Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Syeh Yusuf Tajul Khalwati bwA. BIO DATA
N a m a : Syekh Yusuf Tajul Khalwati
Nama kecil : M. Yusuf
Gelar : Tajul Khalwati Hidayatullah
Tempat Tgl. Lahir : Gowa, 3 Juli 1626
Tempat Tgl. Wafat : Capetown, 23 Mei 1699
Nama Ayah : Sultan Alaudin (Raja Gowa ke 14)
Nama Ibu : Siti Aminah
Pendidikan : Pendidikan Agama Islam di Banten dan Aceh (1644 – 1649) dan di Negara-negaraTimurTengah selama 15 tahun.

 

 

B. RIWAYAT PERJUANGAN
Pada awal abad ke 17 kerajaan Gowa diliputi oleh ketegangan atas komTontasi dengan VOC di perairan Maluku, dalam memperebutkan monopoli perdagangan rempah-rempah. Beberapa kali pertempuran terjadi untuk mempertahankan negerinya. Rakyat dimobilisir menjadi laskar-laskar yang tangguh untuk membela negaranya termasuk Syekh Yusuf (M.Yusuf) yang pada waktu itu masih remaja dan sebagai putra Bangsawan.
M. Yusuf mulai karier politik sebagai Mufti kerajaan Banten setelah beliau melanjutkan pelajarannya ke Pusat Islam Timur-Tengah. Pada tanggal 22 September 1644, dalam usia 18 tahun beliau meninggalkan negerinya menuju Mekah dengan menumpang kapal niaga Melayu menuju Banten. Beliau berkenalan dengan putera Mahkota Pangeran Surya (kemudian dikenalkan dengan Sultan Ageng Tirtayasa). Pada masa itu Banten menghadapi Konfrontasi dengan Kompeni yang selalu memaksakan keinginannya untuk monopoli dagang.
M. Yusuf tinggal di Banten selama 5 tahun sambil belajar agama Islam dan giat diberbagai bidang terutama membangkitkan semangat agama dan mengajak rakyat untuk berjuang melawan semua pengaruh Asing. namun demikian M.Yusuf tetap bercita-cita memperdalam ilmunya di Timur-Tengah selama 15 tahun di Saudi Arabia, dirasakan ilmunya sudah memadai, namanya diabadikan sebagai seorang Syekh. Sultan Ageng Tirtayasa mengetahui tingkat ilmu Syekh maka dipanggilnya ke Banten untuk memperkuat jajaran kepemimpinan dalam usaha melawan invasi Kompeni Belanda. beliau memperoleh pengaruh dan kerajaan Banten meningkat kewibawaannya diantara Raja-raja di Nusantara jaman itu.
Pengaruhnya makin meluas dan berakar karena itu membentuk jamaah tarekat dengan pengajaran tasauf untuk mempertinggi moralitas dan kesetiaan kepada pemimpin. Cita-cita perjuangan mempertahankan negeri, ditanamkan lewat jamaah, tarekat yang ditanamkan lewat jamaah, tarekat yang dinafasi oleh tauhid, bahwa”Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman”.
Dalam era 1660 an, kesultanan Makassar dan kesultanan Banten merupakan dua kerajaan besar di Nusantara yang menjadi musuh Kompeni. Rempah-rempah dan hasil bumi dikumpulkan di Pelabuhan Makassar kemudian dikirim ke Pelabuhan Banten sebagai tempat perdagangan Internasional, oleh karena itu Kompeni berusaha merebut dominasi kedua Pelabuhan besar tersebut beberapa kali Kompeni kontak senjata dengan lasykar-lasykar Goa di lautan.
Sebagai penganut Sufi Syekh Yusuf Tajul Khalwati diangkat menjadi guru putera Sultan Banten, Pangeran Gusti (Sultan Haji) pada tahun 1664 dan kemudian diangkat menjadi Mufti dan penasehat raja. Sultan Ageng dan Syekh-Yusuf sebagai menantu, penasehat dan Mufti kerajaan makin terlibat dalam situasi politik, ekonomi dan sosial dan menggalang persatuan dan kesatuan rakyat. Syekh Yusuf yang makin populer dan mempunyai kharisma sangat disegani pula oleh Kompeni orang-orang Makasar dan Bugis datang ke Banten berguru pada Syekh Yusuf sekaligus sebagai kader-kader dan komandan pasukan yang sudah terisi jiwanya dengan pengetahuan agama cinta tanah air dan mengharamkan kerja sama dengan orang asing yang ingin menjajah. Selama 16 tahun Banten membenahi negerinya dan tetap konfrontasi dengan Belanda.
Dalam bulan Maret 1682 selama berkecamuk perang Banten (perang sorosuan) yang berlangsung selama 6 bulan, baik di darat maupun di laut, pasukan Kompeni mengalami kerugian harta dan personil. Bala bantuan Kompeni dikerahkan lebih banyak lagi. Politik adudomba dan penyusupan pasukan Kompeni ke Angke, Cisadane, Kademangan dan akhirnya ke keraton Tirtayasa. Sultan Ageng bersama Panglimanya memutuskan untuk melakukan taktik perang gerilya dan bersama lasykar Banten mulai bertahan dalam hutan Karanggan, lalu ke Lebak dan kemudian Wafat. Perang Gerilya dilanjutkan oleh Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan Pangeran Kidul di Daerah Tanggerang lalu mundur ke Muncang, Lawang Taji (Jasinga) menyusur Cidurian akan menuju Cirebon. Van Hoppel mencegat Syekh Yusuf di sungai yang menuju Cirebon dan ternyata Syekh Yusuf bersama lasykarnya membelok ke Cikaniki menuju Cianteng melalui Cisarua. Pasukan Syekh Yusuf terdiri ± 5.000 orang, dan 1.000 orang diantaranya orang-orang Makasar Bugis dan Melayu.
Syekh Yusuf paling ditakuti Kompeni sejak perang Banten dan oleh karena itu Kompeni mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat menangkap Syekh Yusuf hidup atau mati akan diberikan hadiah 1.000 ringgit.
Pertempuran paling hebat di pegunungan Padaherang (Padalarang) ketika gerilyawan Syekh Yusuf yang dibantu oleh gerilyawan dari Banyumas dengan pimpinan oleh Namrud (Kapten Kompeni yang dipengaruhi oleh Syekh Yusuf) bersama pasukan intinya dapat lolos. Pangeran Kidul dan Pangeran lainnya gugur, kemudian isteri dan anak Syekh Yusuf bernama Asma ditangkap oleh Van Happel. Syekh Yusuf memimpin sendiri Lasykar Banten yang masih hidup.
Gerilya Syekh Yusuf menuju Daerah Banjar, kemudian berputar ke daerah Cikatomas lewat Parigi. Pasukan Van Happel sudah payah mengikutinya karena harus menembus hutan belantara melalui pinggiran sungai Citandui dan Ciseel, Jejak Syekh Yusuf untuk sementara hilang dari pengamatan pasukan Kompeni di Mandala daerah Sukapura yang dijadikan sebagai markas dan benteng pertahanan. Beberapa bulan lamanya Syekh Yusuf mengajar dan membina murid-murid yang sekaligus menjadi pejuang tangguh yang bersedia mati syahid.
Kompeni khususnya Van Happel sudah kewalahan dan hampir putus asa menghadapi Syekh yusuf bersama pasukannya. Van Happel menempu jalan tipu muslihat pada tanggal 15 Desember 1683 ia datang berpakaian Arab dengan membawa serta puterinya yang bernama Asma. Syekh yusuf terpancing oleh bujukan Van Happel terutama iba hatinya melihat puterinya sebagai sandera Syekh Yusuf bersedia ke Cirebon kemudian dimasukkan kedalam penjara di Kastel Batavia.
Pada tanggal 12 September 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon dalam usia 58 tahun bersama dua orang isterinya dan dua orang pembantu wanita dua belas orang santri dan beberapa orang anaknya.
Bagi Kompeni penahanan terhadap Syekh Yusuf dianggap kegiatan politiknya sudah selesai. Ditengah-tengah masyarakat Budha Syekh Yusuf mengajarkan ilmu syariat dan tasauf kepada muridnya yang datang dari In­dia Selatan dan Ceylon.
Jemaah haji dari Hindia Timur sekembalinya dari Mekah banyak yang singgah di Ceylon untuk berguru dan meminta berkah pada Syekh Yusuf. Adakalanya sampai 3 bulan lamanya. Dalam kesempatan tersebut Syekh Yusuf menyelipkan pesan-pesan politik agar tetap mengadakan perlawanan kepada Kompeni. Syekh Yusuf mengirimkan surat kepada Sul­tan Banten, Sultan Makasar dan Karaeng Karunrung, Mangkubumi Kerajaan Gowa agar tetap melakukan perlawanan pada Kompeni, penjajah yang akan menghancurkan agama dan kemanusiaan. Pengaruh dari pesan-pesan tersebut menyebabkan timbulnya pemberontakan Haji Miskin di Minangkabau pada tahun 1687 pemberontakan Sultan Abdul Jalil (Gowa) yang menurut Benteng Ujung Pandang (Rotterdam) di kembalikan kepada Gowa dan pemberontakan Sultan Banten yang menuntut agar kerja paksa bagi rakyat dalam pengumpulan hasil bumi dihapuskan. Pemerintah Kompeni tidak mengira bahwa semua itu terjadi dan ada kaitannya dengan Syekh Yusuf di Ceylon yang ternyata karisma dan kewibawaannya tetap dihormati dan dipuja.
Hukuman mati terhadap Syekh Yusuf diprotes pertama kali oleh Raja Alamghir di India dan dari Raja Makasar Abdul Jalil (1677 – 1709) sehingga hukuman mati dirubah menjadi pembuangan seumur hidup.
Pada tanggal 7 Juli 1693 dalam usia 68 tahun Syekh Yusuf diasingkan/dibuang menuju Capatown Afrika Selatan. Kedatangannya sebagai orang buangan politik, disambut baik oleh Gubernur Simon Van Stel yang menghormatinya tidak seperti orang buangan politik yang datang sebelumnya.
Tiba di Capetown pada tanggal 2 April 1694 pukul 15.00 waktu setempat bersama rombongan (49 orang) langsung diantar masuk kedalam Kasteel (Benteng). Sembahyang Maghrib pertama dilakukan dalam Benteng tersebut dan Syekh Yusuf dikenal sebagai pembawa Agama Islam pertama di Afrika Selatan maupun Ceylon. Hingga akhir hayatnya pada tanggal 23 Mei 1699 ia menjalani masa pembuangan.
C. Kesimpulan peran Syekh Yusuf dalam perang Banten :
1. Kedatangannya di Banten pada tahun 1644 dari Mekah didasari oleh pertimbangan karirnya sebagai ulama akan lebih menjanjikan hidup di kota perdagangan internasional Banten dan sekaligus memiliki hubungan baik dengan pusat kekuasaan ke daerah Periangan. Syekh Yusuf berada di pegunungan Sajira yang merupakan Markas Gerilya.
Pada tanggal 14 Maret 1683 Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap, dipenjarakan di Kastel Batavia dan seminggu sebelumnya Pangeran Kulon.
2. Jatuhnya kesultanan Gowa, dengan perjanjian Bongaya tahun 1667 posisinya sebagai ulama mulai berkembang ke arah politik karena banyaknya orang Makasar yang menetap di Banten dan lambat laun membentuk komunitas yang mempertebal ikatan emosional dengan daerah asal.
3. Pengangkatannya sebagai penasehat raja mempertebal kayakinan akan kemampuannya untuk berperan dalam politik dan digunakan sebaik-baiknya untuk mencari jalan mengeleminir pangaruh Belanda dalam perdagangan di Nusantara.
4. Bahwa tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa tidak mengakhiri perlawanan Syekh Yusuf menunjukkan bahwa jangkauan perlawanan bukan hanya kerajaan Banten melainkan sasaran yang lebih luas, yaitu melawan penjajah.
5. Apapun alasan dan cara penangkapan oleh Belanda, bahwa Syekh Yusuf tetap diasingkan menunjukkan bahwa perlawanan tersebut diberikan hingga akhir hayatnya.
Atas jasa dan perjuangannya Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 071/TK/Tahun 1995 tanggal 7 Agustus 1995.

Posted in Pahlawan Nasional.