Andi Abdullah Bau Massepe

Andi Abdullah Bau Massepe bwTahun 1940 Bau Massepe diangkat sebagai Datuk Suppa menggantikan Andi Makkasau, Walaupun hidup dalam lingkungan bangsawan namun tidak mempengaruhi tingkah lakunya yang memperlihatkan sikap kerakyatan dan demokratis yang mengakibatkan beliua mampu berbaur dengan rakyat biasa.
Dalam rangka mendukung Proklamasi Kemerdekaan RI. Di Sulawesi Selatan didirikan organisasi yang bergerak dibidang politik yaitu Sumber Daya Rakyat (SUDARA) yang anggotanya antara lain Andi Mappayuki, Dr. Sam Ratulangi dan Abdullah Bau Massepe. September 1945 Bau Massepe dan kawan-kawan merubah nama organisasi tersebut menjadi Badan Penunjang Republik Indonesia, dengan Ketua Umum Andi Abdullah Bau Massepe. Kemudian di Pare-Pare dibentuk pula KNI dan Bau Massepe dipercaya sebagai pimpinannya, KNI kemudian dirubah menjadi Pusat Keselamatan Rakyat Sementara (PKRS).
Pada tanggal 12 September 1945 ditengah berkecamuknya pembantaian para tokoh pergerakan, namun Andi Abdullah Bau Massepe dengan keberanian dan jiwa patriotisme memasang papan nama BPRI dan mengibarkan bendera merah putih di lapangan Labukuang Pare-Pare.
Dalam memimpin perjuangan, Andi Abdullah Bau Massepe menempuh jalur politik dan militer. Dalam bidang politik melalui Keselamatan Rakyat Sulawesi yang bertugas memelihara keamanan rakyat, melakukan pertemuan dengan kelompok perlawanan. Pada November 1945 beliau membuat surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang isinya menolak kembalinya Belanda berkuasa di Indonesia dan menyokong sepenuhnya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu ia juga melakukan konsolidasi dengan pejabat kerajaan dan tokoh masyarakat, megkoordinasikan kegiataan perjuangan, mengirim delegasi untuk menghadap pemerintah pusat dan menemui Presiden Soekarno serta berhasil memperoleh senjata dari pemerintah pusat.
Dalam bidang militer Bau Massepe mempersiapkan pemuda Pandu Nasional Indonesia (PNI) sebagai kekuatan pergerakan bersenjata menghadapi kekuatan NICA Belanda. Memobilisasi warga masyarakat untuk konsolidasi dan melakukan penyerangan terorganisir terhadap pasukan Belanda yakni :

 

a. Rencana penyerangan pada tanggal 3 Februari 1946 pada pos NICA namun gagal.
b. Pertemuan pasukan Bau Massepe dengan pasukan Belanda di Garessi Suppa yang mengakibatkan pasukan Belanda dapat dipukul mundur dan menimbulkan banyak korban dipihak Belanda termasuk Lanoy, Komandan Batalyon-nya yang tewas di tempat pertempuran .
c. Menghadang konvoi Belanda dan terjadi pertempuran di La Majakka yang mengakibatkan kerugian besar di pihak Belanda .
d. Pertempuran La Sekko yang merupakan pertempuran terdahsyat karena pasukan Belanda berinisiatif untuk melakukan penyerangan kepada penduduk pasukan Bau Massepe di Berpuru dan mengakibatkan gugurnya beberapa pejuang .
e. Pertempuran Teppoe Kanango yang membawa keberhasilan karena berhasil memukul mundur pasukan Belanda serta merebut beberapa senjata .

Pada 17 Oktober 1946 Bau Massepe ditangkap dan dibawa ke Makassar dalam sidang yang mengadilinya di Makassar. Secara heroik beliau mengucapkan kata-kata “Aku rela mati demi kehormatan dan kemerdekaan bangsaku”.
15 Januari 1947 Andi Abdullah Bau Massepe dipindahkan ke Pinrang untuk pemeriksaan lebih lanjut dan pada tanggal 2 Februari 1947 Andi Abdullah Bau Massepe ditembak mati oleh Belanda dan hingga kini makamnya belum diketahui. Atas jasa-jasanya pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 082/TK/Tahun 2005 tanggal 7 November 2005 .

Posted in Pahlawan Nasional.