Kanjeng Gusti Pangeran Harjo (KGPH) Djatikusumo

Jenderal GBP Djatikusumo bwPada Tahun 1941 masuk sebagai Taruna CORO (Sekolah Perwira Cadangan) dan ikut bertempur melawan tentara Jepang di Ciater, Subang – Jawa Barat dari tanggal 3 Maret sampai Belanda menyerah kepada tentara Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 . Ia mendaftarkan diri sebagai tentara PETA tahun 1943-1944 dam mengikuti pendidikan perwira di Bogor, selesai pendidikan KGPH. Djatikusumo diangkat sebagai Komandan Cudar I – Daida I Tentara PETA di Surakarta – Jawa Tengah. Membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surakarta dan kemudian menjabat Komandan Batalyon Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada November 1943 diangkat sebagai Panglima Divisi Infantri IV – TKR bermarkas di Salatiga dengan pangkat mayor jenderal .
Tahun 1946 memprakarsai Sekolah Opsir Tjadangan di Salatiga yang merupakan perpaduan antara pendidikan perwira cadangan dengan pendidikan umum sekolah menengah pelayaran khusus militer yang dipimpin langsung oleh Mayor Jenderal GPH. Djatikusumo. Sewaktu menjabat Direktur Zeni Angkatan Darat, beliau mendirikan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) yang dimaksudkan untuk mengisi kekurangan tenaga teknik yang kompeten di lingkungan TNI – AD .
Kegiatan dalam bidang politik dan diplomat sudah dilakukan sejak memimpin para Taruna Akademi Militer dalam perang gerilya. GPH. Djatikusumo juga memegang pemerintah sipil di Yogyakarta atas nama Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tugas terakhirnya mewakili Sri Sultan dalam perundingan dengan pihak Belanda tentang pelaksanaan pengunduran militer dan sipil Belanda dari Yogyakarta serta mempersiapkan Kota Yogyakarta menerima TNI (Tentara Nasional Indonesia) .
Beberapa jabatan diplomatik pernah dijabatnya yaitu Konsul Jenderal RI. untuk Singapura, Duta Besar dan Berkuasa penuh pada Kerajaan Malaya, Kerajaan Maroko dan Republik Perancis .
Selain sebagai seorang militer dan diplomatik GPH. Djatikusumo juga merupakan orang yang sangat berjasa dalam bidang seni budaya. GPH. Djatikusumo merupakan pencetus Sendra Tari Ramayana dengan Candi Prambanan sebagai latar belakang.
Jabatan strategis yang pernah didudukinya antara lain Kepala Staf Angkatan Darat, Gubernur Akademi Militer, Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Direktur Zeni Angkatan Darat, Menteri Perhubungan Darat, Pos Telekomunikasi dan Pariwisata, Wakil Ketua DPA – RI, anggota Tim BP-7 .
Bintang Penghargaan, antara lain : Bintang Mahaputra Adhipradana,Bintang Dharma, Bintang Gerilya, Bintang Sewindu, Bintang Kartika Eka Paksi Utama, Bintang Tahta Suci dari Sri Paus Paulus.
Pada tanggal 4 Juli 1992 GPH. Djatikusumo meninggal dunia dan dimakamkan di pemakaman Raja-raja Imogiri, Bantul – Yogyakarta . Atas jasa dan perjuangannya GPH. Djatikusumo dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan SK. Presiden RI. No. 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002 .

Posted in Pahlawan Nasional.