Radin Panji Soeroso

RP Soeroso bwSalah seorang tokoh pejuang bangsa Indonesia yang besar sekali andilnya bagi perjuangan bangsa Indonesia yaitu Radin Panji Soeroso, hari sabtu tanggal 16 Mei 1981 telah meninggal dunia di Jakarta dalam usia 80 tahun. la dapat dikatakan tokoh terakhir dari angkatan 1908. Dan wakil terakhir dari angkatan tua para pejuang Nasional yang sempat hidup hingga bagian terakhir abad 20 ini.
R.R Soeroso dilahirkan pada tanggal 3 November 1893 di Porong (Sidoarjo), Jawa Timur, termasuk berfikiran maju dan pemberani. Dalam usia 15 tahun (tahun 1908 ) ia masuk perkumpulan Budi Utomo, pada waktu itu Budi Utomo belum mempunyai tujuan politik, pada waktu duduk di kelas 6 Kweekschool di Sidoarjo R.P. Soeroso dipecat dari sekolah tersebut karena memimpin pemogokan murid-murid seluruh sekolahan yang tidak puas dengan beleid Direktur sekolah, seorang Belanda yang menghina bangsa Indonesia.
Pemecatan ini bukan menyurutkan semangatnya, melainkan membangkitkan semangat perlawanannya. Kemudian ia berangkat ke Surabaya untuk belajar jurnalistik, semangat menentang Belanda semakin berkorbar, melalui pengetahuan jurnalistiknya ia mulai menulis dan menyerang Pemerintah Kolonial walaupun secara halus.
Pada tahun 1915 ia diangkat menjadi Presiden Serikat Islam Probolinggo dan Krakasan. Jawa Timur. Pada waktu R.P. Soeroso baru berusia 21 tahun tetapi dapat memimpin rakyat didaerah itu yang penduduknya kebanyakan suku Madura. R.P. Soeroso bersama anggota pengurus Serikat Is­lam menitik beratkan pada gerakan Nasional dan perbaikan ekonomi rakyat.
Dalam tahun 1917 dipilih menjadi anggota gemeenterad Probolinggo. Dalam kedudukan itu ia membela nasib pemilik waning di pinggir jalan supaya tidak dibongkar dan berhasil. Sebagai anggota Dewan Gemeente ia terus membela kepentingan pribumi. Ia termasuk pendiri Organisasi Kepegawaian yang pada waktu itu bernama Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri (P.V.P.N.).
Pada tahun 1921 R.P. Soeroso menjadi Ketua Personil Pabrik Bond daerah Mojokerto dan ia yang memimpin pemogokan pegawai pabrik gula yang jumlahnya 12 buah milik orang Belanda dan aksi pemogokan ini menghasilkan perbaikan nasib para pegawai pabrik tersebut.
Didalam periode pergerakan Nasional sampai datangnya pendudukan Jepang pada tahun 1942 beliau menjadi anggota Volksraad dan keanggotaannya itu telah didudukinya sejak tahun 1924. R.P. Soeroso lah yang pertama kali berpidato dalam sidang Volksraad yang mengeritik beleid Pemerintah Hindia Belanda dan menolak maksud Pemerintah Hindia Belanda untuk mengadakan pajak Landrente di Sumatera Barat.
Pada masa Jepang berkuasa di Indonesia R.P. Soeroso pun tak lepas dari kegiatan-kegiatan perjuangan. Beliau pernah menjadi ketua Putera daerah Malang dan duduk dalam Pusat barisan Pelopor di Jakarta, menjadi Ketua Hokokai sebagai pengganti Putera dan menjadi anggota Tjuo Sangi-ln di Jakarta. Dalam tahun 1943 menjadi Sucokan, dan sewaktu menjadi Sucokan itu ia mengambil kesempatan untuk mengumpulkan Lurah-lurah desa dari Kabupaten-kabupaten untuk membesarkan semangat kebangsaan mereka dan memimpin dinas-dinas Pemerintahan Pertanian dan Pendidikan dan Pekerjaan pamong Praja. R.P. Soeroso pernah juga menjadi wakil Ketua Dokuritsu Jiunbi Cosakai (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, R.P. Soeroso tetap menjadi pejuang melalui berbagai jabatan yang dipercayakan kepadanya. Beliau pernah menjabat Gubenur JawaTengah, Anggota KNIP Pusat dan kemudian tahun 1946 beliau diangkat sebagai Komisaris Tinggi untuk daerah Solo dan Yogyakarta. Ketika Belanda menyerang Yogyakarta tahun 1948 pemimpin-pemimpin negara ditangkapi Belanda. maka dibentuklah suatu pemerintahan darurat dibawah pimpinan MR. Syarifuddin Prawiranegara dengan kedudukan pusatnya di Sumatera. Pada waktu itu R.P. Soeroso diangkat sebagai salah seorang anggota pemerintahan darurat yang berkedudukan di Jawa.
Pada tahun 1950 R.P. Soeroso diangkat menjadi anggota DPR mewakili Parindra, tetapi hanya sebentar karena kemudian beliau diangkat menjadi Menteri Perburuhan dari kabinet Moh. Nasir. Sejak saat itu sampai tahun 1956 beliau menduduki beberapa Jabatan Menteri seperti Menteri Urusan Pegawai, Kemudian Menteri Sosial dan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik merangkap Menteri Dalam Negeri selama satu tahun.
Selama menjabat sebagai Menteri, perhatian baliau ditujukan pada perbaikan kehidupan rakyat kecil. Pada waktu menjabat sebagai Menteri Perburuhan, beliau menghentikan pemogokan buruh-buruh perkebunan yang jumlahnya berpuluh-puluh nbu yang menuntut kenaikan upah dan perbaikan jatah pangan. Pemogokan ini dapat diselesaikan dengan baik dan buruh mendapat kenaikan upah dan tambahan jatah pangan. Selanjutnya untuk kepentingan penyelesaian secara dinas, R.P. Soeroso membentuk Panitia penyelesaian pekerja (LP 4) di pusat dan di daerah, badan tersebut berfungsi hingga sekarang.
Pada waktu memegang jabatan sebagai Menteri Sosial, untuk melancarkan transmigrasi dari Jawa ke luar Jawa, beliau mengadakan percobaan untuk membuka hutan secara mekanis bagi para transmigran. Sebagai pangkal kerja diambil suatu tempat di desa Metro (Lampung), di tempat tersebut dibangun sebuah bengkel service dan reparasi traktor-traktor yang dipakai untuk membuka hutan. Rupanya usaha beliau diketahui oleh rakyat di Jawa yang memang ingin pindah ke luar Jawa. Maka sejak itu Transmigrasi spontan jumlahnya banyak sekali dengan biaya sendiri.
Sebagai Menteri Sosial, R.P. Soeroso juga memikirkan kesehatan masyarakat, pada tahun 1952 beliau sebagai Menteri Sosial dan Ketua Yayasan Dana Bantuan telah membeli tanah seluas 44 ha di Cilandak, kemudian dibangun untuk Rumah Sakit yang sekarang terkenal dengan nama Rumah Sakit Fatmawati.
Pada waktu menjabat Menteri Urusan Pegawai kemudian sebagai Menteri Sosial, R.P. Soeroso melihat dan merasakan kesulitan pegawai dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan gajinya yang kecil, maka timbullah pemikiran beliau untuk mendirikan Koperasi Pegawai Negeri di tiap-tiap instalasi Pemerintah dari Pusat sampai daerah-daerah. Ide R.P. Soeroso ini mendapat sambutan baik dari kalangan Pegawai Negeri dan kemudian terbentuklah primer-primer Koperasi Pegawai Negeri di Instalasi-Instalasi Pemerintah. Primer-primer Koperasi tersebut menggabungkan diri menjadi Pusat Koperasi di daerah-daerah Tingkat II dan mendirikan gabungan Tingkat Propinsi dan kemudian menggabungkan diri dalam Induk Koperasi di Pusat yang selanjutnya menjadi Induk Koperasi Pegawai Negeri, dan diketuai oleh R.P. Soeroso. Jabatan Ketua Induk Koperasi Pegawai Negeri ini dipegang hingga akhir hayatnya.
Dalam tahun 1961 oleh Presiden Republik Indonesia, R.P. Soeroso diangkat menjadi Ketua merangkap Anggota Panitia Negara Urusan Desentralisasi dan Otonomi Daerah dengan tugas menyusun Rencana Undang-Undang pokok tentang Pemerintahan Daerah. Tahun 1966 sampai dengan Maret 1973 R.P. Soeroso menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) mewakili Gerakan Koperasi. Dalam bulan Mei 1966 dipilih menjadi Ketua I Gerakan Koperasi Indonesia.
Setelah tidak melaksanakan tugas pekerjaan pada jabatan exekutif R.P. Soeroso tetap aktif dalam berbagai bidang terutama sekali pada bidang perkoperasian Pegawai Negeri. Beliau tetap aktif menjadi Pimpinan Tertinggi (Ketua ”Umum) dari Induk Koperasi Pegawai Negeri sampai akhir hayatnya. Karena jasa-jasanya dalam mengembangkan Perkoperasian Pegawai Negeri itu, pada tahun 1979 beliau dikukuhkan sebagai Bapak Koperasi Pegawai Negeri oleh Bapak Presiden Suharto.
Berbagai penghargaan baik dari pemerintah maupun dari masyarakat umum telah diberikan bahwa beliau sebagai penghargaan atas perjuangannya, penghargaan tersebut berupa :
1. Bintang mahaputra Adhi Pradana Kelas I
2. Bintang Gerilya
3. Satya Lencana Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia
4. Satya Lencana Karya Satya Kelas I
5. Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kelas I
6. Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kelas II
7. Satya Lencana Pembangunan.
R.P. Soeroso melalui berbagai kegiatannya telah berjuang untuk kepentingan bangsa dan tanah airnya. Tidak dapat disangkal lagi beliau adalah seorang tokoh Nasional yang perjuangannya telah menjadi bagian dari kelangsungan hidup bangsanya. Kini beliau telah terbaring tenang di pemakaman keluarga di Mojokerto dengan meninggalkan 4 orang putera dan puteri.
Atas jasa-jasa dan perjuangannya Pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada R.P. Soeroso dengan SK Presiden RI No. : 022/TK/tahun 1986 tanggal 23 Oktober 1986

Posted in Pahlawan Nasional.