menganggapnya bangsa itu penjajah negerinya yang membawa kesengsaraan rakyat Aceh. Sejak kecil ia sudah mengenal sumpah sakti orang Aceh. “Umat Islam boleh mengalah sementara, tetapi hanya sementara saja, dan pada waktunya umat Islam harus melawan kembali”. Kebenciannya kepada Belanda itu menyebabkan ia bersikap melawan. Ia tidak mau menerima tunjangan f 10,- setiap bulan yang disediakan pemerintah untuk anak-anak Aceh yang belajar di luar Aceh. Di sekolahan ia tidak mau tunduk kepada perintah gurunya, misaJnya untuk menghapus tulisan di papan tulis dan sebagainya.
Kegemarannya, bermain sepak bola dan menjadi bintang lapangan, baik di Banda Aceh maupun kemudian di Bukit Tinggi. Pada tahun 1935 ia dipilih menjadi ketua dari Persatuan sepak bola Aceh (Acehse Voetbalbond). Keahlianya di dalam kesenian, sebagai pemain bola.
Teuku Nyak Arief kawin dengan puteri Teuku Maharaja, Kepala Daerah di Lhok Seumawe. Perkawinan itu oleh mertuanya akan dirayakan secara besar-besaran seperti lazimnyadi kalangan bangsawan Aceh, namun Nyak Arif menolak. la minta perkawinannya dilaksanakan dengan sederhana dan sang mertuapun terpaksa menumtinya. Perkawinan itu tidak berlangsung lama. Suami Isteri bercerai sebelum dikaruniai anak. Kemudian Nyak Arif kawin dengan pemudi Jauhari, berpendidikan Mulo (SMP Belanda) anak mantri polisi Yazid, asal Minangkabau. Suami Isteri hidup teratur dengan disiplin keluarga yang mampu membawanya ke jenjang kebahagiaan. Mereka dikaruniai 3 orang anak, 2 laki-laki dan yang bungsu wanita. Anaknya mula-mula disekolahkan pada sekolah Rendah Belanda (ELS), namun kemudian 2 orang puteranya dipindahkan ke Taman Siswa, dan yang bungsu bersekolah di Muhammadiyah. Tentang sekolah anak-anaknya itu sudah memberikan petunjuk, bahwa Teuku Nyak Arif seorang yang berpandangan maju dan memiliki sifat-sifat sebagai nasionalis.
Nyak Arif memang seorang nasionalis Indonesia yang mengikuti faham nasionalisme Nederlandsch Indische Partij (NIP) pimpinan trio Dr. E.F.E. Douwes Dekker (Setyabudi Danudiria), Dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro). Pada tahun 1919 ia menjadi anggota NIP, Bahkan ketua cabang Banda Aceh. Sebagai seorang Nasionalis ia selalu memihak kepada rakyat, mengikuti jejak pengarang mashur Max Havelaar, maka di kalangan kaum terpelajar ia mendapat nama panggilan Max. Nama ini terkenal di kalangan NIP dan Aceh Vereninging (Syarekat Aceh) yang diketuainya dan bergerak di bidang sosial.
Sebagai Panglima atau Kepala Daerah Sagi XXVI sikapnya tegas dan keras. Ia senantiasa menjalankan peraturan Pemerintah dengan kebijaksanaan dan memperhatikan kepentingan rakyat, dalam arti memberikan keringanan-keringanan kepada beban yang ditanggung oleh masyarakat. Sebagai Panglima Sagi XXVI ia bertempat tinggal di Lam Nyong. Ia terkenal giat di dalam masyarakat. Berbagai gerakan ia ikuti kecuali Muhammadiyah dan Taman Siswa, ia lebih dulu membantu berdirinya Jong Islamietan Bond (JIB) di Banda Aceh dan Jong Sumatranen Bond (Pemuda Sumatra). Kebijaksanaannya didukung oleh kecakapannya mempertemukan dan merukunkan golongan muda dan tua, dan golongan ulama dan bangsawan. Yang terakhir ini perbedaan kaum ulama dan kaum bangsawan, merupakan ciri khas masyarakat Aceh. Dan Nyak Arif berhasil mengatasi kesulitan itu hingga tercapai persesuaian yang laras, khususnya dalam mengabdi kepada masyarakat dan agama.
Di Aceh Teuku Nyak Arif tercatat sebagai orang yang terkemuka, mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat, kecakapannya sebagai orang keluaran OSVIA tampak menonjol, terutama didukung oleh keberaniaannya menghadapi pembesar Belanda. Oleh karena itu pada tanggal 16 Mei 1927 atas usul Residen Aceh ia diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Disamping itu pekerjaannya sebagai Panglima Sagi XXVI tetap dijalankan dengan baik. Sebagai anggota VOLKSRAAD ia lebih banyak tinggal di Aceh daripada di Jakarta.
Di sidang-sidang Volksraad ia selalu menunjukkan kecakapan dan keberaniannya terutama dalam mengeritik kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda. Lebih khusus lagi ketangkasannya menghadapi orang-orang Belanda anggota-anggota Volksraad yang reaksioner. Seringkali namaTeuku Nyak Arif muncul dalam laporan-laporan perdebatan di Volksraad di dalam sural kabar. Ia terpuji sebagai, ”anak Aceh yang berani dan lurus” seperti ditulis dalam laporan harian Bintang Timur. Ia mampu menandingi jago-jago bicara Belanda terkenal seperti Mr. Drs. Fruin, Lighart dan Zentgraaf, wartawan ulung yang amat terkenal pada zamannya. Ucapannya yang dihadapkan kepada lawan dan kepada pemerintah antara lain, ”Orang yang sopan tidak akan mencoba menekan hak rakyat.”
Pada tanggal 27 Januari 1930 di dalam Volksraad diumumkan oleh Muhammad Husni Thamrin, berdirinya fraksi nasional sebagai reaksi tindakan kejam Belanda terhadap Pergerakan Nasional PNI (Partai Nasional Indonesia) dengan penangkapan-penangkapan pimpinan-pimpinannya dan sebagai kelompok yang sanggup menandingi golongan Belanda yang terhimpun dalam Vaderlandsche Club (Cinta tanah air Belanda). Fraksi Nasional itu diketuai oleh Moh. Husni Thamrin dengan anggota-anggota, Kusumo Utoyo, Dwijosewojo, Datuk Kayo, Muchtar, Teuku Nyak Arif, Suangkupon, Pangeran Ali dan R.P. Suroso.
Di dalam fraksi nasional itupun Nyak Arif cukup menonjol. Dalam sidang Volksraad tanggal 18 Juni 1928 ia menjelaskan pendiriannya tentang Persatuan Indonesia, antara lain sebagai berikut :
”Jika kita membicarakan keadaan politik di negeri haruslah memakai kata Indonesia. Ada juga pemimpin Indonesia segan memakai kata Indonesia itu. Kata Indonesia mengandung suatu kebangsaan dan bukan sesuatu yang hampa dan impian. Dasar pembentukan kebangsaan itu adalah bahasa, kesenian dan hukum tanah. Dasar-dasar itu harus dikembangkan ke arah kesatuan kebangsaan, sebagai salah satu syarat untuk mencapai kemerdekaan kenegaraan (Staatkundige vrijheid) ….
”Wallah, Billah, Tallah. Saya berjanji setia kepada tanah air, bangsa dan agamadan tidak menghianati perjuangan.” Semua yang hadir mengikuti sumpah Nyak Arif termasuk Teuku Daud Beureuh, Teuku Cut Hasan, Teuku Syekh Ibrahim Lamnga, Teuku H. Abdullah Indrapuri dan Teuku H. Abdullah Lam U. Demikianlah gambaran kegiatan dan wibawa Teuku Nyak Arif di dalam masyarakat luas di Aceh.
Pada akhir 1941 Jepang menyerbu Malaka. Penang jatuh pada 19 Desember 1941, Ipoh pada 28 Desember dan pada 11 Januari 1942 Kualalumpur dan Singapura jatuh pula. Kemudian pada 22 Januari 1942 Sabang di boom dengan hebat dan kapal Belanda Hr. Mr. Wegu ditenggelamkan di Pelabuhan Ule-Ule. Keadaan menjepit menghimpit Belanda dan rakyat Aceh mulai bangkit bersiap-siap menjelang datangnya jepang.
Pemberontakan terjadi di Seubineum. Orang-orang Eropa di Banda Aceh diungsikan ke Medan. kontrolir Tinggelman dibunuh. Kepala Jawatan Kereta Api van Sperling dibunuh. Hubungan telpon dengan Medan diputuskan. Rel-rel di Indrapuri dibongkar. Di Banda Aceh diumumkan jam malam.
Pada tahun 1939 berdiri Persatuan Ulama Aceh, disingkat PUS A yang diketuai oleh Teuku Daud Beureuh. Pemuda-pemuda PUSA mengadakan hubungan dengan Jepang di Malaya sejak 1940 sampai 1942. Kemudian Jepang mempergunakan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh dengan segala jalan. Teuku Nyak Arif prihatin melihat langkah-langkah PUSA dan menganggapnya sebagai suatu kemunduran bagi Pergerakan Nasional.
Keadaan makin lama makin memuncak. Pada 8 Maret 1942 Residen Aceh mengadakan pertemuan politik dengan Teuku Muhmud dan Teuku Nyak Arif. Permintaan Nyak Arif agar Pemerintah diserahkan kepadany a ditolak oleh Residen. Pertemuan lanjutan pada 10 dan 11 Maret 1942 diundang 9 pemimpin-pemimpin Aceh, namun Nyak Arif tidak hadir. Ternyata 8 orang pemimpin yang hadir semuanya ditangkap. Rumah Nyak Arif di Lam Nyong diserbu, namun Nyak Arif tak diketemukan dan keluarganya sempat meninggalkan rumahnya sebelum diserbu Belanda. Kolonel Gozenson panglima milker di Aceh berusaha sungguh-sungguh untuk menangkap Nyak Arif, tetapi tidak berhasil. Pemimpin-pemimpin lainnya, Cut Hasan Mauraxa, Hanafiah dan Raja Abdullah berhasil ditangkap.
Pada 12 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Sabang, kemudian Mayor Jenderal Overakker dan Kolonel Gazenson menyerah kepada Jepang pada 28 Maret 1942. Sementara itu rakyat telah membentuk ”Komite Pemerintah sebelum meninggalkan mimbar ini, sekali lagi saya menunjukkan kepada bangsaku yang terhormat pada kenyataan, bahwa mereka dalam batas-batas hukum secara mutlak dapat berjalan bersama untuk mewujudkan cita-cita, dengan melalui persatuan Indonesia mencapai kemerdekaan nasional.”
Dalam tahun 1931 berakhirlah keanggotaan Teuku Nyak Arif dalam Volksraad. la kembali ke pekerjaannya sekaligus giat dalam perjuangan rakyat di Aceh. Berbagai langkah dan tindakannya senantiasa menuju, kepentingan dan keringanan rakyat bahwa pembelaan terhadap nasib rakyat kecil. Sekalipun kejadian tidak di wilayah kekuasaannya, namun Nyak Arif tidak segan-segan bertindak. Dialah satu-satunya Ulebalang (Panglima) yang amat disegani baik oleh rekan-rekannya maupun Belanda, pajak nipah yang hendak dikenakan di daerah bukan kekuasaan Nyak Arif dibatalkan karena tuntutan Teuku Nyak Arif. Kontrolir, polisi dipindahkan kerena tindakannya yang sewenang-wenang dituntut oleh Nyak Arif.
Di dalam gerakan agama ia terkenal dengan prakarsanya menentang Ordonasi mencatat perkawinan (sipil) karena hal itu bertentangan dengan agama Islam dan tidak ada manfaatnya dijalankan di Aceh yang penduduknya hampir semuanya beragama Islam. Ia mendukung Muhammadiyah, termasuk Hizbul Wathan dan pemuda Muhammadiyah. Ia menyokong Taman Siswa dengan terang-terangan sebagai donatur tetap. Pada waktu Taman Siswa menentang Ordonansi Sekolah Liar, Teuku Nyak Arif membantu aksi perlawanan Taman Siswa dengan gigih. Pendeknya hampir semua kegiatan masyarakat yang bersifat sosialis politis ekonomi untuk kepentingan nasional, pastilah disokong oleh Nyak Arif atau dialah yang justu memprakarsainya. Berdirinya Beasiswa Aceh diprakarsai dan diketuai olehnya berhasil mengirimkan siswa-siswa ke Perguruan Tinggi.
Pada saat Belanda dalam keadaan lemah karena menghadapi serbuan Hitler dalam Perang Dunia II, Nyak Arif dengan cekatan menggunakan kesempatan yang baik itu. Pada pertemuan pemimpin-pemimpin masyarakat, agama dan partai-partai politik, pada waktu memperingati wafatnya Dr. Sutomo. Teuku Nyak Arif berbicara dengan berkobar-kobar menanam semangat kebangsaan dan tahan uji dan sanggup mencapai kemerdekaan. Pada akhir pidatonya ia mengajak semua yang hadir bersumpah, mengikuti sumpah yang diucapkannya. Ia bersumpah oleh Haji Abdullah Lam U, mengucapkan Daerah Aceh” dengan Teuku Nyak Arif sebagai ketuanya.
Jepang mengatur pemerintahan di Indonesia dengan pembagian yang berbeda-beda dengan Belanda. Sumatera dan Kalimantan digabungkan dengan Malaya, dikuasai oleh tentara XXV. Jawa dikuasai oleh tentara XVI dan Indo­nesia Timur dikuasai oleh Angkatan Laut. Sumatera dibagi menjadi 9 karesidenan, masing-masing dikepalai oleh Residen Jepang (Cookang). Di Aceh Jepang menggunakan Kaum Ulebalag dalam pemerintahan. Hal ini menimbulkan kekecewaan untuk bidang keagamaan.
Teuku Nyak Arif menempuh jalan kerjasama dengan Jepang. la diangkat menjadi penasehat pemerintahan militer Jepang. Sebenamya Nyak Arif tidak menaruh kepercayaannya kepada Jepang. Ucapannya yang terkenal ialah: Kita usir anjing, datang babi, Belanda pergi datang Jepang, demikianlah maksud ucapan itu. Dua-duanya sama-sama busuknya.
Seperti pula terjadi di semua tempat, di Aceh pun Jepang bertindak kejam. Rakyat ditindas dan semuanya dikerahkan untuk kemenangan perangnya. Pangan dan sandang amat kurang. Maka terjadilah pada tahun 1942 pemberontakan yang dipimpin oleh Teuku Abdul Jalil di Cot Pliing. Jepang menyerbu pemberontakan yang sedang menjalankan solat subuh, namun serangan Jepang itu mengalami perlawanan yang sengit sekali. Jepang mundur, kemudian menyerang untuk kedua kalinya yang mengalami nasib yang sama. Baru yang ketiga kalinya serangan Jepang berhasil. Mesjid dibakar, Teuku Jalil dapat meloloskan diri, tetapi akhirnya pun terbunuh di waktu ia sedang bersembayang.
Pemerintah Jepang mengadakan Dewan Perwakilan Rakyat yang disebut ”Aceh Syiu Sangikai.” Nyak Arif diundang ke Tokyo bersama 14 orang pimpinan lainnya dari seluruh Sumatera. Pada waktu mau dihadapkan kepada Tenno Heika, Nyak Arif dan Teuku Hasan menolak menjalankan Saekere, memberi hormat dengan membungkuk seperti menyembah. Akhirnya disetujui hanya dengan menganggukkan kepala saja di muka Kaisar Jepang.
Sepulang dari Jepang, 2 orang wakil Aceh tersebut disuruh berpidato di muka Mesjid Raya Banda Aceh. Pidato mereka memuji kekuatan Jepang namun banyak sindiran, bahkan ejekan. Di lain kesempatan Teuku Hasan mengatakan Jepang itu di negerinya baik-baik, sedang di Indonesia mereka jahat dan jelek. Oleh karena itu ia ditangkap dan kemudian dibunuh.
Di zaman penuh kesulitan, rakyat banyak sekali mengalami penderitaan dan perlakuan tidak adil. Tidak sedikit orang yang mengadukan nasibnya kepada Teuku Nyak Arif dan ia pun sering kali banyak bertindak. Gedung Yatim Piatu Muhammadiyah akan digunakan asrama tentara Jepang. Atas bantuan Nyak Arif maksud Jepang itu dapat dicegah. Ia banyak sekali melemparkan kritik kepada tindakan Kenpetai dan Residen pula. Nyak Arif memang disegani oleh Jepang. Meskipun ia keras dan banyak benlrok dengan pejabat-pejabat Jepang sipil dan militer, namun pemerintah Jepang mau tidak mau harus memperhitungkan dia sebagai pimpinan rakyat Aceh yang besar pengaruhnya.
Pada tahun 1944 Nyak Arif dipilih menjadi Wakil Ketua ”Sumatera Chuo Sangi In” (Dewan Perwakilan Rakyat seluruh Sumatera) yang diketuai oleh Moh. Syafei. Ia berpendirian kerja sama dengan Jepang harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Dalam pidatonya pada bulan Maret 1945 antara lain ia katakan :
” Sumatera Chuo Sangi In akan membawa kita bersama secepat
mungkin kearah yang kita ingini hanyalah dengan penghargaan dan bekerja sama dari seluruh penduduk pulau Sumatera ini. Persatuan lahir bathin yang kokoh dengan mempunyai tujuan tertentu, yaitu ’Indo­nesia Merdeka’ haruslah menjadi tujuan hidup kita bersama. Kemerdekaan akan tercapai dengan berbagai-bagai pengorbanan, pengorbanan dan pertahanan yang sempurna hanya akan dilaksanakan oleh rakyat yang segar dan sehat….”
Kekalahan Jepang dalam perang Dunia II disampaikan oleh Chokang Aceh S. Ino Ino kepada pemimpin-pemimpin Aceh, Teuku Nyak Arif, Panglima Polim dan Teuku Daud Beureuh, katanya: ”Jepang telah berdamai dengan Sekutu.”
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terdengar di Aceh yang disampaikan oleh 2 orang pemuda kepada Teuku Nyak Arif, kemudian didapat berita-berita Radio Gram dari Adinegoro di Bukit Tinggi. Pemimpin-pemimpin rakyat mengadakan pertemuan dan membentuk ”Komite Nasional” (KNI). Pada tanggal 28 Agustus 1945 Teuku Nyak Arif dipilih menjadi ketuanya. Pada tanggal 3 Oktober 1945 Teuku Nyak Arif diangkat oleh pemerintah RI menjadi residen Aceh.
Selanjutnya Teuku Nyak Arif diliputi oleh berbagi kegiatan, baik soal-soal sipil maupun soal-soal keamanan / ketentaraan. Mula-mula dibentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) diketuai oleh Syamaun Gaharu yang kemudian menjadi Panglima divisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkatKolonel. Mula-mula Jepang menghalang-halangi API, namun karena ketegasan dan keberanian residen Teuku Nyak Arif yang didukung oleh kaum pemuda dan rakyat, maka akhirnya dapat dilaksanakan penyerahan senjata oleh Syucokan kepada residen RI. Senjata itu kemudian dibagikan kepada TKR dan Polisi Istimewa. PUSA tidak diberi senjata karena bukan Badan resmi.
Dalam keadaan peralihan yang serba berat, maka residen Nyak Arif lebih banyak menyerupai pimpinan ketentaraan. Oleh karenanya tugas sipilnya banyak diserahkan kepada wakil residen. Teuku Nyak Arif banyak mengadakan perjalanan keliling mengatur ketentaraan dan khususnya keamanan. Karena jasanya itu ia pada tanggal 17 Januari 1946 ia diangkat menjadi Jenderal Mayor Tituler.
Revolusi masih berjalan terus. Setiap waktu dapat terjadi perobahan yang di luar perhitungan. Di Aceh bergolaklah kembali persaingan antara kaum Ulebalang dan kaum ulama. Laskar yang terbesar di Aceh adalah Mujahidin dan Pesindo. Mujahiddin yang di bawah pengarauh kaum agama mempunyai ambisi akan menggantikan residen Nyak Arif. Maksud itu mendapat dukungan dari Tentara Perlawanan Rakyat (TPR).
Waktu itu Teuku Nyak Arif sedang beristirahat karena penyakit gulanya kambuh. Pimpinan TKR sanggup menghadapi TPR dan Mujahiddin, tetapi Nyak Arif tidak memberikan izin, katanya: ” Biarlah saya serahkan jabatan ini, asal tidak terjadi pertumpahan darah seperti di Pidie.” Maka dengan secara damai pangkatnya Jenderal Mayor diambil alih oleh Hasan Al Mujahid dan pangkat Kolonel Syamaun Gahara diambil alih oleh Husen Yusuf. Demikianlah dikisahkan dalam ”Pahlawan Nasional May. Jen. Teuku Nyak Arif,” Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Biografi/Drs. Mardanas Safwan, Pahlawan Nasional, 1976.
Nyak Arif ditangkap secara baik-baik dan terhormat, dibawa dengan kendaraan sedan dan dikawal oleh 2 orang anggota TPR yang berpakaian hitam dan memakai topeng. Para pemimpin terkemuka di Lam Nyong mengusulkan agar Teuku Nyak Arif diistirahatkan di sana, tetapi Nyak Arif manolak karena khawatir rakyat Lam Nyong akan membelanya dengan kekerasan. Semua langkah dan pikiran ditetapkan untuk Nyak Arif selalu untuk menghindari pertempuran sesama kita dan untuk maksud itu ia ikhlas berkorban. Korbannya terutama tidak lain ialah kedudukan dan pangkat yang ia ikhlaskan untuk mencegah pertempuran yang akan berakibat parah untuk kesatuan dan persatuan rakyat, sebab revolusi belum selesai. Rakyat harus bersatu menghadapi segala kemungkinan.
Teuku Nyak Arif dibawa beristirahat di Takengon, sebulan kemudian keluarga diijinkan menjenguknya. Sementara itu penyakit gulanya semakin parah dan sebelum hayatnya berakhir ia berpesan kepada keluarganya: ”Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya.”
Teuku Nyak Arif, pemimpin rakyat yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negara dengan jasa-jasanya yang besar dan dengan keikhlasannya berkorban, pada tanggal 26 April 1946 wafat dengan tenang di Takengon, jenazahnya dikebumikan di makam keluarganya di Lam Nyong.
Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden No. 071/TK/Tahun 1974 tanggal 9 November 1974 menganugerahi Teuku Nyak Arif Gelar Pahlawan Nasional.