Gatot Mangkoepradja

Gatot Mangkoepradja bwGatot Mangkoepradja mulai terlibat dalam pergerakan nasional diawali ketika ia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI). Kegiatan ini menyebabkan ia mengorbankan kariernya di Jawatan Kereta Api .
Walaupun tidak memegang jabatan penting, namun karena kemampuan berdiplomasi dan komunikasi yang diakui rekan-rekannya bersama-sama dengan Moh. Hatta, Nazir Pamoentjak, dan Ahmad Soebardjo serta Semaun, mereka dikirim ke Brussel, Belgia untuk mengikuti Kongres Liga Penentang Imperialisme dan Penindasan Kolonialisme yang diselenggarakan pada tanggal 10 sampai dengan 15 Februari 1927 .
Pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung berdiri Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) yang dipimpin Ir. Soekarno, Gatot segera menggabungkan diri, motivasinya karena ideologi PNI diilhami PI .
Dengan pemimpin nasionalis lainnya yang tergabung dalam PNI, Gatot Mangkoepradja menyebarluaskan ide-ide nasionalisme. Bersama-sama dengan Ir. Soekarno ia sering melakukan perjalanan ke daerah-daerah untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme. Kunjungan ke daerah-daerah tersebut bertujuan menyebarkan ide nasionalisme dan kemerdekaan nasional di kalangan rakyat sehingga menimbulkan kekhawatiran Pemerintah Hindia Belanda. Gatot Mangkoepradja dan pemimpin lainnya dituduh akan melakukan pemberontakan yang disinyalir akan dilakukan sekitar tahun 1930.
Tuduhan tersebut diungkap Pemerintah Hindia Belanda bulan September 1929 setelah Gubernur Jenderal de Gareff mendapat tekanan dari kelompok reaksioner . Namun tuduhan tersebut tidak membuat Gatot Mangkoepradja menghentikan perjuangan dalam menyebarkan cita-cita kemerdekaan. Pada tanggal 29 Oktober 1929 PNI menyelenggarakan rapat di Bandung. Dalam rapat tersebut Gatot Mangkoepradja berhasil meyakinkan para peserta bahwa non kooperatif merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan nasional yang dijadikan landasan perjuangan partai .
Pada 24 Desember 1929 Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Gatot Mangkoepradja dan para pemimpin lainnya. Penangkapan terhadap Gatot Mangkoepradja baru dapat dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta bersama-sama dengan Ir. Soekarno, mereka kemudian dibawa ke Bandung dan dimasukan ke penjara Banceuy, Bandung Jawa Barat hingga bulan Agustus 1930 .
Pada tanggal 18 Agustus 1930, Gatot Mangkoepradja, Ir. Soekarno, Maskoen Soemadiredja dan Supriadinata dihadapkan ke Laandraad Bandung. Pada tanggal 22 Desember 1930 Laandraad menjatuhkan vonis selama 2 tahun kurungan penjara dengan tuduhan ia berencana melakukan perubahan sistem pemerintahan yang berlaku di Hindia Belanda dengan menganjurkan persatuan untuk merdeka.
Pada tanggal 17 April 1931 vonis Laandraad diperkuat dengan keputusan Raad Van Justitie dan untuk menjalankan hukumannya Gatot Mangkoepradja dipindahkan ke penjara Sukamiskin, Bandung. Jiwa nasionalisme terus tertanam dalam diri Gatot Mangkoepradja. Sekeluarnya dari penjara Sukamiskin, Gatot Mangkoepradja bergabung dengan Partai Indonesia (PI kemudian menjadi Partindo) yang dipandang memiliki ideologi yang sama dengan PNI .
Pada tahun 1932, Gatot Mangkoepradja diangkat menjadi komisaris sekaligus sebagai propagandais partai dengan mensosialisasikan cita-cita kemerdekaan. Karena kekecewaan terhadap Ir. Soekarno yang bersikap kooperatif dengan pemerintah Hindia Belanda, Gatot Mangkoepradja mengundurkan diri dari Partindo kemudian bergabung dengan PNI-Baru dibawah kepemimpinan Moh. Hatta. Di PNI-Baru Gatot pergi ke Jepang sejak bulan Oktober – Desember 1933 untuk mengadakan hubungan dengan orang-orang Jepang dan sempat menghadiri Konferensi Pan-Asia di Tokyo .
Propaganda Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia berhasil mempengaruhi Gatot Mangkoepradja dan Muhammad Hatta. Pada masa pendudukan militer Jepang, Jepang membentuk organisasi gerakan Tiga A yaitu Nippon Pelindung Asia, Nippon Cahaya Asia dan Nippon Pemimpin Asia. Untuk tingkat nasional, gerakannya dipimpin oleh Mr. Samsudin dan Gatot Mangkoepradja .
Gatot Mangkoepradja menolak rencana penguasa militer Jepang yang akan memberlakukan wajib militer, sehingga dirinya ditangkap Kempitei Sukabumi dan ditahan beberapa hari. Ketika Gatot Mangkoepradja dengan Yanagawa menghadap Mayor Jenderal Sato Kotuko di Kantor Beppan di Gambir 64 Jakarta, Gatot Mangkoepradja mengatakan bahwa ia lebih setuju kalau Jepang membentuk sebuah pasukan sukarela dan bukan wajib militer sesuai yang diinginkan Gatot yaitu sebuah pasukan yang siap membela dan mempertahankan tanah airnya dari ancaman musuh-musuhnya .
Pada 7 September 1943 atas suruhan Jenderal Soto, Gatot Mangkoepradja menulis surat yang ditunjukan kepada Saiko Shikikan yang berisikan permohonan pembentukan pasukan sukarela. Beliau menulis dengan darahnya sendiri dan tindakan tersebut merupakan sebuah pengorbanan demi perjuangan memperbaiki nasib bangsa .
Surat Gatot Mangkoepradja mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan, antara lain Soekarno, Moh. Hatta, K.H. Mas Mansur dan Ki. Hadjar Dewantara yang menghadap ke Saiko Shikikan untuk mendukung permohonan Gatot Mangkoepradja tersebut.
Pada tanggal 3 Oktober 1943 dibentuklah secara resmi pasukan sukarela Pembela Tanah Air (PETA) melalui Osamu Seirei No. 44 Tahun 1943. Gatot Mangkoepradja mencurahkan perhatiannya untuk memajukan PETA di berbagai tempat di Jawa Tengah .
Setelah Jepang hengkang dari Indonesia, Gatot Mangkoepradja menjadi tawanan perang Inggris dan bebas pada tahun 1947 kemudian bergabung dengan para pejuang di Yogyakarta .
Setelah Agresi Militer II, Gatot Mangkoepradja melakukan gerilya melawan Belanda di Yogyakarta Selatan dan mengkoordinasi laskar-laskar perjuangan di Pulau Jawa – Madura. Tahun 1948 PNI dibentuk kembali, Gatot Mangkoepradja kembali bergabung dengan partai tersebut dan duduk sebagai pimpinan partai.
Pada tahun 1950-an, Gatot Mangkoepradja membentuk Gerakan Pembela Pancasila (GPPS) dengan tujuan mendongkrak suara PNI dalam pemilu tahun 1955. Karena terjadi pertentangan dengan pemimpin PNI Jawa Barat, Gatot Mangkoepradja keluar dari partai politik tersebut. Ketika konfigurasi politik nasional mulai dipengaruhi komunis, Gatot Mangkoepradja menarik diri dari dunia politik.
Setelah peristiwa Gestapu tahun 1965 Gatot Mangkoepradja masuk parta IPKI yaitu partai yang berjuang menyelamatkan Pancasila dari ancaman komunis. Tanggal 4 Oktober 1968 Gatot meninggal dunia karena setelah sakit paru-parunya kambuh dan almarhum dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Sirnaraga, Bandung .
Gatot Mangkoepradja adalah pemimpin pergerakan nasional. Ia memiliki jasa yang besar dalam perjuangan memperbaiki bangsa. Almarhum berhasil meyakinkan masyarakat internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia sehingga mendapat dukungan penuh dari Liga Penentang Imperialisme dan Penindasan kolonialisme. Gatot juga yang menggelorakan ide nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia di kalangan rakyat dengan cara mengunjungi berbagai daerah. Perannya dalam pembentukan PETA dan mempertahankan Pancasila sangat besar .
Atas jasa dan pengorbanannya kepada bangsa dan negara, pemerintah menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden RI. No. 089/TK/Th. 2004 tanggal 5 November 2004.

Posted in Pahlawan Nasional.