LETJEN TNI (PURN) JAMIN GINTINGS

Letjen_TNI_(Purn)_Jamin_Gintings

 

  1. Identitas Pribadi. Letjen TNI AD Jamin Ginting lahir 12 Januari 1921 di Desa Suka, Tiga Panah, Tanah Karo, Sumatera Utara. Ia meninggal dunia pada 23 Oktober 1974 di Ottawa, Kanada. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
  2. Riwayat Perjuangan
    • Jamin Gintings pada tahun 1942 mengikuti pendidikan calon perwira Giyugun di Siborong-Borong. Usai pendidikan, ia ditugaskan sebagai Komandan Peleton Istimewa di Sumatera Giyugun Blangkejeren dan merekrut para pemuda Gayo. Setelah kemerdekaan ia bergabung ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk pemerintah Republik Indonesia.
    • Jamin Gintings membentuk BKR Kabanjahe. Pasukannya aktif melucuti persenjataan tentara Jepang di Berastagi, dan bertempur melawan pasukan Inggris. Setelah perubahan BKR ke TKR pada 5 Oktober 1945, pasukan Jamin Gintings digabungkan ke dalam TKR A yang berpusat di Kabanjahe dan mempunyai wilayah komando Sumatera Timur. Ia dipromosikan menjadi Komandan Bataliyon II TKR Kebanjahe, dan kemudian Wakil Kepala Staf Divisi IV TKR Sumatera Timur di Medan.
    • Jamin Gintings membentuk BKR Kabanjahe. Pasukannya aktif melucuti persenjataan tentara Jepang di Berastagi, dan bertempur melawan pasukan Inggris. Setelah perubahan BKR ke TKR pada 5 Oktober 1945, pasukan Jamin Gintings digabungkan ke dalam TKR A yang berpusat di Kabanjahe dan mempunyai wilayah komando Sumatera Timur. Ia dipromosikan menjadi Komandan Bataliyon II TKR Kebanjahe, dan kemudian Wakil Kepala Staf Divisi IV TKR Sumatera Timur di Medan.
    • Jamin Gintings adalah salah satu komandan pasukan Indonesia dalam pertempuran Medan Area melawan pasukan Inggris di Sumatera Timur. Pasukan Inggis meninggalkan Medan dan seluruh wilayah Indonesia pada akhir tahun 1946. Ia juga memimpin pasukan bertempur melawan pasukan Belanda. Pada 7 Januari 1947 Jamin Gintings menjadi Komandan Batalyon I Resimen II TRI di Tanjung Balai dan pada saat yang sama juga dipilih menjadi Ketua Biro Perjuangan Daerah XXXIX Sumatera Timur.
    • Pada tanggal 21 Juli 1947 pasukan Belanda melancarkan Agresi Militer I. Jamin Gintings memimpin perlawanan di Front Tanah Karo seperti Sibolangit, Pancurbatu, Tuntungan, Merek dan Saribudolok. Pasukannya mengawal perjalanan Wakil Presiden Mohammad Hatta dari Brastagi ke Bukit Tinggi. Pada bulan Okober 1947 ia memindahkan markas komando resimennya dari Suka ke Bukit Tusam, Lawe Dua, Tanah Alas, sebagai persiapan melancarkan perang gerilya. Berdasarkan Persetujuan Renville (Januari 1948) bahwa pasukan Belanda menguasai wilayah sepanjang Tanah Karo hingga perbatasan Tanah Alas (Kutacane). Demi mematuhi persetujuan ini Jamin Gintings sebagai Komandan Resimen IV TNI memindahkan markasnya dari Tanah Karo ke Kutacane, Aceh Tengah.
    • Pada tanggal 19 Desember 1948 pasukan Belanda melancarkan Agresi Militer II, menguasai ibukota Yogyakarta dengan menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta serta sebagian besar menteri Republik Indonesia. Namun Panglima Besar APRI Jenderal Soedirman tidak bersedia menyerahkan diri, memilih melanjutkan perang gerilya. Ia memerintahkan seluruh prajurit TNI untuk melancarkan perang gerilya. Berdasarkan perintah ini, Jamin Gintings pada tanggal 23 Desember 1948 memimpin serangan merebut markas pasukan Belanda di Tanah Karo, Mardinding dan Lau Baleng. Sebagai Komandan Brigade 3 Divisi X, Jamin Gintings memimpin perang gerilya di Tanah Karo, Tanah Alas,  Langkat Hulu, Deli Hulu dan Serdang Hulu di wilayah Sumatera Timur.
    • Memasuki tahun 1949 pasukan Jamin Gintings menyergap konvoi pasukan Belanda di Tigakicat dekat kampung Berastepu. Pasukannya juga terlibat pertempuran melawan pasukan Belanda dan Barisan Pengawal Negara Sumatera Timur. Wilayah pertempurannya meliputi: Selawang, Bukum, Basukum, Pernangenen, Batusianggehen, Layosigayo, Namo Cengkih dan lain-lain.
    • Karir militer Jamin Gintings meningkat setelah pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949. Ia adalah Komandan pertama Komando Pangkalan atau Komando Basis Kota Medan (KBKM) yang kemudian diubah menjadi Komando Militer Kota Besar (KMKB) Medan. Pada tahun 1954 sebagai Komandan Resimen Infanteri 2 Sumatera Timur ia ikut memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh yang dipimpin Teungku Daud Beureu’euh. Tahun 1956 Jamin Gintings menjadi Kepala Staf TT-I (Tentara dan Teritorium) Bukit Barisan. Selanjutnya berhasil memimpin penumpasan Organisasi Pertahanan Desa (OPD) yang dipengaruhi komunis pada 31 Oktober 1957.
    • Pada bulan Desember 1956, Panglima TT-I Bukit Barisan Kolonel Maludin Simbolon membentuk Dewan Gajah dan menyatakan memutuskan hubungan dengan pemerintah pusat. Jamin Gintings selaku Kepala Staf TT-I Bukit Barisan menentang keputusan atasannya. Hal itu menunjukkan kesetiannya pada pemerintah Republik Indonesia. Jamin Gintings menjadikan wilayah komandonya sebagai pangkalan operasi pasukan pemerintah menggempur PRRI di Sumatera.
    • Dalam keadaan Undang-Undang Keadaan Bahaya 1956 selaku Penguasa Perang Daerah, Kolonel Jamin Gintings melaksanakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Sumatera Timur. Ia menghadapi tantangan dari organisasi-organisasi buruh tani komunis yang juga melaksanakan nasionalisasi.
    • Sejak tahun 1966, Jamin Gintings lebih banyak menduduki jabatan nonmiliter, diawali dengan jabatan sebagai Sekretaris Presiden / Kepala Kabinet Presiden merangkap Wakil Sekretaris Negara. Pada tahun 1968 ia diangkat Pejabat Presiden Soeharto menjadi anggota DPRGR dan MPRS mewakili eksponen Angkatan 45. Jabatan terakhirnya adalah Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Kanada dan meninggal dunia dalam tugas.
Posted in Pahlawan Nasional.