Bagindo Azizchan

Bagindo Azizchan bwSejak di AMS Bagindo Azizchan sudah tertarik dengan pertemuan diskusi yang membahas nasionalisme, modernisasi dan Islam Indonesia, bahkan beliau juga sering menjadi pembicara mengenai hal tersebut .
Ketertarikan Bagindo Azizchan dengan pemikiran H. Agus Salim diterapkan dalam kehidupannya, Azizchan cenderung berpikir secara intelektual Islam, Kebiasaan–kebiasaan yang Islami juga menjadi bagian dari dirinya. Hal itu jugalah yang membentuk pengertian perjuangan dan ideologi politik dalam diri Azizchan .
Tahun 1934 Azizchan kembali ke Padang, namun saat itu belum dapat melakukan kegiatan politik karena dibelenggu oleh pemerintah Hindia Belanda, satu-satunya peluang yang ia lakukan adalah mengajar di Moderne Islamische Kweek School .
Pada 1935 ia mengajar di Islamic College, kemudian bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Pendidikan Pergerakan Umum bagi rakyat dari tingkat tinggi sampai rendah dengan nama Volks Universalitir. Dan atas anjuran Azizchan pula dibentuk Persatuan Pelajar Islam se-Kota Padang dan perkumpulan olah raga Pemuda bernama “Perjaka”
Selain mengajar Bagindo Azizchan juga melantik kader-kader perjuangan, disamping itu beliau juga melakukan ceramah-ceramah dan tabliq. Pada tahun 1940 dalam suatu tabliq agama Bagindo Azizchan dinyatakan melanggar spreek delict sehingga dihadapkan ke landraak (pengadilan) dan dijatuhi hukuman 50 hari.
Di bulan November 1945 Bagindo Azizchan terpilih sebagai salah seorang utusan PRI (Pemuda Republik Indonesia) untuk menghadiri Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta. Setelah kembali ke Padang Azizchan membentuk organisasi Pemuda Muslim Indonesia .
Tanggal 15 Agustus 1946 Azizchan diangkat sebagai Walikota Padang dan sehari kemudian melakukan kunjungan dinasnya yang pertama sebagai Walikota ke markas besar sekutu untuk melakukan pembicaraan masalah keamanan terutama di kota Padang yang kondisinya semakin gawat .
Tanggal 17 Agustus 1946 Azizchan merayakan HUT Kemerdekaan RI. Yang secara tertutup dan memutuskan membuat tugu peringatan di halaman kantor KNI Sumatera Barat hanya dalam waktu semalam .
Pada 23 Agustus 1946 sekutu melakukan operasi militer sengit untuk menghancurkan Perlawanan tentara RI. di Gunung Pengilir. Sedangkan pada tanggal 27 dan 28 Agustus 1946 bertepatam malam Idul Fitri, pasukan tentara Indonesia membalas pertempuran dengan sengit di seluruh kota yang mengakibatkan marahnya sekutu dan melakukan penggeledahan ditiap-tiap rumah.
Para lelaki di tangkap, sehingga membuat Bagindo Azizchan tersinggung dan segera mendatangi kembali markas besar sekutu untuk memprotes secara tegas dan menuntut agar Belanda segera memebaskan mereka .
24 September 1946 NICA memasuki rumah-rumah penduduk di Parak Kerambil, Ujung Pandang Olo dan sebagian Kampung Jawa. Pemilik rumah diusir dan rumah-rumah tersebut dikuasai Belanda. Azizchan segera menyampaikan telegram protes sebagai berikut:

 

a. Protes terhadap pengusiran penduduk di Parak Kerambil dan perbuatan tersebut diluar prikemanusiaan.
b. Negara Indonesia mempunyai peraturan-peraturan yang sehat dan diharapkan NICA menunjukan prikemanusiaan yang lebih tinggi.
c. Bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan mengancurkan pihak-pihak yang berlaku tidak adil.

 

Pada saat hubungan dengan Belanda semakin memburuk, Belanda merencanakan penangkapan sejumlah tokoh-tokoh pimpinan RI. di Kota Padang sehingga banyak tokoh yang menyingkir, namun Walikota Padang tersebut bertahan dengan semboyan Azizchan : “Entah kalau …mayat sudah membujur barulah Padang akan saya tinggalkan ” .
Juli 1947 Azizchan melaporkan perkembangan terakhir Kota Padang kepada Dewan Eksekutif Sumatera Barat dan juga melakukan pembicaraan-pembicaraan dengan tokoh-tokoh pemimpin perjuangan lainnya dan 2 hari kemudian pulang kembali ke Padang ; namun ditengah perjalanan seorang menginformasikan bahwa polisi menangkap tokoh-tokoh Republik yang masih berada di kota Padang dan disarankan agar Azizchan jangan memasuki kota tersebut, namun karena sesuatu hal beliau tidak dapat memenuhi seruan tersebut dan tetap kembali ke kota Padang .
19 Juli 1947 saat Azizchan hendak meninggalkan Kota Padang namum ditengah perjalanan, tepatnya di jembatan Ular Karang mobil Azizchan ditahan oleh pengawal Belanda dan terjadi pembicaraan yang tak lama kemudian seorang Komandan Belanda yaitu Letkol Van Erp meminta Azizchan kembali ke kota untuk menentramkan kekacauan dengan menumpangi kendaraan jeep milik Van Erp. Namun semua itu hanyalah siasat Belanda karena tidak lama kemudian terdengar berita bahwa Azizchan terbunuh .
Azizchan dimakamkam di TMP Kusuma Bhakti, Bukit Tinggi (Sumatera Barat) dan atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI. No. 082/TK/Tahun 2005 tanggal 7 November 2005 .

Posted in Pahlawan Nasional.