Teuku Nyak Arif

Teuku Nyak Arif

Namanya telah menunjukkan, bahwa Teuku Nyak Arif seorang bangsawan Aceh. la dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1899 di Ulee-lee, Banda Aceh. Ayahnya Teuku Nyak Banta yang nama lengkapnya Teuku Sri Imeum Nyak Banta, Panglima (kepala Daerah) Sagi XXVI Mukim. Ibunya bernama Cut Nyak Reyeuh, bangsawan daerah Ulee-lee pula. Teuku Nyak Arif adalah anak ketigadari lima orang bersaudara sekandung. 2 laki-laki dan 3 perempuan. Saudara tirinya yang dilahirkan dari 2 orang isteri ayahnya yang lain, 3 perempuan dan 2 laki-laki.
Teuku Nyak Arif, setelah menamatkan Sekolah Dasar di Banda Aceh pada tahun 1908, meneruskan ke Sekolah guru (Kweek School) di Bukit Tinggi jurusan pangrehpraja, kemudian melanjutkan ke OSVIA(Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren = Sekolah Calon Pangrehpraja) di Banten, tamat tahun 1915. la memang disiapkan sebagai pegawai pamongpraja untuk menggantikan ayahnya sebagai Panglima Sagi XXVI. Sebenarnya sejak 1911 ia sudah mewarisi kedudukan itu, namun masih terlalu muda, ayahnyalah yang mewakilinya hingga 1919.
Sejak kecil Nyak Arif sudah tampak cerdas dan berwatak berani dan keras. Ia membenci Belanda karena menganggapnya bangsa itu penjajah negerinya yang membawa kesengsaraan rakyat Aceh. Sejak kecil ia sudah mengenal sumpah sakti orang Aceh. “Umat Islam boleh mengalah sementara, tetapi hanya sementara saja, dan pada waktunya umat Islam harus melawan kembali”. Kebenciannya kepada Belanda itu menyebabkan ia bersikap melawan. Ia tidak mau menerima tunjangan f 10,- setiap bulan yang disediakan pemerintah untuk anak-anak Aceh yang belajar di luar Aceh. Di sekolahan ia tidak mau tunduk kepada perintah gurunya, misaJnya untuk menghapus tulisan di papan tulis dan sebagainya.
Kegemarannya, bermain sepak bola dan menjadi bintang lapangan, baik di Banda Aceh maupun kemudian di Bukit Tinggi. Pada tahun 1935 ia dipilih menjadi ketua dari Persatuan sepak bola Aceh (Acehse Voetbalbond). Keahlianya di dalam kesenian, sebagai pemain bola.
Teuku Nyak Arief kawin dengan puteri Teuku Maharaja, Kepala Daerah di Lhok Seumawe. Perkawinan itu oleh mertuanya akan dirayakan secara besar-besaran seperti lazimnyadi kalangan bangsawan Aceh, namun Nyak Arif menolak. la minta perkawinannya dilaksanakan dengan sederhana dan sang mertuapun terpaksa menumtinya. Perkawinan itu tidak berlangsung lama. Suami Isteri bercerai sebelum dikaruniai anak. Kemudian Nyak Arif kawin dengan pemudi Jauhari, berpendidikan Mulo (SMP Belanda) anak mantri polisi Yazid, asal Minangkabau. Suami Isteri hidup teratur dengan disiplin keluarga yang mampu membawanya ke jenjang kebahagiaan. Mereka dikaruniai 3 orang anak, 2 laki-laki dan yang bungsu wanita. Anaknya mula-mula disekolahkan pada sekolah Rendah Belanda (ELS), namun kemudian 2 orang puteranya dipindahkan ke Taman Siswa, dan yang bungsu bersekolah di Muhammadiyah. Tentang sekolah anak-anaknya itu sudah memberikan petunjuk, bahwa Teuku Nyak Arif seorang yang berpandangan maju dan memiliki sifat-sifat sebagai nasionalis.
Nyak Arif memang seorang nasionalis Indonesia yang mengikuti faham nasionalisme Nederlandsch Indische Partij (NIP) pimpinan trio Dr. E.F.E. Douwes Dekker (Setyabudi Danudiria), Dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro). Pada tahun 1919 ia menjadi anggota NIP, Bahkan ketua cabang Banda Aceh. Sebagai seorang Nasionalis ia selalu memihak kepada rakyat, mengikuti jejak pengarang mashur Max Havelaar, maka di kalangan kaum terpelajar ia mendapat nama panggilan Max. Nama ini terkenal di kalangan NIP dan Aceh Vereninging (Syarekat Aceh) yang diketuainya dan bergerak di bidang sosial.
Sebagai Panglima atau Kepala Daerah Sagi XXVI sikapnya tegas dan keras. Ia senantiasa menjalankan peraturan Pemerintah dengan kebijaksanaan dan memperhatikan kepentingan rakyat, dalam arti memberikan keringanan-keringanan kepada beban yang ditanggung oleh masyarakat. Sebagai Panglima Sagi XXVI ia bertempat tinggal di Lam Nyong. Ia terkenal giat di dalam masyarakat. Berbagai gerakan ia ikuti kecuali Muhammadiyah dan Taman Siswa, ia lebih dulu membantu berdirinya Jong Islamietan Bond (JIB) di Banda Aceh dan Jong Sumatranen Bond (Pemuda Sumatra). Kebijaksanaannya didukung oleh kecakapannya mempertemukan dan merukunkan golongan muda dan tua, dan golongan ulama dan bangsawan. Yang terakhir ini perbedaan kaum ulama dan kaum bangsawan, merupakan ciri khas masyarakat Aceh. Dan Nyak Arif berhasil mengatasi kesulitan itu hingga tercapai persesuaian yang laras, khususnya dalam mengabdi kepada masyarakat dan agama.
Di Aceh Teuku Nyak Arif tercatat sebagai orang yang terkemuka, mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat, kecakapannya sebagai orang keluaran OSVIA tampak menonjol, terutama didukung oleh keberaniaannya menghadapi pembesar Belanda. Oleh karena itu pada tanggal 16 Mei 1927 atas usul Residen Aceh ia diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Disamping itu pekerjaannya sebagai Panglima Sagi XXVI tetap dijalankan dengan baik. Sebagai anggota VOLKSRAAD ia lebih banyak tinggal di Aceh daripada di Jakarta.
Di sidang-sidang Volksraad ia selalu menunjukkan kecakapan dan keberaniannya terutama dalam mengeritik kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda. Lebih khusus lagi ketangkasannya menghadapi orang-orang Belanda anggota-anggota Volksraad yang reaksioner. Seringkali namaTeuku Nyak Arif muncul dalam laporan-laporan perdebatan di Volksraad di dalam sural kabar. Ia terpuji sebagai, ”anak Aceh yang berani dan lurus” seperti ditulis dalam laporan harian Bintang Timur. Ia mampu menandingi jago-jago bicara Belanda terkenal seperti Mr. Drs. Fruin, Lighart dan Zentgraaf, wartawan ulung yang amat terkenal pada zamannya. Ucapannya yang dihadapkan kepada lawan dan kepada pemerintah antara lain, ”Orang yang sopan tidak akan mencoba menekan hak rakyat.”
Pada tanggal 27 Januari 1930 di dalam Volksraad diumumkan oleh Muhammad Husni Thamrin, berdirinya fraksi nasional sebagai reaksi tindakan kejam Belanda terhadap Pergerakan Nasional PNI (Partai Nasional Indonesia) dengan penangkapan-penangkapan pimpinan-pimpinannya dan sebagai kelompok yang sanggup menandingi golongan Belanda yang terhimpun dalam Vaderlandsche Club (Cinta tanah air Belanda). Fraksi Nasional itu diketuai oleh Moh. Husni Thamrin dengan anggota-anggota, Kusumo Utoyo, Dwijosewojo, Datuk Kayo, Muchtar, Teuku Nyak Arif, Suangkupon, Pangeran Ali dan R.P. Suroso.
Di dalam fraksi nasional itupun Nyak Arif cukup menonjol. Dalam sidang Volksraad tanggal 18 Juni 1928 ia menjelaskan pendiriannya tentang Persatuan Indonesia, antara lain sebagai berikut :
”Jika kita membicarakan keadaan politik di negeri haruslah memakai kata Indonesia. Ada juga pemimpin Indonesia segan memakai kata Indonesia itu. Kata Indonesia mengandung suatu kebangsaan dan bukan sesuatu yang hampa dan impian. Dasar pembentukan kebangsaan itu adalah bahasa, kesenian dan hukum tanah. Dasar-dasar itu harus dikembangkan ke arah kesatuan kebangsaan, sebagai salah satu syarat untuk mencapai kemerdekaan kenegaraan (Staatkundige vrijheid) ….
”Wallah, Billah, Tallah. Saya berjanji setia kepada tanah air, bangsa dan agamadan tidak menghianati perjuangan.” Semua yang hadir mengikuti sumpah Nyak Arif termasuk Teuku Daud Beureuh, Teuku Cut Hasan, Teuku Syekh Ibrahim Lamnga, Teuku H. Abdullah Indrapuri dan Teuku H. Abdullah Lam U. Demikianlah gambaran kegiatan dan wibawa Teuku Nyak Arif di dalam masyarakat luas di Aceh.
Pada akhir 1941 Jepang menyerbu Malaka. Penang jatuh pada 19 Desember 1941, Ipoh pada 28 Desember dan pada 11 Januari 1942 Kualalumpur dan Singapura jatuh pula. Kemudian pada 22 Januari 1942 Sabang di boom dengan hebat dan kapal Belanda Hr. Mr. Wegu ditenggelamkan di Pelabuhan Ule-Ule. Keadaan menjepit menghimpit Belanda dan rakyat Aceh mulai bangkit bersiap-siap menjelang datangnya jepang.
Pemberontakan terjadi di Seubineum. Orang-orang Eropa di Banda Aceh diungsikan ke Medan. kontrolir Tinggelman dibunuh. Kepala Jawatan Kereta Api van Sperling dibunuh. Hubungan telpon dengan Medan diputuskan. Rel-rel di Indrapuri dibongkar. Di Banda Aceh diumumkan jam malam.
Pada tahun 1939 berdiri Persatuan Ulama Aceh, disingkat PUS A yang diketuai oleh Teuku Daud Beureuh. Pemuda-pemuda PUSA mengadakan hubungan dengan Jepang di Malaya sejak 1940 sampai 1942. Kemudian Jepang mempergunakan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh dengan segala jalan. Teuku Nyak Arif prihatin melihat langkah-langkah PUSA dan menganggapnya sebagai suatu kemunduran bagi Pergerakan Nasional.
Keadaan makin lama makin memuncak. Pada 8 Maret 1942 Residen Aceh mengadakan pertemuan politik dengan Teuku Muhmud dan Teuku Nyak Arif. Permintaan Nyak Arif agar Pemerintah diserahkan kepadany a ditolak oleh Residen. Pertemuan lanjutan pada 10 dan 11 Maret 1942 diundang 9 pemimpin-pemimpin Aceh, namun Nyak Arif tidak hadir. Ternyata 8 orang pemimpin yang hadir semuanya ditangkap. Rumah Nyak Arif di Lam Nyong diserbu, namun Nyak Arif tak diketemukan dan keluarganya sempat meninggalkan rumahnya sebelum diserbu Belanda. Kolonel Gozenson panglima milker di Aceh berusaha sungguh-sungguh untuk menangkap Nyak Arif, tetapi tidak berhasil. Pemimpin-pemimpin lainnya, Cut Hasan Mauraxa, Hanafiah dan Raja Abdullah berhasil ditangkap.
Pada 12 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Sabang, kemudian Mayor Jenderal Overakker dan Kolonel Gazenson menyerah kepada Jepang pada 28 Maret 1942. Sementara itu rakyat telah membentuk ”Komite Pemerintah sebelum meninggalkan mimbar ini, sekali lagi saya menunjukkan kepada bangsaku yang terhormat pada kenyataan, bahwa mereka dalam batas-batas hukum secara mutlak dapat berjalan bersama untuk mewujudkan cita-cita, dengan melalui persatuan Indonesia mencapai kemerdekaan nasional.”
Dalam tahun 1931 berakhirlah keanggotaan Teuku Nyak Arif dalam Volksraad. la kembali ke pekerjaannya sekaligus giat dalam perjuangan rakyat di Aceh. Berbagai langkah dan tindakannya senantiasa menuju, kepentingan dan keringanan rakyat bahwa pembelaan terhadap nasib rakyat kecil. Sekalipun kejadian tidak di wilayah kekuasaannya, namun Nyak Arif tidak segan-segan bertindak. Dialah satu-satunya Ulebalang (Panglima) yang amat disegani baik oleh rekan-rekannya maupun Belanda, pajak nipah yang hendak dikenakan di daerah bukan kekuasaan Nyak Arif dibatalkan karena tuntutan Teuku Nyak Arif. Kontrolir, polisi dipindahkan kerena tindakannya yang sewenang-wenang dituntut oleh Nyak Arif.
Di dalam gerakan agama ia terkenal dengan prakarsanya menentang Ordonasi mencatat perkawinan (sipil) karena hal itu bertentangan dengan agama Islam dan tidak ada manfaatnya dijalankan di Aceh yang penduduknya hampir semuanya beragama Islam. Ia mendukung Muhammadiyah, termasuk Hizbul Wathan dan pemuda Muhammadiyah. Ia menyokong Taman Siswa dengan terang-terangan sebagai donatur tetap. Pada waktu Taman Siswa menentang Ordonansi Sekolah Liar, Teuku Nyak Arif membantu aksi perlawanan Taman Siswa dengan gigih. Pendeknya hampir semua kegiatan masyarakat yang bersifat sosialis politis ekonomi untuk kepentingan nasional, pastilah disokong oleh Nyak Arif atau dialah yang justu memprakarsainya. Berdirinya Beasiswa Aceh diprakarsai dan diketuai olehnya berhasil mengirimkan siswa-siswa ke Perguruan Tinggi.
Pada saat Belanda dalam keadaan lemah karena menghadapi serbuan Hitler dalam Perang Dunia II, Nyak Arif dengan cekatan menggunakan kesempatan yang baik itu. Pada pertemuan pemimpin-pemimpin masyarakat, agama dan partai-partai politik, pada waktu memperingati wafatnya Dr. Sutomo. Teuku Nyak Arif berbicara dengan berkobar-kobar menanam semangat kebangsaan dan tahan uji dan sanggup mencapai kemerdekaan. Pada akhir pidatonya ia mengajak semua yang hadir bersumpah, mengikuti sumpah yang diucapkannya. Ia bersumpah oleh Haji Abdullah Lam U, mengucapkan Daerah Aceh” dengan Teuku Nyak Arif sebagai ketuanya.
Jepang mengatur pemerintahan di Indonesia dengan pembagian yang berbeda-beda dengan Belanda. Sumatera dan Kalimantan digabungkan dengan Malaya, dikuasai oleh tentara XXV. Jawa dikuasai oleh tentara XVI dan Indo­nesia Timur dikuasai oleh Angkatan Laut. Sumatera dibagi menjadi 9 karesidenan, masing-masing dikepalai oleh Residen Jepang (Cookang). Di Aceh Jepang menggunakan Kaum Ulebalag dalam pemerintahan. Hal ini menimbulkan kekecewaan untuk bidang keagamaan.
Teuku Nyak Arif menempuh jalan kerjasama dengan Jepang. la diangkat menjadi penasehat pemerintahan militer Jepang. Sebenamya Nyak Arif tidak menaruh kepercayaannya kepada Jepang. Ucapannya yang terkenal ialah: Kita usir anjing, datang babi, Belanda pergi datang Jepang, demikianlah maksud ucapan itu. Dua-duanya sama-sama busuknya.
Seperti pula terjadi di semua tempat, di Aceh pun Jepang bertindak kejam. Rakyat ditindas dan semuanya dikerahkan untuk kemenangan perangnya. Pangan dan sandang amat kurang. Maka terjadilah pada tahun 1942 pemberontakan yang dipimpin oleh Teuku Abdul Jalil di Cot Pliing. Jepang menyerbu pemberontakan yang sedang menjalankan solat subuh, namun serangan Jepang itu mengalami perlawanan yang sengit sekali. Jepang mundur, kemudian menyerang untuk kedua kalinya yang mengalami nasib yang sama. Baru yang ketiga kalinya serangan Jepang berhasil. Mesjid dibakar, Teuku Jalil dapat meloloskan diri, tetapi akhirnya pun terbunuh di waktu ia sedang bersembayang.
Pemerintah Jepang mengadakan Dewan Perwakilan Rakyat yang disebut ”Aceh Syiu Sangikai.” Nyak Arif diundang ke Tokyo bersama 14 orang pimpinan lainnya dari seluruh Sumatera. Pada waktu mau dihadapkan kepada Tenno Heika, Nyak Arif dan Teuku Hasan menolak menjalankan Saekere, memberi hormat dengan membungkuk seperti menyembah. Akhirnya disetujui hanya dengan menganggukkan kepala saja di muka Kaisar Jepang.
Sepulang dari Jepang, 2 orang wakil Aceh tersebut disuruh berpidato di muka Mesjid Raya Banda Aceh. Pidato mereka memuji kekuatan Jepang namun banyak sindiran, bahkan ejekan. Di lain kesempatan Teuku Hasan mengatakan Jepang itu di negerinya baik-baik, sedang di Indonesia mereka jahat dan jelek. Oleh karena itu ia ditangkap dan kemudian dibunuh.
Di zaman penuh kesulitan, rakyat banyak sekali mengalami penderitaan dan perlakuan tidak adil. Tidak sedikit orang yang mengadukan nasibnya kepada Teuku Nyak Arif dan ia pun sering kali banyak bertindak. Gedung Yatim Piatu Muhammadiyah akan digunakan asrama tentara Jepang. Atas bantuan Nyak Arif maksud Jepang itu dapat dicegah. Ia banyak sekali melemparkan kritik kepada tindakan Kenpetai dan Residen pula. Nyak Arif memang disegani oleh Jepang. Meskipun ia keras dan banyak benlrok dengan pejabat-pejabat Jepang sipil dan militer, namun pemerintah Jepang mau tidak mau harus memperhitungkan dia sebagai pimpinan rakyat Aceh yang besar pengaruhnya.
Pada tahun 1944 Nyak Arif dipilih menjadi Wakil Ketua ”Sumatera Chuo Sangi In” (Dewan Perwakilan Rakyat seluruh Sumatera) yang diketuai oleh Moh. Syafei. Ia berpendirian kerja sama dengan Jepang harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Dalam pidatonya pada bulan Maret 1945 antara lain ia katakan :
” Sumatera Chuo Sangi In akan membawa kita bersama secepat
mungkin kearah yang kita ingini hanyalah dengan penghargaan dan bekerja sama dari seluruh penduduk pulau Sumatera ini. Persatuan lahir bathin yang kokoh dengan mempunyai tujuan tertentu, yaitu ’Indo­nesia Merdeka’ haruslah menjadi tujuan hidup kita bersama. Kemerdekaan akan tercapai dengan berbagai-bagai pengorbanan, pengorbanan dan pertahanan yang sempurna hanya akan dilaksanakan oleh rakyat yang segar dan sehat….”
Kekalahan Jepang dalam perang Dunia II disampaikan oleh Chokang Aceh S. Ino Ino kepada pemimpin-pemimpin Aceh, Teuku Nyak Arif, Panglima Polim dan Teuku Daud Beureuh, katanya: ”Jepang telah berdamai dengan Sekutu.”
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terdengar di Aceh yang disampaikan oleh 2 orang pemuda kepada Teuku Nyak Arif, kemudian didapat berita-berita Radio Gram dari Adinegoro di Bukit Tinggi. Pemimpin-pemimpin rakyat mengadakan pertemuan dan membentuk ”Komite Nasional” (KNI). Pada tanggal 28 Agustus 1945 Teuku Nyak Arif dipilih menjadi ketuanya. Pada tanggal 3 Oktober 1945 Teuku Nyak Arif diangkat oleh pemerintah RI menjadi residen Aceh.
Selanjutnya Teuku Nyak Arif diliputi oleh berbagi kegiatan, baik soal-soal sipil maupun soal-soal keamanan / ketentaraan. Mula-mula dibentuk Angkatan Pemuda Indonesia (API) diketuai oleh Syamaun Gaharu yang kemudian menjadi Panglima divisi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkatKolonel. Mula-mula Jepang menghalang-halangi API, namun karena ketegasan dan keberanian residen Teuku Nyak Arif yang didukung oleh kaum pemuda dan rakyat, maka akhirnya dapat dilaksanakan penyerahan senjata oleh Syucokan kepada residen RI. Senjata itu kemudian dibagikan kepada TKR dan Polisi Istimewa. PUSA tidak diberi senjata karena bukan Badan resmi.
Dalam keadaan peralihan yang serba berat, maka residen Nyak Arif lebih banyak menyerupai pimpinan ketentaraan. Oleh karenanya tugas sipilnya banyak diserahkan kepada wakil residen. Teuku Nyak Arif banyak mengadakan perjalanan keliling mengatur ketentaraan dan khususnya keamanan. Karena jasanya itu ia pada tanggal 17 Januari 1946 ia diangkat menjadi Jenderal Mayor Tituler.
Revolusi masih berjalan terus. Setiap waktu dapat terjadi perobahan yang di luar perhitungan. Di Aceh bergolaklah kembali persaingan antara kaum Ulebalang dan kaum ulama. Laskar yang terbesar di Aceh adalah Mujahidin dan Pesindo. Mujahiddin yang di bawah pengarauh kaum agama mempunyai ambisi akan menggantikan residen Nyak Arif. Maksud itu mendapat dukungan dari Tentara Perlawanan Rakyat (TPR).
Waktu itu Teuku Nyak Arif sedang beristirahat karena penyakit gulanya kambuh. Pimpinan TKR sanggup menghadapi TPR dan Mujahiddin, tetapi Nyak Arif tidak memberikan izin, katanya: ” Biarlah saya serahkan jabatan ini, asal tidak terjadi pertumpahan darah seperti di Pidie.” Maka dengan secara damai pangkatnya Jenderal Mayor diambil alih oleh Hasan Al Mujahid dan pangkat Kolonel Syamaun Gahara diambil alih oleh Husen Yusuf. Demikianlah dikisahkan dalam ”Pahlawan Nasional May. Jen. Teuku Nyak Arif,” Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Biografi/Drs. Mardanas Safwan, Pahlawan Nasional, 1976.
Nyak Arif ditangkap secara baik-baik dan terhormat, dibawa dengan kendaraan sedan dan dikawal oleh 2 orang anggota TPR yang berpakaian hitam dan memakai topeng. Para pemimpin terkemuka di Lam Nyong mengusulkan agar Teuku Nyak Arif diistirahatkan di sana, tetapi Nyak Arif manolak karena khawatir rakyat Lam Nyong akan membelanya dengan kekerasan. Semua langkah dan pikiran ditetapkan untuk Nyak Arif selalu untuk menghindari pertempuran sesama kita dan untuk maksud itu ia ikhlas berkorban. Korbannya terutama tidak lain ialah kedudukan dan pangkat yang ia ikhlaskan untuk mencegah pertempuran yang akan berakibat parah untuk kesatuan dan persatuan rakyat, sebab revolusi belum selesai. Rakyat harus bersatu menghadapi segala kemungkinan.
Teuku Nyak Arif dibawa beristirahat di Takengon, sebulan kemudian keluarga diijinkan menjenguknya. Sementara itu penyakit gulanya semakin parah dan sebelum hayatnya berakhir ia berpesan kepada keluarganya: ”Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya.”
Teuku Nyak Arif, pemimpin rakyat yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negara dengan jasa-jasanya yang besar dan dengan keikhlasannya berkorban, pada tanggal 26 April 1946 wafat dengan tenang di Takengon, jenazahnya dikebumikan di makam keluarganya di Lam Nyong.
Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden No. 071/TK/Tahun 1974 tanggal 9 November 1974 menganugerahi Teuku Nyak Arif Gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.