Hj. Rasuna Said

Hj. Rasuna Said

Dalam tahun 1932 suhu perjuangan rakyat di Sumatera Barat menentang penjajahan Belanda meningkat, bahkan memuncak dengan ditangkapnya seorang wanita muda pemimpin PERMI (Partai Muslimin Indonesia), seorang jago pena.
Rasuna Said, demikianlah nama wanita pemimpin tersebut yang waktu itu baru berusia 22 tahun. la ditangkap, ditahan dalam penjara, akhirnya dihukum dan diasingkan ke Semarang, JawaTengah. Peristiwa itu sangat menggemparkan. Beritanya dimuat didalam surat-surat kabar Indonesia dan Cina Melayu. Pers Indonesia banyak yang membuat usulan, mencela tindakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Peristiwa itu terjadi setelah Bung Karno, pemimpin tertinggi PNI (Panai Nasional Indonesia) dalam tahun 1930 dijebloskan dalam penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Perhitungan Belanda sama sekali meleset, bahwa dengan menangkap dan memenjarakan pemimpin-pemimpinnya, pergerakan rakyat akan menjadi lumpuh. Kenyataannya menunjukkan kebenaran pepatah: ”Patah tumbuh hilang berganti”. Satu penjarakan, seratus bangkit, bahkan seribu orang tampil kedepan dengan semangat perjuangan yang menyala-nyala melawan penjajah. Taktik dan strategi perjuangan dapat bertukar, namun tujuan kemerdekaan Indonesia, lepas dari Belanda, tidak pernah pudar.
Gerakan kegiatan Rasuna Said selaku wanita muda Islam dari dan tanah Minagkabau merupakan kejanggalan di jaman itu. Wanita Minang masih banyak sekali terikat kepada adat dan agama, namun Rasuna, puteri Haji Mohammad Said itu dengan segala keberaniannya telah merintis gerak kaum wanita Minangkabau dengan tidak menyalahi adat dan agama. la maju bergerak berkat pimpinan guru-gurunya dari kelompok ”Kaum Muda”, yang membawa aliran pembaharuan Islam di Sumatera Barat. Pemimpin-pernimpin ”Kaum Muda”, Buya H. Abdul Rasyid, Buya Abdul Karim Amarullah (ayah almarhum Dr. Hamka), H. Udin Rahmany dan Iain-lain adalah guru-guru yang telah menempa jiwa Rasuna Said. Dalam pada waktu itu ayahnya sendiri termasuk orang pergerakan, demikian pula kakak ayahnya yang mengasuh Rasuna dimasa kecil.
Rasuna Said bukan pemimpin yang muncul mendadak. tetapi tampil dengan bakat dan pendidikan sejak masa kecilnya, didukung oleh kemauan keras dan keyakinan yang teguh. la dilahirkan pada tanggal 14 September 1910 di Maninjau Sumatera Barat. Waktu kecil ia tinggal pada kakak ayahnya yang memimpin keluarganya dan memimpin usaha bersama mereka, yaitu C.V. Tunaro Yunus. Usaha dagangnya berhasil hingga keluarga itu cukup kaya dan terpandang didalam masyarakat.
Umur 6 tahun Rasuna disekolahkan pada sekolah Desa di Maninjau sampai kelas 5 tamat, kemudian meneruskan pelajarannya pada sekolah Diniyah yang disebut ”Diniyah School” di Padang Panjang dibawah pimpinan Zainudin Lebai El Yunusi.
Di Sekolah ini ada kebiasaan murid mengajar di kelas yang lebih rendah. Dengan demikian Rasuna Said mendapat latihan mengajar.Tugas itu dilakukannya dengan baik dan berhasil. Pada tahun 1923 didirikan Sekolah Diniyah Puteri oleh Ibu Rahmah El Yunusi. Rasuna Said diangkat menjadi pembantu mengajar di Sekolah itu. Disamping itu, bersama ibu Rahmah Ei Yunusi pula ia belajar secara pribadi kepada Dr. H. Abdul Karim Amurullah, seorang pemimpin terkemuka dari Kaum Muda di Padang Panjang. Kemudian Rasuna meneruskan pelajarannya kepada Sekolah ”Meses”, yaitu Sekolah Mengatur Rumah Tangga dan masak memasak.
Pada tahun 1926 terjadi gempa hebat di Padang Panjang dan Rasuna pulang kembali ke Maninjau. Di tanah kelahirannya itu ia tidak tinggal diam. ia belajar pada Sekolah yang dipimpin oleh H. Abdul Majid dan golongan ”Kaum Tua”. Karena merasa tidak memperoleh keserasian jiwa, akhirnya ia pindah belajar di Sekolah ”Thawalib” di Panyinggahan Maninjau. ”Sekolah Thawalib” itu didirikan oleh perkumpulan Islam ”Sumatra Thawalib” yang menganut paham nasionalisme dan berhaluan radikal.
Di Sekolah tersebut Rasuna Said termasuk murid terpandai. Pelajaran yang menurut jadwal tamat setelah 4 tahun belajar, dapat diselesaikan oleh Rasuna dalam waktu 2 tahun. Menurut H. Udin Rahmay pemimpin ”Sekolah Thawalib” dengan menamatkan Sekolah itu kepandaian dan kedudukan dan pengalamannya itu Rasuna sudah cukup memperoleh ”senjata” untuk hidup dan berjuang bagi bangsa dan agamanya.
Bakat dan kepandaiannya mendukung Rasuna memasuki pergerakan rakyat. Ia mempunyai sifat jujur dan ikhlas sehingga terpenuhilah persyaratan sebagai pemimpin pergerakan rakyat. Haluannya radikal, keras berlandaskan tabiat suka berterus terang, baik dengan kawan maupun dengan lawan. la pun pandai menyimpan rahasia, khususnya rahasia pergerakan demi keselamatan anggota-anggotanya.
Muka-mula pada tahun 1926 Rasuna masuk perkumpulan ”Serikat Rakyat” (SR) dan duduk didalam pengurus sebagai penulis. Kemudian SR menjelma menjadi (PSII) Partai Serikat Islam Indonesia. Rasuna pun tetap menjadi anggota dan duduk dalam pengurusnya pula. Disamping itu ia menjadi anggota PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia).
.PERMI didirikan oleh perhimpunan ”Sumatra Thawalib” dalam konperensinya pada tanggal 22 – 27 Mei 1930 di Bukit Tinggi. Pada mulanya ”Sumatra Thawalib” bergerak dibidang sosial, khususnya pendidikan. Perhatian PERMI lebih banyak kepada soal-soal politik, bahkan akhirnya dalam tahun 1932 menyatakan dirinya sebagai partai politik. PERMI berubah arti menjadi ”Partai Muslimin Indonesia” dengan haluan radikal non-koperasi (tidak bekerjasama dengan Pemerintah Hindia Belanda). Pemimpin utamanya H. Muchtar Luthfi, keluarga Universitas Al Azhar di Mesir.
Karena PERMI menjadi partai politik dan PSII pun suatu partai politik, maka Rasuna Said yang menjadi anggota dari kedua partai itu. terkena disiplin PSII yang sejak Kongres pada tahun 1921 telah melarang keanggotaan rangkap dan partai politik. Disiplin itu dipatuhi oleh Rasuna Said dengan menetapkan pilihannya pada PERMI. Dengan demikian ia keluar dari PSII dan tetap menjadi anggota PERMI.
Didalam PERMI kegiatan Rasuna amat menonjol, demikian pula ketangkasannya terpuji. Ia memberikan kursus-kursus, antara lain pelajaran berpidato dan berdebat sebagai latihan ketajaman pikiran. Dimana-mana ia memberikan ceramah untuk para anggota PERMI dan berpidato dimuka umum membentangkan azas dan tujuan partainya, yaitu: Kebangsaan (Nasionalisme) yang berjiwa Islam, dan berhaluan non-koperasi untuk mencapai Indonesia Medeka
Ia terkenal sebagai ahli pidato (Orator) dengan semangatnya yang berkobar-kobar. Bung Karno dan Bung Hatta dikenalnya dengan surat menyurat dan dari kedua pemimpin besar itu ia merasa pula mendapat bimbingan dalam perjuangannya.
Nama Rasuna said makin terkenal dan meningkat tenar bersama dengan nama partainya, PERMI, sampai dipelosok-pelosok Sumatera Barat. Usahanya dalam pendidikan telah menyebabkan rakyat dipedesaan mengenal PERMI dengan Rasuna Said nya. Usaha pendidikan yang dilaksanakan atas prakarsa dan oleh Rasuna Said antara lain :
1. Kursus Pembrantasan Buta Huruf dengan nama Sekolah ”Menyesal”,
2. Membuka Sekolah Thawalib Rendah di Padang dan mengajar di ”Sekolah Thawalib Puteri”.
3. ”Kursus Puteri” yang dipimpin oleh Rasuna Said disamping ia mengajar pada ”Kursus Normal”, kedua-duanya di Bukit Tinggi. Dimana sekaligus digembleng kader-kader partai PERMI.
PERM1 berkembang cepat. Di seluruh Sumatera Barat berdiri cabang-cabangnya, bahkan sampai di Tapanuli, Bengkulu, Palembang dan Lampung. Bersama dengan berkembangnya PERMI, kegiatan, kepandaian, pengaruh Rasuna Said dikalangan rakyat menjadi bertambah besar. Ha! ini menarik perhatian Polisi Urusan Politik Hindia Belanda (PID) = Politike Inlichtingen Dienst. Pada tiap-tiap rapat umum PERMI dan Iain-lain partai tentulah dihadiri oleh wakil PID. Kalau ada pidato yang dianggapnya terlalu keras yang dapat dianggapnya melanggar ketentraman umum, maka pidato itu diketok, pembicara diperingatkan. Hal seperti tersebut terjadi berkali-kali pada waktu Rasuna Said berpidato hingga akhirnya pada waktu ia berpidato di rapat umum PERMI di Payakumbuh dalam tahun 1932, sedang semangatnya menyala-nyala, ia diperingatkan, bahkan akhirnya dilarang meneruskan pidatonya. Kemudian ia ditangkap, ditahan dalam penjara, akhirnya diajukan ke muka Pengadilan Kolonial. Ia dijatuhi hukuman 1 tahun 2 bulan dengan pengasingan ke Semarang Jawa Tengah. Di tempat pengasingannya itu ia disimpan di penjara Wanita Bulu, dalam kota Semarang. Di dalam penjara yang sama itu wanita pemimpin terkemuka, Surastri Karma (S.K) Trimurti, bekas Menteri Perburuhan R.I (sekarang sarjana ekonomi) berkali-kali dijebloskan karena tulisan-tulisannya yang tajam yang dianggap oleh penguasa menghasut rakyat menentang penjajah. Tuduhan yang sama itu pulalah yang membawa Rasuna Said masuk penjara di Bulu. Semarang itu.
Dimasukan penjara selama 1 tahun 2 bulan tidak menjadikan luntur semangat Rasuna Said. Keberaniannya tidak surut. Setelah selesai menjalani hukuman ia pulang ke Sumatera Barat dan tinggal di Padang. Kemauannya masih tetap keras untuk meneruskan perjuangan, khususnya didalam PERMI. Tetapi selama ia didalam penjara, Pemerintah Hindia Belanda terus mengobrak-abrik PERMI. Para pemimpin utamanya, trio: Muchtar Luthfi, Jalaluddin Thaib dan Ilyas Yakub, ketiga-tiganya keluaran Universitas AI Azhar di Mesir dan pendiri “Sumatra Thawalib” ditangkap pada tanggal 11 Juli 1933, kemudian dalam tahun 1934 mereka dibuang ke Digul, Irian.
Kenyataan tersebut amat memilukan hati Rasuna Said, namun ia tidak tinggai termenung dalam kepiluannya. Ia segera mengisi waktunya dengan belajar. Meskipun ia telah berusia 23 tahun, ia masih menuntut pelajaran di “Islamic College” yang dipimpin oleh Muchtar Yahya (sekarang Kyai Haji, Pensiunan Dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta) dengan penasehat almarhum Mr. Dr. Kusumah Atmaja, Jaksa Agung RI yang pertama. Dalam hal menuntut ilmu, Rasuna Said berpegang teguh pada ajaran Islam. Menuntut ilmu tidak mengenal umur dan jarak jauhnya tempat ilmu didapat.
“Islamic College” memang didirikan oleh Dewan Pengajaran PERMI pada tahun 1931. Selain memberikan pengetahuan dan pendidikan guru agama Islam, College itu memberikan pula pendidikan untuk menjadi pemimpin (PERMI). Lama pelajarannya 4 tahun. Dengan menggunakan kesempatan belajar itu, Rasuna Said berhasil mengisi waktunya dengan bermanfaat. Ia terpilih sebagai pemimpin redaksi majalah ”Raya” yang diterbitkan oleh para murid Islamic College. Pena Rasuan Said terkenal tajam menjelaskan keberaniannya yang menyala-nyala hingga majalah itu mampu membawakan cita-cita pendidikan sosial dan politik.
Kegiatan Rasuna Said dalam PERMI tidak berkurang, namun tindakan pemerintah Hindia Belanda terhadap partai itu makin kejam dengan menjalankan intimidasi kepada masa pengikut PERMI. Oleh karena itu rakyat anggota PERMI dilanda kebingungan dan ketakutan. Maka tertutuplah jalan bagi PERMI untuk bergerak. Gerak langkahnya amat dibatasi oleh berbagai peraturan dan larangan sehingga praktis PERMI tidak dapat berkutik. Dalam pada itu tindakan terhadap pemimpinnya makin kejam. Akhirnya tidak ada jalan lain bagi PERMI kecuali membubarkan diri. Pembubaran PERMI itu terjadi pada tanggal 28 Oktober 1937.
Bubarnya PERMI merupakan pil yang paling pahit yang harus ditelan Rasuna Said. Ia tidak setuju dengan pembubaran partainya, tetapi apakah daya seorang diri dan seorang wanita ? Hatinya amat masgul dan kemasgulanya itu kemudian dibawanya meninggalkan Sumatera Barat, tanah kelahirannya yang penuh kenangan duka dan suka. la pindah ke kota Medan, Sumatera Utara dan disanalah ia meneruskan perjuangan dengan cara yang berlainan, tetapi sama tujuan, yaitu Kemerdekaan Indonesia.
Di Medan ia merintis jalannya sendiri, yaitu melaksanakan rencana yang meliputi 2 bidang, yaitu:
Pendidikan dengan mendirikan ”Perguruan Puteri”, dan Jurnalistik dengan menerbitkan majalah ”Menara Puteri”.
Peranannya yang menonjol ialah dibidang jurnalistik dengan majalah ”Menara Puteri” tersebut. Majalah itu membawakan suara perjuangan kaum wanita yaitu: emansipasi (persamaan hak) bagi kaum wanita dengan dasar pembaharuan Islam, bertujuan Kemerdekaan bangsa dan tanah air Indonesia. Majalah itu terkenal dengan semboyan: ”Ini dadaku, mana dadamu”. Semboyan itu mempunyai arti ganda, baik untuk para pembacanya maupun untuk pihak manapun juga, termasuk pihak penguasa. Semboyan itu mengajak berbicara dan berbuat secara terang-terangan, blak-blakan, namun jujur dan adil.
Rasuna Said tinggal dan berjuang di Kota Medan hingga Pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut pada Jepang. Pada permulaan jaman lepang ia kembali ke Padang. Disana pun ia tidak berhenti berjuang.
Bersama dengan Chotib Sulaeman ia mendirikan ”Pemuda Nipon Raya” untuk mempersatukan pemuda-pemuda di Sumatera Barat. Pada lahirnya perkumpulan itu bekerjasama dengan Pemerintah Jepang, namun hakekatnya membentuk kader-kader perjuangan Kemerdekaan. Cita-cita yang hakiki itu kadang-kadang tidak dapat disembunyikan oleh para pemimpin pemuda itu, khususnya Rasuna Said. Pada suatu saat ia berhadapan dengan pembesar Jepang, Mishimoto. Kepada pembesar itu Rasuna Said mengungkapkan ”ini dadaku” dengan mengatakan, ”Boleh tuan menyebut Asia Raya, karena tuan menang (perang), tetapi Indonesia Raya pasti ada di sini”. Berkata demikian ia menunjuk pada dadanya sendiri, maksudnya di ”dalam dadanya”, dalam cita-citanya yang tidak boleh ditawar-tawarkan lagi berkobar cita-cita kebesaran tanah air dan bangsa Indonesia.
Setelah Jepang mengetahui cita-cita yang sebenarnya dari ”Pemuda Nipon Raya”, maka perkumpulan itu dibubarkan. Para pemimpinnya ditangkap tetapi kemudian dibebaskan karena pengaruh mereka sungguh besar di kalangan rakyat dan pemuda. Terus menyekap pemimpin-pemimpin itu, berarti Jepang menghadapi resiko bertentangan dengan rakyat. Dan resiko itu mereka hindari.
Pemimpin-pemimpin rakyat di Sumatera Barat yang tak luntur keyakinannya, terus berjuang, meskipun jaman Jepang banyak ranjau dan penuh bahaya. Setelah di Jawa dibentuk Heiho dan PETA (Pembela Tanah Air), maka para pemimpin rakyat di Sumatera Barat mengusulkan kepada pemerintah Jepang untuk membentuk Laskar Rakyat yang disebut ”Gya Gun”.
Usui tersebut diterima. Gya Gun dibentuk dan sebagai pelaksanaannya ditunjuk Chotib Sulaeman, sedang Rasuna Said duduk memimpin bagian puteri dengan nama: ”Tubuh Ibu Pusat Laskar Rakyat”. Rasuna Said giat pula didalam propaganda, khususnya dengan tujuan membentuk kader perjuangan bangsa. Dengan kader-kader yang sudah mendapat gemblengan itu, kemudian menjadi tokoh-tokoh dalam Bidang Keamanan Rakyat (TKR), lalu menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) dan akhirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada tanggal 13 Agustus 1945 Rasuna Said bersama-sama dengan tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin lainnya membentuk ”Komite Nasional Indonesia” (KNI). Sumatera Barat sebagai Badan yang pertama-tama didirikan di Sumatera Barat untuk memantapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sudah di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta.
Rasuna Said giat sekali dan melebarkan sayap KNI Sumatera Barat dengan membentuk KNI Kawedanan dan Nagari. Untuk itu ia mengunjungi daerah-daerah untuk menggembleng rakyat.
Pada waktu dibentuk ”Panitya Pembentukan Dewan Perwakilan Nagari” yang bersama-sama Wali Nagari (Kepala Daerah) jasanya cukup besar dalam pembentukan Dewan Perwakilan Nagari itu.
Kelanjutan dari pada usaha tersebut, pada tanggal 17 April 1946 dibentuk Dewan Perwakilan Sumatera (DPS) dan Rasuna Said terpilih mewakili daerah Sumatera Barat, bersama-sama dengan Iain-lain tokoh seluruh Sumatera.
Karir Rasuna Said dalam politik terus meningkat. Pada sidang Plen. KNI Sumatera Barat yang ke 8 pada tanggal 4 – 6 Januari 1947 ia terpilih menjadi salah seorang dari 15 orang anggota yang mewakili Sumatera untuk duduk di dalam KNI Pusat di Jakarta. Dari 15 orang itu akhirnya 12 orang yang diangkat menjadi anggota KNI Pusat 11 orang lainnya dari Sumatera Barat mengikuti sidang KNIP di Malang dalam tahun 1847, suatu sidang yang bersejarah karena menetapkan (meratifikasi) Perjanjian Linggarjati.
Selanjutnya didalam segala hal mengenai Sumatera Barat, Rasuna Said tidak pernah ditinggalkan. Atas anjuran Bung Hatta dibentulah ”Front Pertahanan Nasional” (FPN) yang diketuai oleh Hamka. FPN itu beranggotakan seluruh kekuatan yang ada didalam masyarakat, baik parta-partai politik, maupun organisasi massa serta kekuatan sosial ekonomi. Dalam kegiatan ini Rasuna Said duduk pula sebagai anggota pengurus seksi wanita.
Kemudian Rasuna Said diangkat menjadi anggota Badan Pekerja (BP) KNIP yang berkedudukan di Yogyakarta. Dengan terbentuknya Republik In­donesia Serikat (RIS) sebagai hasil Konferensi Meja Bundar, Rasuna Said ditunjuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia Serikat.
Pada tanggal 17 Agustus terbentuklah negara Kesatuan Republik In­donesia. Dalam DPR sementara Rasuna Said ditunjuk menjadi anggotanya. Kemudian pada tanggal 11 Juli 1957 ia ditunjuk menjadi anggota Dewan Nasional dan setelah Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 ia ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Selama di Jawa ia pun giat dalam PERWARI dan pernah diangkat menjadi ketua Panitia Penyelenggara Kongres Nasional Perdamaian.
Dimuka telah diterangkan, bahwa Rasuna Said selalu bersikap terbuka, terus terang, ini dadaku, mana dadamu. Sikapnya yang terus terang dan konsekuen tidak pernah dilepaskan. Dalam menghadapi pemberontak PRRI di Sumatera Barat, ia pun berterus terang kepada Akhmad Husein, pemimpin tertinggi PRRI dengan mengikatkannya, agar jangan memberontak membawa-bawa rakyat Sumatera Barat.
Rasuna Said sejak masa gadisnya berjuang terus, tak mengenai berhenti, kecuali diistirahatkan di dalam penjara oleh penguasa Kolonial. Seluruh perhatiannya, kepandaiannya, kesanggupannya, tenaga dan pikirannya ditumpahkan untuk perjuangan. Dapat dikatakan hampir-hampir tidak ada waktu memikirkan keperluan pribadinya.
Tidak banyak cerita tentang kehidupan rumah tangganya, kecuali ia kawin dengan pemuda pilihannya, yaitu Dusky Samad dan dari perkawinan itu ia memperoleh seorang putri, bernama Auda yang sekarang Nyonya Auda Zaskhya, tinggal bersama suaminya di Jakarta. Keluarga Zaskhya itu telah dikarunian beberapa orang anak.
,”H. Rasuna Said benar-benar tidak pernah berhenti dari perjuangan sehingga rupanya kurang merasakan, bahwa ia sedang mengandung penyakit yang membahayakan, yaitu penyakit kanker. Karena penyakit itulah ia meninggal dunia pada tanggal 2 November 1965. Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pada saat meninggal dunia, almarhumah adalah Anggota Dewan Pertimbangan Agung.
Pemerintah R.I menghargai jasa-jasanya. Dengan S.K. Presiden R.I No. 084/ TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974 almarhumah Hajjah Rasuna Said dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.