H. Ilyas Jacoub

Ilyas Yacoub bwIlyas Jacoub dilahirkan di Asamkumbang, Painan, Sumatera Barat, pada tanggal 14 Juni 1903. Pendidikan umum diikutinya di sekolah Gubernemen, sedangkan pendidikan agama diperolehnya dari Syakh Abdul Wahab yang kelak menjadi mertuanya. Pada tahun 1921 ia menunaikan ibadah haji. Setelah bermukim selama dua tahun di Mekah untuk memperdalam ilmu agama, ia berangkat ke Kairo, Mesir, untuk mengikuti kuliah di Universitas Al-Azhar.
Di kairo, Ilyas Jacoub memasuki organisasi Al-Jamiah el Khairiah el Jawah. Anggota organisasi ini terdiri atas para mahasiswa Indonesia dan Malaya (sekarang Malaysia) yang kuliah di Al-Azhar. Tujuannya ialah saling membantu dalam menyelesaikan studi. Mungkin kurang puas dengan organisasi ini, pada tahun 1926, Ilyas Jacoub bersama dengan Mukhtar Luthfi mendirikan perhimpunan penjaga Indonesia yang lebih berfungsi sebagai debating club membicarakan masalah politik, khususnya yang menyangkut perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari penjajahan Belanda. Disamping itu, ia juga menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh nasionalis Mesir yang sedang memperjuangkan kemerdekaan Mesir dari Inggris, bahkan ia sering mengikuti diskusi yang diadakan oleh partai Wafd.
Atas anjuran Ilyas Jacoub, pada bulan September 1925 Al-Jamiah menerbitkan majalah Seruan Azhar. Majalah yang berbahasa Indonesia dan beraksara Arab gundul ini diedarkan di Indonesia dan Malaya. Semula, pimpinan redaksi dipegang oleh Janan Thaib meninggalkan Kairo dan menetap di Mekah, pimpinan redaksi dipercayakan kepada Ilyas Jacoub. Dibawah pimpinannya, majalah yang semula hanya memuat karangan-karangan mengenai masalah sosial dan keagamaan, mulai diisi dengan artikel-artikel yang bermuatan politik. Ia sendiri menulis berbagai artikel yang mengupas perjuangan bangsa-bangsa di Timur Tengah dan Afrika Utara menentang kolonialisme dan membandingkannya dengan perjuangan bangsa Indonesia menentang penjajahan Belanda. Akibatnya, Pemerintah Belanda melarang peredaran majalah ini di Indonesia. Di sisi lain, politidasi majalah ini dikecam oleh sebagian mahasiswa Indonesia di Kairo yang berpendapat bahwa tugas mereka adalah menuntut iilmu dan kemudian mengajarkan ilmu itu di tanah air mereka. Sebaliknya, Ilyas Jacoub berpendapat bahwa selain menuntut ilmu, para mahasiswa harus pula memelopori perjuangan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan.
Akibat perbedaaan pendapat itu, Al-Jamiah memberhentikan Ilyas Jacoub dari jabatannya sebagai pemimpin redaksi seruan Azhar. Bersamaan dengan itu, majalah ini pun berhenti terbit. Namun Ilyas Jacoub bersama dengan Mukhtar Luthfi menerbitkan majalah baru, yakni pilihan timur yang terlepas dari Al-Jamiah.

 

Dengan motto “Untuk Tanah Air dan Rakyat Indonesia dan Malaya”, majalah ini semakin menampakkan dirinya berhaluan politik. Tulisan-tulisan Ilyas Jacoub dalam pilihan timur lebih tajam dibandingkan dengan tulisan-tulisannya dalam seruan Azhar. Dalam editorial bulan Desember 1927 ia dengan tajam mengkritik politik rust en orde yang dijalankan Pemerintah Belanda dan di Indonesia. Ia menuding Pemerintah Belanda menonjolkan kekuatannya untuk menekan pergerakan rakyat. Dalam editorial yang sama, ia mengeluhkan adanya jurang pemisah antara golongan intelektual dan rakyat biasa. Untuk mengatasi hal itu, ia menyarankan agar dibentuk sebuah badan tetap (kongres) yang dapat digunakan oleh organisasi-organisasi massa dan golongan intelektual bertukar pikiran dan menyusun rencana untuk mencapai kemerdekaan. Kritik yang tajam terhadap rust en orde dan gagasan pembentukan kongres itu dijawab Pemerintah Belanda dengan melarang pilihan Timur diedarkan di Indonesia. Pemerintah Inggris pun, berdasarkan permintaan konsul Belanda di Kairo, melarang penerbitan majalah ini. Dengan demikian, majalah ini hanya sempat terbit selama enam bulan (Oktober 1927 sampai April 1928).
Hubungan antara Ilyas Jacoub dan tokoh-tokoh nasionalis Mesir juga tidak luput dari pengamatan Pemerintah Inggris. Mereka mendesak konsul Belanda di Kairo agar memulangkan Ilyas Jacoub ke Indonesia. Bila tidak, Pemerintah Inggris akan memenjarakannya. Pada bulan April 1928 Ilyas Jacoub dipaksa meninggalkan Kairo ia berangkat ke Mekah. Disini, ia bergabung dengan Janan Thaib, bekas ketua Al-Jamiah, yang ketika itu memimpin organisasi para pemukim Indonesia. Setelah beberapa bulan tinggal di Mekah, ia pulang ke Indonesia. Pada mulanya ia tinggal di Jambi di tempat kakaknya. Barulah pada bulan Februari 1930 ia tiba di Padang.
Dua bulan sesudah tiba di Sumatera Barat, Ilyas Jacoub mulai melibatkan diri dalam kegiatan politik. Ia menghadiri kongres Persatuan Sumatera Thawalib (PST), sebuah organisasi perguruan agama, bulan Mei 1930. Kongres ini mengambil keputusan untuk mengubah PST menjadi partai politik berhaluan nonkooperasi dengan nama Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Ilyas Jacoub yang turut berbicara dalam kongres ini mengemukakan asas yang harus dianut oleh Permi, yakni Islam dan Kebangsaan. Asas ini disyahkan dalam kongres Permi bulan Agustus 1930.
Dalam Permi, Ilyas Jacoub dikenal sebagai ideolog. Dua tokoh terkemuka lainnya ialah Jalaluddin Thaib sebagai organisator dan Mukhtar Luthfi sebagai orator. Mereka dikenal sebagai “Trio Permi”.
Untuk memperkenalkan perjuangan Permi di kalangan masyarakat luas, Ilyas Jacoub menerbitkan majalah Medan Rakyat. Semula penerbitan majalah ini di biayainya sendiri, kemudian diambil alih oleh Permi. Tetapi, Ilyas tetap menjadi penanggung jawab utama. Selain mengurus majalah, ia juga berusaha membina pendidikan. Dalam kongres Permi tahun 1931 ia diangkat sebagai ketua departemen pendidikan permi. Bersama dengan Basa Bandaro, seorang pedagang yang berjiwa sosial, ia memelopori pendirian Islamic College. Sistem pendidikan di Sumatera Thawalib pun disempurnakannya. Berdasarkan pengalamannya di Al-Azhar, Sumatera Thawalib dipecahnya menjadi dua tingkat, yakni Tsanawiyah dan Ibtidaiyah dengan lama pendidikan masing-masing empat dan tiga tahun. Akhirnya baru jabatan sebagai Ketua Departemen Pendidikan, Ilyas Jacoub menghadapi masalah Wilde Scholen Ordonantie (Ordonanasi Sekolah Liar) yang dikeluarkan Pemerintah Belanda. Ordonansi ini membatasi kegiatan sekolah-sekolah swasta. Guru-guru yang mengajar di sekolah swasta harus mendapat izin lebih dahulu dari Pemerintah. Lebih dari itu, aparat Pemerintah diberi pula wewenang untuk hadir dalam kelas pada waktu guru sedang mengajar. Tujuannya ialah agar para guru tidak mengajarkan hal-hal yang berbau nasionalisme. Dengan dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara, penolakan terhadap ordonansi itu pun bermunculan. Permi juga mengeluarkan pernyataan menolak. Ilyas Jacoub mendatangi cabang-cabang permi untuk menjelaskan akibat buruk bila ordonasi itu diberlakukan.
Pada tahun 1932 dan 1933 kegiatan partai-partai politik menentang Pemerintah Belanda semakin meningkat. Di Jawa, kegiatan itu dipelopori oleh Partindo di bawah pimpinan Ir. Sukarno dan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-baru) di bawah pimpinan Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Di Sumatera, permilah yang menjadi penggerak utamanya. Dengan berbagai cara, Pemerintah berusaha menekan golongan nasionalis. Tokoh-tokoh partai dilarang mengunjungi daerah-daerah tertentu atau diperintahkan menghentikan pidatonya dalam rapat-rapat umum. Pembatasan itu dialami pula oleh Ilyas Jacoub. Ia dilarang mengunjungi daerah Tapanuli Selatan, padahal simpatisan permi di daerah ini cukup banyak. Pada waktu berpidato dalam kongres permi di Bukittinggi, ia mendapat peringatan keras agar tidak menyerang kebijakan Pemerintah.
Untuk menekan kegiatan politik yang semakin meningkat itu, pada bulan Agustus 1933 Pemerintah Belanda mengeluarkan larangan mengadakan rapat (vergader verbod)bagi semua partai politik. Larangan itu diikuti dengan penangkapan terhadap tokoh-tokoh partai, antara lain Sukarno, Hatta, dan Syahrir. Dengan adanya larangan itu, tertutuplah kesempatan bagi permi untuk mengadakan rapat, baik terbuka maupun tertutup. Untuk tetap memelihara semangat para anggota dan untuk menyampaikan informasi mengenai perkembangan situasi, Ilyas Jacoub menerbitkan brosur “Maju” yang digunakan sebagai kursus politik jarak jauh. Direncanakan, brosur ini akan diterbitkan sekali sebulan.
Walaupun penerbitan dan pendistribusian brosur dilakukan secara diam-diam, namun tetap tercium oleh aparat Pemerintah. Pada tanggal 5 September 1933 kantor besar permi digeledah oleh polisi. Ilyas Jacoub dan Jalaluddin Thaib sedang berada di kantor. Dalam tas Ilyas Jacoub ditemukan beberapa eksemplar brosur “Maju” dan sebuah artikel yang akan dimuat dalam penerbitan berikutnya. Ilyas Jacoub dan Jalaluddin Thaib langsung ditangkap dan dimasukkan ke penjara Muara di Padang. Mukhtar Luthfi sudah ditangkap beberapa hari sebelumnya di Bukittinggi. Ia pun dipenjarakan di Padang.
Kurang lebih tiga bulan Ilyas Jacoub dipenjarakan. Pada tanggal 27 Desember 1933 Pemerintah Belanda mengeluarkan surat keputusan tentang pengasingan Ilyas Jacoub, Mukhtar Luthfi, dan Jalaluddin Thaib di Digul, Irian. Ilyas Jacoub dituduh mengganggu ketentraman umum dengan cara melakukan kegiatan menentang Pemerintah. Kegiatan itu sudah dilakukan di Kairo dan dilanjutkan di Sumatera Barat.
Pada awal tahun 1934 Ilyas Jacoub diberangkatkan ke Digul. Ia disertai oleh istri dan anak sulungnya yang masih berumur dua tahun. Pada waktu pecah perang Pasifik, Pemerintah Belanda memindahkan semua tahanan politik dari Digul ke Australia agar mereka tidak dimanfaatkan oleh Jepang. Ilyas jacoub dan keluarganya termasuk kelompok terakhir yang dipindahkan, sebab pada mulanya ia menolak.
Di Australia, sejumlah bekas tahanan politik Digul itu bersedia bekerja sama dengan sekutu. Ilyas Jacoub juga ditawari untuk bekerja sama, namun ia menolak dengan alasan sakit. Ia berpendapat bekerja sama dengan sekutu berarti bekerja sama dengan Belanda sebab Belanda adalah anggota sekutu.
Sesudah perang Pasifik berakhir dan Indonesia sudah menjadi negara merdeka, bekas tahanan Digul dipulangkan ke Indonesia dari Australia. Ilyas Jacoub ikut dalam rombongan yang dipulangkan bulan Oktober 1945. Sesampainya di Tanjung Priok, ia tidak dibolehkan turun ke darat. Atas permintaan pihak Belanda, Ilyas Jacoub beserta istri dan tujuh anaknya dinaikkan ke kapal perang Inggris dan dibawa ke Kupang, pulau Timor. Dari Kupang mereka dibawa ke Labuhan di Kalimantan Utara yang ketika merupakan daerah jajahan Inggris, lalu ke Singapura yang juga jajahan Inggris. Dari Singapura Ilyas Jacoub di kembalikan ke Kupang, Sedangkan anak dan isterinya di pulangkan ke Sumatera Barat melalui Jambi.
Setelah antara Pemerintah Indonesia dan Belanda tercapai kesepakatan mengenai pertukaran tawanan perang,barulah Ilyas Jaeoub di bebaskan. Ia di bebaskan di Cirebon pada bulan Juli 1946.Dari Cirebon Ilyas Jaeoub kembali ke Sumatera Barat. Ia bergabung dengan partai Masyumi cabang Sumatera Barat dan kemudian menjadi ketuanya. Pada tahun 1948 ia di angkat menjadi Dewan Perwkilan Rakyat Sumatera Tengah (DPRST) Wilayah Provinsi Sumatera Tengah meliputi Provinsi Sumatera Barat, provinsi Riau, dan provinsi Jambi yang sekarang.
Dalam sidang DPRST bulan April 1950 lahir mosi yang dikenal sebagai mosi Tan Tuah. Para pendukung mosi menuntut agar Gubernur Sumatera Tengah, Mr. Nasrun, mengundurkan diri. Mosi itu juga meminta Ilyas Jacoub untuk menjadi Gubernur, tetapi ia menolak. Akibat mosi Tan Tuah, hubungan antara DPRST dan Gubernur Nasrun menjadi tegang. Akhirnya DPRST dibekukan oleh Pemerintah.
Sesudah tidak lagi menjadi ketua DPRST, Ilyas Jacoub lebih banyak bergiat mengurus Masyumi. Dalam konstituante yang dibentuk sesudah Pemilihan Umum tahun 1955, ia duduk sebagai anggota mewakili Masyumi.
Ilyas Jacoub meninggal dunia pada tanggal 2 Agustus 1958 dalam usia 53 tahun. Pada tahun 1999 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya gelar Pahlwan Nasional (Surat Keputusan Presiden No.074/TK/1999 tanggal 13 Agustus 1999).

Posted in Pahlawan Nasional.