Nuku Muhammad Amiruddin

Nuku Muhammad Amiruddin bwA. BIO DATA
1. N a m a : Nuku Muhammad Amiruddin, Kaicil Paparangan
2. Nama Kecil : Nuku Syaifudin atau Kaicil Nuku
3. Gelar ,’ : Sultan Said’ul Jehad Muhammad el Mabus
Amirudin Syah Kaicil Paparangan
4. TempatTgl. Lahir : Soa Siu, 1738
5. Tempat Tgl. Wafat : Tidore, 14 November 1805
6. Nama Ayah : Sultan Jamaludin

 

 

 

 

 

B. SEJARAH PERJUANGAN
Ketika Ayah Nuku Sultan Jamaludin tahun 1757 naik takhta kerajaan Tidore, selain hak-hak yang diwarisinya juga memikul kewajiban dan beban atas mahkota Tidore; salah satu kewajiban Jamaludin adalah membayar uang “pengganti kerugian” kepada Kompeni yang menurut pasal 3 dari kontrak tahun 1733 jumlah hutang tersebut menjadi 50.000 ringgit. Jamaludin tidak mampu melunasi uang sebesar itu dan menolak membayarnya dengan alasan kapal-kapal dagang Tidore pun menderita
kerugian oleh “perampok”, yang dilakukan oleh bukan orang Papua masyarakat Tidore, tetapi ada yang berasal dari Mangindanao dan Pulau Sulu. Kompeni tidak kehilangan akal tahun 1768 sesudah perundingan selama 10 tahun tercapailah persetujuan antara kedua belah pihak : “Utang sebesar 50.000 ringgit tidak usah dibayar, tetapi Sultan Tidore wajib menyerahkan Seram Timur dengan pulau-pulau yang termasuk daerah itu kepada Kompeni”.
Peran Nuku bermula dari sebagai anggota delegasi Kesultanan Tidore dalam perundingan dengan Gubernur Kompeni Belanda bernama Hermanus Munnik di Ternate. Dalam rangka penyerahan Seram Timur dan pulau-pulau sekitarnya. la cenderung menjadi tokoh oposisi terhadap pelaksanaan persetujuan Ternate tersebut.
Dalam tahun 1779 Gubernur Thomaszen dari Ternate menangkap Sul­tan Jamaludin, Kaicil Garomahongi dan Sultan Bacan dan mengirim mereka ke Batavia untuk diadili. Sifat oposisi Nuku ini menyebabkan dirinya kehilangan kesempatan menggantikan posisi sebagai Sultan Tidore. Sebagai pengganti Sultan Jamaludin diangkat Kaicil Gayjira yang menurut tradisi tidak berhak menjadi Raja. Bulan April 1780 Gayjira wafat, digantikan Patra Alam putra Gayjira menjadi Sultan Tidore atas pengaruh dan desakan Gubernur Cornabe yang menggantikan Gubernur Thomaszen. Nuku dan Kamaludin memprotes sekeras-kerasnya pada Gubernur Ter­nate tentang pengangkatan itu, juga kepada Patra Alam. Tanggal 2 Juli 1780 Patra Alam memerintahkan pasukan pengawalnya menyerbu rumah Nuku dan Kamaludin, barang dan harta benda dirampas, rumah dibakar habis. Kamaludin tertangkap sedangkan Nuku berhasil meloloskan diri.
Dalam rangka melawan kekuatan bersama antara Kesultanan Tidore dengan Militer VOC, Nuku menggalang kekuatan dengan mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di daerah sekitar Seram dan Papua (Irian Jaya sekarang).
Tanggal 4 September 1780 terkumpul berpuluh-puluh kora-kora + 90 buah banyaknya. Dengan raja-raja dari Patani, Batanta Salawati, Misool, Waigama, dan Waigeo, Seram Timur, dan kepulauan sekitarnya, pulau Kai dan Papua. Nuku dan pasukan Induk yang dipimpinnya menuju Seram Timur, dan seluruh Seram Timur bekas wilayah Kesultanan Tidore dipulihkan dan dibawah kekuasaan Nuku tanpa perlawanan yang berarti dari Kompeni Belanda. Nuku memaklumkan perang dengan Kompeni, dengan menyergap pasukan ekstirpasi Kompeni di Pulau Obi di sebelah selatan Bacan, dan lebih dari separuh pasukan Kompeni tewas, serta sebagian melarikan diri ke dalam hutan, dan sebagian jatuh ke tangan orang Misool sebagai tawanan. Sejak saat itu Nuku digelari oleh Belanda sebagai Prins Rebel (Pangeran Pemberontak).
Pada tanggal 11 November 1781 dihadiri oleh para pendekar Papua dan Alifuru dikelilingi pasukan perintis dari 400 orang Tidore, Hulubalang, Kapiten Laut, Bintara, Perwira, Raja-raja, Orang Kaya dan Patih, Nuku ditabalkan/menobatkan diri menjadi Sultan Papua dan Seram dengan gelar “Sri MahaTuan Sultan Said’ul Jehad Muhamad el Mabus Amirudin Syah Kaicil Paparangan” dan semenjak itu diawalilah peperangan melawan VOC.
Tanggal 21 Oktober 1781 Gubernur Ambon Bernadus Van Pleuren atas perintah Batavia mengirim surat kepada Nuku yang isinya: Nuku diminta mcnyerahkan diri pada Patra Alam, Raja yang diakui oleh Kompeni jika mau Nuku dapat menyelesaikan kesalahpahaman dengan Patra Alam dengan jalan damai dan Nuku diminta meninggalkan Seram karena sejak tahun 1708 Seram bukan wilayah Kesultanan Tidore. Dalam jawabannya : Hubungan Tidore dan Kompeni menjadi buruk sejak tahun 1779 karena kecurangan Kompeni terhadap Kesultanan Tidore yang sah dan diuraikan sebab-sebab ia berada dalam Kerajaan Seram.
Permulaan bulan September 1783 perutusan Ternate Translanter Van Dijk di Tanjung Mayasalafa diserang angkatan laut Nuku. Translater Van Dijk dengan semua prajurit dan Burgaan tewas. Armada Nuku pimpinan Panglima Doy memperoleh kemenangan di Halmahera Selatan dan Kepulauan Damar. Benteng Kompeni Barneveld di pulau Makian Benteng Kompeni di Coba dikosongkan oleh komandannya. Maret 1784 Patra Alam beserta keluarga dibawa ke Batavia untuk diperiksa karena dituduh menyuruh melakukan kejahatan pembunuhan. Gubernur Ternate Cornabe dalam surat rahasianya kepada Pemerintah Pusat tanggal 18 Maret 1784 menyebutkan gerakan Nuku sebagai pencetus “Revolusi Tidore”.
Tanggal 18 April 1785 upacara pelantikan besar-besaran kaicil kamaludin sebagai Sultan Tidore, Nuku menggugat pengangkatan Kamaludin karena ia Pangeran yang lebih tua yang berhak. Nuku minta jika Kamaludin menghendaki diakui sebagai Sultan, kamaludin harus berlepas diri dari Kompeni, setidak- tidaknya mengubah kontrak dengan Kompeni yang bersifat sepihak.
Tanggal 5 April 1787 dibawah Komando kolonel Van Halm dengan empat buah kapal perang besar (satu eskader) menuju Maluku dengan tugas “memberi peringatan kepada kepala-kepala dan raja-raja, menunudukkan mereka agar menempati kontrak”.
Kapal perang besar eskader tersebut diperintahkan menghancurkan kekuatan Nuku di Seram. Gubernur Ambon mengatakan bahwa Nuku berada di Seram tetapi anak buah dan pengiringnya telah memberontak terhadap Nuku; jadi Nuku tidak lagi berbahaya dan mengancam keamanan. Sebenarnya Nuku masih bersama anak buah dan para pendukungnya. Dalam sidang di Gubernuran di Ternate diputuskan tidak perlu lagi mengirim ekspedisi dan Nuku tertawa girang mendengar peristiwa di Ternate itu.
Januari 1788 Pasukan Gulamanis mendekati pelabuhan Samate di sambut dengan jubi-jubi dan dikejar kora-kora Papua dan diperintahkan memutar haluannya 180°. Nuku sebagai panglima pemberontak di Samate berhasil merampas sebuah kora-kora dan beberapa anak buah Gulamanis di tawan.
Tahun 1790 merupakan tahun krisis bagi Nuku karena terlibat perang yang menentukan berhasil atau gagal, tegak atau gugur ia dalam perjuangannya, sebab ke empat lawannya telah dikerahkan untuk menghancurkan dirinya. Walaupun Nuku digempur dari segala jurusan, Nuku tidak putus asa dan dengan kekuatan terdiri dari 40 kora-kora dengan 1000 orang yang cukup kuat dan terlatih dalam perang tangkis. Nuku dengan segenap siasat perjuangan dan diplomasinya tetap mengadakan perlawanan.
Mei 1791 Gubenur Ambon dan Banda bekerjasama menyusun armada perang yang kuat dibantu oleh 2 buah kapal perang fregat yang baru tiba dari Batavia dibawah Komando Panglima perang Kolonel Werner Gobius dengan kekuatan tambahan 340 orang serdadu bangsa Jerman yang berkumpul di Ambon dan Banda. 19 Mei 1791 muncul armada Kolonel Werner Gobius di Pantai pulau Gorong. Kubu dan kampung
ditembaki dengan meriam kapal dan orang-orang Gorong melakukan perlawanan seru terhadap orang-orang Banda. Tinggal dua pertahanan Nuku yang terkuat dan sudah dua kali pihak Kompeni mendarat dan di pukul mundur dengan banyak korban di kedua belah pihak.
21 Mei 1791 tanggal yang berarti dalam perjuangan Nuku. Markasnya diungsikan ke Bukit di tengah Pulau, sedang di pantai telah siap beberapa kora-kora untuk mengungsikan Nuku dan stafnya. Pada malam gelap gulita Nuku diserang oleh Kompeni, pasukan dibawah komando Werner Gobius menyerbu markas Nuku untuk menangkapnya dan pasukan Kapten Woltebeck merampas dan merusak benteng.
Benteng Ordur diserbu dan dikuasai Kompeni. Tiba-tiba turun hujan lebat dan pada saat yang sama Nuku menyerbu dengan pasukan pengawalnya. Dalam pertempuran itu 11 orang pasukan Gobius tewas dan Gobius sendiri luka parah dan Belanda memberi isyarat mundur. Werner Gobius mati di kapal Fregat ”Belona” dan jenazahnya dimakamkan di Banda. Pertempuran di Gorong itu merupakan pergulatan penentuan bagi kedua belah pihak. Nuku membentuk garis pertahanan yang ternyata kuat untuk menangkis serangan besar-besaran pihak Kompeni. Oleh babato dan pengiringnya diberi julukan ”Tuan Barokat” karena Nuku senantiasa luput dari serangan maut berkat Tuhan Allah yang melindungi dia dalam perjuangan yang suci. Pertempuran berakhir dan kemudian Nuku memindahkan markasnya dari Gorong ke Waru. Kekalahan tahun 1791 memudarkan semangat Kompeni melawan Nuku.
Kapal Kompeni Windhond diserang dan meninggalkan 11 orang tawanan di Warsai. Peristiwa di Warsai bukan satu-satunya gejala yang menunjukkan pengaruh Nuku dan ketidak mampuan Kamaluddin dan Ekenholm menjalankan kuasa di Papua.
Sejak tahun 1785 Nuku Mengirim utusan ke Bengkulu, kemudian Benggala dan Madras, untuk merundingkan perjanjian dagang dan kemungkinan Kompeni Inggris membuka loji dan kantor dagang di dalam wilayah kekuasaan Nuku. Hal ini memperkuat kedudukan Nuku dan yang sangat dikhawatirkan oleh Kompeni Belanda ialah orang-orang Inggris, karena dalam perjanjian Paris 1784 antara Belanda dan Inggris ditetapkan bahwa orang Inggris memperoleh hak melayari perairan Maluku dan berdagang di sana.
Agustus 1793 Kapten John Hayes bertolak dari Benggala dengan dua kapal Kompeni Inggris ke pulau-pulau Papua. Kapten Hayes tiba di Teluk Dore, dan membuat kubu dinamai Fort Coronation dan daerah itu dinamai New Albion atau Inggris baru. Setelah tiga bulan Hayes bertolak ke Benggala dengan memuat Masoi, tripang, karet, kulit binatang dan burung cendrawasih. Orang Inggris sampai pertengahan tahun 1795 tetap menduduki New Albion, berniat besar melakukan perdagangan besar – besaran di Irian Barat.
Tahun 1795 Gubenur Ternate Johan Godfried Budach mengutus Kaicil Hasan Putra Jamaluddin menemui Kamaludin dan Nuku mengenai usul perdamaian yang didasarkan atas pembagian kekuasaan atas kerajaan Tidore antara Nuku dan Kamaludin. Baik Nuku maupun Kamaludin menolak mentah-mentah. Nuku mempunyai rencana mempersatukan kesultanan Tidore dengan memulihkan empat kesultanan di Maluku, yaitu Bacan, Tidore, Ternate dan jailoho mempersatukannya untuk menentang penjajah Belanda dan memperoleh kemenangan.
Awal 1796 Kompeni memerintahkan Gubernur Ternate, Banda dan Ambon supaya memutuskan semua perundingan dengan Nuku karena Nuku dianggap sebagai musuh yang tidak dapat diperdamaikan (een Overzoenlijke Vijand). 17 Februari 1796 Nuku merebut Banda.
12 April 1797 Tidore diserbu oleh pasukan Nuku yang dipimpin oleh Nuku dari sebuah anjungan kapal Inggris sebagai pasukan induk angkatan perangnya. Tidore direbut oleh Nuku dan telah berlangsung dengan cara revolusi ”Tanpa pertumpahan darah”. Nuku dinobatkan menjadi Sultan atas seluruh kerajaan Tidore dengan segala upacara dengan gelar : Sri Paduka Maha Tuan Sultan Said’ul Jehad Muhammad El Maboos Amirudin Syah Kaicil Paparangan, sul­tan Tidore, Papua Seram dan daerah teluknya.
15 Juli 1799 angkatan perang Kompeni bertolak dari Ternate untuk menggempur Nuku Raja Tidore dengan 100 buah kapal besar dan kecil dibawah Komando Panglima Baron Van Lutzow. Pasukan Kompeni Belanda turun dan hendak menyerbu Istana Kota Baru mendadak mereka dihujani jubi-jubi dan peluru senapan dan segera pertempuran sengit terjadi. Pasukan Belanda di Ternate mulai mundur karena banyak yang luka-luka. Panglima Kompeni memerintahkan mundur dan kembali ke Ternate.
Nuku menentang pasal-pasal perundingan perdamaian Ternate yang di selenggarakan antara Raja Muda Hasan mewakili Tidore dengan pihak Pemerintahan Hindia Belanda tanggal 14 September 1800. 23 November 1801 kontrak antara Kompeni Belanda dengan Sultan Ternate diperbaharui diganti dengan antara Kompeni Inggris dengan Kerajaan Ternate.
Nuku yang diakui dengan resmi oleh Inggris sebagai Sultan Tidore tidak pernah terkait oleh suatu kontrak dengan Kompeni Belanda ataupun dengan Inggris yang memang Nuku tidak mau mengadakan kontrak. Nuku mempertahankan sikap politik sebagai Sultan Tidore, yang memiliki kedaulatan penuh atas wilayahnya. Kemerdekaan yang telah lama dicapai dengan pejuangan jiwa beribu-ribu orang, tidak akan dilepas begitu saja dan akan dipertahankan dengan pertaruhan jiwa raga dan kesentausaanya sendiri.
Perundingan antara Raja Muda Zainal Abidin mewakili Tidore dengan Gubernur Kompeni Belanda Cranssen sebagian besar mengenai perdagangan, maka perniagaan yang sudah hampir-hampir beku menjadi ramai. Kemakmuran bertambah maju di Kerajaan Tidore karena selama 25 tahun tidak diadakan ekstirpasi. Persetujuan antara Nuku dengan Inggris mirip persatuan dagang antara dua negara yang merdeka dan berdaulat.
Tahun 1804 di Ternate disusun sebuah delegasi yang terdiri dari 2 dewan untuk mencatat dan mendengar usul-usul Nuku. Rencana kontrak dikirim ke Tidore untuk mendapat persetujuan dari Nuku. Diantara 26 pasal yang diajukan itu terdapat 7 pasal yang sama sekali tidak dapat disetujui Nuku karena tanpa memberi persen kemerdekaan yang kedaulatannya yang telah dicapai sesudah memperjuangkannya dengan gigih selama hampir 25 tahun.
Tahun 1804-1805 perang yang tidak dipermaklumkan terus terjadi dalam pertempuran besar dan kecil seiring dengan perang senjata dan perang nota yang tidak kurang hebatnya. Tanggal 30 April 1805 surat Nuku kepada Wakil Gubernur Wieling di Ternate telah memutuskan sama sekali tiap harapan Kompeni, bahwa kelak Tidore akan menutup sesuatu kontrak persahabatan dan perdamaian dengan Belanda terutama selama Nuku bersemayam di atas Tahta Kerajaan Tidore. Perang Nota selama tahun 1804 berakhir dengan perang senjata tajam selama tahun 1805.
Dalam usianya yang ke 67 tahun semangat Nuku masih belum pudar dan berkobar-kobar 25 tahun ia berjuang untuk melaksanakan cita-citanya yaitu memerdekakan Maluku bebas dari Kompeni Belanda dan bebas dari sesuatu kekuasaan asing.
Nuku mempertahankan sikap politik sebagai Sultan Tidore yang memiliki kedaulatan penuh atas wilayahnya dan menuntut pengakuan pihak Pemerintah Belanda antara tahun 1800 hingga wafatnya pada tanggal 14November 1805.
Tanggal 14 November 1805 Sri PadukaMahaTuan Sultan Said’ul Jehad Muhammad Amirudin Syah Kaicil Paparangan alias Nuku berpulang ke Rahmatullah dalam usia 67 tahun di Istana Salero di Soasiu.

 

 

C. KESIMPULAN
Perjuangan Nuku berawal dari kasus Suksesi kekuasaan di kerajaan Tidore, karena masuknya campur tangan pihak VOC telah melahirkan peperangan yang beraroma perlawanan rakyat terhadap kekuasaan Pemerintah Kolonial.
Dalam riwayat politiknya Nuku tidak pernah secara langsung menandatangani perjanjian penyerahan kekuasaan baik kepada VOC maupun kepada Pemerintah Hindia Belanda hingga wafatnya tahun 1805.
Nuku berperan dalam menggalang kebersamaan di wilayah Seram dan Irian Jaya pada saat itu hingga tuntutan kedaulatan RI atas wilayah tersebut didukung oleh makna kebersamaan sejarah dalam melawan penjajah.
Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 71/TK/Tahun 1995 tanggal 7 Agustus 1995.

Posted in Pahlawan Nasional.