K.H Zainal Moestafa

KH Zainal Moetafa bwNama kecil K.H. Zainal Moestafa ialah Umri alias Hudaemi, lahir pada tahun 1907 di Kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan/Kawedanan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Ayahnya seorang petani muslim yang taat pada agamanya Islam. Sebagai kanak-kanak Umri masuk sekolah dasar hingga tamat. Sewaktu kanak-kanak Ia telah belajar agama, mula-mula belajar di bangku SD ia telah memahami sebagian tafsir Al Quran dan hafal ayat-ayat suci, bahkan sudah pula mulai belajar dan memahami bahasa Arab dengan tata bahasanya yang disebut nahwu dan sharaf.
Setelah tamat SD ia meneruskan pelajaran agamanya ke pondok Gunung Pari, kemudian ke lain-lain pondok, yaitu di Cilenga, Sukamiskin, Jamanis dan lain-lain, semuanya di tanah Pasundan. Ia menempuh pelajaran di berbagai pondok karena pondok-pondok di jaman itu memiliki kekhususannya masing-masing, misalnya satu pondok mempunyai keistimewaan dalam pelajaran Tafsir, lainnya tentang Hadist, ada yang tentang Fikih dan ada pula tentang Tasawuf.
Jadi, untuk memperoleh berbagai pengetahuan agama yang banyak cabangnya haruslah belajar di beberapa pondok seperti yang dilakukan oleh Umri alias Hudaemi itu. Di Cilanga ia belajar di bawah pimpinan Kyai Sumratulmuttaqin hingga meningkat dari santri pelajar menjadi guru mengajar.
Setelah mencapai umur 20 tahun timbullah niatnya untuk mendirikan pondok pesantren sendiri. Kyai Cilanga yang amat sayang kepadanya, meskipun akan kehilangan seorang pengajar yang cakap dan berpengetahuan luas, namun tidak mau mencegah niat Umri yang mulia. Ia mendapat restu dari sang Kyai dan dengan mantap ia merintis mendirikan pondok pesantren di sekitar desa kelahirannya, yaitu di Cikembang, tak jauh dari Bageur. Pondok pesantren yang dibuka pada tahun 1927 diberinya nama Sukamanah. Nama itu kiranya dimaksudkan untuk semboyan suka berpikir yang berarti pula suka belajar.
Pada tahun 1927 itu pula Kyai muda Umri alias Hudaemi pergi menunaikan ibadah haji ke Mekah. Di tanah suci Ia memperoleh pengalaman dan menambah pengetahuan agamanya. Sepulang dari haji Ia menyandang nama Kyai Haji Zainal Moestafa yang makin lama makin terkenal sebagai Kyai muda yang luas pengetahuannya.
Berkat gemblengan Kyai Sumratulmutaqin di Cilenga, Kyai Haji Zainal Moestafa mahir memimpin pondok dan mengajar para siswanya. Pengalamannya lebih dari 10 tahun menjelajahi berbagai pondok diterapkan dengan sebaik-baiknya di pondok pesantrennya dengan leluasa.
Ia telah berhasil menterjemahkan beberapa kitab dari bahasa Arab ke dalam bahasa Sunda yang bagus dan indah. Kitab-kitab yang diterjemahkannya mencakup pelajaran-pelajaran:
1. Syariat, meliputi buku-buku pelajaran tentang tafsir Al Quran, ilmu Hadis, ilmu Fiqih, ilmu Kalam dan lain-lain.
2. Ilmu Bahasa Arab, meliputi ilmu Nahwu, ilmu Sharaf, ilmu Balaghah, ilmu Bahasa dan ilmu Arudh.
3. Alhikmah dan Filsafat, terutama mengenai kitab-kitab ilmu Mantiq, ilmu Falak, dan ilmu Metafisika.
4. Sejarah, mengenai sejarah umum dan Sejarah Islam.
Disamping mengajar para siswanya K.H. Zainal Moestafa senang memikirkan pula perjuangannya melawan penjajah. Tindakan-tindakan pemerintah Hindia Belanda terhadap kaum pergerakan nasional dan Islam tidak luput dari perhatian sang Kyai. Ia melihat masa datang yang gelap bagi bangsa Indonesia, bilamana tak ada gerak perlawanan.
Diilhami oleh pengetahuan sejarah yang mendalam K.H. Zainal Moestafa mulai membuat kerangka perjuangan yang berdasarkan Islam, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam Al Quran dan Hadits.
Kerangka dasarnya telah dibulatkan dalam 2 hal, yaitu bermaksud :
1. Membangunkan kaum ulama dan masyarakat Islam; dan
2. Memupuk persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia.
Dari tahun ke tahun pondok Sukamanah mendapat kemajuan dan kepercayaan rakyat, khususnya di Priangan timur dan umumnya di Barat, bahkan sampai di Jakarta. Maka di daerah-daerah itulah K.H. Zainal Moestafa sering mengadakan rapat-rapat dan melakukan tabligh. Bukan tabligh agama Islam semata, tetapi tabligh tentang sikap pendirian manusia muslim menghadapi penjajah yang kafir.
Sikap pendiriannya adalah non-koperasi, tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda yang kafir yang dianggap seteru bebuyutannya.
Seringkali ia berpidato secara emosional, menyerang langsung pemerintah Hindia Belanda yang dikatakannya melanggar hak-hak kemanusiaan, merusak pendidikan keagamaan Islam di Indonesia dan menyalahgunakan atau memutar balik ajaran Islam demi kepentingannya untuk memecah belah rakyat, khususnya kaum muslimin.
Di sekitar tahun 1940 – 1941 makin gencarlah serangan K.H. Zainal Moestafa kepada pemerintah kolonial, sehingga pemerintah harus mengambil tindakan. Usaha pendekatan dilakukan dengan berbagai jalan berupa bujukan halus rayuan, namun K.H. Zainal Moestafa tidak tergoyahkan pendiriannya.
Setelah makin jelas sang Kyai tidak mengindahkan peringatan-peringatan dari pemerintah, bahkan terus menyerang tindakan-tindakan kolonial, maka pada tanggal 17 November 1941 K.H. Zainal Moestafa ditangkap dan dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung bersama dengan beberapa pengikutnya, antara lain Kyai Ruhiat. Setelah 53 hari K.H. Zainal Moestafa dan kawan-kawan ditahan dalam penjara ia dibebaskan, ia tak pernah diajukan ke muka pengadilan.
Lepas dari kurungan kolonial dan pulang ke Sukamanah, tidaklah reda samangatnya. Oleh karenanya pada bulan Pebruari 1942 Ia ditangkap lagi dan dipenjarakan di Ciamis hingga balatentara Jepang datang menduduki Indonesia.
Pada tanggal 31 Maret 1942 K.H. Zainal Moestafa dibebaskan dari penjara Ciamis oleh seorang kolonel Jepang. Tak ada suatu perjanjian apapun yang mengikat Kyai, kecuali Ia diminta membantu Jepang dan diharapkan Kyai suka duduk dalam Sendenbu (Barisan Propaganda Jepang). Kyai belum dapat menyanggupi sesuatu karena ia masih merasa lemah dan memerlukan istirahat.
Datang kembali di pondok Sukamanah ia disambut oleh keluarga, handai taulan dan para siswanya dengan gembira. Dalam pidato singkat ia berpesan supaya orang waspada terhadap Jepang dan propagandanya, sebab janji-janjinya belum merupakan kenyataan.
Kemudian datanglah permintaan Jepang bertubi-tubi agar Kyai suka membantu Jepang, namun Ia tidak memberikan kesanggupan yang tegas. Sikap Kyai masih menunggu dan melihat-lihat. Sementara itu keadaan rakyat IndoneĀ­sia dibawah pemerintah Jepang makin memburuk. Segala tindakan Jepang serba memberatkan rakyat, antara lain larangan terhadap semua organisasi rakyat, pengumpulan bahan makanan untuk keperluan perang, tingkah laku orang-orang Jepang menginjak-injak kehormatan wanita Indonesia hingga pada soal rakyat dipaksa menjadi romusha.
Sikap dan semacam gerakan yang berpusat di Sukamanah dan persiapan-persiapan tercium oleh Jepang. Kenpetai Tasikmalaya memanggil K.H. Zainal Moestafa namun Kyai menjawab, bahwa ia sedang sibuk. Sebaliknya sewaktu-waktu ia bersedia menerima kedatangan tuan-tuan Nippon. Habislah kesabaran Jepang. Pada tangal 24 Pebruari 1944 Jepang mengirim satu pasukan polisi yang diperkuat oleh kesatuan-kesatuan Keibodan (polisi bantuan) disertai oleh Camat Singaparna untuk menangkap K.H. Zainal Moestafa.
Sekaranglah Sukamanah dihadapkan kepada kenyataan, tindakan Jepang yang sewenang-wenang terhadap pemimpinannya. Tidak ada jalan lain daripada melawannya. Segenap barisan Sukamanah dibawah pimpinan panglima Najamuddin telah bersepakat untuk membela pemimpinnya.
Berhadapan dengan petugas-petugas Jepang, K.H. Zainal Moestafa menjelaskan sikapnya, bahwa ia tidak menghadapi bangsa sendiri. Ia minta berhadapan langsung dengan kenpetai dan membikin perhitungan secara jantan. Keterangan itu tidak dapat diterima oleh para petugas Jepang itu. Oleh karenanya mereka lalu dikepung oleh barisan Sukamanah. Pada pagi harinya tanggal 25 Pebruari 1944 mereka baru diperkenankan kembali ke Tasikmalaya tanpa cedera, namun harus meninggalkan 3 pucuk pistol, 12 senapan dan 25 senjata tajam.
Tanggal 25 Pebruari 1944 adalah hari Jumat. Sehabis mengimani shalat Jumat K.H. Zainal Moestafa ke luar dari mesjid diiringi oleh pemimpin-pemimpin Sukamanah, termasuk panglima Kyai Najamuddin.
Di depan pondok Gunung Bentang telah berdiri 4 orang Jepang dan seorang daripada mereka melambaikan tangannya memanggil K.H. Zainal Moestafa. Sikap yang sombong itu dihadapi oleh Kyai dengan sabar. Ia berjalan dengan tongkatnya, diiringi oleh para pengikutnya menemui orang-orang Kenpetai itu, dengan mengacungkan tongkat kepada pengikutnya Kyai memberi isyarat agar mereka tetap sabar.
Seorang dari Kenpetai itu memberitahu, bahwa K.H Zainal Moestafa telah berbuat jahat karena tidak mau bekerjasama dengan Jepang, tidak mau menghadap kepada kenpetai Tasikmalaya, telah membunuh saudara-saudara tua dan merampas senjata. Semua orang akan diampuni asal tidak berbuat keributan, mengembalikan senjata yang dirampas dan menyerahkan pemimpin Sukamanah, yakni K.H. Zainal Moestafa. Dia tidak akan diapa-apakan asal ia bersedia meminta ampun dan menyatakan penyesalannya.
Kyai Najamuddin, sang panglima, sudah tidak sabar lagi mendengarkan penghinaan Jepang. Ia menjawab dengan lantang: Baik besok kami akan berangkat ke Tasikmalaya untuk menyerahkan diri dengan senjata api, tetapi kepala-kepala tuan-tuan Nippon yang empat ini harus ditanam di Sukamanah sebagai gantinya.
Mendengar jawaban itu Jepang menjadi panik dan segera akan menggunakan pistol dan samurainya. dengan cepat mereka disergap. Tiga orang berhasil dibunuh, sedang seorang yang luka-luka dapat lolos dan melarikan diri.
Sebenarnya pada waktu itu Sukamanah sudah dikepung oleh barisan Jepang dari 23 penjuru dari timur, utara dan selatan telah maju serentak, pasukan yang terdiri dari polisi istimewa masing-masing 2 kompi. Pasukan itu berjalan kaki dengan tugas sekaligus mencegah orang-orang yang melarikan diri dari Sukamanah Dari jurusan barat maju pasukan bermotor terdiri dari 2 kompi, 2 kompi Heiho dari luar Jawa Barat dan satu kompi pasukan raiders Jepang. Semuanya yang menyerbu Sukamanah terhitung satu batalyon penuh.
Sementara itu di jalan-jalan masuk Sukamanah sudah diadakan rintangan-rintangan oleh rakyat. Pasukan Sukamanah yang terdiri dari 3 pasukan santri dan pasukan rakyat dibawah pimpinan Panglima Najamuddin menghadang musuh di desa Cihaur. Setelah berhadapan dengan musuh pasukan Sukamanah terkejut karena yang dihadapinya bukanlah orang-orang Jepang, tetapi bangsa sendiri, padahal instruksi K.H. Zainal Moestafa tidak mengizinkan berperang sesama bangsa. Larilah kurir ke belakang untuk mohon instruksi Kyai, namun keburu barisan Jepang menembak ke atas kemudian menyerang dengan senjatanya.
Terjadilah pertempuran pasukan Sukamanah yang bersenjata golok, parang, pedang, bambu runcing dan sebagainya melawan barisan yang bersenjata senapan, pistol, mitralyur dan senjata tajam. Dalam pertempuran 90 menit barisan Sukamanah dapat dihancurkan dan berakhir dengan penangkapan K.H. Zainal Moestafa. Berpuluh-puluh pengikutnya ditangkap pula, kemudian Jepang mengadakan pembersihan, mengobrak-abrik pondok, rumah-rumah rakyat, merampas harta benda yang dianggap rampasan perang.
K.H. Zainal Moestafa masih sempat memberi pedoman kepada pengikutnya yang pokoknya:
1. Dalam pemeriksaan, semua jawaban hendaknya dapat menyelamatkan diri masing-masing dan teman seperjuangan.
2. Jangan mengaku ikut menyergap dan membunuh 3 orang Kempetai.
3. Jangan putus asa, serahkan segala puji kepada Allah, teruskan perjuangan, jalan kita masih jauh.
4. Saya (K.H. Zainal Moestafa) adalah satu-satunya pemimpin Sukamanah yang bertanggung jawab. Jatuhkanlah beban berat kepadaku. Kalau terpaksa boleh disebutkan nama kawan seperjuangan yang sudah gugur.
Untuk menumpas pemberontakan Sukamanah itu telah digerakkan 2 batalyon polisi, tentara Jepang di bawah perlindungan 5 buah pesawat terbang.
Sebanyak 22 orang pemimpin-pemimpin Sukamanah terhitung K.H. Zainal Moestafa yang ditangkap terdiri dari 5 orang kyai termasuk Panglima kyai Najamuddin dan 17 orang santri yang gagah berani mereka itu dikirim dan dipenjarakan di penjara Cipinang, Jakarta.
Jumlah korban Sukamanah yang gugur dalam pertempuran dan disiksa dalam tahanan Kenpeitai dan penjara Sukamiskin ada 198 orang, sedang yang cedera kehilangan mata, kehilangan ingatan dan sebagainya 10 orang. Kerugian harta ditaksir Rp. 15.500.000,- (taksiran tahun 1970).
Korban fihak Jepang : seorang kapten, 2 orang Letnan dan seorang juru bahasa Kenpeitai mati, kurang lebih 20 orang luka-luka, 5 pucuk pistol, 12 pucuk senapan dan 25 senjata tajam termasuk pedang samurai dirampas.
K.H. Zainal Moestafa dan 21 orang yang dipenjarakan di Cipinang, akhirnya dihukum mati. Mula-mula tidak ketahui makamnya, baru kemudian pada tangal 23 Maret 1970 makam para syuhada yaitu K.H. Zainal Moestafa dan kawan-kawan dapat diketemukan oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, waktu itu Kepala Pusat Sejarah ABRI ialah di makam serdadu-serdadu Belanda, di Ereveld Ancol, Jakarta.
Perjuangan Sukamanah diakui oleh pemerintah kita sebagai cetusan kepahlawanan mencapai kemerdekaan, sedang pemimpinnya K.H. Zainal Moestafa memperoleh gelar Pahlawan Nasional dengan SK Presiden RI No. 064/TK/Tahun 1972 tanggal 6 November 1962.

Posted in Pahlawan Nasional.