Wage Rudolf Soepratman

Wage Rudolf Soepratman

Nama depannya W.R. berarti, Wage Rudolf. Wage Soepratman adalah nama aslinya, sedang Rudolf diberikan kakak iparnya, Hal ini ada sejarahnya sendiri yang akan diuraikan di belakang. Nama depan W.R. itu melekat padanya hingga akhir hayatnya.
Wage Soepratman adalah anak dari Jumeno Senen asal desa Godean, 8 km barat laut kota Yogyakarta yang menjadi serdadu KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger sama dengan Tentara Kerajaan Belanda). Ibunya berasal dari desa Trembelang, wilayah desa Somongari, Purworejo, Jawa Tengah.
Wage Soepratman bersaudara ada 8 orang, tetapi dua orang laki-laki yang lahir lebih dahulu meninggal dunia waktu masih kanak-kanak. la adalah anak ke-7 dalam keluarganya, terhitung yang meninggal dunia.
la dilahirkan pada hari Jumat Wage, tanggal 5 Maret 1903. Rangkapan (Pasaran) hari kelahirannya Wage itulah menyebabkan ia diberi nama Wage Supratman. Ia dilahirkan di desa kelahiran ibunya, Trembelang, Somongari, Purworejo. Demikianlah karena pada waktu ibunya hamil tua, ia seizin suaminya pulang ke desanya dengan harapan melahirkan anak laki-laki. Mengingat kedua anak laki-lakinya yang terdahulu meninggal dunia, maka sebagai suatu ikhtiar Ia akan melahirkan anaknya di desanya dan berharap akan lahir anak laki-laki, harapan itu dikabulkan oleh Tuhan.
Masa kanak-kanaknya ia di tempat tugas ayahnya, yakni Jatinegara, Jakarta. Di sana ia sempat bersekolah di Taman Kanak-kanak (Frobel School). Pada tahun 1910 ayahnya pensiun dan pindah ke Cimahi, Jawa Barat. Di tempat baru itu Supratman sekolah di SD Budi Utomo dan di terima di kelas dua, Ia termasuk anak yang cerdas. Di Cimahi ibunya banyak sakit-sakitan dan dalam tahun 1912 meninggal dunia. Waktu itu Soepratman berumur 9 tahun.
Setelah ibunya meninggal, Wage Soepratman diasuh oleh kakak perempuan sulungnya Rukiyem yang telah menjadi isteri seorang Belanda serdadu KNIL bernama W.M. Van Eldik, yang tinggal di Jakarta. Pada tahun 1914 W.M. Van Eldik dipindah ke Makasar (Ujungpandang). Di sana Wage Soepratman dapat dimasukkan ke ELS Europese Lagera School (SD berbahasa Belanda), sebuah sekolah yang hanya untuk anak-anak Belanda dan pegawai tinggi pemerintah Hindia Belanda. Ia dapat diterima karena diaku sebagai anak keluarga W.M. Van Eldik. Pada waktu itulah namanya diberi tambahan Rudolf, nama Belanda. Dengan nama itu ia diterima di ELS, namun kemudian diketahui bahwa anak itu bukan anak Van Eldik. Oleh karenanya ia dikeluarkan dari ELS, ia lalu disekolahkan pada Sekolah Melayu.
Tamat Sekolah Melayu, Wage Rudolf Soepratman menempuh ujian KAE (Klein Ambtenaars Examen (Ujian pegawai rendahan) dan lulus pula. Ia tidak segera bekerja, tetapi dengan ijazah KAE itu Ia diterima di Normaal School (Sekolah Guru) hingga tamat. Kemudian Ia menjadi guru di Ujung Pandang selama 3 tahun. Waktu hendak dipindahkan ke Singkang, tempat sepi di Sulawesi yang berhawa panas, ia menolak, sekali pun pangkatnya dinaikkan dari guru pembantu menjadi guru (penuh).
Suasana dalam rumahtangga W.M. van Eldik tampak serasi. Sang suami mencintai musik dan pemain biola yang baik, sedang isterinya pun dapat bermain biola, tetapi lebih senang menyanyi. W.R. Soepratman mendapat pelajaran bermain biola dari kakak iparnya. Setelah dapat bermain cukup baik, ia dibawa pula masuk ke dalam band yang diberi nama Blak White Jazz Band, dipimpin oleh van Eldik. Di sanalah W.R. Soepratman mulai karir barunya sebagai pemain musik. Dari kakak iparnya ia mendapat hadiah biola yang akan menyertainya sepanjang hayatnya.
Di samping itu Soepratman bekerja di Kantor Pengacara (Advokat) Mr. Schulten. ia menjadi jurutulis merangkap penerjemah. Gajinya tetap dan cukup tinggi, Mr. Schulten adalah seorang Belanda Indo yang berminat pada Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Waktu itu di tengah-tengah gerakan tiga serangkai Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat (kemudian Ki Hajar dewantara) dan dr. Cipto Mangunkusumo telah mendirikan Indische Partij. Di kantornya tersedia berbagai suratkabar yang menarik perhatian Soepratman Lewat suratkabar ia mengikuti pergerakan bangsanya dan tidak saja mulai tertarik, tetapi justru berminat untuk ikut membaktikan dirinya kepada bangsa dan tanah air Indonesia.
Ia tahu, bahwa pusat pergerakan Indonesia ada di Jawa. Oleh karenanya timbullah niatnya akan pindah ke pulau Jawa. Mula-mula ia ragu-ragu mengingat selama 10 tahun di Ujungpandang Ia telah mempunyai penghidupan yang terhitung baik, namun dorongan akan maju di dalam sanubari telah mengalahkan keragu-raguannya.
Pada tahun 1914 dengan izin suami isteri W.M. van Eldik ia meninggalkan pekerjaannya dan berangkat ke pulau Jawa. Kecuali kopor berisi pakaian, ia menjinjing biola kenangan dari kakak iparnya dengan bangga.
Ia menuju Surabaya, di mana tinggal kakak perempuannya Rukinah Supraptinah yang menjadi isteri R. Kusnendar Kartodirejo. Pada keluarga itu ia tinggal beberapa waktu. Kemudian Ia berangkat ke Cimahi, tempat tinggal ayahnya. Beberapa bulan di sana Ia ke Bandung untuk bekerja pada surat kabar Kaum Muda, surat kabar perjuangan yang pemimpinnya antara lain Abdul Muis (pahlawan Nasional). Gaji cukup tak dapat dijanjikan, karena surat kabar itu semata-mata hidup dari uang langganannya. Hal itu tidak menjadi halangan bagi Soepratman yang telah bertekad untuk ikut berjuang dan sekaligus belajar dalam dunia kewartawanan, di sanalah Ia mulai karirnya sebagai wartawan.
Pergaulan Soepratman dengan para pemimpin dan wartawan makin lama makin luas dan makin tertarik pula Ia kepada perjuangan. Ia sadar bahwa di dalam persuratkabaran dan pergerakan Indonesia bukan tempat untuk mencari gaji besar dan untuk hidup enak, keduanya justru meminta pengorbanan dengan kesadaran penuh dan ketangguhan yang tinggi.
Dengan maksud memperluas hubungan dan menambah pengalaman, Soepratman pindah ke Jakarta dalam tahun 1925. Ia diterima bekerja di Kantor Berita Alpena yang didirikan oleh Parada Harahap, wartawan terkenal. KB Alpena itu bermaksud menyaingi KB Aneta milik Belanda. Di harapkan surat kabar – surat kabar Indonesia dan Tionghwa Melayu berlangganan kepada KB Alpena, namun harapan itu hasilnya jauh memadai.
Soepratman terjun dalam pergaulan yang banyak membantu perkembangannya sebagai wartawan. Dari rekan-rekannya ia banyak dapat tambah pengetahuan, antara lain dari Moh. Tabrani, Saerun dan lain-lain. Setelah Alpena tutup, Soepratman mendapat pekerjaan di Surat kabar Tionghwa Melayu Sin Po. Ia mendapat tugas menulis berita-berita tentang pergerakan Indonesia. Di sana Ia tidak mendapat gaji tetap melainkan bayaran sesuai dengan berita-beritanya yang dimuat dalam surat kabar itu. Oleh karena itu ia harus bekerja giat dan cermat, sebab berita-beritanya harus dipercaya.
Kedudukannya sebagai wartawan yang mengkhususkan diri dalam soal-soal pergerakan, Supratman bergaul luas dengan para pemuda-pemuda, kaum terpelajar yang giat dalam pergerakan.
Gerak dan derap perjuangan Indonesia terasa sekali oleh Soepratman hingga timbullah keinginannya menggubah lagu perjuangan. Maksudnya agar menambah gairah dan semangat orang banyak, khususnya kaum pergerakan. Maka dari itu, meski ia sibuk dengan pekerjaannya memburu berita, namun sampai di rumah Ia memegang dan menggesek biola untuk mencari dan mencoba lagu gubahan yang dikonsepnya, makin hari ia makin sibuk dengan usahanya menggubah lagu perjuangan. Semangatnya menggubah lagu perjuangan bertambah besar setelah ia menyaksikan kegiatan pemuda-pemuda yang tampak sebagai mempersiapkan sesuatu pekerjaan besar.
Dari Moh. Tabrani ia mendengar, bahwa waktu itu dipersiapkan Kongres Pemuda, Indonesia ke-1. Keterangan itu diikuti pesan, jangan hal itu diberitakan di dalam Sin Po, sebab kalau dimuat di dalam surat kabar, niscaya Pemerintah Belanda segara menghalang-halanginya. Soepratman berjanji akan mengekang dirinya, namun dengan berita itu bertambah besarlah gelora dalam sanubarinya untuk menciptakan lagu perjuangan. Ia merasa terpanggil memberikan semangat perjuangan melalui musik, melalui lagu, melalui syair yang akan digubahnya.
W.R. Soepratman sering datang di pusat kegiatan pemuda waktu itu, yakni Gedung Clubhuis Indonesia (CI) di Jalan Kramat Raya 106. Jakarta. Di sana ia bertemu dan berbincang-bincang dengan berbagai tokoh pergerakan Pemuda, antara lain Muh. Yamin, Sugondo Joyosugito, Mr. Sunario. Pada pertengahan Maret 1926 tersusunlah Panitya Konggres Pemuda ke-1 dengan ketua Moh. Tabrani. Konggres itu diadakan mulai 30 April sampai dengan 2 Mei 1928. Di dalam Konggres itu berkumandang seruan Moh Tabrani yang berbunyi, Rakyat Indonesia bersatulah.
Konggres Pemuda Indonesia ke-1 dan seruan tersebutlah yang untuk pertama kalinya mengilhami W.R. Soepratman hendak menciptakan lagu perjuangan.
Sejak itu kegiatan pemuda Indonesia susul-menyusul. Di Jakarta di bentuk PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia), yakni perhimpunan mahasiswa-mahasiswa Indonesia) dengan haluan revolusioner. Ketuanya Muh. Yamin dengan juru bicaranya Sugondo Joyoprayitno. Salah seorang anggota pengurus adalah Abdullah Sigit (kemudian Prof. Drs. di Universitas Gajah Mada). Salah satu rencana PPPI ialah mengadakan Kongres Pemuda ke-2.
Mendengar, bahwa Kongres Pemuda ke-2 direncanakan dalam waktu yang tidak lama, W.R. Soepratman yang akrab dengan para pemimpin pergerakan Indonesia makin merasa terdorong semangatnya untuk menggubah lagu. la ingin mempersembahkan lagu gubahannya itu kepada bangsanya lewat Kongres Pemuda ke-2.
Kongres Pemuda Indonesia ke-2 dilangsungkan di Jakarta pada tanggal 27 s/d 28 Oktober 1928, dipimpin oleh Ketua Panitya Sugondo Joyosugito. Penutupannya di Gedung CI (Clubhuis Indonesia), Kramat Raya 106 Jakarta. Di dalam penutupan Kongres itulah ditetapkan Sumpah Pemuda yang terkenal hingga sekarang. yang aslinya dengan ejaan lama, berbunyi sebagai berikut:
Pertama : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia.
Kedua : Kami putra putri Indonesia menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia.
Dalam semarak dan gelora Kongres Pemuda Indonesia ke-2 yang melahirkan Sumpah Pemuda itu, tanpa direncanakan lebih dahulu, tampillah W.R. Soepratman dengan seizin pimpinan Konggres menyumbangkan secara spontan sebuah lagu ciptaannya sendiri sebagai sumbangsih kepada Kongres, Lagu itu berjudul Lagu Indonesia Raya, dimainkan dalam biola tunggal.
Syair dari lagu itu sengaja tidak dinyanyikan, karena diperhitungkan bilamana syair dinyanyikan niscaya akan menyebabkan polisi (baca PID = Politieke Inlichtingen Dientst = Intel) bertindak.
Namun demikian lagu Indonesia Raya yang dimainkan dalam biola tunggal itu mendapat sambutan hebat sekali oleh segenap hadirin, bahkan terdengar teriakan-teriakan bis, bis yang artinya minta diulangi.
Lagu Indonesia Raya itu memang dikehendakkan oleh W.R. Woepratman, mudah-mudahan dapat menjadi Lagu Kebangsaan Indonesia, seperti halnya lagu ”Wilhelmus” untuk bangsa Belanda. Demikianlah antara lain bunyi surat W.R. Soepratman kepada kakak iparnya W.V. van Eldik, di Ujungpandang.
Lagu ”Indonesia Raya” diterima baik oleh masyarakat khususnya dunia pergerakan kebangsaan Indonesia. Di rapat-rapat menjadi kebiasaan dibuka dan ditutup dengan lagu Indonesia Raya yang diakuinya sebagai lagu Kebangsaan.
Kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) yang ke-2 pada tahun 1929 di bawah pimpinan Bung Karno dalam rapatnya pada tanggal 20 Mei 1929 memutuskan mengakui lagu ”Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan”.
Lagu kebangsaan itu merupakan momok bagi Pemerintah Kolonial. Dikhawatirkan akan menyalakan api pemberontakan melawan pemerintah. Oleh karenanya lagu itu dilarang untuk dimainkan/dinyanyikan di dalam rapat-rapat terbuka, bahkan berkali-kali menjadi alasan PID membubarkan rapat-rapat pergerakan kebangsaan.
Sebelum Jepang mendarat di bumi Indonesia, dari radio Tokyo dikumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipergunakan oleh Jepang untuk membangkitkan kepercayaan rakyat Indonesia tentang maksud baik Jepang akan kemerdekaan Indonesia. Namun setelah beberapa bulan Jepang menguasai Indonesia, lagu kebangsaan itu dilarang dimainkan dan dinyanyikan di mana pun juga.
Begitu besarlah pengaruh lagu ciptaan W.R. Soepratman.
Naskah syair lagu tersebut mengalami perkembangan di dalam arti kata perobahan menurut keadaan dan keperluannya. Naskah aslinya berbunyi sebagai berikut:
Indonesia, tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Menjaga pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku, jiwaku semua
Bangunlah rakyatnya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indones Indones
Mulia Mulia
Tanahku Negeriku yang kucinta
Indones Indones
Mulia Mulia
Hiduplah Indonesia Raya
Kemudian terjadi perobahan yang tidak diketahui kapan dimulainya. Hanya dapat diduga perobahan itu diadakan setelah lagu itu diakui oleh Kongres ke-2 PNI, 1929, sebagai Lagu Kebangsaan.
Perobahan itu mengenai bagian yang berbunyi:
Indones Indones
Mulia Mulia
menjadi:
Indones Indones
Merdeka Merdeka
Setiap kali Lagu Kebangsaan itu dimainkan atau dinyanyikan segenap orang yang hadir di sana berdiri tegak menghormat.
Pengaruh lagu kebangsaan ciptaan W.R. Soepratman itu telah menggetarkan kalangan Pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jenderal de Graef mengeluarkan surat edaran. Segenap pegawai Pemerintah Hindia Belanda harus mengambil sikap yang sungguh-sungguh netral, tidak ikut menyatakan sikap hormat terhadap lagu Indonesia Raya atau lagu perkumpulan semacam itu, dengan berdiri dari tempat duduknya.
Pada waktu pamflet Indonesia Raya diterbitkan, W.R. Soepratman dipanggil oleh Asisten Wedana dan Kepala Polisi, kemudian oleh Pokrul Jenderal ditanya: 1. Apakah maksudnya menggubah lagu Indonesia Raya ? 2. tentang perobahan naskah syair menjadi Indones Indones Merdeka Merdeka. Jawab pencipta lagu kebangsaan itu mempersilakan mereka membaca naskah syair aslinya, di mana tercantum perkataan Mulia Mulia dan yang menetapkan Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan bukan dia, tetapi Kongres PNI ke-2. Akhirnya ia dipersilahkan pulang, tanpa dapat dituntut.
Di zaman Jepang dibentuk suatu Panitya yang bertugas menetapkan melodi dan naskah syair yang seragam dari Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Panitya yang dibentuk atas prakarsa Bung Karno itu diketuai oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam Permusyawaratan Wakil-wakil Indonesia di Jakarta pada tanggal 8 September 1944 keputusan Panitya tersebut diterima baik, yakni terdiri dari 4 pasal sebagai berikut:
Pertama : Apabila lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan satu cou­plet saja, maka ulangannya dilakukan dua kali; apabila dinyanyikan tiga couplet ulangannya dilakukan satu kali, kecuali coplet yang ketiga, ulangannya dua kali.
Kedua : Ketika menaikkan benderah Merah Putih, lagu Indonesia diperdengarkan dengan ukuran cepat 104. Ketika sedang berbaris, maka dipakai untuk keperluan cepat 1 – 2 – 120.
Ketiga : Perkataan ’semua’ diganti dengan perkataan ’sem’wanya’
Keempat : Perkataan ’refrain’ diganti dengan perkataan ulangan.
Pekerjaan Panitya tersebut dilanjutkan di zaman kemerdekaan hingga hal-hal yang menyangkut perundang-undangan seperti tertuang di dalam Undang-undang No. 44 tahun 1958 tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Dengan demikian lagu ciptaan W.R. Soepratman menjadi sempurna sebagai Lagu Kebangsaan Indonesia yang abadi. Inilah jasa utama W.R. Supratman yang tetap terkenang dan tak terlupakan oleh bangsa Indonesia turun-temurun.
la terkenal pula sebagai penggubah lagu-lagu nasional, yakni : 1. Bendera kita; 2. Pandu Indonesia; 3. Lagu KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia; 4. Indone­sia, hai ibuku; 6. Rajen Ajeng Kartini, dan Iain-lain.
Ciptaannya yang lain ialah lagu Di Timur Matahari. Lagu itu diilhami oleh berdirinya Perkumpulan Indonesia Muda yang merupakan fusi (persatuan) dari perhimpunan-perhimpunan pemuda yang berdasarkan ke daerahan (Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Batak, Sekar Rukun (Sunda) dan Iain-lain) Peristiwa itu terjadi di malam terakhir tahun 1930 di Surakarta.
Hampir semalam suntuk Soepratman tidak tidur. Menjelang pagi ia berhasil menggubah lagu tersebut yang syair sebagai berikut:
Di Timur Matahari mulai bercahya Bangun dan berdiri kawan semua Marilah mengatur barisan kita Pemuda-pemudi Indonesia.
W.R. Soepratman adalah seorang seniman, seorang komponis yang peka terhadap gerakan kebangsaan. Waktu tahun 1937 di Surabaya menumpang pada keluarga W.M. Van Eldik yang sudah pindah ke sana, ia bertemu dengan dr. Sutomo, pemimpin Parindra menghadapi Kongres Ke-1 Parindra W.R. Soepratman menyumbangkan lagu gubahannya berjudul Parindra dan Surya Wirawan, kedua lagu itu diterima baik dan selanjutnya dipakai secara resmi.
Selama di Surabaya itu Ia sempat pula menggubah lagu lagi, yakni berjudul Matahari Terbit untuk pandu-pandu KBI. Lagu itu syair berbunyi sebagai berikut.
Matahari sudah terbit
Putra ibu-ibu bangun
Mari lihat cahaya mulya
Indonesia tanah airku.
Ibu Putra yang berbudi
Putra ibu yang sejati
Mari lihat cahaya mulya
Indonesia tanah airku.
Pada tanggal 7 Agustus 1938 W.R. Soepratman siap akan berangkat memimpin nyanyian lagu tersebut oleh pandu-pandu KBI di siaran NIROM Surabaya. Tiba-tiba datanglah polisi menangkapnya, ia diperiksa dengan tuduhan membantu Jepang, yang akan menyerbu Indonesia, sebab pada waktu itu gejala-gejala akan adanya ekspansi Jepang makin jelas W.R. Supratman menyangkal tuduhan itu dengan keras, lagu gubahannya itu sama sekali tak ada hubungan dengan Jepang dan tidak sekali-kali mengandung arti memuja bendera Jepang yang bersimbol matahari terbit, dalam syair itu jelas tercantum Indonesia tanah airku.
Lagu Matahari terbit yang sempat membawa sang komponis ke muka polisi, itulah lagu gubahannya yang terakhir.
Setelah terjadi peristiwa tersebut, W.R. Soepratman jatuh sakit. Nasehat dokter agar ia beristirahat penuh, rupanya kurang diindahkan. Dalam keadaan sakit yang makin hari makin parah itu ia didampingi Kasan Sengari iparnya dan Imam Supardi, wartawan pemimpin redaksi Panyebar Semangat, Kepada Imam Supardi, ia membuka hatinya, bahwa ia tidak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya, karena percintaan. Secara bijaksana Imam Supardi tidak memperdalami kekecewaan sahabat karibnya itu hingga percintaan yang mengecewakan sang komponis berjasa itu tidak terjawab sampai akhir hayatnya.
Dalam hidupnya yang tampak oleh teman-temannya, W.R. Soepratman didampingi oleh seorang wanita yang bernama Salamah. Wanita ini tidak berpendidikan cukup dan tidak ada perhatian kepada kegiatan dan perhatian W.R. Soepratman, khususnya tentang musik dan pergerakan, bahkan akhirnya wanita tersebut meninggalkan Supratman tanpa pamit. Apakah ini yang menjadikan sang komponis kecewa ? Ataukah kegagalan cinta mungkin ? Tak ada seorang pun yang mengetahui.
Meskipun kisah hidupnya mencatat bagian yang menyedihkan namun karya besarnya, terutama gubahan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang abadi itu telah menutup kisahnya sebagai seorang guru, wartawan, musikus, dan komponis yang meninggalkan ciptaan-ciptaannya bermutu tinggi abadi.
Pada tengah malam tanggal 17 Agustus 1938 W.R Soepratman tutup usia dengan tenang. Ia tak meninggalkan seorang anak pun, jenazahnya dikebumikan secara Islam di Surabaya. Pada tanggal 31 Maret 1956 kerangka jenazah almarhum dipindahkan ke makam khusus untuk W.R. Soepratman terletak di Tambaksegaran Wetan Surabaya.
Bangsa Indonesia seluruhnya menghargai jasa W.R. Soepratman dan Pemerintah R.I. menganugerahkan Bintang Mahaputera III kepada almarhum. Dan Presiden RI dengan SK No. 016/TK/Tahun 1971 tertanggal 20 Mei 1971 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.