Supeno

Supeno bwNama-nama orang Indonesia satu dengan lainnya banyak yang sama hingga menimbulkan kekeliruan. Kekeliruan itu dapat dicegah dengan menambahkan nama keluarga, nama famili secara orang barat pada umumnya. Cara lain ialah menghubungkan namanya dengan nama ayahnya dengan menggunakan kata Arab ”bin” untuk anak lelaki atau ”binti” untuk anak perempuan. Hanya di kalangan suku Jawa masih ada yang disebut ”nama tua” yaitu nama baru yang dipakainya setelah orang menikah.
Nama Pahlawan Nasional yang ditulis sejarah ringkasnya ini. Supeno, Menteri Pembangunan dan Urusan Pemuda dalam Kabinet Presidentil di bawah pimpinan Wakil Presiden Dr. Mohammad Hatta. Supeno yang Menteri ini sering, bahkan banyak kali dikira orang Supeno yang lain, yaitu Supeno yang juga terkenal seorang aktivis pergerakan pemuda, namun tidak pernah menjadi Menteri dalam sesuatu Kabinet RI.
Supeno yang lain ini terkenal sebagai tokoh Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) dan wartawan, pemimpin redaksi majalah ”Revolusioner” kemudian duduk dalam Lembaga Kantor Berita Nasional ”Antara” yang di nasakomkan dan duduk di dalam redaksi ”Harian Rakyat” dari PKI. la tokoh PKI yang sebelum peristiwa G 30-S/PKI berangkat ke RRC memenuhi undangan menghadiri perayaan 1 Mei di sana dan hingga kini belum pernah kembali ke Indonesia.
Supeno yang Pahlawan Nasional Menteri dan anggota Partai Sosialis itu setelah tentara Belanda menyerang Yogyakarta, ibukota RI, Ia bergerilya dan mati ditembak Belanda di Desa Ganter, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.
Lebih jelasnya dapat diterangkan sebagai berikut :
– Supeno Pahlawan Nasional almarhum, lahir 12 Juni 1916 sebagai putera tunggal Bapak Sumarno, kepala stasiun kereta api di Pekalongan, Sedang.
– Supeno tokoh PKI adalah Supeno Hadisiswoyo, lahir tanggal 1 Juni 1916 di Wates, Kediri.
Yang kita sajikan sejarah ringkasnya dalam buku ini adalah Supeno Pahlawan Nasional yang telah gugur sebagai kusuma bangsa, umpan peluru musuh. Supeno kita itu, waktu kecilnya mendapat pendidikan pada H.I.S. yaitu Sekolah Dasar 7 tahun dengan bahasa Belanda, kemudian meneruskan ke MULO, Sekolah Menengah Pertama, di Pekalongan, lalu pindah ke Tegal. Dengan berdirinya perkumpulan pemuda berazas kebangsaan ”Indonesia Muda” cabang Tegal pada tahun 1932 Supeno aktif, kemudian menjadi ketuanya.
Dalam kedudukannya sebagai ketua IM itu Ia banyak bergaul dengan pemimpin-pemimpin partai politik dan itulah sekolah pertamanya dalam politik. Karena tugasnya di dalam IM Supeno sering mengadakan pidato-pidato di hari-hari peringatan Pahlawan seperti Hari Kartini, Peringatan Pangeran Diponegoro dan lain-lain. Peringatan demikian itu senantiasa mendapat pengawasan ketat dari pemerintah jajahan dan tidak langka diambil sesuatu tindakan. Sebagai pembicara Supeno sering mendapat teguran polisi bagian politik, PID.
Kegiatan lain, Supeno menerbitkan majalah ”Indonesia Muda” sebagai majalah lokal untuk menanamkan semangat kebangsaan kepada muda-mudi Indonesia. Dalam kegiatan itu Ia tidak saja sering mendapat peringatan PID, bahkan dari direktur MULO. Peringatan demikian dapat berakibat ia dikeluarkan dari sekolah. Setelah lulus MULO. Supeno meneruskan pelajarannya ke Sekolah Menengah Atas, AMS. di Semarang. Waktu liburan Ia pulang ke Tegal dan masih terus memberikan bimbingan kepada IM cabang Tegal.
Tamat AMS Semarang Ia meneruskan pelajarannya ke THS Bandung yang sekarang menjadi ITB. Darah pergerakannya tidak menjadi beku di kota dingin itu, tetapi menjadi lebih meningkat. Waktu itu di kalangan mahasiswa ada perhimpunan yang hanya bertujuan foya-foya, maka tampillah Supeno mendirikan ISU (Indonesia Student Union) yang menjurus kepada perjuangan politik. Ia giat dalam ISU dan masih pula membina IM. Kegiatannya dalam pergerakan itu telah menyebabkan Ia gagal di THS dan pada tahun 1939 ia pindah belajar ke Jakarta pada RHS, Sekolah Tinggi Hukum, kemudian di zaman Jepang (1942) ia masuk Sekolah Hakim.
Di Jakarta Supeno menjadi anggota PPPI (Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang berorientasi Politik. Di samping itu ada perkumpulan mahasiswa lainnya, ialah USI dan ivsv. Pada tahun 1941 ketiga perkumpulan mahasiswa itu mengadakan kerjasama dengan membentuk Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia, disingkat BAPERPI, sebagai ketuanya diangkat Supeno.
BAPERPI itu di masa pendudukan Jepang tidak berkesempatan bekerja sebagai Badan Permusyawaratan, bahkan membekukan dirinya sesuai dengan larangan pemerintah pendudukan Jepang. Namun Supeno pribadi bekerja terus dengan bantuan rekan-rekannya Ia berhasil mendaftar semua mahasiswa yang keadaannya serba tidak menentu. Nasib mereka berhasil diperjuangkan hingga mendapat perumahan yang diperlukannya. Kemudian mendaftar pula para mahasiswa yang bersedia dididik dan dipekerjakan dalam departemen-departemen. Dalam pekerjaan ini Supeno memperoleh bantuan Mr. Sumarwan, Sujoko Hadipranoto dan Subadio Sastrosatomo, tokoh PSI.
Sebenarnya Supeno berpendirian, bahwa pada hakekatnya Jepang bermaksud menjajah Indonesia, tidak berbeda dengan Belanda. Oleh karenanya dalam siasat menghadapi Jepang Ia menggabungkan diri dengan Sutan Syahrir yang bekerja di bawah tanah dengan tujuan menghimpun kekuatan menghadapi Jepang.
Di lain Pihak Supeno sebagai eksponen mahasiswa (BAPERPI) menerima baik dan mengikuti kebijaksanaan Soekarno – Hatta memimpin rakyat dalam meneruskan perjuangan kemerdekaan di masa pendudukan Jepang yang serba sulit dan terhimpit. Sejak saat itu terjalin kerjasama antara Supeno dan Bung Karno hingga kepada pembentukan PUTERA dan Jawa Hokookai.
Supeno pun bekerjasama dengan Chaerul Saleh dan Sukarni yang mengikuti Sendenbu (Barisan Propaganda Jepang di bawah Hitosyi Shimitsu), terutama dalam mendirikan Pusat Pendidikan Kader Menteng 31, dimana pemuda-pemuda dari berbagai daerah digembleng oleh Bung Karno, Bung Hatta dan pemimpin-pemimpin lain-lainnya. Setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Supeno pun segera tampil di medan perjuangan.
Dengan terbentuknya KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) Supeno duduk di dalam Komite itu di bidang kepemudaan dan penerangan. Pada tanggal 17 – 18 Oktober 1945 KNIP mengajukan mosi agar sebelum dapat mengadakan Pemilihan Umum, KNIP dijadikan Badan yang menjalankan tugas sebagai MPR dan DPR. Prakarsa mosi itu datang dari kerjasama Supeno, Ki Mangunsarkoro, Ir. Salcirman dan Subadio Sastrosatomo. Dalam perkembangannya, kemudian KNIP membentuk Badan Pekerjanya. Supeno menjadi salah seorang anggota BP KNIP itu. la giat membantu Mr. Suwandi menyusun sekretariat BP KUP yang pertama.
Dalam kegiatan tersebut Supeno tidak meninggalkan tugasnya sebagai kepala Kantor Urusan Pemuda. Bersama Subagio Reksodiputro ia membentuk Balai Pemuda.
Persesuaian Supeno dengan Sutan Syahrir telah membawa Supeno masuk ke dalam Partai Sosialis yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1945, yakni fusi antara PARAS (Partai Rakyat Sosialis Indonesia, yang didirikan di Cirebon dalam bulan November 1915 oleh Sutan Syahrir dengan beberapa anggota PNI – Hatta, Pendidikan Nasional Indonesia) dan PARSI (Partai Rakyat Sosialis yang didirikan sehabis Perang Dunia II oleh Mr. Amir Syarifuddin, Mr. Abdulmajid Joyohadiningrat dkk.). Karena Partai Sosialis makin cenderung kepada komunisme, maka Sutan Syahrir dkk. keluar, kemudian mendirikan Partai Sosialis Indonesia, PSI, pada 12 Pebruari 1948 di Cirebon, Supeno mengikuti Syahrir dalam PSI. Partai Sosialis Amir Syarifuddin secara resmi dibubarkan pada bulan Pebruari 1951 dan anggota-anggotanya masuk dalam PKI.
Pada tahun 1946 Supeno dalam kedudukannya sebagai anggota PSI diberi tugas oleh partainya untuk membela para tertuduh dalam ”Peristiwa Tiga Daerah” (Tegal, Brebes, Pekalongan) yang menimbulkan kekacauan dan pembunuhan. Gerakan itu dipimpin oleh K. Amijay dan Kutil, tidak jelas maksud dan tujuan gerakan itu, kecuali dapat diduga sebagai gerakan ekstrim yang hendak membentuk dan memurnikan tenaga-tenaga progresip, K. Amijaya, Kutil dkk. diseret ke pengadilan. Sebagai pembela perkara itu Supeno didampingi Mr. Tandiono Manu (bekas Residen Bojonegoro) dan Mr. Usman Sastroamijoyo almarhum (bekas Dubes RI di Kanada). Supeno bertugas membela di bidang politik dan sebagai ketua tim pembela, sedang dua orang ahli hukum tersebut bertugas di bidang juridisnya.
Setelah pengadilan bersidang dua kali dan belum mengambil sesuatu keputusan, mendadak Belanda menyerang daerah RI dalam aksi militernya. Clash ke-1. Hingga perkara itu menjadi bubar tanpa kesudahan hukum.
Hingga tahun 1948 Supeno duduk di dalam BP KNIP, di samping itu ia tetap memimpin Biro Pemuda. Kegiatannya dalam BP KNIP menyebabkan banyak orang menyebut Supeno sebagai motor penggerak BP KNIP.
Pada permulaan 1948 ia diutus pemerintah RI ke Sumatra untuk mengadakan konsolidasi, khususnya bersiap-siap bila sewaktu-waktu Belanda menyerang lagi dan untuk menampung kemungkinan pindahnya pemerintahan RI ke Sumatra.
Pada tanggal 29 Januari 1948 tersusunlah Kabinet Presidentil di bawah pimpinan Wakil Presiden Dr. Moh. Hatta dan Supeno diangkat dalam Kabinet itu sebagai Menteri pembangunan dan Pemuda. Kedudukan Supeno itu antara lain juga untuk menunjukkan, bahwa PSI mendukung Kabinet Hatta yang dimusuhi oleh FDR (Front Demokrasi Rakyat di bawah pengaruh PKI).
Supeno terkenal sebagai orang yang suka bekerja, tugas-tugasnya dilaksanakan dengan tekun dan ulet serta tak mengenal waktu ia dapat bekerja non-stop dengan kadang-kadang melupakan keluarganya. Ia kuat bekerja berhari-hari tanpa mandi dan ganti pakaian hingga baunya menusuk hidung. Segala pekerjaan dijalankan dengan bersungguh-sungguh dan penuh pengabdian. Pakaiannya kusut, kadang-kadang berbau apek. dan badannya tidak pula dipedulikannya, namun tertawanya terbahak-bahak tetap sering terdengar di sela-sela pembicaraannya.
Pada hari Ahad 19 Desember 1948 Belanda melancarkan serangan militernya yang Ke-2, Ibukota RI Yogyakarta berhasil mereka duduki. Pemerintah RI mengadakan sidang kilat dan memutuskan, memberi kuasa kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara yang sedang berada di Sumatra untuk memimpin Pemerintah Darurat RI (PDRI). Para anggota Kabinet Hatta yang di Yogya ditangkap dan kemudian berkelompok-kelompok diasingkan ke luar Jawa, Sri Sultan HB IX masuk kratonnya, Panglima Sudirman meskipun sakit parah meninggalkan kota dengan ditandu, dan menjalankan pimpinan gerilya. TNI bertahan dan gerilya hebat dilakukan di mana-mana, khususnya di sekitar Yogyakarta.
Waktu itu 3 orang menteri, yakni Menteri Kehakiman Mr. Susanto Tirtoprojo, Menteri Kemakmuran I. J. Kasimo dan Menteri Dalam Negeri Dr. Sukiman Wirjosandjojo berada di Sala. Mereka tidak tahu-menahu tentang keputusan mengenai PDRI dan baru kemudian diberitahu oleh Panglima Besar Sudirman dalam perjumpaannya di daerah Ponorogo. Susanto dan Kasimo bermaksud pergi ke Yogya, namun lewat Kartasura mereka ditembaki Belanda hingga dua mobilnya hancur, namun mereka selamat. Oleh karena itu mereka bermaksud kembali ke Sala. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Dr. Sukiman yang juga bermaksud ke Yogyakarta. Akhirnya mereka bertiga bersepakat untuk kembali ke Sala dan mengadakan pertemuan dengan pembesar-pembesar termasuk Gubernur Militer Jenderal Gatot Subroto. Diputuskan 3 orang menteri itu melanjutkan tugas pemerintahan, tetapi jam 5 sore Belanda sudah sampai di Kartasura, maka berangkatlah tiga orang menteri itu dengan rombongannya ke Tawangmangu. Menteri Pembangunan dan Urusan Pemuda Supeno yang baru saja datang dari perjalanan keliling lalu menggabungkan diri pula.
Perjalanan gerilya 4 menteri dengan pengiringnya menuju ke timur, arah Ponorogo. Sejak di desa Serak, daerah Ponorogo, Menteri Supeno bertugas pula sebagai Menteri Penerangan ad interim dengan pembantu utamanya Ananta Gaharsyah dan sekretaris Samodra Lewat RRI yang dipindah-pindahkan Ia melawan siasat musuh, la berseru agar pemuda menghancurkan negara-negara boneka Jawa Timur, Pasundan, Indonesia Timur dan lain-lain. Penerbitan buletin yang membawa kabar tentang perjuangan kaum republikein di mana-mana amat besar sekali artinya dalam mengobarkan semangat rakyat. Berita tentang perjuangan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru membela RI di forum PBB benar-benar menegakkan semangat perjuangan rakyat Indonesia.
Waktu itu pasukan Belanda tak henti-hentinya menguber pejuang-pejuang RI. Berkali-kali menteri-menteri gerilya dan rombongannya terhindar dari serangan musuh. Kabar bohong disiarkan oleh Belanda, bahwa Menteri Susanto dan Kasimo telah mati dibunuhnya. Perang urat syaraf meningkat. Dalam hal ini Menteri Supeno tak pernah lengah, senantiasa membantah kabar-kabar demikian.
Penguberan Belanda pada kaum gerilya makin intensif sehingga beberapa kali mereka hampir berhasil menjebak rombongan menteri-menteri RI. Sampai di desa Ganter, daerah Nganjuk para gerilyawan menginap 3 malam, tak menduga sama sekali akan terjadi malapetaka yang mengharukan.
Pagi-pagi 24 Pebruari 1949 Menteri Supeno seperti biasanya pergi mandi ke pancuran tak jauh dari penginapannya. Mendadak terdengarlah tembakan beruntun yang mereka kira teman, tetapi ternyata lawan. Pasukan Belanda menerobos hutan dan turun ke Ganter. Pak Supeno yang seperti biasanya berpakaian serba hitam dengan pengiringnya digiring Belanda. la berjalan tegak tanpa menoleh, kemudian tidak pula mau membuka rahasia bahwa ia seorang Menteri RI. Maka dari pondokannya terdengarlah tembakan beruntun dan Menteri Supeno ditembak mati. Enam orang pengiringnya tidak terkecuali, sedang sekretarisnya Samodra yang terpisah dan ia pun kedapatan mati tertembak. Demikianlah tersebut dalam buku bahasa Jawa tembang berjudul ”Nayaka lelana” yang ditulis oleh Mr. Susanto Tirtoprojo almarhum.
Waktu gugur, Supeno baru berusia 32 tahun dan baru enam tahun kawin dengan isteri tercinta yang dipanggilnya Tien dari singkatan Kamsitin Wasiyatul Khakiki, putera keluarga Danusiswoyo, penilik Pendidikan Masyarakat di Purbalingga. Waktu ditinggal suaminya tercinta ia telah dikaruniai seorang anak perempuan, Yudyaningsih Supeni Rokutiningsih. Ayu yang kini sudah dokter lulusan Universitas Diponegoro dan telah mempunyai anak pula. Ibu Tien Supeno sendiri dengan mengarungi perjuangan hidup yang amat berat, akhirnya pada tahun 1974 berhasil meraih gelar Sarjana Hukum dari Undip pula. Kini ia pensiun sebagai pegawai bagian administrasi merangkap dosen pada Fakultas Hukum Undip. Hidupnya dapat dikatakan bahagia, meskipun yang didiaminya di Jalan Wonodri Baru 25, Semarang adalah rumah cicilan.
Supeno yang dalam hidupnya Menteri pembangunan dan Urusan Pemuda dan Menteri Penerangan ad interim pemerintahan RI dalam pengembaraan, telah gugur sebagai Pahlawan dan telah ditetapkan oleh Pemerintah RI dengan SK Presiden No. 039/TK/Th. 1970 tgl. 13 Juli 1970 sebagai Pahlawan Nasional. la dianugerahi pula Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Kelas III secara anumerta, yakni sebagai penghargaan atas sifat-sifat kepahlawanannya serta atas keberanian dan ketebalan tekad melampaui dan melebihi panggilan kewajiban dalam pelaksanaan tugasnya yang telah disumbangkan terhadap Negara dan Bangsa Indonesia.

Posted in Pahlawan Nasional.