Kiras Bangun (Garamata)

Kiras Bangun bwMenjelang akhir abad ke-19 sebagian besar wilayah Sumatera Timur, terutama Langkat dan Deli, sudah dibuka Pemerintah Belanda menjadi perkebunan-perkebunan besar tembakau, teh, dan karet. Areal yang dijadikan perkebunan itu pada umumnya adalah milik kaum adat atau perseorangan. Dalam banyak kasus, penguasaan atas tanah-tanah itu dilakukan dengan cara paksaan sehingga menimbulkan perlawanan rakyat, antara lain perang Sunggal. Karena tanah di Sumatera Timur semakin berkurang untuk dijadikan perkebunan, Belanda berusaha menguasai Tanah Karo. Selain untuk membuka perkebunan baru, usaha untuk menguasai Tanah Karo dimaksudkan pula untuk mencegah sabotase yang sering dilakukan orang-orang Karo terhadap perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur. Bersama dengan penduduk yang tinggal di sekitar perkebunan, mereka merusak tanaman atau bangsal-bangsal tempat menyimpan hasil perkebunan.
Dalam usaha menduduki Tanah Karo, Belanda mendapat tantangan dari seorang tokoh kharismatik Karo, yakni Kiras Bangun yang juga populer dengan sebutan Garamata. Ia lahir pada tahun 1852 di Batykarang, kabupaten Karo. Kiras Bangun tidak pernah mendapat pendidikan formal, dalam arti pendidikan di bangku sekolah, sebab pada abad ke-19 organisasi persekolahan belum dikenal masyarakat Karo. Namun, bila sekali-kali berkunjung ke Binjei, ia belajar bahasa Melayu dari seorang sahabatnya. Bahkan kemudian, ia mampu menulis dan membaca huruf latin.
Dalam tata Pemerintahan tradisional masyarakat Karo, status Kiras bangun hanyalah sebagai kepala kampung, dalam hal ini kepala Kampung Batukarang. Di tanah Karo terdapat ratusan kampung dan karena itu terdapat pula ratusan ratusan kepala kampung. Kedudukan mereka sederajat, yang satu tidak membawahi yang lain. Akan tetapi, Kiras Bangun berhasil menempatkan dirinya sebagai primus inter pares berkat peranannya sebagai “juru damai” dalam menyelesaikan berbagai sengketa antarkampung atau antarmarga. Dalam menyelesaikan sengketa itu ia selalu berpegang pada prinsip membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Adakalanya, terhadap pihak yang ingin menang sendiri, ia menggertak akan menggunakan pasukannya. Sebagai kepala kampung, seperti juga kepala-kepala kampung yang lain, ia mempunyai pasukan untuk menjaga kampungnya. Sengketa yang pernah didamaikannya tidak hanya antarkampung atau antarmarga di Tanah Karo, tetapi juga antara orang Karo dan orang Aceh. Salah satu diantaranya ialah sengketa antara Penghulu Mardinding dan Panglima Hasan dari Aceh. Untuk mempererat persatuan di kalangan masyarakat Karo, ia sering mengadakan runggu (musyawarah) baik runggu antarkampung maupun runggu antarmarga. Bahkan, ia juga memperistri beberapa perempuan dari marga dan kampung yang berbeda.
Antipati Kiras Bangun terhadap Belanda sudah diperlihatkannya dalam perang Sunggal (1872 – 1895). Beberapa kali dalam periode ini ia mengirimkan pasukannya ke Langkat untuk membantu penduduk setempat melawan Belanda. Keterlibatan Kiras Bangun dalam perang ini dan pengaruhnya yang cukup besar di kalangan masyarakat Karo cukup diketahui oleh pihak Belanda. Oleh karena itu, sebelum memasuki Tanah Karo, Belanda berusaha “menjinakkan” Kiras bangun terlebih dahulu. Pada tahun 1901 mereka mengirim seorang utusan menemui Kiras Bangun. Ia ditawari jabatan, uang, dan senjata asal mau bekerja sama dengan Belanda. Tawaran itu ditolaknya. Penolakan itu disampaikannya kepada tokoh-tokoh lain yang juga sependapat dengannya.
Penolakan Kiras Bangun tidak menyurutkan niat Belanda. Pada tahun 1902, pendeta Guillame disertai dua orang Karo yang sudah dipengaruhi Belanda, dikirim ke Kabanjahe untuk mengembangkan agama Kristen. Kiras Bangun menafsirkan kedatangan pendeta ini sebagai taktik dan langkah awal Belanda untuk menguasai Tanah Karo. Ia pun bereaksi. Pendeta guillaume dan dua orang Karo pelindungnya itu diusirnya dari Kabanjahe.
Untuk Kedua kalinya, pada tahun 1903 Belanda mengirim kembali Guillaume ke Kabanjahe dengan kawalan sepasukan tentera. Untuk menghadapi perkembangan baru itu dan untuk menggalang kekuatan, Kiras Bangun mengadakan musyawarah dengan kepala-kepala kampung lainnya. Tiga kali musyawarah diadakan di tempat yang berbeda. Musyawarah terakhir dan terbesar diadakan di Tiga Jeraya. Dalam musyawarah ini Kiras bangun ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi perlawanan. Persiapan-persiapan pun diadakan. Tiap-tiap urung diperintahkan mempersiapkan senjata dan benteng-benteng pertahanan dibangun di beberapa tempat. Ultimatum pun dikirimkan kepada Guillaume agar dalam waktu lima belas hari ia sudah harus meninggalkan Kabanjahe. Selain menggalang kekuatan di kalangan rakyat Karo sendiri, Kiras Bangun juga mengadakan pendekatan dengan pejuang-pejuang Aceh di Tanah Alas, Gayo Lues, Singkil, dan Aceh Selatan. Tokoh-tokoh yang dihubungi itu bersedia bekerja sama untuk menghadapi Belanda, bahkan, beberapa diantaranya sudah hadir dalam musyawarah di Tiga Jeraya.
Operasi militer Belanda ke Tanah karo dimulai pada tanggal 6 September 1904 dipimpin oleh Letnan Kolonel Eleckman. Pasukan yang berkekuatan 200 prajurit ini bergerak dari Bandar Baru, Sumatera Timur. Untuk menghadapi pasukan ini, Kiras Bangun menempatkan pasukan Karo di perbukitan antara Berastagi dan Sepuluh dua Kuta. Bleckman yang mengetahui konsentrasi pasukan Karo ini menempuh jalan lain, sehingga pasukan Karo berada di belakang pasukan Belanda. Pada tanggal 8 September mereka bergerak menuju Kabanjahe. Setelah mengatasi perlawanan pasukan Karo, mereka berhasil mencapai Lingga dan selanjutnya berusaha merebut Lingga Julu. Pertahanan pasukan Karo di Lingga Julu lebih kuat daripada pertahanan di Lingga. Akan tetapi, setelah terlibat dalam pertempuran sengit, mereka kehabisan peluru.
Setelah Lingga Julu menduduki Belanda, Kiras Bangun memerintahkan pasukannya mundur ke Batukarang untuk memperkuat pertahanan di kampung kelahirannya ini. Batukarang dilindungi oleh dua benteng, yakni benteng Mbesuka di sebelah utara dan benteng Tembusuh di sebelah Timur. Kiras Bangun berkedudukan di benteng Tembusuh dan dari sini ia mengendalikan pertempuran. Serangan Belanda ke benteng Tembusuh dapat digagalkan oleh pasukan Karo. Oleh karena itu, Belanda mengalihkan serangan ke benteng Mbesuka yang pertahanannya tidak sekuat benteng Tembusuh. Dengan direbutnya benteng Mbesuka, jalan ke Batukarang pun terbuka. Akibatnya, benteng Tembusuh terjepit dari depan dan belakang. Kiras Bangun menarik pasukannya ke Kampung Nageri yang dengan Batukarang dipisahkan oleh sebuah sungai. Dari sini ia mengadakan konsolidasi pasukan dan menyusun rencana untuk melancarkan serangan balas ke Batukarang. Akan tetapi, rencana itu tidak dapat dilakukan, sebab dengan cepat pasukan Belanda bergerak ke Nageri dan menduduki kampung ini.
Dengan jatuhnya Batukarang ke tangan Belanda dan gagalnya rencana serangan balas dari Nageri, Kiras Bangun melanjutkan perjuangan dengan cara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sambil melakukan serangan gerilya. Semakin lama ia dan pasukannya semakin terdesak ke arah barat Tanah Karo. Daerah Dairi Pakpak dijadikannya sebagai basis perlawanan. Daerah ini berbatasan dengan Aceh Tenggara, Aceh Selatan, dan Tanah Karo. Medannya bergunung-gunung dengan lembah yang dalam dan tebing-tebing yang terjal, sehingga cukup ideal untuk membangun pertahanan. Akan tetapi, daerah ini kurang subur dan penduduknya jarang, dan karena itu, kurang menguntungkan dari segi logistik
Selama sepuluh bulan sejak Batukarang diduduki Belanda, Kiras Bangun masih berusaha melanjutkan perlawanan, walaupun hanya secara kecil – kecilan. pasukan diperintahkannya untuk tetap mengganggu patroli – patroli militer Belanda. Mereka juga sering melakukan sabotase terhadap usaha Belanda membangun jalan raya dari Kabanjahe ke Takengon. Ia pun masih berusaha meminta bantuan dari daerah-daerah lain di luar Tanah Karo, terutama ke Gayo dan Alas. Usaha itu tidak berhasil sebab kedua daerah itu sudah diduduki Belanda. Kiras Bangun pun menghadapi kenyataan bahwa semakin lama kekuatannya semakin lemah. Banyak kepala kampung dan kepala Urung, akibat tekanan Belanda, menghentikan perlawanan.
Sementara itu, Belanda mengumumkan opportuniteit beginsel (pengampunan umum) terhadap para pejuang Karo yang selama ini melakukan perlawanan. Pengumuman itu tambah mempersulit posisi Kiras Bangun, sebab semakin banyak pejuang yang menyerahkan diri dan kembali ke kampung masing-masing. Belanda pun mengirim utusan menemui Kiras Bangun untuk mengajaknya dan seluruh pasukannya kembali ke Batukarang dengan janji ia akan dibiarkan hidup sebagai rakyat biasa. Kiras Bangun menghadapi situasi dilematis. Kembali ke Batukarang berarti menyerah kepada musuh. Sebaliknya, meneruskan perlawanan secara terbuka sudah sangat tipis kemungkinan akan berhasil. Akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke Batukarang dengan perhitungan akan dapat membangun kekuatan kembali secara diam-diam. Ia yakin masih banyak orang yang dapat diajaknya bekerjasama.
Akan tetapi, perhitungan Kiras Bangun. Belanda pun tidak menepati janjinya. Pengampunan umum diberlakukan Belanda hanya untuk pasukan Kiras Bangun, bukan untuk Kiras Bangun pribadi. Hanya beberapa hari ia dibiarkan hidup bebas di Batukarang. Sesudah itu, Belanda mengasingkan di sebuah perladangan di Riung, kira-kira 6 kilometer di luar Batukarang. Di tempat ini Belanda membangun sebuah rumah, sebuah rumah untuk Kiras Bangun dan keluarganya dan sebuah untuk pasukan Belanda yang bertugas mengawasi gerak-geriknya. Empat tahun lamanya ia diasingkan di Riung. Barulah pada tahun 1909 ia dibebaskan dan diijinkan tinggal di Batukarang. Namun, Belanda tetap mengadakan pengawasan yang ketat. Sepasukan Marsose ditempatkan di sebuah rumah yang khusus dibangun dekat rumah Kiras Bangun.
Adanya pengawasan yang ketat itu tidak memungkinkan Kiras Bangun menyusun kekuatan kembali untuk melakukan perjuangan fisik. Namun, ia menemukan bentuk perjuangan yang lain, yakni perjuangan di bidang sosial. Sejak awal abad ke-20 Pemerintah Belanda mulai membuka sekolah di Tanah Karo. Sekolah pertama di buka di Kabanjahe pada tahun 1915. Pada tahun-tahun berikutnya dibuka pula sekolah di tempat-tempat lain. Kiras Bangun pun mendorong anggota masyarakat, khususnya anak-anak muda, agar memasuki sekolah itu dan menimba ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Ia yakin, ilmu itu kelak dapat dijadikan senjata untuk melawan penjajahan. Ia sendiri mengirimkan anaknya ke Binjei untuk bersekolah. Selain itu, ia sering mendatangi kampung sekitar Batukarang mendorong orang tua-tua agar menyekolahkan anak-anak mereka, kalau perlu dengan paksaan.
Di samping melakukan kegiatan sosial itu, ia tetap berpartisipasi dalam setiap gerakan yang bertujuan menentang Pemerintah Belanda, walaupun hal itu dilakukannya secara diam-diam. Pada tahun 1926, misalnya, ia mengerahkan penduduk Batukarang membantu perlawanan yang dilakukan penduduk Kabanjahe menentang kewajiban membayar pajak yang dipaksakan oleh Pemerintah Belanda. Dua orang anaknya, Koda Bangun dan Nembah Bangun, yang ikut dalam perlawanan itu ditangkap Belanda. Koda Bangun dipenjarakan di Kabanjahe.
Kiras bangun meninggal dunia pada tanggal 27 November 1942 dalam usia 90 tahun, kurang tiga tahun sebelum kemerdekaan yang turut diperjuangkannya tercapai. Pada tahun 2005 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Kiras Bangun gelar Pahlawan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI No.082/TK/Tahun 2005 tanggal 7 Oktober 2005).

Posted in Pahlawan Nasional.