Kolonel.TNI. ANM. I Gusti Ngurah Rai

I Gusti Ngurah Rai bwPulau Bali yang dikenal sebagai Pulau Dewata, melahirkan seorang pahlawan nasional. la adalah I Gusti Ngurah Rai, lahir tanggal 30 Januari 1917 di desa Carangsari sebagai putra kedua dari tiga orang bersaudara. Ayahnya bernama I Gusti Ngurah Palung yang dalam zaman Belanda pernah bekerja sebagai Manca (Camat).
Ngurah Rai menempuh pendidikan umum tetinggi pada MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs, Sekolah Menengah Pertama sekarang ) di Malang, Jawa Timur. Tamat dari MULO ia memasuki Militaire Cade School (Sekolah Militer) dari Korps Prayodha Bali di Gianyar. Pendidikan di sekolah militer ini diselesaikannya dalam tahun 1940 dan ia berhak memakai tanda pangkat letnan dua. Pendidikan di bidang militer di lanjutkannya dengan mengambil spesialisasi artileri di Magelang yang dalam zaman Belanda dikenal sebagai kota militer.
Masa dinas Ngurah Rai dalam militer Belanda tidak berlangsung lama. Dalam bulan Maret 1942 di Indonesia terjadi pergantian penguasa. Pemerintahan Belanda berakhir setelah Panglima Tentara Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati pada tanggal 9 Maret 1942. Sejak saat itu Indonesia berada di bawah kekuasaan Jepang.
Dalam masa pendudukan Jepang, Ngurah Rai bekerja sebagai pegawai pada Mitsui Hussan Kaisya, sebuah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang pembelian padi rakyat. Waktu Jepang membentuk organisasi kemiliteran, antara lain tentara Pembela Tanah Air (Peta), Ngurah Rai tidak mau memasukinya. Hal itu disebabkan oleh rasa antipatinya terhadap penjajahan Jepang. Ia menghimpun pemuda – pemuda Bali untuk menyusun kekuatan menentang Jepang dan melakukan gerakan bawah tanah yang diberinya nama “Gerakan Anti Fasis” (GAF).
Ngurah Rai menikah dengan Ni Desok Putu Kari. Dari perkawinan ini mereka memperoleh empat orang anak, tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Anak perempuan ini meninggal dunia tidak lama setelah lahir. Ketiga anak-anak laki-laki itu adalah I Gusti Ngurah Gede Yudana, I Gusti Ngurah Tantera, dan I Gusti ngurah Alit Yudha. Anak yang terakhir ini masih dalam kandungan pada waktu Ngurah Rai meninggal dunia.
Sampai masa akhir pemerintahan Jepang Ngurah Rai tetap melakukan gerakan bawah tanah. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, ia menghimpun kekuatan para pemuda untuk melakukan usaha-usaha merebut kantor-kantor pemerintahan dari tangan Jepang. Karena kegitan – kegiatan tersebut, maka pada tanggal 8 Oktober 1945 Jepang menyerahkan kekuasaan kepada Gubernur Mr. Ketua Puja. Tetapi pasukan Jepang Sekutu untuk memulangkan mereka ke tanah air mereka.
Perkembangan – perkembangan yang terjadi di Jakarta diikuti oleh pemuda-pemuda Bali. Demikianlah, ketika pemerintah membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat), maka pemuda – pemuda Bali pun segera pula membentuknya. Setelah TKR (Tentara Keamanan Rakyat Rakyat) terbentuk, BKR ditransformasikan ke dalam TKR. Dalam rapat yang diadakan Novem­ber 1945 di puri raja Badung, di Denpasar I Gusti Ngurah Rai dipilih sebagai pimpinan TKR Bali (waktu itu namanya TKR Sunda kecil). la dibantu oleh Wayan Ledang sebagai Kepala Staf dan I Gusti Putu Wisnu sebagai Kepala Barisan Penggempur.
TKR yang baru berdiri ini sudah harus menghadapi bentrokan-bentrokan bersenjata dengan pihak lawan. Awal Desember 1945 utusan Sekutu mendarat di Benoa. Peristiwa ini menimbulkan perubahan sikap pasukan Jepang, yang tadinya bersikap lunak, kini berbalik memperlihatkan sikap permusuhan terhadap para pemuda. Karena itu TKR merencanakan untuk menyerang pasukan Jepang dan merebut senjatanya. Dalam salah satu pertemuan diputuskan bahwa serangan serentak akan dilancarkan tanggal 13 Desember. Rupanya rencana ini sudah di ketahui Jepang, sehingga mereka menyerang terlebih dahulu. Konsentrasi-konsentrasi TKR diserbu. Pasukan TKR terdesak dan akhirnya meninggalkan kota Denpasar. Esok harinya Jepang melancarkan gerakan pembersihan. Mereka menangkap orang-orang yang dicurigai, termasuk Gubenur Ktut Puja.
Kegagalan serangan itu merupakan pukulan yang cukup berat bagi Ngurah Rai. Kekuatan yang sudah dihimpun kini berantakan. la sendiri mengundurkan diri ke Munsiang di Tabanan Utara dan berusaha menyusun kembali pasukannya yang sudah tersebar. Di Tabanan ia berkumpul kembali dengan tokoh-tokoh TKR. Mereka sepakat untuk berangkat ke Jawa guna mencari senjata dan sekaligus membicarakan status TKR Bali dengan Markas Umum TKR di Yogyakarta.
Sesudah pertempuran berakhir, Ngurah Rai mengatur siasat. la yakin bahwa Belanda pasti akan melancarkan serangan kembali. Karena itu ia membuat pertahanan semu. Di tempat-tempat tertentu sepanjang lereng gunung anak buahnya diperintahkan meletakkan topi-topi bambu. Sesudah itu pasukan diperintahkan supaya terus naik ke tempat yang lebih tinggi. Perkiraan Ngurah Rai ternyata tepat. Esok hari dua buah pesawat bomber Belanda menembaki pertahanan semu yang di buat oleh pasukan Ngurah Rai.
Ngurah Rai bermaksud membawa pasukanya ke arah barat. Ternyata jalan ke arah barat sudah ditutup Belanda. Jalan ke arah timur dan selatan pun sudah di kuasai Belanda. Mereka mengadakan pengepungan secara ketat. Satu-satunya jalan yang masih mungkin untuk dilalui ialah menempuh puncak Gunung Agung. Pasukan dalam keadaan letih, setelah hampir satu minggu mengalami kurang makan dan kurang minum. Daerah yang mereka lewati adalah daerah tandus. Namun akhirnya mereka berhasil mencapai sebuah cekungan berisi air dekat pura di puncak gunung. Pasukan akhirnya berhasil mencapai Buleleng bagian timur.
Untuk beberapa waktu lamanya pasukan Ngurah Rai tidak melancarkan serangan. Ia mulai mengubah taktik. Anak buahnya dalam rombongan-rombongan kecil di perintahkan kembali ke tempat asal masing-masing dengan tetap membawa senjata. Tugas mereka ialah menghidupkan kembali semangat perjuangan di kalangan keluarga mereka. Di beberapa tempat usaha itu membawa hasil yang baik. Sesudah itu Ngurah Rai mengadakan konsolidasi kembali, dan serangan-serangan gerilya mulai dilancarkan.
Sesudah berhasil memojokkan Ngurah Rai di Gunung Agung, Belanda mengira bahwa kekuatan Ngurah Rai sudah lumpuh. Tetapi serangan-serangan gerilya menyadarkan mereka bahwa Ngurah Rai masih merupakan ancaman. Pimpinan Militer Belanda di Bali berusaha mencari perdamaian dengan Ngurah Rai. Komandan pasukan Gajah Merah, Letnan Kolonel Ter Meulen, mengirim surat yang isinya mengajak Ngurah Rai untuk mengadakan perundingan dengan Belanda. Dalam surat jawaban singkatnya Ngurah Rai mengatakan, ”Soal perundingan kami serahkan kepada kebijaksanaan Pemerintah Republik di Jawa. Bali bukan tempatnya perundingan diplomatik dan saya tidak suka kompromis”.
Sementara itu antara pemerintah RI dan Belanda sudah dicapai persetujuan penghentian tembak – menembak. Dalam perundingan-perundingan yang di adakan antara delegasi kedua belah pihak akhirnya dicapi persetujuan politik. Persetujuan itu diparaf dalam pertemuan di Linggarjati, Jawa Barat, pada tanggal 15 November 1946. Dalam salah satu bagian tercantum bahwa Belanda mengakui kekuasaan de facto RI alas Jawa, Madura, dan Sumatra. Hsl itu berarti bahwa pulau-pulau lain, termasuk pulau Bali, tidak diakui sebagai bagian dan Rl. Bali sudah dimasukkan ke dalam Negara Indonesia Timur yang dibentuk oleh Belanda.
Menanggapi hasil-hasil yang dicapai di Linggarjati itu Ngurah Rai di depan pasukanya mengatakan antara lain, ”Jangan gentar, Sunda kecil harus mampu’berdiri sendiri. Lanjutkan perjuangan dengan apa yang ada walaupun perhatian dari pusat kurang.” Sesudah dengan ucapannya bahwa ia tidak mengenal kompromi, maka iapun semakin meningkatkan kegiatan gerilya. Menjelang pagi hari tanggal 18 November 1946 Ngurah Rai memimpin pasukannya menyerang Tabanan. Serangan itu di luar dugaan Belanda, dan mereka mengerahkan kekuatan dari seluruh Bali yang diperkuat pula dengan pasukan dari tempat-tempat lain di Sunda Kecil untuk menghancurkan pasukan Ngurah Rai. Pasukan gabungan yang di kerahkan itu terdiri atas pasukan”Gajah Merah ”. ”Anjing Nica”, ”Singa”,dan satuan-satuan Polisi Negara dan Polisi Perintis. Selain iu dikerahkan pula tiga buah pesawat terbang. Sasaranya ialah daerah sekitar Tabanan.
Pasukan Belanda yang demikian besar itu bukan tandingan bagi pasukan Ngurah Rai. Namun pasukan Ngurah Rai yang dikenal dengan pasukan ”Ciung Wanaar”, tidak mau menyerah begitu saja. Mereka tetap memberikan perlawanan, sampai akhirnya mereka terdesak ke desa Marga.
Pertempuran terakhir terjadi tanggal 20 November 1946 di desa Marga. Kurang lebih pukul 05.30 pasukan Belanda mulai melepaskan tembakan-tembakan. Tetapi mereka belum mengetahui secara pasti posisi pasukan ciung Wanara. Menghadapi lawan yang jauh lebih kuat, Ngurah Rai memerintahkan anak buahnya supaya menghemat peluru. Pukul 09.00 pasukan Belanda mulai mendekat dari arah barat-laut. Namun sampai saat itu mereka belum melihat dengan jelas sasarn mereka. Pada saat pasukan Belanda semakin dekat dan berjarak hanya kira-kira 100 meter dari posisi Ciung Wanara, Ngurah Rai memrintahkan pasukannya melepaskan tembakan, yang menewaskan beberapa orang tentara Belanda.
Karena adanya tembakan balasan dari pasukan Ciung Wanara, maka Belanda dapat mengetahui posisi musuhnya. Sepasukan tentara Belanda melancarkan serangan dan arah timur. Anak buah Ngurah Rai membalas dengan menembakan senapan mesin. Usaha itu berhasil untuk sementara waktu menahan gerak maju pasukan Belanda. Namun kemudian Belanda Melancarkan serangan serentak dari arah barat dan arah selatan. Bersamaan dengan itu dikerahkan pula pesawat terbang pengintai. Menghadapi serangan serentak itu pasukan Ngurah Rai memberikan perlawanan sengit dan berhasil memukul mundur pihak penyerang. Kesempatan itu dipergunakan oleh pasukan Ngurah Rai untuk meloloskan diri dari kepungan. Kekuatan hanya tinggal satu kompi. Mereka bergerak di arah utara menyusur lembah. Pada saat itulah pesawat terbang Belanda melepaskan tembakan dari udara. Ngurah Rai mernerintahkan anak buahnya menyebar, tetapi mereka tidak dapat bergerak dengan cepat. Jalan sukar di tempuh, sebab ada jurang yang dalam. Berbarengan dengan tembakan roket dari pesawat terbang, pasukan Ngurah Rai menghadapi pula tembakan dari pasukan Belanda yang mulai mengejar mereka. Situasi semakin kritis. Dalam keadaan demikian Ngurah Rai berseru, ”Puputan” (yang berarti habis -habisan). Ngurah Rai bersama sebagian besar anak buahnya gugur dalam pertempuran yang penuh keberanian itu.
Pemerintah RI menghargai jasa – jasa dan perjuangan Ngurah Rai dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negaranya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No. 063/TK/Tahun 1975 tanggal 9 Agustus 1975. Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi kolonel. Namanya diabadikan pula dalam nama lapangan terbang di Denpasar. Sebuah kapal ALRI diberi nama Ngurah Rai, KRI Ngurah Rai.

Posted in Pahlawan Nasional.