Sutan Sjahrir

Sutan Syahrir bwSutan Sjahrir dilahirkan di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada tanggal 5 Maret 1909. la berasal dari keluarga terpelajar dan mempunyai pendidikan yang baik di Kota Gadang, Bukittinggi.
Ayahnya bernama Mohammad Rasyad gelar Maharaja Sutan, semasa hidupnya menjabat sebagai Jaksa Kepala di Medan. Ayah Sjahrir meninggal dunia pada tahun 1929. Ibunya berasal dari Natal, Tapanuli. Sjahrir berasal dari keluarga yang besar, saudara-saudaranya semuanya berjumlah 16 orang.
Ia melangsungkan pernikahannya di Kairo, Mesir, dengan Siti Wayunah (Poppy) Saleh, puteri Dr. Saleh Mangundiningrat dari Surakarta. Pernikahannya itu dilakukan oleh Rektor Universitas Al-Azhar. Dari perkawinannya itu ia memperoleh dua putera, yaitu: Buyung (Karya Arsyah) dan Upik (Siti Rabiyah Parvati).
Sutan Sjahrir memperoleh pendidikan yang baik dan teratur. Setelah menamatkan Sekolah Dasar Belanda (Europesche Langere School) di Medan, Ia melanjutkan ke MULO (SMP) di Medan juga. Kemudian meneruskan ke AMS Bagian A (sejenis SMA jurusan Budaya) di Bandung. Pada tahun 1929 Ia berangkat ke Negeri Belanda, belajar pada fakultas Hukum di Universitet Amsterdam.
Sejak kecil Sjahrir memang pandai, bahkan ia sering kali menjadi murid yang terpandai dikelasnya. Lagi pula ia pandai bergaul, banyak orang suka kepadanya, karena tabiatnya yang lemah lembut.
Perawakan Sjahrir kecil, tetapi sehat. Ia selalu tersenyum dan banyak ketawa. Sebagai Perdana Menteri Ia selalu hidup bersahaja. Saban hari Ia hanya mengenakan kemeja putih berlengan pendek dan celana panjang warna putih pula. Dengan pakaian demikian ia datang di Kantor P.M. dan demikian pula Ia mengunjungi Sunan Surakarta di Kratonnya. Ia tidak suka banyak bicara, tetapi banyak bekerja. Sjahrir tidak mau membuang-buang tempo. Sejak kecil Sjahrir menyukai musik dan olah raga. Ia pandai main tennis, bahkan pernah mengikuti latihan olah raga terbang.
Ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (AMS) di Bandung, Sjahrir sudah ikut organisasi kepemudaan. la adalah aktivis dari Jong Indonesia (Pemuda Indonesia), sebuah organisasi pemuda berazaskan nasionalisme. Padahal pada waktu itu organisasi-organisasi pemuda masih berazas kedaerahan. seperti Jong Ambon (Leimena), Jong Soematranen Bond (Hatta, Yamin), Jong Batak (Amir Sjarifudin), Jong Java (Koenjoro) dan lain-lainnya. Di sini sudah tampak bahwa Sjahrir telah lebih maju pandangan politik nasionalismenya.
Organisasi Pemuda Indonesia sudah jelas mempunyai pendirian unifikasi persatuan dan kesatuan seluruh suku-suku bangsa, menjadi satu Bangsa Indo­nesia. Sebelum terjadinya Sumpah Pemuda Tahun 1928, di kalangan pemuda terdapat dua pendapat, yaitu : (a) Yang menghendaki federasi, atau suatu gabungan di antara perkumpulan-perkumpulan pemuda itu ; (b) Yang menghendaki fusi, atau uni, yaitu persatuan yang bulat. Semua perkumpulan pemuda daerah menghadapi proses peleburan dan akan menjelma menjadi satu organisasi pemuda Indonesia yang baru.
Sebagai murid sekolah Menengah Atas (AMS) di Bandung, Sjahrir sudah yakin, bahwa demi suksesnya perjuangan politik nasional, rakyat harus mendapat pendidikan pengetahuan umum. la tidak hanya pandai bicara tentang sesuatu masalah, tetapi sanggup dan mampu melaksanakan tindakan mencapai cita-cita. Pada sekitar tahun 1928 ia mendirikan sebuah badan pendidikan yang diberi nama, “Volksuniversiteit“. Sebagai direkturnya diangkat Subagio, seorang pelaut Indonesia yang pandai berbahasa Inggris. Universitas itu tentu bukan seperti universitas yang dikenal sekarang ini. Universitas yang didirikan Sjahrir itu adalah sebuah “Mimbar Rakyat“ yang memberikan kursus-kursus pemberantasan buta huruf, berhitung, bahasa asing (Inggris) dan dengan sendirinya kursus politik. Sebagai daya tarik Sutan Sjahrir memasang papan tulis dimuka “Universitasnya“, berbunyi “Free English lesson by Mr. Subagio from New York“, dengan terjemahan dan keterangannya. Universitas itu banyak juga pengunjungnya. Di sana Sjahrir mengajarkan politik. Tentu tidak mungkin mengajarkannya secara terang-terangan, dan bagaimanakah caranya?
Di samping tata bahasa Inggris, diajarkan pula kalimat-kalimat yang dapat menyadarkan kebangsaan Indonesia. Misalnya: My country is Indonesia. Our flag is red and white. I love my people, dan seterusnya. Tanpa disadari, murid-murid telah diajarkan cita-cita kebangsaan. Selain Sjahrir dan Subagio, juga Hamdani dan Budiono mengajar di sekolah itu. Sjahrir suka mengadakan pertunjukan, cerita sandiwara yang Ia karang selalu bertema provokatip, antara lain kisah seorang pemuda Indonesia yang kerja dan mendapat pekerjaan pada orang Belanda yang jahat. Akhirnya timbul pertentangan antara Belanda tadi dengan sang pemuda. Cerita itu jelas menganjurkan agar pemuda-pemuda Indonesia berani melawan Belanda. Uang hasil pendapatan pertunjukannya digunakan membiayai sekolahnya.
Di segala kesempatan Sjahrir menanamkan kepada murid-muridnya semangat cinta pada tanah air dan keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan mengetahui harga diri, antara lain dengan berdarmawisata keluar kota Bandung. Sewaktu menjalankan kegiatan itu Sjahrir masih duduk dibangku AMS ( Sekolah Menengah Atas) dan usianya kurang dari 20 tahun. Di negeri Belanda, Sjahrir sebagai mahasiswa tidak hanya belajar. Selain sebagai “stu­dent ilmu”, Ia juga menjadi “student politik”, dengan latihan-latihannya dalam “Perhimpunan Indonesia”.
Waktu berlangsungnya Kongres dari bangsa-bangsa yang terjajah di Brussel (Belgia), Indonesia diwakili oleh Mohammad Hatta dan Sjahrir. Di Brussel, kedua pemuda ini berkenalan dengan pemuda Jawaharlal Nehru dari India yang sedang belajar di Inggris. Kongres menghasilkan terbentuknya suatu badan yang diberi nama “Liga Anti Imperialisme”. Persahabatannya dengan Nehru bersambung erat dalam tugasnya memimpin negara masing-masing. Nehru memimpin India dan Hatta-Sjahrir memimpin Indonesia. Dengan aktivitasnya dalam liga itu, sebenarnya Sjahrir sudah dikenal sejak muda di kalangan pemimpin-pemimpin perjuangan bangsa-bangsa di dunia.
Pada tahun 1932 Sjahrir pulang ke Indonesia. Mengapa ia pulang ke Indonesia sebelum menamatkan pelajarannya? Tiada lain, hanya untuk keperluan pergerakan kebangsaan Indonesia.
Pada tahun 1931, H. Agus Salim datang di negeri Belanda. Dari mulut H. Agus Salim sendiri, Hatta dan Sjahrir menerima berita lengkap tentang kejadian-kejadian di Indonesia, yaitu tentang, (1) ditangkapnya Ir. Soekarno dan pemimpin-pemimpin lain, (2) tentang dibubarkannya PNI oleh Mr. Sartono.
Berita itu sangat mempengaruhi jiwa Sjahrir dan Hatta. Mereka bersepakat untuk kembali ke Indonesia guna membela pukulan-pukulan yang diderita pergerakan waktu itu. Hatta dan Sjahrir bertekad: “Salah seorang di antara kita berdua harus kembali ke Tanah Air mengorbankan kuliah”. Dalam hal ini Sjahrir menetapkan dirinya pulang dan Hatta melanjutkan kuliahnya sampai tamat.
Di pulau Jawa Sutan Sjahrir masuk partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Merdeka) di bawah pimpinan Mohammad Hatta. Pendirian politiknya, Sjahrir adalah anti-fasisme dan anti komunisme. la terkenal kejam dalam mengadakan analisa politiknya. Pidato-pidatonya memang tidak agitatip, tidak berkobar-kobar, tetapi selalu mendalam, mengandung nilai-nilai filsafat dan ilmu pengetahuan. Isi pidatonya kadang-kadang terasa berat bagi rakyat umum, namun untuk kaum terpelajar amat berarti.
Pada tahun 1934 pemerintah kolonial Belanda mengambil tindakan keras, dan mengadakan penangkapan secara besar-besaran. Banyak pemimpin partai ditangkap, yaitu dari Permi, PSII, Partindo dan juga dari PNI (Merdeka). Muhammad Hatta dan Sjahrir sebagai pemimpin-pemimpin radikal ditangkap pula. Sjahrir dipenjarakan di penjara Struiswijk di Jakarta selama 11 bulan.
Kemudian Sjahrir dan Hatta dibuang ke Boven Digul, Irian Barat. Mereka diberangkatkan pada tanggal 27 Januari 1935. Sutan Sjahrir, ketika akan dibuang ke Digul, berkata,
”Kehidupan tidak mau dipaksa-paksa. Kita boleh belajar teori-teori yang indah dan tepat, akan tetapi itu baru ada harganya sepenuh-penuhnya untuk kehidupan, apabila kita disamping pengertiannya yang logis, telah biasa pula merasakannya oleh pengalaman. Pengalaman tidak bisa didapat dari buku-buku. Untuk itu perlu kejadian-kejadian dan masa bertahun-tahun. Itulah yang sekarang atau haruskah aku mengatakan dahulu? Itulah yang menjadi inti soal pemuda dalam abad ini.
Tapi sekarang sudahlah jatuh keputusan dan berakhirlah masa ragu-ragu dan perjuangan batin, apakah semua ini pantas diderita pula oleh saudara-saudara yang sekarang harus aku tinggalkan?
Kalau hal yang demikian itu dianggap sebagai kesalahan terhadap keluargaku, maka kesalahan itu semata-mata oleh karena aku merasa sanggup memenuhi kedua syarat, ialah bekerja untuk bangsaku dan memenuhi kewajiban terhadap keluargaku.
Seolah-olah aku diingatkan kepada bangsaku tatkala aku menerima beslit pengasinganku. Aku teringat kepada segala yang mengikat aku kepada nasib bangsaku, dan kepada penderitaan bangsaku yang berjuta-juta itu.
Bukanlah kesedihan kita sendiri hanya sebagian kecil saja dari pada kesedihan yang besar, yang umum itu, bukanlah justru kesedihan ini yang mengikat kita semesra-mesranya dan sekuat-kuatnya? Justru itu sekarang inilah aku merasa lebih erat terikat kepada bangsaku, lebih-lebih mencintainya dari yang sudah-sudah.
Kami begitu-sering saling tidak mengerti, aku dan bangsaku itu Bagi bangsaku aku kadang-kadang terlalu abstrak, terlalu berat. Mereka tidak bisa mengerti dan bagiku mereka itu kadang-kadang terlalu malas membikin aku berputus asa oleh sikapnya yang tidak mau berbuat apa-apa dan salah mengerti. Kadang-kadang malahan mereka itu membikin aku pahit, tapi nasib mereka dan tujuan hidupku adalah satu. Kami senasib sepenanggungan dan tetap senasib sepenanggungan di masa yang lalu dan di masa depan.
Sekarang aku dipaksa, dipaksa meninggalkan bahagiaku, membinasakan bahagiaku, berpisah dengan kaum keluargaku untuk kepentingan bangsaku ini, dan sekarang hilanglah segala dendamku. sekarang hanya tinggal perasaan senasib dan sepenanggungan dengan bangsaku yang sengsara ini”.
Syahrir dan Hatta kemudian dipindahkan ke Banda Neira. Di tempat baru ini sudah lebih dulu dr. Cipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumatri, kedua-duanya dalam pengasingan pula.
Selama di Banda Neira itu, Syahrir juga giat bekerja sendiri. la belajar sendiri dengan membaca buku-buku bahasa asing. Dengan inteleknya dapatlah ia menikmati masa pembuangannya itu dengan suatu produktivitas. la sempat menulis buku berjudul ”Indonesische Overpeinzingen” (Renungan Indonesia), dengan nama samaran Sjahrazad.
Ketika Perang Pasifik meletus pada tahun 1941 Sjahrir dan Hatta dipindahkan ke Sukabumi oleh pemerintah Hindia Belanda. Belanda takut, kalau-kalau orang buangan itu digunakan Jepang untuk kepentingan politik.
Sampai Jepang masuk ke Indonesia, Sjahrir tetap berada di Sukabumi. Syahrir berpendapat, bahwa fasisme Jepang, sebagaimana fasisme Jerman harus ditentang, karena berlawanan dengan asas kerakyatan. Pendapatnya ini tetap dipegang teguh. la tidak suka pada pemerintah pendudukan Jepang.
Sjahrir akan bekerja di bawah tanah, sedang Soekarto-Hatta akan bekerja terang-terangan. Pendudukan Jepang akan dijadikan batu loncatan untuk mencapai tujuan terakhir. Indonesia Merdeka. Sjahrir bekerja keras dan sangat memikirkan agar Indonesia cepat merdeka. Sesudah Proklamasi kemerdekaan, Sjahrir menjadi Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sejak tanggal 16 Oktober 1945. Selanjutnya pada tanggal 14 November 1945, diangkat menjadi Perdana Menteri. PM. Sutan Sjahrir dengan pikiran yang tenang melakukan perundingan dengan pihak Belanda. Mula-mula diadakan perundingan di Hoge Veluwe, Negeri Belanda, tetapi gagal. Kemudian diadakan perundingan di Linggarjati yang menghasilkan persetujuan Linggarjati pada tanggal 25 Maret 1946. Dengan jalan diplomasi PM. Sjahrir berjuang agar Rl diakui oleh dunia internasional. Persetujuan Linggarjati akhirnya dikhianati Belanda yang melakukan agresi militer pertama.
Pada tahun 1947, Sjahrir menghadiri konferensi Asia (Inter Relation Asian Conference) di New Delhi, India. Pada konferensi tersebut Sjahrir membentangkan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.
Pemerintah Rl di bawah PM. Sjahrir juga berhasil menerobos blokade ekonomi Belanda terhadap Indonesia dengan mengirimkan beras sebanyak 50 ribu ton ke India untuk ditukarkan dengan pakaian, obat-obatan dan alat pertanian. Pada tanggal 3 Juli 1946, P.M. Sjahrir diculik, tetapi segera dilepaskan. Keadaan politik menjadi panas, karena ternyata terdapat perbedaan penafsiran mengenai Persetujuan Linggarjati. Pada tanggal 26 Juni 1947 karena dianggap terlalu banyak memberi konsesi kepada Belanda, maka Kabinet Sjahrir jatuh. Dalam sejarah permulaan Rl yang berat Sjahrir tiga kali menjadi Perdana Menteri, tiga kali merangkap Menteri Luar Negeri dan dua kali merangkap Menteri Dalam Negeri.
Ketika pasukan Belanda melakukan agresi militernya pertama pada tanggal 1 Juli 1947, Sutan Sjahrir segera terbang ke New York untuk berjuang di forum PBB di Lake Succes. Berkat kegigihan dengan Rl yang dipimpin Sjahrir dan Haji Agus Salim, maka masalah Indonesia secara resmi menjadi persoalan Dewan Keamanan PBB.
Pada tanggal 19 Desember 1948, pasukan Belanda kembali melancarkan agresinya (Clash II). Sutan Sjahrir, Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, H. Agus Salim, Ali Sastroamijoyo dan lain-lain pemimpin Indonesia ditawan oleh Belanda dan diasingkan. Sesudah pengakuan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949, Sjahrir tidak lagi memegang sesuatu jabatan negara. la lalu mencurahkan pikiran dan tenaga pada perjuangan partai.
Perlu juga diketahui, bahwa pada tahun 1947-1948 Sutan Sjahrir di Amerika telah menyelesaikan bukunya ”Out of Exile” (Keluar dari Pembuangan). Bagian pertama buku ini adalah terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh Charles Wolf Jr. dari bukunya ”Indonesische oerpeinzingen” (Renungan Indonesia), yang ditulisnya dalam pembuangan di pulau Banda Neira. Bagian kedua ”Action” (Tindakan) menceritakan kegiatan-kegiatannya di bawah tanah selama pendudukan Jepang (1942 – 1945). Terjemahannya ke Bahasa Indonesia dari ”Renungan Indonesia” dikerjakan oleh H.B. Jasin.
Riwayat Sutan Sjahrir dalam kepartaian sesudah Proklamasi, dimulai pada tanggal 20 November 1945. Pada hari itu Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (PARAS).
Pada awal bulan Desember 1945, PARAS bergabung dengan partai rakyat Sosialis yang dipimpin oleh Amir Sjarifudin dan gabungan ini bernama Partai Sosialis dengan Sjahrir sebagai Ketua Umumnya. Pada permulaannya Partai Sosialis tidak mengalami halangan suatu apapun, tetapi lewat enam bulan kemudian, terjadilah perpecahan antara Sutan Sjahrir dengan Amir Sjarifuddin. Bersama kawan-kawannya Sjahrir lalu keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Dalam pemilihan Umum tahun 1955, PSI mendapat lima kursi dalam DPR. Kemudian sesudah terbentuknya DPR-GR, Sjahrir dan kawan-kawannya terasing sama sekali dalam kehidupan politik, bahwa pada tahun 1961 PSI dibubarkan oleh Presiden Soekarno.
Penderitaan makin memuncak bagi Sjahrir, pada tanggal 16 Januari 1962 jam 4.00 pagi Sjahrir ditangkap. Mula-mula ditahan di Mess CPM di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, kemudian dipindah ke Kebayoran selanjutnya ditahan di Madiun.
Di rumah tahanan di Madiun ini Sutan Sjahrir menderita sakit tekanan darah tinggi. Dalam keadaan payah pada tanggal 16 November 1962 Sjahrir diangkut ke Jakarta untuk dirawat di RSPAD. Delapan bulan kemudian, Sjahrir dipindahkan ke tempat tahanan di Jalan Keagungan Jakarta. Di sini kesehatannya makin mundur, tiba-tiba pada tanggal 9 Pebruari 1965, Sjahrir dipindah lagi ke Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Budi Utomo Jakarta.
Penderitaan Sjahrir sungguh berat. Yunan Nasution (dari Partai Masyumi yang juga ditahan) menuturkan, bahwa pada suatu sore Sjahrir jatuh di kamar mandi, karena terserang oleh penyakitnya. Pada waktu itu juga diuruskan kepada piket supaya Sjahrir dapat terus dibawa ke rumah sakit untuk segera mendapat pertolongan dokter, tetapi usaha ini tidak berhasil karena terbentur kepada prosedur rumah penjara.
Barulah keesokan harinya dengan susah payah Sutan Sjahrir diangkut ke RSPAD. Tetapi penyakitnya sudah parah sekali. Sjahrir menjadi lumpuh, ia kehilangan kemampuan untuk bicara dan menulis. Membaca ia tahu, tetapi mengeluarkan perasaan dengan kata dan pena sudah tidak dapat lagi.
Dalam keadaan sakit parah Sutan Sjahrir diangkut untuk berobat ke luar negeri, yaitu ke Zurich, Swiss. Di sanalah Sutan Sjahrir berpulang ke rakhmattullah pada tanggal 9 April 1966, jauh dari tanah air yang dicintainya.
Pada tanggal 19 April 1966, jenazah Sutan Sjahir dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional untuk menghargai jasa-jasanya kepada perjuangan bangsa dan negara dengan S.K.Presiden No.76 tahun 1966 tanggal 9 April 1966.

Posted in Pahlawan Nasional.