KH. Ahmad Rifa’i

KH Ahmad Rifa'i bwPada usia 7 tahun Ahmad Rifa’i sudah tidak mempunyai orang tua sehingga beliau diasuh oleh kakak kandungnya Nyai Rajiyah isteri dari Kyai Asy’ari seorang ulama pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Kaliwungu. Disinilah Ahmad Rifa’i belajar ilmu agama kepada kakak iparnya Kyai Asy’ari .
Masa mudanya Ahmad Rifa’i sering melakukan kegiatan tabilgh keliling di daerah Kendal dan sekitarnya. Dalam dakwahnya beliau menyampaikan masalah-masalah agama, sosial masyarakat, pemahaman terhadap kemerdekaan dan anti kolonial. Oleh karena itu beliau diperingatkan oleh pemerintah Hindia Belanda dan sempat dimasukkan penjara di Kendal dan Semarang .
Setelah keluar dari penjara, pada tahun 1225 H Ahmad Rifa’i menunaikan ibadah haji sekaligus bermukim di sana selama 8 tahun untuk mendalami ilmu agama dan dilanjutkan di Mesir selama 12 tahun .
Tahun 1252 H disaat berusia 51 tahun Ahmad Rifa’i kembali ke Indonesia. Ahmad Rifa’i membantu kakak iparnya menjadi ustadz di pondok pesantren Kaliwungu. Sebagai ustadz yang baru datang dari tanah suci K.H Ahmad Rifa’i mendapat perhatian dan simpati dari para santrinya .
Karena kritikannya yang tajam terhadap para penghulu di Kaliwungu dan sekitarnya membuat K.H Ahmad Rifa’i dilaporkan kepada Pemerintah Hindia Belanda dengan tuduhan membuat kerusuhan yang bertujuan pemerintah tersebut menangkapnya. Pemerintah Belanda menangkap Ahmad Rifa’i untuk diminta keterangan sehubungan dengan kegiatan dakwahnya .
Tahun 1238 M setelah dibebaskan K.H. Ahmad Rifa’i dikucilkan dan keluar dari Kaliwungu serta ditempatkan di Kalisalak, Batang – Jawa Tengah. Di tempat tersebut K.H. Ahmad Rifa’i menyelenggarakan pengajian untuk anak-anak dengan metode mengajar yang sangat menarik yaitu dengan menggunakan bahasa Jawa dalam bentuk puisi sehingga santrinya bertambah dan berkembang menjadi Majelis Ta’lim bagi anak-anak dan orang dewasa di sekitar Batang, kemudian K.H Ahmad Rifa’i mendirikan pondok pesantren dan Masjid di Kalisalak .
Pondok pesantren yang terletak di tempat terpencil dan jauh dari jangkauan pengawasan pemerintah Hindia Belanda membuat K.H Ahmad Rifa’i dapat berkonsentrasi dalam mengkader santri-santrinya .
K.H. Ahmad Rifa’i mendidik kader-kader militan untuk menjaga dan meneruskan ajarannya. Disamping melaksanakan pengajaran, beliau juga menulis beberapa kitab dengan tulisan pegon (tulisan Arab dengan bahasa Jawa), kitab Tarajumah (terjemahan) yang berjumlah 60 buah judul berbentuk puisi tembang Jawa, prosa berbahasa Jawa dan Melayu yang isinya mencakup ilmu ushuluddin, ilmu fiqih, ilmu tasawuf, beberapa kritik terhadap pemerintah kolonial Belanda, kritik terhadap pamong praja tradisional yang membantu Belanda serta menulis 500 judul buku Tanbih serta beberapa Nadham do’a .
K.H. Ahmad Rifa’i melakukan gerakan protes terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda dan birokrat tradisional melalui penggalangan pengikutnya, gerakan protes dimulai sejak beliau tinggal di Kendal .
Protes K.H. Ahmad Rifa’i dituangkan dalam bentu syair-syair dalam kitab karangannya dan mengadakan doktrin anti kolonialisme. Syair-syair karangan K.H. Ahmad Rifa’i dapat menanamkan rasa kebencian terhadap pemerintah Hindia Belanda dan mendorong serta membangkitkan semangat dan sikap anti kolonial untuk menentang penguasa Belanda .
Tahun 1272 H/ 1856 M kitab-kitab karya K.H. Ahmad Rifa’i disita pemerintah Hindia Belanda . Di desa Kalisalak beliau kembali dipanggil oleh Pemerintah Hindia Belanda dan disidangkan dengan tuduhan menghasut, meresahkan, menanamkan doktrinasi kolonialisme, mengkader jemaahnya dan mengarang syair-syair protes terhadap Belanda .
Pada tanggal 6 Mei 1859 secara resmi K.H. Ahmad Rifa’i dipanggil Residen Pekalongan Fransiscus Netscher untuk pemeriksaan serta pengasingan ke Ambon. Tanggal 19 Mei 1859 K.H. Ahmad Rifa’i meninggalkan jemaahnya beserta keluarganya menuju tempat pengasingan di Ambon Propinsi Maluku .
Setelah 2 tahun di Pengasingan K.H. Ahmad Rifa’i mengirim empat buah judul kitab karangannya berbahasa Melayu, 60 buah judul Tanbih berbahasa Melayu serta surat wasiat kepada anak menantunya Kyai Maufura Bin Nawawi di Batang yang isinya agar murid dan keluarganya jangan sekali-kali taat kepada Pemerintah Hindia Belanda dan orang yang bekerja sama dengan Belanda.
Dalam usia 84 tahun tanggal 25 Rabiul Awal 1286 H/ 1870 M, K.H. Ahmad Rifa’i wafat dan dimakamkan di makam Pahlawan Kyai Modjo di bukit Tondano Kampung Jawa, Tondano, Kabupaten Minahasa, Manado, Propinsi Sulawesi Utara.  Jasa dan pengorbanan K.H. Ahmad Rifa’i adalah sebagai pelopor gerakan sosial keagamaan Jama’ah Rifa’iyah Tarjumah di Pekalongan, perjuangan menentang penjajah Belanda, mendirikan Lembaga Pendidikan, Tabligh Agama Keliling di Jawa Tengah (Kendal, Semarang dan Wonosobo), doktrin anti kolonialisme, protes melalui syair-syair dalam kitab karangannya, karena kegiatannya menentang kolonial Belanda ditangkap di Batang, diasingkan ke Ambon kemudian Menado hingga akhir hayatnya.
Atas jasa dan pengorbanan K.H. Ahmad Rifa’i kepada bangsa dan negara, dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 089/TK/Tahun 2004 tanggal 5 November 2004 .

Posted in Pahlawan Nasional.