Pangeran Mangkubumi / Sultan Hamengku Buwono I

Sultan Hamengkubuwono

Sebagai seorang muslim yang taat, Pangeran Mangkubumi tidak menyukai perilaku Kompeni berada dilingkungan keraton. Beliau begitu menjunjung tinggi nilai-nilai agamis dan tradisional secara kental sehingga tidak menyenangi perilaku kompeni bahkan menentangnya.
Salah satu kegemaran yang dikembangkan Pangeran Mangkubumi adalah olah keprajuritan dan keterampilan berkuda sehingga mendapat kepercayaan sebagai Pangeran Lurah dari Susuhunan Paku Buwono II.
Pada bulan Mei 1746 ketika Gubernur Jenderal Gustav Baron Van Imhoff berkunjung untuk melakukan peninjauan ke Keraton Surakarta yang baru selesai dibangun, Pangeran Mangkubumi keluar meninggalkan keraton dengan maksud untuk mengadakan perlawanan terhadap kompeni yang mulai menguasai sebagian wilayah keraton.
Salah satu langkah yang dilakukan beliau adalah mengadakan pemupukan dengan mengorganisir pasukan militer yang tangguh yang mampu melakukan perlawanan dalam menghadapi kompeni. Rangkaian pertempuran besar yang dilakukan Pangeran Mangkubumi terhadap kompeni yang berlangsung dalam 2 (dua) periode yaitu : Periode tahun 1746 – 1749 dan Periode tahun 1750 – 1755.
Pada tanggal 11 Desember 1749 bertempat di Desa Kabanaran Pangeran Mangkubumi diangkat oleh para kerabat, rakyat dan pendukungnya sebagai Susuhunan Ing Mataram atau Sunan Kabanaran. Penobatan ini sebagai strategi untuk mengacaukan kompeni khususnya Perjanjian Ponorogo.
Setelah melakukan perlawanan heroik selama 9 tahun (1746 – 1755) yang berakhir dengan ditandatanagani Perjanjian Giyanti (1755) maka Kasunanan Surakarta terbagi menjadi 2 yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dan setelah berdirinya Kesultanan Yogyakarta maka Pangeran Mangkubumi bergelar Sultan Hamengku Buwono I.
Hasil perjuangan Pangeran Mangkubumi sejak tahun 1746 hingga dirumuskan dan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tahun 1755 merupakan bukti semangat nasionalisme dan patriotisme beliau dalam membela kepentingan rakyat dalam menegakkan kewibawaan dan kedaulatan Mataram. Dengan perjuangan yang beliau berikan merupakan bukti cikal bakal tumbuhnya gerakan nasional kebangsaan.
Atas jasa-jasa beliau, pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahalawan Nasional dengan Keputusan Presiden RI Nomor : 085/TK/Tahun 2006 tanggal 3 November 2006.

Posted in Pahlawan Nasional.