Robert Wolter Mongonsidi

Robert Wolter Mongonsidi

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 berkumandang di seluruh penjuru tanah air. Gemanya membangkitkan para rakyat pejuang bangsa yang sudah lama bersiap menunggu komando untuk merebut dan menegakkan kemerdekaan.
Di Sulawesi Selatan para pemuda pejuangpun bangkit dan bersatu menyongsong hari depan yang mulia itu, tetapi kaum penjajah Belanda segera datang ke Indonesia dan ingin kembali menguasai tanah air dan bangsa Indo­nesia. Dalam pada itu seluruh bangsa kita sudah bertekad ”Merdeka atau mati”. Diantara pejuang itu, ialah Robert Wolter Monginsidi seorang Pahlawan Bangsa yang kemudian gugur di depan regu tembak Belanda.
Robert Wolter Monginsidi dilahirkan pada tanggal 14 Februari 1925 di desa Malalayang, tidak jauh dari kota Manado. Robert adalah putra ketiga dari Petrus Monginsidi. Ibunya bernama Lina Suawa, dalam lingkungan keluarga dan teman-teman akrabnya, ia biasa dipanggil Bote.
Keluarga Petrus Monginsidi orang tua Robert, bukanlah keluarga yang kaya. Ayah Robert hanyalah seorang petani kelapa, tetapi bercita-cita luhur. Anak-anaknya sedapat-dapatnya disekolahkan sejauh dan setinggi mungkin.
Robert mula-mula bersekolah di Hollands Inslanche School (HIS. setingkat SD). Sejak kecil ia adalah anak yang gagah, tampan, keras kemauan dan cerdas. Sesudah tamat dari HIS ia melanjutkan ke MULO, yaitu SMP pada jaman Hindia Belanda.

 

 

Pada jaman kedudukan Jepang mula-mula Robert belajar bahasa Jepang (Nihonggo Gakko). Ia memang berbakat pada bahasa asing dan karena itu lulus dengan memuaskan. Ia lalu diangkat sebagai guru pada Kursus Bahasa Jepang padahal usianya masih muda. Mula-mula ia mengajar di Liwutung (Minahasa), lalu dipindahkan ke Luwuk (Sulawesi Tengah).
Robert gemar membaca dan pandai berbahasa Belanda, Inggris dan Jepang tetapi ia masih ingin belajar, karena itu ia meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan memasuki Sekolah Menengah Pertama di Ujung Pandang.
Ketika pasukan Jepang menyerah pada Perang Asia Timur Raya dan Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan Robert Wolter Monginsidi sedang berada di Rantepao, Tanah Toraja. Ia segera menuju ke Ujung Pandang dan bergabung dengan para pemuda pejuang. la bertekad untuk membela Negara Republik Indonesia, dan melawan pasukan penjajah yang datang untuk menguasai tanah air dan bangsa kita. Robert Wolter Monginsidi terkenal seorang pemuda yang bersemangat dan cinta tanah air dan bangsa.
Bersama-sama dengan para pemuda pejuang di Sulawesi Selatan, Wolter menyusun rencana perlawanan dan pertahanan, demikian pula kawan-kawan sekolah di SMP Nasional Ujung Pandang giat membantu perjuangan. Mereka menempelkan plakat-plakat perjuangan di seluruh kota, bahkan di depan tangsi pasukan NICA / Belanda.
Wolter Monginsidi bersama Maulwi Saelan dan kawan-kawannya memimpin Barisan Angkatan Muda Pelajar yang bertindak dengan keberanian di tengah-tengah pasukan Belanda.
Pada tanggal 27 Oktober 1945 seluruh kekuatan pemuda pejuang di Ujung Pandang dipusatkan untuk mengadakan serangan umum. Robert Wolter Monginsidi juga ikut mengambil peranan penting. Para pemuda pejuang akan merebut tempat-tempat strategis, bangunan-bangunan vital dan gedung-gedung penting yang telah diduduki tentara Belanda. Mereka akan menyerbu Stasiun Pemancar Radio Makasar, Tangsi Belanda di Mariso, Stasiun Radio di Mattoanging, Stasiun Radio di Mara Dekaya, Tangsi dan Kantor Polisi NICA.
Wolter dan kawan-kawannya para pelajar SMP mendapat tugas menyerbu Hotel Empres dan menangkapi para perwira Belanda, mereka juga bertugas membuat barikade di jalan-jalan.
Tepat jam 5.00 pagi, tanggal 20 Oktober 1945 mulai terdengar tembak menembak di jalan Gowa. Pagi itu sudah terjadi pertempuran di seluruh penjuru kota Ujungpandang. Stasiun radio di Mattoanging dan Maradekaya telah dapat dikuasai para pemuda. Mula-mula pasukan Australia yang bersenjata lengkap itu bersikap menonton saja. Mereka tidak berbuat apa-apa. Tetapi pasukan Belanda berhasil membujuk dan mempengaruhi pasukan Australia. Akhirnya pasukan Australia ikut campur melawan serbuan para pejuang.
Mereka menyerbu markas pejuang di Jonggaya pada siang hari jam 11.00. Pasukan Australia memiliki senjata lengkap dan modern, sedangkan pasukan pemuda pejuang bersenjata sederhana dan seadanya. Tentu saja sungguh berat melawan pasukan Australia itu. Meskipun demikian para pemuda melawan dengan semangat tinggi. Dalam pertempuran itu banyak pemuda pejuang yang gugur, dan 46 pemuda ditangkap tentara Sekutu (Aus­tralia) termasuk Robert Wolter Monginsidi. Beruntunglah, Wolter mahir berbahasa asing dengan kepandaiannya berdiplomasi, Wolter dapat menyakinkan para perwira Australia itu bahwa mereka itu pemuda pejuang yang sedang menegakkan kemerdekaan bangsa dan tanah airnya, akhirnya mereka yang ditangkap itu dibebaskan.
Sementara itu pasukan NICA Belanda terus melancarkan pengejaran terhadap para pejuang, terpaksalah para pejuang mengundurkan diri dari kota dan membentuk markas-markas di daerah-daerah seperti Plongbangkeng, Jeneponto, Bulukumba, Bantaeng, Palopo, Kolaka, Majene, Enrekang, dan Pare-pare. Dari markas-markas daerah itu seringkali pemuda memasuki kota mengadakan aksi penyerangan. Mereka menculik dan membunuh mata-mata kaki tangan Belanda, sebaliknya pasukan Belanda sering pula melancarkan serangan ke daerah-daerah untuk menghajar dan menghancurkan kekuatan pemuda. Di antara para pejuang itu, maka para pelajar SMP Nasional menduduki tempat dan memperoleh nama yang baru. Mereka seringkali mengadakan gerakan yang merugikan pasukan Belanda, terutama sekali pemuda Robert Wolter Monginsidi. la sangat berani dan bergerak sangat lincah, karena itu menjadi sasaran pasukan Belanda.
Robert Wolter Monginsidi menggabungkan diri pada pasukan Ronggeng Daeng Rono yang bermarkas di Plongbangkeng. la bertugas sebagai penyelidik, karena mahir berbahasa asing dan mempunyai wajah yang mirip orang Indo-Belanda.
Wolter seringkali memasuki kota Ujung Pandang seorang diri, la menyamar sebagai anggota tentara Belanda, ditengah jalan Ia menghentikan Jeep tentara Belanda lalu ikut menumpang. Ditengah jalan Wolter segera menodongkan pistolnya ke arah pengemudi yang dibuatnya tidak berdaya, senjatanya dirampas dan demikian pula mobilnya.
Pada hari yang lain ia memasuki markas Polisi Militer Belanda dan menempelkan plakat berisi ancaman yang ditanda tanganinya sendiri. Dapatlah dibayangkan, betapa terkejutnya tentara Belanda itu. Nama Robert Wolter Monginsidi bagaikan hantu yang sangat ditakuti pasukan Belanda.
Berkali-kali Ia melakukan aksi dan selalu berhasil. Wolter adalah seorang pejuang yang selalu bersungguh-sungguh, ia pun seorang pemimpin yang tangguh. Pada tanggal 17 Juli 1946 Robert Wolter Monginsidi bersama-sama para pemuda pejuang lainnya mendirikan organisasi perjuangan bernama Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS), terdiri dari 19 satuan perjuangan. Ranggong Daeng Romo menjadi panglima dari barisan LAPRIS ini, sedangkan Robert Wolter Monginsidi diserahi tugas Sekretaris Jenderal yang langsung memimpin operasi. Adapun program perjuangan Lapris ialah :
1. Membasmi dan membersihkan mata-mata serta kaki tangan NICA (Belanda).
2. Mengganggu lalu lintas dengan menghadang mobil tentara dan polisi Belanda, menghalangi kendaraan yang mengangkut barang dan bahan untuk kepentingan Belanda.
3. Membakar dan memusnahkan rumah serta bangunan vital milik Pemerintah dan tentara Belanda.
4. Merampas senjata musuh.
Robert Wolter Monginsidi tidak tinggal di markas saja, tetapi Ia langsung memberi contoh di lapangan, Ia bergerak di sekitar kota Makasar (Ujung Pandang), Woga, Jeneponto, Malino dan Camba. Wolter sendiri langsung memimpin pasukan Harimau Indonesia (HI). Pada tanggal 3 November 1946 dalam suatu pertempuran di kota Barombong, Wolter terluka dan terpaksa mengundurkan diri untuk sementara. Sesudah sembuh, Ia kembali melakukan aksi-aksi penyerangan lagi. Pada tanggal 21 Januari 1947 di Kassi-kassi, terjadi pertempuran. Di sini gugur Emmi Saelan seorang pejuang putri yang sempat menewaskan delapan orang tentara Belanda dengan granat yang diledakkannya tetapi, Robert Wolter Monginsidi dapat meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda yang ketat itu.
Belanda makin gentar menghadapi Robert Wolter Monginsidi, mereka memberi pengumuman, siapa dapat menangkap Wolter hidup atau mati akan diberi hadiah, tetapi Wolter tidak pernah tertangkap.
Pasukan Belanda makin hari makin memperkuat penekanannya terhadap para pemuka pejuang. Banyak diantara mereka yang tertangkap, gugur atau meninggalkan Sulawesi Selatan menuju pulau Jawa. Jumlah pemuda pejuang makin tipis, tetapi Robert Wolter Monginsidi tetap berdiri dengan teguh, “Saya berani berjuang untuk Nusa dan Bangsa, karena itu pula saya harus berani menanggung akibatnya “
Ia tetap kuat dengan pendiriannya bahkan Ia sering berjuang seorang diri mengacau pasukan belanda yang terlatih dengan modern itu.
Pasukan Belanda makin mengganas untuk menekan perlawanan dan perjuangan rakyat Sulawesi Selatan, Belanda melakukan pembunuhan besar-besaran yang dipimpin oleh algojo yang terkenal bengisnya, yaitu Kapten Raymond Paul Pierre Westerling. Belanda mengancam, barang siapa menyembunyikan, membantu dan melindungi kaum pejuang yang bergerilya di daerah, maka mereka akan dibunuh. Puncak tindakan sewenang-wenang Westerling telah terjadi pada bulan Desember 1946. Mereka melakukan pembersihan dengan cara besar-besaran dan tanpa peri-kemanusiaan sehingga puluhan ribu rakyat tua muda laki perempuan yang terbunuh secara massal. Tidak kurang dari 40.000 jiwa telah menjadi korban keganasan pasukan Westerling selama waktu itu. Selama itu Wolter selalu dapat meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda. Namun pada tanggal 28 Pebruari 1947 merupakan hari naas baginya. Pada hari itu Wolter tertangkap oleh pasukan Belanda dan kemudian dimasukkan ke penjara di Hoogepod Ujung Pandang. Di penjara itu Belanda membujuknya agar melepaskan perjuangannya, dan kalau bersedia akan diberi hadiah-hadiah dan kedudukan yang menggiurkan. Tetapi Wolter tetap menolak, la berkata “Tetap setia pada cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Berani berjuang untuk kepentingan Nusa dan Bangsa dan berani pula menanggung segala akibatnya”.
Sementara itu kawan-kawan Wolter di luar berjuang keras untuk membebaskannya dari penjara. Mereka menyelundupkan 2 buah granat tangan yang dimasukkan dalam makanan kiriman. Bersama dengan Abdullah, Lahade, Yoseph dan Lewa Daeng Matari, Robert Wolter Monginsidi dengan bersenjatakan 2 granat berhasil lolos dari penjara dengan melalui atap dapur pada tanggal 19 Oktober 1946.
Alangkah marahnya pasukan Belanda melihat sel-sel penjara tempat Wolter dan kawan-kawannya itu sudah kosong, mereka lalu mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencari Wolter.
Rupanya sudah ketentuan Tuhan Yang Maha Esa, hanya sembilan hari Wolter dapat menghirup udara kemerdekaan. Pada jam 5.00 pagi hari tanggal 26 Oktober 1948 selagi Wolter berada di Klapperkan lorong 22 A No. 3, Kampung Maricayya, Ujung Pandang ia disergap oleh pasukan Belanda, karena ada yang menghianatinya.
Wolter dimasukkan lagi dalam Penjara Polisi Militer Belanda dan dijaga dengan sangat ketat, Belanda tidak ingin Harimau Indonesia ini lepas untuk kedua kalinya dari penjara. Mereka menyiksa Wolter dengan berbagai cara, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya. Ia seorang pemimpin sejati.
Semua tindakan kawan-kawannya diakui sebagai tanggung jawabnya. Kemudian Wolter dipindahkan ke penjara Kis (Kiskampement).
Sungguh luar biasa, walaupun Wolter mengetahui apa yang akan terjadi dengan dirinya, dan hukuman apa yang akan diterimanya, namun Ia tetap tabah, dan tampak ketenangan jiwanya.
Robert Wolter Monginsidi adalah pemeluk agama Kristen, sejak kecil ia sudah mendapatkan bekal dan bimbingan iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengaruh Imam dan agama itu terlihat betul pada Wolter yang baru berusia 23 tahun. Ia makin tenang dan bertawakal, sama sekali tidak terlihat rasa takut dan kegoncangan jiwanya. Ia banyak membaca dan menulis surat pada masa itu. Wolter bersikap pasrah, keikhlasannya terlukis dalam kata-katanya, “Aku telah relakan diriku menjadi korban dengan penuh keinsyafan untuk memenuhi kewajiban dengan masyarakat ini dan yang akan datang”.
Tentu saja ia mengalami pemeriksaan Polisi Militer Belanda dengan caranya yang keras dan kejam, namun Wolter tak gentar oleh ancaman dan siksaan. Tekadnya telah bulat, bahwa ia berani, menanggung segala akibat perjuangannya, “Dan saya tunduk pada batin saya” katanya.
Pada tanggal 26 Maret 1949, Wolter diajukan ke muka pengadilan Kolonial Belanda. Pada akhirnya Ia dijatuhi hukuman mati, tetapi Wolter tetap tabah dan berjiwa ksatriya, ia berkata.
“Aku tidak mengandung perasaan tidak baik terhadap siapapun, juga terhadap mereka yang menjatuhkan hukuman yang paling berat ini kepadaku, karena kupikir mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan”. Wolter benar- benar bersikap ikhlas pada nasib dan perjuangannya. Ia meninggalkan ucapan,
“Apa yang bisa saya tinggalkan hanya rokh-ku saja yaitu rokh setia hingga terakhir pada tanah air dan tidak mundur sekalipun, menemui rintangan apapun menuju cita-cita kebangsaan yang tetap. Terbatas dari segala pikiran ini, junjunganku senantiasa Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dengan kepercayaan yang tersebut belakangan ini, sangguplah saya tahan segala-galanya, teguh iman di dalam kesukaran, tenang ketika keadaan sederhana dan tidak melupakan kenalan-kenalan jika berada dalam kemajuan”.
Wolter telah diputuskan oleh kolonial untuk dijatuhi hukuman mati, berbagai pihak menganjurkan agar Ia meminta pengampunan atau grasi kepada pemerintah Belanda bahkan secara diam-diam ayahnya sendiri, terdorong oleh rasa kasih sayang kepada putranya, telah memintakan grasi. Tetapi Wolter sendiri telah menolak untuk meminta grasi itu. Ia sudah benar-benar merelakan akibat perjuangannya itu.
Ternyata pemerintah Belanda memang menolak grasi itu. Wolter sendiri setelah mendengar grasi itu ditolak tetap tenang. Ia berkata, ”Memang betul, bahwa ditembak bagi saya berarti ada kemenangan batin, dan dihukum apapun tidak ada membelenggu jiwa sebab kegembiraan di dalam keyakinan sendiri memang adalah luas”.
Akhirnya Robert Wolter Monginsidi ditembak mati dihadapan regu tembak pada tanggal 5 September 1949 dinihari, disuatu tempat di daerah Pacinang, Wilayah Talo Kecamatan Panakukang, delapan kilometer jauhnya dari kota Ujung Pandang. Ia adalah seorang pahlawan bangsa, ia ditembak tanpa ditutup matanya. dengan memegang kitab Injil di tangan kirinya dan tangan kanannya mengepalkan tinju sambil berteriak : ”MERDEKA ATAU MATI”, Lima menit sebelum Pahlawan Robert Wolter Monginsidi masih dengan tenang menulis kalimat penghabisan sebagai pesan kepada generasi penerus bangsa ”SETIA HINGGA TERAKHIR DALAM KEYAKINAN”. Ditanda tangani 5 September 1949 R.W. Monginsidi.
Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada Robert Wolter Monginsidi dengan Surat Keputusan Presiden RI tanggal 6 November 1973 No. 088/TK/TAHUN 1973.

Posted in Pahlawan Nasional.