LETNAN JENDERAL (PURN) TAHI BONAR SIMATUPANG

LETNAN JENDERAL (PURN) TAHI BONAR SIMATUPANG

LETNAN JENDERAL (PURN) TAHI BONAR SIMATUPANG

 

  1. A.     BIODATA

 

1.

Nama lengkap : LetJend (Purn) Tahi Bonar Simatupang

2.

Tempat/tgl. lahir : Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara/ 28 Januari 1920

3.

Kebangsaan/Agama : Indonesia/

4.

Nama AyahNama Ibu :: Simon SimatupangMina Boru Sibutar

5.

Pendidikan :

6.

Istri : Sumarti Budiarjo

7.

Wafat : 1 Januari 1990

 

B.   RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN

a. Letjen TNI (Purn) Tahi Bonar (T.B.) Simatupang lahir di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, pada tanggal 28 Januari 1920. Ia merupakan anak kedua dari delapan putra-putri pasangan suami-istri Sutan Mangaraja Soaduan Simatupang dan Mina Boru Sibutar. Ayahnya bekerja sebagai pegawai pemerintah dan sering berpindah tempat tugas; dari Sidikalang pindah ke Siborong-borong, kemudian ke Pematang Siantar.

 

b. Simatupang mengikuti pendidikan umum di tiga tempat yang berbeda. Di Pematang Siantar ia memasuki sekolah tingkat dasar, Hollands Inlandsche School (HIS) pemerintah. Tamat dari sekolah ini, tahun 1934, ia mengikuti pendidikan di sekolah yang berada di bawah asuhan Zending, yakni Christelijke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO Kristen) di Tarutung dan Christelijke Algemene Middelbare School (AMS Kristen) di Jakarta.

c. Pendidikan di AMS diselesaikan Simatupang pada tahun 1940. Semula, ia bermaksud untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Kedokteran, namun kemudian dibatalkannya. Perhatiannya lebih tertuju untuk mengikuti pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) yang baru dibuka Pemerintah Belanda di Bandung pengganti KMA Breda yang terpaksa ditutup karena Negeri Belanda diduduki Jerman. KMA adalah lembaga pendidikan militer bagi calon-calon personel Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL). Motivasi Simatupang untuk mengikuti pendidikan militer ini ialah, ingin membantah mitos yang sengaja disebarluaskan oleh orang-orang Belanda bahwa orang Indonesia tidak cocok untuk `menjadi militer yang baik. Anggapan seperti itu pernah didengarnya dari guru sejarah di AMS. Guru ini juga mengatakan bahwa Indonesia tidak akan pernah menjadi negara merdeka karena tidak mampu membangun angkatan perang yang baik dan menjaga persatuan. Hal itu dibuktikan dalam berbagai perlawanan yang dilakukan terhadap Belanda yang selalu berakhir dengan kekalahan.

d. Dengan memasuki KMA Bandung, SImatupang tercatat sebagai taruna Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO). Ia memilih kecabangan zeni dengan perhitungan bahwa pengetahuan di bidang ini akan tetap berguna seandainya ia diberhentikan dari dinas militer.

e. Perang Dunia II yang berkobar di Eropa, merembet pula ke Asia, dimulai dengan serangan Jepang terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbour, Desember 1941. Pemerintah Hindia Belanda pun mengumumkan perang terhadap Jepang. Dalam rangka perang itu, Sersan T.B. Simatupang ditugasi di bagian perhubungan Resimen 1 KNIL di Jakarta. Pada waktu Jepang menduduki Jakarta, ia ditangkap dan ditahan di Sukabumi.

f. Setelah bebas dari tahanan Jepang, Simatupang mengadakan perjalanan ke berbagai tempat untuk mengetahui aspirasi yang berkembang di lingkungan masyarakat sehubungan dengan perubahan situasi. Dengan mantan Mayor KNIL Oerip Soemohardjo di Yogya, ia membicarakan kemungkinan yang dapat dilakukan oleh bekas KNIL. Namun, yang cukup menentukan ialah pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta. Dari pembicaraan dengan tokoh anti Jepang ini, ia mendapat keyakinan bahwa kekuasaan Jepang tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, perlu dilakukan persiapan untuk menghadapi situasi pascaperang. Pada masa ini, melalui bacaan berbagai buku, ia mulai mendalami masalah-masalah perang dan revolusi.

g. Karier militer yang terhenti selama masa pendudukan Jepang, dilanjutkan Simatupang sesudah Indonesia memperoleh kemerdekaan. Ia lebih berperan sebagai perwira staf daripada perwira lapangan dan dikenal sebagai pemikir militer, bahkan diplomat militer. Bekas Mayor KNIL Oerip Soemohardjo yang diangkat pemerintah menjadi Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kelak berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), mengangkat Simatupang sebagai Kepala Organisasi Markas Besar Umum. Ia juga ditugasi menyusun konsep Sumpah Prajurit. Pada waktu kemudian, tahun 1951, Simatupang juga menyusun rumusan Saptamarga. Seperti juga Sumpah Prajurit, Saptamarga pun menjadi landasan perjuangan Angkatan Perang RI.

h. Tugas menyusun organisasi bukanlah tugas yang mudah, sebab angkatan perang baru saja dilahirkan dan minim pengalaman. Namun, Simatupang berhasil melaksanakannya berkat kecanduannya membaca berbagai buku karya pengarang asing mengenai organisasi militer. Organisasi yang dirancang Simatupang tidak terbatas hanya pada organisasi Markas Besar, tetapi juga organisasi divisi, resimen, dan batalion.

i. Sebagai seorang pemikir militer, Simatupang menganalisis berbagai kemungkinan untuk mengadapi Belanda. Menyadari bahwa Angkatan Perang RI, ditinjau dari segi persenjataan, tidak akan mungkin menghadapi pasukan Belanda yang cukup terlatih, bersenjata lengkap dan modern, Simatupang menggagaskan sistem wehrekreise (distrik pertahanan). Ia menganalisis gerak dan strategi pasukan Belanda, yaitu strategi penghancuran. Simatupang berusaha menemukan kontrastrategi yang tepat untuk menghadapi strategi penghancuran dengan strategi penjemuan, yakni melakukan perang rakyat yang lama. Setiap wehrekreise meliputi satu keresidenan, dipertahankan oleh tentara dan rakyat. Konsep ini diterapkan pada waktu Belanda melancarkan agresi militer kedua.

j. Pada waktu Belanda melancarkan agresi militer kedua, Kolonel Simatupang membangun markas di Dukuh Banaran, Kecamatan Wonosari. Di tempat ini ia memasang sender radio berukuran kecil. Dengan cara menghubungkan sender ini dengan sender yang lebih besar di Wonosari, Simatupang mengadakan komunikasi dengan Pemerintah Darurat RI (PDRI) di Sumatera Barat untuk menyampaikan berbagai informasi mengenai perkembangan situasi di Jawa. Ia juga mengadakan kontak dengan wakil RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam kedudukan sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang, ia mengadakan perjalanan keliling mengunjungi pasukan-pasukan yang tersebar di berbagai tempat. Selain menemui tokoh-tokoh militer, Simatupang juga menemui tokoh-tokoh sipil untuk membahas perkembangan situasi.

k. Sengketa Indonesia dan Belanda menarik perhatian Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bagsa (DK PBB). Melalui campur tangan dewan ini kedua pihak mengadakan perundingan yang melahirkan Roem-Roijen Statement. Sesuai dengan isi pernyataan itu, pada bulan Agustus 1949 dilakukan penghentian tembak menembak. Langkah berikutnya ialah mengadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, negeri Belanda. Dalam konferensi ini Simatupang ikut sebagai anggota delegasi RI, khusus untuk membicarakan masalah militer. Tugas utamanya ialah mempertahankan TNI sebagai inti dari Angkatan Perang RIS (APRIS) yang akan dibentuk. Ia berhasil dalam adu argumentasi dengan jenderal-jenderal senior Belanda.

l. Setelah Panglima Besar Jenderal Soedirman meninggal dunia, Januari 1950, kolonel Simatupang diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP). Pangkatnya dinaikkan menjadi jenderal mayor. Sebagai KSAP, Simatupang terlibat dalam konflik antara Angkatan Perang, khususnya Angkatan Darat, dan Parlemen akibat campur tangan Parlemen yang terlalu berlebihan dalam masalah intern Angkatan Darat. Pada tanggal 17 Oktober 1952, KSAP Simatupang, KSAD Kolonel Nasution dan beberapa perwira lain menghadap Presiden Soekarno meminta agar parlemen dibubarkan dan segera diadakan pemilihan umum. Permintaan itu ditolak oleh Presiden. Akibat peristiwa itu di lingkungan Angkatan Darat timbul perpecahan antara golongan yang pro dan yang anti. Buntut lainnya ialah dihapuskannya jabatan KSAP pada tahun 1954, diganti dengan Gabungan Kepala Staf. Dengan dihapusnya jabatan KSAP, Simatupang tidak lagi berada di lingkungan Angkatan Perang. Pada tahun 1959 ia dipensiunkan secara resmi.

m. Setelah pensiun, Simatupang aktif dalam berbagai organisasi sosial, terutama organisasi agama (Kristen). Ia antara lain pernah memegang jabatan sebagai Ketua Umum Dewan Gereja Indonesia, pernah pula mengetuai Dewan Gereja se-Asia, bahkan Dewan Gereja Sedunia. Pada tahun 1967, bersama dengan Prof. Bahder Djohan (Islam), A.M. Tambunan dan I.J. Kasimo (keduanya Kristen), ia ikut mendirikan Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (YPPM) dan diangkat sebagai ketua.

n. Sebagai seorang intelektual dan tokoh militer, T.B. Simatupang banyak menulis buku, antara lain adalah :

–        Soal-soal Politik Militer di Indonesia;

–        Pelopor Dalam Perang; Pelopor Dalam Damai;

–        Pengantar Ilmu Perang di Indonesia;

–        Harapan, Keprihatinan dan Tekad : Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya;

–        Dari Revolusi ke Pembangunan;

–        Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos;

–        Iman Kristen dan Pancasila;

 

  1. Letjen TNI (Purn) T.B. Simatupang meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 1 Januari 1990 dalam usia 70 tahun. Jenazahnya di makamkan di Taman Makam Pahlawan Utama Kalibata, Jakarta. Atas jasa-jasa dan pengabdiannya terhadap bangsa dan negara, pada tahun 1995 Pemerintah RI menganugerahinya tanda jasa Bintang Mahaputra Adipradana. Untuk pemikiran-pemikiran ilmiahnya, pada tahun 1969 Universitas Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat, memberinya gelar Doktor Honoris Causa.
Posted in Pahlawan Nasional.