LAKSDA TNI ANM. Josaphat Soedarso

LAKSDA TNI ANM. Josaphat Soedarso

Josaphat Soedarso lebih terkenal disebut Jos Sudarso dilahirkan pada tanggal 24 November 1925 di Pungkursari Salatiga. Kelahirannya merapakan hari gembira dan hari bersyukur bagi Bapak dan Ibu Sukarno, demikian nama ayah Josaphat Soedarso. Kegembiraan itu sudah selayaknya, karena satu tahun sebelum Jos lahir putera sulungnya yang bernama Suwarno telah meninggal dunia dalam umur 4 tahun. Dua tahun kemudian lahir pula adik Josaphat Soedarso bernama Soedargo. Hanya dua anak laki-laki itulah karunia Tuhan kepada keluarga Sukarno.
Josaphat Soedarso dilahirkan dilingkungan keluarga orang kebanyakan. Ayahnya bekerja sebagai seorang polisi dan hidup di sebuah rumah sederhana’ yang terbuat dari papan kayu. Alat-alat rumah tangganya termasuk tempat tidur Jos Soedarso pun sederhana pula. Dalam lingkungan hidup yang sederhana itulah Jos Soedarso merasa tenteram dan tenang jiwanya. la adalah seorang anak yang pendiam, berhati keras dan jujur. la tidak menyukai perbuatan curang. Dan ia suka menolong orang lain.
Mula-mula Jos bersekolah di Sekolah Dasar Swasta (HIS Partikelir) di Salatiga. Ia murid yang rajin dan tekun. biasa belajar sampai jauh malam. Jos Soedarso bukan anak yang teramat pandai, tetapi hanya sedang-sedang saja kepandaiannya, tetapi ia rajin, ulet bersungguh-sungguh dan suka bekerja keras.
Sejak Sekolah Dasar Jos Soedarso sudah gemar melukis. Kesenangan atau hobinya melukis tokoh Flash Gordon cerita fiktif rekaan Alex Raymond yang gemar bertualang ke planet-planet di Jagat raya. Hingga dewasa ia tetap gemar melukis. Sesudah menjadi perwira TNI Angkatan laut pun ia masih melukis.
Sewaktu duduk di kelas 6 HIS ia bersama adiknya memeluk agama Katolik. Kepada agamanya Jos patuh dan bersungguh-sungguh, oleh karena itu ayahnya pernah khawatir kalau-kalau anaknya menjadi pastor. Sang ayah ingin anaknya menjadi guru.
Jos Soedarso juga gemar olah raga, terutama kegiatan binaraga (body building). Ia suka sekali bergelantungan di gelang-gelang (ringen) sehingga badannya menjadi sehat dan walaupun pendek tetapi kekar. Yos meneruskan pelajarannya ke HIK (Sekolah Guru) di Muntilan. Dalam berlatih musik di sekolah Jos Soedarso memilih bermain biola, sesuai dengan pembawaannya yang pendiam dan perasaannya yang halus. Diantara kawan dekatnya adalah Drs. Frans Seda yang pernah duduk dalam pemerintahan dan pernah pula menjadi duta besar di Belgia.
Suatu keharusan para murid HIK tinggal di Asrama. di sana Jos Soedarso sering menerima surat dari adiknya yang rajin dijawabnya. Jawaban itu berisi hal-hal pelajaran berhitung. la membantu banyak terhadap kelemahan adiknya dalam hal pelajaran berhitung.
Jos Soedarso juga mempunyai watak yang diperlukan sebagai seorang pemimpin, yaitu rasa tanggung jawab. Setiap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. selalu dilaksanakan dengan rasa tanggung jawab.
Waktu pasukan Jepang berkuasa di Indonesia. Sekolah Guru di Muntilan di tutup. Untuk sementara waktu Jos Soedarso berhenti. kemudian masuk Sekolah Menengah pertama (SMP).
Karena sikapnya yang disiplin dan tertib, para guru tertarik kepadanya Jos Soedarso diangkat sebagai Ketua Umum Pelajar SMP. Kepercayaan ini tidak disia-siakan. Teman-temannya dipimpin untuk berlatih baris-berbaris, berkebun, bekerja bakti (Kinrohoshi) membantu kebersihan sekolah. SMP Salatiga pada waktu itu sungguh bersih. Jos Soedarso adalah seorang pemimpin yang cekatan. la tekun, berdisiplin, jujur dan bertanggung jawab.
Jos Soedarso tidak sampai menamatkan SMP di Salatiga. Empat bulan sebelum ujian akhir, ia keluar dari SMP dan memasuki Sekolah Pelayaran Tinggi di Semarang. Rupanya hatinya tertarik pada lautan, padahal Kota Salatiga itu terletak 60 km dari pantai.
Jos Soedarso termasuk siswa angkatan ketiga dari Koto Seezin Yoseisho atau Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang. Ia tinggal di asrama di Jurnatan, sekarang dipakai sebagai Kantor Polisi Seksi I Semarang. Sedangkan sekolahannya ada di Karangtempel. Setiap hari pagi, siang dan sore baik hujan lebat maupun panas ditimpa terik matahari para siswa pergi dan pulang ke sekolah dengan cara berlari dalam barisan. Pendidikan sekolah Pelayaran Tinggi itu memang bercorak militer, karena dimaksudkan untuk membantu Jepang dalam peperangan. Lama pendidikannya 9 bulan dan para lulusannya diangkat langsung sebagai perwira yang diberi tugas memimpin kapal-kapal kayu untuk Militer Jepang. Kapal-kapal kayu yang digerakkan dengan mesin itu berjasa mengangkut perlengkapan perang, termasuk bahan makanan, pakaian, obat-obatan ke seluruh pangkalan Jepang di Indonesia bahkan ada kapal-kapal kayu Indonesia yang berlayar sampai ke Birma.
Pendidikan Sekolah Pelayaran Tinggi itu, walaupun singkat tetapi cermat dan padat. Para siswa harus belajar teori dan praktek. Mereka harus mengalami praktek mulai dari pelayaran kapal (tobang) sampai perwira kapal. Mereka juga diberi latihan baris berbaris dan kemahiran menggunakan senjata.
Jos Soedarso adalah seorartg yang berdisiplin dan bersemangat. Di sekolah pelayaran ini ia terkenal sebagai berotak cemerlang, penuh energi, tabah, keras kemauan, tajam pikiran, berjiwa besar dan berbakat pemimpin tetapi rendah hati dan sederhana.
Pada suatu hari pernah direncanakan oleh pelatih untuk mengadakan latihan mendayung. Tetapi sekonyong-konyong udara menjadi buruk sehingga latihan dibatalkan. Tetapi Jos mengambil sikap lain, ia tetap melakukan latihan, walaupun gelombang besar dan lautan ganas. Rupanya ia justru ingin mempergunakan kesempatan itu untuk berlatih bagaimana untuk berdayung dikala laut sedang tidak ramah.
Pada tahun 1944 ia lulus ujian sekolah Pelayaran Tinggi dan meneruskan latihan perwira pada Giyo Usamu Butai. Melalui latihan ini Jos Sudarso diangkat menjadi mualim dua. Pada waktu itu ia berusia 19 tahun. Mulailah ia berlayar dengan kapal-kapal kayu menjelajahi lautan nusantara dengan penuh resiko diserang pesawat-pesawat terbang dan kapal-kapal selam Sekutu yang mulai bermunculan di dirgantara dan lautan Indonesia. Banyak kapal-kapal dari Jawa Unko Kaisya yang dibom atau ditorpedo sehingga tenggelam bersama awak kapalnya.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Jos Sudarso menggabungkan diri pada Badan Keamanan Rakyat Laut atau BKR Laut, Yaitu cikalbakal TNI-AL. Bersama-sama dengan pemuda-pemuda pejuang. Jos juga ikut dalam perjuangan khususnya bidang maritim. Dengan kapal-kapal kayu dan kapal-kapal lainnya sebagai hasil rampasan dari Jepang. pemuda-pemuda ALRI segera beraksi dengan pengiriman ekspedisi lintas laut ke daerah-daerah Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi dan Maluku. Mereka bertugas menerobos blokade Belanda, mengobarkan semangat perjuangan, membuka hubungan dan memperkuat barisan perjuangan.
Jos Sudarso pun tidak mau ketinggalan ikut dalam Ekspedisi Laut ke Maluku. Pada bulan Januari 1946 TKR Laut Jawa Tengah menyiapkan dua buah kapal kayu tipe Kiri Maru berukuran 60 ton, yakni Sindoro dan Semeru. Sejumlah 60 putera-puteri Maluku ikut serta dalam kapal tersebut dengan tujuan mengobarkan semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di perairan Maluku. Para pemuda Maluku itu akan didaratkan di daerah Maluku Utara dan Maluku Selatan.
Pada tanggal 3 Maret 1946 jam 17.30 petang, kapal-kapal Semeru dan Sindoro mulai bertolak dari pelabuhan Tegal melaksanakan tugas Ekspedisi Laut ke Maluku. Jos Sudarso yang waktu itu berumur 21 tahun membantu Ibrahim yang bertugas memimpin kapal Sindoro.
Pelayaran itu tentu saja penuh bahaya. karena kapal-kapal patroli Belanda sudah berkeliaran di lautan Nusantara. Kapal-kapal itu tidak langsung berlayar menuju Maluku, tetapi berputar melewati Kalimantan. Pulau Sangi dan maluku. Lagi Pula keadaan kapal-kapal itu sudah tidak mulus dan sering mengalami kerusakan. Oleh karena itu mereka terpaksa berhenti berkali-kali untuk memperbaiki mesin. Penduduk di mana-mana menyambut kapal-kapal yang berbendera Merah Putih itu dengan bergembira dan bangga. Mereka memberikan bantuan bahan makanan seperti sayur-sayuran dan air.
Walaupun kapal-kapal kayu itu sudah tidak mulus. mesin-mesinnya sudah banyak yang rewel dan peralatan serba kurang, tetapi manusia yang menangani kapal-kapal tersebut bersemangat tinggi.
Jos Sudarso berkata. ”Sepanjang masa ada satu unsur yang tidak pernah kembali yaitu manusia. Alat-alat tidak berperang, yang berperang adalah manusia yang berada di belakang alat-alat itu.”
Sesudah sampai di dekat Pulau Bum. rombongan dibagi dua. Semeru menuju Pulau ambalan untuk salanjutnya terus ke Halmahera, sedangkan Sindoro menuju Namlea. Di perairan Buru Utara, kira-kira 30 mil dari pantai. Sindoro mengalami kerusakan mesin lagi. Selain itu persedian makanannya pun sudah abis. Laut di sekitar kapal yang sedang rusak itu terdapat banyak ikan hiu. Namun demikian Jos Soedarso dengan beberapa orang pelaut turun ke laut sampai menunggu perbaikan mesin kapalnya. Mereka turun ke laut dan berdayung ke Pulau Buru untuk mencari bahan makanan.
Dua hari kemudian barulah Jos Soedarso dan kawan-kawan dengan sekocinya muncul kembali penuh dengan bahan makanan. Mereka disambut dengan tembakan salvo sebagai tanda penghargaan, karena dikira mereka telah mati ditelan ikan hiu atau ditangkap patroli Belanda.
Semantara itu kapal Sindoro berlayar lagi dan tiba di Namlea. Rakyat mengerumuni kapal dengan bangga serta terharu menyaksikan Sang Merah Putih berkibar di puncak tiangnya, Pemuda-pemuda pejuang Maluku lalu diturunkan didarat dan kapal melanjutkan pelayaran ke Piru.
Di Piru terjadilah malapetaka. Seluruh anak buah Sindoro disergap oleh pasukan Belanda. Penyergapan itu dilakukan, karena di Namlea telah segera timbul pemberontakan yang dipimpin oleh pemuda-pemuda pejuang Maluku. Belanda mengetahui bahwa pemuda-pemuda pejuang itu diturunkan mendarat oleh kapal Sindoro.
Sebenarnya Jos Soedarso masih dapat menghindarkan sergapan tersebut. la sudah berhasil meloloskan diri dari ancaman Belanda, tetapi kapal kayu Sindoro tentu kalah cepat lajunya dari kapal perang Belanda. Akhirnya seluruh awak kapal Sindoro ditawan dan dipenjara di Ambon. Serdadu-serdadu Belanda itu mengejek habis-habisan pa3a Jos Soedarso dan anak buahnya.
Kapal Semeru tidak mengalami nasib buruk dan meneruskan pelayarannya ke Buleleng, kemudian ke Probolinggo, Jawa Timur dengan selamat.
Jos Soedarso dan kawan-kawannya kemudian dipindahkan ke tahanan Belanda di Ujungpandang. Sesudah meringkuk selama satu tahun di penjara musuh, maka Jos Soedarso dibebaskan karena adanya Perjanjian Linggarajati.
la segera diberi tugas untuk mengikuti Latihan Opsir di Kalibakung, Tegal pada bulan April 1947. Tiga bulan kemudian pasukan Belanda menyerang Republik Indonesia dalam agresinya yang pertama. Di Kalibakung juga terjadi pertempuran. Jos Soedarso terlibat dalam pertempuran ini. Bersama dengan pasukan TNI-AD, ia menuju ke medan pertempuran Purwokerto dan selama aksi militer I ini Yos bergerilya di daerah tersebut.
Sesudah gencatan senjata dan setamat dari Latihan Opsir Kalibakung, Yos meneruskan pendidikannya pada pendidikan Latihan Operasi Khusus (Special Operation) di Sarangan pada bulan Oktober 1948. Ia lalu diangkat menjadi Perwira Operasi Khusus III pada Angkatan Laut sesudah tamat. Daerah operasinya, Yogyakarta dan Surakatra.
Selama Agresi Militer Belanda kedua (1948), mula-mula Jos Soedarso bergerilya di sekitar Yogyakarta, kemudian bersama seluruh Staf MBAL (Markas besar Angkatan Laut), ia menyingkir keluar kota.
Sesudah selesai perundingan KMB pada bulan Oktober 1949, Jos Soedarso diperbantukan pada Kabinet Kepala Staf Angkatan Perang di Yogyakarta. Setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Jos Soedarso ditunjuk untuk menerima perlaksanaan kapal korvet Pati Unus dan selanjutnya diangkat menjadi Perwira II pada korvet tersebut. Alangkah gembira hati Jos Soedarso setelah empat tahun mejadi ”orang darat”, akhirnya ia kembali ke geladak kapal lagi dan menghirup udara laut yang segar.
Pada bulan April 1950 ia ditunjuk untuk memegang pimpian korvet ”Banteng” dengan tugas beroperasi di perairan Maluku Selatan untuk memadamkan Pemberontakan RMS.
Jos Soedarso adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan pandai membesarkan hati anak buahnya. Ia selalu berkata di depan anak buahnya.
Tahukah engkau, nasib kapal ini tergantung sama sekali pada engkau” Jos Soedarso menyadari peralatan angkatan Laut kita masih serba kurang karena itu harus dijaga dan dipelihara sebaik-baiknya. Kapal korvet Banteng selalu dijaga kebersihan. Keteraturan, ketertibannya, sedang disiplin awak kapalnya dilaksanakan dengan ketat.
Pada tanggal 1 Juni 1951 Jos Soedarso, dipindahkan dari korvet Banteng ke kapal RI Gajah Mada yang lebih besar. Kemudian ia dikirim ke negeri Belanda untuk menambah pengetahuannya. Mula-mula ia dipersiapkan untuk belajar menjadi perwira kapal selam. Rupanya Pemerintah Belanda khawatir sehingga ia dialihkan pada pendidikan jurusan anti kapal selam. Pendidikan teori diberikan di Negeri Belanda. Sedangkan praktek di Portland, Inggris Menurut rencananya pendidikan akan berlangsung selama enam bulan, tetapi sebelum jangka waktu itu Jos Soedarso sudah menamatkannya.
Pada bulan Juli 1952 Jos Soedarso diangkat sebagai Perwira Pendidikan pada Sekolah Angkatan Laut di Surabaya. Tahun berikutnya ia sudah menjadi komandan kapal perang RI Rajawali. Ia bergerak di perairan Aceh untuk membantu pengamanan di daerah. Sementara itu ia juga menjadi penguji pada Kursus Ulangan dan Tingkat Bintara untuk Divisi Pelaut. Bulan Maret 1954 ia dipindahkan ke kapal RI Ahi selanjutnya diangkat menjadi Komandan Divisi II PSK pada Angkatan Laut RI.
Jos Soedarso giat menambah pengetahuan. Pada tahun 1955 ia mengikuti Kursus Ulangan dan Tambahan untuk Tingkat Perwira. Pengetahuannya makin meningkat, demikian pula kepemimpinannya, Tetapi Jos Soedarso tetap tekun, teliti, bersemangat dan sederhana.
Setahun kemudian (th. 1956) Jos Soedarso melengkapi pengetahuan militernya dengan mengikuti latihan Korps Komando Angkatan Laut di Surabaya. Sesudah itu ia diangkat menjadi Perwira I pada RI Gajah Mada, selanjutnya diangkat sebagai Perwira Dpb. Pers. AL/LN.
Jos Soedarso adalah seorang perwira yang iklas dan berdisiplin. Ia pernah berkata ”Hidupku 80 % kuserahkan pada tugas kelautan, baru sisanya yang 20% kuperuntukkan bagi keluarga dan tugas lain. Tentang kesadarannya yang tinggi sebagai seorang warga negara ia berkata, ”tanpa saya negara akan tetap berdiri, tanpa negara sebaliknya hidup saya tidak akan terjamin, karena tanpa negara berarti kekacauan”
Jos Soedarso menikah dengan pemudi Jimmy Florence Siti Kustini. Pada tahun 1957 ia pergi ke Italia untuk mengawasi pembuatan kapal perang ”RI Pattimura” di Livorno, Italia. Kemudian ia membawa kapal tersebut ke Indo­nesia sehingga dapat digunakan untuk mengatasi pergolakan PRRI Permesta.
Jos Soedarso diangkat sebagai Deputy I KSAL dengan pangkat Letnan Kolonel. la pun ditunjuk sebagai anggota Deppernas. la selalu mengumandangkan cinta laut dan perjuangan lautan. Jos Soedarso pun seorang yang memperhatikan kehidupan rakyat kecil. la bersedih hatinya menyaksikan kehidupan nelayan yang selalu dirundung malang.’
Puncak perjuangan Jos Soedarso ialah dilaut Aru, dalam rangka perjuangan pengembalian Irian Barat kepada RI. Pada tanggal 15 Januari 1962 sebuah satuan MTB ALRI melakukan tugas disertai pejabat-pejabat MBAL termasuk Komodor Jos Soedarso. Kesatuan MTB itu terdiri dari 3 kapal, yaitu RI Macan Tutul, RI Macan Kumbang dan RI Harimau. Komodor Jos Soedarso ada di RI Macan Tutul.
Tepat pada jam 21.15 malam hari waktu I (Zone Timur), kapal-kapal RI tadi diserang oleh kapal-kapal dan pesawat Belanda. Komodor Jos Soedarso segera mengambil alih pimpinan di kapal RI Macan Tutul dan berseru ”Kobarkan Semangat Pertempuran”. Dengan manuver untuk memancing perhatian lawan RI Macan Tutul mengubah haluan sehingga musuh memusatkan tembakan-tembakannya kepadanya sementara 2 kapal lainnya dapat diselamatkan.
Bagian depan RI Macan Tutul terkena tembakan dan Komodor Jos Soedarso memberi perintah ”Maju terus. Kita terjang kapal lawan. Kita tenggelam bersama kapal”.
Saat itu kapal RI Macan Tutul sudah tidak terkendali. Bagian bawah ruangannya kena tembakan lagi. Jam 21.33 kapal RI Macan Tutul terbakar dan meledak. Komodor Jos Soedarso luka pada kepalanya, namun sempat menyampaikan pesan terakhirnya :
”Kobarkan semangat pertempuran. Macan Tutul tenggelam dalam pertempuran laut secara gentlemen and brave”.
Bersama dengan 23 anak buahnya Komodor Jos Soedarso gugur, dan tenggelam di dasar laut dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat.
Pemerintah RI menaikkan pangkatnya menjadi Laksamana Muda TNI AL Anumerta dan menghargainya sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden No. 088/TK/Th. 1973. Tanggal 6 November 1973

Posted in Pahlawan Nasional.