Raja Haji Fisabilillah

Raja Haji Fisabilillah bwRaja Haji dilahirkan di Hulu Sungai Kota Lama, kira-kira tahun 1727. Sewaktu ayahnya, yaitu Daeng Celak (yang dipertuan Muda II) wafat pada tahun 1745, Raja Haji masih berusia 19 tahun. Karena itu oleh Sultan melalui mufakat kerabat kerajaan dan pemangku adat Daeng Kamboja, menetapkan putera Daeng Manwah sebagai yang Dipertuan Muda III, sedangkan Raja Haji diangkat sebagai Engku Kelana, yang bertugas mengatur pemerintah dan menjaga keamanan seluruh wilayah kerajaan.
Ketika masih menjadi Engku Kelana, Raja Haji sudah terlibat dalam pertempuran dengan pihak Belanda (Perang Linggi 1756-1758). Perang tersebut meletus sebagai reaksi usaha Belanda meluaskan kekuasaannya di Riau. Dalam salah satu pertempuran tersebut, Raja Haji terluka. Namun pada pertempuran selanjutnya, pasukan gabungan dari Linggi, Selangor, Remban, Kelang dan Siak dapat mengepung Kota Malaka sehingga satu persatu tempat-tempat di sekitar Malaka berhasil dikuasai dan diduduki. Akhirnya Belanda mendatangkan bala bantuan dari Batavia sehingga pasukan Daeng Kamboja dan Raja Haji serta sekutunya dapat dipukul mundur dari sekitar Malaka. Dan peperangan tersebut berakhir dengan perjanjian damai antara pihak Daeng Kamboja dan Raja Haji dengan pihak Belanda pada 1 Januari 1758.
Selama menjadi Kelana, Raja Haji mengasah pengalaman sampai matang untuk menjadi pemegang kekuasaan yang paling menentukan di seluruh kerajaan Riau, Johor. Raja Haji pergi ke Kedah untuk menjadi penengah pada perebutan tahta di sana . Di Selangor, Raja Haji mengukuhkan kedudukan saudara seayahnya Raja Lumu menjadi Sultan Salechuddin. Raja Haji juga mengikat tali kekeluargaan dengan Asalian dari Jambi di Indragiri dari tangan Ra Payang. Sebagai sebuah kerajaan besar yang dihormati, Raja Haji mengangkat Syarif Abdul Rahman Al-Kadri sebagai Sultan Pontianak yang pertama.
Dari sumber kerajaan lokal maupun sumber-sumber asing menyatakan bahwa sejak Raja Haji menjadi yang Dipertuan Muda Riau IV pada tahun 1777, Kerajaan Riau mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi, pertahanan sosial budaya spiritual. Beliau membangun tempat kedudukan Pulau Boan Dewan berupa sebuah istana yang dinding tembok pagarnya bertatah dengan porselin, sehingga dinamakan piring dan sebuah istana untuk yang dipertuan Besar Sultan Mahmud di Sungai Galang Besar.
Pada awal pemerintahan, sebagai yang Dipertuan Muda, Raja Haji mengadakan perjanjian dengan Belanda. Salah satu isi perjanjian tersebut adalah mengenai kapal asing yang disita oleh Belanda atau Kerajaan Riau. Isi kapal itu harus dibagi dua antara Belanda dan Riau, namun ternyata perjanjian tersebut dilanggar pihak Belanda.
Pada tahun 1782 sebuah kapal Inggris, Betsy yang memuat candu dirampok oleh Belanda. Sesuai perjanjian antara Riau dan Belanda seharusnya muatan kapal itu dibagi dua, tetapi Belanda tidak melakukannya. Karena itu Raja Haji protes, namun tidak ditanggapi oleh Belanda dan peristiwa ini selanjutnya dikenal sebagai cikal bakal kasus permasalahan perang antara Belanda dan Riau . Walau sebenarnya sebab-sebab umum sudah ada sebelum itu. Belanda berusaha menaklukan Riau dan sebaliknya Raja Haji berusaha pula mempertahankan integritas wilayahnya dan mencegah hegomoni Belanda di perairan Selat Malaka.Usaha Raja Haji untuk mengadakan pembicaraan dengan Gubenur Belanda di Malaka mengalami kegagalan. Oleh karena itu Raja Haji segera mempersiapkan angkatan perang dan mengadakan gangguan terhadap pelayaran kapal-kapal di Selat Malaka. Sementara itu Raja Haji berhasil menjalin persekutuan dengan kerajaan-kerajaan lain untuk bersama-sama menghadapi Belanda. Pemerintah Belanda di Batavia ( Jakarta ) memaksa Gubenur Belanda di Malaka untuk mengambil tindakan. Sehingga sejak bulan Juni kapal-kapal Belanda mengadakan blokade namun tidak membawa hasil, namun sebaliknya kapal-kapal Riau berhasil menyerang kapal-kapal Belanda yang melakukan blokade tersebut.
Pada tanggal 6 Januari 1784 pasukan Belanda mencoba mendarat di Pulau Penyengat. Walaupun pendaratan itu berhasil, namun meriam Riau berhasil meledakan kapal terbesar Belanda dengan nama lambung Malaka Welveren. Dengan hancurnya kapal tersebut mengakibatkan beberapa kapal lainnya mengundurkan diri dari arena pertempuran. Dengan demikian pasukan pendarat yang tidak mempunyai dukungan perlindungan lagi akhirnya mengundurkan diri. Pada tanggal 27 Januari 1784 seluruh kekuatan Belanda ditarik ke Malaka.
Pada tanggal 13 Febuari 1784 Raja Haji mengerahkan pasukan untuk menyerang Malaka. Mereka mendarat di Teluk Ketapang dengan bantuan pasukan Sultan Selangor. Dalam suatu pertempuran tersebut, Belanda mendapat bantuan dari armada yang dipimpin oleh Jacob Pieter Van Braam yang sedianya berlayar ke Maluku. Armada yang terdiri atas 9 kapal perang dengan personil 2.130 orang dan meriam sebanyak 326 pucuk dikerahkan untuk menghantam pusat kedudukan Raja Haji di Teluk Ketapang. Pertempuran meletus pada tanggal 18 Juni 1784 dan Raja Haji gugur dalam pertempuran tersebut bersama kurang lebih 500 orang pasukannya. Dengan gugurnya Raja Haji, maka berakhirlah pertempuran tersebut. Jenazah Raja Haji dimakamkan di Kampar (Provinsi Riau). Atas jasa–jasanya pemerintah RI. menganugrahkan Gelar Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden No.072/TK/1997 tanggal 11 Agustus 1997.

Posted in Pahlawan Nasional.