Arie Frederik Lasut

AF Lasut bwArie Frederik Lasut dilahirkan pada tanggal 6 Juli 1918 di desa Kapataran, Kabupaten Minahasa yang merupakan daerah surplus dengan cengkeh dan kopranya. la adalah putera kedua dari keluarga Danus Lasut, dan ibunya Ingkan Supit. Ayahnya seorang guru Sekolah Dasar.
Arie mula-mula bersekolah di Sekolah Dasar (HIS) di Tondano. Rupanya ia anak yang pandai, ia pun gemar mengambar dan berbakat teknik, Arie dapat lulus dari HIS sebagai bintang sekolahnya dengan lulus nomer satu.
Kemudian ia meneruskan pelajaran di Sekolah Guru di Ambon, walaupun sebenarnya Ia kurang tertarik menjadi guru. Di sekolah guru ini pun Arie tetap menjadi juara dalam kelasnya. Ia pun gemar berolah-raga seperti sepak bola dan kasti. Walaupun badannya kecil, tetapi Ia gesit dan keras hati sehingga mendapat julukan kecil-kecil cabe rawit. Arie juga menggemari kesenian dan pandai memainkan piano dan biola.
Sejak kecil Arie Frederik Lasut sudah tanggap terhadap pergerakan nasional. Ia begitu gembira mendengar adanya pemberontakan kapal perang De Zeven Provincien, padahal banyak kawannya yang justru mencela.
Selanjutnya Arie terpilih untuk melanjutkan pelajaran ke Sekolah Guru tingkat yang lebih atas (SPG) di Bandung. Di SPG selain sepak bola, Arie juga giat dalam atletik, terutama lempar lembing dan loncat galah. Arie juga gemar pekerjaan tangan dan menulis buku nyanyian.
Sejak di Ambon ia sudah mempunyai perhatian terhadap semangat kebangsaan. Boleh dikatakan gurunya dalam hal nasionalisme adalah Lumanouw.
Arie hanya satu tahun di SPG, pada tahun kedua ia pindah sekolah ke AMS jurusan B (SMA Paspal) di Jakarta dengan berbagai kesulitan dan hambatan. Berkat ketekunannya, akhirnya Arie dapat lulus dari AMS pada tahun 1937. Karena nilai ujiannya bagus, Arie langsung diterima di Geneeskundige Hoge School (Sekolah Tinggi Kedokteran).
Tidak lama Arie menjadi mahasiswa GHS. Karena kesulitan rumah tangga orang tuanya, maka tidak mungkin lagi bagi Arie untuk meneruskan studi di GHS. Dengan berat hati Ia keluar dari GHS dan bekerja pada Departemen Ekonomi, sambil-menunggu datangnya beasiswa yang diajukannya kepada Pemerintah dan Gereja. Akhirnya Pemerintah Belanda bersedia memberi beasiswa dengan ikatan dinas kepada Arie, tetapi dengan syarat, Arie harus bersedia menjadi Warga Negara Belanda, atau menjadi bangsa Belanda (gelijkgesteld). Hatinya bimbang sebentar, antara kesempatan untuk maju dalam studi dan semangat kebangsaan Indonesia. Akhirnya semangat kebangsaan Indonesia yang menang. Ia menolak beasiswa tersebut dan memilih tetap menjadi pemuda Indonesia.
Pada tahun 1939 Arie memasuki Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoge School) di Bandung. Kembali karena kesulitan keuangan ia tidak meneruskan kuliahnya, beruntunglah Ia diterima sebagai mahasiswa ikatan dinas yang diberikan oleh Dinas Pertambangan (Dienst Van den Mijnbouw) untuk dididik menjadi ahli pertambangan. Ikatan dinas itu diperolehnya sesudah Ia lulus ujian dari 400 orang calon, ternyata hanya dua orang yang lulus dan diantaranya ialah Arie Frederik Lasut. Sesudah lulus dari akademi tersebut, maka Arie menjadi ahli pertambangan Indonesia yang waktu itu masih amat sedikit.
Ketika Perang Dunia II pecah dan pasukan Jepang sudah hampir menyerang Hindia Belanda, Arie dilatih sebagai perwira cadangan. Ia memasuki latihan CORO (Corps Reserve Officieren), Arie sempat bertempur melawan tentara Jepang di daerah Ciater, Jawa Barat.
Pada zaman pendudukan Jepang, Arie Frederik Lasut tidak memasuki latihan militer, ia kembali bekerja sebagai ahli pertambangan dan diangkat sebagai asisten geolog pada jawatan Geologi (Tititsutiyo Zaiyi) di Bandung. Pada waktu itu ahli pertambangan bangsa Indonesia hanya dua orang, yaitu Arie Frederik Lasut dan R. Sunu Sumosusastro. Kedua orang itulah yang menjadi cikal bakal perkembangan pertambangan di Indonesia.
Arie menyadari benar akan hal itu, dan ia benar-benar mengabdikan dirinya sebagai perintis dunia pertambangan kita. Banyak yang telah dikerjakannya ia menyelidiki endapan yarsit di daerah Ciater (Subang). Tambang belerang di Telagabodas juga dikerjakan, demikian pula tambang belerang di Wanaraja (Garut).
Arie juga mengusahakan tambang batubara di Cisaat, Sukabumi, tambang batubara di Ngandang, Rembang, Jawa Tengah; juga cadangan batubara di Palibendo dan Watugemuk, karena menurut penyelidikan terdahulu, di tempat tersebut terdapat lapisan batubara setebal 70 cm.
Tambang batubara di Bayah, Banten yang mempunyai riwayat sedih karena di situ banyak Romusha atau pekerja paksa telah tewas, juga tidak luput dari penelitian Arie Frederik Lasut. Pertambangan daerah Jalen Watulimo di Tulungagung juga diperhatikan, dan menurut Arie di situ tersimpan lapisan batubara setebal satu meter.
Arie juga mengadakan studi tentang pertambangan minyak bumi, misalnya di Bongas, Cirebon dan Cepu. Tambang emas di Cikotok dan Cikondang juga terus diusahakan, Tambang batu logam di Lebak dan Cimari dan tambang mangaan di Kliripan, tidak dilupakan. Di gunung Sawal diusahakan tambang timah, sedangkan di gunung Parang, Purwakarta juga dihasilkan timah dan Cinnaber. Di daerah Titomoyo dihasilkan tambang batu tembaga. Karangbolong menghasilkan fosfat. Tambang tras ada di daerah Tayu dan di gunung Dewi, Sukabumi. Di Kraha terdapat kaolin dan belerang.
Di Nagrek juga ada batu porselin, kaolin, dan granit. Di Bojonegoro dan Tuban ada batu bintang. Demikian pula pengusahaan tambang di pulau Sumatra diteruskan, misalnya batubara Umbilin, Sawahlunto, Bukit Asam dan Logas. Di Rantau dan Perlak dilakukan pengeboran minyak tanah. Juga di Julu Rayen, Pase, Puluh Tabuan (Sumatera Timur), Pulau Panjang, yang antara lain menghasilkan methaangas.
Di Pangkalan Susu, Jambi, Bajubang, Tempino, Kenaliasem, Betung, Senarni, Plaju, Setiti Barat, Sungai Gelam, diadakan penelitian dan pembukaan tambang minyak bumi. Semua kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Hasarni dan Prof. Kumangai, sedangkan Arie Frederik Lasut hampir selalu terlibat dalam pekerjaan itu, jadi Arie bersama Sunu mengetahui segala rahasia pertambangan, baik yang dilakukan pada zaman Hindia Belanda, maupun zaman pendudukan Jepang.
Arie Frederik Lasut sudah menduga, bahwa masa pendudukan Jepang tidak akan lama. Dan Ia yakin, bahwa tugas-tugas pertambangan dan geologi akan menjadi bagian bangsa Indonesia sendiri. Karena itu Arie memimpin para pemuda pertambangan, di antaranya R.I. Subroto, untuk menyiapkan diri. Arie juga menanamkan semangat kebangsaan pada para pemuda.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, Arie Frederik Lasut pun ikut bergerak. Ia mendirikan barisan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) cabang Bandung bersama kawan-kawannya. Arie bahkan ditunjuk menjadi ketua KRIS cabang Bandung yang ditugasi membentuk barisan kelaskaran. Meskipun Arie pemah menjadi perwira cadangan pada zaman Hindia Belanda, dan mahir menggunakan berbagai senjata api dan ilmu peperangan modern, tetapi pihak pimpinan dan Arie sendiri menyadari, bahwa bidang pengabdiannya lebih diperlukan pada Jawatan Pertambangan dan geologi. Karena itu yang ditugasi untuk langsung memimpin kelaskaran KRIS (bersenjata) adalah Fred Komongan, Karundeng dan Rorimpandey.
Arie adalah juga seorang ahli strategi. Sesudah Jepang menyerah, maka banyak bekas perwira dan pembesar Belanda yang ditempatkan di Hotel Preanger, Bandung. Rupanya tentara Sekutu dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) banyak yang mengadakan pertemuan dengan bekas pembesar Belanda tersebut. Arie segera bertindak dengan menempatkan anggota KRIS, T.P. Mandagi, menjadi mata-mata di Hotel Preanger, yang berhasil menyadap berbagai informasi penting bagi perjuangan Republik Indonesia.
Dalam usaha merealisasi kemerdekaan, Arie Frederik Lasut pada tanggal 29 September 1945 memimpin pengambil alihan Jawatan Geologi (Charitsu Cosajo) dari tangan Jepang. Tanggal 29 September itu hingga kini ditetapkan sebagai Hari Pertambangan.
Kepala Chanitsu Cosajo, yaitu Mitsuchi, mula-mula menolak menandatangani pengambil-alihan tersebut. Delegasi yang berunding itu terdiri dari R. Ali Tirtosuwiryo, R. Sunu Sumosastro dan penterjemah Sjamsul Bahrun. Sedangkan Arie mengatur siasat kalau perundingan gagal akan diambil jalan kekerasan. Mitsuchi berjanji begitu akan mengundurkan diri Ia akan menyerahkan Jawatan Geologi kepada Indonesia. Pada akhirnya pengambilalihan itu berhasil. Jawatan Geologi dapat kita kuasai dan dimasukkan dalam Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga. Ketika itu Arie Frederik Lasut diangkat sebagai Kepala Bagian Perusahaan.
Arie tetap juga berjuang dalam KRIS, bahkan dalam penyerbuan ke Hotel Preanger Arie ikut mengambil bagian. Sesudah kota Bandung dibagi dua. Arie bersama kawan-kawannya memindahkan kantor Jawatan Geologi ke Ciwidey di daerah Bandung Selatan pada akhir November 1945. Benda-benda penting seperti alat fotografi sempat diungsikan yang kemudian dimanfaatkan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia. Alat gambar dan laboratorium seperti platina diungsikan ke Yogyakarta. Arie sendiri menanam platina dan alat-alat lain di halaman rumahnya di Yogyakarta yang kemudian digali kembali pada tahun 1950.
Dalam kabinet Syahrir I, Jawatan Pertambangan diurus oleh Kementrian Kemakmuran. Pada Kabinet Syahrir II, dimasukkan Kementrian Perindustrian dan Perdagangan. Pada tanggal 16 Maret 1964 A.F. Lasut menjadi Kepala Jawatan Tambang dan Geologi, berkantor di Jalan Braga no. 3 Bandung, sedangkan kegiatan teknis ada di Ciwidey. A.F. Lasut sudah yakin, perjuangan melawan Belanda akan berlangsung lama, karena itu kegiatan Jawatan Tambang dan Geologi harus menyebar. R. Sunu segera dipindahkan ke Malang, R.I. Subroto ke Telomoyo sedangkan A.F. Lasut dan Syamsul Bahri tetap di Bandung.
Sesudah terjadi peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946, Kantor Jawatan Pertambangan dan Geologi pindah dari Bandung dan Ciwidey ke Tasikmalaya. Akhirnya dari Tasikmalaya harus pindah lagi ke Magelang pada akhir tahun 1946. A.F. Lasut pun pindah ke Magelang. Di sini Jawatan Pertambangan dan Geologi dapat berjalan dengan agak teratur dan tenang. A.F. lasut mulai mengatur kegiatan dan sempat mengadakan sekolah, yaitu Sekolah Penambangan Geologi Menengah dan Sekolah Tinggi Pertambangan dan Geologi.
Arie Frederik Lasut tidak hanya bergerak dalam bidang geologi secara sempit. la masih tetap memimpin KRIS Cabang Magelang, dan juga menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), bahkan Ia duduk menjadi anggota ahli pada delegasi Republik Indonesia dalam perundingan Linggarjati. Dalam meja perundingan itu Ia sempat berhadapan dengan bekas gurunya, yaitu Prof. Ir. Achersdijk. Profesor tersebut berusaha untuk menekan dan memaksakan keinginannya kepada bekas mahasiswanya, tetapi A.F. Lasut tidak bersedia ditekan dengan mengatakan, bahwa ia mewakili negara Republik Indonesia yang sederajat. Untuk mengorbankan semangat perjuangan, Arie Frederik Lasut pun pernah ke Ujung Pandang.
Sementara itu pasukan Belanda melakukan agresi militer I pada tanggal 21 Mei 1947. Jawatan Pertambangan dan Geologi menjadi porak poranda. Pusat Jawatan cepat-cepat diungsikan ke Yogyakarta. Sekolah-sekolah pertambangan juga ikut dipindahkan. Tenaga-tenaga disebar ke Borobudur, gunung Merapi dan sebagainya. Dokumen pertambangan menjadi sangat penting nilainya dan selalu diincar oleh Belanda. Demikian pula Kepala Jawatan Pertambangan dan Geologi, yaitu Arie Frederik Lasut sendiri menjadi sasaran politik Belanda karena mereka menyadari potensinya. Arie Frederik Lasut harus dikuasai, kalau mungkin dengan bujukan dan jalan lunak. kalau tidak mungkin, maka satu-satunya jalan ialah dengan kekerasan. Arie harus di lenyapkan. Dalam keadaan yang gawat itu, Arie Frederik Lasut diterbangkan dengan pesawat AURI ke Bukittinggi dengan membawa semua dokumen penting pertambangan untuk diselamatkan.
Sementara itu pasukan Belanda kembali menyerbu Republik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 dan kota Yogyakarta diduduki. Pasukan Belanda juga mendatangi kantor Jawatan Pertambangan yang terletak di kampung Pugeran (sekarang Rumah Sakit Gajah Mada). Ketika Arie Frederik lasut ditanya oleh Stafnya, apakah tindakan selanjutnya yang akan dilakukan, maka Ia menjawab, ”Bertindaklah sesuai dengan keadaan”.
Selama pendudukan tentara Belanda itu, Arie Frederik Lasut tetap berada di kota Yogyakarta. la berjuang di bawah tanah dengan mencetak selebaran untuk mengobarkan semangat perjuangan. Rumahnya didatangi tentara Belanda dan digeledah. Untung mesin cetak sudah disembunyikan keluar rumah. Arie juga pernah ditahan, tetapi dibebaskan kembali, karena ia adalah anggota KNIP.
Pada waktu itu penderitaan Arie sungguh berat. Sebagai Kepala Jawatan Ia tetap bertanggungjawab melindungi dan mengurusi para pegawainya. Selain itu Arie yang baru saja menikah dan mempunyai anak perempuan yang kecil, sudah ditinggal oleh istrinya yang pulang ke rakhmatullah. Pada bulan Pebruari 1949 A.F. Lasut berangkat ke Jakarta. Ia tetap giat memperjuangkan pertambangan Indonesia. Di Jakarta ia mengadakan hubungan dengan berbagai pengusaha pertambangan luar negeri (bukan Belanda). Rupanya kegiatan A.F. Lasut di Jakarta tercium oleh fihak Belanda yang sedang berusaha untuk menghancurkan Republik Indonesia. A.F. Lasut lalu dihubungi oleh Prof Ir. Achersdijk dan Prof. Buurman yang membujuknya agar mau bekerjasama dengan mereka. Mereka berkata bahwa Republik In­donesia sudah akan hilang peranannya dalam arena politik. Tetapi A.F. Lasut tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Ia berkata,
”Kalau Pemerintah Republik Indonesia memerintahkan saya untuk bekerja sama dengan Tuan-tuan. maka saya akan mematuhinya, demi pemerintah dan rakyat Indonesia”.
Belanda gagal membujuk Arie Frederik Lasut, padahal mereka mengetahui, Arie menyimpan dokumentasi pertambangan. Belanda menyadari potensi Arie Frederik Lasut yang sungguh berarti bagi dunia pertambangan.
Rupanya fihak Belanda menjadi marah terhadap sikap Arie Frederik Lasut dan mereka mengambil keputusan yang tidak terpuji. Sekembalinya Arie Frederik Lasut ke Yogyakarta, dinas Rahasia Belanda (Inlichtingen VeUigheids Groep) atau IVG segera mengirim radiogram ke Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1949 jam 9. 00 yang berbunyi: ”A.F. Lasut secepat mungkin dihilangkan”.
Setengah jam kemudian, tiga serdadu KNIL mendatangi rumah Arie Frederik Lasut. Ia segera dibawa dengan jeep ke arah utara Yogyakarta, menuju Kaliurang. Di dekat Pakem jeep itu berhenti dan pada pukul 10.00 peluru menghujani tubuh Arie Frederik Lasut pemegang kunci penting dalam dunia pertambangan dan geologi. Pada hari itu Ia gugur sebagai Kusuma bangsa.
Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada Arie Frederik Lasut dengan Surat Keputusan Presiden No. 012/TK/TH 1969 tanggal 20 Mei 1969.

Posted in Pahlawan Nasional.