Hj. Fatmawati Soekarno

Fatmawati Soekarno bwPada tahun 1923 Fatmawati masih merupakan seorang pelajar HIS di Bengkulu, namun telah aktif berorganisasi yaitu menjadi pengurus NASYIATUL AISYIAH Muhammadiyah antara lain sebagai pembaca ayat Al-Qur’an, Paduan Suara (koor) dan Pawai Obor.
Pada 24 Desember 1938 Fatmawati sempat berperan sebagai Bunda Maria dalam sandiwara pada Perayaan Kudus di RK Vaks School (Carolus) Jakarta. Pada tahun 1939 Fatmawati sering membaca Surat Kabar Galuh Indonesia Raya, Pikiran Rakyat, Sasaran dan Penabur hasil pinjaman dari Soekarno.
Pada tahun 1943 setelah Fatmawati tinggal bersama Bung Karno di Jakarta, sehingga sering berdiskusi dengan para tokoh wanita seperti Ny. Sukaptinah, SK. Tri Murti dan lainnya.
Sebagai isteri Bung Karno, Fatmawati mendapat peluang untuk mengenal lebih jauh masalah-masalah perjuangan. Hal itu diperolehnya melalui bacaan surat kabar dan pergaulannya dengan para tokoh seperjuangan Bung Karno. Jiwa dan semangat nasionalismenya telah tertanam pada pribadi Fatmawati, sehingga pada tahun 1944 saat bangsa Indonesia tengah mempersiapkan kemerdekaan, Fatmawati mewujudkan jiwa dan semangat nasionalismenya .
Dalam keadaan bangsa Indonesia dihadapkan pada kekuatan tentara Jepang, Fatmawati mewujudkan pemikiran nasionalismenya dengan cara mempersiapkan dan menjahit bendera merah putih yang dikibarkan untuk pertama kali pada upacara peringatan proklamasi kemerdekaan RI. tanggal 17 Agustus di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta (sekarang Jl. Proklamasi No. 56) . Tidaklah dipungkiri bahwa bendera yang dijahit Fatmawati dan kemudian dikibarkan pada saat proklamasi tersebut telah dapat merubah citra bangsa Indonesia di mata dunia dari bangsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat .
Pada tahun 1945 menjelang diproklamasikannya kemerdekaan RI. Fatmawati dengan setia mendampingi Bung Karno dan turut serta dalam pengasingan di Rengasdengklok- Karawang.
Ketika suasana Jakarta (1945-1946) sangat gawat, Fatmawati bersama puteranya yang masih bayi (Guntur) selalu mendampingi Bung Karno dalam perjuangan yang selalu berpindah dari satu kota ke kota lain, dan akhirnya hijrah ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946.
Dalam bidang kewanitaan, Fatmawati telah berhasil menjadikan Ny. Wakijah Sukijo, Ny. Pujo Utomo dan Ny. Mahmudah Mas’ud sebagai anggota wanita dalam kepengurusan KNIP berdasarkan Penpres No. 17 tahun 1949. Fatmawati juga sangat peduli terhadap nasib para isteri prajurit yang ditinggal suaminya karena ikut dalam perjuangan gerilya. Hal ini ditunjukkanya dengan turut serta secara aktif dalam memberikan bantuan mengirim perbekalan kepada isteri prajurit dan para prajurit yang sedang berjuang di wilayah pertempuran. Kegiatan ini sering dilakukannya bersama-sama Ny. Sunarti Nasution .
Pada tahun 1951, Fatmawati dengan gigih ikut memperjuangkan agar dokumen, barang dan arsip pemerintah RI. yang dirampas oleh Belanda antara tahun 1945–1950 di Jakarta dan Yogyakarta dapat dikembalikan ke Indonesia .
Selama kurun waktu 1965–1968, Fatmawati merupakan salah seorang yang gigih berjuang menjadikan eks Karasidenan Bengkulu sebagai Propinsi Bengkulu.
14 Mei 1980, Fatmawati wafat di Kuala Lumpur–Malaysia dan jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum, Karet – Jakarta. Atas jasaa-jasanya, Pemerintah RI. menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Fatmawati berdasarkan SK. Presiden RI No. 118/TK/2000,tanggal 4 November 2000.

Posted in Pahlawan Nasional.