Ismail Marzuki

Ismail Marzuki bwTiga bulan setelah Ismail Marzuki dilahirkan, ibunya meninggal dunia. Sebelumnya Ismail Marzuki juga telah kehilangan 2 orang kakaknya bernama Yusuf dan Yakup yang telah mendahului saat dilahirkan. Kemudian beliau tinggal bersama ayah dan seorang kakaknya yang masih hidup bernama Hamidah.
Ayah Ismail Marzuki adalah salah seorang yang gemar memainkan alat musik kecapi dan sangat handal dalam melagukan syair-syair yang bernafaskan Islam. Kehidupannya sehari-hari juga tidak pernah terlepas dari tasbih. Ia kemudian menyekolahkan Ismail Marzuki di Madrasah Unwanul Fallah di Kwitang, Jakarta pada petang hari. Melalui pendidikan agama, Ismail Marzuki tidak saja dapat membaca Al-Qur’an tapi juga memiliki budi pekerti yang baik pula.
Pada masa-masa kanak-kanak Ismail Marzuki sudah tertarik dengan lagu-lagu, dan ketika sekolah di Mulo. Ismail Marzuki pun bergabung dengan sebuah kelompok musik di sekolahnya tersebut untuk menyalurkan hobinya. Ismail Marzuki kemudian berhasil mengarang lagu “O Sarinah” pada tahun 1931 untuk pertama kalinya ketika usianya 17 tahun.
Setelah menyelesaikan pendidikan Mulo, Ismail Marzuki yang akrab dipanggil dengan sebutan “Bang Maing” ini, kemudian bekerja sebagai penjual piringan hitam. Sejak itu ia banyak berkenalan dengan artis pentas, bintang film, musisi dan penyanyi.
Pada tahun 1936 Ismail Marzuki memasuki perkumpulan orkes musik Lief Java sebagai pemain gitar, saxophone dan harmonium pompa. Orkes musik Lief Java ini pun kemudian mendapat kesempatan mengisi siaran musik pada stasiun radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maaeshappij) yang dibentuk Belanda. Pada saat itulah Ismail Marzuki mulai menjauhkan diri dari lagu-lagu barat untuk kemudian menciptakan lagu-lagu sendiri.
Lagu-lagu yang diciptakan Ismail marzuki itu sangat diwarnai oleh semangat kecintaannya terhadap tanah air. Hal ini tidak lain karena pengaruh pendidikan yang diterimanya di HIS dan Mulo serta pendidikan agamanya di Madrasah Unwanul Fallah di Kwitang, selain itu juga karena keikutsertaannya KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) dan ajaran ayahnya yang selalu menanamkan perasaaan senasib dan sepenanggungan yang diderita oleh bangsanya.
Pada tahun 1940 Ismail Marzuki pun menikah dengan Eulis Zuraidah, seorang primadona dari klub musik yang ada di Bandung dimana Ismail Marzuki juga tergabung didalamnya. Pasangan ini kemudian mengadopsi seorang anak bernama Rachmi, yang sebenarnya masih keponakan Eulis.
Pada masa penjajahan Jepang, Ismail Marzuki turut aktif dalam orkes radio pada Hozo Kanri Keyku Radio Militer Jepang. Dan ketika masa kependudukan Jepang berakhir, Ismail Marzuki tetap meneruskan siaran musiknya di RRI. Selanjutnya ketika RRI kembali dikuasia Belanda pada tahun 1947, Ismail Maerzuki yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda dan memutuskan untuk keluar dari RRI. Ismail Marzuki baru kembali bekerja di radio setelah RRI berhasil diambil alih. Ia kemudian mendapat kehormatan menjadi pemimpin Orkes Studio Jakarta. Pada saat itu ia menciptakan lagu Pemilihan Umum dan diperdengarkan pertama kali dalam Pemilu 1955.
Mengingat karya-karya Ismail Marzuki yang berjumlah lebih dari 200 buah itu sarat dengan nilai-nilai perjuangan yang mampu menggugah rasa kecintaan terhadap tanah air dan bangsa, maka pada tahun 1961 Ismail Marzuki menerima anugerah Piagam Wijayakusumah dari Presiden Soekarno atas nama Pemerintah RI. Lagu-lagunya antara lain : Rayuan Pulau Kelapa yang diciptakan pada tahun 1944, Halo-Halo Bandung yang diciptakan ketika terjadi peristiwa Bandung Lautan Api pada tahun 1946, Selendang Sutera yang diciptakan pada tahun 1946 saat periode revolusi kemerdekaan untuk membangkitkan semangat juang pada waktu itu dan Sepasang Mata Bola yang diciptakan pada tahun 1946 yang menggambarkan sebuah harapan dari rakyat untuk kemerdekaan.
Ismail Marzuki meninggal dunia pada tanggal 25 Mie 1958 di pangkuan istri yang sangat dicintainya, karena sakit TBC yang deritanya dan Almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet, Jakarta Pusat. Satu bulan sebelum kepergiannya itu, Ismail Marzuki masih sempat menciptakan sebuah lagu yang berjudul Kasih Putih Di Tengah Jalan.
Dari uraian diatas kita dapat melihat bahwa meskipun memiliki fisik yang tidak begitu sehat, Ismail Marzuki masih memiliki semangat untuk terus bejuang di bidang seni. Banyak karya yang telah dihasilkannya sangat disukai oleh semua kalangan dan dapat menimbulkan semangat untuk terus berjuang membela negeri ini. Karyanya itu bahkan sampai sekarang masih sering kita dengar dan kita nyanyikan. Atas jasa-jasanya Ismail Marzuki yang besar terhadap bangsa dan negara khususnya dibidang seni maka pemerintah memberinya gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI. No. 089/TK/ 2004 tanggal 5 November 2004

Posted in Pahlawan Nasional.