MARSDA. TNI. ANM. Mas Agustinus Adisutjipto

Adisutjipto bwAgustinus Adisutjipto dilahirkan di Salatiga pada tanggal 4 Juli 1916. la mempunyai tiga orang adik, kesemuanya laki-laki. Ayahnya bernama Ruwidodarmo, seorang pemilik sekolah di Salatiga. Keluarga Ruwidodarmo memeluk agama Katolik. Agustinus Adisutjipto mula-mula bersekolah di sekolah dasar (HIS), kemudian meneruskan ke MULO, yaitu Sekolah Menengah Pertama. la lulus MULO pada tahun 1933. Adisutjipto adalah seorang pendiam, tetapi tabah dan tidak gentar menghadapi bahaya. I.a pun gemar membaca terutama buku tentang peperangan dan filsafat. la juga suka berolah raga, diantaranya sepakbola, tennis dan mendaki gunung. Catur juga merupakan kegemarannya.
Sebenarnya, sesudah menamatkan MULO, Adisutjipto ingin mengikuti pendidikan di Sekolah Penerbangan di Kalijati, tetapi ayahnya tidak menyetujuinya. Beliau menginginkan agar puteranya yang sulung ini kelak menjadi dokter.
Adisutjipto menuruti keinginan ayahnya. la meneruskan sekolah di Semarang yaitu di Alegemeene Middelbare School (AMS) bagian ilmu Pasti (B), setingkat dengan SMA Paspal.
Sesudah lulus dari AMS dengan nilai yang bagus, maka Adisutjipto sekali lagi mohon izin kepada ayahnya agar diperkenankan meneruskan sekolah ke Akademi Militer di Breda, Negeri Belanda. Pada waktu itu Akademi Militer di Breda hanya menerima kadet yang berkebangsaan Belanda. Pemuda Indonesia ada juga yang belajar di sana tetapi harus dari kalangan bangsawan tinggi. Tentu sulit bagi Adisutjipto untuk masuk ke Akademi Militer di Breda itu. Lagi pula ayahnya tetap menginginkan agar Adisutjipto memasuki Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta.
Adisutjipto mengikuti saran ayahnya dan belajar di Geneeskundige Hoage School (GHS) atau Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta. Dengan tekun ia berkuliah di Perguruan Tinggi Kedokteran itu, tetapi sebenarnya hatinya tidak sepenuhnya berada di sana. Ia masih memendam cita-cita untuk menjadi penerbang atau pilot pesawat terbang.
Demikianlah, ia tidak dapat menahan gejolak hatinya. lalu secara diam-diam mengikuti test pada Sekolah Pendidikan Penerbangan Militer (Militaire Luchtvaart Opleidings School) di Kaiijati.
Waktu itu Perang Dunia Ke-II sudah pecah di Eropa. Suasana di Indonesia (Hindia Belanda) sudah mulai hangat menjelang masuknya pasukan Jepang karena harus bersiap-siap menghadapi kekuatan militer Jepang, maka Pemerintah Hindia Belanda membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk dilatih menjadi penerbang.
Ternyata Agustinus Adisutjipto lulus pada test masuk dengan nilai memuaskan. Meskipun demikian ia masih belum merasa mantap, karena izin dari orang tuanya belum diperolehnya. Ia tahu benar, ayahnya akan menghalang-halangi keinginananya itu. Oleh karenanya ia meminta bantuan Asisten Residen Salatiga agar ayahnya suka memberi izin. Ternyata kali ini ayahnya meluluskan keinginan puteranya itu. Sejak itu Adisutjipto mengikuti latihan-latihan terbang di Kaiijati. Dengan disiplin yang tinggi ia berlatih dan ternyata hasilnya memuaskan. Para instruktur memuji Adisutjipto sebagai seorang yang pendiam, tidak banyak bicara, halus budipekertinya, cermat, disiplin, pemberani lagi pula cerdas. Masa pendidikan yang seharusnya ditempuh dalam tiga tahun, dapat ia selesaikan lebih cepat. Hanya dua tahun Adisutjipto mengikuti pendidikan kemudian diangkat dalam dinas militer dengan pangkat Letnan Muda Calon Penerbang. Kemudian ia meneruskan pendidikan untuk memperoleh Brevet Penerbang Tingkat Pertama. Di antara sepuluh calon penerbang bangsa Indonesia yang mengikuti latihan ini, hanya lima yang berhasil memperoleh Brevet Penerbang Tingkat Pertama, di antaranya Agustinus Adisutjipto. Ia masih belum puas dan masih berusaha untuk mencapai Brevet Tingkat Atas. Ternyata dari lima orang bangsa Indonesia itu, hanya dua orang yang berhasil, yaitu Sambujo Hurip dan Agustinus Adisutjipto. Sambujo Hurip kemudian gugur di Semenanjung Malaka pada awal perang Asia Timur Raya melawan Jepang. Dengan demikian di antara Bangsa Indonesia pada waktu itu tinggal Agustinus Adisutjipto sajalah yang memegang Brevet Penerbangan Tingkat Atas.
Adisutjipto lalu bertugas sebagai penerbang dari skwadron pengintai Angkatan Udara KNIL (Angkatan Perang Hindia Belanda) pada tahun 1939, berkedudukan di Tuban, Jawa Timur. Iajuga diangkat sebagai ajudan Kolonel Clason, pejabat Angkatan Udara KNIL di Jawa hingga tahun 1942.
Pada waktu di Kalijati, Agustinus Adisutjipto sudah berkenalan dan bersahabat dengan S. Suryadarma, seorang lulusan Akademi Militer di Breda yang sedang mengikuti pendidikan Penerbangan Militer Angkatan Udara (Militer Luchtvaart). Di kemudian hari, persahabatan antara S. Suryadarma dan Agustinus Adisutjipto itu makin berkembang, sehingga pada waktu Indo­nesia Merdeka, justru kedua tokoh itulah yang mula-mula sekali memperoleh kehormatan untuk membina Angkatan Udara Republik Indonesia atau TNI Angkatan Udara. Ketika Hindia Belanda sudah diambang keruntuhannya, banyak penerbang yang mengungsi ke Australia, tetapi Agustinus Adisutjipto tidak mau ikut dan memilih tetap di tanah air.
Pada zaman pendudukan Jepang, Adisutjipto tidak lagi menjadi penerbang. la pulang ke rumah orang tuanya di Salatiga dan bekerja sebagai jurutulis pada perusahaan angkutan bis dengan suka dan dukanya. Thun 1944, Adisutjipto menikah dengan gadis Rahayu, puteri Bapak Suryo. Setahun kemudian lahirlah puteranya, diberi nama Franciscus Xaverius Adisusarito.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan diumumkan dan Revolusi Indo­nesia mulai meletus, maka Agustinus Adisutjipto segera terlibat dalam kegiatan yang penting. la segera pindah ke Yogyakarta. Pada waktu itu S. Suryadarma ditunjuk sebagai Komandan Bagian Penerbangan pada Markas Tertinggi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Yogyakarta. Bagian ini kemudian berkembang menjadi TKR Jawatan Penerbangan.
Suryadarma segera memanggil Adisutjipto untuk membantu membangun kekuatan Indonesia di Udara. Adisutjipto segera diangkat menjadi Komodor Muda Udara dengan tugas mengambil alih seluruh perlengkapan, tenaga kerja dan instalasi penerbangan. Dilapangan terbang Maguwo. Yogyakarta, ia menerima tanggungjawab langsung dari panglima divisi setempat, yang secara resmi berlaku sejak tanggal 15 Desember 1945.
Tugas TKR Jawatan Penerbangan sungguh berat, yaitu mengadakan konsolidasi organisasi di pusat (Markas Besar). Di samping itu sudah harus melakukan persiapan operasi secepat-cepatnya agar dapat segera ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan secara nyata, antara lain menyusun kesatuan udara, pengelolaan lapangan terbang dan pengadaan fasilitas lainnya. Juga harus segera diadakan pendidikan, baik yang bersifat ulangan maupun pengrekutan baru.
Karena Komodor Muda Udara adisutjipto adalah satu-satunya penerbang bangsa Indonesia yang memiliki Brevet Penerbang Tingkat Atas Pada waktu di Kalijati, Agustinus Adisuijipto sudah berkenalan dan bersahabat dengan S. Suryadarma, seorang lulusan Akademi Militer di Breda yang sedang mengikuti pendidikan Penerbangan Militer Angkatan Udara (Militer1 Luchtvaart). Di kemudian hari, persahabatan antara S. Suryadarma dan Agustinus Adisutjipto itu makin berkembang, sehingga pada waktu Indonesia Merdeka, justru kedua tokoh itulah yang mula-mula sekali memperoleh kehormatan untuk membina Angkatan Udara Republik Indonesia atau TNI- Angkatan Udara. Ketika Hindia Belanda sudah diambang keruntuhannya, banyak penerbang yang mengungsi ke Australia, tetapi Agustinus Adisutjipto tidak mau ikut dan memilih tetap di tanah air.
Pada zaman pendudukan Jepang, Adisutjipto tidak lagi menjadi penerbang. la pulang ke rumah orang tuanya di Salatiga dan bekerja sebagai jurutulis pada perusahaan angkutan bis dengan suka dan dukanya. Tahun 1944, Adisutjipto menikah dengan gadis Rahayu, puteri Bapak Suryo. Setahun kemudian lahirlah puteranya, diberi nama Franciscus Xaverius Adisusanto.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan diumumkan dan Revolusi In­donesia mulai meletus, maka Agustinus Adisutjipto segera terlibat dalam kegiatan yang penting. la segera pindah ke Yogyakarta. Pada waktu itu S. Suryadarma ditunjuk sebagai Komandan Bagian Penerbangan pada Markas Tertinggi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Yogyakarta. Bagian ini kemudian berkembang menjadi TKR Jawatan Penerbangan.
Suryadarma segera memanggil Adisutjipto untuk membantu membangun kekuatan Indonesia di Udara. Adisutjipto segera diangkat menjadi Komodor Muda Udara dengan tugas mengambil alih seluruh perlengkapan, tenaga kerja dan instalasi penerbangan. Dilapangan terbang Maguwo, Yogyakarta, ia menerima tanggungjawab langsung dari panglima divisi setempat, yang secara resmi berlaku sejak tanggal 15 Desember 1945.
Tugas TKR Jawatan Penerbangan sungguh berat, yaitu mengadakan konsolidasi organisasi di pusat (Markas Besar). Di samping itu sudah harus melakukan persiapan operasi secepat-cepatnya agar dapat segera ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan secara nyata, antara lain menyusun kesatuan udara, pengelolaan lapangan terbang dan pengadaan fasilitas lainnya. Juga harus segera diadakan pendidikan, baik yang bersifat ulangan maupun pengrekutan baru.
Karena Komodor Muda Udara Adisutjipto adalah satu-satunya penerbang bangsa Indonesia yang memiliki Brevet Penerbang Tingkat Atas (Groot Militaire Brevet atau GMB), maka ia diserahi tugas bidang Pendidikan dengan wewenang penuh. Di samping itu ia juga memimpin kesatuan operasi di pangkalan Maguwo. Jadi Komodor Muda Udara A. Adisutjipto tercatat sebagai perintis utama dalam sejarah pendidikan penerbangan di Indonesia.
Tugas yang dipikul para perintis penerbangan Indonesia sungguh berat. Betapa tidak ?! Pada tahun 1945 itu keadaan masih serba langka. Jumlah penerbang dan ahli teknik penerbangan bangsa Indonesia masih sangat sedikit, dapat dihitung dengan jari. Memang benar, kita mewarisi pesawat-pesawat terbang bekas milik Jepang. Jumlahnya pun lumayan, tetapi semuanya lebih menyerupai rongsokan, bahkan besi tua. Ada pesawat terbang tipe Cureng buatan tahun 1933, pesawat pembom jenis Tuntai, Rocojunana dan Suky. Juga pesawat penyergap tipe Hayabusa dan Sausykisin, serta pesawat pelatih jenis Cureng Cukiu dan Nishikoren. Kalau dihitung waktu itu terdapat kira-kira 102 pesawat terbang, termasuk sebuah pesawat pengangkut jenis Bristol Blenheim. Tetapi tidak ada yang mulus, semuanya dalam keadaan rusak.
Lagi pula para penerbang Indonesia pada zaman Jepang tidak ada yang berkesempatan atau diberi kesempatan menerbangkan pesawat. Buku pemandu pesawat terbang semuanya ditulis dalam bahasa Jepang. Sehingga sungguh sulit untuk memahaminya. Tetapi para perintis penerbangan Indonesia itu tidak mau mundur. Mereka berusaha dengan sekuat-kuatnya. Pesawat-pesawat terbang itu diperbaiki setapak demi setapak. Suryadarma sementara itu sudah berhasil menghimpun para penerbang dan teknisi bangsa Indonesia. Sedangkan Adisutjipto juga bekerja siang dan malam untuk membina dunia penerbangan Indonesia. Dengan ketekunan, keberanian dan ketabahan hati yang luar biasa, maka Komodor Muda Udara A. Adisutjipto pada tanggal 27 Oktober 1945 berhasil menerbangkan pesawat Cureng yang sudah diberi tanda merah putih melayang-layang di angkasa kota Yogyakarta. Hari itu adalah hari bersejarah, karena untuk pertama kalinya ada pesawat milik Republik Indonesia terbang di udara Indonesia Merdeka. Bagi Adisutjipto peristiwa itu juga luar biasa, karena sudah kira-kira empat tahun lamanya tidak mengemudikan pesawat terbang.
Komodor Muda Udara A. Adisutjipto segera bertindak mendidik pemuda-pemuda untuk menjadi penerbang. Pada tanggal 1 Desember 1945 didirikanlah Sekolah Penerbang yang pertama di Lapangan Udara Maguwo,Yogyakarta. Adisutjipto sendiri bertugas menjadi Kepala Sekolah Penerbangan itu. Dalam Waktu singkat sudah terkumpul beberapa pemuda. Mereka itu terdiri dari berbagai tingkatan. Ada pemuda-pemuda yang baru memperoleh brevet penerbangan tingkat pertama, ada pula yang telah mempunyai brevet penerbangan non militer. Ada juga yang sudah pernah belajar menerbangkan pesawat terbang tetapi belum mempunyai Brevet, dan sisanya adalah pemuda-pemuda yang sama sekali belum mempunyai pengalaman penerbangan.
Pemuda-pemuda yang sudah mempunyai pengalaman penerbangan, dengan cepat dapat lulus dan segera diangkat menjadi instruktur. Dengan semangat tinggi, Komodor Muda Udara A. Adisutjipto melatih para calon penerbang itu. Mereka memperoleh pengetahuan teori penerbangan dan pengetahuan militer. Mereka juga harus mahir dalam praktek, sehingga mampu menerbangkan pesawat terbang. Lagi pula, pada waktu itu adalah zaman perang kemerdekaan melawan Belanda. Para penerbang itu sekaligus harus mampu dalam perang yang sebenarnya. Kebanyakan pesawat terbang Rl waktu itu terpaksa harus lepas landas pada pagi hari sekali dan mendarat sore atau malam hari untuk mennghindari intaian pesawat terbang Belanda. Adisutjipto melatih para calon penerbang itu dengan pesawat tipe Cureng.
Sementara itu organisasi Angkatan Udara Republik Indonesia makin maju. Pimpinannya tetap dipegang oleh Komodor Udara S. Suryadarma, sedangkan Komodor Muda Udara A. Adisutjipto menjabat sebagai Wakil II/Kepala Staf AURI. Adisutjipto tidak hanya melatih para calon penerbang. la juga ikut langsung dalam penerbangan jarak jauh. Bersama penerbang-penerbang lainnya, Adisutjipto memimpin suatu penerbangan formasi jarak jauh yang pertama dari Maguwo ke Jakarta dengan pesawat-pesawat Tatcikawa Army 98 Cakiu. Mereka itu bertugas membawa para pucuk pimpinan TNI pada tanggal 23 Juli 1946 ke Jakarta untuk berunding dengan Pimpinan Pasukan Sekutu mengenai penyelesaian tawanan perang dan kaum interniran Sekutu.
Belanda yang ingin menjajah kembali tanah air kita itu melakukan blokade baik di daratan, lautan maupun udara. Tetapi Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dapat menerobos blokade itu. la pernah terbang ke India dan mengunjungi Perdana Menten India, Sri Jawaharlal Nehru untuk meminta bantuan pinjam pesawat terbang Dakota dan penyediaan tenaga instruktornya. Misinya itu berhasil, dan seorang industriawan bangsa India bernama Patnaik bersedia meminjamkan pesawat terbang Dakota kepada pemerintah Republik Indonesia.
Sementara itu pasukan Belanda melancarkan agresi militer I pada tanggal 21 Juli 1947. Berbagai lapangan terbang seperti Gorda, Kalijati dan Maospati dibom. Tindakan Belanda ini harus kita balas. Kira-kira delapan hari sesudah penyerangan Belanda itu, tepatnya pada tanggal 29 Juli 1947, naiklah beberapa pesawat terbang AURI, terdiri dari pesawat pembom Guntai dan dua pesawat Cureng menuju daerah pendudukan Belanda di Jawa Tengah. Pesawat-pesawat terbang AURI itu dengan semangat keberanian yang luar biasa, menjatuhkan beberapa buah bom di pangkalan militer Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Serangan ini berhasil dan Belanda menjadi sangat terkejut dan marah sekali.
Pada hari itu juga ada pesawat Dakota VT-CLA akan berangkat ke Indonesia dengan membawa obat-obatan sumbangan Palang Merah Internasional kepada Palang Merah Indonesia. Pesawat itu dikemudikan oleh A.N. Constantine (pilot), R. Hazelzurt (co-pilot), Adisumarmo Wiryokusumo (juru radio), dan Bhida Ram (juru teknik). Di dalam pesawat itu ikut pula Komodor Muda Udara A. Adisutjipto dan Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, juga seorang pemimpin AURI. Selanjutnya masih terdapat penumpang-penumpang lainnya, yaitu Ng. Constantine, Zainal Arifin (dari Kementrian Perdagangan RI) dan R.A. Gani Handonocokro.
Pesawat Dakota tersebut akan mendarat di Maguwo pada petang hari tanggal 29 Juli 1947. Sementara itu secara tiba-tiba muncullah dari arah utara dua pesawat pemburu Belanda Kittyhawk yang langsung menyerang pesawat terbang Dakota. Tembakan itu tepat pada sasarannya. Pesawat Dakota menjadi guncang dan menabrak sebatang pohon. Seketika pesawat itu patah dan terbakar. Semua penumpang tewas, kecuali R.A. Gani Handonocokro.
Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto gugur dalam peristiwa itu. Umurnya baru 31 tahun. Negara dan Bangsa Indonesia kehilangan atas gugurnya Adisutjipto. Alangkah besarjasa Agustinus Adisutjipto bagi negara dan bangsa. Pemerintah Republik Indonesia menghargai jasa dan pengabdian Adisutjipto. Almarhum diangkat menjadi Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 071/TK/TH 1974 tanggal 9 November 1974.

MARSDA TNI. ANM Prof. Dr. Abdulrachman Saleh

Abdulrachman Saleh bwGedung kebangkitan Nasional di Jakarta terletak di Jalan Prof. Dr. Abdulrachman Saleh. Jalan itu mengambil nama seorang tokoh yang penting, bahkan seorang Pahlawan Nasional.
Abdulrachman dilahirkan di kampung Ketapang, Kwitang, Jakarta pada tanggal 1 Juli 1909. la adalah putera kedua dari sebelas anak bersaudara. Tetapi dari sebelas anak bersaudara itu dua diantaranya meninggal waktu kecil.
Ayah Abdulrachman adalah dr. Muhammad Saleh. Beliau berasal dari Salatiga, sedangkan isterinya puteri Jakarta asli.
Sebagai seorang anak, Abdulrachman mempunyai watak yang periang dan berhati baik. Lagi pula ia mempunyai sifat serba ingin tahu. la gemar membongkar-bongkar permainannya, tetapi pandai pula memasangnya kembali. Abdulrachman mempunyai bakat dalam berbagai bidang. Ia seorang yang giat dan selalu bergerak dengan lincah.
Mula-mula ia bersekolah di HIS yaitu Sekolah Dasar pada zaman Hindia Belanda. Kemudian melanjutkan ke Mulo, setaraf dengan Sekolah Menengah Pertama.
Ayahnya ingin agar Abdulrachman menjadi dokter juga, karena itu ia pun meneruskan sekolah dokter (STOVIA) di Jakarta. Tetapi STOVIA ini kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, karana dipandang mutunya tidak memadai lagi sebagai sekolah dokter yang sebenarnya. Abdulrachman lalu pindah ke AMS, setaraf dengan Sekolah Menengah Atas. Setamat dari AMS, ia melanjutkan studi kedokterannya di Genceskundige Hoage School (GHS) di Jakarta, yaitu Perguruan Tinggi Kedokteran.
Ia tidak hanya belajar untuk belajar saja. Ia pun hidup bermasyarakat. Secara sadar Abdulrachman memenuhi perkumpulan pemuda, mula-mula Jong Java, yang kemudian menjadi Indonesia Muda. la pun gemar berolah raga. Cabang-cabang yang diikutinya ialah atletik, berlayar dan main anggai.
Abdulrachman pun memasuki organisasi kepanduan (pramuka). Mula-mula ia menjadi anggota kepanduan INPO, singkatan dari Indonesisische Padvinderij Organisatie. Pada tahun 1925, INPO melebur diri dalam KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia).
Abdulrachman Saleh menjadi pemimpin KBI yang disenangi karena mempunyai jiwa pemimpin, pandai mengasuh anak pandunya dan penuh humor. Tetapi sebagai seorang pemimpin ia terkenal pula memegang teguh disiplin. la tidak suka pada anak-anak yang suka melanggar disiplin, niscaya akan dikecam. Karena itu Abdulrachman diberi tambahan nama Karbol, yaitu semacam cairan pemberantas segala kuman-kuman penyakit.
Abdulrachman Saleh mempunyai perhatian yang luas terhadap berbagai macam kegiatan. Hatinya selalu tertarik untuk mengerjakan sesuatu yang baru. Disamping hobbynya yang beraneka warna itu ia masih meluangkan waktu untuk mempelajari olah raga penerbangan. Ia memasuki perkumpulan olah raga terbang di Jakarta. Waktu itu sungguh amat langka pemuda Indone­sia mengikuti aeroclub itu. Hanya orang-orang Belanda yang mampu memasukinya, karena biayanya juga tidak ringan. Kepandaian Abdulrachman mengemudikan pesawat terbang itu kelak sangat berguna bagi pembinaan Angkatan Udara di Indonesia. Abdulrachman mengikuti latihan penerbangan dengan tekun dan seksama, sehingga berhasil mendapat brevet terbang.
Pada tahun 1933 Abdulrachman Saleh menikah dengan seorang gadis kelahiran Purworejo, Jawa Tengah. Beliau kemudian dikaruniai dua orang putera. Waktu menikah, Abdulrachman masih menjadi mahasiswa di GHS (Perguruan Tinggi Kedokteran), Jakarta.
Sesudah menamatkan kuliahnya di Perguruan Tinggi Kedokteran itu, Abdulrachman memperdalam ilmunya di bidang ilmu faal. Hasilnya memuaskan, karena itu ia diangkat menjadi asisten dosen pada bidang ilmu faal pada Sekolah Kedokteran di Surabaya, yaitu NIAS, singkatan dari Nederlands Indische Arisen School. Selanjutnya ia dipindahkan ke Jakarta kembali untuk menjadi dosen pada Perguruan Tinggi Kedokteran. Profesinya sebagai mahaguru itu dipertahankan terus hingga wafatnya. Prof. Dr. Abdulrachman Saleh juga memberi kuliah pada Universitas Gajah Mada di Klaten pada awal pertumbuhannya pada zaman Indonesia Merdeka. Beliau bahkan diakui sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tanggal 5 Desember 1958, karena jasa-jasanya pada bidang ilmu tersebut.
Prof. Dr. Abdulrachman Saleh adalah seorang yang serba mampu atauall round. Ia adalah mahaguru dalam ilmu kedokteran pada usia yang muda, yaitu sekitar usia 30 tahun. Selain itu adalah seorang atlit khususnya dalam nomor-nomor yang khusus seperti bermain anggar dan berlayar. Lagi pula ia adalah penerbang dan pemimpin kepanduan. Prof. Dr. Abdulrachman Saleh adalah seorang yang luar biasa. Perhatiannya meluas pada berbagai bidang dan semuanya ditekuninya dengan bersungguh hati. Tetapi ia masih mempunyai hobby lain lagi yang terutama sangat berjasa pada waktu bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, yaitu di bidang radio.
Pada tahun 1934 bersama kawan-kawannya Prof. Dr. Abdulrachman Saleh mendirikan perkumpulan radio amatir yang dinamakannya VORO, singkatan dari Vereeninging voor Oosterse Radio Omroep, yaitu Perkumpulan Siaran Radio Ketimuran. VORO mempunyai pemancar sendiri dan selanjutnya dipimpin oleh Abdulrachman sendiri. Dibawah pimpinannya VORO mengalami kemajuan. Itu terutama sekali disebabkan Abdulrachman tidak segan-segan mengeluarkan biaya dari kantongnya sendiri dan ia sendiri pula yang seringkali langsung terjun untuk memperbaiki kerusakan teknik. Dapatlah dibayangkan betapa sibuknya Prof. Dr. Abdulrachman Saleh pada waktu itu. Tiap pagi ia memberi kuliah di Perguruan Tinggi Kedokteran, sore hari ia kelihatan di lapangan memimpin pandu-pandu, atau latihan menerbangkan pesawat terbang sport, kadang-kadang sibuk di pemancar radio dan seringkali pula latihan atletik di lapangan rumput, bermain anggar ataupun berdayung di lautan.
Walaupun sibuk, tetapi Prof. Dr. Abdulrachman Saleh tetap sehat dan gembira. Di bangku kuliah ia mempunyai murid yang bernama Agustinus Adisucipto. Murid ini sebenarnya tidak benar-benar tertarik pada ilmu kedokteran. Adisucipto ingin menjadi penerbang. Dan ia memang kemudian keluar dari Perguruan Tinggi Kedokteran dan memasuki Militaire Luchtvaart Opleidings School atau Sekolah Pendidikan Penerbangan Militer di Kalijati, sehingga berhasil mendapatkan brevet penerbangan tingkat atas.
Kelak pada zaman Indonesia Merdeka Prof. Dr. Abdulrachman Saleh malahan belajar terbang pada Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto sehingga beliau juga sanggup menerbangkan pesawat-pesawat militer.
Pada zaman pendudukan Jepang (1942-1945), Prof. Dr. Abdulrachman Saleh tetap memberi kuliah di Perguruan Tinggi Kedokteran yang waktu itu dinamakan Ika Daigaku. Selain itu beliau juga mengikuti latihan kemiliteran yang diberikan kepada para anggota Pembela Tanah Air (Peta).
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Proklamasi kemerdekaan itu harus segera disiarkan ke scluruh penjuru tanah air dan selumh dunia. Tetapi pasukan Jepang menguasai kantor Radio dan tentu akan menghalang-halangi disiarkannya berita Proklamasi Kemerdekaan itu.
Pemuda-pemuda Indonesia tidak kehilangan akal. Prof. Dr. Abdulrachman Saleh segera turun tangan. Dengan bantuan beberapa pegawai radio bagian teknik, ia berhasil pula menyiarkan Proklamasi kemerdekaan itu ke luar negeri. Ia menyalurkan siaran penting itu melalui sebuah pemancar yang berada di Bandung. Pemancar itu oleh Jepang kurang diperhatikan, karena sudah lama tidak dipakai. Tindakan ini tentu amat membahayakan. Akibatnya kepala Radio Jepang marah sekali dan beberapa pemuda dari kantor Radio tersebut terpaksa harus berurusan dengan pihak Jepang. 

 

Jepang lalu mengambil tindakan tegas, melarang pemuda-pemuda Indonesia menggunakan pemancar radio. Tetapi Abdulrachman Saleh tidak berputus asa. Ia membangun pemancar radio gelap dengan nama Siaran Radio Indonesia Merdeka, atau The Voice of Free Indonesia. Mula-mula pemancar radio itu dipasang di Jalan Menteng Raya, Jakarta, kemudian dipindahkan ke gedung Fakultas Kedokteran di Jalan Salemba. Jepang berusaha untuk mencari tempat pemancar radio itu, tetapi tidak pernah berhasil.
Prof. Dr. Abdulrachaman Saleh bahkan melangkah lebih lanjut. Pada tanggal 11 September 1945, Siaran Radio Indonesia Merdeka itu ditingkatkan menjadi Radio Republik Indonesia, disingkat RRI. Selanjutnya tanggal 11 September diperingati sebagai Hari Radio.
Prof. Dr. Abdulrachman adalah seorang yang selalu dinamis. Ketika dilihatnya RRI sudah dapat berjalan lancar, ia lalu pindah ke lapangan lain, yaitu dunia penerbangan. Pengalamannya di Aeroclub dimanfaatkannya untuk perjuangan bangsa ketika itu AURI sedang melakukan peletakan batu pertamanya untuk pembangunan. AURI waktu itu dipimpin oleh Komodor Udara S. Suryadarma, dibantu oleh Komodor Udara Sukarman Martodisumo dan Komodor Mda Udara A. Adisutjipto yaitu bekas murid Abdulrachman di Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta.
Prof. Dr. Abdulrachaman Saleh segera terjun membantu AURI. Ia belajar menerbangkan pesawat terbang milker bekas milik Jepang seperti Hayabusa, Cukiu, Cureng dan Guntai. Instruktornya adalah Komodor Muda Udara A. Adisutjipto sendiri. Dalam waktu pendek Abdulrachaman sudah mampu menerbangkan berbagai jenis pesawal terbang itu. Ia pun segera mebantu melatih pemuda-pemuda calon penerbang.
Pada waktu itu jumlah penerbang Indonesia masih amat sedikit. Lagi pula pesawat-pesawat terbang peninggalan Jepang yang digunakan itu sebenamya semuanya dalam keadaan rusak. Kebanyakan bikinan tahun 1933, jadi sudah termasuk tua. Suku cadang tidak ada, dan buku panduan tertulisnya di dalam bahasa Jepang. Tentu amat sulit untuk memanfaatkan pesawat-pesawat terbang yang menyerupai besi tua. Meskipun demikian, Prof. Dr. Abdulrachman Saleh bersama-sama para ahli teknik lainnya berusaha keras untuk memperbaiki pesawat-pesawat terbang tua itu. Dan mereka berhasil. Beberapa pesawat-pesawat terbang itu dapat kembali terbang di angkasa Indonesia Merdeka dengan menyebarkan rasa kebanggaan pada seluruh bangsa Indonesia. Pada sayap pesawat terbang yang dikemudikan oleh para pilot Indonesia sendiri itu, termasuk Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, tergambar tanda merah putih. Sementar itu Abdulrachman Saleh diserahi memimpin Pangkalan Udara Maospati di Madiun. Di sini ia segera mendirikan Sekolah Radio Udara.
Kemudian ia dipindahkan ke Malang. Di kota itu pula ia mendirikan Sekolah Teknik Udara. Walaupun Prof. Dr. Abdulrachman Saleh sibuk di bidang penerbangan, tetapi ia masih tetap memberi kuliah pada Perguruan Tinggi Kedokteran. Tentu ia tidak lagi memberi kuliah di Jakarta, tetapi di Klaten, Jawa Tengah.
Ia berangkat dari rumahny a di Malang dengan mengemudikan pesawat terbang sendiri ke lapangan Udara Panasan, Surakarta. Kemudian ia menuju Klaten dengan mengendarai kereta api, mobil, sepeda motor, bahkan pernah pula naik sepeda ke Klaten.
Hubungan Belanda dan Republik Indonesia waktu itu buruk. Meskipun sudah ada perjanjian Linggarjati, tetapi Belanda masih ingin menjajah Indone­sia. Belanda melakukan blokade baik di daratan, lautan maupun udara. Tetapi para penerbang AURI berkali-kali berhasil menerobos blokade itu.
Pada bulan Juli 1947, Abdulrachman Saleh dan Adisucipto berangkat ke India. Mereka mendapat tugas untuk memperoleh pesawat terbang, instruktor dan obat-obatan. Waktu itu Belanda sudah melancarkan Agresi Militer I pada tanggal 21 Juli 1947. Delapan hari kemudian, yaitu tanggal 29 Juli 1947, beberapa pesawat terbang AURI telah berhasil mengebom instalasi Militer Belanda di Semarang, Ambarawa dan Salatiga. Belanda terkejut sekali dan marah. Kejengkelannyaitu Jilampiaskan padapesawat terbang Dakota VTCLA milik seorang pengusaha India bernama Patnaik, yang sedang menuju Indonesia. Pesawat Dakota itu membawa obat-obatan dari Palang Merah Internasional untuk Palang Merah Indonesia. Di dalamnya terdapat beberapa penumpang berkebangsaan Inggris, Australia, India dan Indonesia, termasuk Komodor Muda Udara A. Adisucipto dan Prof. Dr. Abdulrachman Saleh.
Pada sore hari tanggal 29 Juli 1947 itu, pesawat Dakota VT-CLA tersebut bersiap-siap untuk mendarat di Maguwo, Yogyakarta. Sekonyong-konyong muncullah dua pesawat pemburu KITTYHAWK Belanda dari arah utara dan memberondong pesawat Dakota. Pesawat yang malang itu seketika berguncang, namun berusaha pula melakukan pendaratan darurat. Usahanya itu tidak berhasil dan menubruk pohon di atas sawah. Kapal terbang itu pecah dan terbakar. Kecuali seorang penumpang, maka seluruh penumpang dan awak pesawat tewas, termasuk Prof. Dr. Abdulrachman Saleh.
Prof. Dr. Abdulrachman Saleh telah tiada, tetapi bangsa Indonesia tetap mengenang dan menghargai jasa-jasanya kepada Negara dan Bangsa. Di berbagai bidang Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Prof. Dr. Abdulrachman Saleh dengan SK. Presiden RI No. 071/TK/TH 1974 tanggal 9-11-1974.

Prof. DR. R. Soeharso

Prof DR R Soeharso bwSoeharso dilahirkan di desa Kembang, di lereng Gunung Merbabu, termasuk Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada tanggal 13 Mei 1912. Dengan demikian berarti, bahwa Soeharso yang kemudian bergelar Profesor dan Dokter (Prof. Dr.) dan namanya terkenal di seluruh dunia adalah anak desa. Ayahnya bernama Sastrosuhardjo, pernah menjadi lurah atau kepala desa. Pak Sastrosuhardjo adalah keturunan abdi dalem, pegawai kraton Surakarta. Putranya ada tujuh orang dan Prof. Dr. R. Soeharso adalah putranya yang keempat. Soeharso hidup dan dibesarkan di lingkungan pedesaan dengan penuh kesederhanaan. Diantara putra dan putri Pak Sastrosuhardjo adalah Soeharso yang paling nakal. Karena itu kakeknya memberi sebutan si jago abang (jago merah).
Pada usia tujuh tahun, yaitu pada tahun 1919, Soeharso disekolahkan di Sekolah Dasar berbahasa Belanda (HIS = Hollandsch Inlandsche School) di salatiga. la termasuk anak yang cerdas dan tidak pernah tinggal kelas. Ketika ia duduk di kelas lima HIS ayahnya meninggal dunia. Kehidupan rumah tanggal almarhum Pak Sastrosuharjo mengalami kegoncangan.
Syukurlah bahwa Ibunda Soeharso seorang yang teguh pendiriannya. Ia tidak mau berlama-lama tenggelam dalam kesedihan ditinggalkan suami. Ibu Sastrosuharjo segera mengambil alih tugas sebagai pemimpin atau kepala keluarga. dengan berjualan nasi ia membiayai pendidikan putra-putranya. Tetapi karena makin lama dirasakan makin berat, maka kedua kakak Soeharso terpaksa tidak dapat terus bersekolah. Suharto, kakak Soeharso lalu bekerja sebagai carik dan kemudian diangkat menjadi lurah. Dengan kedudukan sebagai lurah itu kakaknya membantu membiayai pendidikan Soeharso.
Di masa kakak-kakaknya Soeharso dalam keadaan prihatin, ia turut membantu ibunya menjual tembakau. Dengan berjalan kaki Soeharso membawa tembakau di atas kepalanya menuju kota Boyolali. Tetapi justru keprihatinan itu menempa Soeharso menjadi pemuda yang kuat, ulet dan tidak mengenal perasaan rendah diri.
Pada tahun 1926 Soeharso menamatkan Sekolah Dasar (HIS) dengan angka yang memuaskan. Ia lalu melanjutkan sekolahnya di SMP (MULO) di Solo. Ia menumpang di rumah keluarga dr. Dullah yang selalu mendorongnya maju dan belajar tekun.
Soeharso mengikuti-nasehat dr. Dullah dan belajar dengan sungguh-sungguh, sehingga termasuk murid yang cerdas. Seorang Belanda tertarik kepada Soeharso dan akan dipungutnya sebagai anak angkat untuk kemudian disekolahkan ke Negeri Belanda, tetapi ibu Sastrosuharjo tidak mengizinkannya.
Setelah pada tahun 1930 sudah tamat dari MULO Suharso meneruskan pelajarannya di SMA Paspal (AMS = Algemeene Middelbare School Afdeeling
B) di Yogyakarta. Selama menjadi siswa AMS, Soeharso tercatat sebagai anggota perkumpulan Jong Java, yang kemudian menjadi Indonesia Muda. meskipun demikian ia tidak tertarik pada perjuangan politik. Soeharso lebih tertarik pada kesenian, yaitu tari dan karawitan Jawa.
Sesudah tamat AMS, ia mendapat beasiswa untuk belajar di Sekolah Kedokteran (NIAS) di Surabaya. Selama menjadi mahasiswa ia juga tetap berkecimpung dalam kesenian. Ia mendirikan perkumpulan kesenian Siswa Mataya di Surabaya. Dalam dunia pewayangan, tokoh yang dikaguminya ialah Adipati Karno dan Salya.
Pada tahun 1939 Soeharso lulus ujian NIAS dan berhak menggunakan gelar Indisch Arts. Ia mulai bekerja di Rumah Sakit Umum (CBZ) Surabaya. Di samping itu ia selalu giat menambah pengetahuan dan memperdalam ilmu bedah hingga akhirnnya mencapai dokter spsialis ahli bedah.
Dr. Soeharso tidak lama bekerja di Surabaya, karena berselisih dengan seorang suster berkebangsaan Belanda yang dirasakan merendahkan martabatnya. Dengan tidak bijaksana suster tersebut memerintah dr. Soeharso. Meskipun Dr. Soeharso masih muda dan pengalamannya belum begitu luas, namun ia sadar bahwa sikap suster tersebut tidak pada tempatnya, namun dalam urusan tersebut ia tidak beruntung. Ia dinyatakan sebagai pihak yang salah dan karena itu lalu dipindahkan ke Ketapang, Kalimantan Barat.
Berangkatlah ia ke Ketapang. Dalam perjalanan ke Ketapang ia singgah di Pontianak dan di ibukota Kalimantan Barat inilah ia menemukan jodohnya, yaitu gadis Johar Insiyah, putri dr. Agusjam yang sudah lama bermukim di Pontianak.
Ketika pasukan Jepang menyerbu Indonesia, Dr. Soeharso dan istrinya masih berada di Ketapang. Tindakan Jepang terhadap kaum terpelajar di sana terkenal kejam dengan pembunuhan tanpa alasan, kecuali kecurigaan bahwa kaum terpelajar akan menentang pemerintah Jepang. Banyak korban pembunuhan kejam itu, antara lain dr. Agusjam, mertua Dr. Soeharso.
Karena khawatir akan keselamatannya, maka dr. Soeharso beserta isteri melarikan diri dari Ketapang. Suami isteri itu menyeberang ke pulau Belitung dengan motorboat. Dari Belitung ia meneruskan perjalannya dengan perahu Bugis (wangkang) ke pulau Jawa. Ternyata perahunya sampai di Pasar Ikan Jakarta. Ia lalu naik perahu lain menuju Semarang, namun angin tidak membantu pelayarannya. Setelah tiga hari di lautan, barulah Soeharso dan isteri mendarat di Indramayu, Jawa Barat. Setelah berapa lama di sana dan berkesempatan pergi ke Bandung, mereka kembalil ke Indramayu. Dari sana dengan perahu ke Tegal, kemudian dengan perjalanan darat sampai di Sala, ibukota karesidenan Surakarta, Jawa Tengah. Satu bulan lamanya dr. Soeharso dan isteri tinggal di desa kelahjrannya Soeharso, kemudian bekerja di Rumah Sakit Jebres Sala, yang dipimpin oleh dr. Pujo.
Pemerintah Jepang di Kalimantan kehilangan dr. Soeharso dan memerintahkan mencari dan menangkapnya. Beruntunglah ia mendapat perlindungan dari dr. Mayeda seorang dokter Jepang, sehingga tetap bekerja di Rumah Sakit Jebres. dengan demikian dr. Soeharso selamat dari kekejaman dan pembunuhan Jepang.
Pada masa revolusi kemerdekaan dr. Soeharso banyak sekali menolong menyembuhkan para pejuang gerilya. Ia bertugas di wilayah utara Ampel. Boyolali sampai dekat Salatiga. Kemudian ia ditempatkan kembali di Rumah Sakit Jebres. Ia mengirim obat-obatan ke garis depan. Seringkali ia harus menyamar sebagai petani biasa untuk menerobos penjagaan Belanda.
Selama merawat para pejuang kemerdekaan yang menjadi cacat kerena perang gerilya itu dr. Soeharso mendengarkan keluh kesah mereka. Para pejuang yang cacat itu sering berkata.
“Mengapa kami harus mengalarni operasi? Bukanlah lebih baik mati saja? Untuk apa kami hidup dengan tidak mempunyai tangan dan kaki lagi? Kami hanya akan menjadi beban keluarga dan orang-orang yang sehat dan normal”.
Kebanyakan para penderita cacat itu menjadi putus asa, pesimis untuk hari depannya. Semuanya serba gelap, tidak ada lagi gairah untuk hidup bahagia. Tidak terbayang lagi apa yang akan dikerjakan untuk hidupnya di masa depan, untuk hidup keluarganya, apalagi bagi kepentingan nusa dan bangsanya.
Mendengar keluh kesah dari para penderita cacat tersebut dr. Soeharso terketuk hatinya. Timbul rasa kasihan yang amat mendalam. Memang kata-kata mereka benar, tetapi apakah manusia harus berputus asa ?
Dr. Soeharso sendiri sejak muda sudah mempunyai keyakinan, bahwa manusia harus kuat imannya dan tidak boleh putus asa. Karena itulah dr Soeharso mendapat ilham untuk menolong para penderita cacat dengan segala kemampuannya. Mereka harus ditolong baik fisik maupun mentalnya. Dr. Soeharso berpikir, tugas dan kewajibannya belum selesai dengan mengopersi keadaan fisiknya. Mereka yang kehilangan kaki yang harus diberi ganti “kaki” yang berfungsi sebagai kakinya yang asli. Mereka yang dahulunya bekerja sebagai sopir dan kehilangan tangannya, harus diberi tangan palsu yang mampu menggantikan tangannya yang semula, sehingga kembali dapat menge mudikan mobil lagi.
Maksud yang demikian baik dan luhur itu tidak mudah dilaksanakan. Dr. Soeharso mulai dengan mendirikan suatu pusat untuk merehabilitasi para penderita cacat. Cita-cita Dr. Soeharso itu mula-mula dianggap sebagai suatu yang kurang realistis dan belum tepat waktunya. Lagi pula pengetahuan tentang hal itu belum ada namun Dr.Soeharsoberangsur-angsur bekerja mencapai maksud tersebut.
Kebetulan di Perpustakaan Rumah Sakit ia menjumpai buku karangan Dr. Henry H. Kassler berjudul ”Rehabilitation of the hadicspped”. Dari buku itu dan prospektus lain-lainnya Dr.Soeharso memperoleh pengetahuan tentang rehabilitasi orang cacat. Ia lalu cepat-cepat mulai mencari orang yang bisa membuat disain tentang prothese atau tiruan alat tubuh. Pak Sukandar Itulah yang mula-mula membantu Dr.Soeharso dengan membuat gambar-gambar. Hampir tiap malam mereka berdua sibuk membuat rencana untuk mendiri kan suatu Rehabilitasi Centrum untuk para penderita cacat. Kemudian Suroto Reksopranoto membantu membuat kaki dan tangan tiruan. Mulailah Dr Suharso melakukan percobaan secara sederhana. Dr. Soeharso tidak hanya membatasi pada penyembuhan dari penyakit badaniah, tetapi juga memikirkan dan berusaha agar penderita dapat sehat kembali dengan kesanggupan dapat hidup secara layak. Mula-mula Dr. Soeharso menggunakan kayu jati untuk membuat bagian tubuh tiruan, tetapi ternyata terlalu berat. Ialu dipilihnya kayu waru yang tidak terlalu berat yang juga tidak lekas lapuk.
Pada waktu itu, sebagaimana layaknya seorang perintis, Dr. Soeharso terpaksa berjalan ke sana-kemari, menghubungi tokoh-tokoh dan instansi untuk mencari bantuan, perlengkapan dan dana. Beruntunglah, Kepala Rumah Sakit Jebres, Sala mengizinkannya menggunakan ruangan kecil, bekas bengkel mobil untuk bengkel kerjanya. Waktu itu, banyak rekan dokter yang terheran-eran melihat Dr. Soeharso bekerja dengan tekun untuk merehabilitasi penderita cacat.
Mereka bertanya, ”Mengapa dokter Soeharso bekerja seperti tukang kayu? Padahal sebagai seorang dokter bedah ia sudah cukup pekerjaan dan dengan keahliannya itu ia tidak akan mengalami kesulitan hidup.”
Kementerian (sekarang Departemen) Kesehatan membenarkan pekerjaan Dr. Soeharso bahkan tahun 1950 ia dikirim untuk tugas belajar di Inggris memperdalam bidang prosthese. Sekembalinya dari luar negeri ia diangkat menjadi Pemimpin Umum Usaha Prosthese. Sebenarnya sudah sejak 1 Juni 1948 pekerjaan ini telah diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan dengan Dr. Soeharso juga sebagai tulang punggungnya.
Setahun kemudian usahanya makin mantap, dan Dr. Soeharso mendirikan dan menjadi Supervisor Rehabilitasi Centrum Penderita Cacat Tubuh di Surakarta. Perjuangannyamakin berkembang. Pada tahun 1953 ia mendirikan Rumah Sakit Orthopedie di Surakarta, berikut Yayasan Pemeliharaan Anak-Anak Cacat. Yayasan Pemeliharaan Anak-Anak Cacat ini tidak hanya berdiri di Sala, tetapi juga segera didirikan di tempat-tempat lain. Pada tahun 1952 di Indonesia banyak anak yang diserang penyakit lumpuh, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Pangkal-pinang. Hal itu juga mengetuk hati Dr. Soeharso. Sekembalinya Dr. Soeharso dari Bombay, India untuk menghadiri International Study Conference on Child Wellfare dan di Madras, India untuk mengikuti International Conference on Social Work (1952), maka ia mendirikan Yayasan dengan nama The Foundation for the Care of Crippled Children. (Yayasan menolong anak-anak lumpuh). Di sini ditampung anak-anak di bawah umur 14 tahun yang menderita lumpuh. Juga ditampung anak-anak cacat lainnya, seperti anak yang fisiknya lemah sehingga daya ingatnya berkurang, anak buta, tuli bisu dan cacat mental lainnya.
Bantuan dari luar negeri berupa tenaga dokter, suster dan dana makin banyak, misalnya dari Amerika, Finlandia, Filipina, Australia, Inggris, Selan dia Baru, Jepang, Perancis dan Belgia. Pada tahun 1954 dibangun gedung untuk anak-anak penderita cacat di Sala dengan berbagai perlengkapan seperti sekolah perawat, kolam renang, taman kanak-kanak, sekolah pendahuluan, ruang kelas, ruang konvetasi, kamar pengobatan dan kamar latihan Di Surabaya, Malang,-Semarang, Palembang, Jember. Pangkalpinang dan Jakarta dibuka cabang-cabang.
Yayasan anak-anak cacat ini juga rnenjadi anggota Intenational Societ for Rehabilitation of Disabled yang berkedudukan di New York, bahkan pemimpin Yayasan itu Dr. Henry Kesster dari Amerika datang ke Sala dan memberi pujian serta saran kepada Dr. Soeharso untuk perkembangan usahanya. Karena jasa-jasanya maka pada tahun 1954 Dr.Soeharso dan IbuSoeharso dianugerahi World Rehabilitation Prize okh World Veteran’s Federation di Wina, Austria. Kemudian Presiden Republik Indonesia mengangkat Dr.Soeharso.menjadi pemimpin Lembaga Orthopaedic dan Prothese di Sala. Unesco juga membantu dengan memberi beasiswa untuk studi di luar negeri, misalnya untuk Speech therapy di Amerika.
Dr. Soeharso juga berkali-kali mengunjungi seminar di luar negeri dan membawakan berbagai makalah. Selama 23 tahun Dr.Soeharso sudah menulis tidak kurang dari 90 karangan, baik berupa buku maupun makalah mengenai kedokteran, termasuk pula tentang seni tari dan karawitan yang menjadi hobinya.
Bagi para guru pada bidang khusus Dr. Soeharso mendirikan pula Train­ing College. la beserta isterinya menyayangi anak-anak yang, cacat. Sebaliknya anak-anak pun sayang kepada mereka. Apabila Dr.Soeharso dan Ibu datang meninjau Yayasan Penderitaan Anak Cacat (YPAC), maka dari jauh mereka sudah berteriak, ”Lha kae bapake, lha kae ibuke” (Nah, itulah bapak dan itulah ibu datang).
Yang penting dan amat berguna didirikan oleh Dr. Soeharso ialah Shel­tered Workshop (bengkel). Di sini para penderita cacat diberi kesempatan untuk bekerja bersama-sama dengan orang-orang yang tidak cacat (normal). Jadi sengaja diadakan pembauran, misalnya dari 80 pekerja terdapat 30 orang penderita cacat. Sheltered Workshop ini merupakan bengkel atau pabrik kecil Mereka mengusahakan berbagai pekerjaan seperti: reparasi perlengkapan Angkatan Perang (Topi baja, veldbed, jaring dan Iain-lain), pertukangan kayu. perakitan, pelituran, reparasi mobil, penuangan besi, penanaman padi, pembuatan sepatu dan penatu. Sheltered Workshop ini mempunyai cabang di pulau Belitung. Dengan adanya Sheltered Workshop itu maka para penderita cacat dapat memulihkan kembali kepercayaan pada dirinya. Dengan demikian gairah akan bangkit atau hilanglah rasa rendah diri pada para penderita cacat.
Pada tahun 1953 di Sala Pemerintah Daerah memberikan bantuan berupa tanah seluas 8.700 m2 untuk gedung Sheltered Workshop. Departemen Sosial dan Biro Pembangunan Nasional juga memberikan bantuannya. Dr. Soeharso pun memberi dorongan dan membantu berdirinya Yayasan koperasi Penderita Cacat yang bernama ”Koperasi Harapan” di Sala pada tahun 1955. Koperasi ini mengalami jatuh bangun, namun tetap hidup dan berkembang. Seorang pemimpin koperasi yang ulet ialah Manurung, seorang penderita cacat dari Sumatera Utara. Koperasi Harapan mula-mula bergerak pada bidang penjualan rokok di kamar-kamar tidur para penderita cacat. Kemudian berkembang sehingga meliputi berbagai kegiatan seperti: gilingan beras, toko (kios), bengkel sepeda, penanaman padi, titipan sepeda, waning kopi, pertanian, perkayuan, perdagangan, pengangkutan, industri bola bulutangkis (shuttle cock), penjualan minyak bumi, kerajinan kompor dan ember, penyewaan peralatan pesta, penjualan drum bekas dan sebagainya. Koperasi Harapan juga menarik perhatian luar negeri sehingga Manurung pernah diundang untuk studi perbandingan ke Australia selama dua bulan.
Pada tahun 1969 Dr. Soeharso bersama Ibu Soeharso karena jasanya mendapat hadiah Albert Lasker Award di Dublin, Irlandia. Selanjutnya bersama Suroto Reksopranoto ia juga menerima Sertipikat dari Universitas California, Los Angeles, yang mengakuinya sebagai Clinical Instructor yang berhak memberi pelajaran dalam bidang prothestics dan orthitics (1969).
Dr. Soeharso tidak henti-hentinya berprakarsa. Ia telah menggerakkan berdirinya Yayasan Pembina Olah Raga Penderita Cacat di Sala. Selain itu ia juga memberi kuliah pada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada pada mata kuliah Ilmu Orthopaedie, dan di Universitas Diponegoro serta Sekolah Tinggi Olah Raga di Surakarta. Namanya terkenal di luar negeri se cara luas. Ia pernah menjadi konsultan pada Pemerintah Vietnam Selatan.
Penghargaan yang diterimanya datang dari berbagai penjuru dunia, se lain yang sudah disebut di atas juga berupa Fellow of the International pabrik lege of Surgeons (Jenewa), Bintang Satyalancana Pembangunan (Rl). Penghargaan dari IDI (Indonesia), Bintang Mahaputra klas III (Rl). Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Kedoktean (Unair), dan People to People Pro­gram Committee for the Handicapped (Amerika Serikat).
Di lapangan seni budaya, selain mendirikan Siswa Matoya (Surabaya) juga menjadi anggota Pengurus Yayasan Pendidikan Saraswati dengan Uni­versitas Nasional Saraswati di Surakarta, dan memimpin penyelenggaraan Sendratari Ramayana. Kemudian menjadi anggota Dewan Penyantun pada Akademi Karawitan Indonesia.
Suami isteri Dr.. Soeharso dikaruniai 3 orang putra, yakni: 1. Tunjung Suwarsono, dokter ahli ortopedi, 2. Tunjung Wijayanto, insinyur dan 3. Tunjung Hasta, dokter medicin.
Dr.Soeharso dalam hidupnya tetap senang hidup sederhana. Kepada putra-putranya Dr.Soeharso berkata, ”Untuk apa kamu harus mempunyai pakaian bertumpuk-tumpuk. Tak perlu kamu mempunyai banyak-banyak pakaian, cukup tiga stel. Satu stel dipakai, satu stel dicuci yang satu stel lagi disimpan di almari. Begitu juga dengan soal makanan tidak perlu menumpuk bahan makanan, asal hari ini ada ya itulah dimakan besok mencari lagi. Tidak perlu ditumpuk-tumpuk sampai satu gudang”
Sebagai nasionalis dan patriot Dr. Soeharso selalu berkata, ”Right or Wrong my Country, lebih-lebih kalau kita tahu, negara kita dalam keadaan bobrok, maka justru saat itu pula kita wajib memperbaikinya”.
Dr. Soeharso wafat pada usia 59 tahun pada tanggal 27 Pebruari 1971 di Surakarta sesudah menderita sakit enam bulan.
Pemerintah Republik Indonesia menghargaijasa-jasa Dr. Soeharso almarhum. Dengan Surat Keputusan Presiden No. 088/Tk/1973 tanggal 6 November 1973 almarhum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

LAKSDA TNI ANM. Josaphat Soedarso

LAKSDA TNI ANM. Josaphat Soedarso

Josaphat Soedarso lebih terkenal disebut Jos Sudarso dilahirkan pada tanggal 24 November 1925 di Pungkursari Salatiga. Kelahirannya merapakan hari gembira dan hari bersyukur bagi Bapak dan Ibu Sukarno, demikian nama ayah Josaphat Soedarso. Kegembiraan itu sudah selayaknya, karena satu tahun sebelum Jos lahir putera sulungnya yang bernama Suwarno telah meninggal dunia dalam umur 4 tahun. Dua tahun kemudian lahir pula adik Josaphat Soedarso bernama Soedargo. Hanya dua anak laki-laki itulah karunia Tuhan kepada keluarga Sukarno.
Josaphat Soedarso dilahirkan dilingkungan keluarga orang kebanyakan. Ayahnya bekerja sebagai seorang polisi dan hidup di sebuah rumah sederhana’ yang terbuat dari papan kayu. Alat-alat rumah tangganya termasuk tempat tidur Jos Soedarso pun sederhana pula. Dalam lingkungan hidup yang sederhana itulah Jos Soedarso merasa tenteram dan tenang jiwanya. la adalah seorang anak yang pendiam, berhati keras dan jujur. la tidak menyukai perbuatan curang. Dan ia suka menolong orang lain.
Mula-mula Jos bersekolah di Sekolah Dasar Swasta (HIS Partikelir) di Salatiga. Ia murid yang rajin dan tekun. biasa belajar sampai jauh malam. Jos Soedarso bukan anak yang teramat pandai, tetapi hanya sedang-sedang saja kepandaiannya, tetapi ia rajin, ulet bersungguh-sungguh dan suka bekerja keras.
Sejak Sekolah Dasar Jos Soedarso sudah gemar melukis. Kesenangan atau hobinya melukis tokoh Flash Gordon cerita fiktif rekaan Alex Raymond yang gemar bertualang ke planet-planet di Jagat raya. Hingga dewasa ia tetap gemar melukis. Sesudah menjadi perwira TNI Angkatan laut pun ia masih melukis.
Sewaktu duduk di kelas 6 HIS ia bersama adiknya memeluk agama Katolik. Kepada agamanya Jos patuh dan bersungguh-sungguh, oleh karena itu ayahnya pernah khawatir kalau-kalau anaknya menjadi pastor. Sang ayah ingin anaknya menjadi guru.
Jos Soedarso juga gemar olah raga, terutama kegiatan binaraga (body building). Ia suka sekali bergelantungan di gelang-gelang (ringen) sehingga badannya menjadi sehat dan walaupun pendek tetapi kekar. Yos meneruskan pelajarannya ke HIK (Sekolah Guru) di Muntilan. Dalam berlatih musik di sekolah Jos Soedarso memilih bermain biola, sesuai dengan pembawaannya yang pendiam dan perasaannya yang halus. Diantara kawan dekatnya adalah Drs. Frans Seda yang pernah duduk dalam pemerintahan dan pernah pula menjadi duta besar di Belgia.
Suatu keharusan para murid HIK tinggal di Asrama. di sana Jos Soedarso sering menerima surat dari adiknya yang rajin dijawabnya. Jawaban itu berisi hal-hal pelajaran berhitung. la membantu banyak terhadap kelemahan adiknya dalam hal pelajaran berhitung.
Jos Soedarso juga mempunyai watak yang diperlukan sebagai seorang pemimpin, yaitu rasa tanggung jawab. Setiap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. selalu dilaksanakan dengan rasa tanggung jawab.
Waktu pasukan Jepang berkuasa di Indonesia. Sekolah Guru di Muntilan di tutup. Untuk sementara waktu Jos Soedarso berhenti. kemudian masuk Sekolah Menengah pertama (SMP).
Karena sikapnya yang disiplin dan tertib, para guru tertarik kepadanya Jos Soedarso diangkat sebagai Ketua Umum Pelajar SMP. Kepercayaan ini tidak disia-siakan. Teman-temannya dipimpin untuk berlatih baris-berbaris, berkebun, bekerja bakti (Kinrohoshi) membantu kebersihan sekolah. SMP Salatiga pada waktu itu sungguh bersih. Jos Soedarso adalah seorang pemimpin yang cekatan. la tekun, berdisiplin, jujur dan bertanggung jawab.
Jos Soedarso tidak sampai menamatkan SMP di Salatiga. Empat bulan sebelum ujian akhir, ia keluar dari SMP dan memasuki Sekolah Pelayaran Tinggi di Semarang. Rupanya hatinya tertarik pada lautan, padahal Kota Salatiga itu terletak 60 km dari pantai.
Jos Soedarso termasuk siswa angkatan ketiga dari Koto Seezin Yoseisho atau Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang. Ia tinggal di asrama di Jurnatan, sekarang dipakai sebagai Kantor Polisi Seksi I Semarang. Sedangkan sekolahannya ada di Karangtempel. Setiap hari pagi, siang dan sore baik hujan lebat maupun panas ditimpa terik matahari para siswa pergi dan pulang ke sekolah dengan cara berlari dalam barisan. Pendidikan sekolah Pelayaran Tinggi itu memang bercorak militer, karena dimaksudkan untuk membantu Jepang dalam peperangan. Lama pendidikannya 9 bulan dan para lulusannya diangkat langsung sebagai perwira yang diberi tugas memimpin kapal-kapal kayu untuk Militer Jepang. Kapal-kapal kayu yang digerakkan dengan mesin itu berjasa mengangkut perlengkapan perang, termasuk bahan makanan, pakaian, obat-obatan ke seluruh pangkalan Jepang di Indonesia bahkan ada kapal-kapal kayu Indonesia yang berlayar sampai ke Birma.
Pendidikan Sekolah Pelayaran Tinggi itu, walaupun singkat tetapi cermat dan padat. Para siswa harus belajar teori dan praktek. Mereka harus mengalami praktek mulai dari pelayaran kapal (tobang) sampai perwira kapal. Mereka juga diberi latihan baris berbaris dan kemahiran menggunakan senjata.
Jos Soedarso adalah seorartg yang berdisiplin dan bersemangat. Di sekolah pelayaran ini ia terkenal sebagai berotak cemerlang, penuh energi, tabah, keras kemauan, tajam pikiran, berjiwa besar dan berbakat pemimpin tetapi rendah hati dan sederhana.
Pada suatu hari pernah direncanakan oleh pelatih untuk mengadakan latihan mendayung. Tetapi sekonyong-konyong udara menjadi buruk sehingga latihan dibatalkan. Tetapi Jos mengambil sikap lain, ia tetap melakukan latihan, walaupun gelombang besar dan lautan ganas. Rupanya ia justru ingin mempergunakan kesempatan itu untuk berlatih bagaimana untuk berdayung dikala laut sedang tidak ramah.
Pada tahun 1944 ia lulus ujian sekolah Pelayaran Tinggi dan meneruskan latihan perwira pada Giyo Usamu Butai. Melalui latihan ini Jos Sudarso diangkat menjadi mualim dua. Pada waktu itu ia berusia 19 tahun. Mulailah ia berlayar dengan kapal-kapal kayu menjelajahi lautan nusantara dengan penuh resiko diserang pesawat-pesawat terbang dan kapal-kapal selam Sekutu yang mulai bermunculan di dirgantara dan lautan Indonesia. Banyak kapal-kapal dari Jawa Unko Kaisya yang dibom atau ditorpedo sehingga tenggelam bersama awak kapalnya.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Jos Sudarso menggabungkan diri pada Badan Keamanan Rakyat Laut atau BKR Laut, Yaitu cikalbakal TNI-AL. Bersama-sama dengan pemuda-pemuda pejuang. Jos juga ikut dalam perjuangan khususnya bidang maritim. Dengan kapal-kapal kayu dan kapal-kapal lainnya sebagai hasil rampasan dari Jepang. pemuda-pemuda ALRI segera beraksi dengan pengiriman ekspedisi lintas laut ke daerah-daerah Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi dan Maluku. Mereka bertugas menerobos blokade Belanda, mengobarkan semangat perjuangan, membuka hubungan dan memperkuat barisan perjuangan.
Jos Sudarso pun tidak mau ketinggalan ikut dalam Ekspedisi Laut ke Maluku. Pada bulan Januari 1946 TKR Laut Jawa Tengah menyiapkan dua buah kapal kayu tipe Kiri Maru berukuran 60 ton, yakni Sindoro dan Semeru. Sejumlah 60 putera-puteri Maluku ikut serta dalam kapal tersebut dengan tujuan mengobarkan semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di perairan Maluku. Para pemuda Maluku itu akan didaratkan di daerah Maluku Utara dan Maluku Selatan.
Pada tanggal 3 Maret 1946 jam 17.30 petang, kapal-kapal Semeru dan Sindoro mulai bertolak dari pelabuhan Tegal melaksanakan tugas Ekspedisi Laut ke Maluku. Jos Sudarso yang waktu itu berumur 21 tahun membantu Ibrahim yang bertugas memimpin kapal Sindoro.
Pelayaran itu tentu saja penuh bahaya. karena kapal-kapal patroli Belanda sudah berkeliaran di lautan Nusantara. Kapal-kapal itu tidak langsung berlayar menuju Maluku, tetapi berputar melewati Kalimantan. Pulau Sangi dan maluku. Lagi Pula keadaan kapal-kapal itu sudah tidak mulus dan sering mengalami kerusakan. Oleh karena itu mereka terpaksa berhenti berkali-kali untuk memperbaiki mesin. Penduduk di mana-mana menyambut kapal-kapal yang berbendera Merah Putih itu dengan bergembira dan bangga. Mereka memberikan bantuan bahan makanan seperti sayur-sayuran dan air.
Walaupun kapal-kapal kayu itu sudah tidak mulus. mesin-mesinnya sudah banyak yang rewel dan peralatan serba kurang, tetapi manusia yang menangani kapal-kapal tersebut bersemangat tinggi.
Jos Sudarso berkata. ”Sepanjang masa ada satu unsur yang tidak pernah kembali yaitu manusia. Alat-alat tidak berperang, yang berperang adalah manusia yang berada di belakang alat-alat itu.”
Sesudah sampai di dekat Pulau Bum. rombongan dibagi dua. Semeru menuju Pulau ambalan untuk salanjutnya terus ke Halmahera, sedangkan Sindoro menuju Namlea. Di perairan Buru Utara, kira-kira 30 mil dari pantai. Sindoro mengalami kerusakan mesin lagi. Selain itu persedian makanannya pun sudah abis. Laut di sekitar kapal yang sedang rusak itu terdapat banyak ikan hiu. Namun demikian Jos Soedarso dengan beberapa orang pelaut turun ke laut sampai menunggu perbaikan mesin kapalnya. Mereka turun ke laut dan berdayung ke Pulau Buru untuk mencari bahan makanan.
Dua hari kemudian barulah Jos Soedarso dan kawan-kawan dengan sekocinya muncul kembali penuh dengan bahan makanan. Mereka disambut dengan tembakan salvo sebagai tanda penghargaan, karena dikira mereka telah mati ditelan ikan hiu atau ditangkap patroli Belanda.
Semantara itu kapal Sindoro berlayar lagi dan tiba di Namlea. Rakyat mengerumuni kapal dengan bangga serta terharu menyaksikan Sang Merah Putih berkibar di puncak tiangnya, Pemuda-pemuda pejuang Maluku lalu diturunkan didarat dan kapal melanjutkan pelayaran ke Piru.
Di Piru terjadilah malapetaka. Seluruh anak buah Sindoro disergap oleh pasukan Belanda. Penyergapan itu dilakukan, karena di Namlea telah segera timbul pemberontakan yang dipimpin oleh pemuda-pemuda pejuang Maluku. Belanda mengetahui bahwa pemuda-pemuda pejuang itu diturunkan mendarat oleh kapal Sindoro.
Sebenarnya Jos Soedarso masih dapat menghindarkan sergapan tersebut. la sudah berhasil meloloskan diri dari ancaman Belanda, tetapi kapal kayu Sindoro tentu kalah cepat lajunya dari kapal perang Belanda. Akhirnya seluruh awak kapal Sindoro ditawan dan dipenjara di Ambon. Serdadu-serdadu Belanda itu mengejek habis-habisan pa3a Jos Soedarso dan anak buahnya.
Kapal Semeru tidak mengalami nasib buruk dan meneruskan pelayarannya ke Buleleng, kemudian ke Probolinggo, Jawa Timur dengan selamat.
Jos Soedarso dan kawan-kawannya kemudian dipindahkan ke tahanan Belanda di Ujungpandang. Sesudah meringkuk selama satu tahun di penjara musuh, maka Jos Soedarso dibebaskan karena adanya Perjanjian Linggarajati.
la segera diberi tugas untuk mengikuti Latihan Opsir di Kalibakung, Tegal pada bulan April 1947. Tiga bulan kemudian pasukan Belanda menyerang Republik Indonesia dalam agresinya yang pertama. Di Kalibakung juga terjadi pertempuran. Jos Soedarso terlibat dalam pertempuran ini. Bersama dengan pasukan TNI-AD, ia menuju ke medan pertempuran Purwokerto dan selama aksi militer I ini Yos bergerilya di daerah tersebut.
Sesudah gencatan senjata dan setamat dari Latihan Opsir Kalibakung, Yos meneruskan pendidikannya pada pendidikan Latihan Operasi Khusus (Special Operation) di Sarangan pada bulan Oktober 1948. Ia lalu diangkat menjadi Perwira Operasi Khusus III pada Angkatan Laut sesudah tamat. Daerah operasinya, Yogyakarta dan Surakatra.
Selama Agresi Militer Belanda kedua (1948), mula-mula Jos Soedarso bergerilya di sekitar Yogyakarta, kemudian bersama seluruh Staf MBAL (Markas besar Angkatan Laut), ia menyingkir keluar kota.
Sesudah selesai perundingan KMB pada bulan Oktober 1949, Jos Soedarso diperbantukan pada Kabinet Kepala Staf Angkatan Perang di Yogyakarta. Setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Jos Soedarso ditunjuk untuk menerima perlaksanaan kapal korvet Pati Unus dan selanjutnya diangkat menjadi Perwira II pada korvet tersebut. Alangkah gembira hati Jos Soedarso setelah empat tahun mejadi ”orang darat”, akhirnya ia kembali ke geladak kapal lagi dan menghirup udara laut yang segar.
Pada bulan April 1950 ia ditunjuk untuk memegang pimpian korvet ”Banteng” dengan tugas beroperasi di perairan Maluku Selatan untuk memadamkan Pemberontakan RMS.
Jos Soedarso adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan pandai membesarkan hati anak buahnya. Ia selalu berkata di depan anak buahnya.
Tahukah engkau, nasib kapal ini tergantung sama sekali pada engkau” Jos Soedarso menyadari peralatan angkatan Laut kita masih serba kurang karena itu harus dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya. Kapal korvet Banteng selalu dijaga kebersihan. Keteraturan, ketertibannya, sedang disiplin awak kapalnya dilaksanakan dengan ketat.
Pada tanggal 1 Juni 1951 Jos Soedarso, dipindahkan dari korvet Banteng ke kapal RI Gajah Mada yang lebih besar. Kemudian ia dikirim ke negeri Belanda untuk menambah pengetahuannya. Mula-mula ia dipersiapkan untuk belajar menjadi perwira kapal selam. Rupanya Pemerintah Belanda khawatir sehingga ia dialihkan pada pendidikan jurusan anti kapal selam. Pendidikan teori diberikan di Negeri Belanda. Sedangkan praktek di Portland, Inggris Menurut rencananya pendidikan akan berlangsung selama enam bulan, tetapi sebelum jangka waktu itu Jos Soedarso sudah menamatkannya.
Pada bulan Juli 1952 Jos Soedarso diangkat sebagai Perwira Pendidikan pada Sekolah Angkatan Laut di Surabaya. Tahun berikutnya ia sudah menjadi komandan kapal perang RI Rajawali. Ia bergerak di perairan Aceh untuk membantu pengamanan di daerah. Sementara itu ia juga menjadi penguji pada Kursus Ulangan dan Tingkat Bintara untuk Divisi Pelaut. Bulan Maret 1954 ia dipindahkan ke kapal RI Ahi selanjutnya diangkat menjadi Komandan Divisi II PSK pada Angkatan Laut RI.
Jos Soedarso giat menambah pengetahuan. Pada tahun 1955 ia mengikuti Kursus Ulangan dan Tambahan untuk Tingkat Perwira. Pengetahuannya makin meningkat, demikian pula kepemimpinannya, Tetapi Jos Soedarso tetap tekun, teliti, bersemangat dan sederhana.
Setahun kemudian (th. 1956) Jos Soedarso melengkapi pengetahuan militernya dengan mengikuti latihan Korps Komando Angkatan Laut di Surabaya. Sesudah itu ia diangkat menjadi Perwira I pada RI Gajah Mada, selanjutnya diangkat sebagai Perwira Dpb. Pers. AL/LN.
Jos Soedarso adalah seorang perwira yang iklas dan berdisiplin. Ia pernah berkata ”Hidupku 80 % kuserahkan pada tugas kelautan, baru sisanya yang 20% kuperuntukkan bagi keluarga dan tugas lain. Tentang kesadarannya yang tinggi sebagai seorang warga negara ia berkata, ”tanpa saya negara akan tetap berdiri, tanpa negara sebaliknya hidup saya tidak akan terjamin, karena tanpa negara berarti kekacauan”
Jos Soedarso menikah dengan pemudi Jimmy Florence Siti Kustini. Pada tahun 1957 ia pergi ke Italia untuk mengawasi pembuatan kapal perang ”RI Pattimura” di Livorno, Italia. Kemudian ia membawa kapal tersebut ke Indo­nesia sehingga dapat digunakan untuk mengatasi pergolakan PRRI Permesta.
Jos Soedarso diangkat sebagai Deputy I KSAL dengan pangkat Letnan Kolonel. la pun ditunjuk sebagai anggota Deppernas. la selalu mengumandangkan cinta laut dan perjuangan lautan. Jos Soedarso pun seorang yang memperhatikan kehidupan rakyat kecil. la bersedih hatinya menyaksikan kehidupan nelayan yang selalu dirundung malang.’
Puncak perjuangan Jos Soedarso ialah dilaut Aru, dalam rangka perjuangan pengembalian Irian Barat kepada RI. Pada tanggal 15 Januari 1962 sebuah satuan MTB ALRI melakukan tugas disertai pejabat-pejabat MBAL termasuk Komodor Jos Soedarso. Kesatuan MTB itu terdiri dari 3 kapal, yaitu RI Macan Tutul, RI Macan Kumbang dan RI Harimau. Komodor Jos Soedarso ada di RI Macan Tutul.
Tepat pada jam 21.15 malam hari waktu I (Zone Timur), kapal-kapal RI tadi diserang oleh kapal-kapal dan pesawat Belanda. Komodor Jos Soedarso segera mengambil alih pimpinan di kapal RI Macan Tutul dan berseru ”Kobarkan Semangat Pertempuran”. Dengan manuver untuk memancing perhatian lawan RI Macan Tutul mengubah haluan sehingga musuh memusatkan tembakan-tembakannya kepadanya sementara 2 kapal lainnya dapat diselamatkan.
Bagian depan RI Macan Tutul terkena tembakan dan Komodor Jos Soedarso memberi perintah ”Maju terus. Kita terjang kapal lawan. Kita tenggelam bersama kapal”.
Saat itu kapal RI Macan Tutul sudah tidak terkendali. Bagian bawah ruangannya kena tembakan lagi. Jam 21.33 kapal RI Macan Tutul terbakar dan meledak. Komodor Jos Soedarso luka pada kepalanya, namun sempat menyampaikan pesan terakhirnya :
”Kobarkan semangat pertempuran. Macan Tutul tenggelam dalam pertempuran laut secara gentlemen and brave”.
Bersama dengan 23 anak buahnya Komodor Jos Soedarso gugur, dan tenggelam di dasar laut dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat.
Pemerintah RI menaikkan pangkatnya menjadi Laksamana Muda TNI AL Anumerta dan menghargainya sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 088/TK/Th. 1973. Tanggal 6 November 1973

Mohammad Yamin

Moh Yamin bwNama Mohammad Yamin terkenal sejak masa mudanya. la seoarang tokoh Pergerakan Pemuda, seprang Sarjana Hukum yang menaruh minat kepada beberapa cabang ilmu, berhasil diakui masyarakat sebagai seorang pujangga, filsuf, ahli bahasa , ahli sejarah dan negarawan.
Mohammad Yamin dilahirkan di desa kecil Talawi, di dekat Sawahlunto, Sumatera Barat. Tanggal kelahirannya ialah 23 Agustus 1903. Mohammad Yamin adalah anak ketiga dari lima orang bersaudara.
Ayah Yamin bernama Usman gelar Bagindo Sutan Khatib, bekerja sebagai pegawai yang mengawasi dan mengurusi bidang kopi sebuah perusahaan Belanda.
Mula-mula Yamin bersekolah di Sekolah Dasar kelas II Bumi Putera, dimana ia belajar membaca menulis serta berhitung. Pelajarannya diberikan dalam bahasa Melayu. yang kemudian menjadi bahasa Indonesia. Untuk memperoleh kemajuan dibidang pengetahuan, Yamin merasakan perlunya paham bahasa Belanda. Oleh karenanya ia belajar bahasa Belanda dengan sungguh-sungguh dengan berpindah sekolah ke HIS, yaitu SD dengan bahasa Belanda. Kemudian ia meneruskan pelajarannya ke sekolah guru di Bukittinggi.
Di dorong oleh kemauannya yang keras untuk lebih maju, ia lalu pindah ke Pulau Jawa dan mernasuki Sekolah Dokter Hewan di Bogor. Karena merasa tidak berbakat menjadi dokter Hewan lalu pindah ke Sekolah Menengah Pertanian di Bogor. Di sekolah inipun Yamin tidak merasa betah. walaupun ia pecinta alam gunung-gunung, sawah ladang dan tumbuh-tumbuhan yang indah, tetapi pelajaran tentang ilmu tumbuh-tumbuhan dan ilmu bercocok tanam tidak menarik hatinya. Karena itu ia segera meninggalkan Sekolah Menengah Pertanian dan menuju kota Yogyakarta dan menjadi murid pada AMS (Algemeene Middelbare School = Sekolah Menengah Atas Bagian Sastra Timur) Di sekolah AMS ini barulah Yamin merasa cocok dengan bakat dan seleranya. Ia memang tertarik pada ilmu-ilmu budaya dan bahasa. Ia senang mempelajari sejarah, Antropologi, Ilmu Tata Negara dan bahasa-bahasa Timur seperti bahasa Melayu, Bahasa Jawa dan Sansekerta. Juga bahasa-bahasa Asing dipelajarinya dengan tekun. Karena itu Yamin lulus dari AMS dengan cepat dan lancar.
Kemudian Yamin melanjutkan pelajarannya ke RHS Hoge School Perguruan Tinggi Hukum. Ia lulus pada tahun 1932 dengan mendapat gelar Mr. (Meester in de rechten = Sarjana Hukum). Dimasa mudanya Mohammad Yamin giat dan bersemangat dalam pergerakan Kebangsaan.
Mula-mula, pada waktu masih bersekolah di Sumatera Barat, Muhammad Yamin sudah menjadi pemimpin perkumpulan Jong Soematranen Bond, suatu perkumpulan pemuda dariSumatera. Yamin duduk di dalam Pengurus Jong Soematranen Bond bersama dengan Mohammad Hatta, Bahder Johan dan Amir, kesemuanya kemudian menjadi pemimpin pergerakan partai yang menuntut Kemerdekaan Indonesia.
Pada perayaan ulang tahun ke-5 dari Perkumpulan Jong Soematranen Bond, pada tahun 1923 di Jakarta, Mohammad Yamin sudah mengemukakan gagasannya yang mulia dalam ceramahnya yang berjudul “Bahasa Melayu pada masa lampau, masa sekarang dan masa depan”. la sudah melihat akan datangnya bahasa kebangsaan Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. Diwaktu itu ia menggubah sajak berjudul “Indonesia, Tanah Tumpah Darah” sebagai berikut:
Indonesia Tanah Tumpah Darah Duduk di pantai tanah yang permai Tempat gelombang pecah berderai Berbuih putih di pasir terderai Tampaklah pulau di lautan hijau Gunung-gunug indah rupanya. Tumpah darahku Indonesia namanya.
Lihatlah nyiur melambai-lambai Berdesir bunyinya sesayup sampai Tumbuh di pantai bercerai berai Memagar daratan aman kelihatan Dengarlah ombak datang berlagu Mengajar bumi ayah ibu Indonesia namanya “TANAH AIRKU” Sejak berusia 18 tahun ia sudah sering menulis sajak. Bilamana kalbunya tersentuh nilai-nilai keindahan, keadilan, kebesaran Illahi, kebahagiaan kesyahduan dan nilai-nilai lain yang mempesonakan ataupun mengharukan, niscaya bergeraklah penanya menggubah sajak.
Pengetahuan Mohammad Yamin yang luas ditopang kegemarannya membaca. Koleksi bukunya melebihi 20.000 buah. Sungguh tidak banyak orang Indonesia yang mempunyai buku sebanyak itu. Yamin sering tertidur dengan buku masih ditangan dan kacamata masih dipakainya. Tanpa bosan- bosannya ia membaca buku mengenai Indonesia, baik sejarah, budaya maupun bahasa. Ilmu yang diperoleh dari buku-buku itu tidakdisimpannya untuk dirinya sendiri, tetapi ditulisnya sehingga masyarakat dapat manfaatnya. Ia memberi semangat kepada bangsa Indonesia untuk maju untuk mencintai kebudayaannya dan mencapai kemerdekaannya.
Kekuatannya membaca dan menulis dapat dikatakan luar biasa. Konon ia pernah menulis sebuah buku selama tiga malam tanpa berhenti istirahat. Ia hanya berhenti sebentar untuk mandi dan makan. Kemudian Yamin menulis lagi dan menulis lagi hingga naskahnya selesai.
Berbagai karangannya telah terbit bukunya, antara lain Ken Arok dan Ken Dedes (1934) Gajahmada (1948), Diponegoro (1945), Tan Malaka (1946), Sapta Darma (1950), Tatanegara Majapahit.
Yamin juga seorang ahli pidato yang hebat, mahir dan menarik. Dalam pidatonya ia menghamburkan kata-kata pilihan dengan spontan dan amat memukau pendengarnya. Kadang-kadang pidatonya dihiasinya dengan sajak yang indah, terutama di masa mudanya.
Sebenarnya Yamin itu suka bergaul. Tetapi pada orang-orang yang belum dikenalnya benar, ia lebih bersikap diam lebih dahulu. Sebaliknya dengan sahabat-sahabatnya, ia sanggup bercakap-cakap sepanjang hari.
Sebagai seorang Mahasiswa Yamin makin giat berjuang. Namanya tidak dapat dilepaskan dari kegiatan Kepemudaan, terutama dengan Kongres Pemuda I dan khususnya lagi dengan Kongres Pemuda II di Jakarta, yang menghasilkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Dalam Kongres Pemuda I yang diselenggarakan pada tanggal 30 April – 2 Mei 1926 di Jakarta, pemuda Yamin sudah berperan penting. Dalam pidatonya di Kongres Pemuda I itu ia mengemukakan betapa perlunya bangsa kita ini memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa kebangsaan. Menurut Yamin bahasa Melayu yang sepanjang sejarah telah digunakan sebagai bahasa pergaulan dapat dinobatkan sebagai bahasa kebangsaan. Yamin menutup ceramahnya dengan ucapan ”Sejarah kini ialah, menuju nasionalisme yang dalam dan luas, ke arah kemerdekaan dan tujuan yang lebih luhur, yaitu kebudayaan yang lebih tinggi, agar Indonesia dapat mempersembahkan kepada dunia hadiah yang lebih berharga dan lebih indah selaras dengan kebangsaan kita.”
Di dalam Kongres Pemuda II di Jakarta tanggal 27 – 28 Oktober 1928 yang mencetuskan Sumpah Pemuda. Muhammad Yamin menjabat sebagai Sekretaris sedang ketuanya Sugondo Joyo Puspito dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Kongres Pemuda II itu dihadiri oleh berbagai perkumpulan pemuda dan pelajar, PPPI, Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun (Sunda), Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Pemuda Kaum Betawi, Tirtayasa (Banten) dan Iain-lain.
Pada Kongres tersebut Muhammad Yamin juga mengemukakan ceramahnya berjudul ”Dari Hal Persatuan dan Kebangsaan Indonesia” di gedung Katholieke Jongelingen Bond di Jakarta pada hari Minggu malam tanggal 27 Oktober 1928.
Dalam pidatonya itu Yamin mengatakan, bahwa Kongres Pemuda II adalah suatu peristiwa bersejarah yang penting karena merupakan suatu kebangunan atau renaissance dari semangat atau roh Indonesia, Roh Tumpah Darah, dan Ron Bangsa. la mengajak agar para pemuda melihat segi-segi persamaannya di antara bangsa sendiri dan bukannya mempertajam perbedaannya.
Pemuda-pemuda Indonesia harus mendekatkan dirinya dengan tanah air dan bangsanya yang melahirkan. Pemuda harus menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menanam segala cita-cita dan tujuan. Di dalam dada pemuda tersimpan kemauan jaman baru, jaman yang akan datang, kemauan pemuda adaiah seperti banjir yang tidak boleh dihambat. Durhakalah barang siapa yang berani menghambatinya. Para pemuda Indonesia janganlah bekerja setengah-setengah, tetapi hendaknya benar-benar mau bekerja untuk keluhuran bangsa dan tanah air dengan sepenuh hati. la juga berkata bahwa cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang tersembur pada akar sejarah bangsa kita sendiri. Adapun faktor-faktor utama persatuan Indonesia itu terletak pada sejarah, pendidikan, bahasa, hukum adat dan kemauan.
Yamin mengemukakan pandangan sejarah yang sama sekali bertolak belakang dari pandangan sejarawan Belanda. la berkata bahwa semua sejarah suku-suku bangsa di tanah air kita itu merupakan satu kesatuan sejarah Indo­nesia. Bangsa Indonesia dahulu merdeka, kemudian kemerdekaan itu direnggut oleh Belanda. Tetapi roh kedaulatan dan kemerdekaan bangsa kita tidak lenyap, melainkan tetap hidup.
Mengenai bahasa, Yamin kembali menegaskan bahwa bahasa Indonesia sudah berurat dan berakar dalam pergaulan dan peradaban kita. Jaman emas bagi bahasa Indonesia pasti akan datang. Bahasa Indonesia akan menjadi perbendaharaan, tempat tersimpannya suatu peradaban zaman yang akan datang, yaitu peradaban baru yang bernama Peradaban Indonesia Raya.
Perihal hukum, Yamin berpendapat bahwa hukum ada diantara suku-suku bangsa kita terdapat banyak kesamaan. Sedangkan hukum Barat tidak memadai bagi keperluan kita. Tentu saja bagian-bagian yang usang dari hukum adat perlu ditinggalkan, namun hendaknya diadakan penelitian agar hukum adat dapat menjadi hukum kebangsaan.
Pada bidang pendidikan, Yamin menganjurkan agar anak-anak kita diberi pendidikan yang berjiwa persatuan bangsa dan ditanamkan rasa cinta tanah air dan bangsa.
Pada akhirnya Yamin berkata, bahwa yang terutama ialah adanya kemauan hendak bersatu hingga bangsa dan tanah air kita mencapai kedaulatan dan kemerdekaannya.
Kongres Pemuda II di Jakarta ternyata mencapai hasil yang gilang gemilang dengan mencetuskan ”Sumpah Pemuda” yang menjelmakan tekad bulan Pemuda Indonesia beserta seluruh bangsanya. Sumpah Sakti itu berbunyi:
Pertama : Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.
Kedua : Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Ketiga : Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda, Keputusan Kongres Pemuda II tersebut mula-mula dibacakan oleh Ketua Kongres Sugondo Joyo Puspito, kemudian Muhammad Yamin memberikan penjelasan dengan panjang lebar. Sesudah itu keputusan tersebut disahkan dan menjadi tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia yang sakti dan abadi.
Untuk menyalurkan aspirasi politiknya ia memasuki Partai Politik Partindo (1932 – 1938), kemudian Gerindo dan akhirnya mendirikan Parpindo (Partai Persatuan Indonesia, 1939). Sebagai akibat perselisihannya dengan Pengurus besar Gerindo dimana Yamin menjadi anggotanya. Kemudian oleh kelompok Minangkabau diluar kerjasama dengan Gerindo, Ia dicalonkan dan diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat buatan Pemerintah Hindia Belanda, 1938-1942)
Pada jaman pendudukan Jepang Muhammad Yamin tetap berjuang bersama para Pemimpin Indonesia lainnya. Ia bahkan diangkat sebagai Penasehat (Sanyo) untuk Departemen Propaganda (Sendenbu). Pada saat menjelang kekalahan Jepang, Pemerintah balatentara Jepang mendirikan sebuah Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Jumbi Cosakai). Muhammad Yamin juga menjadi anggota badan tersebut, bersama 62 orang pemimpin Indonesia lainnya, Ir. Soekarno, Dr. Moh. Hatta dan Iain-lain. Waktu pidato Bung Karno yang terkenal berjudul ”Lahirnya Pancasila” pada tanggal 1 Juni 1945 dimuka panitia tersebut, Moh. Yamin hadir daiam rapat itu.
Mohammad Yamin juga menjadi anggota Pariitia kecil yang terdiri dari 9 orang anggota yang pada tanggal 22 Juni 1945 menghasilkan Dokumen yang terkenal disebut ”Piagam Jakarta”
Hari-hari menjelang Prokiamasi Kemerdekaan, Yamin sungguh sibuk dengan berbagai kegiatan dalam rapat-rapat untuk menyempurnakan UUD 1945 yang dipimpin oleh Prof. Dr. Soepomo. Dengan demikian Moh Yamin telah ikut meletakkan dasar-dasar bagi Negaranya Republik Indonesia.
Sesudah Prokiamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 diumumkan, Moh. Yamin tetap berjuang menegakkan kemerdekaan. la menentang Kebijaksanaan Pemerintah Republik Indonesia yang dipimpin oleh Sutan Syahrir karena politik perundingannya dengan Belanda bersama dengan Tan Malaka, ia mendirikan Parta Murba dan Persatuan Perjuangan. Dalam kedudukannya itu ia terlibat dalam peristiwa 3 Juli 1946 yaitu peristiwa kelompok Tan Malaka yang didakwa akan melakukan perebutan kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia karenanya ia ditahan selama 2 tahun. Kemudian ia diajukan ke persidangan Mahkamah Agung. Pidato pembelaannya (Pledooi) berjudul ”Sapta Darma” dibukukan. Ia diputus hukuman 4 tahun pada hari Kemerdekaan 17 Agustus 1948 ia memperoleh grasi dan dibebaskan. Sudah itu pada tahun 1949 ia diangkat sebagai Penasehat Delegasi Indonesia ke Konprensi Meja Bunda (KMB) di negeri Belanda.
Pada tahun 1950 ia anggota DPR RI, tahun 1951 diangkat menjadi Menteri Kehakiman kemudian dari Juli 1953 sampai Juli 1955 ia menjadi Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan sebagai orang yang tak berpartai. Karimya dalam pemerintahan susul menyusul, menjadi Wakil Menteri pertama bidang Khusus, Menteri Penerangan, Ketua Dewan Perancang Nasional (Deppernas) pada 1962.
Setelah Dewan Konstituante dibubarkan dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Yamin diangkat menjadi anggota DPRGR dan MPRS. Ia memegang peranan penting dalam Rencana Pembangunan Semesta yang gagal dalam pelaksanaannnya
Sebagai ahli hukum ia diangkat sebagai Penasehat Pembinaan Hukum Nasional. Pada saat yang sama iapun anggota dewan Pertahanan Nasional, Anggota Staff Pembantu Panglima Besar Komando Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia, Anggota Panitia Jiwa Revolusi, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Kantor Berita ”Antara” selusin jabatan.
Prof. H. Moh. Yamin. S.H. lebih banyak berjasa bagi bangsa dantanah air, ia dianugerahi Bintang Mahaputera. la pun telah Haji, wafat di Jakarta dan dimakamkan di desa kelahirannya, di desa Tallawi, Sawahlunto, Sumatera Barat.
Pemerintah Indonesia mentberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Prof. Moh Yamin S.H. dengan Sural Keputusan Presiden No. 088/TK/Th. 1973 tanggal 6 November 1973.

Robert Wolter Mongonsidi

Robert Wolter Mongonsidi

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 berkumandang di seluruh penjuru tanah air. Gemanya membangkitkan para rakyat pejuang bangsa yang sudah lama bersiap menunggu komando untuk merebut dan menegakkan kemerdekaan.
Di Sulawesi Selatan para pemuda pejuangpun bangkit dan bersatu menyongsong hari depan yang mulia itu, tetapi kaum penjajah Belanda segera datang ke Indonesia dan ingin kembali menguasai tanah air dan bangsa Indo­nesia. Dalam pada itu seluruh bangsa kita sudah bertekad ”Merdeka atau mati”. Diantara pejuang itu, ialah Robert Wolter Monginsidi seorang Pahlawan Bangsa yang kemudian gugur di depan regu tembak Belanda.
Robert Wolter Monginsidi dilahirkan pada tanggal 14 Februari 1925 di desa Malalayang, tidak jauh dari kota Manado. Robert adalah putra ketiga dari Petrus Monginsidi. Ibunya bernama Lina Suawa, dalam lingkungan keluarga dan teman-teman akrabnya, ia biasa dipanggil Bote.
Keluarga Petrus Monginsidi orang tua Robert, bukanlah keluarga yang kaya. Ayah Robert hanyalah seorang petani kelapa, tetapi bercita-cita luhur. Anak-anaknya sedapat-dapatnya disekolahkan sejauh dan setinggi mungkin.
Robert mula-mula bersekolah di Hollands Inslanche School (HIS. setingkat SD). Sejak kecil ia adalah anak yang gagah, tampan, keras kemauan dan cerdas. Sesudah tamat dari HIS ia melanjutkan ke MULO, yaitu SMP pada jaman Hindia Belanda.

 

 

Pada jaman kedudukan Jepang mula-mula Robert belajar bahasa Jepang (Nihonggo Gakko). Ia memang berbakat pada bahasa asing dan karena itu lulus dengan memuaskan. Ia lalu diangkat sebagai guru pada Kursus Bahasa Jepang padahal usianya masih muda. Mula-mula ia mengajar di Liwutung (Minahasa), lalu dipindahkan ke Luwuk (Sulawesi Tengah).
Robert gemar membaca dan pandai berbahasa Belanda, Inggris dan Jepang tetapi ia masih ingin belajar, karena itu ia meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan memasuki Sekolah Menengah Pertama di Ujung Pandang.
Ketika pasukan Jepang menyerah pada Perang Asia Timur Raya dan Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan Robert Wolter Monginsidi sedang berada di Rantepao, Tanah Toraja. Ia segera menuju ke Ujung Pandang dan bergabung dengan para pemuda pejuang. la bertekad untuk membela Negara Republik Indonesia, dan melawan pasukan penjajah yang datang untuk menguasai tanah air dan bangsa kita. Robert Wolter Monginsidi terkenal seorang pemuda yang bersemangat dan cinta tanah air dan bangsa.
Bersama-sama dengan para pemuda pejuang di Sulawesi Selatan, Wolter menyusun rencana perlawanan dan pertahanan, demikian pula kawan-kawan sekolah di SMP Nasional Ujung Pandang giat membantu perjuangan. Mereka menempelkan plakat-plakat perjuangan di seluruh kota, bahkan di depan tangsi pasukan NICA / Belanda.
Wolter Monginsidi bersama Maulwi Saelan dan kawan-kawannya memimpin Barisan Angkatan Muda Pelajar yang bertindak dengan keberanian di tengah-tengah pasukan Belanda.
Pada tanggal 27 Oktober 1945 seluruh kekuatan pemuda pejuang di Ujung Pandang dipusatkan untuk mengadakan serangan umum. Robert Wolter Monginsidi juga ikut mengambil peranan penting. Para pemuda pejuang akan merebut tempat-tempat strategis, bangunan-bangunan vital dan gedung-gedung penting yang telah diduduki tentara Belanda. Mereka akan menyerbu Stasiun Pemancar Radio Makasar, Tangsi Belanda di Mariso, Stasiun Radio di Mattoanging, Stasiun Radio di Mara Dekaya, Tangsi dan Kantor Polisi NICA.
Wolter dan kawan-kawannya para pelajar SMP mendapat tugas menyerbu Hotel Empres dan menangkapi para perwira Belanda, mereka juga bertugas membuat barikade di jalan-jalan.
Tepat jam 5.00 pagi, tanggal 20 Oktober 1945 mulai terdengar tembak menembak di jalan Gowa. Pagi itu sudah terjadi pertempuran di seluruh penjuru kota Ujungpandang. Stasiun radio di Mattoanging dan Maradekaya telah dapat dikuasai para pemuda. Mula-mula pasukan Australia yang bersenjata lengkap itu bersikap menonton saja. Mereka tidak berbuat apa-apa. Tetapi pasukan Belanda berhasil membujuk dan mempengaruhi pasukan Australia. Akhirnya pasukan Australia ikut campur melawan serbuan para pejuang.
Mereka menyerbu markas pejuang di Jonggaya pada siang hari jam 11.00. Pasukan Australia memiliki senjata lengkap dan modern, sedangkan pasukan pemuda pejuang bersenjata sederhana dan seadanya. Tentu saja sungguh berat melawan pasukan Australia itu. Meskipun demikian para pemuda melawan dengan semangat tinggi. Dalam pertempuran itu banyak pemuda pejuang yang gugur, dan 46 pemuda ditangkap tentara Sekutu (Aus­tralia) termasuk Robert Wolter Monginsidi. Beruntunglah, Wolter mahir berbahasa asing dengan kepandaiannya berdiplomasi, Wolter dapat menyakinkan para perwira Australia itu bahwa mereka itu pemuda pejuang yang sedang menegakkan kemerdekaan bangsa dan tanah airnya, akhirnya mereka yang ditangkap itu dibebaskan.
Sementara itu pasukan NICA Belanda terus melancarkan pengejaran terhadap para pejuang, terpaksalah para pejuang mengundurkan diri dari kota dan membentuk markas-markas di daerah-daerah seperti Plongbangkeng, Jeneponto, Bulukumba, Bantaeng, Palopo, Kolaka, Majene, Enrekang, dan Pare-pare. Dari markas-markas daerah itu seringkali pemuda memasuki kota mengadakan aksi penyerangan. Mereka menculik dan membunuh mata-mata kaki tangan Belanda, sebaliknya pasukan Belanda sering pula melancarkan serangan ke daerah-daerah untuk menghajar dan menghancurkan kekuatan pemuda. Di antara para pejuang itu, maka para pelajar SMP Nasional menduduki tempat dan memperoleh nama yang baru. Mereka seringkali mengadakan gerakan yang merugikan pasukan Belanda, terutama sekali pemuda Robert Wolter Monginsidi. la sangat berani dan bergerak sangat lincah, karena itu menjadi sasaran pasukan Belanda.
Robert Wolter Monginsidi menggabungkan diri pada pasukan Ronggeng Daeng Rono yang bermarkas di Plongbangkeng. la bertugas sebagai penyelidik, karena mahir berbahasa asing dan mempunyai wajah yang mirip orang Indo-Belanda.
Wolter seringkali memasuki kota Ujung Pandang seorang diri, la menyamar sebagai anggota tentara Belanda, ditengah jalan Ia menghentikan Jeep tentara Belanda lalu ikut menumpang. Ditengah jalan Wolter segera menodongkan pistolnya ke arah pengemudi yang dibuatnya tidak berdaya, senjatanya dirampas dan demikian pula mobilnya.
Pada hari yang lain ia memasuki markas Polisi Militer Belanda dan menempelkan plakat berisi ancaman yang ditanda tanganinya sendiri. Dapatlah dibayangkan, betapa terkejutnya tentara Belanda itu. Nama Robert Wolter Monginsidi bagaikan hantu yang sangat ditakuti pasukan Belanda.
Berkali-kali Ia melakukan aksi dan selalu berhasil. Wolter adalah seorang pejuang yang selalu bersungguh-sungguh, ia pun seorang pemimpin yang tangguh. Pada tanggal 17 Juli 1946 Robert Wolter Monginsidi bersama-sama para pemuda pejuang lainnya mendirikan organisasi perjuangan bernama Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), terdiri dari 19 satuan perjuangan. Ranggong Daeng Romo menjadi panglima dari barisan LAPRIS ini, sedangkan Robert Wolter Monginsidi diserahi tugas Sekretaris Jenderal yang langsung memimpin operasi. Adapun program perjuangan Lapris ialah :
1. Membasmi dan membersihkan mata-mata serta kaki tangan NICA (Belanda).
2. Mengganggu lalu lintas dengan menghadang mobil tentara dan polisi Belanda, menghalangi kendaraan yang mengangkut barang dan bahan untuk kepentingan Belanda.
3. Membakar dan memusnahkan rumah serta bangunan vital milik Pemerintah dan tentara Belanda.
4. Merampas senjata musuh.
Robert Wolter Monginsidi tidak tinggal di markas saja, tetapi Ia langsung memberi contoh di lapangan, Ia bergerak di sekitar kota Makasar (Ujung Pandang), Woga, Jeneponto, Malino dan Camba. Wolter sendiri langsung memimpin pasukan Harimau Indonesia (HI). Pada tanggal 3 November 1946 dalam suatu pertempuran di kota Barombong, Wolter terluka dan terpaksa mengundurkan diri untuk sementara. Sesudah sembuh, Ia kembali melakukan aksi-aksi penyerangan lagi. Pada tanggal 21 Januari 1947 di Kassi-kassi, terjadi pertempuran. Di sini gugur Emmi Saelan seorang pejuang putri yang sempat menewaskan delapan orang tentara Belanda dengan granat yang diledakkannya tetapi, Robert Wolter Monginsidi dapat meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda yang ketat itu.
Belanda makin gentar menghadapi Robert Wolter Monginsidi, mereka memberi pengumuman, siapa dapat menangkap Wolter hidup atau mati akan diberi hadiah, tetapi Wolter tidak pernah tertangkap.
Pasukan Belanda makin hari makin memperkuat penekanannya terhadap para pemuka pejuang. Banyak diantara mereka yang tertangkap, gugur atau meninggalkan Sulawesi Selatan menuju pulau Jawa. Jumlah pemuda pejuang makin tipis, tetapi Robert Wolter Monginsidi tetap berdiri dengan teguh, “Saya berani berjuang untuk Nusa dan Bangsa, karena itu pula saya harus berani menanggung akibatnya “
Ia tetap kuat dengan pendiriannya bahkan Ia sering berjuang seorang diri mengacau pasukan belanda yang terlatih dengan modern itu.
Pasukan Belanda makin mengganas untuk menekan perlawanan dan perjuangan rakyat Sulawesi Selatan, Belanda melakukan pembunuhan besar-besaran yang dipimpin oleh algojo yang terkenal bengisnya, yaitu Kapten Raymond Paul Pierre Westerling. Belanda mengancam, barang siapa menyembunyikan, membantu dan melindungi kaum pejuang yang bergerilya di daerah, maka mereka akan dibunuh. Puncak tindakan sewenang-wenang Westerling telah terjadi pada bulan Desember 1946. Mereka melakukan pembersihan dengan cara besar-besaran dan tanpa peri-kemanusiaan sehingga puluhan ribu rakyat tua muda laki perempuan yang terbunuh secara massal. Tidak kurang dari 40.000 jiwa telah menjadi korban keganasan pasukan Westerling selama waktu itu. Selama itu Wolter selalu dapat meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda. Namun pada tanggal 28 Pebruari 1947 merupakan hari naas baginya. Pada hari itu Wolter tertangkap oleh pasukan Belanda dan kemudian dimasukkan ke penjara di Hoogepod Ujung Pandang. Di penjara itu Belanda membujuknya agar melepaskan perjuangannya, dan kalau bersedia akan diberi hadiah-hadiah dan kedudukan yang menggiurkan. Tetapi Wolter tetap menolak, la berkata “Tetap setia pada cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Berani berjuang untuk kepentingan Nusa dan Bangsa dan berani pula menanggung segala akibatnya”.
Sementara itu kawan-kawan Wolter di luar berjuang keras untuk membebaskannya dari penjara. Mereka menyelundupkan 2 buah granat tangan yang dimasukkan dalam makanan kiriman. Bersama dengan Abdullah, Lahade, Yoseph dan Lewa Daeng Matari, Robert Wolter Monginsidi dengan bersenjatakan 2 granat berhasil lolos dari penjara dengan melalui atap dapur pada tanggal 19 Oktober 1946.
Alangkah marahnya pasukan Belanda melihat sel-sel penjara tempat Wolter dan kawan-kawannya itu sudah kosong, mereka lalu mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencari Wolter.
Rupanya sudah ketentuan Tuhan Yang Maha Esa, hanya sembilan hari Wolter dapat menghirup udara kemerdekaan. Pada jam 5.00 pagi hari tanggal 26 Oktober 1948 selagi Wolter berada di Klapperkan lorong 22 A No. 3, Kampung Maricayya, Ujung Pandang ia disergap oleh pasukan Belanda, karena ada yang menghianatinya.
Wolter dimasukkan lagi dalam Penjara Polisi Militer Belanda dan dijaga dengan sangat ketat, Belanda tidak ingin Harimau Indonesia ini lepas untuk kedua kalinya dari penjara. Mereka menyiksa Wolter dengan berbagai cara, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya. Ia seorang pemimpin sejati.
Semua tindakan kawan-kawannya diakui sebagai tanggung jawabnya. Kemudian Wolter dipindahkan ke penjara Kis (Kiskampement).
Sungguh luar biasa, walaupun Wolter mengetahui apa yang akan terjadi dengan dirinya, dan hukuman apa yang akan diterimanya, namun Ia tetap tabah, dan tampak ketenangan jiwanya.
Robert Wolter Monginsidi adalah pemeluk agama Kristen, sejak kecil ia sudah mendapatkan bekal dan bimbingan iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengaruh Imam dan agama itu terlihat betul pada Wolter yang baru berusia 23 tahun. Ia makin tenang dan bertawakal, sama sekali tidak terlihat rasa takut dan kegoncangan jiwanya. Ia banyak membaca dan menulis surat pada masa itu. Wolter bersikap pasrah, keikhlasannya terlukis dalam kata-katanya, “Aku telah relakan diriku menjadi korban dengan penuh keinsyafan untuk memenuhi kewajiban dengan masyarakat ini dan yang akan datang”.
Tentu saja ia mengalami pemeriksaan Polisi Militer Belanda dengan caranya yang keras dan kejam, namun Wolter tak gentar oleh ancaman dan siksaan. Tekadnya telah bulat, bahwa ia berani, menanggung segala akibat perjuangannya, “Dan saya tunduk pada batin saya” katanya.
Pada tanggal 26 Maret 1949, Wolter diajukan ke muka pengadilan Kolonial Belanda. Pada akhirnya Ia dijatuhi hukuman mati, tetapi Wolter tetap tabah dan berjiwa ksatriya, ia berkata.
“Aku tidak mengandung perasaan tidak baik terhadap siapapun, juga terhadap mereka yang menjatuhkan hukuman yang paling berat ini kepadaku, karena kupikir mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan”. Wolter benar- benar bersikap ikhlas pada nasib dan perjuangannya. Ia meninggalkan ucapan,
“Apa yang bisa saya tinggalkan hanya rokh-ku saja yaitu rokh setia hingga terakhir pada tanah air dan tidak mundur sekalipun, menemui rintangan apapun menuju cita-cita kebangsaan yang tetap. Terbatas dari segala pikiran ini, junjunganku senantiasa Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dengan kepercayaan yang tersebut belakangan ini, sangguplah saya tahan segala-galanya, teguh iman di dalam kesukaran, tenang ketika keadaan sederhana dan tidak melupakan kenalan-kenalan jika berada dalam kemajuan”.
Wolter telah diputuskan oleh kolonial untuk dijatuhi hukuman mati, berbagai pihak menganjurkan agar Ia meminta pengampunan atau grasi kepada pemerintah Belanda bahkan secara diam-diam ayahnya sendiri, terdorong oleh rasa kasih sayang kepada putranya, telah memintakan grasi. Tetapi Wolter sendiri telah menolak untuk meminta grasi itu. Ia sudah benar-benar merelakan akibat perjuangannya itu.
Ternyata pemerintah Belanda memang menolak grasi itu. Wolter sendiri setelah mendengar grasi itu ditolak tetap tenang. Ia berkata, ”Memang betul, bahwa ditembak bagi saya berarti ada kemenangan batin, dan dihukum apapun tidak ada membelenggu jiwa sebab kegembiraan di dalam keyakinan sendiri memang adalah luas”.
Akhirnya Robert Wolter Monginsidi ditembak mati dihadapan regu tembak pada tanggal 5 September 1949 dinihari, disuatu tempat di daerah Pacinang, Wilayah Talo Kecamatan Panakukang, delapan kilometer jauhnya dari kota Ujung Pandang. Ia adalah seorang pahlawan bangsa, ia ditembak tanpa ditutup matanya. dengan memegang kitab Injil di tangan kirinya dan tangan kanannya mengepalkan tinju sambil berteriak : ”MERDEKA ATAU MATI”, Lima menit sebelum Pahlawan Robert Wolter Monginsidi masih dengan tenang menulis kalimat penghabisan sebagai pesan kepada generasi penerus bangsa ”SETIA HINGGA TERAKHIR DALAM KEYAKINAN”. Ditanda tangani 5 September 1949 R.W. Monginsidi.
Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Robert Wolter Monginsidi dengan Surat Keputusan Presiden RI tanggal 6 November 1973 No. 088/TK/TAHUN 1973.

K.H Zainal Moestafa

KH Zainal Moetafa bwNama kecil K.H. Zainal Moestafa ialah Umri alias Hudaemi, lahir pada tahun 1907 di Kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan/Kawedanan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Ayahnya seorang petani muslim yang taat pada agamanya Islam. Sebagai kanak-kanak Umri masuk sekolah dasar hingga tamat. Sewaktu kanak-kanak Ia telah belajar agama, mula-mula belajar di bangku SD ia telah memahami sebagian tafsir Al Quran dan hafal ayat-ayat suci, bahkan sudah pula mulai belajar dan memahami bahasa Arab dengan tata bahasanya yang disebut nahwu dan sharaf.
Setelah tamat SD ia meneruskan pelajaran agamanya ke pondok Gunung Pari, kemudian ke lain-lain pondok, yaitu di Cilenga, Sukamiskin, Jamanis dan lain-lain, semuanya di tanah Pasundan. Ia menempuh pelajaran di berbagai pondok karena pondok-pondok di jaman itu memiliki kekhususannya masing-masing, misalnya satu pondok mempunyai keistimewaan dalam pelajaran Tafsir, lainnya tentang Hadist, ada yang tentang Fikih dan ada pula tentang Tasawuf.
Jadi, untuk memperoleh berbagai pengetahuan agama yang banyak cabangnya haruslah belajar di beberapa pondok seperti yang dilakukan oleh Umri alias Hudaemi itu. Di Cilanga ia belajar di bawah pimpinan Kyai Sumratulmuttaqin hingga meningkat dari santri pelajar menjadi guru mengajar.
Setelah mencapai umur 20 tahun timbullah niatnya untuk mendirikan pondok pesantren sendiri. Kyai Cilanga yang amat sayang kepadanya, meskipun akan kehilangan seorang pengajar yang cakap dan berpengetahuan luas, namun tidak mau mencegah niat Umri yang mulia. Ia mendapat restu dari sang Kyai dan dengan mantap ia merintis mendirikan pondok pesantren di sekitar desa kelahirannya, yaitu di Cikembang, tak jauh dari Bageur. Pondok pesantren yang dibuka pada tahun 1927 diberinya nama Sukamanah. Nama itu kiranya dimaksudkan untuk semboyan suka berpikir yang berarti pula suka belajar.
Pada tahun 1927 itu pula Kyai muda Umri alias Hudaemi pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah. Di tanah suci Ia memperoleh pengalaman dan menambah pengetahuan agamanya. Sepulang dari haji Ia menyandang nama Kyai Haji Zainal Moestafa yang makin lama makin terkenal sebagai Kyai muda yang luas pengetahuannya.
Berkat gemblengan Kyai Sumratulmutaqin di Cilenga, Kyai Haji Zainal Moestafa mahir memimpin pondok dan mengajar para siswanya. Pengalamannya lebih dari 10 tahun menjelajahi berbagai pondok diterapkan dengan sebaik-baiknya di pondok pesantrennya dengan leluasa.
Ia telah berhasil menterjemahkan beberapa kitab dari bahasa Arab ke dalam bahasa Sunda yang bagus dan indah. Kitab-kitab yang diterjemahkannya mencakup pelajaran-pelajaran:
1. Syariat, meliputi buku-buku pelajaran tentang tafsir Al Quran, ilmu Hadis, ilmu Fiqih, ilmu Kalam dan lain-lain.
2. Ilmu Bahasa Arab, meliputi ilmu Nahwu, ilmu Sharaf, ilmu Balaghah, ilmu Bahasa dan ilmu Arudh.
3. Alhikmah dan Filsafat, terutama mengenai kitab-kitab ilmu Mantiq, ilmu Falak, dan ilmu Metafisika.
4. Sejarah, mengenai sejarah umum dan Sejarah Islam.
Disamping mengajar para siswanya K.H. Zainal Moestafa senang memikirkan pula perjuangannya melawan penjajah. Tindakan-tindakan pemerintah Hindia Belanda terhadap kaum pergerakan nasional dan Islam tidak luput dari perhatian sang Kyai. Ia melihat masa datang yang gelap bagi bangsa Indonesia, bilamana tak ada gerak perlawanan.
Diilhami oleh pengetahuan sejarah yang mendalam K.H. Zainal Moestafa mulai membuat kerangka perjuangan yang berdasarkan Islam, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam Al Quran dan Hadits.
Kerangka dasarnya telah dibulatkan dalam 2 hal, yaitu bermaksud :
1. Membangunkan kaum ulama dan masyarakat Islam; dan
2. Memupuk persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia.
Dari tahun ke tahun pondok Sukamanah mendapat kemajuan dan kepercayaan rakyat, khususnya di Priangan timur dan umumnya di Barat, bahkan sampai di Jakarta. Maka di daerah-daerah itulah K.H. Zainal Moestafa sering mengadakan rapat-rapat dan melakukan tabligh. Bukan tabligh agama Islam semata, tetapi tabligh tentang sikap pendirian manusia muslim menghadapi penjajah yang kafir.
Sikap pendiriannya adalah non-koperasi, tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda yang kafir yang dianggap seteru bebuyutannya.
Seringkali ia berpidato secara emosional, menyerang langsung pemerintah Hindia Belanda yang dikatakannya melanggar hak-hak kemanusiaan, merusak pendidikan keagamaan Islam di Indonesia dan menyalahgunakan atau memutar balik ajaran Islam demi kepentingannya untuk memecah belah rakyat, khususnya kaum muslimin.
Di sekitar tahun 1940 – 1941 makin gencarlah serangan K.H. Zainal Moestafa kepada pemerintah kolonial, sehingga pemerintah harus mengambil tindakan. Usaha pendekatan dilakukan dengan berbagai jalan berupa bujukan halus rayuan, namun K.H. Zainal Moestafa tidak tergoyahkan pendiriannya.
Setelah makin jelas sang Kyai tidak mengindahkan peringatan-peringatan dari pemerintah, bahkan terus menyerang tindakan-tindakan kolonial, maka pada tanggal 17 November 1941 K.H. Zainal Moestafa ditangkap dan dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung bersama dengan beberapa pengikutnya, antara lain Kyai Ruhiat. Setelah 53 hari K.H. Zainal Moestafa dan kawan-kawan ditahan dalam penjara ia dibebaskan, ia tak pernah diajukan ke muka pengadilan.
Lepas dari kurungan kolonial dan pulang ke Sukamanah, tidaklah reda samangatnya. Oleh karenanya pada bulan Pebruari 1942 Ia ditangkap lagi dan dipenjarakan di Ciamis hingga balatentara Jepang datang menduduki Indonesia.
Pada tanggal 31 Maret 1942 K.H. Zainal Moestafa dibebaskan dari penjara Ciamis oleh seorang kolonel Jepang. Tak ada suatu perjanjian apapun yang mengikat Kyai, kecuali Ia diminta membantu Jepang dan diharapkan Kyai suka duduk dalam Sendenbu (Barisan Propaganda Jepang). Kyai belum dapat menyanggupi sesuatu karena ia masih merasa lemah dan memerlukan istirahat.
Datang kembali di pondok Sukamanah ia disambut oleh keluarga, handai taulan dan para siswanya dengan gembira. Dalam pidato singkat ia berpesan supaya orang waspada terhadap Jepang dan propagandanya, sebab janji-janjinya belum merupakan kenyataan.
Kemudian datanglah permintaan Jepang bertubi-tubi agar Kyai suka membantu Jepang, namun Ia tidak memberikan kesanggupan yang tegas. Sikap Kyai masih menunggu dan melihat-lihat. Sementara itu keadaan rakyat Indone­sia dibawah pemerintah Jepang makin memburuk. Segala tindakan Jepang serba memberatkan rakyat, antara lain larangan terhadap semua organisasi rakyat, pengumpulan bahan makanan untuk keperluan perang, tingkah laku orang-orang Jepang menginjak-injak kehormatan wanita Indonesia hingga pada soal rakyat dipaksa menjadi romusha.
Sikap dan semacam gerakan yang berpusat di Sukamanah dan persiapan-persiapan tercium oleh Jepang. Kenpetai Tasikmalaya memanggil K.H. Zainal Moestafa namun Kyai menjawab, bahwa ia sedang sibuk. Sebaliknya sewaktu-waktu ia bersedia menerima kedatangan tuan-tuan Nippon. Habislah kesabaran Jepang. Pada tangal 24 Pebruari 1944 Jepang mengirim satu pasukan polisi yang diperkuat oleh kesatuan-kesatuan Keibodan (polisi bantuan) disertai oleh Camat Singaparna untuk menangkap K.H. Zainal Moestafa.
Sekaranglah Sukamanah dihadapkan kepada kenyataan, tindakan Jepang yang sewenang-wenang terhadap pemimpinannya. Tidak ada jalan lain daripada melawannya. Segenap barisan Sukamanah dibawah pimpinan panglima Najamuddin telah bersepakat untuk membela pemimpinnya.
Berhadapan dengan petugas-petugas Jepang, K.H. Zainal Moestafa menjelaskan sikapnya, bahwa ia tidak menghadapi bangsa sendiri. Ia minta berhadapan langsung dengan kenpetai dan membikin perhitungan secara jantan. Keterangan itu tidak dapat diterima oleh para petugas Jepang itu. Oleh karenanya mereka lalu dikepung oleh barisan Sukamanah. Pada pagi harinya tanggal 25 Pebruari 1944 mereka baru diperkenankan kembali ke Tasikmalaya tanpa cedera, namun harus meninggalkan 3 pucuk pistol, 12 senapan dan 25 senjata tajam.
Tanggal 25 Pebruari 1944 adalah hari Jumat. Sehabis mengimani shalat Jumat K.H. Zainal Moestafa ke luar dari mesjid diiringi oleh pemimpin-pemimpin Sukamanah, termasuk panglima Kyai Najamuddin.
Di depan pondok Gunung Bentang telah berdiri 4 orang Jepang dan seorang daripada mereka melambaikan tangannya memanggil K.H. Zainal Moestafa. Sikap yang sombong itu dihadapi oleh Kyai dengan sabar. Ia berjalan dengan tongkatnya, diiringi oleh para pengikutnya menemui orang-orang Kenpetai itu, dengan mengacungkan tongkat kepada pengikutnya Kyai memberi isyarat agar mereka tetap sabar.
Seorang dari Kenpetai itu memberitahu, bahwa K.H Zainal Moestafa telah berbuat jahat karena tidak mau bekerjasama dengan Jepang, tidak mau menghadap kepada kenpetai Tasikmalaya, telah membunuh saudara-saudara tua dan merampas senjata. Semua orang akan diampuni asal tidak berbuat keributan, mengembalikan senjata yang dirampas dan menyerahkan pemimpin Sukamanah, yakni K.H. Zainal Moestafa. Dia tidak akan diapa-apakan asal ia bersedia meminta ampun dan menyatakan penyesalannya.
Kyai Najamuddin, sang panglima, sudah tidak sabar lagi mendengarkan penghinaan Jepang. Ia menjawab dengan lantang: Baik besok kami akan berangkat ke Tasikmalaya untuk menyerahkan diri dengan senjata api, tetapi kepala-kepala tuan-tuan Nippon yang empat ini harus ditanam di Sukamanah sebagai gantinya.
Mendengar jawaban itu Jepang menjadi panik dan segera akan menggunakan pistol dan samurainya. dengan cepat mereka disergap. Tiga orang berhasil dibunuh, sedang seorang yang luka-luka dapat lolos dan melarikan diri.
Sebenarnya pada waktu itu Sukamanah sudah dikepung oleh barisan Jepang dari 23 penjuru dari timur, utara dan selatan telah maju serentak, pasukan yang terdiri dari polisi istimewa masing-masing 2 kompi. Pasukan itu berjalan kaki dengan tugas sekaligus mencegah orang-orang yang melarikan diri dari Sukamanah Dari jurusan barat maju pasukan bermotor terdiri dari 2 kompi, 2 kompi Heiho dari luar Jawa Barat dan satu kompi pasukan raiders Jepang. Semuanya yang menyerbu Sukamanah terhitung satu batalyon penuh.
Sementara itu di jalan-jalan masuk Sukamanah sudah diadakan rintangan-rintangan oleh rakyat. Pasukan Sukamanah yang terdiri dari 3 pasukan santri dan pasukan rakyat dibawah pimpinan Panglima Najamuddin menghadang musuh di desa Cihaur. Setelah berhadapan dengan musuh pasukan Sukamanah terkejut karena yang dihadapinya bukanlah orang-orang Jepang, tetapi bangsa sendiri, padahal instruksi K.H. Zainal Moestafa tidak mengizinkan berperang sesama bangsa. Larilah kurir ke belakang untuk mohon instruksi Kyai, namun keburu barisan Jepang menembak ke atas kemudian menyerang dengan senjatanya.
Terjadilah pertempuran pasukan Sukamanah yang bersenjata golok, parang, pedang, bambu runcing dan sebagainya melawan barisan yang bersenjata senapan, pistol, mitralyur dan senjata tajam. Dalam pertempuran 90 menit barisan Sukamanah dapat dihancurkan dan berakhir dengan penangkapan K.H. Zainal Moestafa. Berpuluh-puluh pengikutnya ditangkap pula, kemudian Jepang mengadakan pembersihan, mengobrak-abrik pondok, rumah-rumah rakyat, merampas harta benda yang dianggap rampasan perang.
K.H. Zainal Moestafa masih sempat memberi pedoman kepada pengikutnya yang pokoknya:
1. Dalam pemeriksaan, semua jawaban hendaknya dapat menyelamatkan diri masing-masing dan teman seperjuangan.
2. Jangan mengaku ikut menyergap dan membunuh 3 orang Kempetai.
3. Jangan putus asa, serahkan segala puji kepada Allah, teruskan perjuangan, jalan kita masih jauh.
4. Saya (K.H. Zainal Moestafa) adalah satu-satunya pemimpin Sukamanah yang bertanggung jawab. Jatuhkanlah beban berat kepadaku. Kalau terpaksa boleh disebutkan nama kawan seperjuangan yang sudah gugur.
Untuk menumpas pemberontakan Sukamanah itu telah digerakkan 2 batalyon polisi, tentara Jepang di bawah perlindungan 5 buah pesawat terbang.
Sebanyak 22 orang pemimpin-pemimpin Sukamanah terhitung K.H. Zainal Moestafa yang ditangkap terdiri dari 5 orang kyai termasuk Panglima kyai Najamuddin dan 17 orang santri yang gagah berani mereka itu dikirim dan dipenjarakan di penjara Cipinang, Jakarta.
Jumlah korban Sukamanah yang gugur dalam pertempuran dan disiksa dalam tahanan Kenpeitai dan penjara Sukamiskin ada 198 orang, sedang yang cedera kehilangan mata, kehilangan ingatan dan sebagainya 10 orang. Kerugian harta ditaksir Rp. 15.500.000,- (taksiran tahun 1970).
Korban fihak Jepang : seorang kapten, 2 orang Letnan dan seorang juru bahasa Kenpeitai mati, kurang lebih 20 orang luka-luka, 5 pucuk pistol, 12 pucuk senapan dan 25 senjata tajam termasuk pedang samurai dirampas.
K.H. Zainal Moestafa dan 21 orang yang dipenjarakan di Cipinang, akhirnya dihukum mati. Mula-mula tidak ketahui makamnya, baru kemudian pada tangal 23 Maret 1970 makam para syuhada yaitu K.H. Zainal Moestafa dan kawan-kawan dapat diketemukan oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, waktu itu Kepala Pusat Sejarah ABRI ialah di makam serdadu-serdadu Belanda, di Ereveld Ancol, Jakarta.
Perjuangan Sukamanah diakui oleh pemerintah kita sebagai cetusan kepahlawanan mencapai kemerdekaan, sedang pemimpinnya K.H. Zainal Moestafa memperoleh gelar Pahlawan Nasional dengan SK Presiden RI No. 064/TK/Tahun 1972 tanggal 6 November 1962.

Wage Rudolf Soepratman

Wage Rudolf Soepratman

Nama depannya W.R. berarti, Wage Rudolf. Wage Soepratman adalah nama aslinya, sedang Rudolf diberikan kakak iparnya, Hal ini ada sejarahnya sendiri yang akan diuraikan di belakang. Nama depan W.R. itu melekat padanya hingga akhir hayatnya.
Wage Soepratman adalah anak dari Jumeno Senen asal desa Godean, 8 km barat laut kota Yogyakarta yang menjadi serdadu KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger sama dengan Tentara Kerajaan Belanda). Ibunya berasal dari desa Trembelang, wilayah desa Somongari, Purworejo, Jawa Tengah.
Wage Soepratman bersaudara ada 8 orang, tetapi dua orang laki-laki yang lahir lebih dahulu meninggal dunia waktu masih kanak-kanak. la adalah anak ke-7 dalam keluarganya, terhitung yang meninggal dunia.
la dilahirkan pada hari Jumat Wage, tanggal 5 Maret 1903. Rangkapan (Pasaran) hari kelahirannya Wage itulah menyebabkan ia diberi nama Wage Supratman. Ia dilahirkan di desa kelahiran ibunya, Trembelang, Somongari, Purworejo. Demikianlah karena pada waktu ibunya hamil tua, ia seizin suaminya pulang ke desanya dengan harapan melahirkan anak laki-laki. Mengingat kedua anak laki-lakinya yang terdahulu meninggal dunia, maka sebagai suatu ikhtiar Ia akan melahirkan anaknya di desanya dan berharap akan lahir anak laki-laki, harapan itu dikabulkan oleh Tuhan.
Masa kanak-kanaknya ia di tempat tugas ayahnya, yakni Jatinegara, Jakarta. Di sana ia sempat bersekolah di Taman Kanak-kanak (Frobel School). Pada tahun 1910 ayahnya pensiun dan pindah ke Cimahi, Jawa Barat. Di tempat baru itu Supratman sekolah di SD Budi Utomo dan di terima di kelas dua, Ia termasuk anak yang cerdas. Di Cimahi ibunya banyak sakit-sakitan dan dalam tahun 1912 meninggal dunia. Waktu itu Soepratman berumur 9 tahun.
Setelah ibunya meninggal, Wage Soepratman diasuh oleh kakak perempuan sulungnya Rukiyem yang telah menjadi isteri seorang Belanda serdadu KNIL bernama W.M. Van Eldik, yang tinggal di Jakarta. Pada tahun 1914 W.M. Van Eldik dipindah ke Makasar (Ujungpandang). Di sana Wage Soepratman dapat dimasukkan ke ELS Europese Lagera School (SD berbahasa Belanda), sebuah sekolah yang hanya untuk anak-anak Belanda dan pegawai tinggi pemerintah Hindia Belanda. Ia dapat diterima karena diaku sebagai anak keluarga W.M. Van Eldik. Pada waktu itulah namanya diberi tambahan Rudolf, nama Belanda. Dengan nama itu ia diterima di ELS, namun kemudian diketahui bahwa anak itu bukan anak Van Eldik. Oleh karenanya ia dikeluarkan dari ELS, ia lalu disekolahkan pada Sekolah Melayu.
Tamat Sekolah Melayu, Wage Rudolf Soepratman menempuh ujian KAE (Klein Ambtenaars Examen (Ujian pegawai rendahan) dan lulus pula. Ia tidak segera bekerja, tetapi dengan ijazah KAE itu Ia diterima di Normaal School (Sekolah Guru) hingga tamat. Kemudian Ia menjadi guru di Ujung Pandang selama 3 tahun. Waktu hendak dipindahkan ke Singkang, tempat sepi di Sulawesi yang berhawa panas, ia menolak, sekali pun pangkatnya dinaikkan dari guru pembantu menjadi guru (penuh).
Suasana dalam rumahtangga W.M. van Eldik tampak serasi. Sang suami mencintai musik dan pemain biola yang baik, sedang isterinya pun dapat bermain biola, tetapi lebih senang menyanyi. W.R. Soepratman mendapat pelajaran bermain biola dari kakak iparnya. Setelah dapat bermain cukup baik, ia dibawa pula masuk ke dalam band yang diberi nama Blak White Jazz Band, dipimpin oleh van Eldik. Di sanalah W.R. Soepratman mulai karir barunya sebagai pemain musik. Dari kakak iparnya ia mendapat hadiah biola yang akan menyertainya sepanjang hayatnya.
Di samping itu Soepratman bekerja di Kantor Pengacara (Advokat) Mr. Schulten. ia menjadi jurutulis merangkap penerjemah. Gajinya tetap dan cukup tinggi, Mr. Schulten adalah seorang Belanda Indo yang berminat pada Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Waktu itu di tengah-tengah gerakan tiga serangkai Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat (kemudian Ki Hajar dewantara) dan dr. Cipto Mangunkusumo telah mendirikan Indische Partij. Di kantornya tersedia berbagai suratkabar yang menarik perhatian Soepratman Lewat suratkabar ia mengikuti pergerakan bangsanya dan tidak saja mulai tertarik, tetapi justru berminat untuk ikut membaktikan dirinya kepada bangsa dan tanah air Indonesia.
Ia tahu, bahwa pusat pergerakan Indonesia ada di Jawa. Oleh karenanya timbullah niatnya akan pindah ke pulau Jawa. Mula-mula ia ragu-ragu mengingat selama 10 tahun di Ujungpandang Ia telah mempunyai penghidupan yang terhitung baik, namun dorongan akan maju di dalam sanubari telah mengalahkan keragu-raguannya.
Pada tahun 1914 dengan izin suami isteri W.M. van Eldik ia meninggalkan pekerjaannya dan berangkat ke pulau Jawa. Kecuali kopor berisi pakaian, ia menjinjing biola kenangan dari kakak iparnya dengan bangga.
Ia menuju Surabaya, di mana tinggal kakak perempuannya Rukinah Supraptinah yang menjadi isteri R. Kusnendar Kartodirejo. Pada keluarga itu ia tinggal beberapa waktu. Kemudian Ia berangkat ke Cimahi, tempat tinggal ayahnya. Beberapa bulan di sana Ia ke Bandung untuk bekerja pada surat kabar Kaum Muda, surat kabar perjuangan yang pemimpinnya antara lain Abdul Muis (pahlawan Nasional). Gaji cukup tak dapat dijanjikan, karena surat kabar itu semata-mata hidup dari uang langganannya. Hal itu tidak menjadi halangan bagi Soepratman yang telah bertekad untuk ikut berjuang dan sekaligus belajar dalam dunia kewartawanan, di sanalah Ia mulai karirnya sebagai wartawan.
Pergaulan Soepratman dengan para pemimpin dan wartawan makin lama makin luas dan makin tertarik pula Ia kepada perjuangan. Ia sadar bahwa di dalam persuratkabaran dan pergerakan Indonesia bukan tempat untuk mencari gaji besar dan untuk hidup enak, keduanya justru meminta pengorbanan dengan kesadaran penuh dan ketangguhan yang tinggi.
Dengan maksud memperluas hubungan dan menambah pengalaman, Soepratman pindah ke Jakarta dalam tahun 1925. Ia diterima bekerja di Kantor Berita Alpena yang didirikan oleh Parada Harahap, wartawan terkenal. KB Alpena itu bermaksud menyaingi KB Aneta milik Belanda. Di harapkan surat kabar – surat kabar Indonesia dan Tionghwa Melayu berlangganan kepada KB Alpena, namun harapan itu hasilnya jauh memadai.
Soepratman terjun dalam pergaulan yang banyak membantu perkembangannya sebagai wartawan. Dari rekan-rekannya ia banyak dapat tambah pengetahuan, antara lain dari Moh. Tabrani, Saerun dan lain-lain. Setelah Alpena tutup, Soepratman mendapat pekerjaan di Surat kabar Tionghwa Melayu Sin Po. Ia mendapat tugas menulis berita-berita tentang pergerakan Indonesia. Di sana Ia tidak mendapat gaji tetap melainkan bayaran sesuai dengan berita-beritanya yang dimuat dalam surat kabar itu. Oleh karena itu ia harus bekerja giat dan cermat, sebab berita-beritanya harus dipercaya.
Kedudukannya sebagai wartawan yang mengkhususkan diri dalam soal-soal pergerakan, Supratman bergaul luas dengan para pemuda-pemuda, kaum terpelajar yang giat dalam pergerakan.
Gerak dan derap perjuangan Indonesia terasa sekali oleh Soepratman hingga timbullah keinginannya menggubah lagu perjuangan. Maksudnya agar menambah gairah dan semangat orang banyak, khususnya kaum pergerakan. Maka dari itu, meski ia sibuk dengan pekerjaannya memburu berita, namun sampai di rumah Ia memegang dan menggesek biola untuk mencari dan mencoba lagu gubahan yang dikonsepnya, makin hari ia makin sibuk dengan usahanya menggubah lagu perjuangan. Semangatnya menggubah lagu perjuangan bertambah besar setelah ia menyaksikan kegiatan pemuda-pemuda yang tampak sebagai mempersiapkan sesuatu pekerjaan besar.
Dari Moh. Tabrani ia mendengar, bahwa waktu itu dipersiapkan Kongres Pemuda, Indonesia ke-1. Keterangan itu diikuti pesan, jangan hal itu diberitakan di dalam Sin Po, sebab kalau dimuat di dalam surat kabar, niscaya Pemerintah Belanda segara menghalang-halanginya. Soepratman berjanji akan mengekang dirinya, namun dengan berita itu bertambah besarlah gelora dalam sanubarinya untuk menciptakan lagu perjuangan. Ia merasa terpanggil memberikan semangat perjuangan melalui musik, melalui lagu, melalui syair yang akan digubahnya.
W.R. Soepratman sering datang di pusat kegiatan pemuda waktu itu, yakni Gedung Clubhuis Indonesia (CI) di Jalan Kramat Raya 106. Jakarta. Di sana ia bertemu dan berbincang-bincang dengan berbagai tokoh pergerakan Pemuda, antara lain Muh. Yamin, Sugondo Joyosugito, Mr. Sunario. Pada pertengahan Maret 1926 tersusunlah Panitya Konggres Pemuda ke-1 dengan ketua Moh. Tabrani. Konggres itu diadakan mulai 30 April sampai dengan 2 Mei 1928. Di dalam Konggres itu berkumandang seruan Moh Tabrani yang berbunyi, Rakyat Indonesia bersatulah.
Konggres Pemuda Indonesia ke-1 dan seruan tersebutlah yang untuk pertama kalinya mengilhami W.R. Soepratman hendak menciptakan lagu perjuangan.
Sejak itu kegiatan pemuda Indonesia susul-menyusul. Di Jakarta di bentuk PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia), yakni perhimpunan mahasiswa-mahasiswa Indonesia) dengan haluan revolusioner. Ketuanya Muh. Yamin dengan juru bicaranya Sugondo Joyoprayitno. Salah seorang anggota pengurus adalah Abdullah Sigit (kemudian Prof. Drs. di Universitas Gajah Mada). Salah satu rencana PPPI ialah mengadakan Kongres Pemuda ke-2.
Mendengar, bahwa Kongres Pemuda ke-2 direncanakan dalam waktu yang tidak lama, W.R. Soepratman yang akrab dengan para pemimpin pergerakan Indonesia makin merasa terdorong semangatnya untuk menggubah lagu. la ingin mempersembahkan lagu gubahannya itu kepada bangsanya lewat Kongres Pemuda ke-2.
Kongres Pemuda Indonesia ke-2 dilangsungkan di Jakarta pada tanggal 27 s/d 28 Oktober 1928, dipimpin oleh Ketua Panitya Sugondo Joyosugito. Penutupannya di Gedung CI (Clubhuis Indonesia), Kramat Raya 106 Jakarta. Di dalam penutupan Kongres itulah ditetapkan Sumpah Pemuda yang terkenal hingga sekarang. yang aslinya dengan ejaan lama, berbunyi sebagai berikut:
Pertama : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia.
Kedua : Kami putra putri Indonesia menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia.
Dalam semarak dan gelora Kongres Pemuda Indonesia ke-2 yang melahirkan Sumpah Pemuda itu, tanpa direncanakan lebih dahulu, tampillah W.R. Soepratman dengan seizin pimpinan Konggres menyumbangkan secara spontan sebuah lagu ciptaannya sendiri sebagai sumbangsih kepada Kongres, Lagu itu berjudul Lagu Indonesia Raya, dimainkan dalam biola tunggal.
Syair dari lagu itu sengaja tidak dinyanyikan, karena diperhitungkan bilamana syair dinyanyikan niscaya akan menyebabkan polisi (baca PID = Politieke Inlichtingen Dientst = Intel) bertindak.
Namun demikian lagu Indonesia Raya yang dimainkan dalam biola tunggal itu mendapat sambutan hebat sekali oleh segenap hadirin, bahkan terdengar teriakan-teriakan bis, bis yang artinya minta diulangi.
Lagu Indonesia Raya itu memang dikehendakkan oleh W.R. Woepratman, mudah-mudahan dapat menjadi Lagu Kebangsaan Indonesia, seperti halnya lagu ”Wilhelmus” untuk bangsa Belanda. Demikianlah antara lain bunyi surat W.R. Soepratman kepada kakak iparnya W.V. van Eldik, di Ujungpandang.
Lagu ”Indonesia Raya” diterima baik oleh masyarakat khususnya dunia pergerakan kebangsaan Indonesia. Di rapat-rapat menjadi kebiasaan dibuka dan ditutup dengan lagu Indonesia Raya yang diakuinya sebagai lagu Kebangsaan.
Kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) yang ke-2 pada tahun 1929 di bawah pimpinan Bung Karno dalam rapatnya pada tanggal 20 Mei 1929 memutuskan mengakui lagu ”Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan”.
Lagu kebangsaan itu merupakan momok bagi Pemerintah Kolonial. Dikhawatirkan akan menyalakan api pemberontakan melawan pemerintah. Oleh karenanya lagu itu dilarang untuk dimainkan/dinyanyikan di dalam rapat-rapat terbuka, bahkan berkali-kali menjadi alasan PID membubarkan rapat-rapat pergerakan kebangsaan.
Sebelum Jepang mendarat di bumi Indonesia, dari radio Tokyo dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipergunakan oleh Jepang untuk membangkitkan kepercayaan rakyat Indonesia tentang maksud baik Jepang akan kemerdekaan Indonesia. Namun setelah beberapa bulan Jepang menguasai Indonesia, lagu kebangsaan itu dilarang dimainkan dan dinyanyikan di mana pun juga.
Begitu besarlah pengaruh lagu ciptaan W.R. Soepratman.
Naskah syair lagu tersebut mengalami perkembangan di dalam arti kata perobahan menurut keadaan dan keperluannya. Naskah aslinya berbunyi sebagai berikut:
Indonesia, tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Menjaga pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku, jiwaku semua
Bangunlah rakyatnya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indones Indones
Mulia Mulia
Tanahku Negeriku yang kucinta
Indones Indones
Mulia Mulia
Hiduplah Indonesia Raya
Kemudian terjadi perobahan yang tidak diketahui kapan dimulainya. Hanya dapat diduga perobahan itu diadakan setelah lagu itu diakui oleh Kongres ke-2 PNI, 1929, sebagai Lagu Kebangsaan.
Perobahan itu mengenai bagian yang berbunyi:
Indones Indones
Mulia Mulia
menjadi:
Indones Indones
Merdeka Merdeka
Setiap kali Lagu Kebangsaan itu dimainkan atau dinyanyikan segenap orang yang hadir di sana berdiri tegak menghormat.
Pengaruh lagu kebangsaan ciptaan W.R. Soepratman itu telah menggetarkan kalangan Pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jenderal de Graef mengeluarkan surat edaran. Segenap pegawai Pemerintah Hindia Belanda harus mengambil sikap yang sungguh-sungguh netral, tidak ikut menyatakan sikap hormat terhadap lagu Indonesia Raya atau lagu perkumpulan semacam itu, dengan berdiri dari tempat duduknya.
Pada waktu pamflet Indonesia Raya diterbitkan, W.R. Soepratman dipanggil oleh Asisten Wedana dan Kepala Polisi, kemudian oleh Pokrul Jenderal ditanya: 1. Apakah maksudnya menggubah lagu Indonesia Raya ? 2. tentang perobahan naskah syair menjadi Indones Indones Merdeka Merdeka. Jawab pencipta lagu kebangsaan itu mempersilakan mereka membaca naskah syair aslinya, di mana tercantum perkataan Mulia Mulia dan yang menetapkan Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan bukan dia, tetapi Kongres PNI ke-2. Akhirnya ia dipersilahkan pulang, tanpa dapat dituntut.
Di zaman Jepang dibentuk suatu Panitya yang bertugas menetapkan melodi dan naskah syair yang seragam dari Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Panitya yang dibentuk atas prakarsa Bung Karno itu diketuai oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam Permusyawaratan Wakil-wakil Indonesia di Jakarta pada tanggal 8 September 1944 keputusan Panitya tersebut diterima baik, yakni terdiri dari 4 pasal sebagai berikut:
Pertama : Apabila lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan satu cou­plet saja, maka ulangannya dilakukan dua kali; apabila dinyanyikan tiga couplet ulangannya dilakukan satu kali, kecuali coplet yang ketiga, ulangannya dua kali.
Kedua : Ketika menaikkan benderah Merah Putih, lagu Indonesia diperdengarkan dengan ukuran cepat 104. Ketika sedang berbaris, maka dipakai untuk keperluan cepat 1 – 2 – 120.
Ketiga : Perkataan ’semua’ diganti dengan perkataan ’sem’wanya’
Keempat : Perkataan ’refrain’ diganti dengan perkataan ulangan.
Pekerjaan Panitya tersebut dilanjutkan di zaman kemerdekaan hingga hal-hal yang menyangkut perundang-undangan seperti tertuang di dalam Undang-undang No. 44 tahun 1958 tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Dengan demikian lagu ciptaan W.R. Soepratman menjadi sempurna sebagai Lagu Kebangsaan Indonesia yang abadi. Inilah jasa utama W.R. Supratman yang tetap terkenang dan tak terlupakan oleh bangsa Indonesia turun-temurun.
la terkenal pula sebagai penggubah lagu-lagu nasional, yakni : 1. Bendera kita; 2. Pandu Indonesia; 3. Lagu KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia; 4. Indone­sia, hai ibuku; 6. Rajen Ajeng Kartini, dan Iain-lain.
Ciptaannya yang lain ialah lagu Di Timur Matahari. Lagu itu diilhami oleh berdirinya Perkumpulan Indonesia Muda yang merupakan fusi (persatuan) dari perhimpunan-perhimpunan pemuda yang berdasarkan ke daerahan (Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Batak, Sekar Rukun (Sunda) dan Iain-lain) Peristiwa itu terjadi di malam terakhir tahun 1930 di Surakarta.
Hampir semalam suntuk Soepratman tidak tidur. Menjelang pagi ia berhasil menggubah lagu tersebut yang syair sebagai berikut:
Di Timur Matahari mulai bercahya Bangun dan berdiri kawan semua Marilah mengatur barisan kita Pemuda-pemudi Indonesia.
W.R. Soepratman adalah seorang seniman, seorang komponis yang peka terhadap gerakan kebangsaan. Waktu tahun 1937 di Surabaya menumpang pada keluarga W.M. Van Eldik yang sudah pindah ke sana, ia bertemu dengan dr. Sutomo, pemimpin Parindra menghadapi Kongres Ke-1 Parindra W.R. Soepratman menyumbangkan lagu gubahannya berjudul Parindra dan Surya Wirawan, kedua lagu itu diterima baik dan selanjutnya dipakai secara resmi.
Selama di Surabaya itu Ia sempat pula menggubah lagu lagi, yakni berjudul Matahari Terbit untuk pandu-pandu KBI. Lagu itu syair berbunyi sebagai berikut.
Matahari sudah terbit
Putra ibu-ibu bangun
Mari lihat cahaya mulya
Indonesia tanah airku.
Ibu Putra yang berbudi
Putra ibu yang sejati
Mari lihat cahaya mulya
Indonesia tanah airku.
Pada tanggal 7 Agustus 1938 W.R. Soepratman siap akan berangkat memimpin nyanyian lagu tersebut oleh pandu-pandu KBI di siaran NIROM Surabaya. Tiba-tiba datanglah polisi menangkapnya, ia diperiksa dengan tuduhan membantu Jepang, yang akan menyerbu Indonesia, sebab pada waktu itu gejala-gejala akan adanya ekspansi Jepang makin jelas W.R. Supratman menyangkal tuduhan itu dengan keras, lagu gubahannya itu sama sekali tak ada hubungan dengan Jepang dan tidak sekali-kali mengandung arti memuja bendera Jepang yang bersimbol matahari terbit, dalam syair itu jelas tercantum Indonesia tanah airku.
Lagu Matahari terbit yang sempat membawa sang komponis ke muka polisi, itulah lagu gubahannya yang terakhir.
Setelah terjadi peristiwa tersebut, W.R. Soepratman jatuh sakit. Nasehat dokter agar ia beristirahat penuh, rupanya kurang diindahkan. Dalam keadaan sakit yang makin hari makin parah itu ia didampingi Kasan Sengari iparnya dan Imam Supardi, wartawan pemimpin redaksi Panyebar Semangat, Kepada Imam Supardi, ia membuka hatinya, bahwa ia tidak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya, karena percintaan. Secara bijaksana Imam Supardi tidak memperdalami kekecewaan sahabat karibnya itu hingga percintaan yang mengecewakan sang komponis berjasa itu tidak terjawab sampai akhir hayatnya.
Dalam hidupnya yang tampak oleh teman-temannya, W.R. Soepratman didampingi oleh seorang wanita yang bernama Salamah. Wanita ini tidak berpendidikan cukup dan tidak ada perhatian kepada kegiatan dan perhatian W.R. Soepratman, khususnya tentang musik dan pergerakan, bahkan akhirnya wanita tersebut meninggalkan Supratman tanpa pamit. Apakah ini yang menjadikan sang komponis kecewa ? Ataukah kegagalan cinta mungkin ? Tak ada seorang pun yang mengetahui.
Meskipun kisah hidupnya mencatat bagian yang menyedihkan namun karya besarnya, terutama gubahan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang abadi itu telah menutup kisahnya sebagai seorang guru, wartawan, musikus, dan komponis yang meninggalkan ciptaan-ciptaannya bermutu tinggi abadi.
Pada tengah malam tanggal 17 Agustus 1938 W.R Soepratman tutup usia dengan tenang. Ia tak meninggalkan seorang anak pun, jenazahnya dikebumikan secara Islam di Surabaya. Pada tanggal 31 Maret 1956 kerangka jenazah almarhum dipindahkan ke makam khusus untuk W.R. Soepratman terletak di Tambaksegaran Wetan Surabaya.
Bangsa Indonesia seluruhnya menghargai jasa W.R. Soepratman dan Pemerintah R.I. menganugerahkan Bintang Mahaputera III kepada almarhum. Dan Presiden RI dengan SK No. 016/TK/Tahun 1971 tertanggal 20 Mei 1971 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.

Supeno

Supeno bwNama-nama orang Indonesia satu dengan lainnya banyak yang sama hingga menimbulkan kekeliruan. Kekeliruan itu dapat dicegah dengan menambahkan nama keluarga, nama famili secara orang barat pada umumnya. Cara lain ialah menghubungkan namanya dengan nama ayahnya dengan menggunakan kata Arab ”bin” untuk anak lelaki atau ”binti” untuk anak perempuan. Hanya di kalangan suku Jawa masih ada yang disebut ”nama tua” yaitu nama baru yang dipakainya setelah orang menikah.
Nama Pahlawan Nasional yang ditulis sejarah ringkasnya ini. Supeno, Menteri Pembangunan dan Urusan Pemuda dalam Kabinet Presidentil di bawah pimpinan Wakil Presiden Dr. Mohammad Hatta. Supeno yang Menteri ini sering, bahkan banyak kali dikira orang Supeno yang lain, yaitu Supeno yang juga terkenal seorang aktivis pergerakan pemuda, namun tidak pernah menjadi Menteri dalam sesuatu Kabinet RI.
Supeno yang lain ini terkenal sebagai tokoh Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) dan wartawan, pemimpin redaksi majalah ”Revolusioner” kemudian duduk dalam Lembaga Kantor Berita Nasional ”Antara” yang di nasakomkan dan duduk di dalam redaksi ”Harian Rakyat” dari PKI. la tokoh PKI yang sebelum peristiwa G 30-S/PKI berangkat ke RRC memenuhi undangan menghadiri perayaan 1 Mei di sana dan hingga kini belum pernah kembali ke Indonesia.
Supeno yang Pahlawan Nasional Menteri dan anggota Partai Sosialis itu setelah tentara Belanda menyerang Yogyakarta, ibukota RI, Ia bergerilya dan mati ditembak Belanda di Desa Ganter, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Lebih jelasnya dapat diterangkan sebagai berikut :
– Supeno Pahlawan Nasional almarhum, lahir 12 Juni 1916 sebagai putera tunggal Bapak Sumarno, kepala stasiun kereta api di Pekalongan, Sedang.
– Supeno tokoh PKI adalah Supeno Hadisiswoyo, lahir tanggal 1 Juni 1916 di Wates, Kediri.
Yang kita sajikan sejarah ringkasnya dalam buku ini adalah Supeno Pahlawan Nasional yang telah gugur sebagai kusuma bangsa, umpan peluru musuh. Supeno kita itu, waktu kecilnya mendapat pendidikan pada H.I.S. yaitu Sekolah Dasar 7 tahun dengan bahasa Belanda, kemudian meneruskan ke MULO, Sekolah Menengah Pertama, di Pekalongan, lalu pindah ke Tegal. Dengan berdirinya perkumpulan pemuda berazas kebangsaan ”Indonesia Muda” cabang Tegal pada tahun 1932 Supeno aktif, kemudian menjadi ketuanya.
Dalam kedudukannya sebagai ketua IM itu Ia banyak bergaul dengan pemimpin-pemimpin partai politik dan itulah sekolah pertamanya dalam politik. Karena tugasnya di dalam IM Supeno sering mengadakan pidato-pidato di hari-hari peringatan Pahlawan seperti Hari Kartini, Peringatan Pangeran Diponegoro dan lain-lain. Peringatan demikian itu senantiasa mendapat pengawasan ketat dari pemerintah jajahan dan tidak langka diambil sesuatu tindakan. Sebagai pembicara Supeno sering mendapat teguran polisi bagian politik, PID.
Kegiatan lain, Supeno menerbitkan majalah ”Indonesia Muda” sebagai majalah lokal untuk menanamkan semangat kebangsaan kepada muda-mudi Indonesia. Dalam kegiatan itu Ia tidak saja sering mendapat peringatan PID, bahkan dari direktur MULO. Peringatan demikian dapat berakibat ia dikeluarkan dari sekolah. Setelah lulus MULO. Supeno meneruskan pelajarannya ke Sekolah Menengah Atas, AMS. di Semarang. Waktu liburan Ia pulang ke Tegal dan masih terus memberikan bimbingan kepada IM cabang Tegal.
Tamat AMS Semarang Ia meneruskan pelajarannya ke THS Bandung yang sekarang menjadi ITB. Darah pergerakannya tidak menjadi beku di kota dingin itu, tetapi menjadi lebih meningkat. Waktu itu di kalangan mahasiswa ada perhimpunan yang hanya bertujuan foya-foya, maka tampillah Supeno mendirikan ISU (Indonesia Student Union) yang menjurus kepada perjuangan politik. Ia giat dalam ISU dan masih pula membina IM. Kegiatannya dalam pergerakan itu telah menyebabkan Ia gagal di THS dan pada tahun 1939 ia pindah belajar ke Jakarta pada RHS, Sekolah Tinggi Hukum, kemudian di zaman Jepang (1942) ia masuk Sekolah Hakim.
Di Jakarta Supeno menjadi anggota PPPI (Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang berorientasi Politik. Di samping itu ada perkumpulan mahasiswa lainnya, ialah USI dan ivsv. Pada tahun 1941 ketiga perkumpulan mahasiswa itu mengadakan kerjasama dengan membentuk Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia, disingkat BAPERPI, sebagai ketuanya diangkat Supeno.
BAPERPI itu di masa pendudukan Jepang tidak berkesempatan bekerja sebagai Badan Permusyawaratan, bahkan membekukan dirinya sesuai dengan larangan pemerintah pendudukan Jepang. Namun Supeno pribadi bekerja terus dengan bantuan rekan-rekannya Ia berhasil mendaftar semua mahasiswa yang keadaannya serba tidak menentu. Nasib mereka berhasil diperjuangkan hingga mendapat perumahan yang diperlukannya. Kemudian mendaftar pula para mahasiswa yang bersedia dididik dan dipekerjakan dalam departemen-departemen. Dalam pekerjaan ini Supeno memperoleh bantuan Mr. Sumarwan, Sujoko Hadipranoto dan Subadio Sastrosatomo, tokoh PSI.
Sebenarnya Supeno berpendirian, bahwa pada hakekatnya Jepang bermaksud menjajah Indonesia, tidak berbeda dengan Belanda. Oleh karenanya dalam siasat menghadapi Jepang Ia menggabungkan diri dengan Sutan Syahrir yang bekerja di bawah tanah dengan tujuan menghimpun kekuatan menghadapi Jepang.
Di lain Pihak Supeno sebagai eksponen mahasiswa (BAPERPI) menerima baik dan mengikuti kebijaksanaan Soekarno – Hatta memimpin rakyat dalam meneruskan perjuangan kemerdekaan di masa pendudukan Jepang yang serba sulit dan terhimpit. Sejak saat itu terjalin kerjasama antara Supeno dan Bung Karno hingga kepada pembentukan PUTERA dan Jawa Hokookai.
Supeno pun bekerjasama dengan Chaerul Saleh dan Sukarni yang mengikuti Sendenbu (Barisan Propaganda Jepang di bawah Hitosyi Shimitsu), terutama dalam mendirikan Pusat Pendidikan Kader Menteng 31, dimana pemuda-pemuda dari berbagai daerah digembleng oleh Bung Karno, Bung Hatta dan pemimpin-pemimpin lain-lainnya. Setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Supeno pun segera tampil di medan perjuangan.
Dengan terbentuknya KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) Supeno duduk di dalam Komite itu di bidang kepemudaan dan penerangan. Pada tanggal 17 – 18 Oktober 1945 KNIP mengajukan mosi agar sebelum dapat mengadakan Pemilihan Umum, KNIP dijadikan Badan yang menjalankan tugas sebagai MPR dan DPR. Prakarsa mosi itu datang dari kerjasama Supeno, Ki Mangunsarkoro, Ir. Salcirman dan Subadio Sastrosatomo. Dalam perkembangannya, kemudian KNIP membentuk Badan Pekerjanya. Supeno menjadi salah seorang anggota BP KNIP itu. la giat membantu Mr. Suwandi menyusun sekretariat BP KUP yang pertama.
Dalam kegiatan tersebut Supeno tidak meninggalkan tugasnya sebagai kepala Kantor Urusan Pemuda. Bersama Subagio Reksodiputro ia membentuk Balai Pemuda.
Persesuaian Supeno dengan Sutan Syahrir telah membawa Supeno masuk ke dalam Partai Sosialis yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1945, yakni fusi antara PARAS (Partai Rakyat Sosialis Indonesia, yang didirikan di Cirebon dalam bulan November 1915 oleh Sutan Syahrir dengan beberapa anggota PNI – Hatta, Pendidikan Nasional Indonesia) dan PARSI (Partai Rakyat Sosialis yang didirikan sehabis Perang Dunia II oleh Mr. Amir Syarifuddin, Mr. Abdulmajid Joyohadiningrat dkk.). Karena Partai Sosialis makin cenderung kepada komunisme, maka Sutan Syahrir dkk. keluar, kemudian mendirikan Partai Sosialis Indonesia, PSI, pada 12 Pebruari 1948 di Cirebon, Supeno mengikuti Syahrir dalam PSI. Partai Sosialis Amir Syarifuddin secara resmi dibubarkan pada bulan Pebruari 1951 dan anggota-anggotanya masuk dalam PKI.
Pada tahun 1946 Supeno dalam kedudukannya sebagai anggota PSI diberi tugas oleh partainya untuk membela para tertuduh dalam ”Peristiwa Tiga Daerah” (Tegal, Brebes, Pekalongan) yang menimbulkan kekacauan dan pembunuhan. Gerakan itu dipimpin oleh K. Amijay dan Kutil, tidak jelas maksud dan tujuan gerakan itu, kecuali dapat diduga sebagai gerakan ekstrim yang hendak membentuk dan memurnikan tenaga-tenaga progresip, K. Amijaya, Kutil dkk. diseret ke pengadilan. Sebagai pembela perkara itu Supeno didampingi Mr. Tandiono Manu (bekas Residen Bojonegoro) dan Mr. Usman Sastroamijoyo almarhum (bekas Dubes RI di Kanada). Supeno bertugas membela di bidang politik dan sebagai ketua tim pembela, sedang dua orang ahli hukum tersebut bertugas di bidang juridisnya.
Setelah pengadilan bersidang dua kali dan belum mengambil sesuatu keputusan, mendadak Belanda menyerang daerah RI dalam aksi militernya. Clash ke-1. Hingga perkara itu menjadi bubar tanpa kesudahan hukum.
Hingga tahun 1948 Supeno duduk di dalam BP KNIP, di samping itu ia tetap memimpin Biro Pemuda. Kegiatannya dalam BP KNIP menyebabkan banyak orang menyebut Supeno sebagai motor penggerak BP KNIP.
Pada permulaan 1948 ia diutus pemerintah RI ke Sumatra untuk mengadakan konsolidasi, khususnya bersiap-siap bila sewaktu-waktu Belanda menyerang lagi dan untuk menampung kemungkinan pindahnya pemerintahan RI ke Sumatra.
Pada tanggal 29 Januari 1948 tersusunlah Kabinet Presidentil di bawah pimpinan Wakil Presiden Dr. Moh. Hatta dan Supeno diangkat dalam Kabinet itu sebagai Menteri pembangunan dan Pemuda. Kedudukan Supeno itu antara lain juga untuk menunjukkan, bahwa PSI mendukung Kabinet Hatta yang dimusuhi oleh FDR (Front Demokrasi Rakyat di bawah pengaruh PKI).
Supeno terkenal sebagai orang yang suka bekerja, tugas-tugasnya dilaksanakan dengan tekun dan ulet serta tak mengenal waktu ia dapat bekerja non-stop dengan kadang-kadang melupakan keluarganya. Ia kuat bekerja berhari-hari tanpa mandi dan ganti pakaian hingga baunya menusuk hidung. Segala pekerjaan dijalankan dengan bersungguh-sungguh dan penuh pengabdian. Pakaiannya kusut, kadang-kadang berbau apek. dan badannya tidak pula dipedulikannya, namun tertawanya terbahak-bahak tetap sering terdengar di sela-sela pembicaraannya.
Pada hari Ahad 19 Desember 1948 Belanda melancarkan serangan militernya yang Ke-2, Ibukota RI Yogyakarta berhasil mereka duduki. Pemerintah RI mengadakan sidang kilat dan memutuskan, memberi kuasa kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara yang sedang berada di Sumatra untuk memimpin Pemerintah Darurat RI (PDRI). Para anggota Kabinet Hatta yang di Yogya ditangkap dan kemudian berkelompok-kelompok diasingkan ke luar Jawa, Sri Sultan HB IX masuk kratonnya, Panglima Sudirman meskipun sakit parah meninggalkan kota dengan ditandu, dan menjalankan pimpinan gerilya. TNI bertahan dan gerilya hebat dilakukan di mana-mana, khususnya di sekitar Yogyakarta.
Waktu itu 3 orang menteri, yakni Menteri Kehakiman Mr. Susanto Tirtoprojo, Menteri Kemakmuran I. J. Kasimo dan Menteri Dalam Negeri Dr. Sukiman Wirjosandjojo berada di Sala. Mereka tidak tahu-menahu tentang keputusan mengenai PDRI dan baru kemudian diberitahu oleh Panglima Besar Sudirman dalam perjumpaannya di daerah Ponorogo. Susanto dan Kasimo bermaksud pergi ke Yogya, namun lewat Kartasura mereka ditembaki Belanda hingga dua mobilnya hancur, namun mereka selamat. Oleh karena itu mereka bermaksud kembali ke Sala. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Dr. Sukiman yang juga bermaksud ke Yogyakarta. Akhirnya mereka bertiga bersepakat untuk kembali ke Sala dan mengadakan pertemuan dengan pembesar-pembesar termasuk Gubernur Militer Jenderal Gatot Subroto. Diputuskan 3 orang menteri itu melanjutkan tugas pemerintahan, tetapi jam 5 sore Belanda sudah sampai di Kartasura, maka berangkatlah tiga orang menteri itu dengan rombongannya ke Tawangmangu. Menteri Pembangunan dan Urusan Pemuda Supeno yang baru saja datang dari perjalanan keliling lalu menggabungkan diri pula.
Perjalanan gerilya 4 menteri dengan pengiringnya menuju ke timur, arah Ponorogo. Sejak di desa Serak, daerah Ponorogo, Menteri Supeno bertugas pula sebagai Menteri Penerangan ad interim dengan pembantu utamanya Ananta Gaharsyah dan sekretaris Samodra Lewat RRI yang dipindah-pindahkan Ia melawan siasat musuh, la berseru agar pemuda menghancurkan negara-negara boneka Jawa Timur, Pasundan, Indonesia Timur dan lain-lain. Penerbitan buletin yang membawa kabar tentang perjuangan kaum republikein di mana-mana amat besar sekali artinya dalam mengobarkan semangat rakyat. Berita tentang perjuangan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru membela RI di forum PBB benar-benar menegakkan semangat perjuangan rakyat Indonesia.
Waktu itu pasukan Belanda tak henti-hentinya menguber pejuang-pejuang RI. Berkali-kali menteri-menteri gerilya dan rombongannya terhindar dari serangan musuh. Kabar bohong disiarkan oleh Belanda, bahwa Menteri Susanto dan Kasimo telah mati dibunuhnya. Perang urat syaraf meningkat. Dalam hal ini Menteri Supeno tak pernah lengah, senantiasa membantah kabar-kabar demikian.
Penguberan Belanda pada kaum gerilya makin intensif sehingga beberapa kali mereka hampir berhasil menjebak rombongan menteri-menteri RI. Sampai di desa Ganter, daerah Nganjuk para gerilyawan menginap 3 malam, tak menduga sama sekali akan terjadi malapetaka yang mengharukan.
Pagi-pagi 24 Pebruari 1949 Menteri Supeno seperti biasanya pergi mandi ke pancuran tak jauh dari penginapannya. Mendadak terdengarlah tembakan beruntun yang mereka kira teman, tetapi ternyata lawan. Pasukan Belanda menerobos hutan dan turun ke Ganter. Pak Supeno yang seperti biasanya berpakaian serba hitam dengan pengiringnya digiring Belanda. la berjalan tegak tanpa menoleh, kemudian tidak pula mau membuka rahasia bahwa ia seorang Menteri RI. Maka dari pondokannya terdengarlah tembakan beruntun dan Menteri Supeno ditembak mati. Enam orang pengiringnya tidak terkecuali, sedang sekretarisnya Samodra yang terpisah dan ia pun kedapatan mati tertembak. Demikianlah tersebut dalam buku bahasa Jawa tembang berjudul ”Nayaka lelana” yang ditulis oleh Mr. Susanto Tirtoprojo almarhum.
Waktu gugur, Supeno baru berusia 32 tahun dan baru enam tahun kawin dengan isteri tercinta yang dipanggilnya Tien dari singkatan Kamsitin Wasiyatul Khakiki, putera keluarga Danusiswoyo, penilik Pendidikan Masyarakat di Purbalingga. Waktu ditinggal suaminya tercinta ia telah dikaruniai seorang anak perempuan, Yudyaningsih Supeni Rokutiningsih. Ayu yang kini sudah dokter lulusan Universitas Diponegoro dan telah mempunyai anak pula. Ibu Tien Supeno sendiri dengan mengarungi perjuangan hidup yang amat berat, akhirnya pada tahun 1974 berhasil meraih gelar Sarjana Hukum dari Undip pula. Kini ia pensiun sebagai pegawai bagian administrasi merangkap dosen pada Fakultas Hukum Undip. Hidupnya dapat dikatakan bahagia, meskipun yang didiaminya di Jalan Wonodri Baru 25, Semarang adalah rumah cicilan.
Supeno yang dalam hidupnya Menteri pembangunan dan Urusan Pemuda dan Menteri Penerangan ad interim pemerintahan RI dalam pengembaraan, telah gugur sebagai Pahlawan dan telah ditetapkan oleh Pemerintah RI dengan SK Presiden No. 039/TK/Th. 1970 tgl. 13 Juli 1970 sebagai Pahlawan Nasional. la dianugerahi pula Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Kelas III secara anumerta, yakni sebagai penghargaan atas sifat-sifat kepahlawanannya serta atas keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam pelaksanaan tugasnya yang telah disumbangkan terhadap Negara dan Bangsa Indonesia.

Arie Frederik Lasut

AF Lasut bwArie Frederik Lasut dilahirkan pada tanggal 6 Juli 1918 di desa Kapataran, Kabupaten Minahasa yang merupakan daerah surplus dengan cengkeh dan kopranya. la adalah putera kedua dari keluarga Danus Lasut, dan ibunya Ingkan Supit. Ayahnya seorang guru Sekolah Dasar.
Arie mula-mula bersekolah di Sekolah Dasar (HIS) di Tondano. Rupanya ia anak yang pandai, ia pun gemar mengambar dan berbakat teknik, Arie dapat lulus dari HIS sebagai bintang sekolahnya dengan lulus nomer satu.
Kemudian ia meneruskan pelajaran di Sekolah Guru di Ambon, walaupun sebenarnya Ia kurang tertarik menjadi guru. Di sekolah guru ini pun Arie tetap menjadi juara dalam kelasnya. Ia pun gemar berolah-raga seperti sepak bola dan kasti. Walaupun badannya kecil, tetapi Ia gesit dan keras hati sehingga mendapat julukan kecil-kecil cabe rawit. Arie juga menggemari kesenian dan pandai memainkan piano dan biola.
Sejak kecil Arie Frederik Lasut sudah tanggap terhadap pergerakan nasional. Ia begitu gembira mendengar adanya pemberontakan kapal perang De Zeven Provincien, padahal banyak kawannya yang justru mencela.
Selanjutnya Arie terpilih untuk melanjutkan pelajaran ke Sekolah Guru tingkat yang lebih atas (SPG) di Bandung. Di SPG selain sepak bola, Arie juga giat dalam atletik, terutama lempar lembing dan loncat galah. Arie juga gemar pekerjaan tangan dan menulis buku nyanyian.
Sejak di Ambon ia sudah mempunyai perhatian terhadap semangat kebangsaan. Boleh dikatakan gurunya dalam hal nasionalisme adalah Lumanouw.
Arie hanya satu tahun di SPG, pada tahun kedua ia pindah sekolah ke AMS jurusan B (SMA Paspal) di Jakarta dengan berbagai kesulitan dan hambatan. Berkat ketekunannya, akhirnya Arie dapat lulus dari AMS pada tahun 1937. Karena nilai ujiannya bagus, Arie langsung diterima di Geneeskundige Hoge School (Sekolah Tinggi Kedokteran).
Tidak lama Arie menjadi mahasiswa GHS. Karena kesulitan rumah tangga orang tuanya, maka tidak mungkin lagi bagi Arie untuk meneruskan studi di GHS. Dengan berat hati Ia keluar dari GHS dan bekerja pada Departemen Ekonomi, sambil-menunggu datangnya beasiswa yang diajukannya kepada Pemerintah dan Gereja. Akhirnya Pemerintah Belanda bersedia memberi beasiswa dengan ikatan dinas kepada Arie, tetapi dengan syarat, Arie harus bersedia menjadi Warga Negara Belanda, atau menjadi bangsa Belanda (gelijkgesteld). Hatinya bimbang sebentar, antara kesempatan untuk maju dalam studi dan semangat kebangsaan Indonesia. Akhirnya semangat kebangsaan Indonesia yang menang. Ia menolak beasiswa tersebut dan memilih tetap menjadi pemuda Indonesia.
Pada tahun 1939 Arie memasuki Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoge School) di Bandung. Kembali karena kesulitan keuangan ia tidak meneruskan kuliahnya, beruntunglah Ia diterima sebagai mahasiswa ikatan dinas yang diberikan oleh Dinas Pertambangan (Dienst Van den Mijnbouw) untuk dididik menjadi ahli pertambangan. Ikatan dinas itu diperolehnya sesudah Ia lulus ujian dari 400 orang calon, ternyata hanya dua orang yang lulus dan diantaranya ialah Arie Frederik Lasut. Sesudah lulus dari akademi tersebut, maka Arie menjadi ahli pertambangan Indonesia yang waktu itu masih amat sedikit.
Ketika Perang Dunia II pecah dan pasukan Jepang sudah hampir menyerang Hindia Belanda, Arie dilatih sebagai perwira cadangan. Ia memasuki latihan CORO (Corps Reserve Officieren), Arie sempat bertempur melawan tentara Jepang di daerah Ciater, Jawa Barat.
Pada zaman pendudukan Jepang, Arie Frederik Lasut tidak memasuki latihan militer, ia kembali bekerja sebagai ahli pertambangan dan diangkat sebagai asisten geolog pada jawatan Geologi (Tititsutiyo Zaiyi) di Bandung. Pada waktu itu ahli pertambangan bangsa Indonesia hanya dua orang, yaitu Arie Frederik Lasut dan R. Sunu Sumosusastro. Kedua orang itulah yang menjadi cikal bakal perkembangan pertambangan di Indonesia.
Arie menyadari benar akan hal itu, dan ia benar-benar mengabdikan dirinya sebagai perintis dunia pertambangan kita. Banyak yang telah dikerjakannya ia menyelidiki endapan yarsit di daerah Ciater (Subang). Tambang belerang di Telagabodas juga dikerjakan, demikian pula tambang belerang di Wanaraja (Garut).
Arie juga mengusahakan tambang batubara di Cisaat, Sukabumi, tambang batubara di Ngandang, Rembang, Jawa Tengah; juga cadangan batubara di Palibendo dan Watugemuk, karena menurut penyelidikan terdahulu, di tempat tersebut terdapat lapisan batubara setebal 70 cm.
Tambang batubara di Bayah, Banten yang mempunyai riwayat sedih karena di situ banyak Romusha atau pekerja paksa telah tewas, juga tidak luput dari penelitian Arie Frederik Lasut. Pertambangan daerah Jalen Watulimo di Tulungagung juga diperhatikan, dan menurut Arie di situ tersimpan lapisan batubara setebal satu meter.
Arie juga mengadakan studi tentang pertambangan minyak bumi, misalnya di Bongas, Cirebon dan Cepu. Tambang emas di Cikotok dan Cikondang juga terus diusahakan, Tambang batu logam di Lebak dan Cimari dan tambang mangaan di Kliripan, tidak dilupakan. Di gunung Sawal diusahakan tambang timah, sedangkan di gunung Parang, Purwakarta juga dihasilkan timah dan Cinnaber. Di daerah Titomoyo dihasilkan tambang batu tembaga. Karangbolong menghasilkan fosfat. Tambang tras ada di daerah Tayu dan di gunung Dewi, Sukabumi. Di Kraha terdapat kaolin dan belerang.
Di Nagrek juga ada batu porselin, kaolin, dan granit. Di Bojonegoro dan Tuban ada batu bintang. Demikian pula pengusahaan tambang di pulau Sumatra diteruskan, misalnya batubara Umbilin, Sawahlunto, Bukit Asam dan Logas. Di Rantau dan Perlak dilakukan pengeboran minyak tanah. Juga di Julu Rayen, Pase, Puluh Tabuan (Sumatera Timur), Pulau Panjang, yang antara lain menghasilkan methaangas.
Di Pangkalan Susu, Jambi, Bajubang, Tempino, Kenaliasem, Betung, Senarni, Plaju, Setiti Barat, Sungai Gelam, diadakan penelitian dan pembukaan tambang minyak bumi. Semua kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Hasarni dan Prof. Kumangai, sedangkan Arie Frederik Lasut hampir selalu terlibat dalam pekerjaan itu, jadi Arie bersama Sunu mengetahui segala rahasia pertambangan, baik yang dilakukan pada zaman Hindia Belanda, maupun zaman pendudukan Jepang.
Arie Frederik Lasut sudah menduga, bahwa masa pendudukan Jepang tidak akan lama. Dan Ia yakin, bahwa tugas-tugas pertambangan dan geologi akan menjadi bagian bangsa Indonesia sendiri. Karena itu Arie memimpin para pemuda pertambangan, di antaranya R.I. Subroto, untuk menyiapkan diri. Arie juga menanamkan semangat kebangsaan pada para pemuda.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Arie Frederik Lasut pun ikut bergerak. Ia mendirikan barisan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) cabang Bandung bersama kawan-kawannya. Arie bahkan ditunjuk menjadi ketua KRIS cabang Bandung yang ditugasi membentuk barisan kelaskaran. Meskipun Arie pemah menjadi perwira cadangan pada zaman Hindia Belanda, dan mahir menggunakan berbagai senjata api dan ilmu peperangan modern, tetapi pihak pimpinan dan Arie sendiri menyadari, bahwa bidang pengabdiannya lebih diperlukan pada Jawatan Pertambangan dan geologi. Karena itu yang ditugasi untuk langsung memimpin kelaskaran KRIS (bersenjata) adalah Fred Komongan, Karundeng dan Rorimpandey.
Arie adalah juga seorang ahli strategi. Sesudah Jepang menyerah, maka banyak bekas perwira dan pembesar Belanda yang ditempatkan di Hotel Preanger, Bandung. Rupanya tentara Sekutu dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) banyak yang mengadakan pertemuan dengan bekas pembesar Belanda tersebut. Arie segera bertindak dengan menempatkan anggota KRIS, T.P. Mandagi, menjadi mata-mata di Hotel Preanger, yang berhasil menyadap berbagai informasi penting bagi perjuangan Republik Indonesia.
Dalam usaha merealisasi kemerdekaan, Arie Frederik Lasut pada tanggal 29 September 1945 memimpin pengambil alihan Jawatan Geologi (Charitsu Cosajo) dari tangan Jepang. Tanggal 29 September itu hingga kini ditetapkan sebagai Hari Pertambangan.
Kepala Chanitsu Cosajo, yaitu Mitsuchi, mula-mula menolak menandatangani pengambil-alihan tersebut. Delegasi yang berunding itu terdiri dari R. Ali Tirtosuwiryo, R. Sunu Sumosastro dan penterjemah Sjamsul Bahrun. Sedangkan Arie mengatur siasat kalau perundingan gagal akan diambil jalan kekerasan. Mitsuchi berjanji begitu akan mengundurkan diri Ia akan menyerahkan Jawatan Geologi kepada Indonesia. Pada akhirnya pengambilalihan itu berhasil. Jawatan Geologi dapat kita kuasai dan dimasukkan dalam Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga. Ketika itu Arie Frederik Lasut diangkat sebagai Kepala Bagian Perusahaan.
Arie tetap juga berjuang dalam KRIS, bahkan dalam penyerbuan ke Hotel Preanger Arie ikut mengambil bagian. Sesudah kota Bandung dibagi dua. Arie bersama kawan-kawannya memindahkan kantor Jawatan Geologi ke Ciwidey di daerah Bandung Selatan pada akhir November 1945. Benda-benda penting seperti alat fotografi sempat diungsikan yang kemudian dimanfaatkan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia. Alat gambar dan laboratorium seperti platina diungsikan ke Yogyakarta. Arie sendiri menanam platina dan alat-alat lain di halaman rumahnya di Yogyakarta yang kemudian digali kembali pada tahun 1950.
Dalam kabinet Syahrir I, Jawatan Pertambangan diurus oleh Kementrian Kemakmuran. Pada Kabinet Syahrir II, dimasukkan Kementrian Perindustrian dan Perdagangan. Pada tanggal 16 Maret 1964 A.F. Lasut menjadi Kepala Jawatan Tambang dan Geologi, berkantor di Jalan Braga no. 3 Bandung, sedangkan kegiatan teknis ada di Ciwidey. A.F. Lasut sudah yakin, perjuangan melawan Belanda akan berlangsung lama, karena itu kegiatan Jawatan Tambang dan Geologi harus menyebar. R. Sunu segera dipindahkan ke Malang, R.I. Subroto ke Telomoyo sedangkan A.F. Lasut dan Syamsul Bahri tetap di Bandung.
Sesudah terjadi peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946, Kantor Jawatan Pertambangan dan Geologi pindah dari Bandung dan Ciwidey ke Tasikmalaya. Akhirnya dari Tasikmalaya harus pindah lagi ke Magelang pada akhir tahun 1946. A.F. Lasut pun pindah ke Magelang. Di sini Jawatan Pertambangan dan Geologi dapat berjalan dengan agak teratur dan tenang. A.F. lasut mulai mengatur kegiatan dan sempat mengadakan sekolah, yaitu Sekolah Penambangan Geologi Menengah dan Sekolah Tinggi Pertambangan dan Geologi.
Arie Frederik Lasut tidak hanya bergerak dalam bidang geologi secara sempit. la masih tetap memimpin KRIS Cabang Magelang, dan juga menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), bahkan Ia duduk menjadi anggota ahli pada delegasi Republik Indonesia dalam perundingan Linggarjati. Dalam meja perundingan itu Ia sempat berhadapan dengan bekas gurunya, yaitu Prof. Ir. Achersdijk. Profesor tersebut berusaha untuk menekan dan memaksakan keinginannya kepada bekas mahasiswanya, tetapi A.F. Lasut tidak bersedia ditekan dengan mengatakan, bahwa ia mewakili negara Republik Indonesia yang sederajat. Untuk mengorbankan semangat perjuangan, Arie Frederik Lasut pun pernah ke Ujung Pandang.
Sementara itu pasukan Belanda melakukan agresi militer I pada tanggal 21 Mei 1947. Jawatan Pertambangan dan Geologi menjadi porak poranda. Pusat Jawatan cepat-cepat diungsikan ke Yogyakarta. Sekolah-sekolah pertambangan juga ikut dipindahkan. Tenaga-tenaga disebar ke Borobudur, gunung Merapi dan sebagainya. Dokumen pertambangan menjadi sangat penting nilainya dan selalu diincar oleh Belanda. Demikian pula Kepala Jawatan Pertambangan dan Geologi, yaitu Arie Frederik Lasut sendiri menjadi sasaran politik Belanda karena mereka menyadari potensinya. Arie Frederik Lasut harus dikuasai, kalau mungkin dengan bujukan dan jalan lunak. kalau tidak mungkin, maka satu-satunya jalan ialah dengan kekerasan. Arie harus di lenyapkan. Dalam keadaan yang gawat itu, Arie Frederik Lasut diterbangkan dengan pesawat AURI ke Bukittinggi dengan membawa semua dokumen penting pertambangan untuk diselamatkan.
Sementara itu pasukan Belanda kembali menyerbu Republik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 dan kota Yogyakarta diduduki. Pasukan Belanda juga mendatangi kantor Jawatan Pertambangan yang terletak di kampung Pugeran (sekarang Rumah Sakit Gajah Mada). Ketika Arie Frederik lasut ditanya oleh Stafnya, apakah tindakan selanjutnya yang akan dilakukan, maka Ia menjawab, ”Bertindaklah sesuai dengan keadaan”.
Selama pendudukan tentara Belanda itu, Arie Frederik Lasut tetap berada di kota Yogyakarta. la berjuang di bawah tanah dengan mencetak selebaran untuk mengobarkan semangat perjuangan. Rumahnya didatangi tentara Belanda dan digeledah. Untung mesin cetak sudah disembunyikan keluar rumah. Arie juga pernah ditahan, tetapi dibebaskan kembali, karena ia adalah anggota KNIP.
Pada waktu itu penderitaan Arie sungguh berat. Sebagai Kepala Jawatan Ia tetap bertanggungjawab melindungi dan mengurusi para pegawainya. Selain itu Arie yang baru saja menikah dan mempunyai anak perempuan yang kecil, sudah ditinggal oleh istrinya yang pulang ke rakhmatullah. Pada bulan Pebruari 1949 A.F. Lasut berangkat ke Jakarta. Ia tetap giat memperjuangkan pertambangan Indonesia. Di Jakarta ia mengadakan hubungan dengan berbagai pengusaha pertambangan luar negeri (bukan Belanda). Rupanya kegiatan A.F. Lasut di Jakarta tercium oleh fihak Belanda yang sedang berusaha untuk menghancurkan Republik Indonesia. A.F. Lasut lalu dihubungi oleh Prof Ir. Achersdijk dan Prof. Buurman yang membujuknya agar mau bekerjasama dengan mereka. Mereka berkata bahwa Republik In­donesia sudah akan hilang peranannya dalam arena politik. Tetapi A.F. Lasut tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Ia berkata,
”Kalau Pemerintah Republik Indonesia memerintahkan saya untuk bekerja sama dengan Tuan-tuan. maka saya akan mematuhinya, demi pemerintah dan rakyat Indonesia”.
Belanda gagal membujuk Arie Frederik Lasut, padahal mereka mengetahui, Arie menyimpan dokumentasi pertambangan. Belanda menyadari potensi Arie Frederik Lasut yang sungguh berarti bagi dunia pertambangan.
Rupanya fihak Belanda menjadi marah terhadap sikap Arie Frederik Lasut dan mereka mengambil keputusan yang tidak terpuji. Sekembalinya Arie Frederik Lasut ke Yogyakarta, dinas Rahasia Belanda (Inlichtingen VeUigheids Groep) atau IVG segera mengirim radiogram ke Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1949 jam 9. 00 yang berbunyi: ”A.F. Lasut secepat mungkin dihilangkan”.
Setengah jam kemudian, tiga serdadu KNIL mendatangi rumah Arie Frederik Lasut. Ia segera dibawa dengan jeep ke arah utara Yogyakarta, menuju Kaliurang. Di dekat Pakem jeep itu berhenti dan pada pukul 10.00 peluru menghujani tubuh Arie Frederik Lasut pemegang kunci penting dalam dunia pertambangan dan geologi. Pada hari itu Ia gugur sebagai Kusuma bangsa.
Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Arie Frederik Lasut dengan Surat Keputusan Presiden No. 012/TK/TH 1969 tanggal 20 Mei 1969.