Tengku Amir Hamzah

Tengku Amir Hamzah bwGaya bahasa dan irama pantun atau syair Melayu dibawanya ke pulau Jawa hingga ke Sala pusat kebudayaan Jawa di Jawa Tengah. Tutur kata dan sikap lakunya yang halus dan priyayi menunjukkan kebangsawanannya. Itulah Amir Hamzah, nama lengkapnya : Tengku Amir Hamzah gelar Pangeran Inderaputera. Di sekolah AMS (Sekolah Menengah Atas zaman penjajahan Belanda) dan di dunia pergerakan pemuda serta di majalah-majalah Panji Pustaka, Timbul dan Pujangga Baru tertera namanya sebagai pengarang: Amir Hamzah. Kemudian setelah tiada dan dibahas karya-karyanya, oleh kritikus sastera H.B. Jassin ia disebut Raja Penyair.
Amir Hamzah dilahirkan di Binjai, Sumatera Barat, pada tanggal 26 Pebruari 1911. Ia adalah putera Tengku Muhammad Adil gelar Pangeran Bendahara, saudara Sultan Langkat. Langkat adalah salah satu kesultanan Melayu sebelum perang dunia ke-2 di seberang-menyeberang Selat Malaka dengan kesultanan-kesultanannya Selangor, Johor, Pahang di tanah Melayu dan Deli, Langkat, Siak Sri indrapura dan Iain-lain di pulau Sumatera. Jadi, Amir Hamzah adalah kemenakan Sultan Langkat, keturunan Sultan-sultan di Sumatera Timur yang beragama Islam. Waktu kecilnya lebih dulu ia mendapat pendidikan agama, mengaji Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama. Sejak kecil ia suka membaca, terutama pantun-pantun Melayu dan buku-buku cerita lama, ccrita-cerita Hang Tuah dan kepahlawanan lain- lainny a. Setelah tamat HIS (SD zaman penjajahan Belanda) di Medan, hanya sampai kelas 2, kemudian pindah ke Jakarta.
Ayahandanya adalah penggernar sejarah dan sastera Melayu seperti kebanyakan orang-orang tua dimasa itu. Dalam perkumpulan tamu yang diadakannya sering kali pada malam hari orang membaca Hikayat-hikayat Melayu lama, syair-syair seperti Hikayat Amir Hamzah, Muhammad AH Hanafiah, Bustanussalatin, Syair Bidasari, Ken Tambunan, Haris Fadillah dan sebagainya. Yang amat disukainya ialah cerita Nabi-Nabi dengan perjuangannya. Kadang-kadang puteranya, yaitu Amir Hamzah disuruhnya membaca.
Amir Hamzah dibesarkan dalam suasana dan keluarga yang demikian, maka ia berbeda dengan kawan sebayanya. Bagaikan latihan ia suka mendengar buah pikiran orang-orang tua, suka mendengarkan orang-orang bercakap-cakap tentang sejarah negerinya, adat-istiadatnya serta pantun-pantun dan teka-teki Melayu.
Dengan bekal kesusasteraan yang mendasari jiwanya Amir Hamzah berangkat ke Jakarta untuk meneruskan pelajarannya. Rupanya ia tidak mendapatkan apa yang dicita-citakan sehingga ia terpaksa masuk kelas tertinggi MULO Kristen hingga tamat. Waktu meninggalkan keluarga dan tanah yang dicintainya Amir Hamzah yang masih murid kelas dua MULO telah mampu menulis sajak curahan jiwanya a.l. berbunyi sebagai berikut:
Tinggallah Tuan, tinggallah bunda tanah airku Sumatra raya Anakanda berangkat ke pulau Jawa memungut bunga sunting kepala.
Setelah menamatkan MULO di Jakarta ia meneruskan pelajarannya ke AMS Sala (bagian Sastera dan Kebudayaan Timur) hingga tamat. Di sekolah itu kepandaian Amir Hamzah dalam syair-syairnya amat menonjol hingga sering syair karangannya dibaca di muka kelas. Anak bangsawan Langkat ini tidak kikuk dalam pergaulan di Sala. Ia amat pandai membawakan dirinya baik di tengah-tengah kawan sekolahnya maupun di luarnya. Hampir tidak pernah ia memperlihatkan kelebihan atau kebanggaan seorang bangsawan. Manakala ia tak setuju pada sesuatu, ia diam namun ia mempunyai humor yang disertai senyum dan tertawanya.
Waktu di kelas tertnggi AMS Sala pergerakan pemuda Indonesia telah maju selangkah. Sebagai kelanjutan ”Sumpah Pemuda” tahun 1928, perhimpunan-perhimpunan pemuda yang berbentuk Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon dan Iain-lain yang serba Jong (muda) meleburkan diri dalam persatuan pemuda yang bernama ”Indonesia Muda” (IM). Amir Hamzah tidak ketinggalan mengikuti gerakan pemuda kebangsaan ini dan ia adalah ketua IM cabang Sala yang pertama-tama. Sifat kepemimpinannya tampak dengan sifatnya yang sabar, ramah, dan tidak angkuh. Di dalam IM itu ia menunjukkan perhatiannya kepada seni drama yang termasuk bagian sastera pula. Dalam Kongres Bahasa Indonesia yang ke-1 di Sala pada tahun 1938 ia gigih menganjurkan agar bahasa Indonesia digunakan dalam percakapan sehari-hari di kalangan terpelajar.
Setamat AMS Amir Hamzah meneruskan pelajarannya ke RHS (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta. Di sanalah ia bertemu dalam kancah perjuangan sastera dengan Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, Sanusi Pane, Muhammad Yamin dan Iain-lain. la duduk dalam redaksi majalah Pujangga baru (PB) yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Secara de facto ia duduk sebagai anggota redaksi PB dari semula hingga ia meninggalkan Jakarta, tetapi namanya tidak pernah tercantum sebagai anggota redaksi yang resminya selalu dipegang oleh STA dan Armijn Pane. Nama Amir Hamzah hanya tergantum sebagai pembantu tetap. Sebabnya, sebagai mahasiswa asal kerajaan Langkat tak dapat ia ikut bertanggung jawab akan PB sepenuh-penuhnya. Demikianlah tulis STA dalam risalahnya ”Amir Hamzah Penyair Besar antara dua zaman dan Uraian Nyanyi Sunyi”, Dian Rakyat. Jakarta 1979.
Banyak karangan Amir Hamzah yang dimuat dalam PB baik prosa maupun puisi. Karangan-karangan prosanya yang telah dimuat dalam PB dapat disebut: Sultan Alaudin Rakyat Syah dan Raja Kecil yang menguraikan tentang kehidupan di istana. Tulisan-tulisannya yang lain menunjukkan perhatiannya kepada kehidupan rakyat jelata, yaitu dalam karangannya : Nyoman, Atik dan Gambang. Karangan-karangan itu dimuat di dalam PB 1933 – 1934. Terjemahannya Bagawatgita dimuat pula dalam PB. Ia pun banyak menulis dalam majalah Panji Pustaka dan Timbul, media kaum intelektual Indonesia dalam Bahasa Belanda yang dipimpin oleh Mr. Singgih, kemudian Sanusi Pane.
Kemahirannya mengubah syair dapat dikatakan luar biasa, sehingga sastrawan H.B. Jassin menulis buku ”Amir Hamzah Raja Penyair” P.T Gunung Agung. Himpunan syair-syairnya yang sudah diterbitkan oleh PB sebagai nomor-nomor istimewa ialah : Nyanyi Sunyi (PB 1937) : terjemahan syair-syair Tiongkok, India dan Parisi dan Iain-lain berjudul ”Setinggi Timur” (PB 1939); dan Buah Rindu (PB 1941). Yang terakhir itu diterbitkan pula oleh Dian Rakyat, usaha STA.
Amir Hamzah berangkat dari rumah sebagai penyair Melayu karena sejak masa kanak-kanaknya ia sudah bergumul dengan sajak-sajak dan cerita-cerita Melayu, namun pengalaman di Jawa membawa perkembangan jiwanya. Perkembangannya telah berjalan alamiah, tidak dipaksa-paksa. Ia mampu merangkum suasana Indonesia dalam sajak-sajaknya. Amir Hamzah adalah seorang bangsawan yang ”maju”.
STA menulis tentang sajak Amir Hamzah yang berjudul ”Berdiri Aku” :
”Di sini kesusateraan Indonesia yang baru dapat menyamai buah
kesusasteraan negeri luaran yang sesempurna-sempurnanya Tiap
tiap kata, tiap-tiap bunyi turut berlagu dalam persatuan lukisan, irama
dan suara yang tiada tercela, oleh karena tepat letaknya masing-masing dalam leretan alun nafas pujangga.
Angin pulang menyejuk bumi menepuk teluk mengempas emas lari ke gunung memuncak sunyi berayun alun di atas alas.
dan amat-amatilah bahagian yang saya miringkan. Alangkah mesra visi, penglihatan penyair terlukis dan oleh keberanian kiasan menggempas emas, memuncak sunyi. Berayun alun di atas alas menggetarkan di sekeliling turunnya sinar hidup seperti dalam mimpi nikmat yang jauh”.
Nikmat, memang nikmat sekali membaca dan mendengarkan sajak-sajak Amir Hamzah, serba berirama, bergelombang mengayun perasaan dan jiwa.
Gaya sastera Indonesia Amir Hamzah seperti yang dikutip di atas dan yang banyak terdapat dalam sajak-sajak lainnya, pada hakekatnya tidak berbeda dengan gaya sastera tembang Jawa karangan pujangga Ranggawarsita (1802 -1873) yang disebut dengan istilah Jawa ”purwakandii”, artinya : permulaan yang bersambungan, yaitu suku kata/kata terakhir bersambung dalam irama indah dengan suku kata/kata berikutnya. Bandingkanlah :
Amir Hamzah : menepuk teluk – memuncak sunyi – berayun alun – di atas alas;
Ranggawarsita : Rarasing tyas sanityasa tistis, de ta mardi
mardawaning basa, ngayawara puwarane
(Kitab ”Jayengtilam”).
Korup Kareping ngaurip, riptane si Jayeng baya
(Kitab ”Jayeng baya”).
Dalam kiasnya Amir Hamzah mengundang berbagai bunga ; cempaka, sedap malam, kemboja, mawar dan Iain-lain. Mengundang alam : mega, awan, bayu, angin dan sebagainya tidak ubahnya puisi bahasa Jawa dan bahasa daerah lainnya dalam gaya lamanya. Amir Hamzah tidak mengikuti gaya ”soneta” seperti Muhammad Yamin dan Sanusi Pane. Semua karangan Amir Hamzah baik prosa maupun puisi tidak satupun menggunakan bahasa asing, kecuali mengutip kata-kata Arab, Jawa Kuno, Sansekerta yang menunjukkan kemahiran dan luas pengetahuannya tentang bahasa-bahasa Timur.
Mengkisahkan Amir Hamzah memang lebih banyak menguraikan karya sasteranya yang keindahannya tahan uji. Karya sastera itu niscaya menjadi warisan berharga dan masih akan berharga selamanya untuk dipelajan dan ditelaah oleh angkatan sekarang dan angkatan yang mendatang.
Di samping itu sejarah hidupnya pun patut mendapat perhatian untuk dimanfaatkan sebagai pengalaman manusia berjuang, manusia berusaha, namun Tuhan semata yang menentukan segala.
Amir Hamzah bersekolah dibiayai oleh pamannya, yaitu Sultan Langkat. Kepadanya ia berhutang budi. Pada tahun 1937. la dikawat untuk pulang, dan dalam tahun 1938 dikawinkan dengan puteri Sultan Langkat yang tertua. Sebulan kemudian ia kembali ke Jakarta, namun tampak tak bergairah, bahkan ia menutup diri di kamarnya di jalan Sabang, Jakarta. Baru sebulan kemudian ia keluar dan pergi menyerahkan kumpulan sajaknya Nyanyi Sunyi kepada STA yang kemudian diterbitkan sebagai nomor istimewa P.B., satu nomor hanya memuat Nyanyi Sunyi oleh Amir Hamzah.
Sajak itu merupakan curahan jiwanya, betapa sebenarnya ia merasa sepi, sepi dari kebebasan yang telah dihirupnya selama ia menjadi pelajar dan mahasiswa. Rupanya perkawinannya dengan puteri Sultan merupakan kewajiban moral yang tidak dapat dihindarinya.
Disamping itu ia tak dapat meluapkan cintanya yang konon pemah dicurahkan kepada seorang gadis Jawa semasa AMS-nya. Dengan demikian Amir Hamzah terombang-ambing antara kewajiban dan kebebasan, antara cita-cita dan kenyataan. Kiranya ia ditakdirkan Tuhan hidup di antara dua bara api, kekiri terjilat, ke kanan terbakar. Hidupnya berkelanjutan laksana senantiasa dibayangi oleh keterombang-ambingannya.
Amir Hamzah, manusia bermoral tinggi Untuk membela sifatnya itu ia bersedia berkorban. Mungkin disanalah letak kunci dari pada tragedi Amir Hamzah.
Amir Hamzah tidak mencapai akhir studinya, hanya sampai Kandidat atau Sarjana Muda Hukum, kemudian pulang ke Tanjungpura dan kembali kepada pangkuan kesultanan Langkata dengan mendapat gelar kehormatan Tengku Pangeran Inderaputera dan menjabat pekerjaan kepala Luhak Langkat Hilir, Langkat Hulu dan Iain-lain. Dalam jabatannya itu ia berkesempatan menyelenggarakan perpustakaan dan pendidikan rakyatnya. Dan selama itu ia sering mengadakan ceramah-ceramah tentang sastera dan kebudayaan bersama dengan Dr. Amir. Di zaman pendudukan Jepang ia lerpilih sebagai anggota Balai Bahasa Indonesia di Medan yang antara lain menciptakan istilah-istilah modern.
Di zaman kemerdekaan Amir Hamzah diangkat oleh Pemerintah RI menjadi asisten residen untuk daerah Langkat. Sejak proklamasi ia memang giat mempertahankan kemerdekaan. Sementara itu pergolakan revolusi di Sumatera Timur mencapai puncaknya dengan memusuhi orang-orang yang berdarah bangsawan. Tujuannya ialah bertindak kepada mereka, kaum feodal yang reaksioner, namun dalam keadaan yang semrawut dan tindakan massa yang tidak terkontrol, maka terjadilah tindakan dan perlakuan terhadap orang yang tidak bersalah. Itulah resiko revolusi.
Dalam suasana yang demikian itulah Amir Hamzah, asisten residen RI di Langkat tertimpa nasib malang. Dia ditindak oleh kaum sok-revolusioner yang terbakar semangatnya oleh suasana pergolakan tak terkendalikan. Amir Hamzah terdapat mati terbunuh di kuala Begumit.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak boleh diraih.
Demikianlah nasib Amir Hamzah menjadi korban apa yang disebut ”revolusi sosial di Sumatera Timur”
Amir Hamzah, seorang republikein yang besar jasanya dalam kesusasteraan dan kebudayaan bangsanya, dan sedang pula berjuang ikut menyelenggarakan hasil perjuangan di daerahnya, mati terbunuh karena tindakan yang terbakar oleh semangat revolusi menjulang angkasa.
Tiada seorang pun yang dapat disalahkan, kecuali menerima takdir Illahi. Hanya Dialah yang tahu mana yang baik dan mana yang buruk bagi UmatNya.
Jenazah Amir Hamzah yang telah dikubur, kemudian pada tahun 1946 dipindahkan ke makam di samping Mesjid Azizi di Tanjungpura, Sumatera Timur. Beliau meninggalkan seorang puteri bernama Tahura. Putera-puterinya yang empat orang meninggal dunia lebih dahulu.
Pemerintah RI menghargai jasa Tengku Amir Hamzah dan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dengan SK Presiden RI No : 106/ TK/Tahun 1975 tanggal 3 November 1975 sebagai penghargaan atas tindak kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai perjuangan dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa”.

Posted in Pahlawan Nasional.