Abdul Kadir Gelar Raden Tumenggung Setia Pahlawan

Abdul Kadir Gelar Raden Tumenggung Setia Pahlawan

Abdul Kadir, putra sulung Oerip dari perkawinan dengan Siti Syarifah sejak remaja sudah dimagangkan sebagai abdi kerajaan Sintang. beliau telah berkali-kali mendapat tugas untuk mengamankan kerajaan dari gangguan pengacau, perampok, maupun tugas mendamaikan suku-suku Dayak yang sedang bermusuhan.
Pada tahun 1845 Abdul Kadir diangkat sebagai Menteri Hulubalang Kerajaan Sintang dan menggantikan ayahnya yang wafat. Pada saat ia mendapat gelar Raden Tumenggung.
Dalam kedudukannya sebagai Kepala Pemerintahan Melawi dan Hulubalang Kerajaan Sintang, ditemukan bukti-bukti hubungan Raden Tumenggung Setia Pahlawan dengan para pimpinan perlawanan rakyat di Sintang.
Ketaatan dan penghormatan rakyat Melawi yang besar terhadap Abdul Kadir Gelar Raden Tumenggung Setia sangat mengkhawatirkan Pemerintah Belanda karena dianggap membahayakan posisi Belanda dalam upaya menanamkan kekuasaannya di Melawi. Oleh karena itu pihak Belanda berusaha menguasai Raden Tumenggung dengan cara memberikan “Tanda Jasa / Penghargaan“ berupa uang pada saat situasi sulit. Pada tanggal 27 Maret 1866 Gubernur Jenderal Hindia Belanda, menetapkan pemberian tanda jasa berupa uang. Namun ternyata penghargaan tersebut tidak berhasil merubah sikap anti Belanda pada dirinya. Perlawanan rakyat masih terus berlangsung.
Pada tahun 1866 Panembahan Sintang mengukuhkan gelar kepada Abdul Kadir menjadi Raden Tumenggung Setia Pahlawan dengan Melawi sebagai wilayah pemerintahan dan Nanga Pinoh sebagai ibukotanya. Pada tahun 1868 pihak Raden Tumenggung melibatkan diri dalam persiapan perang.
Pada tahun 1869, Raden Tumenggung Setia Pahlawan menyelenggarakan pertemuan di Kerueng dengan para pimpinan perlawanan Kawasan Melawi dan keputusan yang dihasilkan dari pertemuan itu antara lain :

a. Perlawanan berkelanjutan akan dilaksanakan dengan kegiatan pertempuran yang berkesinambungan pada setiap ada peluang di setiap waktu pada setiap tempat.
b. Merekrut rakyat untuk dilatih dan diikutsertakan dalam perlawanan.
c. Membangun sistim perlawanan yang dapat digerakan sesuai dengan situasi.
Pada tahun 1871 Laskar perlawanan menyerang konsentrasi pasukan Belanda di Selik (Wilayah Batu Butong) tempat persediaan persenjataan, amunisi dan perbekalan pasukan Belanda dihancurkan, serta sejumlah serdadu dibinasakan.
Pada tahun 1871 sampai 1873, untuk mencairkan suasana yang agak membeku dari kegiatan konfrontasi, agar perang tetap marak, maka Laskar Perlawanan melancarkan serangan melalui aksi-aksi terbatas di sekitar / di luar benteng-benteng Belanda, sambil melaksanakan sabotase, penghadangan atau serangan hit and run terus menerus di berbagai tempat dan kesempatan.
Pada tahun 1875, pasukan Belanda menyerang ke Pusat Perlawanan di Natai Mangguk Liang, dalam serangan ini Belanda menangkap Raden Tumenggung Setia Pahlawan dan merampas barang-barang berharga.
Sistim perlawanan yang dikembangkan oleh Raden Tumenggung Setia Pahlawan telah menjadi model perlawanan rakyat terhadap Belanda di Shitang hingga tahun 1913. Pada tahun 1875 Raden Tumenggung Setia Pahlawan wafat sebagai tahanan Belanda di Benteng Saka Dua, dan jenazahnya dimakamkan di Tajong Sukadua-Nanga Pinoh Kalimantan Barat. Atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara Pemerintah RI menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden No. 114/TK/1999 tanggal 13 Oktober 1999.

Posted in Pahlawan Nasional.