Tuanku Tambusai

Tuanku Tambusai

A. BIO DATA
1. N a m a : Tuanku Tambusai
2. Nama Kecil : Muhammad Saleh/Hamonangan Harahap.
3. Tempat Tgl. Lahir : Dalu – Dalu Kab. Kampar 5 November 1784.
4. TempatTgl. Wafat : Negeri Sembilan (Semenanjung) Malaysia
12 November 1882.
5. Nama Ayah : Imam Maulana Kadhi
6. Nama Ibu : Munah
7. Pendidikan : Agama Islam (Ilmu Fikih dan Tauhid).

 

 

B. SEJARAH PERJUANGAN
1. BIDANG KEAGAMAAN
Sebagai seorang Ulama, Tuanku Tambusai menyebarkan Islam di daerah-daerah yang belum memeluk Islam, antara lain di Tapanuli Selatan, di daerah-daerah yang sudah memeluk Islam ia melancarkan gerakan pemurnian agama sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rosul. Banyak tantangan yang dihadapinya. Ia diusir dari tanah Batak karena dianggap sebagai pengacau, bahkan di tempat kclahirannya ia dimusuhi oleh pejabat setempat.
Bersama dengan Tuanku Rao ia mengembangkan syiar Islam di daerah Rao Air Bangis, Padang Lawas dan sekitarnya. Iapun mendirikan pesantren di Dalu-Dalu Namun, kegiatannya dihalang-halangi oleh pengusaha setempat, Oleh karenanya tempat ini terpaksa ditinggalkannya dan ia kembali ke Rao.

2. BIDANG POLITIK
Kegiatan Tuanku Tambusai tidak terbatas hanya di bidang keagamaan ia pun menerjunkan dirinya ke dalam perjuangan untuk menentang masuknya kekuasaan asing, bahkan perjuangan di bidang ini lebih menonjol dibandingkan dengan kegiatan keagamaan. Hal ini menyebabkan ia terlibat dalam serangkaian pertemuan, terutama menghadapi Belanda.
Dalam hubungan ini namanya sudah muncul pada tahun 1823 ketika ia dan pasukannya mengepung kedudukan Inggris di Natal. Setelah Natal diserahkan Inggris kepada Belanda pada tahun 1826 (sesuai dengan Traktar London 1824) Tuanku Tambusai berhadapan dengan Belanda, Natal dan Air Bangis dikepungnya dari arah Pedalaman, sehingga Belanda tidak dapat membeli Komoditi daerah pedalaman melalui kedua pelabuhan itu.
Sekitar tahun 1830 ia membangun benteng di Rao, benteng ini jatuh ke tangan Belanda bulan Oktober 1832 ia berusaha merebut benteng Belanda Fort Amerongen di Rao tetapi gagal. Sementara itu Tuanku Rao tertangkap dan dibunuh Belanda. Tuanku Tambusai menyatukan pasukan Tuanku Rao dengan pasukannya dan pada bulan November 1833 ia berhasil merebut benteng Amerongen. Sesudah itu ia membangun benteng di Dalu-Dalu.
Belanda mengajak Tuanku Tambusai untuk berunding, namun ia menolak. Berkali-kali pertempuran berlangsung dengan pihak Belanda. Adakalanya ia memperoleh kemenangan, adakalanya pula mengalami kekalahan. Akan tetapi ia tidak menyerah dan tidak bersedia berdamai.
Antara tahun 1834 – 1837 Belanda memusatkan kekuatannya untuk merebut Bonjol. Usaha mereka terhalang oleh gerakan Tuanku Tambusai di bagian utara, khususnya di daerah Rao dan Dalu-Dalu. Dengan adanya gerakan itu, Belanda mengalami kesulitan untuk menyerang Bonjol dari dua arah, yakni dari Utara dan Selatan. Pasukan gabungan Belanda dan Raja Gadombang yang bergerak dari utara, dicegat oleh pasukan Tuanku Tambusai.
Dengan mengerahkan kekuatan yang cukup besar dan setelah melakukan pengepungan yang ketat selama lebih tiga tahun akhirnya Belanda berhasil merebut Bonjol (Agustus 1837). Pada bulan Oktober 1837 melalui tipuan perundingan, Belanda menangkap Tuanku Imam Bonjol. Dengan demikian, salah satu kekuatan Paderi berhasil mereka tundukkan. Akan tetapi perang belum berhenti sebab Tuanku Tambusai masih merupakan ancaman yang serius terhadap perluasan kekuasaan Belanda.
Dalam periode sesudah Bonjol jatuh, peranan Tuanku Tambusai semakin menonjol. Sadar bahwa ia merupakan satu-satunya pimpinan perjuangan yang masih ada, maka ia pun memperkuat pertahanan di Dalu-Dalu.
Sebaliknya Belanda pun sadar bahwa selama Tuanku Tambusai masih belum ditundukkan, maka kekuasaan mereka di daerah pedalaman ‘ Sumatera belum akan berdiri dengan kukuh. Dua kekuatan itu berhadap-hadapan sepanjang tahun 1838 terutama di sekitar Dalu-Dalu.
Sejak Januari 1838 pasukan Belanda dikerahkan ke Raja Mondang suatu tempat sehari perjalanan dari Dalu-Dalu. Gerakan mereka terhalang oleh pertahanan Tuanku Tambusai dan aksi-aksi gerilya yang dilancarkan pasukan Tambusai. Belanda berusaha merebut satu demi satu kubu-kubu pertahanan Tuanku Tambusai yang dibangunnya bertebaran di daerah-daerah sekitar Dalu-Dalu namun sejak September 1838, Belanda memperoleh beberapa kemajuan sehingga Tuanku Tambusai memusatkan pertahanannya di benteng utama di Dalu-Dalu. Belanda mengerahkan kekuatan yang cukup besar untuk merebut benteng ini. Sejak pertengahan Desember 1838 benteng Dalu-Dalu dihujani dengan tembakan meriam. Barulah pada tanggal 28 Desember 1838, setelah melalui pertempuran yang melelahkan dan menimbulkan banyak korban benteng ini jatuh ke tangan Belanda.
Akan tetapi Belanda tidak berhasil menangkap Tuanku Tambusai. Pada waktu pasukan Belanda memasuki benteng Tuanku Tambusai berhasil meloloskan diri.

 

 

C. KESIMPULAN

1. Perjuangan Tuanku Tambusai tidak dapat dilepas dari perjuangan pen-duduk pedalaman Sumatera bagian tengah untuk melawan kolonialisme Belanda. Dalam perjuangan itu, ia bekerja sama dengan tokoh-tokoh lain antara lain Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Rao, akan tetapi tidak berarti yang satu membawahi yang lain mereka merupakan tokoh-tokoh yang otonom.

2. Perjuangan Tuanku Tambusai di bagian utara khususnya di sekitar daerah Hulu Sungai Rokan, memungkinkan Tuanku Imam Bonjol dapat bertahan untuk waktu yang relatif lama. Dapat dikatakan bahwa Tuanku Tambusai merupakan penyangga/byffer yang kuat bagi pertahanan Bonjol. Pada waktu Bonjol untuk pertama kalinya diduduki Belanda (September 1832). Tuanku Tambusai mengadakan kontak dengan Tuanku Imam Bonjol untuk membangkitkan perlawanan kembali. Penulis Belanda mengakui bahwa dalam serangan yang dilancarkan Paderi Januari 1833 yang menyebabkan terusirnya pasukan Belanda dari ‘Bonjol, peranan Tuanku Tambusai cukup besar.

3. Dalam perjuangan melawan kekuasaan Belanda Tuanku Tambusai berhasil menggabungkan tiga etnis, yakni Mandailing. Melayu dan Minangkabau. Daerah perjuangannya meliputi daerah-daerah yang termasuk tiga Propinsi yang sekarang yakni Propinsi Riau, Propinsi Sumatera Barat dan Propinsi Sumatera Utara. Namun pusat perjuangan dan pertahanan terletak di Dalu-Dalu yang sekarang termasuk Propinsi Riau.

4. Perjuangan Tuanku Tambusai antara lain dilandasi oleh penentangan terhadap kolonialisme untuk jangka waktu sampai akhir tahun 1838, ia berhasil mencegah meluasnya kekuasaan Belanda ke pedalaman Riau. Dengan demikian ia telah menghalangi usaha Belanda untuk mengalirkan komoditi daerah pedalaman ke pesisir barat Sumatera yang sudah dikuasai Belanda dan mengeksploitasi daerah ini dengan penanaman wajib (cultuur stelsel). Berarti sampai akhir 1838, Tuanku Tambusai berhasil mencegah ambisi politik dan ambisi ekonomi Belanda.

5. Dalam perjuangannya Tuanku Tambusai menolak berdamai dengan pihak Belanda, prinsip itu tetap dipertahankannya walaupun posisinya sudah sangat kritis. Ia tidak hanya merupakan perpanjangan dari perlawanan Paderi, tetapi juga salah seorang tokoh utama perlawanan itu. Dapat dikatakan bahwa tanpa adanyaTuanku Tambusai, perlawanan Paderi mungkin sudah dapat diakhiri sebelum tahun 1837. Agaknya karena itulah Muhammad Rajab dalam buku perang Paderi menyebutkan Desember 1838 sebagai akhir perang Paderi (dalam pengertian lain, akhir usaha ekspansi Belanda ke pedalaman Sumatera bagian tengah). Hal ini berarti bahwa benteng Dalu-Dalu dan Tuanku Tambusai merupakan benteng dan tokoh terakhir Paderi.
6. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Tuanku Tambusai merupakan tokoh pejuang yang konsisten, cukup tangguh dan ditakuti oleh pihak lawan serta dihormati oleh pihak kawan. la berjuang mempertahankan bagian dari Indonesia dari kolonialisme Belanda.

7. Seperti juga pejuang-pejuang lain dalam periode sebelum abad ke 20 perjuangannya berakhir dengan kegagalan. Akan tetapi, nilainya tidak terletak pada kesuksesan atau kegagalan.

8. Nilai perjuangan itu terletak pada semangat dan tekad untuk memper­tahankan kemerdekaan dan meninggikan derajat bangsa. Sehubungan dengan itu, sudah selayaknya Tuanku Tambusai diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

9. Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi Bela Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 71/TK/1995 tanggal 7 Agustus 1995

Posted in Pahlawan Nasional.