Pangeran Sambernyowo / K.G.P.A.A Mangkunegoro I

Pangeran Sambernyowo

Raden Mas Said yang dikenal di kalangan rakyat dengan sebutan Pangeran Sambernyowo (Pangeran Penyebar Maut) dilahirkan di Keraton Kartosuro pada hari Minggu Legi tanggal 4 Ruwah tahun Jimakir 1650 AJ. Windu Aiwuku Warigagung atau tanggal 7 April 1725. Ayahnya bemama Kanjeng Pangeran Aryo Mangkunegoro yang dibuang oleh Belanda ke Srilangka (Ceylon). Ibunya bernama R.A. Wula. Putri dari Pangeran Blilar.
Pangeran Sambernyowo adalah tokoh Keraton tradisional yang gemar hidup ditengah-tengah masyarakat Mataram yang agamis. Sepanjang hidupnya mengalami penderitaan dan penghinaan dalam hubungannya dengan penjajah Belanda, yang selalu mencampuri urusan Kerajaan Mataram. Baginya Belanda adalah sumber kemelut yang menimbulkan pertentangan dalam keluarga Keraton Mataram dan penyebab timbulnya kemelaratan dikalangan rakyat Mataram.
Sebagai pejuang yang berasal dari kalangan Keraton. Perjuangannya di arahkan demi kelestarian Keraton Mataram dan kebebasan rakyatnya dari penjajahan Belanda. Konsekwensi logis dari sikapnya itu. Pangeran Sambernyowo terkadang harus berhadapan dengan keluarga Keraton yang memihak Kompeni Belanda. Berkat dukungan rakyat Mataram yang setia-kepadanya, ia melakukan pertempuran melawan serdadu Belanda dengan taktik pertempuran gerilya yang sangat melelahkan Belanda dan banyak menimbulkan korban dikalangan serdadu Belanda.
Perjuangan Raden Mas Said menentang kekuasaan Belanda tidak dapat dipisahkan dari kericuhan yang terjadi di Kerajaan Mataram pada pertengahan abad ke 18. Sejak awal abad itu beberapa daerah Mataram sudah dikuasai secara langsung oleh Belanda. Selain itu Belanda berhasil pula mencampuri masalah inten kerajaan seperti pengangkatan Raja dan pejabat tinggi lainya.
Akibatnya, di Keraton timbul golongan pro dan kontra kekuasaan asing. Sementara itu rakyat semakin menderita karena harus memikul beban perang yang sering terjadi dan juga sebagai akibat monopoli perdagangan yang dilakukan Belanda. Tidak mengherankan apabila perasaan benci terhadap Belanda dan kaki tangannya itu merata di kaluiigan masyarakat. Pada gilirannya perasaan itu meledak menjadi perlawanan bersenjata. Rasa benci terhadap Belanda dan kaki tangannya itu memuncak sejak peristiwa pembuangan Pangeran Aryo Mangkunegoro ke Ceylon (Srilangka) akibat fitnah Sunan Amangkurat IV yang direka oleh Patih Danurejo yang sangat pro Belanda dan berusaha membunuh Raden Mas Said yang baru berumur 2 tahun, sebab dikhawatirkan kelak ia akan mcmhnlas dendarn. Namun usaha itu tidak berhasil.
Kesempatan untuk melawan Belanda terbuka ketika pada tahun 1740 di Kartosuro terjadi perlawanan rakyat terhadap Belanda. Waktu itu Raden Mas Said telah berumur 14 tahun. Dalam usia semuda itu ia telah berhasil menjalin kerjasama dengan beberapa orang temannya, dan secara bersama-sama mereka ikut bertempur dalam barisan rakyat. Pada waktu Belanda berhasil kembali menguasai keadaan, untuk beberapa waktu lamanya, Raden Mas Said tetap tinggal di Keraton. Akan tetapi pada 21 Juni 1741 ia bersama dua adiknya (R.M. Ambia dan R.M. Sabar) dan teman-temannya meninggalkan Kartosuro untuk menyusun kekuatan di luar Keraton. Pada mulanya Raden Mas Said mempersiapkan diri bersama pengikutnya di Nglaroh dengan latihan perang-perangan. Setelah persiapan dirasa cukup, ia menggabungkan diri dengan Sunan Kuning (Raden Mas Garendi) di Randulawang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Lebih kurang satu tahun lamanya ia berjuang bersama Sunan Kuning. Pada waktu Sunan Kuning memindahkan pusat perjuangan kearah timur (Pasuruan), Raden Mas Said tetap tinggal di daerah Jawa Tengah. Ia memusatkan pertahanannya di Mojoroto Wonosemang dan para pengikutnya mengangkatnya sebagai Pangeran Adipati Mangkunegoro.
Untuk menumpas perlawanan R.M. Said Belanda mengirimkan pasukan dengan kekuatan yang cukup besar. Sebagian besar pasukan yang dikirim itu ialah pasukan Mataram di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi. Pasukan R.M. Said terdesak, namun ia berhasil meloloskan diri dan membangun kekuatan baru di tempat lain. Karena sesuatu sebab, pada 19 Mei 1746 Pangeran Mangkubumi menggabungkan diri dengan R.M. Said untuk melawan Belanda. Selama sembilan tahun mereka berjuang bersama-sama. Dalam perjuangan itu R.M. Said diambil menantu oleh Pangeran Mangkubumi.
Untuk mematahkan perlawanan pasukan R.M. Said dan Pangeran Mangkubumi, Belanda menjalankan politik ”devide et impera ”. Belanda berhasil membujuk Pangeran Mangkubumi menghentikan perlawanan. Pada 13 Pebruari 1755 di Desa Gianti diadakan perjanjian damai antara Belanda, Sunan Pakubuwono III dan Mangkubumi. Dalam perjanjian itu Mataram dibagi dua yaitu Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Ngayogyokarto. Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sultan Hamcngkubuwono I.
Sementara itu R.M. Said yang tidak senang dengan kekuasaan Belanda dan tetap melanjutkan perjuangan. Dengan perasaan berat ia terpaksa menghadapi pasukan Surokarto dan Ngayogyakarto yang didukung oleh pasukan Belanda. Sekalipun menghadapi tiga lawan sekaligus, namun kekuatan pasukannya tidak mudah di patahkan. Pada 13-19 Oktober 1755 ia berhasil menghancurkan satu detasemen pasukan Belanda di hutan Sitakepyak, bahkan komandan detasemen, Kapten Vander Pol, tewas dalam pertempuran ini. Peristiwa tersebut diakui Belanda sebagai kekalahan yang memalukan. Pada 28 Oktober 1756 R.M. Said berhasil memporak porandakan benteng Belanda di Ngayogyokarto. Serangan tersebut sangat mempengaruhi pendapat pihak Belanda atas kemampuan perang pasukan R.M. Said, Nicolaas Hartingh, Gubernur Pantai Utara Jawa, meminta bantuan Pakubowono III untuk mengatasi keadaan. Karena kemampuannya dalam pertempuran yang banyak menimbulkan kerugian di pihak Belanda, R.M. Said mendapat julukan Pangeran Sambernyowo. Mengenai kemampuan pasukan R.M. Said ini seorang penulis Belanda De Jonge, mengatakan, bahwa jumlah prajurit R.M. Said tidak begitu banyak akan tetapi bermental jujur dan setia, terlatih dan mempunyai daya tempur yang tinggi. Penulis lain, Louw, dalam bukunya De Derde Javaansche Oorlog mengatakan bahwa berulang kali pasukan Pangeran Sambernyowo dihancurkan, namun setiap kali pula pasukan itu bangkit kembali dengan lebih perkasa karena mendapat dukungan rakyat.
Sekalipun berhasil di medan perang namun R.M. Said menyadari bahwa perang yang berlarut-larut dan berlangsung cukup lama menimbulkan kesengsaraan rakyat. Karena itulah ketika ia menerima surat dari Pakubuwono III yang memintanya untuk turut serta membangun kerajaan Surokarto yang telah rusak akibat perang. R.M. Said bersedia mempertimbangkan untuk menghentikan perlawanan. Akan tetapi ia tetap waspada karena mungkin saja surat itu merupakan jebakan. Setelah mendapat kepastian bahwa surat itu dituhs sendiri oleh Sunan Pakubowono III berdasarkan ketulusan had, maka R.M. Said bersedia menemui Pakubuwono HI di tempat yang telah di tentukan. Pada 24 Pebruari 1757 diadakan perjanjian di Salatiga antara R.M. Said di satu pihak dengan Sunan Pakubuwono III dan Sultan Hamengkubuwono I
(diwakili oleh Patih Danurejo).
Dengan perjanjian Salatiga berakhirlah perlawanan R.M. Said yang telah berlangsung selama 16 tahun terus menerus. Perjanjian itu melahirkan pula sebuah wilayah baru dalam bekas kerajaan Mataram, yakni wilayah Mangkunegoro.
Pada 28 Desember 1757 R.M. Said diangkat menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro I. Sekalipun perang telah berakhir, R.M. Said tidak mengendurkan kewaspadaannya. Karena itulah ia terus membina kekuatan perang dengan cara membentuk pasukan baru sebagai tambahan terhadap pasukan yang ikut serta bersamanya bertempur selama 16 tahun. Selain itu ia juga memperbaiki perekonomian rakyat antara lain membangun tempat-tempat peribadatan, mengembangkan kebudayaan antara lain dengan penulisan babat. Ia wafat pada tanggal 28 Desember 1795.
Untuk menghargai jasa-jasanya dan tindak kepahlawanannya dalam perjuangan melawan penjajahan pada umumnya, khususnya dalam perjuangan mempertahankan prinsip kemerdekaan, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar ”Pahlawan Kemerdekaan Nasional” dan ”Bintang Mahaputera Adipurna Kelas I” kepada Pangeran Sambernyowo /K.G.P.A.A Mangkunegoro I berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 048/TK/ tahun 1988 tertanggal 17 Agustus 1988.

Posted in Pahlawan Nasional.