Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Syeh Yusuf Tajul Khalwati bwA. BIO DATA
N a m a : Syekh Yusuf Tajul Khalwati
Nama kecil : M. Yusuf
Gelar : Tajul Khalwati Hidayatullah
Tempat Tgl. Lahir : Gowa, 3 Juli 1626
Tempat Tgl. Wafat : Capetown, 23 Mei 1699
Nama Ayah : Sultan Alaudin (Raja Gowa ke 14)
Nama Ibu : Siti Aminah
Pendidikan : Pendidikan Agama Islam di Banten dan Aceh (1644 – 1649) dan di Negara-negaraTimurTengah selama 15 tahun.

 

 

B. RIWAYAT PERJUANGAN
Pada awal abad ke 17 kerajaan Gowa diliputi oleh ketegangan atas komTontasi dengan VOC di perairan Maluku, dalam memperebutkan monopoli perdagangan rempah-rempah. Beberapa kali pertempuran terjadi untuk mempertahankan negerinya. Rakyat dimobilisir menjadi laskar-laskar yang tangguh untuk membela negaranya termasuk Syekh Yusuf (M.Yusuf) yang pada waktu itu masih remaja dan sebagai putra Bangsawan.
M. Yusuf mulai karier politik sebagai Mufti kerajaan Banten setelah beliau melanjutkan pelajarannya ke Pusat Islam Timur-Tengah. Pada tanggal 22 September 1644, dalam usia 18 tahun beliau meninggalkan negerinya menuju Mekah dengan menumpang kapal niaga Melayu menuju Banten. Beliau berkenalan dengan putera Mahkota Pangeran Surya (kemudian dikenalkan dengan Sultan Ageng Tirtayasa). Pada masa itu Banten menghadapi Konfrontasi dengan Kompeni yang selalu memaksakan keinginannya untuk monopoli dagang.
M. Yusuf tinggal di Banten selama 5 tahun sambil belajar agama Islam dan giat diberbagai bidang terutama membangkitkan semangat agama dan mengajak rakyat untuk berjuang melawan semua pengaruh Asing. namun demikian M.Yusuf tetap bercita-cita memperdalam ilmunya di Timur-Tengah selama 15 tahun di Saudi Arabia, dirasakan ilmunya sudah memadai, namanya diabadikan sebagai seorang Syekh. Sultan Ageng Tirtayasa mengetahui tingkat ilmu Syekh maka dipanggilnya ke Banten untuk memperkuat jajaran kepemimpinan dalam usaha melawan invasi Kompeni Belanda. beliau memperoleh pengaruh dan kerajaan Banten meningkat kewibawaannya diantara Raja-raja di Nusantara jaman itu.
Pengaruhnya makin meluas dan berakar karena itu membentuk jamaah tarekat dengan pengajaran tasauf untuk mempertinggi moralitas dan kesetiaan kepada pemimpin. Cita-cita perjuangan mempertahankan negeri, ditanamkan lewat jamaah, tarekat yang ditanamkan lewat jamaah, tarekat yang dinafasi oleh tauhid, bahwa”Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman”.
Dalam era 1660 an, kesultanan Makassar dan kesultanan Banten merupakan dua kerajaan besar di Nusantara yang menjadi musuh Kompeni. Rempah-rempah dan hasil bumi dikumpulkan di Pelabuhan Makassar kemudian dikirim ke Pelabuhan Banten sebagai tempat perdagangan Internasional, oleh karena itu Kompeni berusaha merebut dominasi kedua Pelabuhan besar tersebut beberapa kali Kompeni kontak senjata dengan lasykar-lasykar Goa di lautan.
Sebagai penganut Sufi Syekh Yusuf Tajul Khalwati diangkat menjadi guru putera Sultan Banten, Pangeran Gusti (Sultan Haji) pada tahun 1664 dan kemudian diangkat menjadi Mufti dan penasehat raja. Sultan Ageng dan Syekh-Yusuf sebagai menantu, penasehat dan Mufti kerajaan makin terlibat dalam situasi politik, ekonomi dan sosial dan menggalang persatuan dan kesatuan rakyat. Syekh Yusuf yang makin populer dan mempunyai kharisma sangat disegani pula oleh Kompeni orang-orang Makasar dan Bugis datang ke Banten berguru pada Syekh Yusuf sekaligus sebagai kader-kader dan komandan pasukan yang sudah terisi jiwanya dengan pengetahuan agama cinta tanah air dan mengharamkan kerja sama dengan orang asing yang ingin menjajah. Selama 16 tahun Banten membenahi negerinya dan tetap konfrontasi dengan Belanda.
Dalam bulan Maret 1682 selama berkecamuk perang Banten (perang sorosuan) yang berlangsung selama 6 bulan, baik di darat maupun di laut, pasukan Kompeni mengalami kerugian harta dan personil. Bala bantuan Kompeni dikerahkan lebih banyak lagi. Politik adudomba dan penyusupan pasukan Kompeni ke Angke, Cisadane, Kademangan dan akhirnya ke keraton Tirtayasa. Sultan Ageng bersama Panglimanya memutuskan untuk melakukan taktik perang gerilya dan bersama lasykar Banten mulai bertahan dalam hutan Karanggan, lalu ke Lebak dan kemudian Wafat. Perang Gerilya dilanjutkan oleh Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul di Daerah Tanggerang lalu mundur ke Muncang, Lawang Taji (Jasinga) menyusur Cidurian akan menuju Cirebon. Van Hoppel mencegat Syekh Yusuf di sungai yang menuju Cirebon dan ternyata Syekh Yusuf bersama lasykarnya membelok ke Cikaniki menuju Cianteng melalui Cisarua. Pasukan Syekh Yusuf terdiri ± 5.000 orang, dan 1.000 orang diantaranya orang-orang Makasar Bugis dan Melayu.
Syekh Yusuf paling ditakuti Kompeni sejak perang Banten dan oleh karena itu Kompeni mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat menangkap Syekh Yusuf hidup atau mati akan diberikan hadiah 1.000 ringgit.
Pertempuran paling hebat di pegunungan Padaherang (Padalarang) ketika gerilyawan Syekh Yusuf yang dibantu oleh gerilyawan dari Banyumas dengan pimpinan oleh Namrud (Kapten Kompeni yang dipengaruhi oleh Syekh Yusuf) bersama pasukan intinya dapat lolos. Pangeran Kidul dan Pangeran lainnya gugur, kemudian isteri dan anak Syekh Yusuf bernama Asma ditangkap oleh Van Happel. Syekh Yusuf memimpin sendiri Lasykar Banten yang masih hidup.
Gerilya Syekh Yusuf menuju Daerah Banjar, kemudian berputar ke daerah Cikatomas lewat Parigi. Pasukan Van Happel sudah payah mengikutinya karena harus menembus hutan belantara melalui pinggiran sungai Citandui dan Ciseel, Jejak Syekh Yusuf untuk sementara hilang dari pengamatan pasukan Kompeni di Mandala daerah Sukapura yang dijadikan sebagai markas dan benteng pertahanan. Beberapa bulan lamanya Syekh Yusuf mengajar dan membina murid-murid yang sekaligus menjadi pejuang tangguh yang bersedia mati syahid.
Kompeni khususnya Van Happel sudah kewalahan dan hampir putus asa menghadapi Syekh yusuf bersama pasukannya. Van Happel menempu jalan tipu muslihat pada tanggal 15 Desember 1683 ia datang berpakaian Arab dengan membawa serta puterinya yang bernama Asma. Syekh yusuf terpancing oleh bujukan Van Happel terutama iba hatinya melihat puterinya sebagai sandera Syekh Yusuf bersedia ke Cirebon kemudian dimasukkan kedalam penjara di Kastel Batavia.
Pada tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon dalam usia 58 tahun bersama dua orang isterinya dan dua orang pembantu wanita dua belas orang santri dan beberapa orang anaknya.
Bagi Kompeni penahanan terhadap Syekh Yusuf dianggap kegiatan politiknya sudah selesai. Ditengah-tengah masyarakat Budha Syekh Yusuf mengajarkan ilmu syariat dan tasauf kepada muridnya yang datang dari In­dia Selatan dan Ceylon.
Jemaah haji dari Hindia Timur sekembalinya dari Mekah banyak yang singgah di Ceylon untuk berguru dan meminta berkah pada Syekh Yusuf. Adakalanya sampai 3 bulan lamanya. Dalam kesempatan tersebut Syekh Yusuf menyelipkan pesan-pesan politik agar tetap mengadakan perlawanan kepada Kompeni. Syekh Yusuf mengirimkan surat kepada Sul­tan Banten, Sultan Makasar dan Karaeng Karunrung, Mangkubumi Kerajaan Gowa agar tetap melakukan perlawanan pada Kompeni, penjajah yang akan menghancurkan agama dan kemanusiaan. Pengaruh dari pesan-pesan tersebut menyebabkan timbulnya pemberontakan Haji Miskin di Minangkabau pada tahun 1687 pemberontakan Sultan Abdul Jalil (Gowa) yang menurut Benteng Ujung Pandang (Rotterdam) di kembalikan kepada Gowa dan pemberontakan Sultan Banten yang menuntut agar kerja paksa bagi rakyat dalam pengumpulan hasil bumi dihapuskan. Pemerintah Kompeni tidak mengira bahwa semua itu terjadi dan ada kaitannya dengan Syekh Yusuf di Ceylon yang ternyata karisma dan kewibawaannya tetap dihormati dan dipuja.
Hukuman mati terhadap Syekh Yusuf diprotes pertama kali oleh Raja Alamghir di India dan dari Raja Makasar Abdul Jalil (1677 – 1709) sehingga hukuman mati dirubah menjadi pembuangan seumur hidup.
Pada tanggal 7 Juli 1693 dalam usia 68 tahun Syekh Yusuf diasingkan/dibuang menuju Capatown Afrika Selatan. Kedatangannya sebagai orang buangan politik, disambut baik oleh Gubernur Simon Van Stel yang menghormatinya tidak seperti orang buangan politik yang datang sebelumnya.
Tiba di Capetown pada tanggal 2 April 1694 pukul 15.00 waktu setempat bersama rombongan (49 orang) langsung diantar masuk kedalam Kasteel (Benteng). Sembahyang Maghrib pertama dilakukan dalam Benteng tersebut dan Syekh Yusuf dikenal sebagai pembawa Agama Islam pertama di Afrika Selatan maupun Ceylon. Hingga akhir hayatnya pada tanggal 23 Mei 1699 ia menjalani masa pembuangan.
C. Kesimpulan peran Syekh Yusuf dalam perang Banten :
1. Kedatangannya di Banten pada tahun 1644 dari Mekah didasari oleh pertimbangan karirnya sebagai ulama akan lebih menjanjikan hidup di kota perdagangan internasional Banten dan sekaligus memiliki hubungan baik dengan pusat kekuasaan ke daerah Periangan. Syekh Yusuf berada di pegunungan Sajira yang merupakan Markas Gerilya.
Pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap, dipenjarakan di Kastel Batavia dan seminggu sebelumnya Pangeran Kulon.
2. Jatuhnya kesultanan Gowa, dengan perjanjian Bongaya tahun 1667 posisinya sebagai ulama mulai berkembang ke arah politik karena banyaknya orang Makasar yang menetap di Banten dan lambat laun membentuk komunitas yang mempertebal ikatan emosional dengan daerah asal.
3. Pengangkatannya sebagai penasehat raja mempertebal kayakinan akan kemampuannya untuk berperan dalam politik dan digunakan sebaik-baiknya untuk mencari jalan mengeleminir pangaruh Belanda dalam perdagangan di Nusantara.
4. Bahwa tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa tidak mengakhiri perlawanan Syekh Yusuf menunjukkan bahwa jangkauan perlawanan bukan hanya kerajaan Banten melainkan sasaran yang lebih luas, yaitu melawan penjajah.
5. Apapun alasan dan cara penangkapan oleh Belanda, bahwa Syekh Yusuf tetap diasingkan menunjukkan bahwa perlawanan tersebut diberikan hingga akhir hayatnya.
Atas jasa dan perjuangannya Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 071/TK/Tahun 1995 tanggal 7 Agustus 1995.

Marthen Indey

Marthen Indey bwA. BIODATA.
Nama : MARTHEN INDEY
Tempat dan : Doromena, Jayapura
Tanggal lahir : 16 Maret l912
Agama : Kristen Protestan
Kejliarga : – Isteri : Agustina Heumassey
– Anak : 2 orang
Pendidikan : – Sekolah Rakyat 5 tahun (Tamat)
: – Sekolah Polisi di Sukabumi
: – Sekolah Marinir di Makasar dan Surabaya.
– Latihan Militer Pard di Bris-bane Cans Australia
Tanggal meninggal : 17 Juli 1986.

 

 

B. RIWAYAT PERJUANGAN
Sebagai Anggota Polisi Hindia Belanda Marthen Indey perna ditugaskan mengawasi para Digulis di Tanah Merah (Digul). Disini ia mulai mendapat pengaruh nasionalisme. Dengan kurang lebih 30 orang anak buahnya, Indey merencanakan untuk menangkap aparat pemerintah Hindia Belanda di Digul. Rencana itu gagal dan Indey diangkut Belanda ke Australia ketika Jepang memasuki Irian.
Pada tahun 1944, ia kembali ke Irian bersama pasukan Sekutu dan mendapat tugas melatih Anggota Batalyon Papua yang dibentuk Sekutu untuk menghadapi Jepang. Walaupun resminya antara tahun 1945-1947 menjadi aparat pemerintah Belanda sebagai Kepala Distrik Arso Yamay dan Waris, namun secara sembunyi-sembunyi Indey bergabung dengan kelompok Sugoro (bekas Digulis) yang bekerja sebagai Guru Sekolah Pamong Praja di Kota Nica (sekarang Kampung Harapan). Dalam kelompok ini menyiapkan pemberontakan menumbangkan kekuasaan Belanda dan merealisasikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Irian Barat, akan tetapi rencana mereka diketahui Belanda.
Bulan Oktober 1946 Marthen Indey menjadi Anggota Komite Indonesia Merdeka (KIM) Pimpinan Dr. Gerungan di Hollandia Binmen (sekarang Abepura), dan kemudian menjadi ketuanya. Namun KIM kemudian berganti menjadi Partai Indoneia Merdeka (PIM). Dalam kedudukan sebagai Ketua PIM, Marthen Indey memimpin delegasi yang terdiri atas 12 Kepala Suku menyampaikan protes terhadap maksud Belanda untuk memisahkan Irian Barat dari Indonesia. Indey juga menghimbau anggota ’milker yang bukan orang Belanda untuk melancarkan perlawanan terhadap Belanda. Akibatnya Marthen Indey diawasi secara ketat.
Kesempatan cuti ke Ambon dimanfaatkan Indey menghubungi kelompok-kelompok pro Indonesia di Maluku untuk membantu perjuangan penduduk Irian Jaya. Karena kegiatan itu ia ditangkap Pemerintah Belanda dan dipenjarakan selama tiga tahun.
Sesudah tahun 1950 Marthen Indey tetap memilihara kontak dengan kelompok-kelompok pro Indonesia yang melakukan gerakan bawah tanah. Bersama J Teppy, pada Januari 1962 ia menyusun kekuatan gerilya sambil menanti kedatangan pasukan Indonesia yang akan di drop di Irian Jaya dalam rangka Trikora. Ia antara lain berhasil menyelamatkan beberapa orang anggota RPKAD yang didaratkan di Teluk Merah dan melindungi mereka dirumahnya sendiri Persetujuan New York tanggal 15 Agustus 1962 mengakhiri Trikora dan Irian Jaya ditempatkan di bawah Pemerintahan sementara PBB (UNTEA). Bulan Desember 1962 Marthen Indey bersama E.Y. Bonay berangkat ke New York untuk memperjuangkan di PBB agar periode UNTEA dipersingkat dan Irian Jaya secepatnya dimasukkan ke dalam Wilayah Republik Indonesia. Sesudah itu ia ke Jakarta menyampaikan Piagam Kota Baru kepada Presiden Soekarno yang berisi ketegasan tekad penduduk Irian Jaya untuk tetap setia kepada Republik Indonesia.
Selama tahun 1963-1968 Marthen Indey duduk sebagai Anggota MPRS mewakili Irian Jaya, disamping jabatannya sebagai kontrolier diperbantukan pada Residen Jayapura. la juga diangkat sebagai Mayor Trituler Marthen Indey meninggal dunia pada tanggal 17 Juli 1986.
Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.

Silas Papare

Silas Papare bwA. BIODATA.
Nama : Silas Papare
Tempat dan tanggal lahir : Serui, 18 Desember 1918
Agama : Kristen Protestan
Keluarga : – Isteri : Ny. Regina Aibui
– Anak : 9 orang
– Meninggal : 7 – 3 – 1978.
– Pendidikan : – Volschool
– Sekolah Juru Rawat
– (Tamat 1935).

 

 

B. RIWAYAT PERJUANGAN
29 September 1945, Silas Papare dengan bimbingan ex Digulis Harjono dan Suprapto membentuk Komite Indonesia Merdeka ( KIM ) untuk menghimpun kekuatan dan mengatur gerak langkah perjuangan selanjutnya. Tujuannya membela dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 serta menangani pemulangan para tawanan.
Desember 1945 bersama-sama dengan Marthen Indey, Cornelis Krey dapat mempengaruhi Batalyon Papua (bentukan tentara Sekutu) untuk berontak terhadap Belanda tujuannya untuk mewujudkan Kemerdekaan bagi Irian Barat Rencana tersebut dapat diketahui Belanda, sehingga mendatangkan bantuan dari Rabaul (Papua Timur). Akhirnya Silas Papare dan Marthen Indey ditangkap dan dipenjara di Holandia (Jayapura).
Tanggal 23 November 1946 mendirikan Partai Kemerdekaan Irian dimana Silas Papare sebagai Ketua Umum. Karena Partai ini tidak disenangi Pemerintah Belanda, Silas Papare ditangkap dan dipenjarakan di Biak. Atas Undangan Pemerintah RI sebagai Partai Kemerdekaan Irian di Serui datan ke Yogyakarta untuk menjadi delegasi RI dalam koperasi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Silas Papare bersama-sama dengan teman-temannya membentuk Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta.
Membentuk Kompi Irian 17 di Markas Besar Angkatan Darat untuk mendukung politik Pemerintah di forum Internasional dalam usaha pengembalian Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia pada tahun 1951.
Membentuk Biro Irian di Jakarta pada tahun 1945 dan Silas Papare ditetapkan sebagai Komisaris I (Keppres RI No. 53 tahun 1945 tanggal 17 Pebruari 1954). Membentuk Propinsi Irian Barat di Jakarta sebagai pemerintah tandingan Pemerintah Belanda di Irian Barat.
Ditunjuk Pemerintah pada tahun 1962 mewakili Irian Barat duduk sebagai anggota-anggota delegasi Republik Indonesia dalam perundingan di New York dimana ditandatangani “New York Agreement” yang merupakan persetujuan Belanda pengembalian Irian kepangkuan Republik Indone­sia Persetujuan diplomasi adalah merupakan kemenangan Republik In­donesia setelah dilakukan perjuangan physik/militer Trikora.
Jasa lain Silas Papare adalah merupakan pelopor/penganjur/teladan atas anjurannya “I Love Indonesia”, cinta tanah air Indonesia nasionalisme yang mulia dikembangkan di Bumi Irian.
Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993.

Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo bwA. BIODATA.
Nama : FRANS KAISIEPO
Tempat dan : Wardo, Biak
Tanggal lahir : lO Oktober 1921
Agama . : Kristen Protestan
Keluarga : – Menikah dengan Anthomina Arwan dan dikarunia 3 orang anak.
– Setelah Isteri pertama meninggal pada tanggal 12 November 1973 ia menikah dengan Maria Magdalen Moorwahyuni dari Demak Jawa Tengah dan dikarunia seorang anak.
Pedidikan : 1. Sekolah Rakyat 1928-1931
LVVSKorido 1931-1934
Sekolah Guru Normalis di Manokwari 1934-1936
Kursus Bestuur Maret – Agustus 1945.
Sekolah Bestuur/Pamong Praja 1952-1954.

 

 

B. RIWAYAT PERJUANGAN
Tahun 1945 berkenalan dengan Sugoro Atmoprasodjo ketika mengikuti Kursus Kilat Pamong Praja di Kota Nica Holandia (Kampung Harapan Jayapura) Dari perkenalannya itu ia dan kawan – kawannya mulai tumbuh rasa kebangsaan Indonesia; dan kemudian ia dan teman-teman sering mengadakan rapat gelap dengan Sugoro membahas penyatuan Nederlands Nieuw Guinea ke dalam Negara Kesatuan Republik Indo­nesia. Dalam kesempatan tertentu mereka berlatih dan menyanyikan lagu Kebagsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh Sugoro. Frans Kaisiepo tidak setuju dengan papan nama kursus / sekolah yang diikulinya itu yang bertuliskan “PAPUA BESTUUR SCHOOL” Ia menyuruh Saudarannya Marcus Kaisiepo, melepas tulisan PAPUA tersebut untuk diganti dengan kata IRIAN, sehingga tulisan pada papan menjadi “IRIAN BESTUUR SCHOOL”.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 di Kampung Harapan Jayapura telah dikumandangkan lagu Indonesia Raya oleh Frans Kaisiepo, Marcus Kaisiepo, Nicolas Youwe dan kawan-kawan.
Ide Kemerdekaan Indonesia kemudian berkembang di kalangan para Siswa yang berasal dari Daerah/Suku. Untuk membina Persatuan diantara para siswa Kursus/Sekolah Bestuur kemudian dibentuk dewan perwakilan dari berbagai suku. Dewan perwakilan ini dimaksudkan untuk mempermudah kontak di bawah pimpinan Sugoro. Para anggotanya antara lain : Frans Kaisiepo, Marthen Indey, Silas Papare, G. Saweri, SD Kawab.
Pada tanggal 31 Agustus 1945 di Bosnik, Biak Timur dilangsungkan upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang di hadiri oleh paraTokoh Komite Indonesia Merdeka seperti : Frans Kaisiepo, Marcus Kaisiepo, Corinus Krey, M. Youwe. Dalam upacara itu dinyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Pada tanggal 10 Mei 1946 di Biak didirikan Partai Indonesia Merdeka ( PIM ) dengan ketuanya Lukas Rumkoren. Salah seorang pencetusnya adalah Frans Kaisiepo yang waktu itu menjadi Kepala Distrik di Warsa, Biak Utara.
Pada bulan Juli 1946 Frans Kaisiepo menjadi anggota delegasi pada Konperensi Malino di Sulawesi Selatan. Sebagai pembicara ia mengganti nama PAPUA dan Nederlans Nieuw Guinea dengan kata IRIAN yang diberi pengertian IKUT REPUBLIK INDONESIA ANTI NEDERLANS. Konon kata Irian diambil dari bahasa Biak yang berarti panas dalam hal ini berarti daerah panas. Frans Kaisiepo termasuk anggota delegasi yang menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) sebab NIT tersebut tanpa Irian Jaya. Sehubungan dengan hal itu ia mengusulkan agar Irian Jaya masuk Karesidenan Sulawesi Utara.
Pada bulan Maret 1948 terjadi pemberontakan rakyat Biak melawanpemerintah Kolonial Belanda, dan Frans Kaisiepo adalah salah seorang perancang pemberontakan tersebut.
Pada tahun 1949 Frans Kaisiepo menolak menjadi Ketua Delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke Konperensi Meja Bundar di Den Hag, sebab tidak mau didikte dalam berbicara yaitu sesuai dengan keinginan Belanda. Sebagai konsekwensi penolakannya dihukum antara tahun 1954-1961, tugas pekerjaannya ditempatkan di distrik – distrik terpencil seperli Ransiki Manokwari, Ayamura Teminabuan (Sorong) dan di Mimika (Fakfak).
Pada tahun 1961, sewaktu menjabat Kepala Distrik Mimika (Fakfak) ia mendirikan Partai Politik Irian sebagian Indonesia (ISI) yang menuntut penyatuan kembali Nederlands Nieuw Guinea ke dalam kekuatan negara Republik Indonesia. Pada masa TRIKORA, ia banyak membantu/ melindungi infiltran Pejuang Indonesia yang didaratkan di Mimika sehingga tidak diketahui oleh pemerintah Kolonial Belanda.
Pada tahun 1964 ketika menjadi Gubenur KDH Propinsi Irian laya dan merangkap Ketua DPRDGR Frans Kaisiepo merupakan salah seorang penggerak Musyawarah Besar Rakyat Irian Barat untuk membicarakan langkah-langkah penyatuan Irian Barat menjelang Pepera 1969.
Ketika menjadi Gubernur KDH Propinsi Irian Barat, Frans Kaisiepo berusaha sekuat – kuatnya memenangkan Pepera tahun 1965, yaitu dengan strategi pemungutan suara dengan sistem perwakilan yang dimulai dari kabupaten (Merauke) dan berakhir di Ibu Kota Propinsi (Jayapura). Penyelenggaraan Pepera di Irian Barat sukses dan Irian Barat merupakan bagian mutlak dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tiga tahun setelah sukses memenangkan Pepera, pada tahun 1972 ia diangkat menjadi anggota MPR-RI Utusan Daerah Irian Jaya. Dan dari tahun 1973-1979 Frans Kaisiepo diangkat menjadi Anggota DPA-RI.
Pada tanggal 10 April 1979 Frans Kaisiepo meningal dunia. Jenazahnya dimakamkan di depan Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Kabupaten Biak.
Atas perjuangan jasa-jasa semasa hidupnya tersebut Frans Kaisiepo menerima penghargaan Trikora dan penghargaan Pepera dari Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1984 namanya diabadikan menjadi nama Bandara Biak FRANS KAISIEPO menggantikan nama Bandara Mokmer.
Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 19 Agustus 1993.

I Gusti Ketut Jelantik

I Gusti Ketut Jelantik bwA. BIODATA
Nama : I GUSTI KETUT JELANTIK
Jabatan : Patih Agung/Wakil Raja
Putera dari : I Gusti Nyoman Jelantik Raya
Pendidikan : Pendidikan Tradisional dalam Lingkungan Keluarga
Diriobatkan : Pada tahun 1828 sebagai Patih di Kerajaan Buleleng
Meninggal : Tahun 1849

 

 

B. RIWAYAT PERJUANGAN
Keberanian dan keperwiraannya menentang penjajahan Belanda diawali dengan sikap dan tindakannya yang menolak tuntutan Belanda agar mengganti kerugian atas kapal-kapal yang dirampas dan mengakui kedaulatan Belanda di Hindia Belanda. Hal ini terbukti pada perundingan antara Belanda yang dipimpin oleh JPT Mayor Komisaris Pemerintah Belanda dengan Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem dan
Patih Agung I Gusti Ketut Jelantik.
Atas tuntutan itu Patih Jelantik sangat marah, sambil memukul dada dengan kepalan tangan mengatakan: “Tidak bisa menguasai negeri orang lain hanya dengan sehelai kertas saja tetapi harus diselesaikan diatas ujung keris. Selama saya masih hidup Kerajaan ini tidak akan pernah mengakui kedaulatan Belanda. “Ucapan Patih Jelantik yang gagah berani itu mengandung makna kepahlawanan dan kolonialisme.
Pada tanggal 12 Mei 1845, Belanda mencari cara lain yaitu dengan perantaran Raja Klungkung untuk menyelesaikan masalah perampasan perahu dagang yang terdampar di Pantai Sangit. Dalam pertemuan tersebut Belanda menuntut agar Buleleng menghapuskan hak “ Tawan Karang “ Yaitu hak dari Raja Bali untuk merampas perahu yang terdampar di pantai Wilayah Kerajaannya ) dan mengakui kedaulatan Belanda atas Kerajan Buleleng. Dalam kesempatan itu I Gusti Ketut Jelantik memberikan reaksi yang keras, sambil menghunus keris lalu menusuk kertas perjanjian dan mencerca orang Belanda: ”Hai kau si mata putih (utusan Belanda) yang biadab, sampaikan pesanku kepada pimpinanmu di Betawi agar segera menyerang Den Bukit” (Bali Utara).
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana kebesaran dan keberanian Patih I Gusti Ketut Jelantik dalam mempertahankan sikap, setia pada ucapan dan perbuatan, tekad yang kuat menentang penjajah Belanda.
Pada tanggal 27 Juni 1846 pihak Belanda mengadakan perlawanan terhadap pasukan Bali dan pertempuran tersebut berlangsung sangat seru yang berakhir dengan jatuhnya Buleleng ke tangan Belanda pada tanggal 29 1846. Raja Buleleng dan Patihnya I Gusti Ketut Jelantik mundur ke Desa Jagaraga untuk menyusun kekuatan.
Dalam mempertahankan desa (benteng) Jagaraga Patih Jelantik giat memperkuat pasukannya, dan mendapat dukungan dari kerajaan lainnya seperti Karang Asem, Klungkung, Badung dan Mengwi.
Patut kita catat disini bahwa Patih Agung I Gusti Ketut Jelantik adalah orang yang ahli dalam strategis perang seperti benteng Jagaraga dibuat dengan gelar “Supit Urang” selain itu ia juga disegani oleh raja-raja di Bali karena keberanian dan tekad bajanya menentang penjajah Belanda.
Pada tanggal 6 sampai dengan 8 Juni 1848 pihak Belanda mengirim expedisi yang kedua dengan mendaratkan pasukannya di Sangsit. Perlawanan dari pasukan Bali dipimpin oleh Patih Agung I Gusti Ketut Jelantik. Ia memberi komando dari Benteng Jagaraga yang merupakan benteng paling kuat dari empat benteng lainnya. Dari pihak Belanda dipimpin oleh Jenderal Van der Wijck, tetapi pasukan darat Belanda tidak berhasil mendesak pasukan Bali, karena itu iamemerintahkan pasukannya mundur ke panati. Di pihak Bali hanya satu benteng saja yang jatuh ke tangan Belanda yaitu benteng disebelah timur Sansit dekat Bungkulan.
Kekalahan Belanda ini menambah kepercayaan raja-raja Bali akan kekuatan dan kepemimpinan Patih Agung I Gusti Ketut Jelantik. Keberhasilan laskar Patih Jelantik sangat mengagetkan orang-orang Belanda sehingga menggegerkan Parlemen Belanda.
Kemenanagan laskar Buleleng menyebabkan pihak Belanda mengirimkan expedisinya yang ketika pada tanggal 31 Maret 1849 di bawah pimpinan Jenderal Michiels. Mereka melancarkan tembakan-tembakan meriam dari atas kapal, mereka bergerak menuju Singaraja pada tanggal 2 April 1849. Raja Karangasem dan Raja Buleleng mengirim utusannya untuk menyerahan surat tetapi gagal. Kemudian pada tanggal 7 April 1849 Raja ‘ Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem dan Patih I Gusti Ketut Jelantik bersama 10-12 ribu orang prajurit berhadapan dengan tentara Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Michiels. Pihak Belanda tetap menuntut agar Raja Buleleng mengakui kekuasaan pemerintah Hindia Belanda dan membongkar semua benteng yang ada di Jagaraga.
Tuntutan Belanda tidak dilaksanakan oleh Patih Jelantik, maka terjadilah perang dan akhirnya benteng Jagaraga jatuh ketangan Belanda pada tanggal 16 April 1849.
Dari pihak Bali pasukannya terdesak mundur sampai ke pegunungan Batur Kintamani, selanjutnya terus ke Karangasem mencari bantuan.
Kemudian Karangasem diserang oleh pasukan Belanda yang didatangkan dari Lombok. Pasukan Belanda terus menyerang sampai kepegunungan Bale Punduk, akhirnya Patih Jelantik gugur.

 

 

C. KESIMPULAN
Sifat Patriotismenya tampak dalam perjuangannya menentang penjajah Belanda dari tahun 1846-1849, yaitu pada peristiwa perang Buleleng dan perang Jagaraga. Sifat rela berkorban untuk kepentingan rakyat, menjunjung tinggi martabat manusia dan harga diri, terkandung dalam sifatnya yang anti penjajah.
Sikap politiknya yang tegas tampak dalam sikap dan tindakannya yang menolak tuntutan bahwa kerajaan Buleleng berada dibawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda. Sikapnya konsisten dalam perjuangan melawan upaya Pemerintah Hindia Belanda untuk memberlakukan Hukum Kolonial di Wilayah Kerajaan Buleleng. Hal ini menunjukan semangat nasionalisme yang sangat tinggi. I Gusti Ketut Jelantik sebagai tokoh perlawanan/perjuangan dalam perjalanan hidupnya tanpa cacat.
Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 19 Agustus 1993.

Sultan Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda bwA. BIODATA
Nama : SULTAN ISKANDAR MUDA
Nama Kecil : Perkasa Alam
Agama : Islam
Tempat dan tanggal lahir : Aceh, 1593
Pendidikan : Agama Islam dan Keterampilan Militer
Tanggal Wafat : Aceh, 27 Desember 1636.

 

 

B. RIWAYAT PERJUANGAN
Tahun 1607 Sultan Iskandar Muda menduduki tahta kerajaan Aceh dalam usia yang sangat muda, langkah-langkah yang dilakukannya ialah memperkokoh posisi dan kekuatannya dengan :
a. Membangun Angkatan Perang dengan mencari tenaga-tenaga muda untuk menjadi anggota Angkatan Perang di daerah kekuasaannya.
b. Penataan Pemerintah melalui pembagian wilayah yang disebut mukim dan membuat Peraturan Perekenonomian Negara.
Untuk mengatur maslah perekenonomian terdapat sebuah Lembaga Negara yang disebut Balai fundwah. Jalannya perekenomian ditentukan juga oleh alat tukar karena itu Sultan Iskandar Muda mengeluarkan mata uang sebagai alat tukar.
Sebagai raja dari sebuah kerajaan Islam dengan sendirinya beliau untuk pembangunan perekonomian sangat besar. Pada tahun 1614 Sultan Iskandar Muda membangun Masjid Baitur Rahim.
Selama menjadi Raja Aceh, Sultan Iskandar Muda menunjukkan sikap anti penjajahan asing dan sikap ini nampak terwujud di dalam menghadapi bangsa-bangsa asing yang datang ke Aceh. Ia selalu menunjukkan sikap tegas dan berwibawa sebagai Raja dari sebuah Kerajaan ”Merdeka”.
Memimpin serangan besar-besaran melawan bangsa Portugis yang berkedudukan di Maluku pada tahun 1615. Akan tetapi kegagalan yang disertai oleh sekian banyak korban tidak mematahkan semangat Sultan Iskandar Muda. Untuk memperkuat kerajaannya Sultan Iskandar Muda memperluas kerajaannya dengan menaklukan kerajaan-kerajaan kecil di semenanjung Malaya, tahun 1629 Pasukan Sultan Iskandar Muda tiba di perairan Malaka dan pasukan Portugis telah bersiap-siap untuk menghadapi mereka dan terjadilah pertempuran yang sengit namun karena pasukan Portugis dibantu oleh pasukan Armada Johor, Pawang, Palani, Goa, dan India akhirnya Sultan Iskandar Muda dapat dilumpuhkan.
Pada tahun 1635 Sultan Iskandar Muda menyerang Panang, alasan penyerangannya karena Panang membantu Portugis pada waktu kerajaan Aceh menyerang Portugis.
Setelah menjalankan tugas sebagai raja selama 29 tahun maka pada tanggal 27 Desember 1636 Sultan Iskandar Muda meninggal dunia dan dimakamkan di Aceh Besar.
Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 14 September 1993, atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional dan memberikan Tanda Kehormatan Binang Mahaputra Adipradana (Kelas II) kepada Sultan Iskandar Muda.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Sri Sultan HB IX bwI. BIODATA:
Nama : G. R. M. Dorodjatun
Gelar : Sri Sultan Hamengku Bowono IX
Pangkat Terakhir : Jenderal TNI
Tempat, Tanggal lahir : Yogyakarta 12 April 1912
Wafat : Amerika Serikat, 3 Oktober 1988
(dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta)
Agama : Islam
Pendidikan : 1. Eerste Europese Lagere School, Yogyakarta
2. Neutrale Europese Lagere School.Yogyakarta
3. Hogere Burger School, Bandung
4. Hogere Burger School, Semarang
5. Gimnasium, Haar, Negeri Belanda
6. Fakulteit Indologi pada Rijksuniversiteit (Sampai
tingkat doktoral) Leiden, Negeri Belanda
Status : Nikah
Jabatan : 1. Pemerintahan
a. Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, (1940 – 1988).
b. Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta (1945 – 1988).
c. Menteri Negara, dalam Kabinet Syahnr (Oktober 1946 – Juli 1947).
d. Menteri Negara, dalam Kabinet Amir Syarifudin I (Juli 1947 – November 1947).
e. Menteri Negara, dalam Kabinet Amir Syarifudin II (November 1947 – Januari 1948).
f. Menteri Negara, dalam Kabinet Hatta I (Januari 1948 – Agustus 1949 ).
g. Menteri Pertahanan/Koordinator Keaman-an dalam Negeri, dalam Kabinet Hatta II (Agustus 1949 – Desember 1949).
h. Menteri Pertahanan, dalam Kabinet Hatta – RIS (Desember 1949 – September 1950).
i. Wakil Perdana Menteri, dalam Kabinet Natsir
( September 1950 – April 1951).
j. Menteri pertahanan, dalam Kabinet Wilopo (April 1952 – Mi 1953)
k. Ketua Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara (berkedudukan Menteri), dalam Kabinet Kerja I (1959 – 1960 ).
1. Ketua Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara, dalam Kabinet Kerja II (Maret 1960 – 1962)
m. Ketua Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara, dalam Kabinet Kerja III (Maret 1962 – November 1963).
n. Menteri/Ketua BPK, dalam Kabinet Kerja IV (November 1963 – Agustus 1964).
o. Menteri/Ketua BPK, dalam Kabinet Dwikora (Agustus 1964- Februari 1966).
p. Menteri Koordinator Pembangunan, dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan (Februari 1966 – Maret 1966).
q. Wakil Perdana Menteri Bidang Ekubang, dalam Kabinet Dwikora yang disempurna­kan lagi (Maret 1966 – Juli 1966) r. Menteri Utama Bidang Ekonomi dan Keuangan, dalam Kabinet Ampera (Juli 1966- Oktober 1967)
s. Menteri Negara Ekuin, dalam Kabinet Ampera yang disempurnakan (Oktober 1967 – Juni 1968).
t. Menteri Negara Ekuin, dalam Kabinet Pembangunan I (Juni 1968 – September 1971).
u. Menteri Negara Ekuin, dalam Kabinet Pembangunan II (September 1971 -1973).
v. Wakil Presiden RI (1973 – 1978).
2. Non Pemerintahan.
a. Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada (1951).
b. Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956).
c. Ketua Sidang ECAFE (1957).
d. Ketua Federasi Asian Games (1958).
e. Ketua Pertemuan Regional XI Panitia Konsultatif Colombo Plan (1959).
f. Ketua Dewan Pembimbing Lembaga Pariwisata Nasional. (1968).
g. Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
(1968 – 1974).
h. Ketua Umum Koni (1967).
3. Jabatan Lain.
a. Ketua Delegasi Misi Muhibah Indonesia ke Birma. (1952).
b. Ketua Delegasi Indonesia ke Konfrensi PATA di California, Amerika Serikat (1958).
c. Peserta Konferensi Komite Olimpiade Intemasional di Roma, Italia (1959).
d. Peserta Pertemuan Persiapan Partisipasi Indonesia dalam World Fair, New York (1962).
e. Ketua Delegasi Indonesia dalam Pertemu­an Badan PBB tentang perjalanan dan Pariwisata (1963).

 

 

II. PERJUANGAN DAN JASA.

A. Bidang Politik Dan Pemerintahan

1. Menghadapi Pemerintahan Kolonial Belanda.
Sejak berdirinya kerajaan Yogyakarta, pemerintah Belanda selalu mencampuri urusan pemerintahan kerajaan ini, termasuk pengangkatan sul­tan. Calon Sultan terlebih dahulu harus menandatangani kontrak politik yang isinya senantiasa menguntungkan Belanda dan memperlemah posisi kerajaan. Hal itu pun dialami pula oleh Dorodjatun sebelum beliau diangkat menjadi Sultan Yogyakarta. Berbeda dengan sultan-sultan sebelumny a, Dorodjatun tidak begitu saja menerima kontrak politik yang disodorkan kepadanya. Akibatnya, perundingan untuk merumuskan kontrak politik itu berjalan cukup lama, dari bulan November 1939 sampai Maret 1940. Dalam perundingan ini Dorodjatun yang baru berusia 27 tahun berhadapan dengan Dr. Lucien Adam, 60 tahun, seorang yang cukup berpengalaman dalam masalah-masalah kolonial dan ahli adat-Istiadat Jawa. Ada tiga hal pokok yang tidak dapat diterima oleh Dorodjatun, yakni fungsi patih, Dewan Penasehat dan prajurit keraton.

a. Patih ( Pepatih Dalem )
Patih adalah pegawai kerajaan dan sekaligus pegawai Belanda. Berarti ia memiliki kesetiaan ganda dan karena Belanda berada pada posisi yang kuat, maka biasanya patih lebih banyak bekerja untuk kepentingan Belanda. Dorodjatun menghendaki agar Patih hanya menjadi pegawai kerajaan sehingga ia dapat mencurahkan perhatiannya untuk kepentingan rakyat.
b. Dewan Penasehat.
Komposisi Dewan Penasehat pun tidak disetujui oleh Dorodjatun. Separoh dari anggota dewan ini ditunjuk oleh pemerintah Belanda dan separohnya lagi dicalonkan oleh Sultan. Akan tetapi calon sultan ini harus disetujui oleh Belanda. Dengan demikian, calon yang akan diangkat adalah calon yang disenangi oleh pemerintah Belanda. Dorodjatun menghendaki agar calon yang diajukan sultan diterima secara mutlak. Beliau juga menuntut agar anggota Dewan Penasehat diberi kebebasan berbicara, sebab hanya dengan kebebasan itu mereka dapat memperjuangkan kepentingan rakyat.
c. Prajurit Keraton
Pemerintah Belanda menghendaki agar Prajurit Keraton dijadikan sebuah legiun, merupakan bagian dari KNIL dan ditempatkan di bawah komando perwira Belanda, sedangkan gaji mereka tetap dibayar oleh kesultanan. Dorodjatun menolaknya dan menuntut agar prajurit keraton di tempatkan dibawah komando kesultanan.
Sekalipun pada akhirnya Dorodjatun tidak berhasil menolak tuntutan Belanda, namun beliau sudah berjuang semaksimal mungkin untuk kepentingan rakyat dan kerajaannya. Adanya perasaan nasionalis • itu dapat pula dilihat dari pidato pengangkatannya sebagai Sultan Yogyakarta, 18 Maret 1940. Dalam pidato itu beliau mengatakan antara lain :
“ Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa”.

 

2. Menghadapi Pemerintah Pendudukan Jepang
Walaupun berada di bawah tekanan keras dari pemerintah pendudukan Jepang, ternyata Sri Sultan masih berusaha mempertahankan prinsip politiknya dan dalam hal ini beliau berhasil. Tuntutannya supaya setiap tindakan yang akan diambil oleh pemerintah Jepang di wilayah Kesultanan Yogyakarta dibicarakan lebih dahulu dengannya, dipenuhi oleh pihak Jepang. Dalam masa ini Beliau berhasil memperjuangkan apa yang dulu gagal diperolehnya dari pemerintah Hindia Belanda. Sejak tahun 1944 kekuasaan Patih berhasil dikuranginya dan sejak tanggal 1 Agustus 1945 Jabatan itu ditiadakannya semaksimal. Dengan demikian Sri Sultan dapat secara langsung menjalankan pemerintahan sehari-hari.

3. Peranan Dalam Kehidupan Republik Indonesia.
Proklamasi Kemerdekaan yang segera disusul dengan berdirinya negara Republik Indonesia (RI), pada hakekatnya adalah pukulan terhadap feodalisme yang berwujud dalam bentuk kerajaan. Ternyata Sri Sultan dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru. Berbeda dengan sikap raja-raja lain, beliau segera menyatakan dukungannya terhadap Republik itu. Tanggal 19 Agustus 1945 beliau mengirim telegram ucapan selamat kepada Bung Karno, Bung Hatta, dan dr. Rajiman Wediodiningrat atas terbentuknya Republik Indonesia dan terpilihnya Soekarno dan Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Dalam telegram berikutnya, 20 Agustus 1945, dengan tegas dikatakannya bahwa beliau sanggup berdiri dibelakang Presiden dan Wakil Presiden RI. Puncak dari penegasan itu diberikannya dalam amanat tanggal 5 September 1945:
a. Ngayogyakarta Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari Republik Indonesia.
b. Segala kekuasan dalam negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dan urusan pemerintahan berada di tangan Hamengku Buwono IX.
c. Hubungan antara Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerintah Republik
Indonesia bersifat langsung dan Sultan Hamengku Buwono IX bertanggung- jawab kepada Presiden RI. Disamping itu dalam maklumat nomor 5 tahun 1945 tanggal 26 Oktober 1945 Sri Sultan Hamengku Buwono IX memobilisasi gerakan rakyat untuk ikut serta mempertahankan Negara RI dengan membentuk Laskar Rakyat.
Dilihat dari kenyataan bahwa pada masa-masa sebelumnya Sri Sultan tidak mempunyai kontak dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional termasuk Soekarno dan Hatta, maka telegram dan amanat tersebut memberikan warna tersendiri dalam sikap nasionalismenya. Ketika kerajaan Iain masih ragu-ragu, beberapa di antaranya sedang bersiap-siap menyambut kedatangan kembali kekuasaan Belanda, Sri Sultan dengan tegas menyatakan memihak kepada RI dan meleburkan diri ke dalamnya. Terkesan dari kehendak Sri Sul­tan untuk meleburkan diri dengan rakyat supaya terhapus jarak antara rakyat dengan aparat pemerintah. Kehendak ini diwujudkan dengan mengganti istilah ”Pangreh Raja” menjadi ”Pamong Praja” (maklumat no. 10 tahun 1946, tanggal 13 Februari 1946).
Pernyataan-pernyataan tertulis itu diikutinya dengan perbuatannya. Sudah sejak masa-masa awal itu Sri Sultan melibatkan diri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan memberikan berbagai fasilitas untuk kepentingan pemerintah. Di kota Yogya ditempatkan Markas Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kota ini pulalah yang sejak minggu pertama bulan Januari 1946 sampai akhir Desember 1949 dijadikan Ibukota RI
sesuai dengan saran yang disampaikan oleh Sri Sultan.
Peranan Sri Sultan lebih mencuat ketika daerah Yogyakarta diduduki Belanda dalam agresi militer kedua. Betul beliau tetap tinggal dalam kota, tetapi beliau menolak bekerjasama dengan Belanda walaupun ditawari kedudukan yang cukup tinggi, bahwa sebagai raja seluruh Jawa. Sikap nonkooperasinya diikuti oleh seluruh penduduk Yogya sehingga menyulitkan Belanda untuk men jalankan pemerintahan di daerah tersebut.
Pada tanggal 21 Januari 1946 Sri Sultan menulis surat terbuka yang disebarluaskan ke seluruh daerah Yogyakarta. Dalam surat itu dikatakannya bahwa beliau ” meletakkan jabatan ” sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Tujuannya ialah agar soal keamanan daerah Yogyakarta menjadi beban tentara pendudukan Belanda. Selain itu beliau tidak akan dapat diperalat untuk melakukan tindakan-tindakan yang membantu musuh.
Sementara itu secara diam-diam beliau terus membantu para pejuang. Dengan dana pribadinya, beliau memberikan bantuan logistik kepada para pejuang, pejabat pemerintah RI dan orang-orang Republiken yang tinggal dilain kota. Di lingkungan keraton, beliau memberikan tempat perlindungan kesatuan-kesatuan TNI, sekaligus sebagai markas pejuang.
Salah satu tujuan Belanda menduduki Yogyakarta ialah untuk ”Membebaskan Sultan dari kungkungan Republik”, yang ternyata tidak berhasil. Akan tetapi untuk itupun Belanda tidak berani bertindak gegabah, karena Sri Sultan sendiri bukannya tidak berani menghadapi resiko. Hal ini terbukti dengan peranan Sri Sultan yang telah aktif memberikan bantuan moril maupun materil kepada TNI dan para pejuang dalam Serangan Umum 1 Maret 1949. Peranan beliau semakin nampak, ketika pada tanggal 3 Maret 1949 Mayor Jenderal Meyer, Panglima Tentara Belanda untuk seluruh Jawa Tengah dan Kolonel Van Langen, Komandan Pasukan Belanda di Yogyakarta mendatangani keraton dan menuduh Sri Sultan telah membantu TNI dalam peristiwa tersebul. Kemudian mereka mengancam akan menduduki keraton apabila Sri Sultan tidak menghentikan bantuannya. Akan tetapi Sri Sultan menyambut dingin ancaman tersebut.
Perjuangan Republik akhirnya sampai pada titik yang menentukan sesuai dengan Room-Royen Statement, pasukan Belanda harus ditarik dari daerah Yogyakarta. Pihak Belanda minta jaminan keamanan selama penarikan itu berlangsung. Presiden Soekamo mengangkat Sri Sultan sebagai penanggung jawab keamanan dan tugas itu dilaksanakannya dengan baik. Beliau pulalah yang pada tanggal 27 Desember 1949 mendapat kepercayaan dari Pemerintah RIS untuk menenma pengakuan kedaulatan dari Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Istana Rijkswik (Istana Merdeka) Jakarta.
Pihak lawan yang mengetahui besarnya pengaruh Sri Sultan di bidang politik, berusaha membujuknya atau melengkapkannya. Menjelang Pendaratan Jepang di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda membujuk Sri Sultan bersama tiga raja lainnya di Jawa Tengah agar ikut mengungsi ke Aus­tralia. Namun Sri Sultan menolak dan mengatakan bahwa apa pun yang akan terjadi, beliau akan tinggal di Yogya untuk menjaga keselamatan rakyatnya. Belanda kemudian merencanakan untuk menculiknya. Akan tetapi rencana itu tidak terlaksana sebab pasukan Jepang sudah memasuki Yogyakarta.
Selama Agresi militer kedua, berkali-kali utusan Belanda berusaha menemuinya untuk membujuk agar beliau bersedia bekerjasama dengan Belanda. Tidak seorang pun utusan itu berhasil menemuinya. Dengan alasan sakit, beliau selalu menugaskan orang lain untuk menemui mereka.
Bila bujukan tidak berhasil, masih saja menempuh jalan lain yakni ancaman seperti yang pernah dilakukan oleh Jenderal Meyer. Akan tetapi cara itupun tidak dapat menggoyahkan pendirian Sri Sultan. Sesudah Pengakuan Kedaulatan, pihak lawan, dalam hal ini golongan federalis berusaha untuk memb.unuhnya, rencana itu pun mengalami kegagalan.
Sebuah catatan Iain dapat ditambahkan mengenai besarnya pengaruh Sri Sultan di bidang politik dan keutuhan pribadinya. Beliau merupakan tokoh yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal itu, nampak dalam ultimatum yang disampaikan Dewan Banteng kepada pemerintah pusat (10 Februari 1958). Dalam ultimatum itu Dewan Banteng menuntut supaya Presiden Soekarno membentuk kabinet baru dengan Hatta atau Sri Sultan sebagai formatur.
Pihak lawan pun mengakui integritas pribadinya seperti terbukti dalam peristiwa perebutan senjata Jepang di Kota Baru, Yogyakarta, tanggal 7 Oktober 1945. Memang serangan yang dilancarkan pada pemuda, BKR dan Polisi berhasil memojokkan Jepang, akan tetapi mereka hanya bersedia menyerahkan senjata kepada Sri Sultan.
Sebagai seorang raja, Sri Sultan merupakan ahli waris dari tradisi yang sudah cukup mapan dan berusia lama. Akan tetapi beliau berani menghilangkan bagian dan tradisi yang dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu dibuktikannya dengan mengadakan demokratisasi di daerah kekuasaannya. Pada akhir September 1945 beliau menyatakan bahwa Badan Pekerja Komite Nasional Daerah Yogyakarta adalah Badan Legislatif. Dalam bulan Mei 1945 beliau menetapkan Dewan Pemerintah Daerah Yogyakarta menjadi Badan Eksekutif. Perubahan lain yang diadakannya dalam sistem pemerintahan ialah :
a. Pemilihan semua pejabat desa berdasarkan pemungutan suara yang
meliputi semua penduduk desa di atas usia 18 tahun.
b. Pemisahan badan-badan legislatif dan eksekutif desa.
c. Pemungutan pajak 10% atas pendapatan desa-desa kaya untuk
membantu desa yang miskin.
d. Membentuk Dewan Perwakilan Rakyat Kelurahan.
Dalam beberapa hal, pembaharuan yang dilaksanakannyadi bidang pemerintahan mendahului pembaharuan-pembaharuan yang dilaksanakan oleh pemerintah Pusat. Pada tanggal 14 Januari 1946. yaitu pada saat pusat Pemerintahan RI dipandang perlu untuk pindah dari Jakarta, maka Sri Sultan Hamengku Bowono IX menyediakan Yogyakarta sebagai Pusat Pemerintahan RI. Oleh karena itu secara langsung DIY dan Keraton Yogyakarta menjadi dapur perlawanan Pemerintah RI terhadap Pemerintah Penjajah Belanda.
Untuk kepentingan perang, Jepang membuat peraturan yang sangat memberatkan rakyat, seperti kewajiban menyerahkan sebagian hasil panen dan pengerahan tenaga romusha. Sri Sultan menyadari, bahwa bila peraturan itu ditaati sepenuhnya, maka penduduk akan menderita. Untuk tidak menyerahkan hasil panen sama sekali dan untuk tidak memenuhi kewajiban romusha tidak mungkin, Akan tetapi beliau selalu berusaha agar penyerahan hasil panen dapat ditekan sekecil mungkin. Begitu pula dengan pengerahan tenaga pemuda untuk romusha. Caranya ialah memalsukan statistik mengenai daerah Yogyakarta. Menurut statistik palsu itu wilayah Yogyakarta yang dapat di tanami tidak luas dan karena itu tidak banyak menghasilkan bahan pangan. Dengan alasan itu beliau berhasil mengelabui pemerintahan Jepang sehingga jumlah pangan yang harus diserahkan relatif sedikit.
Dalam statistik palsu itu digambarkan pula, bahwa di wilayah Yogyakarta banyak terdapat daerah-daerah yang digenangi air, sedangkan sebagian lagi kering dan tidak subur. Bila hasil panen harus ditingkatkan, terlebih dahulu harus di buat saluran saluran untuk mengalirkan air dari daerah yang tergenang ke laut. Selain itu diperlukan pula saluran-saluran untuk mengaliri daerah kering. Dengan alasan itu pula Sri Sultan berhasil memperoleh biaya dari Jepang.
Pekerjaan membuat saluran tentu saja memerlukan tenaga manusia khususnya para pemuda. Dengan dalih bahwa sebagian besar pemuda dikerahkan untuk membuat saluran, Sri Sultan dapat mengurangi jumlah romusha yang diminta Jepang.
Beberapa catatan dapat diberikan tentang usaha-usaha Sri Sultan dilapangan ekonomi. Beliaulah yang pertama kali merintis penanaman tembakau Virginia di Kabupaten Sleman dan beliau pula yang merintis pembangunan pabrik gula Madukismo.
Sumbangan besar dalam pembangunan bidang ekonomi juga diberi­kan oleh Sri Sultan pada masa-masa awal Orde Bam. Sebagai akibat salah urns pada masa pemerintahan Orde Lama, keadaan perekonomian Indonesia pada awal Orde Bam sangat suram. Inflasi merajalela, sementara hutang yang harus dibayar kepada luar negeri sangat besar sehingga kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia pun merosot.
Menghadapi hal demikian, sebagai Menteri Ekuin Sri Sultan berusaha mengembalikan stabilitas perekonomian ke dalam, sambil memulihkan kembali kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia. Dalam rangka stabilitas ekonomi ke dalam, beliau memasyarakatkan progam ekonomi dan pembangunan dengan cara membentuk Koresteda (Koordinasi Rehabilitasi dan Stabilisasi Ekonomi Daerah) yang langsung di bawah kepemimpinannya. Sedangkan dalam rangka memulihkan kembali kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia, beliau langsung memimpin misi ke berbagai negara untuk membicarakan hutang-hutang Indonesia, beliau mengadakan perundingan-perundingan agar mereka bersedia menanamkan modalnya di Indonesia.
Berkat integritas pribadinya, maka negara-negara kreditor tetap bersedia memberi pinjaman kepada Indonesia. Dengan demikian kesulitan ekonomi secara berangsur dapat diatasi, dan sekaligus diperoleh pula dana untuk melaksanakan pembangunan.

 

B. BIDANG SOSIAL BUDAYA.
Dan deretan jabatan yang pernah dipangkunya baik di dalam maupun di luar pemerintahan, dapat diketahui betapa banyak kegiatan yang dilakukannya dan sumbangan yang diberikannya kepada bangsa dan negara. Di bidang pendidikan, khususnya yang berkenaan dengan Universitas Gajah Mada, Sri Sultan mempunyai andil yang cukup besar. Pada waktu pemerintah mendirikan Balai Perguman Tinggi Gajah Mada, Sri Sultan menyumbangkan dua tempat untuk kegiatan perguman tinggi itu, yakni Sitihinggil dan Pagelaran. Kemudian disumbangkannya pula Dalem Mangkubumen dan Dalem Notoprajan serta pada tahun 1950 beliau memberikan tambahan fasilitas di Bulak Sumur. Pada tahun itu beliau memberikan Yayasan Guna Darma dan melalui Yayasan itu pula beliau merintis pembangunan asrama-asrama mahasiswa.
Perkembangan bidang pariwisata tidak luput dan perhatian Sri Sul­tan. Dalam tahun 1955 beliau mengadakan perjalanan kedaerah-daerah untuk melihat tempat-tempat yang pantas untuk dijadikan objek pariwisata. Tidaklah mengherankan, apabila kemudian beliau diangkat sebagai Ketua Dewan Pembimbing Lembaga Pariwisata Indonesia.
Di bidang olah raga, Sri Sultan mulai aktif berpartisipasi sejak penyelenggaraan Pekan Olah Raga Nasional (PON) I di Solo. Perhatian beliau terhadap pembinaan olah raga terus berkembang, sehingga kemudian beliau diangkat menjadi Ketua Umum Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI).
Demikian pula di bidang kepramukaan, beliau sangat berjasa dalam rangka pembinaan kepramukaan Indonesia. Sejak tahun 1961 beliau aktif dalam dunia kepramukaan. Dimulai pengangkatannya sebagai Wakil Ketua I Majelis Pimpinan Nasional Gerakan Pramuka, kemudian pada tahun 1967 beliau diangkat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka sampai dengan tahun 1974. Terakhir pengabdian beliau dalam kepramukaan adalah menjadi Wakil Ketua/Ketua Hanan Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka masabhakti 1978-1983.

 

 

C. TANDA JASA/KEHORMATAN YANG DIMILIKI
1. Bintang Republik Indonesia Adipradana (II)
2. Bintang Mahaputera Adipurna (I)
3. Bintang Mahaputera Adipradana (II)
4. Bintang Gerilya
5. Bintang Bhayangkara Pratama (II)
6. Bintang Sewindu
7. Satya Lencana Perang Kemerdekaan I
8. Satya Lencana Perang Kemerdekaan II
9. Satya Lencana Kesetiaan
10. The Datu of The Order of Sikatuna ( Philipina )
11. Gran Cordon of The Order of Menelik II (Ethiopia)
12. Grootkriz Kronode (Belgia)
13. Peace Award (Jepang)
14. Setia Mahkota Malaysia – SSM (Malaysia)
15. Grootkruis (Belanda)
16. Bronze Wolf (Pandu Dunia)
17. Grootlint Der Leopold Sorde (Belgia)
18. The First Class of.The Order of The Rising Sun (Jepang)
D. KESIMPULAN
Berdasarkan catatan-catatan riwayat hidup dan perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagaimana diuraikan diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan yang sekaligus menggambarkan kepribadian dan sikap hidup beliau, sebagai berikut:
1. Beliau adalah seorang yang berjiwa demokrat, meskipun beliau dibesarkan dalam lingkungan kraton.
2. Beliau adalah seorang yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dan rela mengorbankan kedudukan dan kepentingan pribadi untuk kepentingan nasional.
3. Beliau adalah seorang yang selalu loyal kepada Bangsa, Negara dan Pemerintah RI.
4. Beliau adalah seorang pejuang yang konsisten pada sikap dan tindakannya dalam membela kepentingan rakyat, bersikap tegas, berani mengambil resiko untuk kepentingan perjuangan serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
5. Beliau adalah seorang yang rendah hati, sederhana, bijaksana dan memiliki integritas moral yang utuh.
6. Sikap dan semangat perjuangannya dari awal sampai akhir menunjukkan keberanian yang luar biasa, tindakan-tindakannya yang mulia tanpa pamrih maupun golongan serta memiliki moral dan prilaku yang mengandung suri tauladan bagi bangsanya.
Atas jasa dan perjuangannya terhadap bangsa dan negara, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 053/TK/Tahun 1990 tanggal 31 Maret 1990.

Pangeran Sambernyowo / K.G.P.A.A Mangkunegoro I

Pangeran Sambernyowo

Raden Mas Said yang dikenal di kalangan rakyat dengan sebutan Pangeran Sambernyowo (Pangeran Penyebar Maut) dilahirkan di Keraton Kartosuro pada hari Minggu Legi tanggal 4 Ruwah tahun Jimakir 1650 AJ. Windu Aiwuku Warigagung atau tanggal 7 April 1725. Ayahnya bemama Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro yang dibuang oleh Belanda ke Srilangka (Ceylon). Ibunya bernama R.A. Wula. Putri dari Pangeran Blilar.
Pangeran Sambernyowo adalah tokoh Keraton tradisional yang gemar hidup ditengah-tengah masyarakat Mataram yang agamis. Sepanjang hidupnya mengalami penderitaan dan penghinaan dalam hubungannya dengan penjajah Belanda, yang selalu mencampuri urusan Kerajaan Mataram. Baginya Belanda adalah sumber kemelut yang menimbulkan pertentangan dalam keluarga Keraton Mataram dan penyebab timbulnya kemelaratan dikalangan rakyat Mataram.
Sebagai pejuang yang berasal dari kalangan Keraton. Perjuangannya di arahkan demi kelestarian Keraton Mataram dan kebebasan rakyatnya dari penjajahan Belanda. Konsekwensi logis dari sikapnya itu. Pangeran Sambernyowo terkadang harus berhadapan dengan keluarga Keraton yang memihak Kompeni Belanda. Berkat dukungan rakyat Mataram yang setia-kepadanya, ia melakukan pertempuran melawan serdadu Belanda dengan taktik pertempuran gerilya yang sangat melelahkan Belanda dan banyak menimbulkan korban dikalangan serdadu Belanda.
Perjuangan Raden Mas Said menentang kekuasaan Belanda tidak dapat dipisahkan dari kericuhan yang terjadi di Kerajaan Mataram pada pertengahan abad ke 18. Sejak awal abad itu beberapa daerah Mataram sudah dikuasai secara langsung oleh Belanda. Selain itu Belanda berhasil pula mencampuri masalah inten kerajaan seperti pengangkatan Raja dan pejabat tinggi lainya.
Akibatnya, di Keraton timbul golongan pro dan kontra kekuasaan asing. Sementara itu rakyat semakin menderita karena harus memikul beban perang yang sering terjadi dan juga sebagai akibat monopoli perdagangan yang dilakukan Belanda. Tidak mengherankan apabila perasaan benci terhadap Belanda dan kaki tangannya itu merata di kaluiigan masyarakat. Pada gilirannya perasaan itu meledak menjadi perlawanan bersenjata. Rasa benci terhadap Belanda dan kaki tangannya itu memuncak sejak peristiwa pembuangan Pangeran Aryo Mangkunegoro ke Ceylon (Srilangka) akibat fitnah Sunan Amangkurat IV yang direka oleh Patih Danurejo yang sangat pro Belanda dan berusaha membunuh Raden Mas Said yang baru berumur 2 tahun, sebab dikhawatirkan kelak ia akan mcmhnlas dendarn. Namun usaha itu tidak berhasil.
Kesempatan untuk melawan Belanda terbuka ketika pada tahun 1740 di Kartosuro terjadi perlawanan rakyat terhadap Belanda. Waktu itu Raden Mas Said telah berumur 14 tahun. Dalam usia semuda itu ia telah berhasil menjalin kerjasama dengan beberapa orang temannya, dan secara bersama-sama mereka ikut bertempur dalam barisan rakyat. Pada waktu Belanda berhasil kembali menguasai keadaan, untuk beberapa waktu lamanya, Raden Mas Said tetap tinggal di Keraton. Akan tetapi pada 21 Juni 1741 ia bersama dua adiknya (R.M. Ambia dan R.M. Sabar) dan teman-temannya meninggalkan Kartosuro untuk menyusun kekuatan di luar Keraton. Pada mulanya Raden Mas Said mempersiapkan diri bersama pengikutnya di Nglaroh dengan latihan perang-perangan. Setelah persiapan dirasa cukup, ia menggabungkan diri dengan Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) di Randulawang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Lebih kurang satu tahun lamanya ia berjuang bersama Sunan Kuning. Pada waktu Sunan Kuning memindahkan pusat perjuangan kearah timur (Pasuruan), Raden Mas Said tetap tinggal di daerah Jawa Tengah. Ia memusatkan pertahanannya di Mojoroto Wonosemang dan para pengikutnya mengangkatnya sebagai Pangeran Adipati Mangkunegoro.
Untuk menumpas perlawanan R.M. Said Belanda mengirimkan pasukan dengan kekuatan yang cukup besar. Sebagian besar pasukan yang dikirim itu ialah pasukan Mataram di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi. Pasukan R.M. Said terdesak, namun ia berhasil meloloskan diri dan membangun kekuatan baru di tempat lain. Karena sesuatu sebab, pada 19 Mei 1746 Pangeran Mangkubumi menggabungkan diri dengan R.M. Said untuk melawan Belanda. Selama sembilan tahun mereka berjuang bersama-sama. Dalam perjuangan itu R.M. Said diambil menantu oleh Pangeran Mangkubumi.
Untuk mematahkan perlawanan pasukan R.M. Said dan Pangeran Mangkubumi, Belanda menjalankan politik ”devide et impera ”. Belanda berhasil membujuk Pangeran Mangkubumi menghentikan perlawanan. Pada 13 Pebruari 1755 di Desa Gianti diadakan perjanjian damai antara Belanda, Sunan Pakubuwono III dan Mangkubumi. Dalam perjanjian itu Mataram dibagi dua yaitu Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Ngayogyokarto. Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sultan Hamcngkubuwono I.
Sementara itu R.M. Said yang tidak senang dengan kekuasaan Belanda dan tetap melanjutkan perjuangan. Dengan perasaan berat ia terpaksa menghadapi pasukan Surokarto dan Ngayogyakarto yang didukung oleh pasukan Belanda. Sekalipun menghadapi tiga lawan sekaligus, namun kekuatan pasukannya tidak mudah di patahkan. Pada 13-19 Oktober 1755 ia berhasil menghancurkan satu detasemen pasukan Belanda di hutan Sitakepyak, bahkan komandan detasemen, Kapten Vander Pol, tewas dalam pertempuran ini. Peristiwa tersebut diakui Belanda sebagai kekalahan yang memalukan. Pada 28 Oktober 1756 R.M. Said berhasil memporak porandakan benteng Belanda di Ngayogyokarto. Serangan tersebut sangat mempengaruhi pendapat pihak Belanda atas kemampuan perang pasukan R.M. Said, Nicolaas Hartingh, Gubernur Pantai Utara Jawa, meminta bantuan Pakubowono III untuk mengatasi keadaan. Karena kemampuannya dalam pertempuran yang banyak menimbulkan kerugian di pihak Belanda, R.M. Said mendapat julukan Pangeran Sambernyowo. Mengenai kemampuan pasukan R.M. Said ini seorang penulis Belanda De Jonge, mengatakan, bahwa jumlah prajurit R.M. Said tidak begitu banyak akan tetapi bermental jujur dan setia, terlatih dan mempunyai daya tempur yang tinggi. Penulis lain, Louw, dalam bukunya De Derde Javaansche Oorlog mengatakan bahwa berulang kali pasukan Pangeran Sambernyowo dihancurkan, namun setiap kali pula pasukan itu bangkit kembali dengan lebih perkasa karena mendapat dukungan rakyat.
Sekalipun berhasil di medan perang namun R.M. Said menyadari bahwa perang yang berlarut-larut dan berlangsung cukup lama menimbulkan kesengsaraan rakyat. Karena itulah ketika ia menerima surat dari Pakubuwono III yang memintanya untuk turut serta membangun kerajaan Surokarto yang telah rusak akibat perang. R.M. Said bersedia mempertimbangkan untuk menghentikan perlawanan. Akan tetapi ia tetap waspada karena mungkin saja surat itu merupakan jebakan. Setelah mendapat kepastian bahwa surat itu dituhs sendiri oleh Sunan Pakubowono III berdasarkan ketulusan had, maka R.M. Said bersedia menemui Pakubuwono HI di tempat yang telah di tentukan. Pada 24 Pebruari 1757 diadakan perjanjian di Salatiga antara R.M. Said di satu pihak dengan Sunan Pakubuwono III dan Sultan Hamengkubuwono I
(diwakili oleh Patih Danurejo).
Dengan perjanjian Salatiga berakhirlah perlawanan R.M. Said yang telah berlangsung selama 16 tahun terus menerus. Perjanjian itu melahirkan pula sebuah wilayah baru dalam bekas kerajaan Mataram, yakni wilayah Mangkunegoro.
Pada 28 Desember 1757 R.M. Said diangkat menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I. Sekalipun perang telah berakhir, R.M. Said tidak mengendurkan kewaspadaannya. Karena itulah ia terus membina kekuatan perang dengan cara membentuk pasukan baru sebagai tambahan terhadap pasukan yang ikut serta bersamanya bertempur selama 16 tahun. Selain itu ia juga memperbaiki perekonomian rakyat antara lain membangun tempat-tempat peribadatan, mengembangkan kebudayaan antara lain dengan penulisan babat. Ia wafat pada tanggal 28 Desember 1795.
Untuk menghargai jasa-jasanya dan tindak kepahlawanannya dalam perjuangan melawan penjajahan pada umumnya, khususnya dalam perjuangan mempertahankan prinsip kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar ”Pahlawan Kemerdekaan Nasional” dan ”Bintang Mahaputera Adipurna Kelas I” kepada Pangeran Sambernyowo /K.G.P.A.A Mangkunegoro I berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 048/TK/ tahun 1988 tertanggal 17 Agustus 1988.

Radin Inten II

Radin Inten II

Radin Inten II lahir pada tahun 1834. Ia adalah putra tunggal Radin Inba II, penguasa Keratuan Negara Ratu, suatu daerah di provinsi Lampung yang sekarang. Selama beberapa tahun Radin Inten II melaukukan perlawanan bersenjata terhadap Belanda yang berusaha menguasai seluruh wilayah Lampung. Namun pada akhir Oktober 1834 ia tertangkap dan dibuang Belanda ke Pulau Timor tanpa diikuti istrinya, Ratu Mas, yang sedang hamil tua.Selama hidupnya Radin Inten II tidak pernah bertemu dengan ayahnya yang meninggal dunia di tempat pembuangan. Namun, ia mengetahui kisah perjuangan ayahnya dan kemudian berusaha melanjutkan perjuangan itu. Pada tahun 1850 ia dinobatkan sebagai Ratu Negara Ratu. Selama enam belas tahun, sejak Radin Inba II ditangkap Belanda, Pemerintahan di Keratuan ini dijalankan oleh Dewan Perwalian. Setelah memegang kekuasaan, Radin Inten II segera melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi Belanda. Ia menjalin kerjasama dengan Haji Wakhia, tokoh Banten yang pernah melakukan perlawanan terhadap Belanda dan kemudian menyingkir ke Lampung, bahkan diangkat Radin Inten II sebagai penasihatnya. Haji Wakhia menggerakkan perlawanan di daerah Semangka dan Sekampung dengan menyerang pos-pos militer Belanda. Tokoh lain yang juga menjadi pendukung utama Radin Inten II ialah Singa Beranta, Kepala Marga Rajabasa.Sementara itu, Radin Inten II memperkuat benteng-benteng yang sudah ada dan membangun benteng-benteng baru. Benteng-benteng ini dipersenjatai dengan meriam, lila, dan senjata-senjata tradisional. Bahan makanan seperti beras dan ternak disiapkan dalam benteng untuk menghadapi perang yang diperkirakan akan berlangsung lama. Semua benteng tersebut terletak di punggung gunung yang terjal, sehingga sulit dicapai musuh. Beberapa panglima perang ditugasi memimpin benteng-benteng tersebut. Singaberanta, misalnya, memimpin benteng Bendulu, sedangkan Radin Inten II sendiri memimpim benteng Ketimbang.Melihat munculnya kembali perlawanan di daerah Lampung setelah reda selama enam belas tahun, pada tahun 1851 Belanda mengirim pasukan dari Jakarta. Pasukan yang dikomandoi oleh Kapten Jucht dengan kekuatan 400 prajurit ini bertugas merebut benteng Merambung. Akan tetapi, mereka dipukuli mundur oleh pasukan Radin Inten II. Karena gagal merebut Merambung, Belanda mengubah taktik. Kapten Kohler, Asisten Residen Belanda di Teluk Betung, ditugasi untuk mengadakan perundingan dengan Radin Inten II.

 

Setelah berkali – kali mengadakan perundingan, akhirnya dicapai perjanjian untuk tidak saling menyerang. Belanda mengakui eksistensi Negara Ratu. Raden Inten II pun mengakui kekuasaan Belanda di tempat – tempat yang sudah mereka duduki. Perjanjian itu digunakan Belanda hanya sebagai adem pause menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan besar – besaran. Bagi mereka dengan cara apa pun, Raden Inten II harus ditundukan. Belanda yakin, selama Radin Inten II masih berkuasa, kedudukan mereka di Lampung akan tetap terancam. Namun, sebelum memulai serangan serangan baru, Belanda berusaha memecah belah masyarakat Lampung. Kelompok yang satu diadu dengan kelompok yang lain. Di kalangan masyarakat ditimbulkan suasana saling mencurigai. Tugas itu dipercayakan kepda Kapten Kohler. Di beberapa tempat usahanya berhasil. Pemuka – pemuka masyarakat Kalianda, misalnya, termakan hasutan untuk memusuhi Radin Inten II, sehingga mereka tidak menghalang – halangi pasukan Belanda berpatroli di sekitar gunung Rajabasa.Pada tanggal 10 Agustus 1856 pasukan Belanda diberangkatan dari Jakarta dengan beberapa kapal perang. Pasukan ini dipimpin oleh Kolonel Waleson terdiri atas pasukan ifenteri, artileri dan zeni disertai sejumlah besar kuli pengangkut barang. Esok harinya mereka mendarat di Canti. Kekuatan mereka bertambah dengan bergabungnyapasukan Pangeran sempurna Jaya Putih, orang lampung yang sudah memihak Belanda.Iring – iringan kapal perang Belanda yang memasuki perairan Lampung ini dilihat oleh Singaberanta dari benteng bendulu. Ia segera mengirim kurir ke benteng Ketimbang untuk memberitahukan hal itu kepada Radin Inten II yang selanjutnya memerintahkan pasukannya di benteng – benteng lain agar menyiapkan diri.Belanda mengirim ultimatum kepada Radin Inten II agar paling lambat dalam waktu lima hari ia dam seluruh pasukannya menyerahkan diri. Bila tidak, Belanda akan melancarkan serangan. Singaberanta pun dikirim surat yang mengajaknya untuk berdamai. Sambil menunggu jawaban dari Radin Inten II dan singaberanta, pasukan Belanda mengadakan konsolidasi. Radun Inten II pun meningkatkan persiapannya. Benteng – Benteng diperkuat. Beberap orang kepercayaannya diperintahkan memasuki daerah – daerah yang sudah dikuasai Belanda untuk menganjurkan penduduk di tempat tersebut agar mengadakan perlawanan. Sampai batas waktu ultimatum berakhir, baik Radin Inten II maupun Singaberanta tidak memberikan jawaban. Maka, pada tanggal 16 Agustus 1856 pasukan Belanda pun mulai melancarkan serangan. Sasaran mereka hari itu ialah merebut Benteng Bendulu. Pukul 08.00 mereka sudah tiba di Bendulu setelah menempuh jarak setapak di punggung gunung yang cukup terjal. Akan tetapi, mereka menemukan benteng itu dalam keadaan kosong. Singaberanta sudah memindahkan pasukannya ke tempat lain. Ia dengan sengaja menghindari perang terbuka, sebab yakin bahwa pasukan lawan yang dihadapinya jauh lebih kuat. Pasukannya disebar di tempat – tempat yang cukup tersembunyi dengan tugas melakukan pencegatan terhadap patroli pasukan Belanda yang keluar benteng. Sesudah menduduki Benteng Bendulu, sebagian pasukan Belanda bergerak ke benteng Hawi Berak yang dapat mereka kuasai pada tanggal 19 Agustus. Di Bendulu, pasukan Belanda berhasil menangkap seorang kemenakan Singaberanta dan 14 orang lainnya. Mereka dipaksa menunjukkan tempat Singaberanta dan menunjukkan jalan menuju Ketimbang. Semuanya mengatakan tidak tahu. Namun, mereka terpaksa menunjukkan tempat Singaberanta menyimpan senjata, antara lain 25 tabung mesiu, 1 pucuk meriam, 4 pucuk lila, dan beberapa pucuk senapan.Sasaran utama Belanda ialah merebut benteng Ketimbang, sebab di benteng inilah Radin Inten II bertahan. Untuk merebut benteng ini, kolonel Waleson membagi tiga pasukannya. Satu pasukan bergerak dari Bendulu ke arah selatan dan timur gunung Rajabasa, satu pasukan bergerak menuju Kalianda dan Way Urang dengan tugas merebut benteng Merambung dan setelah itu langsung menuju Ketimbang.

 

Pasukan ketiga bergerak dari Panengahan untuk merebut benteng Salai Tabuhan dan selanjutnya menuju Ketimbang.Ternyata, pelaksanaannya tidak semudah seperti yang direncanakan. Kesulitan utama ialah Belanda belum mengetahui jalan menuju Ketimbang. Penduduk yang tertangkap tidak mau menunjukkan jalan tersebut. Oleh karena itu, pasukan yang langsung dipimpin Kolonel Waleson dan sudah menduduki Hawi Berak, terpaksa kembali ke Bendulu. Pasukan lain yang dipimpin Mayor Van Ostade berhasil mencapai Way Urang yang penduduknya sudah memihak Belanda. Walaupun pasukan ini sempat tertahan di Kelau akibat serangan yang dilancarkan pasukan Radin Inten II, namun akhirnya mereka berhasil juga merebut benteng Merambung.Sebenarnya, letak benteng Ketimbang tidak jauh dari benteng Merambung. Akan tetapi, Belanda tidak mengetahuinya. Kesulitan untuk mengetahui jalan menuju Ketimbang baru dapat mereka atasi pada tanggal 26 Agustus. Pada hari itu Belanda berhasil menangkap dua orang anak muda. Seorang diantaranya ditembak mati karena berusaha melarikan diri. Yang seorang lagi diancam akan dibunuh bila tidak mau menunjukkan jalan ke Ketimbang. Anak muda itupun terpaksa menuruti kehendak Belanda.Setelah jalan ke Ketimbang diketahui, Kolonel Waleson segera memerintahkan pasukannya untuk melakukan serbuan. Subuh tanggal 27 Agusutus mereka mulai bergerak. Ketika tiba di Galah Tanah pukul 10.00 mereka dihadang oleh pasukan Radin Inten II. Pertempuran di tempat ini dimenangi oleh pihak Belanda. Begitu pula pertempuran berikutnya di Pematang Sentok. Sebagian pasukan ditinggalkan di Pematang Sentok dan sebagian lagi meneruskan gerakan ke Ketimbang. Tengah hari pasukan ini sudah tiba di Ketimbang. Sesudah itu datang pula pasukan lain, termasuk pasukan Pangeran Sempurna Jaya Putih. Ternyata, benteng Ketimbang sudah ditinggalkan oleh Radin Inten II dan pasukannya. Dalam benteng ini Belanda menemukan bahan makanan dalam jumlah yang cukup banyak.Benteng Ketimbang sudah jatuh ke tangan Belanda. Akan tetapi, Kolonel Waleson kecewa, sebab Radin Inten II tidak tertangkap atau menyerah. Waleson mengirimkan pasukannya ke berbagai tempat untuk mencari Radin Inten II. Sebaliknya, untuk mengacaukan pendapat Belanda, Radin Inten II menyebarkan berita-berita palsu melalui orang-orang kepercayaannya. Beredar berita bahwa ia sudah menyerah di Way Urang. Waleson pun segera menuju Way Urang. Ternyata, orang yang dicarinya tidak ada di tempat itu. Seorang perempuan melaporkan pula bahwa Radin Inten II ada di Rindeh dan hanya ditemani oleh beberapa orang pengikutnya. Berita itu pun ternyata berita bohong. Suatu kali, Belanda mengetahui tempat persembuyian Radin Inten II. Tempat itu pun dikepung di bawah pimpinan Kapten Kohler. Akan tetapi, Radin Inten II berhasil meloloskan diri.Sampai bulan Oktober 1856 sudah dia setengah bulan Belanda melancarkan operasi militer. Satu demi satu benteng pertahanan Radin Inten II sudah mereka duduki. Namun, Radin Inten II masih belum tertangkap. Sementara itu, Belanda mendapat laporan bahwa Radin Inten II sudah pergi ke bagian utara Lamoung, menyeberangi Way Seputih. Berita lain mengabarkan bahwa Singaberanta berada di pulau Sebesi. Belanda mengarahkan pasukan untuk memotong jalan Radin Inten II. Pasukan juga dikirim ke pulau Sebesi untuk mencari Singaberanta. Hasilnya nihil. Baik Radin Inten II maupun Singaberanta tidak mereka temukan.Kolonel Waleson hampir  putus asa, ia merasa dipermainkan oleh seorang anak muda berumur 22 tahun. Akhirnya, Waleson menemukan cara lain. Ia berhasil memperalat Radin Ngerapat. Maka pengkhianatan pun terjadi. Radin Ngerapat mengundang Radin Inten II untuk mengadakan pertemuan. Dikatakannya bahwa ia ingin membicarakan bantuan yang diberikannya kepada Radin Inten II. Tanpa curiga, Radin Inten II memenuhi undangan itu. Pertemuan diadakan malam tanggal 5 Oktober 1856 di suatu tempat dekat Kunyanya. Radin Inten II ditemani oleh satu orang pengikutnya. Radin Ngerapat disertai pula oleh beberapa orang. Akan tetapi, di tempat yang cukup tersembunyi, beberapa orang serdadu Belanda sudah disiapkan untuk bertindak bila diperlukan. Radin Ngerapat mempersilahkan Radin Inten II dan pengiringnya memakan makanan yang sengaja dibawanya terlebih dahulu. Pada saat Radin Inten menyantap makanan tersebut, secara tiba-tiba ia diserang oleh Radin Ngerapat dan anak buahnya. Perkelahian yang tidak seimbang pun terjadi. Serdadu Belanda keluar dari tempat persembunyiannya dan ikut mengeroyok Radin Inten II. Radin Inten II tewas dalam perkelahian itu. Malam itu juga mayatnya yang masih berlumuran darah diperlihatkan kepada Kolonel Waleson.Raden Inten II tewas karena pengkhianatan yang dilakukan oleh orang sebangsanya dalam usia sangat muda, 22 tahun. Pada tahun 1986 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya gelar pahlawan nasional ( surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 082 Tahun 1986 tanggal 23 Oktober 1986)

Radin Panji Soeroso

RP Soeroso bwSalah seorang tokoh pejuang bangsa Indonesia yang besar sekali andilnya bagi perjuangan bangsa Indonesia yaitu Radin Panji Soeroso, hari sabtu tanggal 16 Mei 1981 telah meninggal dunia di Jakarta dalam usia 80 tahun. la dapat dikatakan tokoh terakhir dari angkatan 1908. Dan wakil terakhir dari angkatan tua para pejuang Nasional yang sempat hidup hingga bagian terakhir abad 20 ini.
R.R Soeroso dilahirkan pada tanggal 3 November 1893 di Porong (Sidoarjo), Jawa Timur, termasuk berfikiran maju dan pemberani. Dalam usia 15 tahun (tahun 1908 ) ia masuk perkumpulan Budi Utomo, pada waktu itu Budi Utomo belum mempunyai tujuan politik, pada waktu duduk di kelas 6 Kweekschool di Sidoarjo R.P. Soeroso dipecat dari sekolah tersebut karena memimpin pemogokan murid-murid seluruh sekolahan yang tidak puas dengan beleid Direktur sekolah, seorang Belanda yang menghina bangsa Indonesia.
Pemecatan ini bukan menyurutkan semangatnya, melainkan membangkitkan semangat perlawanannya. Kemudian ia berangkat ke Surabaya untuk belajar jurnalistik, semangat menentang Belanda semakin berkorbar, melalui pengetahuan jurnalistiknya ia mulai menulis dan menyerang Pemerintah Kolonial walaupun secara halus.
Pada tahun 1915 ia diangkat menjadi Presiden Serikat Islam Probolinggo dan Krakasan. Jawa Timur. Pada waktu R.P. Soeroso baru berusia 21 tahun tetapi dapat memimpin rakyat didaerah itu yang penduduknya kebanyakan suku Madura. R.P. Soeroso bersama anggota pengurus Serikat Is­lam menitik beratkan pada gerakan Nasional dan perbaikan ekonomi rakyat.
Dalam tahun 1917 dipilih menjadi anggota gemeenterad Probolinggo. Dalam kedudukan itu ia membela nasib pemilik waning di pinggir jalan supaya tidak dibongkar dan berhasil. Sebagai anggota Dewan Gemeente ia terus membela kepentingan pribumi. Ia termasuk pendiri Organisasi Kepegawaian yang pada waktu itu bernama Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri (P.V.P.N.).
Pada tahun 1921 R.P. Soeroso menjadi Ketua Personil Pabrik Bond daerah Mojokerto dan ia yang memimpin pemogokan pegawai pabrik gula yang jumlahnya 12 buah milik orang Belanda dan aksi pemogokan ini menghasilkan perbaikan nasib para pegawai pabrik tersebut.
Didalam periode pergerakan Nasional sampai datangnya pendudukan Jepang pada tahun 1942 beliau menjadi anggota Volksraad dan keanggotaannya itu telah didudukinya sejak tahun 1924. R.P. Soeroso lah yang pertama kali berpidato dalam sidang Volksraad yang mengeritik beleid Pemerintah Hindia Belanda dan menolak maksud Pemerintah Hindia Belanda untuk mengadakan pajak Landrente di Sumatera Barat.
Pada masa Jepang berkuasa di Indonesia R.P. Soeroso pun tak lepas dari kegiatan-kegiatan perjuangan. Beliau pernah menjadi ketua Putera daerah Malang dan duduk dalam Pusat barisan Pelopor di Jakarta, menjadi Ketua Hokokai sebagai pengganti Putera dan menjadi anggota Tjuo Sangi-ln di Jakarta. Dalam tahun 1943 menjadi Sucokan, dan sewaktu menjadi Sucokan itu ia mengambil kesempatan untuk mengumpulkan Lurah-lurah desa dari Kabupaten-kabupaten untuk membesarkan semangat kebangsaan mereka dan memimpin dinas-dinas Pemerintahan Pertanian dan Pendidikan dan Pekerjaan pamong Praja. R.P. Soeroso pernah juga menjadi wakil Ketua Dokuritsu Jiunbi Cosakai (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, R.P. Soeroso tetap menjadi pejuang melalui berbagai jabatan yang dipercayakan kepadanya. Beliau pernah menjabat Gubenur JawaTengah, Anggota KNIP Pusat dan kemudian tahun 1946 beliau diangkat sebagai Komisaris Tinggi untuk daerah Solo dan Yogyakarta. Ketika Belanda menyerang Yogyakarta tahun 1948 pemimpin-pemimpin negara ditangkapi Belanda. maka dibentuklah suatu pemerintahan darurat dibawah pimpinan MR. Syarifuddin Prawiranegara dengan kedudukan pusatnya di Sumatera. Pada waktu itu R.P. Soeroso diangkat sebagai salah seorang anggota pemerintahan darurat yang berkedudukan di Jawa.
Pada tahun 1950 R.P. Soeroso diangkat menjadi anggota DPR mewakili Parindra, tetapi hanya sebentar karena kemudian beliau diangkat menjadi Menteri Perburuhan dari kabinet Moh. Nasir. Sejak saat itu sampai tahun 1956 beliau menduduki beberapa Jabatan Menteri seperti Menteri Urusan Pegawai, Kemudian Menteri Sosial dan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik merangkap Menteri Dalam Negeri selama satu tahun.
Selama menjabat sebagai Menteri, perhatian baliau ditujukan pada perbaikan kehidupan rakyat kecil. Pada waktu menjabat sebagai Menteri Perburuhan, beliau menghentikan pemogokan buruh-buruh perkebunan yang jumlahnya berpuluh-puluh nbu yang menuntut kenaikan upah dan perbaikan jatah pangan. Pemogokan ini dapat diselesaikan dengan baik dan buruh mendapat kenaikan upah dan tambahan jatah pangan. Selanjutnya untuk kepentingan penyelesaian secara dinas, R.P. Soeroso membentuk Panitia penyelesaian pekerja (LP 4) di pusat dan di daerah, badan tersebut berfungsi hingga sekarang.
Pada waktu memegang jabatan sebagai Menteri Sosial, untuk melancarkan transmigrasi dari Jawa ke luar Jawa, beliau mengadakan percobaan untuk membuka hutan secara mekanis bagi para transmigran. Sebagai pangkal kerja diambil suatu tempat di desa Metro (Lampung), di tempat tersebut dibangun sebuah bengkel service dan reparasi traktor-traktor yang dipakai untuk membuka hutan. Rupanya usaha beliau diketahui oleh rakyat di Jawa yang memang ingin pindah ke luar Jawa. Maka sejak itu Transmigrasi spontan jumlahnya banyak sekali dengan biaya sendiri.
Sebagai Menteri Sosial, R.P. Soeroso juga memikirkan kesehatan masyarakat, pada tahun 1952 beliau sebagai Menteri Sosial dan Ketua Yayasan Dana Bantuan telah membeli tanah seluas 44 ha di Cilandak, kemudian dibangun untuk Rumah Sakit yang sekarang terkenal dengan nama Rumah Sakit Fatmawati.
Pada waktu menjabat Menteri Urusan Pegawai kemudian sebagai Menteri Sosial, R.P. Soeroso melihat dan merasakan kesulitan pegawai dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan gajinya yang kecil, maka timbullah pemikiran beliau untuk mendirikan Koperasi Pegawai Negeri di tiap-tiap instalasi Pemerintah dari Pusat sampai daerah-daerah. Ide R.P. Soeroso ini mendapat sambutan baik dari kalangan Pegawai Negeri dan kemudian terbentuklah primer-primer Koperasi Pegawai Negeri di Instalasi-Instalasi Pemerintah. Primer-primer Koperasi tersebut menggabungkan diri menjadi Pusat Koperasi di daerah-daerah Tingkat II dan mendirikan gabungan Tingkat Propinsi dan kemudian menggabungkan diri dalam Induk Koperasi di Pusat yang selanjutnya menjadi Induk Koperasi Pegawai Negeri, dan diketuai oleh R.P. Soeroso. Jabatan Ketua Induk Koperasi Pegawai Negeri ini dipegang hingga akhir hayatnya.
Dalam tahun 1961 oleh Presiden Republik Indonesia, R.P. Soeroso diangkat menjadi Ketua merangkap Anggota Panitia Negara Urusan Desentralisasi dan Otonomi Daerah dengan tugas menyusun Rencana Undang-Undang pokok tentang Pemerintahan Daerah. Tahun 1966 sampai dengan Maret 1973 R.P. Soeroso menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) mewakili Gerakan Koperasi. Dalam bulan Mei 1966 dipilih menjadi Ketua I Gerakan Koperasi Indonesia.
Setelah tidak melaksanakan tugas pekerjaan pada jabatan exekutif R.P. Soeroso tetap aktif dalam berbagai bidang terutama sekali pada bidang perkoperasian Pegawai Negeri. Beliau tetap aktif menjadi Pimpinan Tertinggi (Ketua ”Umum) dari Induk Koperasi Pegawai Negeri sampai akhir hayatnya. Karena jasa-jasanya dalam mengembangkan Perkoperasian Pegawai Negeri itu, pada tahun 1979 beliau dikukuhkan sebagai Bapak Koperasi Pegawai Negeri oleh Bapak Presiden Suharto.
Berbagai penghargaan baik dari pemerintah maupun dari masyarakat umum telah diberikan bahwa beliau sebagai penghargaan atas perjuangannya, penghargaan tersebut berupa :
1. Bintang mahaputra Adhi Pradana Kelas I
2. Bintang Gerilya
3. Satya Lencana Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia
4. Satya Lencana Karya Satya Kelas I
5. Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kelas I
6. Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kelas II
7. Satya Lencana Pembangunan.
R.P. Soeroso melalui berbagai kegiatannya telah berjuang untuk kepentingan bangsa dan tanah airnya. Tidak dapat disangkal lagi beliau adalah seorang tokoh Nasional yang perjuangannya telah menjadi bagian dari kelangsungan hidup bangsanya. Kini beliau telah terbaring tenang di pemakaman keluarga di Mojokerto dengan meninggalkan 4 orang putera dan puteri.
Atas jasa-jasa dan perjuangannya Pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada R.P. Soeroso dengan SK Presiden RI No. : 022/TK/tahun 1986 tanggal 23 Oktober 1986