Si Singamangaradja XII

 

Si Singamangaraja XII

Sesudah Perang Padri di Sumatera Barat berakhir tahun 1837, kekuasaan Belanda mulai merayap ke bagian utara. Sekitar pertengahan abad ke-19 ke­kuasaan Belanda mulai tertanam di bagian selatan Tanah Batak. Sejalan dengan terjadinya Perang Aceh yang meletus tahun 1873 bagian utara Tanah Batak pun sedikit demi sedikit mulai pula diduduki Belanda. Pada tahun 1883 Belanda menempatkan seorang kontrolir di Balige, Sesudah itu menyusul di Tarutung, Sipoholan dan tempat-tempat lain. Di daerah Sumatera Timur, Be­landa membuka perkebunan.
Keadaan itu merupakan ancaman terhadap kedaulatan dan kekuasaan raja Tanah Batak yang berpusat di Bakkara, Tapanuli Utara. Yang menjadi raja pada waktu itu ialah Si Singamangaraja XII, beliau dilahirkan pada tahun 1849.
Seperti raja-raja sebelumnya, Si Singamangaraja XII adalah juga kepala adat dan sekaligus menjadi pemimpin agama yang disebut ”Parmalim”, beliau dianggap memiliki kekebalan dan kesaktian dan sangat dihormati oleh rakyatnya.
Semakin lama kekuasaan Belanda semakin menyusup ke bagian pedalaman Tanah Batak. Karena itu Si Singamangaraja XII mengadakan persiapan untuk mencegah tumbuhnya kekuasaan bangsa asing di wilayah kekuasaannya. Persiapan yang diadakannya antara lain ialah menjalin kerjasama dengan beberapa orang panglima perang dari Aceh dan dari Sumatera Barat. Mereka sepakat untuk bekerjasama melawan Belanda. Tercatat nama-nama panglima Aceh seperti Teuku Muhamad dan Teuku Sagala, sedangkan dari Sumatera Barat datang pasukan yang dipimpin oleh Panglima Nali.
Awal Februari 1878 Belanda mengirim pasukan ke pedalaman Silindung untuk memperkuat pasukan yang sudah dikirim sebulan sebelumnya. Pasukan ini membangun posnya di Pea Raja dan di Sipoholon. Dari tempat akhir ini mereka bergerak dan berhasil menduduki Bahal Batu. Ketika Si Singamangaraja XII menerima laporan bahwa Belanda menduduki Bahal Batu, kemarahan raja Tanah Batak ini sudah sampai di puncak, beliau segera berangkat ke Balige untuk menyusun kekuatan. Tanggal 17 Februari 1878 Si Singama­ngaraja XII memaklumkan perang terhadap Belanda dan dua hari kemudian beliau menggerakkan pasukannya menyerang Bahal Batu. Pertempuran berlangsung sengit, tetapi karena persenjataan yang tidak seimbang, Si Singamangaraja XII terpaksa rnenarik mundur pasukannya.

Sesudah mengalami kegagalan di Banal Batu, Si Singamangaraja XII mengobarkan perlawanan di tempat-tempat lain seperti di Butar, Lobu Siregar, Balige dan Lagu Boti. Pada tanggal 1 April beliau memimpin serangan kembali ke Bahal Batu, tetapi sekali lagi beliau mengalami kegagalan. Sebaliknya Belanda bersiap-siap untuk menyerang Bakkara, dalam bulan April itu juga serangan dilancarkan. Pasukan Si Singamangaraja XII bertahan di tembok-tembok benteng yang sulit ditembus oleh pasukan Belanda. Pertempuran berlangsung sengit, beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka, tetapi Belanda berhasil mendatangkan bantuan yang besar. Akhirnya Bakkara tak dapat dipertahankan oleh Si Singamangaraja XII, pusat pemerintahan raja Tanah Batak itu dibakar oleh Belanda.
Sesudah Bakkara jatuh, Si Singamangaraja XII memindahkan markasnya ke Peranginan, beliau memerintahkan pasukannya menyerang pos-pos pasu­kan Belanda dan mencegat patroli-patroli yang bergerak dalam kesatuan-kesatuan kecil. Menghadapi serangan yang demikian Belanda cukup kewalahan, banyak korban jatuh di pihak mereka.
Si Singamangaraja XII mengirim utusan ke berbagai tempat untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada rakyat agar mereka mengangkat senjata melawan Belanda, beliau-pun mengeluarkan pengumuman, bahwa kepada siapa saja yang berhasil menyerahkan kepala kontrolir Belanda akan diberi hadiah uang 300 mat (ringgit).
Pada tanggal 18 Mei 1883 pasukan Si Singamangaraja XII menyerang Uluan yang sudah diduduki Belanda. Serangan itu gagal, sebab Belanda segera mendapat bantuan dari Sipoholon.
Si Singamangaraja XII mengubah siasat, beliau bergerak dari barat menuju Humbang dan Balige. Menurut rencana, pada waktu yang bersamaan akan tiba pula pasukan Aceh di bawah pimpinan Teuku Muhamad yang bergerak dari arah timur. Kedua pasukan itu akan bertemu dan bergabung di Porsea untuk kemudian menyerang Laguboti, penduduk setempat pun sudah bersiap-siap untuk memberikan bantuan, tetapi rencana itu dapat diketahui Belanda ka­rena pengkhianatan seorang kepala kampung. Letnan Spandouw dengan cepat menggerakkan pasukannya menyerang pertahanan Si Singamangaraja XII
di Lumban Gorat. Dalam keadaan yang demikian, pasukan Teuku Muhamad belum muncul, Si Singamangaraja XII terpaksa menghadapi serangan Belanda yang datang secara tiba-tiba itu, dalam pertempuran ini beliau mengalami cidera. Bahunya kena tembak pada waktu beliau sedang berada di atas punggung kuda mengobarkan semangat anak buahnya, pasukan terpaksa mengundurkan diri untuk menyelamatkan raja mereka.
Rencana Si Singamangaraja XII untuk merebut Laguboti merupakan sesuatu yang di luar dugaan Belanda, mereka mengira bahwa kekuatan Si Singa­mangaraja XII sudah lemah, apalagi Belanda sudah berhasil memperkuat pasukannya di Sipoholon dengan pasukan cadangan.
Beberapa bulan lamanya tidak terjadi pertempuran, tetapi tiba-tiba dalam tahun 1884 pasukan Si Singamangaraja XII dengan kekuatan yang besar berhasil menghajar pasukan Belanda di Tanggabatu, tempat itu dapat me­reka kuasai.
Belanda meningkatkan kesiap-siagaannya, bala bantuan didatangkan dari daerah-daerah lain terhadap penduduk mereka bertindak kejam. Orang-orang yang dicurigai membantu Si Singamangaraja XII ditangkap dan dibunuh, Laguboti dan Tarutung dijadikan basis pasukan Belanda untuk mengepung dan mempersempit ruang gerak Si Singamangaraja XII. Dalam suatu serangan, markas besar Si Singamangaraja XII di Bakkara dihancurkan Belan­da, tetapi hal itu tidak mempengaruhi raja Batak ini, dengan cara gerilya beliau menggerakkan pasukannya untuk menyerang pos-pos kedudukan Belanda.

Si Singamangaraja XII memindahkan markas besarnya ke Lintong, beliau sendiri berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengobarkan semangat tempur pasukannya, namun gerak-geriknya selalu diawasi Belanda, mereka memaksa rakyat untuk menunjukkan tempat persembunyian Si Singamangaraja XII, tetapi tidak membawa hasil. Usaha Belanda untuk menangkap raja Batak itu menemui jalan buntu, akhirnya Belanda mengumumkan akan memberi hadiah uang sebesar 2.000 gulden kepada siapa saja yang berhasil menangkap Si Singamangaraja XII hidup atau mati, ternyata rakyat tidak mau mengkhianati rajanya.
Dari Lintong Si Singamangaraja XII memindahkan markasnya ke Pearaja, pasukan yang sudah tersebar di berbagai tempat dikumpulkannya kembali, sementara itu Belanda mulai pula meningkatkan kegiatannya. Di tempat-tempat yang sudah diduduki, Belanda menjalankan pemerintahan sipil, ta­hun 1890 di Tarutung ditempatkan seorang asisten residen. Di Toba dan Silindung dibentuk sebuah onder afdeling (distrik kecil), dengan jalan itu Belanda berusaha semakin mempersempit ruang gerak Si Singamangaraja XII, Raja Batak ini tidak tinggal diam. Pada tahun 1894 beliau dan pasukannya berhasil menyeberang ke Pulau Samosir. Serangan terhadap kedudukan Belanda pun dilancarkan, antara lain di Si Torang. Dalam pertempuran ini, Somalang, pembantu terdekat Si Singamangaraja XII, tertawan. Beliau dibuang ke Banyuwangi. Somalang adalah salah seorang pimpinan tokoh agama Parmalim, sehingga kehilangannya dari tengah-tengah rakyat merupakan kehilangan yang besar.
Belanda selalu mengikuti gerak-gerik Si Singamangaraja XII dan berusaha menekan raja Batak ini, tekanan itu terasa semakin berat setelah Perang Aceh dianggap selesai dengan menyerahnya Sultan Aceh pada tahun 1903. Sebagian besar pasukan Belanda ditarik ke Tapanuli untuk mengakhiri perlawanan Si Singamangaraja XII.
Letnan Kolonel van Daalen yang terkenal kejam dalam Perang Aceh diperintahkan memberikan pukulan terakhir kepada Si Singamangaraja XII, beliau tiba di tanah Batak pada tanggal 10 Juli 1904 setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, melewati tanah Gayo dan menerobos ke Alas, terus masuk daerah Pakpak.
Kepungan terhadap kedudukan Si Singamangaraja XII semakin diperketat, namun selama tiga tahun berikutnya beliau masih mampu bertahan meskipun hanya bergerak di daerah yang cukup terbatas yakni Sidikalang, Perbuluan, Pearaja dan Dairi. Pada bulan Oktober 1904 pasukan van Daalen diperkuat dengan pasukan Collijn yang didatangkan dari Medan. Dalam salah satu pertempuran, pasukan Collijn berhasil menangkap Pangkilan, salah seorang putera Si Singamangaraja XII.
Walaupun pasukan Belanda sudah diperkuat, namun mereka belum juga berhasil mematahkan perlawanan Si Singamangaraja XII. Raja Batak ini masih dapat bergerak dan mengancam kedudukan pasukan Belanda di tempat-tempat yang agak terpencil. Karena itu Belanda menambah lagi pasukannya dengan mendatangkan pasukan marsose yang terkenal kejam dalam Perang Aceh. Tindakan lainnya ialah menutup pelabuhan Barus untuk mencegah datangnya bala bantuan dari Aceh. Jalan darat Gayo-Alas-Tanah Batak ditutup pula, dengan demikian Belanda menutup kemungkinan datangnya bantuan untuk Si Singamangaraja XII dari Aceh. Selain itu Belanda juga membakari kampung-kampung dan memaksa penduduk yang dicurigai membayar denda yang tinggi.
Kedudukan Si Singamangaraja XII semakin sulit, beliau hanya dapat berge­rak di daerah yang sempit dan medan yang sulit. Kekuatan pasukan semakin lama semakin berkurang, beliau tidak dapat dengan segera mengganti anak buahnya yang gugur atau luka-luka, sedangkan Belanda berhasil mendatangkan pasukan yang masih segar. Namun dalam keadaan yang demikian sulitnya, beliau tetap tidak bersedia menyerah.

Untuk lebih memperkuat pasukannya, belanda mendatangkan Kapten Christoffel, seorang perwira yang sudah berpengalaman dalam Perang Aceh. Christoffel membawa pasukan marsose yang cukup tangguh dan sudah terlatih dalam perang rimba.
Belanda mulai melancarkan operasi besar-besaran, mereka terus berusaha mencari tempat kediaman Si Singamangaraja XII. Raja Batak ini terpaksa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam daerah segitiga Pak-pak-Dairi-Sidikalang, daerah itu sesungguhnya sudah terkurung rapat, Si Singamangaraja XII bergerak dari kampung ke kampung diikuti oleh keluarganya, sehingga tidak sulit lagi bagi Belanda untuk mengikuti jejaknya.
Pada suatu hari Christoffel mendapat petunjuk bahwa Si Singamangara­ja XII dan keluarganya bergerak ke kampung Sionom. Pengejaran segera dilakukan, namun Si Singamangaraja XII berhasil menghilangkan jejak dengan cara menyeberangi sungai Aek Simongo. Christoffel kehilangan jejak, beliau memaksa penduduk untuk menunjukkan tempat lari Si Singamangaraja XII, namun tidak berhasil.
Sementara itu Si Singamangaraja XII masih berusaha mengadakan perlawanan, pasukan Sunggu Asi diperintahkannya menyerang pasukan Belanda di Lae Renungan, namun suatu kekeliruan telah diperbuat oleh pasukan ini. Seorang anak buah Sunggu Asi menyalakan api di malam hari, sehingga terlihat oleh Belanda, pasukan Sunggu Asi dikepung dan diberondong dengan senapan, Sunggu Asi bersama seluruh anak buahnya tewas dalam serangan ini.
Setelah menyeberangi sungai Aek Simongo. Si Singamangaraja XII pindah ke Pencinoran. Tetapi tempat itu sudah diketahui oleh Christoffel. Pada tanggal 12 Juni 1907 anak buah Christoffel berhasil menyergap ibu. isteri pertama dan seorang anak Si Singamangaraja XII.
Si Singamangaraja XII berhasil meloloskan diri, beliau meneruskan perjalanan ke hutan di daerah Simsim. Christoffel memaksa penduduk agar menun­jukkan tempat persembunyian Si Singamangaraja XII. Karena diancam akan ditembak, penduduk tersebut terpaksa menunjukkannya, tempat tinggal Si Singamangaraja XII diserbu. Pertempuran terjadi antara dua kekuatan yang tidak seimbang. Pasukan Si Singamangaraja XII yang hanya tinggal beberapa orang terpaksa menghadapi pasukan Belanda yang berjumlah banyak dengan persenjataan yang lengkap, namun pertempuran terjadi dengan sengit, pa­sukan Si Singamangaraja XII bertahan sekuat tenaga.
Pada waktu pertempuran sedang berlangsung, Lopian, seorang puteri Si Singamangaraja XII terkena tembakan dan gugur seketika. Mayat yang berlumuran darah itu diambil oleh Si Singamangaraja XII untuk dipindahkan ke tempat lain. Darah yang mengucur dari badan Lopian mengenai tubuh Si Singamangaraja XII. Menurut kepercayaan suku Batak, dengan terkena darah itu maka kekebalan dan kesaktian Si Singamangaraja XII menjadi hilang. Beliau memindahkan puterinya di bawah hujan peluru dengan didampingi oleh dua orang puteranya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi.
Pasukan Christoffel terus melakukan pengejaran, Si Singamangaraja XII tidak sempat beristirahat dan menyusun kekuatan untuk menghadapi musuh yang mengejarnya. Dalam perjalanan terakhir beliau hanya ditemani oleh beberapa orang pengikut dan putera-puteranya, senjata yang masih dimiliki hanya sebilah rencong.

Pukul 14.00 tanggal 17 Januari 1907 Si Singamangaraja XII tiba di sebuah tempat yang agak terlindung oleh pohon-pohon, beliau ingin melepaskan lelah setelah hampir satu hari dikejar musuh, tetapi tempat itu sudah dikepung secara ketat dari tiga jurusan. Sementara itu suara tembakan terdengar semakin dekat, dua orang putera Si Singamangaraja XII tewas akibat tem­bakan tersebut.
Anak buah Christoffel semakin mendekat dan mulai menyerbu ke tem­pat Si Singamangaraja XII bertahan, Si Singamangaraja XII bangkit dan menghunus rencongnya. Seorang serdadu Belanda memerintahkan agar rencong itu dilemparkan ke tanah. Christoffel melarang anak buahnya menembak Si Singamangaraja XII, ia ingin menangkap Si Singamangaraja XII hidup-hidup. Christoffel berteriak agar Si Singamangaraja XII menyerah, tetapi raja Tanah Batak ini tidak lagi memperdulikan teriakan-teriakan dan tembakan-tembakan yang diarahkan kepadanya. Secepat kilat beliau menusukkan rencongnya kepada seorang serdadu Belanda yang mencoba mendekatinya sambil berkata. ”Ahu Si Singamangaraja” (Aku Si Singamangaraja). Kata-kata itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan raja Tanah Batak ini, sebelum rencong itu menemui sasarannya, beberapa butir peluru telah mengenai badannya, Si Singamangara­ja XII gugur. Dengan gugurnya Si Singamangaraja XII berakhir pulalah perang yang sudah berlangsung selama hampir tiga puluh tahun di Tanah Batak. Perjuangan Si Singamangaraja XII mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya tercatat dalam sejarah Indonesia. Pemerintah RI menghargai jasa-jasa yang telah diberikannya untuk kemerdekaan tanah air. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. S90 Tahun 1961 tanggal 9 November 1961, Si Singamangaraja XII dinugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Danudirja Setiabudi

 

Danudirja Setiabudi

Seorang laki-laki Indo kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, pernah dijuluki sebagai “penjahat internasional” disebabkan oleh sikapnya yang secara terang-terangan menentang agresi bangsa-bangsa Barat terhadap bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Beliau pernah menyelundupkan senjata ke India untuk membantu pejuang-pejuang India melawan Inggris. Dalam Perang Dunia II beliau memihak Jepang.
Di Indonesia laki-laki itu dikenal sebagai seorang yang pertama kali mencanangkan semboyan “Indie los van Holland” (Indonesia lepas dari Negeri Belanda) beliau adalah Ernest Eugene Douwes Dekker, lahir tanggal 8 Oktober 1879. Namanya kemudian digantinya menjadi Danudirja Setiabudi. Ia masih mempunyai hubungan keluarga dengan Eduard Douwes Dekker (Multatuli) penulis buku “Max Havelaar” yang mengungkapkan kesengsaraan rakyat Banten akibat tanam paksa yang dijalankan oleh pemerintah Belanda. Sebagai seorang Indo Douwes Dekker memiliki darah campuran Belanda, Jerman, Perancis dan Jawa, beliau menolak menyebut dirinya orang lndo. Pada waktu kuliah di Universitas Zurich, Swiss, beliau mendaftarkan diri sebagai orang Jawa.
Douwes Dekker mendapat pendidikan di HBS (Hoogere Burger School = Sekolah Menengah Tingkat Atas Belanda), sesudah itu beliau bekerja sebagai pegawai perkebunan kopi di daerah Malang. Pekerjaan itu ditinggalkannya, sebab beliau tidak sampai hati melihat perlakuan kasar orang-orang Belanda terha­dap pekerja-pekerja pribumi. Kemudian beliau bekerja sebagai ahli kimia di pabrik gula Pajarakan di daerah Pasuruan. Di sini ia menyaksikan perbuatan sewenang-wenang pabrik gula yang mencuri air dari persawahan penduduk, karena itu ia minta berhenti.
Beberapa waktu lamanya ia menganggur di Surabaya, sampai akhirnya ia berangkat ke Transvaal, Afrika Selatan. Ia mendaftarkan diri sebagai prajurit dan berperang bersama orang-orang Boer menentang kekuasaan Inggeris. Ia tertangkap dan dipenjarakan, mula-mula di Pretoria, kemudian dipindah-kan ke Kolombo.
Setelah bebas Douwes Dekker kembali ke Indonesia dan mulailah beliau memikirkan cara-cara untuk menghindarkan kaum lemah dari penindasan golongan penguasa. Cara yang ditempuhnya ialah terjun ke dunia jurnalistik, dan menggunakan media ini untuk menyebarkan gagasan-gagasannya, mula-mula ia menjadi wartawan bebas, kemudian membantu harian “De Locomotief” di Semarang, sesudah itu beliau menjadi redaktur  “Soerabiaasch Handelsblad”, dan akhirnya sebagai wakil pemimpin redaksi “Bataviaasch Nieuwsblad”.

Sebagai pegawai di surat-surat kabar tersebut beliau merasa kurang bebas, karena itulah pada akhir tahun 1910 beliau menerbitkan majalah sendiri di Ban­dung, yakni “Het Tijdschrift”. Melalui majalah ini beliau menjelaskan cita-cita politiknya yang ternyata mendapat sambutan cukup luas, namun beliau tidak puas, sebab “Het Tijdschrift” hanya terbit sekali lima belas hari. Karena itu mulai tanggal 1 Maret 1912 beliau menerbitkan harian “De Express” yang terkenal bernada tajam dan tidak jemu-jemunya menyerang dan menelanjangi politik penjajahan Belanda, Harian itu menjadi sarana pula bagi pemuda-pemuda Indone­sia untuk mengemukakan buah pikiran mereka mengenai perjuangan membebaskan bangsa dari penjajahan. Douwes Dekker memang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi tulisan-tulisan yang bernada demikian.
Pada tahun 1912 itu pula Douwes Dekker memulai tahap berikut dalam perjuagannya. Beliau mengadakan kontak dengan dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Pada bulan September 1912 mereka mengadakan perjalanan keliling Jawa untuk mempropagandakan cita-cita mendirikan partai politik. Bertepatan dengan Hari Natal tanggal 25 Desember 1912 mereka mengumumkan berdirinya “Indische Partij” (IP). Sesuai dengan sikap para pendirinya, partai ini berhaluan radikal. Tujuannya ialah mempersatukan bangsa sebagai persiapan untuk mencapai kemerdekaan. Dalam program politiknya IP mencantumkan, “Indie voor Indiers” (Hindia untuk bangsa Hindia). Istilah “Indier” pada masa itu sama dengan Indonesia pada masa sekarang.
Melalui IP, Douwes Dekker menghendaki agar golongan Indo melebur diri ke dalam masyarakat bumiputera. Beliau juga merancang program politik yang bertujuan menghapuskan hubungan kolonial. Dalam “Het Tijdschrift” ia menulis antara lain, “Segala gerakan politik yang sehat harus menuju kearah membubarkan kehidupan yang bersifat jajah-menjajah……… Segala partai yang bersifat menentang kepada cita-cita hendak memerdekakan diri, harus dilawan. Pemerintah Hindia Belanda haruslah dipandang sebagai partai yang bertentangan dengan cita-cita hendak merdeka. Pemerintah yang berkuasa ditanah jajahan bukanlah pemimpin namanya, melainkan penindasan……..”
Dalam waktu singkat IP berhasil mendirikan 30 cabang dengan anggota kurang lebih 7.500 orang. Tetapi pemerintah mulai bersikap waspada. Pemerintah menolak untuk memberikan pengesahan sebagai badan hukum kepada EP. Dua kali permohonan diajukan, dua kali pula ditolak. Akhirnya Douwes Dekker sendiri menghadap Gubernur Jenderal Idenburg, namun tetap tidak berhasil. Dalam bulan Maret 1913 IP dibubarkan oleh Pengurus Pusatnya. Para anggotanya menggabungkan diri ke dalam “Insulinde” yang berdiri pada tahun 1907 dan diakui oleh pemerintah.
Sekalipun “Indische Partij” sudah bubar, namun perjuangan Douwes Dekker tidak terhenti, Dalam tahun 1913 itu juga beliau terpaksa berhadapan dengan alat kekuasaan kolonial. Kebetulan pada tahun itu Pemerintah Hindia Belanda bermaksud mengadakan peringatan “100 tahun bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Perancis”. Peringatan itu akan diadakan secara besar-besaran pada bulan November 1913, untuk membiayainya pemerintah memungut uang dari rakyat.
Tindakan pemerintah mengundang reaksi dari kalangan pergerakan nasional. Permulaan Juli 1913 Cipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, Abdul Muis dan Wignyadisastra membentuk sebuah komite yang diberi nama “Komite Bumiputera”. Komite mendesak agar pemerintah secepatnya meng­adakan perubahan dalam hubungan kolonial, membentuk parlemen dan meningkatkan usaha mencerdaskan rakyat. Harian “De Express” dipakai sebagai sarana untuk memperkenalkan “Komite Bumiputera” dan menganjurkan agar rakyat menentang maksud pemerintah merayakan peringatan kemerdekaan itu. Suwardi Suryaningrat menulis brosur yang berjudul “Als Ik een Nederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Dalam tutisan itu ia menyindir dengan halus tetapi tajam maksud pemerintah merayakan peringat­an kemerdekaan di daerah yang masih dijajah dan didepan bangsa yang masih terjajah. Cipto pun menulis dalam “De Express” artikel yang berjudul “Kracht of Vrees” (Kekuatan atau Ketakutan). Pemerintah Hindia Belanda gempar, mereka melihat bayangan pemberontakan. Pemerintah bertindak, Cipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, Abdul Muis dan Wignyadisastra ditangkap dan dipenjarakan. Douwes Dekker yang baru saja pulang dari Negeri Belanda menulis karangan yang membela tokoh-tokoh “Komite Bumiputera” itu. Dalam tulisannya itu beliau menyanjung Cipto, Suwardi, sebagai “Onze hel den “ (Pahlawan kita). Tulisan itu menjadi alasan bagi pemerintah untuk menangkap dan menahannya pula.

Abdul Muis dan Wignyadisastra dibebaskan, tetapi Cipto, Suwardi dan Douwes Dekker dijatuhi hukuman buang di dalam negeri. Berdasarkan permintaan mereka, tempat pembuangan diubah ke Negeri Belanda.
Selama berada diluar negeri Douwes Dekker memanfaatkan kesempatan untuk belajar dan berhasil memperoleh akte guru Eropa. Beliau juga menggabungkan diri ke dalam “Indische Vereeniging”, organisasi pelajar-pelajar Indo­nesia di Negeri Belanda yang kemudian berganti nama menjadi ”Perhimpunan Indonesia”. Di Universitas Zurich, Douwes Dekker belajar ilmu ekonomi dan beliau lulus dengan cum laude dan memperoleh gelar doktor.
Pada bulan Agustus 1917 setelah pengasingan Douwes Dekker dan kawan-kawannya, ramai dibicarakan dalam Parlemen Belanda maka kemudian, dicabut oleh Gubernur Jenderal. Tetapi berhubungan dengan berkecamuknya Perang Dunia I, mereka tidak segera dapat pulang ke Indonesia. Suwardi Suryaningrat kembali dalam tahun 1919, dan beliau segera mendirikan “National Indisch Party” (NIP). Cipto telah lebih dahulu pulang, sebab penyakit asmanya tidak memungkinkan beliau tinggal lebih lama di Negeri Belanda.
Sebelum tiba di tanah air, Douwes Dekker ditangkap di Hongkong, karena terlibat dalam penyelundupan senjata ke India yang masih dijajah Inggris. Dari Hongkong beliau dibawa ke Singapura dan dipenjarakan di kota ini. Selama tiga tahun beliau dipindah-pindahkan dari penjara yang satu ke penjara lainnya. Dari Singapura, dipindahkan ke Vancouver, terus ke Seatle, ke Port­land, ke Oakland, ke San Fransisco dan akhirnya ke Singapura kembali. Pemerintah lnggris kemudian menyerahkannya kepada Pemerintah Belanda. yang memasukkannya ke penjara di Jakarta, kemudian dipindahkan ke Bandung, lalu ke Semarang dan di tempat ini beliau dibebaskan.
Pengalaman pahit itu tidak menjadikan Douwes Dekker patah semangat. Keluar dari penjara beliau segera menggabungkan diri dengan NIP. Kemudian beliau menggerakkan pemogokan buruh pabrik tembakau di daerah Surakarta. Pemogokan itu berhasil sehingga buruh mendapat tambahan gaji dan jam kerja dikurangi. Tetapi Douwes Dekker, terpaksa menerima resikonya. Beliau dipenjarakan lagi.
Bila di bidang politik tidak bisa bergerak, bidang lain pun masih terbuka untuk menyalurkan cita-cita, demikian pikir Douwes Dekker, karena itulah beliau memindahkan perhatiannya ke bidang pendidikan, dengan cara mendirikan sekolah “Ksatrian Institut”. Melalui sekolah ini Douwes Dekker menerapkan gagasannya yang bertitik berat pada pengajaran berdasarkan jiwa nasional dan pendidikan ke arah manusia yang berpikiran merdeka. Sekolah ini bermaksud menghindari persamaan dengan sekolah pemerintah yang hanya mendidik murid untuk menjadi pegawai negeri belaka. Dalam membina “Ksatrian Ins­titut”, Douwes Dekker dibantu antara lain oleh dr. Cipto Mangunkusumo, Ir. Darmawan Mangunkusumo dan P.F. Dahler yang kelak berganti nama menjadi Amir Dahlan. Pimpinan umum dipegang oleh isterinya, Johanna, Douwes Dekker sendiri tidak ikut mengajar karena dilarang oleh pemerintah.

Pada tahun 1941 sekali lagi Douwes Dekker dijebloskan kedalam penjara, yang menjadi penyebab adalah tulisannya yang bernada pro-Jepang dan anti Belanda. Tulisan itu ditemukan di rumah seorang wartawan Jepang, pada waktu yang bersamaan pemerintah Belanda menangkap pula Mohammad Husni Thamrin dan Dr. Sam Ratulangie, yang terakhir ini tak lama kemudian dibebaskan.
Mula-mula Douwes Dekker dipenjarakan di Jakarta, kemudian dipindahkan ke Madiun dan dimasukkan ke dalam interneringskamp (pengasingan) di Ngawi bersama-sama dengan kaum NSB (National Sosialistise Bond) yang juga menentang pemerintah Belanda. Karena sakit mata beliau dipindahkan ke Magelang untuk berobat dan kemudian ke Jakarta. Akhirnya beliau dikembalikan ke Ngawi. Dalam tahanan di sini, pada usia 62 tahun, matanya menjadi buta. Bersama dengan 145 orang tahanan lainnya dari Ngawi ia dibawa ke Paramaraibo dan dipenjarakan di Fort Zeelandia.
Pada tahun 1946, setelah Perang Dunia II berakhir, beliau sudah bebas, tetapi beberapa waktu lamanya beliau masih meringkuk di penjara Fort Nieuw Amsterdam, barulah kemudian beliau dibawa ke Negeri Belanda. Di sini beliau mendapat keterangan bahwa beliau tidak mungkin dikembalikan ke Indonesia. Beliau berusaha menghadap Menteri Jajahan,
Mr. Jonkman, untuk meminta bantuan agar beliau diizinkan pulang ke Indonesia. Permintaannya ditolak, dengan demikian Douwes Dekker harus mencari jalan sendiri, padahal beliau dalam keadaan buta dan tidak mempunyai uang.
Pada bulan Desember 1946 sebuah kapal akan berangkat dari Rotter­dam membawa orang-orang yang akan pulang ke Indonesia, kebetulan Ir. Jopie Rajiman yang sedianya akan berangkat dengan kapal tersebut membatalkan rencananya. Douwes Dekker menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Beliau bermaksud menggantikan Jopie dan yang bersangkutan pun menyetujui bahkan menyerahkan semua surat-surat yang diperlukan Douwes Dekker. Mungkin karena sangat gembira, tiba-tiba mata Douwes Dekker men­jadi sembuh. Dengan surat-surat Ir. Jopie Rajiman, beliau berhasil kembali ke Indonesia.
Di dalam kapal dan di stasiun Gambir, dalam kereta api yang ditumpanginya ke Yogyakarta terjadi beberapa kali ketegangan, namun Douwes Dekker tetap tenang. Beliau menguasai dirinya hingga selamat sampai di Yogya­karta, beliau segera menggabungkan diri dengan pemerintah Republik Indonesia, dan diangkat sebagai pegawai tinggi Kementerian Penerangan.
Selain itu ia juga menjadi guru besar pada Akademi Ilmu Politik dan anggota Dewan Pertimbangah Agung. Dalam Kabinet Syahrir III, beliau diangkat menjadi Menteri Negara dan juga sebagai penasehat delegasi RI dalam perundingan-perundingan dengan Belanda. Dalam hubungan ini beliau memperingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam membaca persetujuan tertulis antara Indo­nesia-Belanda. Setiap kalimat termasuk kata-katanya sampai titik dan koma dalam persetujuan itu haruslah diteliti, tidak boleh gegabah dan serampangan. Hal itu dikemukakannya berdasarkan pengalamannya yang cukup lama menghadapi Belanda.

Waktu Agresi Militer II Belanda pada akhir tahun 1948, Douwes Dekker yang sejak tahun 1947 telah mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudi, ditangkap di Kaliurang, Yogyakarta. Karena dalam keadaan sakit beliau dimasukkan ke rumah sakit, tetapi 2 hari kemudian diambil dan dimasukkan penjara Wirogunan, Yogyakarta. Setelah 5 hari disekap di dalam gelap tak boleh berbicara, pada tanggal 27 Desember 1948 pagi beliau diangkut dengan kapal terbang ke Jakarta lewat Semarang. Di Jakarta mula-mula beliau dimasukkan ke kamp pengungsi di Gang Chassee, kemudian ditahan bersama tokoh-tokoh RI di Jalan Prapatan 52, Jakarta. Setelah Pengakuan Kedaulatan, beliau bersama dengan tokoh-tokoh RI dibebaskan dan akhirnya menetap di Bandung, beliau meninggal dunia di kota ini, pada tanggal 28 Agustus 1950 sebagai seorang muslim, Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.
Dr. Danudirja Setiabudi, tidak kurang dari 40 tahun berjuang untuk kemerdekaan tanah air Indonesia dengan mengalami penderitaan, siksaan, hinaan yang luar biasa, termasuk hidupnya dari penjara ke penjara selama 17 tahun. Presiden pertama RI, Ir. Sukarno mengakui Douwes Dekker sebagai Bapak Nasionalisme Indonesia.
Pemerintah RI dengan Surat Keputusan Presiden RI No.590 Tahun 1961 tanggal 9 November 1961 menganugerahi Dr. Danudirja Setiabudi gelar Pahlawan Kemerdekaan Indonesia.

Hos Tjokroaminoto

 

Hos Tjokroaminoto

Pemerintah Hindia Belanda pernah menyebut seorang pemimpin Indonesia sebagai ”De Ongekroonde van Java” (Raja Jawa tanpa mahkota). Sebutan itu menggambarkan betapa besar pengaruh pemimpin tersebut di kalangan masyarakat dan sekaligus menggambarkan rasa khawatir pemerintah Belanda menghadapi tokoh ini.
Pemimpin yang dimaksud ialah Haji Umar Said Cokroaminoto. la dilahirkan tahun 1883 di desa Bakur, Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur. Ayahnya bernama Raden Mas Cokroamiseno, wedana Kloco, Ponorogo. Dalam dirinya mengalir darah bangsawan dan sekaligus darah ulama, sebab kakeknya, bupati Ponorogo adalah putera dari Kyai Bagus Kasan Besari yang kawin dengan seorang puteri Susuhunan Solo.
Cokroaminoto menempuh pendidikan pada Sekolah Dasar dan setelah tamat, sesuai dengan keinginan ayahnya, ia memasuki OSVIA (Opleiding School voor Inlandse Ambtenaren) di Magelang. Tamat dari OSVIA tahun 1902, beliau bekerja sebagai juru tulis pangrehpraja di Ngawi, Jawa Timur. Tiga tahun kemudian beliau pindah ke perusahaan swasta Firma De Kooy di Sura­baya. Sambil bekerja beliau bersekolah sore hari pada Burgerlijke Avond School (sekolah teknik) dengan mengambil jurusan teknik mesin. Sesudah tamat beliau bekerja sebagai ahli kimia pada sebuah pabrik gula di daerah Surabaya. Dalam tahun 1912 ia berhenti dan selanjutnya tidak pernah bekerja lagi sebagai pegawai.
Karir politik Cokroaminoto dimulai pada tahun 1912 setelah beliau berkenalan dengan Haji Samanhudi pendiri dan pemimpin Sarekat Dagang Islam (SDI) ini bersama dua orang temannya datang ke Surabaya dalam usaha mereka untuk mengembangkan SDI. Beliau mengajak Cokroaminoto yang dikenal sebagai Muslim terpelajar untuk turut berjuang bagi kepentingan umat Islam. Cokroaminoto setuju dan dengan spontan ia menyarankan agar nama SDI diganti menjadi Sarekat Islam (SI). Perkataan ”dagang” hendaknya dihapuskan agar jangkauan organisasi lebih luas, letapi masalah dagang tetap dicantumkan dalam tujuan SI. Saran Cokro mendapat persetujuan dan ia diserahi tugas untuk menyusun anggaran dasar. Tugas itu diselesaikan Cokro dalam waktu singkat dan pada tanggal 10 September 1912 Anggaran Dasar SI disahkan oleh Notaris B, ter Kuile. Dalam anggaran dasar itu disebutkan bahwa tujuan SI ialah memajukan perdagangan, menolong anggotanya yang mengalami kesulitan, memajukan kepentingan rohani dan jasmani kaum bumiputera dan memajukan kehidupan agama Islam.

Dalam kepengurusan SI Samanhudi menduduki jabatan ketua, sedangkan Cokroaminoto diangkat sebagai komisaris untuk daerah Jawa Timur. Organisasi ini berkembang dengan pesat dan dalam waktu singkat jumlah ang­gotanya bertambah. Pada tahun 1913 SI mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda supaya diakui sebagai badan hukum untuk seluruh Indonesia. Permohonan itu ditolak, pemerintah hanya mengakui SI-SI setempat. Oleh karena itu dibentuklah SI-SI lokal yang kemudian digabungkan di bawah Centraal Committe SI. Pada tahun 1915 istilah Centraal Comitte diganti dengan Centraal SI. Bersamaan dengan itu Cokroaminoto diangkat sebagai ketua CSI, sedangkan Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Pada bulan Maret 1916 Anggaran Dasar SI diakui oleh pemerintah.
Sejak semula Cokroaminoto sudah memperlihatkan kegiatan yang besar dalam memimpin SI, bahkan sebelum menjadi ketua. Sekalipun SI tidak secara tegas menyatakan dirinya sebagai partai politik, namun tindak-tanduknya jelas-jelas memperlihatkan sikap menentang penjajahan. Dalam kongres pertama SI bulan Januari 1913 di Surabaya, Cokroaminoto berkata antara lain: ”….. bahwa dengan kongres ini, itu adalah pertanda bukti daripada kebangkitan hati rakyat Indonesia yang dipandang orang sebagai seperempat manusia….. Apabila suatu rakyat telah bangun dari tidurnya, tak satu pun yang dapat menghalangi geraknya.”
Dalam kongres ketiga yang biasanya disebut Kongres Nasional Pertama SI pada bulan Juni 1916 di Bandung, suara Cokroaminoto bertambah tegas lagi. Dikatakannya antara lain: ’Tidak wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud untuk mengambil hasilnya, dan tidaklah dapat lagi dipertanggungjawabkan bahwa penduduk pribumi tidak mempunyai hak untuk ikut serta dalam masalah-masalah politik yang menyambut nasibnya sendiri. Tidak boleh terjadi lagi bahwa seseorang mengeluarkan undang dan peraturan untuk kita tanpa mengikutkan kita, mengatur hidup kita tanpa mengikutsertakan kita. Kita harus mengharapkan dengan ikhlas dan jujur datangnya pemerintah sendiri bagi Hindia Belanda…. Semakin lama semakin tambah kesadaran orang bahwa pemerintahan sendiri adalah perlu. Lebih lama lebih dirasakan bahwa tidak patut lagi Hindia diperintah oleh Nederland seperti tuan tanah mengurus persil-persilnya.”
Pada bagian penutup dan pidatonya, Cokroaminoto mengatakan: ”Hak-hak dan kebebasan politik baru diberikan kepada rakyat kalau rakyat itu meminta sendiri dengan memaksa. Jarang sekali terjadi bahwa hak kebebasan itu diberikan sebagai hadiah oleh sesuatu pe­merintah. Di bawah pemerintah yang tiranik dan zalim, hak-hak dan ke­bebasan itu dicapai dengan revolusi”.
Sejak aktif dalam SI, Cokroaminoto tidak mempunyai penghasilan tetap, sekedar untuk membantu belanja rumah tangganya, ia menerima beberapa orang pemuda mondok di rumahnya yang kecil yang terletak di sebuah gang sempit di Surabaya. Dalam hal ini isterinya lah, Suharsikin, yang banyak berperan. Di antara pemuda yang mondok itu terdapat Sukarno, yang kelak menjadi presiden pertama RI, Abikusno Cokrosuyoso, Hermen Kartawisastra, Alimin, dan Musudo yang kelak memimpin pemberontakan PKI di Madiun menentang pemerintah RI. Hampir tiap malam Cokroaminoto mengadakan diskusi dengan para pemuda ini, seringkali pula beberapa orang diajaknya berkeliling dalam rangka propa­ganda.
Selain sibuk memimpin SI, Cokroaminoto juga banyak menulis di berbagai majalah dan surat kabar. Ia menjadi pembantu tetap majalah Bintang Surabaya. Untuk kepentingan SI, ia mendirikan N.V. Setia yang menerbitkan harian Utusan Hindia yang langsung dipimpinnya sendiri. Tulisan-tulisan dalam harian itu sangat tajam mengecam pemerintah kolonial. Karena itulah dalam tahun 1923 harian ini dilarang terbit. Namun dua tahun kemudian, bersama Agus Salim, beliau menerbitkan harian Fajar Asia di Yogyakarta.

Kegiatan lain yang dijalankan Cokroaminoto ialah sebagai pengacara. Dalam hal ini beliau seringkali membela anggota-anggota SI yang dituduh melanggar hukum, beliau terkenal cerdas dan trampil. Seorang hakim Belanda di depan suatu persidangan pernah menyindir Cokroaminoto, ”Sayang, dia bukan keluaran sekolah tinggi,” yang langsung dijawab oleh Cokroaminoto, ”Bagaimanapun juga, lebih baik daripada sarjana hukum yang suka lupa hukum seperti tuan”.
Undang-undang kolonial hingga SI berdiri belum mengizinkan berdirinya partai politik, namun perjuangan SI membela kepentingan rakyat selalu berhubungan dengan perundang-undangan dan peraturan. Dengan demikian SI praktis telah menjalankan kegiatan politik. Sebagai langkah politik Cokroaminoto ditugaskan oleh SI menyusun rencana mengenai Perwakilan Rakyat, baik di Pemerintahan Pusat maupun di daerah-daerah hingga kabupaten dan kota. Yang diperjuangkan ialah, agar terbentuk Dewan Perwakilan Rakyat yang sebenarnya, dengan anggota-anggotanya terdiri dari orang-orang yang dipilih oleh rakyat. Rencana SI merupakan dorongan kepada pemerintah, na­mun desakannya tidak terlaksana. Yang dilaksanakan oleh pemerintah ialah bentuk Volksraad (Dewan Rakyat) yang dibuka pada tanggal 18 Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Graef van Limburg Stitum. Atas putusan kongres SI tahun 1917 Cokroaminoto dan Abdul Muis duduk menjadi anggota Volksraad sebagai wakil SI.
Di dalam Volksraad Cokroaminoto banyak sekali mengeluarkan pendapat yang membela kepentingan rakyat dan mengecam tindakan-tindakan pemerintah maupun orang-orang Belanda dalam perusahaan, pabrik dan sebagainya yang sewenang-wenang terhadap buruh Indonesia.
Dalam tahun 1920 Cokroaminoto mengajukan mosi di dalam Volksraad agar disusun Parlemen yang sebenarnya, dengan hak menentukan hukum sepenuhnya dan agar dibangun suatu pemerintah yang bertanggungjawab kepa­da Parlemen. Mosi yang diajukan pada tanggal 25 November 1918 itu akhirnya ditolak pemerintah pada tahun 1920.
Aksi-aksi SI di daerah-daerah senantiasa membela kepentingan rakyat, terkadang sampai kepada perlawanan yang mengakibatkan pertumpahan darah. Hal itu sebenarnya tidak sekali-kali diperintahkan oleh Sentral Komite SI, namun SKSI itu senantiasa dipertanggungjawabkan. Peristiwa pembunuhan di Cimareme, Garut, telah menyebabkan Cokroaminoto ditangkap dan ditahan di penjara sampai hampir sembilan bulan.
Di dalam rapat-rapat propaganda SI Cokroaminoto selalu mendengungkan suara Persatuan Nasional maksudnya, bahwa hanya dengan persatuan, rakyat dapat mencapai cita-citanya. Dan gerakan rakyat harus serentak dilakukan oleh satu bangsa, satu natie atau nation. la senantiasa membela rakyat yang ditindak sewenang-wenang, terutama di pabrik-pabrik gula. Terhadap tindakan Belanda yang kejam itu Cokroaminoto dengan lantang berkata. ”Untuk SI sebagai pelindung kaum Kromo, hanyalah tinggal satu-satunya tindakan yang dapat dilakukan, yaitu mempertahankan kebenaran habis-habisan”.
Suatu kali Cokroaminoto diminta nasehatnya oleh dokter-dokter Indonesia yang gajinya tidak lebih dari mantri juru-rawat Belanda. Nasehat Cokroaminoto, ”Jika tuntutan saudara, dokter bangsa kita yang saya pandang adil, tidak dikabulkan, maka saya nasehatkan kepada saudara-saudara dokter sekalian supaya meletakkan jabatannya sebagai budak yang tidak berharga derajatnya, lebih rendah dari verpleger kulit putih, dan terjunlah di kalangan masyarakat. Pimpinlah rakyat di desa, dan terimalah menjadi ”dukun” rakyat dengan pembayaran ”talenan’’ setiap pasien; (satu talen = 25 sen).

Konsep kemasyarakatan Cokroaminoto berlandaskan pengertian yang dalam tentang sosialisme yang telah mempunyai akar didalam masyarakat tradisional Indonesia. Sosialisme itu dipadukan dengan Islam yang ia sebut ”Sosialisme Islam”. Pikiran-pikiran tentang ”Sosialisme di dalam Islam” itu secara ringkas diuraikan di dalam Konggres Al Islam II di Garut. Kemudian dalam bulan November 1924 terbit bukunya yang terkenal berjudul ”Islam dan Sosialisme” yang dicetak berulang kali hingga di zaman kemerdekaan pun dicetak kembali. Dalam buku itu Cokroaminoto antara lain menguraikan, ”Cita-cita Sosialisme di dalam Islam tidak kurang dari tiga belas abad umurnya, dan tidak boleh dikatakan bahwa ia terbit dari pengaruhnya orang Eropa. Kita tidak bermaksud mengatakan, bahwa pada ketika itu sudah ada pro­paganda Sosialisme yang teratur seperti sekarang ini, akan tetapi sesungguhnya azas-azas Sosialisme itu telah dikenal dalam masyarakat Islam pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. dan azas-azas tersebut lebih banyak dilaksanakan dan lebih mudah dari pada pelaksanaannya di Eropa dalam zaman manapun juga sesudah zamannya Nabi kita itu.”
”Jikalau suatu negara bersifat sosialistis, maka hendaknya pekerjaan kerajinan (kepabrikan, industri) diaturnya secara sosialistis dengan seluas-luasnya. Maka dalam negara yang demikian itu, tanah itulah yang menjadi pokoknya segala hasil dan pokoknya pekerjaan industri besar, itupun kalau dijalankan seluas-luasnya Landsocialisme dan Staats-Sosialisme. Maka Sosialisme macam inilah yang terutama sekali dijalankan oleh Islam. Sejak Nabi Muham­mad SAW memegang kekuasaan Negara, maka segeralah diaturnya secara so­sialistis dan semua tanah dijadikan milik negara.
Makin lama makin tegas sikap SI menentang Pemerintah Hindia Belan­da. Dalam Kongresnya yang ke-7 di tahun 1923 di Madiun SI menetapkan si­kap ”nonkooperasi” (tidak bekerjasama) dengan pemerintah. Putusan itu diperkuat oleh kongresnya di Surabaya dan Yogyakarta. Politik nonkooperasi itu disebut ”politik hijrah” yang sama artinya dengan tukar haluan, dari kooperasi menjadi nonkooperasi. Dengan demikian SI tidak mau duduk di dalam Volksraad namun pada tahun 1927 Pak Cokro masih ditawari kedudukan anggota Volksraad oleh pemerintah, sudah barang tentu tawaran itu ditolaknya mentah-mentah.
SI yang senantiasa menanjak itu tidak luput dari oposisi (rongrongan) dari dalam. Golongan Semaun, Alimin, Muso, Tan Malaka dan lain-lain terpengaruh oleh pikiran sosialisme kiri yang ditebarkan di Indonesia oleh Sneevliet, seorang Belanda yang beraliran kiri. Oleh karenanya Semaun dkk, mendorong agar SI berhaluan kiri, namun usaha itu gagal sama sekali, akibatnya SI pecah. Semaun dkk. mendirikan Partai Komunis Hindia pada tahun 1920 yang kemudian menjadi PKI pada tahun 1924. Mulai tahun 1921 diadakan partai disiplin, tidak diizinkan anggota SI merangkap menjadi anggota partai lain, terhadap golongan sosialis kiri dan komunis itu Cokroaminoto berkata.
”Orang-orang Sosialis Barat, lebih-lebih lagi orang-orang Belsyewik atau komunis, pada zaman sekarang ini sungguh tersesat kalau mereka menjalankan sosialisme itu dimulai dari puncak dan tidak dimulai dari dasar. Mereka itu lalu segera menghendaki perubahan masyarakat, ada pula dari antara mereka yang tidak dengan berbuat sesuatu apa, hanya dengan membuka mulut berteriak-teriak. ”Kuburlah kapitalisme dunia.” Teriakan yang serupa ini. kalau bukan teriakan seorang yang bodoh, maka sedikitnya adalah seperti seorang yang berteriak di padang pasir. Nabi kita yang suci Muhammad s.a.w. dalam melaksanakan sosialisme itu bertindak sebaliknya daripada yang dijalankan oleh orang-orang sosialis

Barat, yaitu tidak dimulainya dari atas, tetapi dimulainya dari bawah. Tindakan beliau mula-mula mengubah sifat dan tabiatnya tiap-tiap orang, sehingga cakap untuk membangunkan masyarakat yang sosialistis yaitu dengan terlebih dahulu membangun sifat dan tabiat yang menjadi dasar dan sandaran dari sesuatu Negara yang tinggi tingkat sosialismenya”.
SI menanggulangi cobaan-cobaan dengan melancarkan ide ”Pan-Islamisme” (Persatuan Islam) baik di dalam rapat-rapat umum maupun dalam surat-surat kabar. Di dalam kongres AI Islam bulan Agustus 1923 dipilih tiga orang utusan untuk menghadiri Muktamar Islam sedunia di Mekkah, yakni Cokroaminoto dari SI H. Mas Mansur dan H. Sujak, keduanya dari Muhammadiyah. Pada kesempatan itulah Cokroaminoto menunaikan ibadah haji dan sepulangnya pada tahun 1926 beliau telah menyandang gelar ibadah haji dan sepulangnya pada tahun 1926 beliau telah menyandang gelarnya dan terkenal namanya menjadi Haji Umar Said Cokroaminoto. Sepulang dari Kongres itu pimpinan AI Islam diganti namanya menjadi ”Muktamar Alam Islamy Far’ul Hindys Syarqiyah”, disingkat MAHIS sebagai cabang Muktamar Alam Islami di Mekkah. Sebagai ketuanya dipilih H.U.S. Cokroaminoto, wakil ketua Wondoamiseno dan sekretaris umum H. Agus Salim.
Dengan pengalaman perpecahan SI di dalam tahun 1919, pimpinan Pusatnya senantiasa berdaya upaya mencari jalan persesuaian dengan aspirasi rakyat dan persatuan di kalangan para pemimpinnya. Maka pada kongres SI tahun 1923 namanya diganti menjadi ”Partai Serikat Islam (PSI)”, kemudian untuk lebih menunjukkan kenasionalannya pada tahun 1929 diganti lagi men­jadi ”Partai Serikat Islam Indonesia (PS1I)” hingga zaman kemerdekaan.
Rupanya kericuhan dan perpecahan tak dapat dihindarkan, bahkan mungkin didalangi oleh musuh-musuh SI. Pernah dilancarkan berita, bahwa Cokroaminoto korup, menghabiskan uang partai dan lain sebagainya namun kedudukannya tak pernah tergoyahkan. Pada tahun 1932 terjadilah perselisihan faham antara Cokroaminoto dengan dr. Sukiman dan Suryopranoto. Akibatnya dr. Sukiman dkk. meninggalkan PSII dan mendirikan PARII (Partai Islam Indonesia). Partai baru ini pada tahun 1937 kembali bergabung dengan PSII.
Pemerintah Hindia Belanda senantiasa mengadakan tekanan kepada PSII. Pada tahun 1935 dikeluarkan larangan, bahwa pegawai negeri tidak diizinkan menjadi anggota PSII. Pemimpin-pemimpin PSII di Sumatera Barat ditangkapi dan di antaranya diasingkan ke Digul. Cokroaminoto dan Abdul Muis sudah lebih dulu dilarang ke luar Jawa, meskipun banyak rintangan dan kericuhan di dalam PSII, namun pribadi dan kedudukan HOS Cokroamino­to tetap kokoh dan lestari. Menghadapi cobaan-cobaan berat itu ia bekerja keras, bahkan terlalu keras yang banyak meminta tenaga dan pikirannya, padahal usianya sudah mulai lanjut.
Kongres PSII yang ke-20 di Banjarmasin pada tahun 1934 adalah kongres terakhir yang dipimpin oleh ketuanya, HOS Cokroaminoto. Sejak itu Cokroaminoto sakit-sakitan, tetapi masih sempat memberikan nasehat-nasehat dan pedoman perjuangan umat Islam. Beberapa kawan seperjuangannya, H. Agus Salim, Wondoamiseno, A.M. Sangaji dan lain-lain memberikan nasehat agar Cokroaminoto beristirahat, namun masih saja ia bekerja dan berpikir untuk pengabdiannya secara maksimal. Oleh karenanya ia jatuh sakit yang makin lama makin parah, sebagian badannya menjadi lumpuh hingga ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya, tiada nafsu makan dan akhirnya suaranya hilang. Pada tanggal 17 Desember 1934 H.U.S. Cokroaminoto yang amat berjasa dalam pergerakan umat Islam Indonesia wafat di Yogyakarta.
Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden No.590 Tahun 1961 tertanggal 9 November 1961 menganugerahi HOS Cokroaminoto gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Kyai Haji Samanhudi

 

Kyai Haji Samanhudi

Di kota Solo, Jawa Tengah, terdapat sebuah kecamatan yang bernama Laweyan. Kecamatan ini terkenal sebagai daerah orang kaya. Kebanyakan penduduk Laweyan hidup sebagai saudagar atau pengusaha batik. Salah seorang di antaraya ialah Haji Samanhudi. la dilahirkan tahun 1878 dengan nama kecil Sudarno Nadi, Waktu kecil ia memperoleh pendidikan agama dari Kyai Jadermo di Surabaya. Selain itu ia juga memperoleh pendidikan umum pada Sekolah Dasar Bumiputera Kelas Satu.
Dengan pengetahuan yang sederhana itu Samanhudi terjun ke dunia perdagangan batik. Berkat modalnya yang terhitung besar dan bakatnya se­bagai pengusaha, namanya cepat dikenal di dunia perdagangan. la mengadakan hubungan dagang dengan pedagang-pedagang dari berbagai kota seperti Purwokerto, Bandung, Surabaya, dan Banyuwangi. la pun menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Cina dan Arab. Berkat hubungan dagang yang luas itu, pengetahuan Samanhudi bertambah banyak. Tetapi sementara itu pula ia merasakan adanya hambatan dari pihak pemerintah jajahan terhadap kegiatan dagang Bangsa Indonesia. Pemerintah lebih banyak memberi hati kepada pedagang-pedagang asing, khususnya Cina. Bahan-bahan untuk membuat batik dimonopoli oleh pedagang-pedagang Cina, sebagai pedagang perantara. Perusahaan-perusahaan batik milik bangsa Indonesia tidak dapat berhubungan langsung dengan perusahaan asing yang mengimpor bahan-bahan tersebut. Samanhudi merasakan hal itu sebagai sesuatu yang sangat merugikan pedagang-pedagang Indonesia.
H. Samanhudi sudah lebih dahulu mengetahui hak-hak istimewa lainnya yang diberikan pemerintah kepada orang-orang Cina, misalnya dalam hal pajak jalan (tol), bea cukai, memborong berbagai pajak, membungakan uang de­ngan sistem ijon. Bahkan Cina berhak mengadakan penjagaan keamanannya sendiri. Pemikiran ini menimbulkan kesadarannya, betapa orang pribumi diperlakukan tidak adil oleh Belanda. Dalam kehidupan sehari-hari ia merasa­kan, bahwa pemerintah telah membagi-bagi masyarakat menjadi kelas satu: Belanda/Eropa: kelas dua: Cina dan keturunan asing lainnya: dan kelas terendah pribumi.
Ia tidak membenci orang asing, tidak pula orang Cina, namun ia amat merasakan penindasan kepada bangsanya. Yang amat dirasakan ialah dalam hal peri penghidupan, yaitu hal ekonomi. Karena sistem ekonomi yang demikian itulah maka bangsa Indonesia amat menderita, seperti dikatakannya ”Di negeri kita ini penduduk sengaja dibuat bertingkat-tingkat, yang paling tinggi bangsa Belanda, di bawahnya terdapat bangsa Cina, sedang bangsa Bumi putera berada di bawah Cina Jadi bangsa Bumi putera adalah bangsa yang dipandang sebagai bangsa yang paling rendah derajatnya, atau bangsa kelas kambing, padahal mereka hidup di tanah air sendiri.

Pihak penjajah menanamkan jiwa budak pada diri bangsa kita. Dengan demikian bangsa kita dapat dijajah terus. Oleh karena itu, supaya dapat menjadi bangsa yang mulia bangsa kita harus dapat membuang jiwa budak itu.
Pada tahun 1911 di Sala ada perkumpulan bernama Kong-Sing yang anggota-anggotanya orang-orang Cina dan Jawa. Tujuannya bekerjasama dalam perdagangan bahan batik dan soal kematian, tolong-menolong. Makin lama jumlah orang-orang Cina yang menjadi anggota makin besar dan menjadi lebih besar dari jumlah orang Jawa. Oleh karena itu orang-orang Jawa merasa terjepit dan keluarlah mereka dari perkumpulan kong-Sing tersebut.
H. Samanhudi dan kawan-kawannya lalu mendirikan perkumpulan ”Mardi Budi” (Memelihara Akhlak) untuk maksud persaudaraan dengan tolong menolong bila di antara keluarga anggotanya ada yang meninggal dunia. Dalam hal tolong menolong dan bantu membantu H. Samanhudi sudah lama terkenal kedermawanan dan keikhlasannya, tidak ada seorang pun yang minta bantuannya ditolak. Hal itu menjadikan H. Samanhudi dicintai orang banyak, berpengaruh luas dan menyebabkan banyak orang mengikuti jejaknya dalam perkumpulan yang didirikannya.
Kemudian makin dirasakan keperluannya mengusahakan kemajuan untuk perusahaan anggota-anggotanya. Salah satu cara ialah berusaha agar dapat membeli bahan-bahan batik langsung dari importirnya tidak melewati Cina. Maka dengan tujuan utama seperti itu, pada akhir tahun 1911 perkumpulan ”Mardi Budi” berganti nama menjadi ”Sarikat Dagang Islam”, disingkat SDI. Delapan orang menyertainya dalam mendirikan SDI dan sekaligus menjadi pengurus di bawah pimpinan H. Samanhudi. Mereka itu ialah Sumowardoyo, Harjosumarto, Martodikoro, Wiryotirto, Sukir, Suwandi, Suryopranoto, dan Jerman. Kemudian diangkatlah sebagai penasehat R.M. Jokomono Tirtoadisuryo, pemimpin redaksi harian ”Medan Prijaji” yang kini telah diangkat oleh Pemerintah RI sebagai salah seorang Perintis Pers. R.M. Jokomono ini pun ketua SDI yang telah berdiri lebih dahulu di Bogor.
Terhadap berdirinya SDI di Sala orang-orang Cina menunjukkan antipatinya, tidak senang, karena SDI jelas menentang monopoli Cina dalam hal bahan-bahan batik. Reaksi Cina itu tidak tinggal pada ketidaksenangannya, tetapi meningkat menjadi perkelahian Cina lawan Jawa yang berkali-kali terjadi di Sala hingga pernah pula melibatkan Legiun (prajurit) Mangkunegaran yang memihak SDI. Perkelahian Cina-Jawa itu menjalar ke Surabaya, Semarang dan Kudus.
H. Samanhudi senantiasa menunjukkan sikap tenang dan bijaksana, tidak anti Cina. la pernah mengeluarkan pengumuman, bila Cina bertindak salah, hendaknya para anggotanya mengalah, namun kalau mereka nekad, laporkanlah kepada polisi. Meskipun demikian Belanda sudah khawatir kalau-kalau pertentangan Cina-Jawa juga meningkat. Maka pada tanggal 10 Agustus 1912 residen Surakarta mengundang wakil Pemerintah Kasunanan dan Ketua SDI untuk mengadakan pembicaraan. Hasilnya mulai saat itu SDI yang untuk mudahnya sudah mulai sering disebut Serikat Islam” (SI) dilarang menerima anggota baru dan dilarang mengadakan rapat.
Ketetapan itu disusul dengan penggeledahan polisi di rumah anggota-anggota pengurusnya. Yang diketemukan hanyalah: peraturan perkumpulan, buku daftar anggota, daftar langganan majalah Sarotomo (Panah Utama) yang diterbitkan SDI, surat-surat permintaan anggota-anggotanya meminjam uang, obligasi, rekening pembelian dan sebagainya. Kesimpulan dari penggeledahan itu, SDI tidak mempunyai maksud yang dirahasiakan dan bukan perkumpulan yang membahayakan: Maka pihak Kraton Surakarta berpendapat, agar larangan terhadap SDI segera dicabut. Demikian pula H. Samanhudi dan ketua-ketua kelompok SDI berusaha sekeras-kerasnya. agar larangan itu dicabut. Akhirnya pada tanggal 26 Agustus 1912, SDI diizinkan aktif kembali dengan ketentuan, bahwa yang boleh menjadi anggota SDI hanyalah penduduk Surakarta. Ketentuan lainnya, ialah keuangan SDI harus diatur lebih baik dan jelas.

Ketentuan tersebut merupakan hambatan akan gerakan SDI lebih lanjut, namun H. Samanhudi tidak berkecil hati dan tidak sekalipun mundur. la segera mengadakan konsolidasi. Dalam pemikiran yang disertai usahanya yang giat, ia menemukan tokoh yang tepat dibawa serta dalam perjuangan umat Islam, yaitu R.M. Umar Said Cokroaminoto. Dialah yang mengusulkan agar keanggotaan SDI tidak terbatas pada kaum dagang saja. Maka perkataan Dagang dalam nama perkumpulan itu sebaiknya dihapus sehingga menjadi ”Sarikat Islam” disingkat S.I.
Usul itu diterima baik oleh H. Samanhudi dan kawan-kawannya. Umar Said Cokroaminoto ditugaskan menyusun Anggaran Dasar SI. Pada 10 Sep­tember 1912 dengan akte notaris B Anggaran Dasar Serikat Islam ditetapkan dan mulai hari itulah resminya pergantian nama dan ”Serikat Dagang Islam” menjadi ”Serikat Islam”. Tujuan SI ialah memajukan perdagangan, memberi pertolongan kepada para anggotanya yang mendapat kesukaran, memajukan kepentingan jasmani dan rohani kaum bumiputera, dan memajukan kehidupan agama Islam.
Anggaran Dasar itu dimintakan pengesahan kepada pemerintah, namun ditolak dengan surat_20 Maret 1913. Dalam laporannya ke negeri Belanda, Gubernur Jenderal Indenburg berpendapat, bahwa SI akan menentang pe­merintah, pangrehpraja yang memang mereka curigai. Akhirnya pun akan menentang pemerintah Hindia-Belanda, sebab pangrehpraja adalah bagian dari Pemerintah Hindia Belanda. Sifat jiwa mereka dianggapnya sulit dipisahkan dari jiwa memberontak dan mogok, tulis Indenburg.
Penolakan pemerintah akan Anggaran Dasar SI itu pada kenyataannya tidak menjadikan soal, karena diakui atau tidak diakui sebagai badan hukum. SI berjalan terus sesuai dengan rencana tujuannya.
Di mana-mana telah berdiri SI dengan pengaruhnya yang besar. Menghadapi Kongres I
tanggal 25-26 Januari 1913 di Surabaya, jumlah anggotanya telah mendekati 80.000 orang. Kongres I berlangsung dengan hebat. Utusan-utusan datang dari pelosok-pelosok berbondong-bondong. Jemputan di stasiun kereta api diramaikan dengan musik. Waktu rombongan H. Samanhudi tiba, ribuan orang penjemput mengelu-elukannya, sehingga dari kereta api sampai mobil jemputannya, H. Samanhudi lebih banyak didukung orang daripada berjalan kaki. Orang-orang itu mencintai H. Samanhudi bukan ka­rena pribadinya, namun sebagai pendiri SI yang bekerja keras dengan tenaga, pikiran dan hartanya pula. Iringan yang menyertainya dari stasiun ke gedung pertemuan Taman Manikam tidak kurang dari I5 mobil dan 30 kereta, sedang di sepanjang jalan orang memberikan sambutan meriah sekali.
Kongres ke-I itu menetapkan susunan organisasi SI. Tiap tempat yang cukup jumlah anggotanya didirikan cabang dengan pengurusnya yang dipilih. Setiap cabang dibagi menjadi beberapa ranting, dan tiap ranting menjadi beberapa kelompok. Di Jawa Barat dibentuk Hoofd afdeling, meliputi wilayah Jawa Barat, Sumatera dan pulau-pulau di dekat Sumatera. Pimpinan wilayah disebut Hoofdbestuur (Pengurus Besar). Demikian pula di Jawa Tengah, meliputi Jawa Tengah dan Kalimantan dengan Pengurus Besarnya di Surakarta. Jawa Timur meliputi Jawa Timur, Sulawesi, Bali dan Lombok, pengurus besarnya di Surabaya. Dengan demikian SI bersifat federasi. Hal ini justru tidak menyalahi ketetapan residen Surakarta yang tersebut di muka.

Pimpinan SI untuk seluruh Indonesia dipegang oleh Sentral Komite Serikat Islam Hindia Timur berkedudukan di Surakarta dengan susunan pe­ngurus, Ketua : H. Samanhudi dan Wakil Ketua : Umar Said Cokroaminoto yang merangkap ketua Pengurus Besar Jawa Timur, Sulawesi, Bali dan Lombok, dan memimpin surat kabar ”Hindia Timoer” (baca : Hindia Timur).
Kongres itu diakhiri dengan rapat umum di Stadstuin (Kebonraja) yang dipimpin oleh Umar Said Cokroaminoto, dihadiri oleh kurang lebih 8.000 sampai 10.000 orang termasuk utusan pemerintah dan beberapa orang Eropa dan Cina. Rapat menggunakan bahasa Indonesia yang waktu itu masih disebut bahasa Melayu. Umar Said menerangkan keadaan dan kemajuan SI hingga waktu itu, mempunyai cabang-cabang dan beribu-ribu anggotanya. Kemudian pembicara lain-lainnya menjelaskan tujuan SI dan langkah-langkah SI selanjutnya. Pada penutupnya Umar Said Cokroaminoto memperkenalkan pendiri ”Serikat Islam” H. Samanhudi.
H. Samanhudi lalu berbicara singkat dalam bahasa Jawa kromo (halus), minta kepada hadirin agar benar-benar memperhatikan tujuan SI. yaitu terlaksananya segala sesuatu untuk kepentingan rakyat Bumiputera. la berharap agar SI menjadi perkumpulan yang kuat.
H. Samanhudi adalah pemrakarsa sekaligus pendiri ”Serikat Islam” pelopor pergerakan politik umat Islam di Indonesia. Pengetahuannya serba sederhana, namun bersifat luwes dan trampil. H. Samanhudi memperhatikan kemajuan SI yang luar biasa. la berkesimpulan, bahwa ia pribadi tidak akan sanggup dan tidak mempunyai kemampuan memimpin perkumpulan yang besar itu. Oleh karenanya ia harus mencari kawan yang dipercaya dan yang mampu mengemudikan SI selanjutnya, dan kawan yang dipilih dan dipercayainya adalah Umar Said Cokroaminoto yang terpelajar, cerdas dan berani.
Pilihan H. Samanhudi ternyata tepat sekali, terbukti perkembangan SI di bawah pimpinan Umar Said Cokroaminoto amat pesat kemajuannya hingga menjadi besar sekali. Di tahun 1916 anggota SI di seluruh Indonesia telah mendekati jumlah 360.000 orang. Dalam tahun 1918 menjadi 450.000 orang. Kemudian terus meningkat, sehingga Cokroaminoto dikatakan Belanda sebagai De ongekroonde koning van Jawa (raja tak bermahkota di Jawa).
Makin maju SI makin beratlah bagi H. Samanhudi, akhirnya ia mundur dengan hati yang puas karena tanamannya telah menjadi subur dan dapat diharapkan bemanfaat besar bagi rakyat bangsanya. SI bukan partai politik karena waktu itu berdirinya partai politik masih merupakan larangan. SI bersifat perkumpulan sosial ekonomi non politik, namun sejak berdirinya senantiasa memperjuangkan soal kenaikan upah pekerja, membela para petani yang tertindas, persewaan tanah yang tinggj, membela rakyat yang diperlakukan sewenang-wenang oleh kepala desa, tuan tanah dan sebagainya. Dengan demikian SI sudah menjalankan politik praktis dengan sikap memihak rakyat jelata.
H. Samanhudi mengundurkan diri dari pimpinan Sentral Komite SI dan tidak termasuk dalam susunan tahun 1915 yang diketuai oleh Umar Said Cokroaminoto, namun SI tetap menghargai jasanya dan diangkatlah H. Sa­manhudi sebagai ketua kehormatan. la masih menyaksikan Anggaran Dasar SI disetujui oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan suratnya tertanggal 18 Maret 1916.

Menginjak hari tua kehidupan H. Samanhudi tidak tampak dalam kebahagiaan. Perusahaan batiknya sama sekali bangkrut. Orang tua yang berjasa pada bangsanya itu hidup dari sokongan putera-puteranya yang berjumlah 9 orang (3 orang wanita dan 6 orang pria) dari dua orang ibu, semuanya dalam keadaan serba sederhana. Oleh karena itu H. Samanhudi pernah tinggal pada putera-puteranya berganti-ganti, di Nganjuk, Mojokerto, dan Klaten. la tinggal pada salah seorang puteranya dalam hidup melarat hingga wafatnya di Klaten, Jawa Tengah.
Baru pada tahun 1955 H. Samanhudi menerima bantuan dari Pemerin­tah RI sebagai Perintis Kemerdekaan dan mendapat hadiah sebuah Rumah Pahlawan. Hanya satu tahun ia mengenyam penghargaan dan bantuan itu ka­rena pada tanggal 28 Desember 1956 ia wafat di Klaten.
H. Samanhudi, namanya tercatat sebagai pendiri Serikat Islam dan pelopor pergerakan bangsa Indonesia, terutama umat Islam. Oleh Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden RI No. 590 tahun 1961 tanggal 9 November 1961 Kyai Haji Samanhudi dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Mohammad Hoesni Thamrin

 

Mohammad Hoesni Thamrin

Mohammad Husni Thamrin dilahirkan pada tanggal 16 Pebruari 1894 di Sawah Besar, Jakarta yang waktu itu, zaman penjajahan Belanda, disebut Batavia. Ayahnya, Thamrin bin Thabri, adalah seorang wedana, suatu kedudukan yang cukup tinggi untuk orang Indonesia di akhir abad kc-19. Moham­mad Husni Thamrin mempunyai saudara sekandung 6 orang, 5 orang laki-laki dan seorang perempuan.
la mendapat pendidikan untuk pertama kalinya pada Institut Bosch, semacam Sekolah Dasar swasta Belanda. Tamat dari sekolah ini ia melanjutkan pelajarannya ke Koning Willem III, sejenis Sekolah Menengah Tingkat Atas. Sesudah itu ia bekerja di kantor Kepatihan. Karena prestasinya cukup baik, ia dipindahkan ke kantor Karesidenan Jakarta. Tak lama kemudian ia pindah bekerja di kantor KPM Koninklijke Paketvaart Maatschappij atau (Kongsi Pelayaran Belanda) dengan gaji yang besar. Ia bekerja sebagai pemegang buku.
Bekerja di KPM itu adalah untuk yang terakhir Husni Thamrin bekerja sebagai pegawai. Selanjutnya ia mencurahkan tenaga dan pikirannya di bidang sosial dan politik.
Dalam masa mudanya Thamrin menyaksikan perkembangan kota kelahirannya. Dalam tahun 1905 didirikan Dewan Kota (Gemeenteraad) Betawi. Di Dewan Kota inilah kelak Thamrin berjuang untuk memperbaiki nasib penduduk dan perbaikan kotanya, khususnya perkampungannya.
Thamrin memang seorang yang berjiwa kemasyarakatan, la mencintai sesama bangsanya dan rakyat yang hidup menderita. Perhatian Thamrin terhadap masalah kemasyarakatan sudah timbul ketika ia bersekolah di Koning Willem III. Ia terpengaruh oleh Daart van der Zee, seorang Belanda sosialis, anggota Dewan Kota yang mempunyai cita-cita luhur untuk memperbaiki na­sib rakyat jelata. Dalam Dewan Kota itu ia menuntut supaya pemerintah mengadakan berbagai perbaikan untuk kepentingan rakyat. Tokoh lain yang dikagumi Thamrin ialah Koperberg dan Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudhi. Yang disebut terakhir ini seorang Indo, pendiri IP (Indische Partij) bersama-sama dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).
Persahabatannya dengan Daan van der Zee, menyebabkan Thamrin tertarik pada masalah kemasyarakatan. la menyadari bagaimana buruk keadaan sosial masyarakat Betawi pada waktu itu. Kota itu tidak menjamin kesehatan rakyat karena kampung-kampungnya becek dan kotor. Perhatian­nya kepada masalah kota itu dari sedikit ke sedikit diketahui orang hingga ada usaha agar Husni Thamrin duduk di dalam Dewan Kota. Pada tanggal 27 Oktober 1919 ia menghadiri sidang Dewan Kota Betawi untuk pertama kalinya sebagai anggotanya. Waktu itu ia masih di PKM dan berusia 25 tahun, usia minimal untuk dapat diangkat menjadi anggota Dewan Kota. Sejak itu ia berhubungan akrab dengan van der Zee sebagai rekan dalam Dewan Kota tersebut.

Pengangkatan Thamrin menjadi anggota Dewan Kota tidak menyenangkan bagi majikannya di KPM. Majikan ini berusaha menghalang-halangi Thamrin. Kepada Thamrin ditawarkan jabatan yang cukup tinggi dengan gaji yang akan diterimanya di Banjarmasin jauh lebih besar. la sudah bertekad untuk memperjuangkan nasib rakyat. Karena itu pada 17 September 1924 ia berhenti dari KPM.
Sebagai anggota Dewan Kota ia seringkali masuk kampung keluar kampung, menyaksikan keadaan rakyat dengan mata kepala sendiri. Ia berpidato di Dewan Kota, menuntut kepada pemerintah supaya segera memperbaiki kampung-kampung di Jakarta. Pidatonya mendapat tanggapan baik. Pemerin­tah turun tangan. Usaha pertama yang dilakukan ialah membuat saluran air yang cukup besar agar kampung-kampung terhindar dari banjir. Usaha itu kemudian ditingkatkan dengan membangun ”Kanal Ciliwung”.
Sementara itu telah berdiri sebuah organisasi yang benama ”Kaum Betawi”. Organisasi ini didirikan pada tanggal 1 Januari 1923, dan bertujuan: ”Memajukan perdagangan, pendidikan dan kesehatan masyarakat”. Tujuan itu akan diusahakan, antara lain dengan cara menarik perhatian anggota-anggota Dewan Kota. Tak ayal Thamrin memasuki organisasi ini, kemudian ia diangkat men­jadi ketuanya. Di bawah pimpinan Husni Thamrin perkumpulan Kaum Beta­wi mengalami perkembangan yang pesat.
Sejak memasuki Dewan Kota perjuangan Thamrin semakin bertambah luas. Perhatiannya terhadap pergerakan nasional semakin besar pula. Partai-partai politik PNI (Partai Nasional Indonesia) dan ”Serikat Islam” (SI) me­narik perhatiannya. Tokoh yang paling menarik perhatiannya ialah dr. Sutomo yang bekerja secara pelan-pelan tetapi pasti.
Nama Husni Thamrin makin lama makin menanjak dan kecakapannya pun makin menonjol. Ia terpilih sebagai seorang dari empat orang Wethouder (pembantu Wali Kota). Pada tahun 1929 jabatan Loco (baca: Loko) Bur­gemeester Wethouder Belanda yang lebih muda dari Thamrin. Akibatnya golongan nasionalis dalam Dewan Kota memprotes. Dalam protesnya mereka mencalonkan M.H. Thamrin. Karena protesnya dianggap sepi, maka para anggota itu mengundurkan diri dari Dewan Kota. Hal ini menimbulkan kegoncangan, akhirnya tuntutan mereka dipenuhi. Anggota-anggota Dewan Kota tersebut diangkat kembali dan Husni Thamrin dinaikkan menjadi Loco Burgemeester II, bahkan enam bulan kemudian menjadi Loco Burgemeester.
Dalam tahun 1927 terdapat lowongan dalam Volksraad. Pemerintah menawarkan kepada Cokroaminoto untuk menduduki kursi itu, tetapi ia menolak. Begitu pula halnya dengan dr. Sutomo. Akhirnya Thamrin ditawari dan ia bersedia menduduki kursi keanggotaan Volksraad. Dengan demikian ruang lingkup perjuangannya bertambah luas, tidak hanya untuk wilayah Betawi (Jakarta), tetapi untuk seluruh Indonesia. Dalam Volksraad ia pun menunjukkan kecakapannya.
Tugas dan tanggung jawabnya semakin besar. Dan sementara itu kegiatannya dalam Volksraad pun tetap meningkat. Antara tahun 1927 dan 1930 masalah Poenale Sanctie (baca: Punale Sangsi) menarik perhatian masyarakat. Poenale Sanctie adalah semacam hukuman yang dikenakan oleh pengusaha perkebunan Belanda kepada para kuli yang dianggap salah atau menyalahi kontraknya. Kuli-kuli itu dicambuk atau dipukul seperti hewan. Seringkali ada kuli yang tak tahan siksaan lalu mengamuk dan membunuh pengawas perkebunan.

Berita tentang kejadian di perkebunan-perkebunan, terutama perke­bunan tembakau di Sumatera Utara dimuat dalam surat-surat kabar. Para anggota Volksraad termasuk Thamrin membacanya. Mereka mendesak supaya pemerintah mengirimkan utusan untuk menyelidiki masalah tersebut. Akhimya pemerintah mengirimkan utusan yang terdiri atas Thamrin dan Kusumo Utoyo. Mereka menyaksikan penderitaan para kuli perkebunan sebagai akibat adanya Poenale Sanctie. Hasil penyelidikan mereka dibicarakan dalam sidang Volksraad tanggal 27 Januari 1930.
Pidato Thamrin dalam Volksraad mendapat tanggapan yang luas, bukan saja, di dalam negeri tetapi juga di luar negeri, terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Masyarakat luar negeri mengetahui bagaimana sengsaranya para buruh perkebunan di Indonesia. Mereka mengecam tindakan pemerintah Be­landa. Di Amerika timbul kampanye untuk tidak membeli tembakau Deli selama Poenale Sanctie masih berlaku. Akibat reaksi-reaksi, kemudian Poenale Sanctie dihapuskan.
Pada tanggal 27 Januari 1930 dibentuk ”Fraksi Nasional” dalam Volksraad yang diketuai oleh M.H. Thamrin. ”Fraksi Nasional” terkenal dengan kecaman-kecaman pedasnya terhadap tindakan Pemerintah Kolonial yang menangkapi pemimpin-pemimpin PNI. Tindakan yang membawa korban dan banyak keluarga menderita itu telah menggerakkan Thamrin membentuk ”Fonds Nasional” untuk membantu korban-korban di kalangan kaum pergerakan.
Pikiran dan tindakan politis Husni Thamrin telah mendorong ”Kaum Betawi” masuk dalam PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) yang terbentuk dalam tahun 1927 di Bandung. M.H. Thamrin terpilih menjadi bendaharawannya. Pada tahun 1932 dalam kongresnya di Surabaya ia terpilih menjadi Ketua PPPKI dengan wakil ketua Otto Iskandardinata rekannya dalam Volksrrad.
Sementara itu Thamrin juga tidak tinggal diam ketika banyak pemimpin Indonesia dari Partai Nasional Indonesia (PNI) terutama Ir. Sukarno ditahan oleh Pemerintah kolonial dan rumah-rumahnya digeledah dengan semena-mena.
Dengan sengit Thamrin mencela tindakan pemerintah itu antara lain dikatakan. ”bahan penggeledahan yang demikian itu tidak dapat dipertanggung-jawabkan alasannya malahan telah mendapat sifat provocate sifat memancing-mancing adanya.”
Kaum terpelajar Indonesia makin banyak yang terjun dalam pergerakan, namun di segala bidang mereka itu masih perlu digerakkan. Untuk maksud itu pada tahun 1932 dibentuklah VIA (Vereniging van Indonesia Akademici = Perhimpunan kaum Akademisi Indonesia). Dr. G.S.S.Y. Ratulangi menjadi ketuanya dan Thamrin masuk anggota pula. Dalam kongresnya beberapa tokoh dari luar negeri antara lain Tanuguchi, redaktur koran Mainichi Osaka dan T. Kube. redaktur koran Nichiran Shimbun dan Futani anggota Parlemen Jepang. Thamrin menganjurkan kepada kedua wartawan itu agar menulis dalam surat kabar mereka supaya Jepang tidak membeli gula dari Indonesia karena buruh di perkebunan tebu di Indonesia mendapat perlakuan kejam oleh pihak pengusaha. Anjuran itu menimbulkan heboh di kalangan pejabat Pemerintah Belanda dan Thamrin mendapat peringatan keras.
Selain dalam VIA Thamrin giat pula dalam organisasi lain. Ketika dalam tahun 1935 terbentuk ”Partai Indonesia Raya” (Parindra) yang merupakan fusi ”Budi Utomo” (BU) dan ”Persatuan Bangsa Indonesia” (PBI), Tham­rin memasuki partai ini. Parindra diketuai oleh dr. Sutomo yang sudah sejak lama dikagumi oleh Thamrin.

Dalam Parindra Thamrin terpilih sebagai ketua Departemen Politik. Berkat usaha Thamrin anggota Parindra bertambah. la mempunyai cara tersendiri dalam menambah anggota partai. Kepada anggota-anggota yang ke 10.000 dijanjikan hadiah sebuah jam tangan. Dan janji itu memang ditepatinya. Bagi Thamrin masalah keuangan bukanlah masalah yang sulit, ia memiliki yang ia sediakan guna kepentingan perjuangan.
Tanggal 30 Mei 1938 dr. Sutomo meninggal dunia. Thamrin diangkat menjadi Wakil Ketua PB Parindra. Ia melakukan propaganda ke beberapa daerah di Sumatera untuk mempopulerkan partai tersebut.
Sementara itu PPPKI semakin lemah, dan pada tahun 1939 lahir gabungan baru, yakni ”Gabungan Politik Indonesia” (GAPI) dengan tujuan dan slogannya ”Indonesia Berparlemen”. Partai-partai dan organisasi bergabung ke dalamnya termasuk Parindra yang diwakili Thamrin.
Dalam tahun 1939 itu pula Thamrin mengajukan mosi dalam Volksraad agar pemerintah menggunakan kata Indonesia, Indonesia dan Indonesier se­bagai pengganti kata Nederlands Indie, Nederlands Indis dan Inlander. Thamrin meminta agar kata-kata yang diusulkannya itu dipakai dalam Undang-undang dan Peraturan-peraturan Pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah menolak usul itu dengan alasan. bahwa pembicaraan tentang pemerintahan dalam hubungannya dengan usul itu tidak dapat diadakan, karena situasi sangat gawat. Pada waktu itu negeri Belanda sedang terlibat dalam Perang Dunia II.
Thamrin amat kecewa terhadap penolakan pemerintah terhadap usulnya. Kekecewaan itu bertambah dengan tindakan pemerintah membubarkan rapat umum Parindra di Cirebon bulan Pebruari 1940, di mana ia berpidato menguraikan tuntutan ”Indonesia Berparlemen” dari GAPI, katanya:
”Rakyat Indonesia tidak dapat menunggu persetujuan dari negeri Be­landa tentang tuntutannya” Indonesia Berparlemen” kita harus berjuang un­tuk mencapai tujuan itu dengan kekuatan sendiri.
Pidato yang tajam itulah yang menjadi alasan pemerintah membubarkan rapat umum Parindra. Alasan itu tak dapat diterima oleh Thamrin dan ia menggugat peristiwa tersebut dalam sidang Volksraad Maret 1940.
Kekecewaan Thamrin memuncak ketika pemerintah melarang kongres Parindra di Banjarmasin yang direncanakan akan dilaksanakan bulan Mei 1940. Sebabnya, Negeri Belanda diserbu oleh Nazi Jerman dan Hindia Belanda dinyatakan dalam Keadaan Bahaya (SOB). Kegiatan politik dilarang, namun dalam bulan Juni 1940 GAPI menyatakan menuntut ”Indonesia Ber­parlemen”.
Mei 1940 harian ”Pemandangan” yang dipimpin oleh M. Tabrani mengecam tindakan pemerintah. Kecaman itu berakibat ”Pemandangan” dilarang terbit selama seminggu. Pada tanggal 6 Januari 1941 rumah M. Tabrani digrebeg dan diketemukan di sana surat pribadi Thamrin mencaci-maki pemerintah Hindia Belanda.
Pemerintah menganggap Thamrin sudah cukup berbahaya. Tanggal 6 Januari 1941 ia dikenakan tahanan rumah. Pada waktu itu Thamrin sedang sakit, ia tidak boleh dikunjungi oleh kawan-kawannya kecuali dokter pribadinya, yakni dr. Kayadu, isteri Thamrin, anak angkat, dan pembantunya yang setia, Entong.
Dalam keadaan sakit dengan status tahanan rumah itu Thamrin masih saja memberikan perhatiannya kepada perjuangan nasional. Ia masih mengirimkan pesan kepada kawan-kawannya secara sembunyi-sembunyi.

Beberapa kali ia jatuh pingsan. Sekalipun dr. Kayadu yang merawatnya berusaha sekuat tenaga menyelamatkan nyawanya, namun Tuhan menentukan Iain. Pukul 03.00 pagi tanggal 11 Januari 1941 dr. Kayadu meninggalkan rumah Thamrin. Ia memerintahkan Entong, supaya selalu duduk di dekat Thamrin sambil memijit kakinya. Tetapi satu jam kemudian Thamrin meninggal dunia. Wafatnya hanya disaksikan oleh isterinya, anak angkatnya dan Entong. Tak ada teman-teman seperjuangan yang melepasnya, bahkan waktu ia masih dirawat teman-temannya dilarang pemerintah untuk menjenguknya.
Jenazahnya dikebumikan di Pekuburan Karet, Jakarta. Peti jenazahnya ditutupi dengan bendera Parindra, hijau-merah-putih. Banyak juga pembesar Belanda yang menghormati keberangkatan iringan-iringan jenazah. Pemimpin-pemimpin Indonesia banyak yang datang melawat. Dari tempat-tempat lain banyak dikirimkan pernyataan bela sungkawa. Anggota-anggota PB Parindra termasuk ketuanya, Wuryaningrat, hadir pada upacara itu. Beratus karangan bunga dan surat kawat bela sungkawa mengalir. Iring-iringan jenazah dikawal oleh barisan Surya Wirawan (Pemuda Parindra) dengan tertib. Wakil Pemerintah Hindia Belanda menyampaikan pidato bela sungkawa. Dari pihak masyarakat berbicara wakil GAPI, ketua PB Parindra dan rakyat di sepanjang jalan memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpinnya yang telah berjasa. Doa dan talkin di makam dibacakan oleh Habib Ali, salah seorang guru agama almarhum.
Dalam sidang Volksraad pertama sepeninggal MM. Thamrin ketua Vclksraad dalam pidato pembukaannya menguraikan ringkas jasa-jasa almar­hum sebagai pemimpin yang cakap dan cerdas.
Hingga wafatnya itu Pemerintah Hindia Belanda tidak pernah mengadakan penjelasan tentang alasan-alasan dan dugaan apakah kiranya yang menjadi sebab menahan M.H. Thamrin.
Yang terungkap kemudian ialah, bahwa yang dicari oleh polisi Hindia Belanda di kantor harian ”Pemandangan” bukan klise surat M.H. Thamrin, tetapi pidato radio Anwar Cokroaminoto, redaktur harian itu, di muka corong PPK (Perkumpulan Penyiaran Radio Ketimuran). Hal itu dirahasiakan untuk melindungi Anwar Cokroaminoto yang terkenal dengan nama samarannya Bung Bejat, dan harian ”Pemandangan” agar jangan sampai dilarang terbit dibreidel. Demikianlah ungkapan Anwar Cokroaminoto pada tahun 1970 kepada wartawan Soebagjjo I.N.
Masyarakat Jakarta mengenang jasa-jasa M H. Thamrin sepanjang masa dan telah memberikan kepadanya nama kesayangan, yaitu abang Betawi, atau sekarang disebut Abang Jakarta. Cita-cita memperbaiki perkampungan Jakarta untuk kepentingan rakyat sehat diteruskan oleh ”Proyek M.H. Thamrin”.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa almarhum. Berdasarkan SK Presiden R.I. No. 175 tahun I960 tertanggal 28 Juli 1960 Mohamad Husni Thamrin dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

R.M Surjopranoto

R.M. Surjopranoto

Pemerintah Hindia Belanda pernah memberikan geiar De Stakingskoning (Raja Pemogokan) kepada seorang laki-laki bangsa Indonesia karena kegiatan-kegiatannya dalam memimpin pemogokan kaum buruh menentang penjajahan Belanda. Sebaliknya Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional sebagai penghargaan atas jasa-jasanya memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan tanah airnya.
Laki-laki itu bernama Iskandar, tetapi lebih dikenal dengan nama Suryopranoto; cucu Pakualam III. Ayahnya bernama Pangeran Suryaningrat. la lahir di Yogyakarta tahun 1871 dan berhak memakai gelar R.M. (Raden Mas), la adalah kakak Ki Hajar Dewantara, berlainan ibu.
Suryopranoto menempuh pendidikan di ELS (Europeesche Lagere School) dan sesudah itu ia berhasil memperoleh ijazah Klein Ambtenaar lewat ujian. Dengan bermodalkan ijazah itu ia bekerja sebagai pegawai negeri di kantor Kontrolir di Tuban. Tugas itu tak lama dipegangnya. Pada suatu kali ia menempeleng atasannya seorang Belanda, karena atasan ini menghina seorang pegawai bangsa Indonesia. Suryopranoto dipanggil ke Yogya dan diangkat se­bagai Wedana Sentana dengan tugas mengurus keluarga Pakualaman. Di Yogya pun ia terlibat dalam suatu pertengkaran dengan seorang Belanda. Sikap suka menentang seperti itu sudah tampak sejak ia bersekolah di ELS. Di sekolah ini ia sering memukul anak-anak Belanda yang mengejek anak-anak Indonesia.
Pemerintah Belanda mengalami kesulitan untuk bertindak terhadap Sur­yopranoto, sebab ia adalah cucu Pakualaman III yang masih bertahta. Secara halus Residen Yogya mengirimnya ke Bogor dengan dalih untuk disekolahkan pada Sekolah Pertanian bagian Eropa, Europeesche Afdeling. Bagaimanapun, kesempatan itu dipergunakan Suryopranoto. Ia lulus dalam tahun 1907.
Setahun kemudian pemerintah mengangkatnya sebagai pegawai pada Dinas Pertanian di Batur, daerah Dieng, Wonosobo, dengan tugas mengawasi perkebunan tembakau. Sesudah itu ia diserahi tugas sebagai pemimpin Seko­lah Pertanian di Wonosobo. Dalam masa itu pula ia memasuki Sarekat Islam (SI) dan menjadi anggota yang aktif dan terkemuka.
Peristiwa yang hampir serupa seperti yang dialaminya di Tuban terulang lagi dalam tahun 1914. Pimpinan Dinas Pertanian Wonosobo memecat seorang pegawai Indonesia karena pegawai itu menjadi anggota Sarekat Islam. Suryopranoto menilai bahwa pemecatan itu tidak adil. la melancarkan protes. Dengan marah ia menyobek-nyobek ijazah Sekolah Pertanian yang diperolehnya di Bogor dan melemparkan kunci-kunci kantor di muka atasannya. Saat itu juga ia minta berhenti dan bersumpah untuk selama-lamanya tidak lagi menjadi pegawai negeri.

Sesudah berhenti dari pegawai negeri, Suryopranoto mencurahkan perhatiannya untuk membela rakyat kecil yang tertindas akibat penjajahan, terutama kaum buruh yang hanya menjual tenaga semata-mata. Masalah perburuhan dipelajarinya dengan tekun. Pada masa itu pengusaha-pengusaha besar Belanda. khususnya kaum industriawan gula, tembakau dan lain-lain mempunyai pengaruh yang besar sehingga pemerintah Belanda kewalahan menghadapinya. Peraturan-peraturan yang mereka buat sangat merugikan kedudukan kaum buruh. Untuk menghadapinya, dalam tahun 1915 Suryopranoto membentuk gerakan petani dan buruh dengan nama Arbeidsleger Aum Dharma (Barisan Buruh Adhi Dharma). Organisasi ini disusun seperti organisasi militer. Cabang-cabangnya didirikan sampai ke pelosok-pelosok dusun.
Adi Dharma bergerak di bidang pendidikan dan ekonomi. Usaha-usaha-nya meliputi tabungan, koperasi, kesehatan, bantuan hukum. Asas yang dipakai ialah tolong-menolong. Anggota Adhi Dharma meliputi jumlah puluhan ribu orang yang sebagian besar terdiri atas kaum buruh dan tani. Untuk meningkatkan pendidikan, didirikan sekolah yang setaraf dengan HIS (Hoollandsch Inlandsche School).
Untuk menambah pengetahuan anggotanya. Adhi Dharma menyelenggarakan kursus-kursus politik. Suryopranoto memberi pelajaran tentang ”Sosiologi”, sedangkan Haji Fahruddin dan Haji Umar Said Cokroaminoto dari Serikat Islam memberikan kursus mengenai ”Islam dan Sosialisme”. Organi­sasi ini juga mengadakan hubungan dengan ISD (Indische Sociaal Demokratische Vereeniging) khususnya dalam merancang pemogokan kaum buruh. Kaum industriawan Belanda yang tergabung dalam PEB mulai khawatir melihat kegiatan Adhi Dharma. Begitu pula Pemerintah Hindia Belanda. Oleh ka­rena itu pemerintah melarang Adhi Dharma bergerak di bidang perburuhan. Kantor besarnya dijaga Polisi. Suryopranoto dilarang berbicara di depan umum. Untuk menghentikan kegiatannya, ia pernah ditawari sejumlah uang suap, tetapi tawaran itu tidak dapat menggoyahkan pendirian dan cita-citanya untuk memperbaiki nasib kaum buruh.
Sekalipun aktif memimpin Adhi Dharma, Suryopranoto tidak mengabaikan SI. Malahan dalam partai ini kedudukannya bertambah kuat, terutama karena ia menguasai soal-soal perburuhan. Di depan Kongres SI di Surabaya tahun 1919 ia mengemukakan teori, bahwa perjuangan buruh tidak selalu harus dengan senjata, tetapi dapat pula dijalankan dengan paksaan secara moral, dengan protes-protes, perundingan di muka umum dan jika perlu dengan pemogokan. Cara terakhir inilah yang sangat menarik perhatiannya dan cara itu pulalah yang sering dipakainya untuk memperjuangkan nasib kaum buruh.
Dalam Kongres SI itu diusulkannya pula agar dibentuk “Persatuan Perhimpunan Kaum Buruh” (PPKB) yang beranggotakan perkumpulan-perkumpulan buruh yang ada di bawah naungan SI. Suryopranoto sendiri sudah mendirikan persatuan buruh, yakni PFB (Personeel Fabrieks Bond). Ia juga mengusulkan agar PPKB bekerja atas tiga dasar, yakni melaksanakan “perjuangan kelas”, mengadakan aksi-aksi politik sesuai dengan tujuan demokrasi sosial, dan mengadakan usaha-usaha koperasi.
Perjuangan kelas yang dimaksudkan Suryopranoto didasarkan atas faham Islam, bukan faham komunis yang pada waktu itu sudah mulai menampakkan pengaruhnya dalam SI.

Dalam pertemuan di Yogyakarta pada akhir tahun 1919 PPKB berhasil didirikan. Sebagai Ketua diangkat Semaun, sedangkan Suryopranoto sebagai Wakil Ketua dan Agus Salim sebagai Sekretaris. Organisasi ini kemudian pecah menjadi dua kelompok, yakni kelompok Yogyakarta dengan Suryopranoto, Agus Salim dan Abdul Muis, dan kelompok Semarang dengan Semaun dan Alimin.
Aksi-aksi pemogokan yang dilancarkan oleh Suryopranoto semata-mata bertujuan menuntut kenaikan upah dan jaminan-jaminan sosial, sedang ke­lompok Semarang bertujuan membuat aksi-aksi itu untuk mencapai tujuan politik yang berdasarkan faham Marxisme. Perbedaan dasar perjuangan itu berkembang menjadi pertentangan dan berakhir dengan perpecahan di dalam SI, Kelompok Semaun, Alimin, Tan Malaka dkk. memisahkan diri dan mendirikan Partai Komunis Hindia pada tahun 1920 yang pada tahun 1924 menjadi PKI.
Pada tahun 1921 PFB mengadakan pemogokan di pabrik-pabrik gula. Setahun kemudian Suryopranoto memimpin pemogokan buruh Pegadaian. Sebabnya ialah, seorang pegawai bawahan bangsa Belanda menghina pegawai bumiputera yang pangkatnya lebih tinggi. Pemogokan ini diikuti oleh tidak kurang dari 3.000 orang pegawai Pegadaian.
Pemerintah Belanda mulai mengadakan reaksi. Banyak buruh yang ikut dalam pemogokan dipecat atau ditangkap. Untuk membantu keluarga mereka, Suryopranoto mendirikan sebuah badan dana dengan nama “Komite Hidup Merdeka”. Badan ini diketuai oleh Suryopranoto dan sekretarisnya Suwardi Suryanigrat (Ki Hajar Dewantara) dengan anggota-anggotanya H. Agus Salim dan H. Fahruddin.
Pada tahun 1932 terjadi konflik di dalam SI antara H.O.S. Cokroaminoto dan Agus Salim di satu fihak dengan dr. Sukiman dan Suryopranoto di lain fihak. Konflik ini menimbulkan perpecahan dalam Partai Serikat Islam Indonesia, (PSII) dan dr. Sukiman dan kawan-kawan lalu mendirikan “Partai Islam Indonesia” (PARII). Kedua partai itu pada tahun 1937 kembali bersatu.
Kegiatan Suryopranoto dalam Perserikatan-perserikatan Buruh dan Adhi Dharma, maupun dengan tulisan-tulisannya dalam majalah dan surat-kabar menyebabkan ia berurusan dengan alat kekuasaan kolonial. Berkali-kali ia dipenjarakan. Pada tahun 1923 ia dipenjarakan selama 3 bulan di Malang karena tulisannya di dalam surat kabar SI, kemudian dalam tahun 1926 di penjara Semarang selama 6 bulan dan yang terakhir dalam tahun 1933 di penjara Sukamiskin selama 16 bulan karena bukunya Seri Ensiklopedi Sosialisme. Sekeluarnya dari penjara ia diancam akan dimasukkan penjara 4 x 16 bulan bilamana berbuat-pelanggaran lagi dengan melawan Pemerintah Hindia Belanda.
Sementara itu Suryopranoto telah mencapai usia lanjut (62 tahun) dan fisik mengalami banyak sekali kemunduran karena penderitaannya di dalam penjara. Oleh karenanya ia lalu membatasi diri dengan memberikan kursus-kursus di dalam Instituut Adhi Dharma. la mendirikan “Universitas Rakyat” untuk menambah pengetahuan rakyat golongan bawah. Ilmu pengetahuan yang diberikan secara populer ialah antara lain: tatanegara, sejarah, ekonomi, sosiologi, geografi dan lain-lainnya. Di samping itu ia banyak menulis tentang pengetahuan praktis seperti bercocok tanam dan petunjuk berorganisasi. Tulisan-tulisan ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan kaum tani dan buruh. Di samping itu ia menulis tentang politik di surat-surat kabar.
Dalam masa pendudukan Jepang sekolah Adhi Dharma ditutup oleh Jepang dan Suryopranoto mengajar di Taman Tani Taman Siswa yang dibuka setelah sekolah menengahnya harus pula ditutup. Dengan mengajar di Taman Siswa itu Suryopranoto

menghindari kemungkinan diminta membantu pe­merintah Jepang. Di zaman kemerdekaan Suryopranoto tidak masuk sesuatu partai politik, kecuali menjadi simpatisan PSII. Namun ia masih memberikan kursus politik kepada para pemuda dan berhasil menerbitkan buku tentang Pelajaran Sosialisme dan Ilmu Tatanegara. Buku-bukunya itu memuat pengetahuan praktis yang secara cepat dapat dipahami oleh pembacanya. Pengetahuan demikian itu diperlukan sebagai bekal berjuang di zaman permulaan kemerdeka­an.
Mulai tahun 1949 ia berhenti sama sekali dari segala kegiatan karena usia lanjut. Fisiknya sudah semakin lemah. Pada tanggal 17 Oktober 1959 pukul 24.00 Suryopranoto wafat dengan tenang. Jenazahnya dikebumikan di makam keluarga “Rakhmat Jati” di Kotagede, Yogyakarta.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa yang telah disumbangkan Suryopra­noto kepada bangsa dan tanah airnya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No. 310 Tahun 1959 tertanggal 30 November 1959 R.M. Suryopranoto dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1960 ia mendapat Bintang Mahaputera Kelas II dan sebuah Rumah Pahlawan yang terletak di Kampung Pakel Baru, Yogyakarta. Kedua penghargaan terakhir itu diterima oleh keluarganya.

Ki Hajar Dewantara

 

Ki Hajar Dewantara

Seorang pemuda Indonesia berusia 24 tahun, dalam tahun 1913 menulis sebuah brosur yang menggoncangkan pemerintah Hindia Belanda. Brosur itu berjudul Als Ik een Nederlander was (Andaikata Saya Seorang Belanda). lsinya berupa kecaman halus tetapi tajam terhadap maksud pemerintah Be­landa mengadakan perayaan seratus tahun bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Perancis yang akan dilaksanakan Bulan November 1913. Yang tidak dapat diterima oieh penulis brosur ialah bahwa perayaan itu akan diadakan di Indonesia yang rakyatnya masih terjajah. Terlebih lagi untuk keperluan perayaan itu pemerintah memungut uang dari rakyat.
Penulis brosur itu adalah Suwardi Suryaningrat, yang kelak, setelah berusia 40 tahun mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. la dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 sebagai anak kelima Pangeran Suryaningrat, putera pertama Sri Paku Alam III. Suwardi memulai pendidikannya pada ELS (Europese Lagere School). Setelah tamat dalam tahun 1904, ia memasuki Kweekschool (Sekolah guru). Setahun kemudian ia pindah ke STOV1A (School tot Opleiding voor Inlandse Artsen) di Jakarta. Pendidikan di STOVIA tidak sempat diselesaikannya karena sakit. Sesudah itu ia bekerja pada pabrik gula Bagor di Banyumas dan kemudian sebagai asisten apoteker di Yogyakarta. Di samping itu ia menulis beberapa artikel dalam surat kabar berbahasa Belanda Midden Java di Yogyakarta dan De Express yang terbit di Bandung dan diasuh oleh E.F.E. Douwes Dekker. Karena tertarik pada tulisan-tulisan Suwardi, dalam tahun 1912 Douwes Dekker memanggilnya ke Bandung untuk bekerja pada harian De Express. Di kota ini ia memasuki Sarekat Islam, mula-mula sebagai anggota biasa dan kemudian menjadi ketua cabang Bandung. Sebelumnya, pada waktu Budi Utomo didirikan tahun 1908, ia pun memasuki organisasi ini.
Selain bekerja pada De Express, “Suwardi juga menjadi anggota redaksi harian Kaum Muda yang terbit di Bandung dan dipimpin oleh Wignyadisastra, Utusan Hindia di bawah pimpinan Umar Said Cokroaminoto di Surabaya dan Cahaya Timur dipimpin R. Joyosudiro di Malang. Tulisan-tulisannya bernada nasionalistis.
Kegiatan Suwardi tidak terbatas hanya pada tulis-menulis. Dalam tahun 1912 bersama dengan Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, ia mengadakan perjalanan keliling Pulau Jawa dalam rangka mempropagandakan pembentukan partai politik. Pada tanggal 25 Desember 1912 mereka mendirikan Indische Party. Tujuan partai ialah mempersatukan semua

orang yang lahir dan dibesarkan di Hindia Belanda (Indonesia) sebagai persiapan menuju kehidupan bangsa yang merdeka. Indische Partij mencanangkan semboyan Indie lost van Holland (Hindia bebas dari Negeri Belanda) dan “Indie voor Indiers” (Hindia untuk bangsa Hindia). Pada waktu itu istilah Indonesia dalam pengertian politik belum lagi dikenal.
Partai yang berhaluan radikal ini tidak berumur panjang. Pemerintah Belanda menolak mengesahkannya sebagai badan hukum dan bulan Maret 1913 partai ini bubar. Tetapi kegiatan Suwardi tidak terhenti.
Seperti sudah disebut pada awal tulisan ini, dalam bulan November 1913 pemerintah Hindia Belanda bermaksud mengadakan perayaan seratus tahun bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Perancis. Sebagai reaksi. di Bandung terbentuk Komite Bumi Putera yang diketuai oleh Cipto Mangunkusumo dengan Suwardi Suryaningrat sebagai sekretaris, Abdul Muis dan Wignjadisastra sebagai anggota. Komite mencetuskan tuntutan politik agar pemerintah membentuk parlemen sejati di Indonesia dan meningkatkan kecerdasan rakyat. Melalui brosur yang ditulis Suwardi, “Als Ik een Nederlander was”, Komite Bumiputera melancarkan protes terhadap rencana pe­rayaan tersebut. Dalam brosur itu Suwardi menulis antara lain;
“Andaikata saya seorang Belanda, tidaklah saya akan merayakan pesta kemerdekaan bangsa saya di negeri yang rakyatnya tidak kita beri kemerdekaan. Tidak dengan sengaja kita seolah-olah berteriak: Lihatlah, hai orang-orang bagaimana caranya kita memperingati kemerdekaan kita. Cintailah kemerdekaan, karena sungguh bahagialah rakyat yang merdeka lepas dari penjajahan…
“Andaikata saya seorang Belanda, pada saat ini juga saya akan memprotes hajat mengadakan peringatan itu. Saya akan mengingatkan kawan-kawan di koloni, bahwa berbahayalah di waktu ini mengadakan perayaan kemerdekaan itu. Saya akan menasehatkan sekalian orang Belanda supaya janganlah menghina rakyat di Hindia Belanda yang kini mungkin menunjukkan keberanian dan mungkin akan bertindak pula; sungguh saya akan memprotes dengan segala kekuatan yang ada.”
Dr. Cipto Mangunkusumo menulis pula dalam ”De Express” sebuah artikel yang berjudul ”Kracht of Vrees” (Kekuatan atau Ketakutan). Dua hari kemudian Suwardi menulis dalam harian yang sama artikel yang berjudul ”Een voor atteft, moor pok alien voor een” (Satu untuk semua, tetapi juga semua untuk satu). Akibat terbitnya brosur dan artikel-artikel tersebut, pemerintah menangkap Suwardi dan Cipto serta Wignyadisastra dan Abdul Muis. Dua orang yang terakhir ini beberapa hari kemudian dibebaskan.
Pada waktu Suwardi dan Cipto ditangkap, Douwes Dekker sedang berada di Negeri Belanda untuk mengikuti pembicaraan dalam Tweede Kamer (Parlemen) mengenai Indische Partij yang pengesahannya sebagai badan hukum telah ditolak oleh pemerintah. Setibanya kembali di Indonesia ia menulis artikel dalam De Express berjudul Onze Helden Cipto Mangunkusumo en Suwardi Suryaningrat (Pahlawan Kita Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat). Akibatnya, ia pun ditangkap.
Sementara Suwardi ditahan di Bandung, Pemerintah Belanda berusaha menggunakan pengaruh kakek dan ayahnya untuk mencegah niat Suwardi menentang pemerintah. Ayahnya, Pangeran Suryaningrat, memang berangkat ke Bandung, tetapi kepada anaknya dikatakannya, ”Ingat Suwar­di, seorang satria tidak akan menjilat ludahnya kembali.”
Penangkapan dan penahanan Suwardi, Cipto, dan Douwes Dekker menimbulkan reaksi baik di Indonesia maupun di Negeri Belanda, dan menjadi bahan pembicaraan yang ramai di koran-koran. Tetapi reaksi itu tidak mempengaruhi sikap pemerintah. Gubernur Jenderal menggunakan hak luar biasa (exorbitante rechten) dan menjatuhkan hukuman pengasingan dalan negeri terhadap ketiga tokoh tersebut. Douwes Dekker diasingkan ke Kupang, Cipto ke Banda Neaira, dan Suwardi ke Bangka. Atas permintaan mereka bertiga pengasingan dalam negeri diganti menjadi pengasingan ke Negeri Belanda. Bulan September 1913 ketiganya, bersama dengan isteri Suwardi, Sutartinah, meninggalkan Tanah Air menuju tempat pengasingan mereka. Pada waktu kapal berlabuh di Teluk Benggala, 14 September 1913, Suwardi menulis artikel dalam surat kabar yang dirujukan kepada teman-temannya agar mereka berusaha sekuat tenaga untuk rnenggagalkan perayaan 100 tahun bebasnya Negeri Belanda. Pada akhir tulisan itu dikatakannya, ”Dan bersedia-sedialah! Waktu perayaan kemerdekaan kita akan datang juga. Marilah kita berdoa semoga waktu itu lekas datang.” Cipto tidak tahan hawa dingin di Negeri Belanda, sehingga penyakit asmanya kambuh. Karena itu dalam bulan Juli 1914 ia dipulangkan ke Indonesia.

Masa pengasingan di Negeri Belanda dimanfaatkan Suwardi untuk belajar. Dalam bulan Juni 1915 ia berhasil memperoleh akte Guru Eropa. Ia pun memperdalam pengetahuannya di bidang jurnalistik. Untuk biaya hidup, karena pemerintah tidak memberikan bantuan keuangan, Suwardi menulis artikel di berbagai surat kabar. la pun giat mengadakan ceramah di depan masyarakat Belanda. Dalam ceramahnya Suwardi membentangkan keadaan yang sesungguhnya di Indonesia dan keinginan rakyat untuk merdeka.
Pengasingan Suwardi dan Douwes Dekker dicabut dalam bulan Agustus 1917. Tetapi karena masih dalam situasi Perang Dunia I, maka mereka belum dapat kembali ke Indonesia. Barulah dalam bulan Juli 1919 mereka meninggalkan Negeri Belanda dan tiba di Indonesia pada minggu pertama bu­lan September. Tetapi sebelum itu Suwardi telah menyiapkan pembentukan sebuah kantor berita yang diberi nama ”De Indonesische Pers Bureu” yang diresmikan bulan September 1918.
Kembali ke tanah air berarti kembali ke medan juang. Suwardi segera terlibat dalam kesibukan. la menetap di Semarang dan menjadi Sekretaris NIP(Nationaal Indische Partij), bahkan kemudian menjadi Ketua Pengurus Besar. la pun memimpin majalah NIP, De Beweging, majalah berbahasa Melayu Persatuan Hindia, dan majalah berbahasa Jawa Panggugah, serta membantu harian De Express.
Karena kegiatan-kegiatan politik, beberapa kali Ia dipenjarakan di Semarang. Artikel yang ditulisnya dalam Penggugah menyebabkan ia dikenakan persdelikt (ranjau pers) dan dihukum penjara selama tiga bulan di Pekalongan. Dalam penjara ini ia dicampur dengan narapidana kriminal, padahal ia seorang tahanan politik.
Setelah dibebaskan dari penjara, Suwardi mengajar selama satu tahun di sekolah Addhidharma yang dipimpin kakaknya, Suryopranoto, di Yogyakarta. Sementara itu ia sering mengikuti diskusi yang diadakan oleh Kelompok Selasa Kliwon. Anggota-anggotanya terdiri atas beberapa orang tokoh Budi Utomo aliran Wederophouw (Pembangunan dan Kebatinan). Kelompok ini berkesimpulan bahwa perjuangan bangsa menuntut kemerdekaan harus didasari penanaman benih kebangsaan dan kemerdekaan sejak kanak-kanak. Suwardi ditugasi menyelenggarakan pendidikan kanak-kanak lewat sekolah, sedangkan Pangeran Suryamentaram bertugas untuk mendidik orang dewasa yang kemudian membentuk perkumpulan Ngelmu Begjo (ilmu kebatinan).
Pada tanggal 3 Juli 1922 Suwardi Suryaningrat mendirikan perguruan Taman Siswa yang merupakan perwujudan dari cita-citanya selama ini. Melalui perguruan ini ia berusaha menanamkan rasa kebangsaan di hati anak didik. Ia yakin bahwa antara pendidikan dan gerakan politik terdapat hubungan yang erat seperti dikatakannya, ”Taman Siswa dan segala usaha sosial lainnya merupakan ladang atau sawah, dimana orang memupuk apa yang perlu bagi keperluan hidupnya. Gerakan politik merupakan pagar yang melindungi ladang dari gangguan binatang-binatang buas yang akan memakan dan menginjak-injak tunas-tunas tanaman.”

Taman Siswa berkembang cukup pesat. Dalam waktu singkat sudah berdiri lebih dari 100 cabang di seluruh Indonesia. Tetapi pemerintah Belanda merasa cemas, bukan hanya terhadap perkembangan Taman Siswa, tetapi juga terhadap perkembangan sekolah-sekolah swasta lainnya. Karena itu pemerintah berusaha mempersulit, bahkan mematikannya. Pemerintah mengeluarkan Wjlde Scholen Ordonantie (Ordonansi Sekolah Liar) yang mulai berlaku tanggal 1 Oktober 1932, Dalam ordonansi itu ditetapkan bahwa sekolah swasta yang tidak dibiayai oleh pemerintah harus minta izin baik untuk sekolahnya maupun untuk guru-gurunya. Peraturan itu jelas mempersempit ruang gerak perguruan swasta. Taman Siswa melawan keras ordonansi itu.
Ki Hajar Dewantara mengirim telegram protes kepada Gubernur Jenderal. la menuduh Gubernur Jenderal bertindak diktator mengenai suatu kepentingan yang menyangkut sendi tulang masyarakat yang beradab. la juga memperingatkan Gubernur Jenderal bahwa tindakan itu akan menimbulkan perlawanan yang kuat dari rakyat, walaupun akan dilaksanakan secara diam.
Sikap Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa mendapat sambutan hebat sekali dari seluruh masyarakat. Partai-partai politik dan badan federasinya PPPKI. Perkumpulan sosial, keagamaan, Muhammadiyah, NU, kewanitaan, pemuda, dan sebagainya mendukung sikap Ki Hajar Dewantara. Pers Nasional seluruh Indonesia demikian pula. Rapat umum oleh bangsa Indone­sia, Cina dan Arab di Pekalongan menolak keras ordonansi tersebut. Di Jakarta didirikan ”Komite Penyokong Perguruan Kebangsaan”. Budi Utomo dan Pasundan akan menarik semua wakilnya dalam Volksraad dan perwakilan di daerah-daerah bila ordonansi itu tidak dicabut.
Di Volksraad diajukan pertanyaan oleh anggotanya Wiranatakusuma mengenai ordonansi tersebut. Pertanyaan itu berkembang menjadi usul supaya pemerintah mencabut Ordonansi 17 September 1932 untuk waktu satu tahun. Usul itu diterima tanpa pemungutan suara. Maka dicabutlah Ordonansi Sekolah Liar itu.
Perjuangan Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa menang. Meskipun demikian Ki Hajar Dewantara menganjurkan supaya Taman Siswa tetap waspada dan bekerja dari alam agitasi ke alam organisasi, memperbaiki dan memperkuat organisasi Taman Siswa.
Di jaman pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara memberikan pengarahan perjuangan Taman Siswa, karena rintangan Jepang dengan kediktatoran fasismenya makin keras, pada 13 Maret 1944 Taman Dewasa (SMP) Taman Siswa di Yogyakarta yang muridnya berjumlah 3.000 orang dibubarkan oleh pemerintah Jepang. Selanjutnya Taman Siswa hanya diizinkan mengadakan sekolah kejuruan. Maka dibukalah Taman Tani dan Taman Rini untuk kerumahtanggaan.
Sejak berdirinya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) pada 8 Maret 1943, Ki Hajar Dewantara Pindah ke Jakarta, duduk dalam pimpinan yang disebut Empat Serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansur). Setelah Putera dijadikan Jawa Hookoo Kai (1 Maret 1944). Ki Hajar Dewantara pulang ke Yogyakarta dan mencurahkan tenaga dan pikirannya kembali kepada Taman Siswa.

Tanggal 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itulah saat yang paling bahagia bagi Ki Hajar Dewantara yang selama hidupnya telah memperjuangkan kemerdekaan tanah air dan bangsanya dengan pengorbanan yang berat. Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendi­dikan dalam kabinet presidentil yang pertama.
Ki Hajar Dewantara selama hayatnya tidak pernah berhenti dari perjuangan untuk mencapai kemerdekaan dan kemudian ikut dalam penyelenggaraan kemerdekaan dengan berbagai kegiatannya. Kawan dan lawan segan kepadanya dan memuji sifatnya yang ikhlas, tekun, cerdas, pintar, konsekuen, penuh tanggung jawab.
Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta. Jenazahnya dikebumikan di makam Wijayabrata, makam keluarga Taman Siswa. Untuk mengenang jasa dan perjuangannya di bidang pendidikan, hari lahir Ki Hajar Dewantara, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Pemerintah RI, berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959 menganugerahi Ki Hajar Dewantara gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Abdul Muis

Abdul Muis bwDunia kesusastraan Indonesia mengenal Abdul Muis sebagai pengarang yang cukup produktif. Bukunya ”Salah Asuhan ” yang bertemakan kritik sosial, sering dibicarakan orang. Kalangan politik, khususnya dalam masa pergerakan Nasional, mengenal Abdul Muis sebagai salah seorang tokoh Serikat Islam (SI) yang berani dan sanggup membangkitkan semangat massa melalui pidato-pidatonya.

la lahir tanggal 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Jabatan ayahnya sebagai Tuanku Laras (setingkat Wedana) memungkinkan setamat dari ELS Abdul Muis memasuki STOVIA (School tot Oleiding Voor Inlandsche Artsen) atau Sekolah Dokter Bumi Putera di Jakarta. Waktu diadakan ujian pratikum, Abdul Muis jatuh pingsan. Ternyata ia tidak tahan melihat darah. Dengan demikian gagallah cita-cita Muis untuk menjadi dokter.
la lalu beberapa waktu lamanya bekerja sebagai pegawai negeri pada Departemen Van Eredienst en Nijverhid (Departemen Agama dan Kerajinan). Sesudah itu ia pindah ke harian ’Preanger Bode” surat kabar Belanda yang terbit di Bandung. Tugas Abdul Muis adalah mengoreksi karangan-karangan yang akan dimasukkan ke percetakan. Dengan sendirinya ia membaca karangan-karangan Belanda berisi penghinaan terhadap bangsa Indonesia.
Perasaan Muis tersinggung. Ia mengajukan protes kepada atasannya, tetapi tidak pernah ditanggapi. Hal itu mendorongnya untuk juga menulis karangan-karangan yang menangkis penghinaan yang dilontarkan terhadap bangsanya oleh penulis-penulis Belanda. Artikel-artikel itu dikirimnya ke hari­an ”De Express” harian berbahasa Belanda yang dipimpin oleh Douwes Deker (Danudirja Setiabudi), seorang Indo yang menentang penjajahan Be­landa.
Sementara itu pertentangannya dengan pimpinan Preanger Bode semakin meningkat. Akhimya Muis meninggalkan Preanger Bode dan pindah bekerja ke harian ”Kaum Muda”. Di sini ia diterima menjadi pimpinan redaksi.
Melalui harian ”Kaum Muda” ia dapat menyalurkan hasratnya tanpa ada yang menghalangi. Tulisan-tulisannya bernada tajam mengecap pemerintah. Ia juga mengasuh ruangan ”pojok” yang terdapat pada harian itu, yang diberinya nama ”Keok”, artinya kalah atau serba salah. Dalam ruangan pojok itu ia melontarkan sindiran yang tajam, tetapi lucu. Penggemar ”Keok” bukan saja tokoh-tokoh Pergerakan Nasional, tetapi juga pegawai pemerintah. Di samping itu ia juga membantu harian ”De Express” dan duduk dalam staf redaksi. Tulisan-tulisannya ditandai A.M. dari Abdul Muis.

Selain menulis, Abdul Muis terkenal pula pandai berdebat dan berpidato. Dengan bekal itu ia terjun ke dalam gelanggang pergerakan nasional. Waktu di Bandung didirikan cabang ”Sentral Islam” (SI) Muis masuk menjadi anggota. Mula-mula ia hanya tercatat sebagai anggota biasa, tetapi berkat kegiatan dan kecakapannya, tak lama kemudian ia diangkat menjadi Wakil Ketua SI cabang Bandung, dan sebagai ketua adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Selain itu ia duduk pula sebagai anggota pimpinan sentral komite pengurus pusat SI.
Perhatiannya kepada Pergerakan Nasional semakin besar dan sejalan dengan itu, sikapnya terhadap Pemerintah Kolonial semakin tegas.
Pada bulan November 1913 Pemerintah Hindia Belanda bermaksud mengadakan perayaan besar-besaran memperingati ”100 Tahun Kemerdekaan Negeri Belanda” (Dari Penjajahan Perancis). Untuk membiayai peringatan perayaan itu pemerintah memungut uang dari rakyat. Kaum nasional Indone­sia menganggap tindakan itu sangat tidak adil. Rakyat Indonesia masih berada dalam kungkungan penjajahan, tetapi diharuskan memberikan uang untuk memperingati perayaan kemerdekaan bangsa yang sedang menjajah mereka.
Maka atas prakarsa Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), dr. Cipto Mangunkusumo dan Wignyadisastra (Harian Kaum Muda) dibentuklah ”Komite Bumi Putera”, yaitu komite yang akan merayakan ”100 tahun kemerdekaan negeri Belanda” dengan caranya sendiri berbeda dengan cara Pemerintah Kolonial merayakannya. Abdul Muis giat di dalam komite itu. ”Komite Bumi Putera” dibentuk sebagai protes terhadap tindakan pemerin­tah. Selain itu komite bermaksud pula mengirimkan telegram kepada Ratu Wilhemina supaya di Indonesia dibentuk parlemen yang sesungguhnya.
Suwardi Suryaningrat melancarkan protes melalui tulisannya yang berjudul ”Als ik eens Vederlander was” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Dengan cara halus ia menyindir pemerintah Belanda yang bermaksud meraya­kan hari kemerdekaan di tanah jajahannya. Dr. Cipto Mangunkusumo pun menulis artikel berjudul ”Kracht of Vrees” (Kekuatan atau Ketakutan).
Pemerintah segera bertindak, Suwardi, Cipto, Wignyadisastra dan Ab­dul Muis ditangkap dan ditahan di dalam penjara. Douwes Dekker membela mereka dengan menulis artikel berjudul ”Onze helden, Cipto Mangunkusumo, en R.M. Suwardi Suryaningrat” (Pahlawan kita, Cipto Mangunkusumo, dan RM. Suwardi Suryaningrat). Tulisan itu ia menyebabkan ia ditangkap dan dipenjarakan pula. Abdul Muis dan Wignyadisasira dilepaskan dari tahanan sedang ketiga orang lainnya dihukum buang dalam negeri. Atas permintaan mereka hukuman itu diganti dengan pengasingan ke negeri Belanda.
Meskipun telah mengalami penahanan, Muis tetap giat dalam politik. Dalam tahun 1916 di Bandung dilangsungkan Kongres Nasional pertama Sentral SI. Dalam kongres itu semakin keras terdengar suara-suara yang menyatakan ketidakpuasan rakyat terhadap politik jajahan. Abdul Muis dalam pidatonya mengatakan, bahwa SI memilih cara-cara itu tidak mendatangkan hasil, maka rakyat harus siap membalas kekerasan dengan kekerasan.
Sekalipun kegiatan Abdul Muis dalam partai sudah banyak menyita waktunya, namun bidang jurnalistik tidak ditinggalkannya sama sekali. Dalam tahun 1916 itu pula ia bekerja sama dengan Haji Agus Salim memimpin majalah ”Neraca”. Tugas sebagai redaksi ”Neraca” dijalankan selama delapan tahun. Karena penghasilan sebagai redaktur itu tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, maka ia pun bekerja sebagai pegawai pada ’Inlandsch Credietwezen” (Urusan Kredit Bumi Putera). Sejak bekerja di sini, ia memperhatikan nasib buruh dan para pegawai.

Sementara itu tahun 1914, Eropa dilanda oleh Perang Dunia I. Negeri Belanda terlibat di dalamnya. Dengan sendirinya masalah penahanan In­donesia menjadi pembicaraan dalam sidang Volksraad (Dewan Rakyat) yang dibentuk dalam tahun 1918. Waktu itu Abdul Muis sudah menjadi anggota Volksraad. Ia bersama Cokroaminoto sudah mewakili SI. Untuk membicarakan masalah pertahanan itu dibentuk sebuah komite yang disebut ”Indie Weerbaar” (Ketahanan Hindia Belanda). Komite itu mengirim utusan ke Negeri Belanda untuk memperjuangkan, agar di Indonesia dilaksanakan milisi. Utusan itu terdiri dari Abdul Muis. Dwijosewoyo (Wakil Budi Utomo), dan D. Van Hindeloopen.
Perjuangan untuk milisi itu gagal, tetapi Abdul Muis berhasil meyakinkan Pemerintah Belanda, bahwa di Indonesia perlu didirikan sekolah tinggi teknik. Hal itu kemudian berwujud dengan didirikannya ’Technise Hooge School” (Sekarang Institut Teknologi Bandung, ITB). Gagasan itu timbul setelah Abdul Muis mencoba naik pesawat terbang. Dari pengalaman itu ia yakin bahwa kemajuan teknik barat perlu dipelajari oleh pemuda-pemuda Indonesia.
Setelah kembali ke Tanah Air suara Abdul Muis makin keras menuntut perbaikan-perbaikan untuk rakyat. Ia sering mengadakan kunjungan-kunjungan ke daerah-daerah sebagai anggota Volksraad dan sebagai wakil SI. Dalam kunjungan ke Sumatera Barat ia berpidato mengenai perlunya pemerintahan sendiri bagi Indonesia. Selain itu dibahasnya pula soal rodi (kerja paksa) yang sangat memberatkan bagi penduduk.
Rodi itu dikatakan sebagai kerja paksa untuk yang dipertuan. Rakyat dianjurkan agar supaya berjuang untuk menghapuskan rodi. Daerah Sulawesi tak luput pula dari kunjungannya. Dalam kesempatannya ia berpidato, ia selalu menganjurkan para pemuda agar berusaha mencapai kemajuan. Pengalaman di luar negeri diceritakan kepada para pemuda tersebut, katanya ”Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang?!”
Pada tahun 1919 dalam SI timbul perpecahan. Semaun, Darsono, Alimin, dan tokoh-tokoh SI Semarang, sudah kemasukan ideologi komunis. Hal itu cukup membahayakan kehidupan partai. Karena itu Abdul Muis dan Agus Salim mengusulkan supaya diadakan disiplin partai, artinya orang-orang yang berhaluan komunis harus meninggalkan SI. Dengan cara demikian kelompok komunis keluar dari SI. Dalam tahun 1920 mereka mendirikan Partai Komunis Hindia kemudian menjadi PKI pada tahun 1924.
Perhatian Abdul Muis terhadap perburuhan sudah dimulai ketika ia masih menjadi pegawai urusan kredit Bumi Putera. Sejak itu ia berjuang untuk memperbaiki keadaan sosial para buruh. Dalam tahun 1920 Muis dipilih menjadi ketua pengurus besar ”Perkumpulan Buruh Pegadaian” dan setahun kemudian ia sudah memimpin pemogokan buruh pegadaian di Yogyakarta bersama Suryopranoto. Yang disebut terakhir itu kemudian justru terkenal disebut ”Stangkingskoning” (Raja Pemogokan). Pemogokan itu dianjurkan sebagai senjata buruh untuk perbaikan nasib sebagai penuntutnya. Akibatnya banyak buruh yang dipecat dan Abdul Muis beserta beberapa pimpinan pe­mogokan lainnya ditangkap.
Setelah dibebaskan, ia kembali berjuang di lapangan Politik. Kegiatannya mulai mencemaskan Pemerintahan Belanda. Dalam tahun 1926 pemerin­tah bertindak. Ia dilarang tinggal di daerah kelahirannya, Sumatera Barat. Larangan ini disusul dengan larangan keluar Pulau Jawa. Di samping itu pula ia dilarang mengadakan kegiatan Politik. Tetapi ia diperbolehkan memilih daerah yang disukainya sebagai tempat pengasingannya.
Abdul Muis memilih tempat di daerah Garut, sebab di sana banyak pengikut SI. Dengan demikian ia masih dapat akan bergerak. Akan tetapi ternyata kemudian gerak-geriknya selalu diawasi oleh pemerintah. Akibatnya kegiatan politiknya menjadi berkurang namun ia masih sempat memimpin harian ”Mimbar Rakyat”. Tulisan-tulisannya dalam harian ini tetap tajam mengeritik pemerintah. Akibatnya harian itu dilarang terbit.

Hidup di dalam pengasingan dan dilarang melakukan kegiatan politik merupakan pukulan yang berat bagi seorang politikus. Karena itu dalam tahun 1937 Muis memutuskan untuk bekerja sebagai pegawai kontroler di daerah Garut. Hal itu dilakukannya supaya ia jangan menganggur, tetapi didorong pula oleh keyakinan, bahwa ia dapat bertindak tegas terhadap orang Belanda yang menyalahi peraturan. Banyak di antara mereka yang tidak menjalankan kewajiban membayar pajak, sewa listrik, air minum dan lain-lain. Dengan memilih bekerja kepada pemerintah itu, ia mendapat kritik dari kawan-kawannya, tetapi Muis tidak mengacuhkannya, sebab ia mempunyai tujuan tertentu. Sebaliknya ada pula temannya yang menganjurkan supaya ia meminta ampun kepada pemerintah, agar ia dapat hidup senang. Anjuran itu tidak diindahkannya.
Setelah bekerja selama dua tahun, Pemerintah Belanda mencabut keputusan pengasingan Abdul Muis. Dengan demikian ia kembali sebagai orang merdeka.
Masa di Garut itu merupakan masa penting pula bagi karir Abdul Muis sebagai Sastrawan. Selama berada di pengasingan hasratnya bergejolak, tetapi ia tidak dapat menyalurkannya. Dalam keadaan demikian jiwa sastra Abdul Muis tampil ke muka. la menulis buku yang kemudian cukup terkenal hingga sekarang yakni ”Salah Asuhan”. Sebenarnya sebagian dari isi buku itu adalah kisah nyata, yaitu tentang percintaan Muis dengan seorang gadis Belanda yang bernama Carry. ketika ia masih menjadi siswa STOVIA. Dalam buku itu ia menampilkan pertentangan dua generasi yakni generasi tua dan generasi muda. Secara tersirat ia mengingatkan bahwa generasi tua tidak seluruhnya salah. Persatuan antara dua generasi itu akan membawa manfaat yang besar bagi bangsa.
Selain ”Salah Asuhan” yang sangat terkenal itu Abdul Muis juga menulis beberapa buku lainnya, di antaranya ialah ”Pertemuan Jodoh, Daman Brandal, Sabai nan Alui (Cerita Rakyat Minangkabau) dan contoh Surat menyurat’’, ia juga menterjemahkan buku dan Bahasa asing, antara lain ”Sebatang Kara, Pangeran Krone, Tom Sawyer, Suku Mohawk Tumpas, Cut Nyak Din, dan Menuju Kemerdekaan (sebuah buku sejarah tentang kemerdekaan dan pergerakan Nasional Indonesia karangan D.M.G. Koch).
Dalam zaman Jepang nama Abdul Muis tidak banyak terdengar. Tetapi setelah kemerdekaan diproklamasikan, keinginannya untuk melakukan ke­giatan politik bangkit kembali. Dengan beberapa temannya ia membentuk ”Persatuan Perjuangan Priangan”, yang berpusat di Wanaraja, di luar Garut. Kegiatannya dalam badan ini menyebabkan ia mernpunyai dua lawan, yakni Belanda dan Dl/TII. Ia menjadi incaran kedua musuhnya dan karena itu ia terpaksa berpindah-pindah tempat ke tempat yang lain. Kepada Karto Suwiryo pimpinan DI/TII ia pernah berpesan supaya menghentikan aksi-aksi terornya. Ia sendiri rnenyatakan dengan tegas akan mempertahankan kemerdekaan yang sudah lama diperjuangkan.
Dalam mencapai usia lanjut kesehatan Abdul Muis mulai menurun. Penyakit jantung dan darah tinggi sering menyerangnya. Karena itu ia menolak tawaran untuk aktif bekerja di pemerintahan. Dalam tahun 1946 ia ditawari menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, tetapi ada saja orang yang iri. Orang itu menulis laporan palsu kepada Presiden Sukarno yang mengatakan bahwa sewaktu diasingkan di Garut, Abdul Muis pernah minta ampun
kepada Pemerintah Belanda. Padahal anjuran berbuat demikian ditolaknya mentah-mentah.

Sesudah Pengakuan Kedaulatan, Abdul Muis menghentikan kegiatannya dalam bidang Politik. Ia bekerja menterjemahkan. Beberapa buku berbahasa asing kebahasa Indonesia. Selama hidupnya ia kawin empat kali. Dari istrinya kedua, wanita Priangan, ia memperoleh dua orang anak Isterinya yang keempat bernama Sunarsih, wartawati ”Pres Agenschap Hindie Timur”. Dari isteri terakhir itu ia memperoleh sebelas orang anak. Pada tanggal 17 Juli 1959 ia meninggal di Bandung dalam usia 76 tahun.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasanya dan perjuangan Abdul Muis terhadap Bangsa Indonesia. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI. No. 218 Tahun 1959 tertanggal 30 Agustus 1959 Pemerintah R.I. menganugerahkan Abdul Muis gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Jendral A.H Nasution

A.H Nasution

Jendral Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918, beliau merupakan peletak dasar sistem gerilya pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda. Meski lahir di Sumatera Utara, Abdul Haris Nasution menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertamanya di Jogjakarta. Beliau lulus dari HIS di Jogjakarta pada tahun 1932. Abdul Haris kemudian melanjutkan ke HIS di kota yang sama dan selesai pada tahun 1935. Pendidikan menengah atas dijalaninya di AMS Bagiab B di Jakarta.

Setelah lulus dari AMS pada 1938, Abdul Haris Nasution kembali ke Sumatera. Nasution tidak kembali ke kota kelahirannya, tetapi menjadi guru di Bengkulu. Antara 1939 – 1940, Nasution mengajar di Palembang
Ternyata, Nasution muda lebih tertarik pada dunia militer. Beliau berhenti mengajar dan masuk Akademi Militer di Bandung. Pendidikan Militernya terhenti karena Jepang masuk Indonesia (waktu itu masih bernama Hindia Belanda) pada 1942. Pada zaman pendudukan Jepang, Nasution bekerja sebagai pegawai Kotapraja Bandung.
Setelah kemerdekaan, Abdul Haris Nasution kembali ke dunia militer. Beliau diangkat menjadi Komandan Divisi III Tentara Keamanan Rakyat (TKR/Tentara Republik Indonesia (TRI)) Bandung. Setelah adanya reorganisasi Tentara Nasional Indonesia jabatannya berubah menjadi Komandan Divisi I Siliwangi Bandung. Jabatan ini diemban Nasution hingga 1948.
Setelah ditandatangani persetujuan Renville pada Januari 1948, Divisi Siliwangi harus hijrah ke Jogjakarta. Di Jogjakarta Abdul Haris Nasution diangkat sebagai wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang (MBAP). Selanjutnya, Nasution menjadi Panglima Komando Jawa hingga 1949.
Pada 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Abdul Haris Nasution kemudian diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Saat menjabat KSAD, Nasution bersama TB Simatupang, Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia, bermaksud mengadakan restrukturisasi dan reorganisasi angkatan bersenjata. Rencana tersebut menimbulkan perpecahan di tubuh angkatan bersenjata. Nasution dan Simatupang didukung Perdana Menteri Wilopo dan Menteri Pertahanan Hamengkubuwono IX. Para Penentang restrukturisasi dan reorganisasi mencari dukungan dari partai-partai oposisi di parlemen.
Pada 17 Oktober 1952, Nasution dan Simatupang memobilisasi tentara untuk menunjukkan kekuatan dan menentang campur tangan sipil dalam urusan militer. Mereka mengepung istana presiden dan menuntut pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS). Setelah Peristiwa 17 Oktober tersebut, Nasution diberhentikan dari jabatan KSAD.
Selama tidak menjabat KSAD, Nasution menulis buku. Buku tersebut, Dasar-dasar Perang Gerilya, kemudian menjadi buku tentang Gerilya yang paling sering dikaji, di samping buku Mao Zedong tentang masalah yang sama.
Pada 28 Oktober 1955 Abdul Haris Nasution ditunjuk kembali sebagai KSAD. Jabatan ini dijalaninya hingga 23 Juni 1962. Jabatan KSAD diserahkan kepada MAYOR Jenderal Ahmad Yani. Jenderal Abdul Haris Nasution kemudian di angkat sebagai Menko Hankam/KSAB
Pada 1 Oktober 1965, sekelompok tentara yang tergabungdalam Gerakan 30 September (G 30 S) bermaksud menculik 7 orang jenderal, termasuk Nasution. Nasution lolos dari penculikan dan pembunuhan, tetapi putri beliau Ade Irma Suryani tertembak dan meninggal dalam peristiwa tersebut.
Sejak 1966 Abdul Haris Nasution menduduki jabatan baru sebagai Ketua Majelis Permuyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Di bawah kepemimpinannya, MPRS mengesahkan beberapa ketetapan penting, seperti pelarangan Marxisme-Leninisme, pembatalan pengangkatan Sukarno sebagai presiden seumur hidup, dan keputusan untuk mengadakan pemilihan umum pada Juli 1968
Pada 12 Maret 1967, MPRS memberhentikan Sukarno dari Jabatan presiden. Soeharto kemudian diangkat menjadi pejabat presiden. Setahun kemudian, pada 27 Maret 1968 Soeharto diambil sumpahnya sebagai presiden. Soeharto menganggap Nasution sebagai rival. Pada 1969 Nasution dilarang berbicara di Seskoad dan Akademi Militer. Pada 1971 tiba-tiba beliau dipensiunkan dari ABRI pada usia 53 tahun. Padahal seharusnya Nasution pensiun 2 tahun kemudian. Pada 1972, Nasution digantikan oleh Idham Chalid sebagai Ketua MPR.
Pada 1977, sesuai pemilihan umum yang diyakini penuh kecurangan dan dimenangkan oleh Golongan Karya, Nasution menyatakan terjadi krisis kepemimpinan di tubuh Orde Baru. Bersama mantan Wakil Presiden Hatta, Nasution mendirikan Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (YLKB). Dalam sebuah pertemuan YLKB, Nasution menyatakan Orde Baru tidak benar-benar menjalankan Pancasila dan UUD 1945. Bersama beberapa orang tokoh, seperti Ali Sadikin, Hugeng Imam Santosa, dan Mohammad Natsir, Nasution menandatangani Petisi 50 dan mengirimkannya ke DPR pada 13 Mei 1980. Petisi tersebut berisi ungkapan keprihatinan atas penafsiran Pancasila oleh Soeharto yang hanya mementingkan tujuannya sendiri. Petisi 50 juag meminta ABRI tidak berpihak dalam politik. Soeharto menanggapinya dengan mencekal penandatangan Petisi 50.
Pada Juli 1993 Soeharto mengundang Nasution ke Istana. Keduanya kembali mengadakan pertemuan pada 18 Agustus 1993. Dalam sebuah wawancara pada 1995, Nasution menyatakan Bangsa Indonesia harus mengadakan rekonsiliasi agar dapat bersatu di bawah kepemimpinan Soeharto.
Pada peringatan hari ABRI 5 Oktober 1997, Nasution dianugerahi Pangkat Kehormatan Jenderal Besar bersama Soedirman dan Soeharto. Jenderal Besar Abdul Haris Nasution wafat pada 6 September 2000 di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta. Atas jasa dan perjuangannya Jenderal Abdul Haris Nasution dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan SK. Presiden RI. No. 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002 .