Raja Ali Haji

Raja Ali Haji bwKeluarga dari ayah Raja Ali Haji merupakan orang-orang yang gemar menulis, beberapa diantaranya menjadi pengarang dan pernah menghasilkan beberapa karya. Raja Ali Haji sendiri sejak kecil merupakan anak yang cerdas dan disenangi banyak orang sehingga sering diajak ayahnya untuk menemani bertugas. Pada tahun 1822 Raja Ali ikut ayahnya ke Batavia dalam suatu urusan kerajaan Riau-Lingga dengan pemerintah Hindia-Belanda. disinilah ia sempat bertemu dengan Jenderal Godart Alexander Gerard Philip Baron Van Der Capllen dan berkenalan dengan kehidupan orang-orang Belanda serta menyaksikan berbagai pertunjukan kesenian. Lalu pada tahun 1826 ia juga ikut menemani ayahnya berniaga ke pesisir utara Pulau Jawa.
Sekitar tahun 1840 Raja Ali Haji mulai aktif sebagai pengarang dan sebagai cendikiawan terkemuka pada zamannya. Beliau banyak melahirkan karya yang beragam dibidangnya seperti bahasa, agama, hukum pemerintahan dan syair-syair naratif, yang merupakan bidang tempatnya menaruh perhatian yang besar terhadap bahasa yang baik .
Buku-buku yang dikarangnya dalam bidang bahasa meliputi sebuah kamus monolingual ensiklopedia berjudul kitab pengetahuan bahasa dan tata ejaan untuk menuliskan huruf Arab-Melayu yang diberinya judul “Bustanul Katihin” yang berarti “Taman Para Penulis.”
Karya leksikografi Raja Ali Haji yang berjudul “Kitab Pengetahuan Bahasa” merupakan kamus ensiklopedis monolingual Melayu pertama yang disusun tahun 1858. dimana karyanya ini kemudian mempunyai pengaruh yang kuat pada penulis-penulis Riau setelah era beliau .
Raja Ali Haji merupakan pelopor perkamusan monolingual Melayu karena karyanya Kitab Pengetahuan Bahasa dinilai merupakan suatu karya yang luar biasa dan untuk mengoptimalkan kreatifitas intelektual dan kultural para budayawan dan cendikiawan di kerajaan Riau-Lingga mendirikan suatu perkumpulan yang dilengkapi dengan percetakaan dan penerbitan.
Hampir semua karyanya mengungkapkan kecintaan sang pengarang kepada kehidupan, tanah air dan bangsa serta semangat menentang penjajah. Hal itu dapat ditemukan dalam karya-karyanya dari tokoh sentral pada buku Tuhfal al-Nafis yaitu gambaran patriotisme Raja Haji Fisabilillah yang telah berperang melawan Belanda yang berakhir dengan tewasnya tokoh sentral tersebut dalam suatu pertempuran.
Raja Ali Haji termasuk seorang budayawan yang pemikirannya mampu mempengaruhi lingkungan sekitar, bahkan pemikirannya masih dapat dirasakan meskipun telah tiada dan tak heran bila kemudian banyak anak dan cucunya yang juga jadi pengarang.
Raja Ali Haji patut disebut sebagai Bapak Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia yang memiliki peranan yang besar dalam meletakkan dasar-dasar terbentuknya Bahasa Indonesia yang kini merupakan bahasa persatuan.
Nama Raja Ali Haji kemudian menjadi terkenal sebagai pengarang Melayu berkat publikasi yang dilakukan sarjana-sarjana Belanda terhadap karya beliau yang dimuat pada beberapa jurnal berbahasa Belanda sehingga dapat menembus pemikiran ilmiah barat. Beberapa karya yang diterbitkan tersebut antara lain Syair Abdulmuluk ; merupakan syair tanpa judul yang mengisahkan suatu peristiwa dalam hidupnya ; dan karyanya yang sangat terkenal yaitu Gurindam Dua Belas.
Raja Ali Haji juga pernah menjabat sebagai penasihat kerajaan dan pada tahun 1858 diangkat menjadi pengawas urusan hukum yang semasa ditugaskan menyusun dua kitab yang berkaitan dengan pemerintahan dan peradilan yaitu Thammarat al-Muhimah dan Intizam wa Za ‘if al-Malik.
Raja Ali Haji selain merupakan tokoh penting dalam pemerintahan serta sangat berpengaruh dalam perpolitikan di Riau, ia juga terkenal antara lain sebagai :
– Penulis serta ahli sejarah dan silsilah ;
– Ahli ketatanegaraan dan politik ;
– Guru, ahli, serta penasihat agama Islam ;
– Ahli bahasa, tatabahasa dan sastra.
Dari uraian dapat terlihat bahwa kepahlawanan seseorang tidak hanya dinilai dengan berjuang di medan perang tetapi juga dapat terpancar dari sikap nasionalisme melalui karya sastra dan keilmuan seperti terlihat dari perjuangan Raja Ali Haji. Melalui buku-bukunya, ia memilih melakukan perlawanan intelektual dan budaya dalam menghadapi budaya barat yang dibawa oleh kolonial Eropa yang bertujuan mengubur kebudayaan Melayu dan Nusantara. Atas jasa-jasanya tersebut. Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 089 TK Tahun 2004 tanggal 5 November tahun 2004 .

Posted in Pahlawan Nasional.