Kiai Haji Noer Alie

KH Noer Alie bwPada tahun 1937 KH. Noer Alie bersama Hasan basri membentuk organisasi Persatuan Pelajar Betawi dimana beliau menjadi ketuanya. Tahun 1940 mendirikan pesantren dan madrasah di Ujung Malang Bekasi dimana pesantren beliau tidak luput dari penguasaan tentara Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, KH. Noer Alie terpilih menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Kecamatan Babelan Bekasi.
Tahun 1945, beliau membentuk Laskar Rakyat bekerja sama dengan TKR Bekasi dan Jatinegara untuk memobilisasi pemuda dan santri ikut latihan kemiliteran di Teluk Pucung.
Setelah Agresi Militer I Belanda, KH. Noer Alie kembali ke Bekasi mendirikan organisasi gerilya baru dengan nama Markas Pusat Hizbullah Sabilillah di Tanjung Karekok Cikampek.
Setelah Perjanjian Renville pada tahun 1948 pasukan Noer Alie hijrah ke Banten, ketika beristirahat di daerah Cipayung beliau sempat ditangkap oleh Belanda namun KH. Noer Alie bisa melompat dan berhasil meloloskan diri.
Pada tahun 1949, KH. Noer Alie ditunjuk sebagai Ketua Masyumi cabang Jatinegara yang kemudian diangkat sebagai Ketua Masyumi Bekasi dan Wakil Ketua Dewan Pemerintahan Daerah Bekasi.
Pada tahun 1955, Masyumi Bekasi memperoleh suara terbanyak dimana beliau ditunjuk oleh Masyumi Pusat sebagai salah seorang anggota Dewan Konstituante pada bulan Desember 1956.
Setelah terjadi pemberontakan G30S/PKI tahun 1965 bersama rekan-rekan perjuangan di organisasi Islam KH. Noer Alie ikut menumpas gerakan tersebut khususnya didaerah Bekasi dan Jakarta sekitarnya.
Atas jasa-jasa beliau, pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden RI Nomor : 085/TK/Tahun 2006 tanggal 3 November 2006.

Pangeran Mangkubumi / Sultan Hamengku Buwono I

Sultan Hamengkubuwono

Sebagai seorang muslim yang taat, Pangeran Mangkubumi tidak menyukai perilaku Kompeni berada dilingkungan keraton. Beliau begitu menjunjung tinggi nilai-nilai agamis dan tradisional secara kental sehingga tidak menyenangi perilaku kompeni bahkan menentangnya.
Salah satu kegemaran yang dikembangkan Pangeran Mangkubumi adalah olah keprajuritan dan keterampilan berkuda sehingga mendapat kepercayaan sebagai Pangeran Lurah dari Susuhunan Paku Buwono II.
Pada bulan Mei 1746 ketika Gubernur Jenderal Gustav Baron Van Imhoff berkunjung untuk melakukan peninjauan ke Keraton Surakarta yang baru selesai dibangun, Pangeran Mangkubumi keluar meninggalkan keraton dengan maksud untuk mengadakan perlawanan terhadap kompeni yang mulai menguasai sebagian wilayah keraton.
Salah satu langkah yang dilakukan beliau adalah mengadakan pemupukan dengan mengorganisir pasukan militer yang tangguh yang mampu melakukan perlawanan dalam menghadapi kompeni. Rangkaian pertempuran besar yang dilakukan Pangeran Mangkubumi terhadap kompeni yang berlangsung dalam 2 (dua) periode yaitu : Periode tahun 1746 – 1749 dan Periode tahun 1750 – 1755.
Pada tanggal 11 Desember 1749 bertempat di Desa Kabanaran Pangeran Mangkubumi diangkat oleh para kerabat, rakyat dan pendukungnya sebagai Susuhunan Ing Mataram atau Sunan Kabanaran. Penobatan ini sebagai strategi untuk mengacaukan kompeni khususnya Perjanjian Ponorogo.
Setelah melakukan perlawanan heroik selama 9 tahun (1746 – 1755) yang berakhir dengan ditandatanagani Perjanjian Giyanti (1755) maka Kasunanan Surakarta terbagi menjadi 2 yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dan setelah berdirinya Kesultanan Yogyakarta maka Pangeran Mangkubumi bergelar Sultan Hamengku Buwono I.
Hasil perjuangan Pangeran Mangkubumi sejak tahun 1746 hingga dirumuskan dan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tahun 1755 merupakan bukti semangat nasionalisme dan patriotisme beliau dalam membela kepentingan rakyat dalam menegakkan kewibawaan dan kedaulatan Mataram. Dengan perjuangan yang beliau berikan merupakan bukti cikal bakal tumbuhnya gerakan nasional kebangsaan.
Atas jasa-jasa beliau, pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahalawan Nasional dengan Keputusan Presiden RI Nomor : 085/TK/Tahun 2006 tanggal 3 November 2006.

Bagindo Azizchan

Bagindo Azizchan bwSejak di AMS Bagindo Azizchan sudah tertarik dengan pertemuan diskusi yang membahas nasionalisme, modernisasi dan Islam Indonesia, bahkan beliau juga sering menjadi pembicara mengenai hal tersebut .
Ketertarikan Bagindo Azizchan dengan pemikiran H. Agus Salim diterapkan dalam kehidupannya, Azizchan cenderung berpikir secara intelektual Islam, Kebiasaan–kebiasaan yang Islami juga menjadi bagian dari dirinya. Hal itu jugalah yang membentuk pengertian perjuangan dan ideologi politik dalam diri Azizchan .
Tahun 1934 Azizchan kembali ke Padang, namun saat itu belum dapat melakukan kegiatan politik karena dibelenggu oleh pemerintah Hindia Belanda, satu-satunya peluang yang ia lakukan adalah mengajar di Moderne Islamische Kweek School .
Pada 1935 ia mengajar di Islamic College, kemudian bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Pendidikan Pergerakan Umum bagi rakyat dari tingkat tinggi sampai rendah dengan nama Volks Universalitir. Dan atas anjuran Azizchan pula dibentuk Persatuan Pelajar Islam se-Kota Padang dan perkumpulan olah raga Pemuda bernama “Perjaka”
Selain mengajar Bagindo Azizchan juga melantik kader-kader perjuangan, disamping itu beliau juga melakukan ceramah-ceramah dan tabliq. Pada tahun 1940 dalam suatu tabliq agama Bagindo Azizchan dinyatakan melanggar spreek delict sehingga dihadapkan ke landraak (pengadilan) dan dijatuhi hukuman 50 hari.
Di bulan November 1945 Bagindo Azizchan terpilih sebagai salah seorang utusan PRI (Pemuda Republik Indonesia) untuk menghadiri Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta. Setelah kembali ke Padang Azizchan membentuk organisasi Pemuda Muslim Indonesia .
Tanggal 15 Agustus 1946 Azizchan diangkat sebagai Walikota Padang dan sehari kemudian melakukan kunjungan dinasnya yang pertama sebagai Walikota ke markas besar sekutu untuk melakukan pembicaraan masalah keamanan terutama di kota Padang yang kondisinya semakin gawat .
Tanggal 17 Agustus 1946 Azizchan merayakan HUT Kemerdekaan RI. Yang secara tertutup dan memutuskan membuat tugu peringatan di halaman kantor KNI Sumatera Barat hanya dalam waktu semalam .
Pada 23 Agustus 1946 sekutu melakukan operasi militer sengit untuk menghancurkan Perlawanan tentara RI. di Gunung Pengilir. Sedangkan pada tanggal 27 dan 28 Agustus 1946 bertepatam malam Idul Fitri, pasukan tentara Indonesia membalas pertempuran dengan sengit di seluruh kota yang mengakibatkan marahnya sekutu dan melakukan penggeledahan ditiap-tiap rumah.
Para lelaki di tangkap, sehingga membuat Bagindo Azizchan tersinggung dan segera mendatangi kembali markas besar sekutu untuk memprotes secara tegas dan menuntut agar Belanda segera memebaskan mereka .
24 September 1946 NICA memasuki rumah-rumah penduduk di Parak Kerambil, Ujung Pandang Olo dan sebagian Kampung Jawa. Pemilik rumah diusir dan rumah-rumah tersebut dikuasai Belanda. Azizchan segera menyampaikan telegram protes sebagai berikut:

 

a. Protes terhadap pengusiran penduduk di Parak Kerambil dan perbuatan tersebut diluar prikemanusiaan.
b. Negara Indonesia mempunyai peraturan-peraturan yang sehat dan diharapkan NICA menunjukan prikemanusiaan yang lebih tinggi.
c. Bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan mengancurkan pihak-pihak yang berlaku tidak adil.

 

Pada saat hubungan dengan Belanda semakin memburuk, Belanda merencanakan penangkapan sejumlah tokoh-tokoh pimpinan RI. di Kota Padang sehingga banyak tokoh yang menyingkir, namun Walikota Padang tersebut bertahan dengan semboyan Azizchan : “Entah kalau …mayat sudah membujur barulah Padang akan saya tinggalkan ” .
Juli 1947 Azizchan melaporkan perkembangan terakhir Kota Padang kepada Dewan Eksekutif Sumatera Barat dan juga melakukan pembicaraan-pembicaraan dengan tokoh-tokoh pemimpin perjuangan lainnya dan 2 hari kemudian pulang kembali ke Padang ; namun ditengah perjalanan seorang menginformasikan bahwa polisi menangkap tokoh-tokoh Republik yang masih berada di kota Padang dan disarankan agar Azizchan jangan memasuki kota tersebut, namun karena sesuatu hal beliau tidak dapat memenuhi seruan tersebut dan tetap kembali ke kota Padang .
19 Juli 1947 saat Azizchan hendak meninggalkan Kota Padang namum ditengah perjalanan, tepatnya di jembatan Ular Karang mobil Azizchan ditahan oleh pengawal Belanda dan terjadi pembicaraan yang tak lama kemudian seorang Komandan Belanda yaitu Letkol Van Erp meminta Azizchan kembali ke kota untuk menentramkan kekacauan dengan menumpangi kendaraan jeep milik Van Erp. Namun semua itu hanyalah siasat Belanda karena tidak lama kemudian terdengar berita bahwa Azizchan terbunuh .
Azizchan dimakamkam di TMP Kusuma Bhakti, Bukit Tinggi (Sumatera Barat) dan atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI. No. 082/TK/Tahun 2005 tanggal 7 November 2005 .

Andi Abdullah Bau Massepe

Andi Abdullah Bau Massepe bwTahun 1940 Bau Massepe diangkat sebagai Datuk Suppa menggantikan Andi Makkasau, Walaupun hidup dalam lingkungan bangsawan namun tidak mempengaruhi tingkah lakunya yang memperlihatkan sikap kerakyatan dan demokratis yang mengakibatkan beliua mampu berbaur dengan rakyat biasa.
Dalam rangka mendukung Proklamasi Kemerdekaan RI. Di Sulawesi Selatan didirikan organisasi yang bergerak dibidang politik yaitu Sumber Daya Rakyat (SUDARA) yang anggotanya antara lain Andi Mappayuki, Dr. Sam Ratulangi dan Abdullah Bau Massepe. September 1945 Bau Massepe dan kawan-kawan merubah nama organisasi tersebut menjadi Badan Penunjang Republik Indonesia, dengan Ketua Umum Andi Abdullah Bau Massepe. Kemudian di Pare-Pare dibentuk pula KNI dan Bau Massepe dipercaya sebagai pimpinannya, KNI kemudian dirubah menjadi Pusat Keselamatan Rakyat Sementara (PKRS).
Pada tanggal 12 September 1945 ditengah berkecamuknya pembantaian para tokoh pergerakan, namun Andi Abdullah Bau Massepe dengan keberanian dan jiwa patriotisme memasang papan nama BPRI dan mengibarkan bendera merah putih di lapangan Labukuang Pare-Pare.
Dalam memimpin perjuangan, Andi Abdullah Bau Massepe menempuh jalur politik dan militer. Dalam bidang politik melalui Keselamatan Rakyat Sulawesi yang bertugas memelihara keamanan rakyat, melakukan pertemuan dengan kelompok perlawanan. Pada November 1945 beliau membuat surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang isinya menolak kembalinya Belanda berkuasa di Indonesia dan menyokong sepenuhnya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu ia juga melakukan konsolidasi dengan pejabat kerajaan dan tokoh masyarakat, megkoordinasikan kegiataan perjuangan, mengirim delegasi untuk menghadap pemerintah pusat dan menemui Presiden Soekarno serta berhasil memperoleh senjata dari pemerintah pusat.
Dalam bidang militer Bau Massepe mempersiapkan pemuda Pandu Nasional Indonesia (PNI) sebagai kekuatan pergerakan bersenjata menghadapi kekuatan NICA Belanda. Memobilisasi warga masyarakat untuk konsolidasi dan melakukan penyerangan terorganisir terhadap pasukan Belanda yakni :

 

a. Rencana penyerangan pada tanggal 3 Februari 1946 pada pos NICA namun gagal.
b. Pertemuan pasukan Bau Massepe dengan pasukan Belanda di Garessi Suppa yang mengakibatkan pasukan Belanda dapat dipukul mundur dan menimbulkan banyak korban dipihak Belanda termasuk Lanoy, Komandan Batalyon-nya yang tewas di tempat pertempuran .
c. Menghadang konvoi Belanda dan terjadi pertempuran di La Majakka yang mengakibatkan kerugian besar di pihak Belanda .
d. Pertempuran La Sekko yang merupakan pertempuran terdahsyat karena pasukan Belanda berinisiatif untuk melakukan penyerangan kepada penduduk pasukan Bau Massepe di Berpuru dan mengakibatkan gugurnya beberapa pejuang .
e. Pertempuran Teppoe Kanango yang membawa keberhasilan karena berhasil memukul mundur pasukan Belanda serta merebut beberapa senjata .

Pada 17 Oktober 1946 Bau Massepe ditangkap dan dibawa ke Makassar dalam sidang yang mengadilinya di Makassar. Secara heroik beliau mengucapkan kata-kata “Aku rela mati demi kehormatan dan kemerdekaan bangsaku”.
15 Januari 1947 Andi Abdullah Bau Massepe dipindahkan ke Pinrang untuk pemeriksaan lebih lanjut dan pada tanggal 2 Februari 1947 Andi Abdullah Bau Massepe ditembak mati oleh Belanda dan hingga kini makamnya belum diketahui. Atas jasa-jasanya pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 082/TK/Tahun 2005 tanggal 7 November 2005 .

Kiras Bangun (Garamata)

Kiras Bangun bwMenjelang akhir abad ke-19 sebagian besar wilayah Sumatera Timur, terutama Langkat dan Deli, sudah dibuka Pemerintah Belanda menjadi perkebunan-perkebunan besar tembakau, teh, dan karet. Areal yang dijadikan perkebunan itu pada umumnya adalah milik kaum adat atau perseorangan. Dalam banyak kasus, penguasaan atas tanah-tanah itu dilakukan dengan cara paksaan sehingga menimbulkan perlawanan rakyat, antara lain perang Sunggal. Karena tanah di Sumatera Timur semakin berkurang untuk dijadikan perkebunan, Belanda berusaha menguasai Tanah Karo. Selain untuk membuka perkebunan baru, usaha untuk menguasai Tanah Karo dimaksudkan pula untuk mencegah sabotase yang sering dilakukan orang-orang Karo terhadap perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur. Bersama dengan penduduk yang tinggal di sekitar perkebunan, mereka merusak tanaman atau bangsal-bangsal tempat menyimpan hasil perkebunan.
Dalam usaha menduduki Tanah Karo, Belanda mendapat tantangan dari seorang tokoh kharismatik Karo, yakni Kiras Bangun yang juga populer dengan sebutan Garamata. Ia lahir pada tahun 1852 di Batykarang, kabupaten Karo. Kiras Bangun tidak pernah mendapat pendidikan formal, dalam arti pendidikan di bangku sekolah, sebab pada abad ke-19 organisasi persekolahan belum dikenal masyarakat Karo. Namun, bila sekali-kali berkunjung ke Binjei, ia belajar bahasa Melayu dari seorang sahabatnya. Bahkan kemudian, ia mampu menulis dan membaca huruf latin.
Dalam tata Pemerintahan tradisional masyarakat Karo, status Kiras bangun hanyalah sebagai kepala kampung, dalam hal ini kepala Kampung Batukarang. Di tanah Karo terdapat ratusan kampung dan karena itu terdapat pula ratusan ratusan kepala kampung. Kedudukan mereka sederajat, yang satu tidak membawahi yang lain. Akan tetapi, Kiras Bangun berhasil menempatkan dirinya sebagai primus inter pares berkat peranannya sebagai “juru damai” dalam menyelesaikan berbagai sengketa antarkampung atau antarmarga. Dalam menyelesaikan sengketa itu ia selalu berpegang pada prinsip membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Adakalanya, terhadap pihak yang ingin menang sendiri, ia menggertak akan menggunakan pasukannya. Sebagai kepala kampung, seperti juga kepala-kepala kampung yang lain, ia mempunyai pasukan untuk menjaga kampungnya. Sengketa yang pernah didamaikannya tidak hanya antarkampung atau antarmarga di Tanah Karo, tetapi juga antara orang Karo dan orang Aceh. Salah satu diantaranya ialah sengketa antara Penghulu Mardinding dan Panglima Hasan dari Aceh. Untuk mempererat persatuan di kalangan masyarakat Karo, ia sering mengadakan runggu (musyawarah) baik runggu antarkampung maupun runggu antarmarga. Bahkan, ia juga memperistri beberapa perempuan dari marga dan kampung yang berbeda.
Antipati Kiras Bangun terhadap Belanda sudah diperlihatkannya dalam perang Sunggal (1872 – 1895). Beberapa kali dalam periode ini ia mengirimkan pasukannya ke Langkat untuk membantu penduduk setempat melawan Belanda. Keterlibatan Kiras Bangun dalam perang ini dan pengaruhnya yang cukup besar di kalangan masyarakat Karo cukup diketahui oleh pihak Belanda. Oleh karena itu, sebelum memasuki Tanah Karo, Belanda berusaha “menjinakkan” Kiras bangun terlebih dahulu. Pada tahun 1901 mereka mengirim seorang utusan menemui Kiras Bangun. Ia ditawari jabatan, uang, dan senjata asal mau bekerja sama dengan Belanda. Tawaran itu ditolaknya. Penolakan itu disampaikannya kepada tokoh-tokoh lain yang juga sependapat dengannya.
Penolakan Kiras Bangun tidak menyurutkan niat Belanda. Pada tahun 1902, pendeta Guillame disertai dua orang Karo yang sudah dipengaruhi Belanda, dikirim ke Kabanjahe untuk mengembangkan agama Kristen. Kiras Bangun menafsirkan kedatangan pendeta ini sebagai taktik dan langkah awal Belanda untuk menguasai Tanah Karo. Ia pun bereaksi. Pendeta guillaume dan dua orang Karo pelindungnya itu diusirnya dari Kabanjahe.
Untuk Kedua kalinya, pada tahun 1903 Belanda mengirim kembali Guillaume ke Kabanjahe dengan kawalan sepasukan tentera. Untuk menghadapi perkembangan baru itu dan untuk menggalang kekuatan, Kiras Bangun mengadakan musyawarah dengan kepala-kepala kampung lainnya. Tiga kali musyawarah diadakan di tempat yang berbeda. Musyawarah terakhir dan terbesar diadakan di Tiga Jeraya. Dalam musyawarah ini Kiras bangun ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi perlawanan. Persiapan-persiapan pun diadakan. Tiap-tiap urung diperintahkan mempersiapkan senjata dan benteng-benteng pertahanan dibangun di beberapa tempat. Ultimatum pun dikirimkan kepada Guillaume agar dalam waktu lima belas hari ia sudah harus meninggalkan Kabanjahe. Selain menggalang kekuatan di kalangan rakyat Karo sendiri, Kiras Bangun juga mengadakan pendekatan dengan pejuang-pejuang Aceh di Tanah Alas, Gayo Lues, Singkil, dan Aceh Selatan. Tokoh-tokoh yang dihubungi itu bersedia bekerja sama untuk menghadapi Belanda, bahkan, beberapa diantaranya sudah hadir dalam musyawarah di Tiga Jeraya.
Operasi militer Belanda ke Tanah karo dimulai pada tanggal 6 September 1904 dipimpin oleh Letnan Kolonel Eleckman. Pasukan yang berkekuatan 200 prajurit ini bergerak dari Bandar Baru, Sumatera Timur. Untuk menghadapi pasukan ini, Kiras Bangun menempatkan pasukan Karo di perbukitan antara Berastagi dan Sepuluh dua Kuta. Bleckman yang mengetahui konsentrasi pasukan Karo ini menempuh jalan lain, sehingga pasukan Karo berada di belakang pasukan Belanda. Pada tanggal 8 September mereka bergerak menuju Kabanjahe. Setelah mengatasi perlawanan pasukan Karo, mereka berhasil mencapai Lingga dan selanjutnya berusaha merebut Lingga Julu. Pertahanan pasukan Karo di Lingga Julu lebih kuat daripada pertahanan di Lingga. Akan tetapi, setelah terlibat dalam pertempuran sengit, mereka kehabisan peluru.
Setelah Lingga Julu menduduki Belanda, Kiras Bangun memerintahkan pasukannya mundur ke Batukarang untuk memperkuat pertahanan di kampung kelahirannya ini. Batukarang dilindungi oleh dua benteng, yakni benteng Mbesuka di sebelah utara dan benteng Tembusuh di sebelah Timur. Kiras Bangun berkedudukan di benteng Tembusuh dan dari sini ia mengendalikan pertempuran. Serangan Belanda ke benteng Tembusuh dapat digagalkan oleh pasukan Karo. Oleh karena itu, Belanda mengalihkan serangan ke benteng Mbesuka yang pertahanannya tidak sekuat benteng Tembusuh. Dengan direbutnya benteng Mbesuka, jalan ke Batukarang pun terbuka. Akibatnya, benteng Tembusuh terjepit dari depan dan belakang. Kiras Bangun menarik pasukannya ke Kampung Nageri yang dengan Batukarang dipisahkan oleh sebuah sungai. Dari sini ia mengadakan konsolidasi pasukan dan menyusun rencana untuk melancarkan serangan balas ke Batukarang. Akan tetapi, rencana itu tidak dapat dilakukan, sebab dengan cepat pasukan Belanda bergerak ke Nageri dan menduduki kampung ini.
Dengan jatuhnya Batukarang ke tangan Belanda dan gagalnya rencana serangan balas dari Nageri, Kiras Bangun melanjutkan perjuangan dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sambil melakukan serangan gerilya. Semakin lama ia dan pasukannya semakin terdesak ke arah barat Tanah Karo. Daerah Dairi Pakpak dijadikannya sebagai basis perlawanan. Daerah ini berbatasan dengan Aceh Tenggara, Aceh Selatan, dan Tanah Karo. Medannya bergunung-gunung dengan lembah yang dalam dan tebing-tebing yang terjal, sehingga cukup ideal untuk membangun pertahanan. Akan tetapi, daerah ini kurang subur dan penduduknya jarang, dan karena itu, kurang menguntungkan dari segi logistik
Selama sepuluh bulan sejak Batukarang diduduki Belanda, Kiras Bangun masih berusaha melanjutkan perlawanan, walaupun hanya secara kecil – kecilan. pasukan diperintahkannya untuk tetap mengganggu patroli – patroli militer Belanda. Mereka juga sering melakukan sabotase terhadap usaha Belanda membangun jalan raya dari Kabanjahe ke Takengon. Ia pun masih berusaha meminta bantuan dari daerah-daerah lain di luar Tanah Karo, terutama ke Gayo dan Alas. Usaha itu tidak berhasil sebab kedua daerah itu sudah diduduki Belanda. Kiras Bangun pun menghadapi kenyataan bahwa semakin lama kekuatannya semakin lemah. Banyak kepala kampung dan kepala Urung, akibat tekanan Belanda, menghentikan perlawanan.
Sementara itu, Belanda mengumumkan opportuniteit beginsel (pengampunan umum) terhadap para pejuang Karo yang selama ini melakukan perlawanan. Pengumuman itu tambah mempersulit posisi Kiras Bangun, sebab semakin banyak pejuang yang menyerahkan diri dan kembali ke kampung masing-masing. Belanda pun mengirim utusan menemui Kiras Bangun untuk mengajaknya dan seluruh pasukannya kembali ke Batukarang dengan janji ia akan dibiarkan hidup sebagai rakyat biasa. Kiras Bangun menghadapi situasi dilematis. Kembali ke Batukarang berarti menyerah kepada musuh. Sebaliknya, meneruskan perlawanan secara terbuka sudah sangat tipis kemungkinan akan berhasil. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke Batukarang dengan perhitungan akan dapat membangun kekuatan kembali secara diam-diam. Ia yakin masih banyak orang yang dapat diajaknya bekerjasama.
Akan tetapi, perhitungan Kiras Bangun. Belanda pun tidak menepati janjinya. Pengampunan umum diberlakukan Belanda hanya untuk pasukan Kiras Bangun, bukan untuk Kiras Bangun pribadi. Hanya beberapa hari ia dibiarkan hidup bebas di Batukarang. Sesudah itu, Belanda mengasingkan di sebuah perladangan di Riung, kira-kira 6 kilometer di luar Batukarang. Di tempat ini Belanda membangun sebuah rumah, sebuah rumah untuk Kiras Bangun dan keluarganya dan sebuah untuk pasukan Belanda yang bertugas mengawasi gerak-geriknya. Empat tahun lamanya ia diasingkan di Riung. Barulah pada tahun 1909 ia dibebaskan dan diijinkan tinggal di Batukarang. Namun, Belanda tetap mengadakan pengawasan yang ketat. Sepasukan Marsose ditempatkan di sebuah rumah yang khusus dibangun dekat rumah Kiras Bangun.
Adanya pengawasan yang ketat itu tidak memungkinkan Kiras Bangun menyusun kekuatan kembali untuk melakukan perjuangan fisik. Namun, ia menemukan bentuk perjuangan yang lain, yakni perjuangan di bidang sosial. Sejak awal abad ke-20 Pemerintah Belanda mulai membuka sekolah di Tanah Karo. Sekolah pertama di buka di Kabanjahe pada tahun 1915. Pada tahun-tahun berikutnya dibuka pula sekolah di tempat-tempat lain. Kiras Bangun pun mendorong anggota masyarakat, khususnya anak-anak muda, agar memasuki sekolah itu dan menimba ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Ia yakin, ilmu itu kelak dapat dijadikan senjata untuk melawan penjajahan. Ia sendiri mengirimkan anaknya ke Binjei untuk bersekolah. Selain itu, ia sering mendatangi kampung sekitar Batukarang mendorong orang tua-tua agar menyekolahkan anak-anak mereka, kalau perlu dengan paksaan.
Di samping melakukan kegiatan sosial itu, ia tetap berpartisipasi dalam setiap gerakan yang bertujuan menentang Pemerintah Belanda, walaupun hal itu dilakukannya secara diam-diam. Pada tahun 1926, misalnya, ia mengerahkan penduduk Batukarang membantu perlawanan yang dilakukan penduduk Kabanjahe menentang kewajiban membayar pajak yang dipaksakan oleh Pemerintah Belanda. Dua orang anaknya, Koda Bangun dan Nembah Bangun, yang ikut dalam perlawanan itu ditangkap Belanda. Koda Bangun dipenjarakan di Kabanjahe.
Kiras bangun meninggal dunia pada tanggal 27 November 1942 dalam usia 90 tahun, kurang tiga tahun sebelum kemerdekaan yang turut diperjuangkannya tercapai. Pada tahun 2005 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Kiras Bangun gelar Pahlawan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI No.082/TK/Tahun 2005 tanggal 7 Oktober 2005).

Ismail Marzuki

Ismail Marzuki bwTiga bulan setelah Ismail Marzuki dilahirkan, ibunya meninggal dunia. Sebelumnya Ismail Marzuki juga telah kehilangan 2 orang kakaknya bernama Yusuf dan Yakup yang telah mendahului saat dilahirkan. Kemudian beliau tinggal bersama ayah dan seorang kakaknya yang masih hidup bernama Hamidah.
Ayah Ismail Marzuki adalah salah seorang yang gemar memainkan alat musik kecapi dan sangat handal dalam melagukan syair-syair yang bernafaskan Islam. Kehidupannya sehari-hari juga tidak pernah terlepas dari tasbih. Ia kemudian menyekolahkan Ismail Marzuki di Madrasah Unwanul Fallah di Kwitang, Jakarta pada petang hari. Melalui pendidikan agama, Ismail Marzuki tidak saja dapat membaca Al-Qur’an tapi juga memiliki budi pekerti yang baik pula.
Pada masa-masa kanak-kanak Ismail Marzuki sudah tertarik dengan lagu-lagu, dan ketika sekolah di Mulo. Ismail Marzuki pun bergabung dengan sebuah kelompok musik di sekolahnya tersebut untuk menyalurkan hobinya. Ismail Marzuki kemudian berhasil mengarang lagu “O Sarinah” pada tahun 1931 untuk pertama kalinya ketika usianya 17 tahun.
Setelah menyelesaikan pendidikan Mulo, Ismail Marzuki yang akrab dipanggil dengan sebutan “Bang Maing” ini, kemudian bekerja sebagai penjual piringan hitam. Sejak itu ia banyak berkenalan dengan artis pentas, bintang film, musisi dan penyanyi.
Pada tahun 1936 Ismail Marzuki memasuki perkumpulan orkes musik Lief Java sebagai pemain gitar, saxophone dan harmonium pompa. Orkes musik Lief Java ini pun kemudian mendapat kesempatan mengisi siaran musik pada stasiun radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maaeshappij) yang dibentuk Belanda. Pada saat itulah Ismail Marzuki mulai menjauhkan diri dari lagu-lagu barat untuk kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri.
Lagu-lagu yang diciptakan Ismail marzuki itu sangat diwarnai oleh semangat kecintaannya terhadap tanah air. Hal ini tidak lain karena pengaruh pendidikan yang diterimanya di HIS dan Mulo serta pendidikan agamanya di Madrasah Unwanul Fallah di Kwitang, selain itu juga karena keikutsertaannya KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) dan ajaran ayahnya yang selalu menanamkan perasaaan senasib dan sepenanggungan yang diderita oleh bangsanya.
Pada tahun 1940 Ismail Marzuki pun menikah dengan Eulis Zuraidah, seorang primadona dari klub musik yang ada di Bandung dimana Ismail Marzuki juga tergabung didalamnya. Pasangan ini kemudian mengadopsi seorang anak bernama Rachmi, yang sebenarnya masih keponakan Eulis.
Pada masa penjajahan Jepang, Ismail Marzuki turut aktif dalam orkes radio pada Hozo Kanri Keyku Radio Militer Jepang. Dan ketika masa kependudukan Jepang berakhir, Ismail Marzuki tetap meneruskan siaran musiknya di RRI. Selanjutnya ketika RRI kembali dikuasia Belanda pada tahun 1947, Ismail Maerzuki yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda dan memutuskan untuk keluar dari RRI. Ismail Marzuki baru kembali bekerja di radio setelah RRI berhasil diambil alih. Ia kemudian mendapat kehormatan menjadi pemimpin Orkes Studio Jakarta. Pada saat itu ia menciptakan lagu Pemilihan Umum dan diperdengarkan pertama kali dalam Pemilu 1955.
Mengingat karya-karya Ismail Marzuki yang berjumlah lebih dari 200 buah itu sarat dengan nilai-nilai perjuangan yang mampu menggugah rasa kecintaan terhadap tanah air dan bangsa, maka pada tahun 1961 Ismail Marzuki menerima anugerah Piagam Wijayakusumah dari Presiden Soekarno atas nama Pemerintah RI. Lagu-lagunya antara lain : Rayuan Pulau Kelapa yang diciptakan pada tahun 1944, Halo-Halo Bandung yang diciptakan ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api pada tahun 1946, Selendang Sutera yang diciptakan pada tahun 1946 saat periode revolusi kemerdekaan untuk membangkitkan semangat juang pada waktu itu dan Sepasang Mata Bola yang diciptakan pada tahun 1946 yang menggambarkan sebuah harapan dari rakyat untuk kemerdekaan.
Ismail Marzuki meninggal dunia pada tanggal 25 Mie 1958 di pangkuan istri yang sangat dicintainya, karena sakit TBC yang deritanya dan Almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet, Jakarta Pusat. Satu bulan sebelum kepergiannya itu, Ismail Marzuki masih sempat menciptakan sebuah lagu yang berjudul Kasih Putih Di Tengah Jalan.
Dari uraian diatas kita dapat melihat bahwa meskipun memiliki fisik yang tidak begitu sehat, Ismail Marzuki masih memiliki semangat untuk terus bejuang di bidang seni. Banyak karya yang telah dihasilkannya sangat disukai oleh semua kalangan dan dapat menimbulkan semangat untuk terus berjuang membela negeri ini. Karyanya itu bahkan sampai sekarang masih sering kita dengar dan kita nyanyikan. Atas jasa-jasanya Ismail Marzuki yang besar terhadap bangsa dan negara khususnya dibidang seni maka pemerintah memberinya gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI. No. 089/TK/ 2004 tanggal 5 November 2004

Gatot Mangkoepradja

Gatot Mangkoepradja bwGatot Mangkoepradja mulai terlibat dalam pergerakan nasional diawali ketika ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI). Kegiatan ini menyebabkan ia mengorbankan kariernya di Jawatan Kereta Api .
Walaupun tidak memegang jabatan penting, namun karena kemampuan berdiplomasi dan komunikasi yang diakui rekan-rekannya bersama-sama dengan Moh. Hatta, Nazir Pamoentjak, dan Ahmad Soebardjo serta Semaun, mereka dikirim ke Brussel, Belgia untuk mengikuti Kongres Liga Penentang Imperialisme dan Penindasan Kolonialisme yang diselenggarakan pada tanggal 10 sampai dengan 15 Februari 1927 .
Pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung berdiri Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Ir. Soekarno, Gatot segera menggabungkan diri, motivasinya karena ideologi PNI diilhami PI .
Dengan pemimpin nasionalis lainnya yang tergabung dalam PNI, Gatot Mangkoepradja menyebarluaskan ide-ide nasionalisme. Bersama-sama dengan Ir. Soekarno ia sering melakukan perjalanan ke daerah-daerah untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme. Kunjungan ke daerah-daerah tersebut bertujuan menyebarkan ide nasionalisme dan kemerdekaan nasional di kalangan rakyat sehingga menimbulkan kekhawatiran Pemerintah Hindia Belanda. Gatot Mangkoepradja dan pemimpin lainnya dituduh akan melakukan pemberontakan yang disinyalir akan dilakukan sekitar tahun 1930.
Tuduhan tersebut diungkap Pemerintah Hindia Belanda bulan September 1929 setelah Gubernur Jenderal de Gareff mendapat tekanan dari kelompok reaksioner . Namun tuduhan tersebut tidak membuat Gatot Mangkoepradja menghentikan perjuangan dalam menyebarkan cita-cita kemerdekaan. Pada tanggal 29 Oktober 1929 PNI menyelenggarakan rapat di Bandung. Dalam rapat tersebut Gatot Mangkoepradja berhasil meyakinkan para peserta bahwa non kooperatif merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan nasional yang dijadikan landasan perjuangan partai .
Pada 24 Desember 1929 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Gatot Mangkoepradja dan para pemimpin lainnya. Penangkapan terhadap Gatot Mangkoepradja baru dapat dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta bersama-sama dengan Ir. Soekarno, mereka kemudian dibawa ke Bandung dan dimasukan ke penjara Banceuy, Bandung Jawa Barat hingga bulan Agustus 1930 .
Pada tanggal 18 Agustus 1930, Gatot Mangkoepradja, Ir. Soekarno, Maskoen Soemadiredja dan Supriadinata dihadapkan ke Laandraad Bandung. Pada tanggal 22 Desember 1930 Laandraad menjatuhkan vonis selama 2 tahun kurungan penjara dengan tuduhan ia berencana melakukan perubahan sistem pemerintahan yang berlaku di Hindia Belanda dengan menganjurkan persatuan untuk merdeka.
Pada tanggal 17 April 1931 vonis Laandraad diperkuat dengan keputusan Raad Van Justitie dan untuk menjalankan hukumannya Gatot Mangkoepradja dipindahkan ke penjara Sukamiskin, Bandung. Jiwa nasionalisme terus tertanam dalam diri Gatot Mangkoepradja. Sekeluarnya dari penjara Sukamiskin, Gatot Mangkoepradja bergabung dengan Partai Indonesia (PI kemudian menjadi Partindo) yang dipandang memiliki ideologi yang sama dengan PNI .
Pada tahun 1932, Gatot Mangkoepradja diangkat menjadi komisaris sekaligus sebagai propagandais partai dengan mensosialisasikan cita-cita kemerdekaan. Karena kekecewaan terhadap Ir. Soekarno yang bersikap kooperatif dengan pemerintah Hindia Belanda, Gatot Mangkoepradja mengundurkan diri dari Partindo kemudian bergabung dengan PNI-Baru dibawah kepemimpinan Moh. Hatta. Di PNI-Baru Gatot pergi ke Jepang sejak bulan Oktober – Desember 1933 untuk mengadakan hubungan dengan orang-orang Jepang dan sempat menghadiri Konferensi Pan-Asia di Tokyo .
Propaganda Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia berhasil mempengaruhi Gatot Mangkoepradja dan Muhammad Hatta. Pada masa pendudukan militer Jepang, Jepang membentuk organisasi gerakan Tiga A yaitu Nippon Pelindung Asia, Nippon Cahaya Asia dan Nippon Pemimpin Asia. Untuk tingkat nasional, gerakannya dipimpin oleh Mr. Samsudin dan Gatot Mangkoepradja .
Gatot Mangkoepradja menolak rencana penguasa militer Jepang yang akan memberlakukan wajib militer, sehingga dirinya ditangkap Kempitei Sukabumi dan ditahan beberapa hari. Ketika Gatot Mangkoepradja dengan Yanagawa menghadap Mayor Jenderal Sato Kotuko di Kantor Beppan di Gambir 64 Jakarta, Gatot Mangkoepradja mengatakan bahwa ia lebih setuju kalau Jepang membentuk sebuah pasukan sukarela dan bukan wajib militer sesuai yang diinginkan Gatot yaitu sebuah pasukan yang siap membela dan mempertahankan tanah airnya dari ancaman musuh-musuhnya .
Pada 7 September 1943 atas suruhan Jenderal Soto, Gatot Mangkoepradja menulis surat yang ditunjukan kepada Saiko Shikikan yang berisikan permohonan pembentukan pasukan sukarela. Beliau menulis dengan darahnya sendiri dan tindakan tersebut merupakan sebuah pengorbanan demi perjuangan memperbaiki nasib bangsa .
Surat Gatot Mangkoepradja mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, antara lain Soekarno, Moh. Hatta, K.H. Mas Mansur dan Ki. Hadjar Dewantara yang menghadap ke Saiko Shikikan untuk mendukung permohonan Gatot Mangkoepradja tersebut.
Pada tanggal 3 Oktober 1943 dibentuklah secara resmi pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) melalui Osamu Seirei No. 44 Tahun 1943. Gatot Mangkoepradja mencurahkan perhatiannya untuk memajukan PETA di berbagai tempat di Jawa Tengah .
Setelah Jepang hengkang dari Indonesia, Gatot Mangkoepradja menjadi tawanan perang Inggris dan bebas pada tahun 1947 kemudian bergabung dengan para pejuang di Yogyakarta .
Setelah Agresi Militer II, Gatot Mangkoepradja melakukan gerilya melawan Belanda di Yogyakarta Selatan dan mengkoordinasi laskar-laskar perjuangan di Pulau Jawa – Madura. Tahun 1948 PNI dibentuk kembali, Gatot Mangkoepradja kembali bergabung dengan partai tersebut dan duduk sebagai pimpinan partai.
Pada tahun 1950-an, Gatot Mangkoepradja membentuk Gerakan Pembela Pancasila (GPPS) dengan tujuan mendongkrak suara PNI dalam pemilu tahun 1955. Karena terjadi pertentangan dengan pemimpin PNI Jawa Barat, Gatot Mangkoepradja keluar dari partai politik tersebut. Ketika konfigurasi politik nasional mulai dipengaruhi komunis, Gatot Mangkoepradja menarik diri dari dunia politik.
Setelah peristiwa Gestapu tahun 1965 Gatot Mangkoepradja masuk parta IPKI yaitu partai yang berjuang menyelamatkan Pancasila dari ancaman komunis. Tanggal 4 Oktober 1968 Gatot meninggal dunia karena setelah sakit paru-parunya kambuh dan almarhum dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Sirnaraga, Bandung .
Gatot Mangkoepradja adalah pemimpin pergerakan nasional. Ia memiliki jasa yang besar dalam perjuangan memperbaiki bangsa. Almarhum berhasil meyakinkan masyarakat internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia sehingga mendapat dukungan penuh dari Liga Penentang Imperialisme dan Penindasan kolonialisme. Gatot juga yang menggelorakan ide nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia di kalangan rakyat dengan cara mengunjungi berbagai daerah. Perannya dalam pembentukan PETA dan mempertahankan Pancasila sangat besar .
Atas jasa dan pengorbanannya kepada bangsa dan negara, pemerintah menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden RI. No. 089/TK/Th. 2004 tanggal 5 November 2004.

KH. Ahmad Rifa’i

KH Ahmad Rifa'i bwPada usia 7 tahun Ahmad Rifa’i sudah tidak mempunyai orang tua sehingga beliau diasuh oleh kakak kandungnya Nyai Rajiyah isteri dari Kyai Asy’ari seorang ulama pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Kaliwungu. Disinilah Ahmad Rifa’i belajar ilmu agama kepada kakak iparnya Kyai Asy’ari .
Masa mudanya Ahmad Rifa’i sering melakukan kegiatan tabilgh keliling di daerah Kendal dan sekitarnya. Dalam dakwahnya beliau menyampaikan masalah-masalah agama, sosial masyarakat, pemahaman terhadap kemerdekaan dan anti kolonial. Oleh karena itu beliau diperingatkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan sempat dimasukkan penjara di Kendal dan Semarang .
Setelah keluar dari penjara, pada tahun 1225 H Ahmad Rifa’i menunaikan ibadah haji sekaligus bermukim di sana selama 8 tahun untuk mendalami ilmu agama dan dilanjutkan di Mesir selama 12 tahun .
Tahun 1252 H disaat berusia 51 tahun Ahmad Rifa’i kembali ke Indonesia. Ahmad Rifa’i membantu kakak iparnya menjadi ustadz di pondok pesantren Kaliwungu. Sebagai ustadz yang baru datang dari tanah suci K.H Ahmad Rifa’i mendapat perhatian dan simpati dari para santrinya .
Karena kritikannya yang tajam terhadap para penghulu di Kaliwungu dan sekitarnya membuat K.H Ahmad Rifa’i dilaporkan kepada Pemerintah Hindia Belanda dengan tuduhan membuat kerusuhan yang bertujuan pemerintah tersebut menangkapnya. Pemerintah Belanda menangkap Ahmad Rifa’i untuk diminta keterangan sehubungan dengan kegiatan dakwahnya .
Tahun 1238 M setelah dibebaskan K.H. Ahmad Rifa’i dikucilkan dan keluar dari Kaliwungu serta ditempatkan di Kalisalak, Batang – Jawa Tengah. Di tempat tersebut K.H. Ahmad Rifa’i menyelenggarakan pengajian untuk anak-anak dengan metode mengajar yang sangat menarik yaitu dengan menggunakan bahasa Jawa dalam bentuk puisi sehingga santrinya bertambah dan berkembang menjadi Majelis Ta’lim bagi anak-anak dan orang dewasa di sekitar Batang, kemudian K.H Ahmad Rifa’i mendirikan pondok pesantren dan Masjid di Kalisalak .
Pondok pesantren yang terletak di tempat terpencil dan jauh dari jangkauan pengawasan pemerintah Hindia Belanda membuat K.H Ahmad Rifa’i dapat berkonsentrasi dalam mengkader santri-santrinya .
K.H. Ahmad Rifa’i mendidik kader-kader militan untuk menjaga dan meneruskan ajarannya. Disamping melaksanakan pengajaran, beliau juga menulis beberapa kitab dengan tulisan pegon (tulisan Arab dengan bahasa Jawa), kitab Tarajumah (terjemahan) yang berjumlah 60 buah judul berbentuk puisi tembang Jawa, prosa berbahasa Jawa dan Melayu yang isinya mencakup ilmu ushuluddin, ilmu fiqih, ilmu tasawuf, beberapa kritik terhadap pemerintah kolonial Belanda, kritik terhadap pamong praja tradisional yang membantu Belanda serta menulis 500 judul buku Tanbih serta beberapa Nadham do’a .
K.H. Ahmad Rifa’i melakukan gerakan protes terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda dan birokrat tradisional melalui penggalangan pengikutnya, gerakan protes dimulai sejak beliau tinggal di Kendal .
Protes K.H. Ahmad Rifa’i dituangkan dalam bentu syair-syair dalam kitab karangannya dan mengadakan doktrin anti kolonialisme. Syair-syair karangan K.H. Ahmad Rifa’i dapat menanamkan rasa kebencian terhadap pemerintah Hindia Belanda dan mendorong serta membangkitkan semangat dan sikap anti kolonial untuk menentang penguasa Belanda .
Tahun 1272 H/ 1856 M kitab-kitab karya K.H. Ahmad Rifa’i disita pemerintah Hindia Belanda . Di desa Kalisalak beliau kembali dipanggil oleh Pemerintah Hindia Belanda dan disidangkan dengan tuduhan menghasut, meresahkan, menanamkan doktrinasi kolonialisme, mengkader jemaahnya dan mengarang syair-syair protes terhadap Belanda .
Pada tanggal 6 Mei 1859 secara resmi K.H. Ahmad Rifa’i dipanggil Residen Pekalongan Fransiscus Netscher untuk pemeriksaan serta pengasingan ke Ambon. Tanggal 19 Mei 1859 K.H. Ahmad Rifa’i meninggalkan jemaahnya beserta keluarganya menuju tempat pengasingan di Ambon Propinsi Maluku .
Setelah 2 tahun di Pengasingan K.H. Ahmad Rifa’i mengirim empat buah judul kitab karangannya berbahasa Melayu, 60 buah judul Tanbih berbahasa Melayu serta surat wasiat kepada anak menantunya Kyai Maufura Bin Nawawi di Batang yang isinya agar murid dan keluarganya jangan sekali-kali taat kepada Pemerintah Hindia Belanda dan orang yang bekerja sama dengan Belanda.
Dalam usia 84 tahun tanggal 25 Rabiul Awal 1286 H/ 1870 M, K.H. Ahmad Rifa’i wafat dan dimakamkan di makam Pahlawan Kyai Modjo di bukit Tondano Kampung Jawa, Tondano, Kabupaten Minahasa, Manado, Propinsi Sulawesi Utara.  Jasa dan pengorbanan K.H. Ahmad Rifa’i adalah sebagai pelopor gerakan sosial keagamaan Jama’ah Rifa’iyah Tarjumah di Pekalongan, perjuangan menentang penjajah Belanda, mendirikan Lembaga Pendidikan, Tabligh Agama Keliling di Jawa Tengah (Kendal, Semarang dan Wonosobo), doktrin anti kolonialisme, protes melalui syair-syair dalam kitab karangannya, karena kegiatannya menentang kolonial Belanda ditangkap di Batang, diasingkan ke Ambon kemudian Menado hingga akhir hayatnya.
Atas jasa dan pengorbanan K.H. Ahmad Rifa’i kepada bangsa dan negara, dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 089/TK/Tahun 2004 tanggal 5 November 2004 .

Raja Ali Haji

Raja Ali Haji bwKeluarga dari ayah Raja Ali Haji merupakan orang-orang yang gemar menulis, beberapa diantaranya menjadi pengarang dan pernah menghasilkan beberapa karya. Raja Ali Haji sendiri sejak kecil merupakan anak yang cerdas dan disenangi banyak orang sehingga sering diajak ayahnya untuk menemani bertugas. Pada tahun 1822 Raja Ali ikut ayahnya ke Batavia dalam suatu urusan kerajaan Riau-Lingga dengan pemerintah Hindia-Belanda. disinilah ia sempat bertemu dengan Jenderal Godart Alexander Gerard Philip Baron Van Der Capllen dan berkenalan dengan kehidupan orang-orang Belanda serta menyaksikan berbagai pertunjukan kesenian. Lalu pada tahun 1826 ia juga ikut menemani ayahnya berniaga ke pesisir utara Pulau Jawa.
Sekitar tahun 1840 Raja Ali Haji mulai aktif sebagai pengarang dan sebagai cendikiawan terkemuka pada zamannya. Beliau banyak melahirkan karya yang beragam dibidangnya seperti bahasa, agama, hukum pemerintahan dan syair-syair naratif, yang merupakan bidang tempatnya menaruh perhatian yang besar terhadap bahasa yang baik .
Buku-buku yang dikarangnya dalam bidang bahasa meliputi sebuah kamus monolingual ensiklopedia berjudul kitab pengetahuan bahasa dan tata ejaan untuk menuliskan huruf Arab-Melayu yang diberinya judul “Bustanul Katihin” yang berarti “Taman Para Penulis.”
Karya leksikografi Raja Ali Haji yang berjudul “Kitab Pengetahuan Bahasa” merupakan kamus ensiklopedis monolingual Melayu pertama yang disusun tahun 1858. dimana karyanya ini kemudian mempunyai pengaruh yang kuat pada penulis-penulis Riau setelah era beliau .
Raja Ali Haji merupakan pelopor perkamusan monolingual Melayu karena karyanya Kitab Pengetahuan Bahasa dinilai merupakan suatu karya yang luar biasa dan untuk mengoptimalkan kreatifitas intelektual dan kultural para budayawan dan cendikiawan di kerajaan Riau-Lingga mendirikan suatu perkumpulan yang dilengkapi dengan percetakaan dan penerbitan.
Hampir semua karyanya mengungkapkan kecintaan sang pengarang kepada kehidupan, tanah air dan bangsa serta semangat menentang penjajah. Hal itu dapat ditemukan dalam karya-karyanya dari tokoh sentral pada buku Tuhfal al-Nafis yaitu gambaran patriotisme Raja Haji Fisabilillah yang telah berperang melawan Belanda yang berakhir dengan tewasnya tokoh sentral tersebut dalam suatu pertempuran.
Raja Ali Haji termasuk seorang budayawan yang pemikirannya mampu mempengaruhi lingkungan sekitar, bahkan pemikirannya masih dapat dirasakan meskipun telah tiada dan tak heran bila kemudian banyak anak dan cucunya yang juga jadi pengarang.
Raja Ali Haji patut disebut sebagai Bapak Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia yang memiliki peranan yang besar dalam meletakkan dasar-dasar terbentuknya Bahasa Indonesia yang kini merupakan bahasa persatuan.
Nama Raja Ali Haji kemudian menjadi terkenal sebagai pengarang Melayu berkat publikasi yang dilakukan sarjana-sarjana Belanda terhadap karya beliau yang dimuat pada beberapa jurnal berbahasa Belanda sehingga dapat menembus pemikiran ilmiah barat. Beberapa karya yang diterbitkan tersebut antara lain Syair Abdulmuluk ; merupakan syair tanpa judul yang mengisahkan suatu peristiwa dalam hidupnya ; dan karyanya yang sangat terkenal yaitu Gurindam Dua Belas.
Raja Ali Haji juga pernah menjabat sebagai penasihat kerajaan dan pada tahun 1858 diangkat menjadi pengawas urusan hukum yang semasa ditugaskan menyusun dua kitab yang berkaitan dengan pemerintahan dan peradilan yaitu Thammarat al-Muhimah dan Intizam wa Za ‘if al-Malik.
Raja Ali Haji selain merupakan tokoh penting dalam pemerintahan serta sangat berpengaruh dalam perpolitikan di Riau, ia juga terkenal antara lain sebagai :
– Penulis serta ahli sejarah dan silsilah ;
– Ahli ketatanegaraan dan politik ;
– Guru, ahli, serta penasihat agama Islam ;
– Ahli bahasa, tatabahasa dan sastra.
Dari uraian dapat terlihat bahwa kepahlawanan seseorang tidak hanya dinilai dengan berjuang di medan perang tetapi juga dapat terpancar dari sikap nasionalisme melalui karya sastra dan keilmuan seperti terlihat dari perjuangan Raja Ali Haji. Melalui buku-bukunya, ia memilih melakukan perlawanan intelektual dan budaya dalam menghadapi budaya barat yang dibawa oleh kolonial Eropa yang bertujuan mengubur kebudayaan Melayu dan Nusantara. Atas jasa-jasanya tersebut. Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 089 TK Tahun 2004 tanggal 5 November tahun 2004 .

Andi Mappanyuki

Andi Mappanyukki bwDalam usia 16 tahun Andi Mappanyuki diangkat menjadi Datu Suppa. Tahun 1905 saat pecah perang Gowa dengan Belanda. ayahnya yang bernama I Makkulau adalah Raja Gowa yang mengangkat Andi Mappanyuki menjadi Letnan Tentara Kerajaan Gowa untuk memimpin pasukan Gowa dalam peperangan yang tidak seimbang di medan perang yang dikuasainya. Namun untuk mensiasati kelemahan tersebut Andi Mappanyuki melakukan taktik gerilya .
Dalam satu pertempuran, pasukan Gubernur Jenderal Belanda Kroesen menggempur pasukan pimpinan Andi Mappanyuki yang mengakibatkan 23 orang pasukannya gugur. Pada 25 Desember 1905 pasukan Andi Mappanyuki melakukan serangan balik dan berhasil menangkap pimpinan pasukan Belanda Vande Kroll yang kemudian ditembak mati. Pasukan Belanda mengejar Raja Gowa I Makkulau, saat dalam keadaan terdesak Baginda terjatuh ke jurang dan menemui ajalnya, kemudian Almarhum diberi gelar Anumerta “Tumenanga ri Bundukna” (gugur dalam peperangan) . Kematian ayahnya membuat Andi Mappanyuki masuk hutan untuk melakukan perlawanan. Belanda melakukan segala upaya untuk menangkap Andi Mappanyuki walau usaha itu sering kali gagal .
Pemerintah Hindia Belanda mengirim utusan La Parenrengi Karaeng Tinggimae yang ditugaskan membujuk Andi Mappanyuki agar bersedia melakukan perundingan dan mengakhiri perang serta menawarkan jika berhasil, maka Gowa akan dijadikan sekutu terhormat. Tawaran tersebut tidak merubah pendiriannya yang kemudian suatu saat Andi Mappanyuki ditawan dan dimasukan dalam penjara bersama beberapa orang pasukannya .
Pemerintah Hindia Belanda tidak berhasil meredam perlawanan yang dilakukan rakyat Gowa, bahkan pengikutnya banyak yang masuk ke hutan membangun perlawanan. Kecintaan rakyat terhadap Andi Mappanyuki membuat pemerintah Belanda gagal memikat hati rakyat. Pada tahun 1909 Gubernur Jenderal Sulawesi AJ. Baron De Quarles membebaskan Andi Mappanyuki dan pada tahun 1910 beliau dibujuk menerima tawaran untuk jabatan Regent Gowa Barat dengan gaji 400 Gulden. Namun tawaran tersebut ditolak karena dianggap penghinaan bagi diri dan rakyatnya .
Pada 2 April 1931 melalui Sidang Ade Pitue dilakukan musyawarah dan mufakat dan memilih Andi Mappanyuki untuk dinobatkan sebagai Raja Bone ke XXXII dengan gelar Sultan Ibrahim. Ketika dilantik beliau bernama La Mappanyuki ( Bugis ) atau I Mappanyuki ( Makasar ) dan diberi gelar Datue Ri Silaja, karena pernah dibuang Belanda ke Pulau Selayar pada tahun 1907 saat berperang bersama ayah, paman dan saudaranya melawan Belanda (1905-1907). Ketika menolak bekerja sama dengan Belanda, beliau dicopot sebagai Raja Bone, kemudian diasingkan selama 3,5 tahun di Rantepao, Tana Toraja Sulawesi Selatan
Di Sulawesi Selatan saat arus nasionalisme merebak, dimana-mana muncul perlawanan untuk membebaskan diri dari kekuasaan Belanda dengan berakhir pada 1942 harus menyerahkan kekuasannya ke penjajahan Jepang . Pada awalnya propaganda Jepang berhasil menarik simpatik penduduk untuk mendukung kehadiran meeka. Tahun 1943 terjadi peristiwa Unra di Desa Unra Kecamatan Awangpone Distrik Jeling. Peristiwa ini dikenal dengan pemberontakan rakyat Unra karena akumulasi ketidakpuasan rakyat atas kewajiban mengumpulkan padi secara paksa dan cara ‘menyepak’ tumpukan padi. Rakyat kemudian melakukan perlawanan dibawah pimpinan Haji Temmale .
Sewaktu Jepang ingin mengambil tindakan yang lebih keras untuk mengatasi amukan rakyat Unra, Raja Bone turun tangan. Wibawa dan kharisma Andi Mappanyuki meredakan amukan itu. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 mendapat dukungan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Raja-raja pada wilayah itu seperti di Jongaya menyatakan mendukung proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 .
Pada tanggal 1 Desember 1945 diadakan pertemuan di Watampone yang dihadiri oleh raja-raja Sulawesi Selatan diantaranya Andi Mappanyuki, Raja Gowa Andi Manggin Manggi, Andi Djemma, Andi Mangkona, Andi Wana, dan lain-lain sedangkan pihak sekutu diwakili Mayor J. Herman, Mayor Dr. Liom Cachief dan Kapten LA. Emmanuel. Andi Mappayuki beserta seluruh raja yang hadir berikrar berada di belakang Republik Indonesia hasil proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 .
Sekutu dengan NICA mengeluarkan pengumuman untuk mengintimidasi rakyat Bone, namun pengumuman itu tidak menjadikan rakyat Bone takut. Keinginan Belanda untuk mewujudkan keinginannya dilakukan dengan berbagai cara tipu daya dimainkan. NICA mendekati kelompok bangsawan tinggi Kerajaan Bone yaitu Andi Pabenteng dengan dijadikan sebagai Komisaris Polisi Tingkat I. Keadaan ini membuat kekuatan Bone terpecah.
Upaya mengajak Andi Mappanyuki bergabung bersama Belanda gagal, Pemerintah Hindia Belanda memutuskan menangkap Andi Mappanyuki. Sikap tegas pendirian yang kokoh Andi Mappanyuki ternyata berpengaruh terhadap masyarakat. Pada November 1946, Andi Mappanyuki ditangkap oleh Polisi Militer Belanda di rumah beliau di Jongaya.
Upaya pihak sekutu lewat pertemuan mengalami kegagalan. Pihak bangsawan yang dimotori Andi Mappanyuki memegang prinsip berada di belakang Republik. Peran besar yang dimainkan kelompok bangsawan di Sulawesi Selatan antara tahun 1945-1949, menempatkan mereka pada posisi penting yang pada akhirnya diperhatikan oleh pemerintah pusat di Jakarta .
Pada perang kemerdekaan 1945-1950, Andi Mappanyuki memberikan pengorbanan jiwa raga dan harta benda dengan memimpin organisasi perjuangan kemerdekaan nasional sumber daya rakyat untuk menentang Belanda yang kembali menjajah. Jikalau otak perjuangan di Sulawesi Selatan berada ditangan Dr. Ratulangi, maka jiwa dan nafasnya perjuangan rakyat di Sulawesi Selatan ada pada Andi Mappanyuki .
Haji Andi Mappanyuki adalah seorang pejuang anti penjajahan yang konsekuen, beliau wafat pada tanggal 18 April 1967 di Jongaya, tempat kelahiran beliau. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) di Panaikang Ujung Pandang dengan upacara kenegaraan. Beliau mendapat gelar lengkap Haji Andi Mappanyuki Sultan Matinrowe ri Jongaya.
Perjuangan Haji Andi Mappanyuki menentang penjajah patut menjadi suri teladan bagi generasi muda Indonesia yang mencintai kemerdekaan tanah airnya . Berkat perjuangan dan jasa-jasanya kepada bangsa dan negara. Pada tanggal 10 November 2004 Pemerintah RI. menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional sebagai penghormatan tertinggi dari negara dan bangsa Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI No: 089/TK/TH 2004 tanggal 5 November 2004.