Sutomo (Bung Tomo)

Bung Tomo bwPada waktu masih bersekolah di HBS, Bung Tomo sudah aktif dalam organisasi yang berpaham kebangsaan, baik dalam Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) maupun dalam Partai Indonesia Raya (Parindra). la juga memimpin kelompok sandiwara Pemuda Parindra yang sering mementaskan kisah-kisah kepahlawanan.
Aktivitas di bidang jurnalistik sudah dimulai Bung Tomo pada tahun 1937, mula-mula ia hanya bekerja sebagai wartawan free lance pada harian Suara Umum di Surabaya, kemudian menjadi redaktur mingguaan Pembela Rakyat, penulis pojok di harian Express (berbahasa Jawa); dan sebagai koresponden majalah Pustaka Timur. Berkat prestasi di bidang jurnalistik ini, pada masa pendudukan Jepang ia diangkat sebagai pemimpin redaksi Kantor Berita Domei. Peran lain ialah mendirikan Kantor Berita Indonesia yang kemudian, atas saran Adam Malik, dijadikan cabang Kantor Berita Antara.
Sebagai karyawan Domei, Bung Tomo sudah menerima berita tentang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak lama setelah Proklamasi itu terlaksana. Secara sembunyi-sembunyi berita itu disampaikannya kepada masyarakat, sehingga tersiar dari mulut ke mulut. Berkat usahanya pula, teks Proklamasi dimuat secara lengkap dalam harian Asia Raya esok harinya. Tanpa mengindahkan larangan pihak Jepang, ia juga menempelkan teks Proklamasi di depan Kantor Domei, sehingga semakin banyak orang yang mengetahuinya.
Pada bulan-bulan pertama sesudah Proklamasi, Bung Tomo melibatkan diri secara intensif dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia antara lain ikut dalam proses pembentukan Badan Keamanan Rak­yat (BKR) dan perebutan senjata dari pasukan Jepang. Ia juga membentuk badan perjuangan, yakni Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Para anggotanya diberi pelatihan kemiliteran.
Dalam kunjungan ke Jakarta pada awal Oktober 1945, Bung Tomo berhasil meyakinkan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin agar memanfaatkan siaran radio untuk mengobarkan semangat rakyat. la kemudian membangun pemancar radio sendiri, yakni Radio Pemberontakan yang ternyata memegang peranan penting dalam pertempuran menghadapi pasukan Inggris di Surabaya bulan November 1945. Ultimatum Inggris tanggal 9 November 1945 yang menuntut agar semua orang Indonesia yang memiliki senjata api menyerahkan senjata mereka dan menandatangani surat pernyataan menyerah, dijawab Bung Tomo melalui pidato radionya: “Selama banteng-banteng Indo­nesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu pula tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga”
Melalui Radio Pemberontakan, berkali-kali Bung Tomo berpidato membangkitkan semangat rakyat dan berseru agar bantuan dikirim ke Surabaya untuk menghadapi Inggris. la memulai dan menutup pidatonya dengan seruan “Allahu Akbar!” Pidato itu didengar bukan hanya di Surabaya, tetapi juga di kota-kota lain. Berkat pidato itu, bantuan mengalir ke Surabaya, tidak hanya tenaga manusia, tetapi juga logistik. Pidato itu menggugah pula para kiyai dari berbagai tempat sehingga mereka dan para santrinya datang ke Surabaya untuk memberikan dukungan batin kepada para pejuang.
Peranan dan jasa Bung Tomo sebagai pejuang tidak luput dari perhatian pemerintah. Sebagai pemimpin badan perjuangan yang cukup berpengaruh, ia pun diikutsertakan dalam pembinaan angkatan perang. Pada bulan Juli 1947 ia diangkat sebagai salah satu anggota Pucuk Pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sesudah perang kemerdekaan berakhir, Bung Tomo berjuang di bidang politik dengan mendirikan Partai Rakyat Indonesia (PRI). Melalui partai ini, sesudah pemilihan umum tahun 1955, ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Di bidang pemerintahan, Bung Tomo pernah diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran dan Menteri Sosial Ad Interim. Jabatan lain ialah Ketua II (Bidang Ideologi Sosial Politik) Markas Besar Legiun Veteran.
Bung Tomo dikenal sebagai tokoh idealis dan kritis. Walaupun ti­dak lagi memegang jabatan di pemerintahan, ia selalu mengikuti dan mencermati perkembangan bangsa. la tidak dapat membiarkan terjadinya tindakan-tindakan pemerintah yang menyimpang dari tujuan perjuangan. Oleh karena itulah ia sering mengirim surat yang bernada kritik tetapi sekaligus koreksian, baik kepada Presiden Soekarno maupun kemudian kepada Presiden Soeharto. Bahkan, pada ta­hun 1960 ia mengadukan Presiden Soekarno ke Mahkamah Agung sehubungan dengan tindakan Soekarno membubarkan DPR hasil pemilihan umum tahun 1955.
Bung Tomo juga banyak menulis buku, yakni :
a. Kepada Bangsaku (1946)
b. 10 November 1945 (1951)
c. Koordinasi dalam Republik Indonesia (1953)
d. Ke Mana Bekas Pejuang Bersenjata (1953)
e. Gerakan 30 September (1966)
Sebagai tokoh pejuang, Bung Tomo juga menerima beberapa tanda jasa;
a. Satyalencana Kemerdekaan
b. Bintang Gerilya
c. Bintang Veteran Republik Indonesia.

 

 

Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor : 041/TK/Tahun 2008 tanggal 6 November 2008.

Posted in Pahlawan Nasional.