Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo bwA. BIODATA.
Nama : FRANS KAISIEPO
Tempat dan : Wardo, Biak
Tanggal lahir : lO Oktober 1921
Agama . : Kristen Protestan
Keluarga : – Menikah dengan Anthomina Arwan dan dikarunia 3 orang anak.
– Setelah Isteri pertama meninggal pada tanggal 12 November 1973 ia menikah dengan Maria Magdalen Moorwahyuni dari Demak Jawa Tengah dan dikarunia seorang anak.
Pedidikan : 1. Sekolah Rakyat 1928-1931
LVVSKorido 1931-1934
Sekolah Guru Normalis di Manokwari 1934-1936
Kursus Bestuur Maret – Agustus 1945.
Sekolah Bestuur/Pamong Praja 1952-1954.

 

 

B. RIWAYAT PERJUANGAN
Tahun 1945 berkenalan dengan Sugoro Atmoprasodjo ketika mengikuti Kursus Kilat Pamong Praja di Kota Nica Holandia (Kampung Harapan Jayapura) Dari perkenalannya itu ia dan kawan – kawannya mulai tumbuh rasa kebangsaan Indonesia; dan kemudian ia dan teman-teman sering mengadakan rapat gelap dengan Sugoro membahas penyatuan Nederlands Nieuw Guinea ke dalam Negara Kesatuan Republik Indo­nesia. Dalam kesempatan tertentu mereka berlatih dan menyanyikan lagu Kebagsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh Sugoro. Frans Kaisiepo tidak setuju dengan papan nama kursus / sekolah yang diikulinya itu yang bertuliskan “PAPUA BESTUUR SCHOOL” Ia menyuruh Saudarannya Marcus Kaisiepo, melepas tulisan PAPUA tersebut untuk diganti dengan kata IRIAN, sehingga tulisan pada papan menjadi “IRIAN BESTUUR SCHOOL”.
Pada tanggal 14 Agustus 1945 di Kampung Harapan Jayapura telah dikumandangkan lagu Indonesia Raya oleh Frans Kaisiepo, Marcus Kaisiepo, Nicolas Youwe dan kawan-kawan.
Ide Kemerdekaan Indonesia kemudian berkembang di kalangan para Siswa yang berasal dari Daerah/Suku. Untuk membina Persatuan diantara para siswa Kursus/Sekolah Bestuur kemudian dibentuk dewan perwakilan dari berbagai suku. Dewan perwakilan ini dimaksudkan untuk mempermudah kontak di bawah pimpinan Sugoro. Para anggotanya antara lain : Frans Kaisiepo, Marthen Indey, Silas Papare, G. Saweri, SD Kawab.
Pada tanggal 31 Agustus 1945 di Bosnik, Biak Timur dilangsungkan upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang di hadiri oleh paraTokoh Komite Indonesia Merdeka seperti : Frans Kaisiepo, Marcus Kaisiepo, Corinus Krey, M. Youwe. Dalam upacara itu dinyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Pada tanggal 10 Mei 1946 di Biak didirikan Partai Indonesia Merdeka ( PIM ) dengan ketuanya Lukas Rumkoren. Salah seorang pencetusnya adalah Frans Kaisiepo yang waktu itu menjadi Kepala Distrik di Warsa, Biak Utara.
Pada bulan Juli 1946 Frans Kaisiepo menjadi anggota delegasi pada Konperensi Malino di Sulawesi Selatan. Sebagai pembicara ia mengganti nama PAPUA dan Nederlans Nieuw Guinea dengan kata IRIAN yang diberi pengertian IKUT REPUBLIK INDONESIA ANTI NEDERLANS. Konon kata Irian diambil dari bahasa Biak yang berarti panas dalam hal ini berarti daerah panas. Frans Kaisiepo termasuk anggota delegasi yang menentang pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) sebab NIT tersebut tanpa Irian Jaya. Sehubungan dengan hal itu ia mengusulkan agar Irian Jaya masuk Karesidenan Sulawesi Utara.
Pada bulan Maret 1948 terjadi pemberontakan rakyat Biak melawanpemerintah Kolonial Belanda, dan Frans Kaisiepo adalah salah seorang perancang pemberontakan tersebut.
Pada tahun 1949 Frans Kaisiepo menolak menjadi Ketua Delegasi Nederlands Nieuw Guinea ke Konperensi Meja Bundar di Den Hag, sebab tidak mau didikte dalam berbicara yaitu sesuai dengan keinginan Belanda. Sebagai konsekwensi penolakannya dihukum antara tahun 1954-1961, tugas pekerjaannya ditempatkan di distrik – distrik terpencil seperli Ransiki Manokwari, Ayamura Teminabuan (Sorong) dan di Mimika (Fakfak).
Pada tahun 1961, sewaktu menjabat Kepala Distrik Mimika (Fakfak) ia mendirikan Partai Politik Irian sebagian Indonesia (ISI) yang menuntut penyatuan kembali Nederlands Nieuw Guinea ke dalam kekuatan negara Republik Indonesia. Pada masa TRIKORA, ia banyak membantu/ melindungi infiltran Pejuang Indonesia yang didaratkan di Mimika sehingga tidak diketahui oleh pemerintah Kolonial Belanda.
Pada tahun 1964 ketika menjadi Gubenur KDH Propinsi Irian laya dan merangkap Ketua DPRDGR Frans Kaisiepo merupakan salah seorang penggerak Musyawarah Besar Rakyat Irian Barat untuk membicarakan langkah-langkah penyatuan Irian Barat menjelang Pepera 1969.
Ketika menjadi Gubernur KDH Propinsi Irian Barat, Frans Kaisiepo berusaha sekuat – kuatnya memenangkan Pepera tahun 1965, yaitu dengan strategi pemungutan suara dengan sistem perwakilan yang dimulai dari kabupaten (Merauke) dan berakhir di Ibu Kota Propinsi (Jayapura). Penyelenggaraan Pepera di Irian Barat sukses dan Irian Barat merupakan bagian mutlak dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tiga tahun setelah sukses memenangkan Pepera, pada tahun 1972 ia diangkat menjadi anggota MPR-RI Utusan Daerah Irian Jaya. Dan dari tahun 1973-1979 Frans Kaisiepo diangkat menjadi Anggota DPA-RI.
Pada tanggal 10 April 1979 Frans Kaisiepo meningal dunia. Jenazahnya dimakamkan di depan Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Kabupaten Biak.
Atas perjuangan jasa-jasa semasa hidupnya tersebut Frans Kaisiepo menerima penghargaan Trikora dan penghargaan Pepera dari Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1984 namanya diabadikan menjadi nama Bandara Biak FRANS KAISIEPO menggantikan nama Bandara Mokmer.
Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 19 Agustus 1993.

Posted in Pahlawan Nasional.