AIP. TK. II. ANM. Karel Sasuit Tubun

Karel Sasuit Tubun bwDinihari tanggal 1 Oktober 1965 gerombolan G-30-S/PKI (Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia) menculik pejabat teras Angkatan Darat. Penculikan yang kemudian diikuti dengan pembunuhan itu adalah bagian dari usaha PKI untuk merebut kekuasaan pemerintah dan sekaligus untuk mengganti idiologi negara Pancasila dengan idiologi komunisme.
Salah seorang tokoh yang menjadi sasaran penculikan G-30-S/PKI ialah Menko Hankam/Kasab (Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata) Jenderal A.H. Nasution. Rumah Jenderal Nasution terletak di Jalan Teuku Umar, Jakarta, bersebelahan dengan rumah Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena. Sebagai pejabat tinggi pemerintahan, di rumah Dr. Leimena ditempatkan satuan pengawal yang pada malam itu terdiri atas tiga orang anggota Brimob (Brigade Mobil) polisi.
Untuk memudahkan penculikan terhadap Jenderal Nasution, gerombolan G-30-S/PKI berusaha terlebih dahulu menyergap satuan pengawal di rumah Dr. Leimena. Pada waktu gerombolan memasuki pekarangan, seorang anggota pengawal, yakni Lussy sedang melakukan pemeriksaan di bagian belakang rumah. Satu orang lagi yang bernama Lubis berdiri di pekarangan depan, sedangkan yang lain tidur didalam gardu pengawalan. Anggota yang sedang tidur itu ialah Brigadir Polisi Karel Sasuit Tubun. Sesuai dengan pembagian tugas di antara mereka bertiga, Sasuit Tubun mendapat giliran tidur menjelang dinihari.
Setelah memasuki pekarangan, anggota gerombolan langsung menyergap dan melucuti senjata Lubis. Sesudah itu dua orang di antara mereka menuju gardu jaga. Anggota gerombolan yang masuk itu membangunkan Sasuit Tubun. Yang dibangunkan tidak segera berdiri. Mungkin ia mengira bahwa yang membangunkan itu adalah kawannya, Lussy atau Lubis. Barulah setelah kakinya ditendang berkali-kali dan disertai bentakan keras, Sasuit Tubun membuka matanya. Bukan Lussy atau Lubis yang berdiri didepannya, tetapi seorang yang tak dikenalnya. Sasuit Tubun berdiri dan langsung menembak anggota gerombolan dengan senjata yang memang dibawa tidur. Pada saat yang sama anggota gerombolan melepaskan pula tembakan ke arah Sasuit Tubun. Beberapa butir peluru mengenai tubuhnya. Ia jatuh berlumuran darah dan meninggal seketika. Brigadir Polisi Karel Sasuit Tubun tewas dalam menjalankan tugas beberapa hari sebelum ia memperingati hari ulang tahunnya yang ke-37. la dilahirkan tanggal 14 Oktober 1928 di Rumadian, dekat kota kecil Tual.
Pulau Kei Kecil, Maluku Tenggara. Pada waktu masih anak-anak ia biasa dipanggil ”Kece”. Ayahnya bernama Primus Sasuit Tubun yang terkenal sebagai penganut Katholik yang taat. Karel mempunyai tiga orang saudara, satu laki-laki dan dua wanita.
Keluarga Sasuit Tubun tidak tergolong keluarga yang mampu. Pendidikan umum yang sempat ditempuhnya hanya Sekolah Dasar Katholik di Tual yang diselesaikannya pada tahun 1941. Pada waktu ia bersekolah, ibunya meninggal dunia. Untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, Sasuit Tubun harus sekolah di tempat lain. Karena keadaan ekonomi orang tuanya, hal itu tidak mungkin dilakukannya. Lagi pula saat itu sedang terjadi Perang Pasifik.
Sepuluh tahun lamanya Sasuit Tubun hidup menganggur. Dengan hanya berijasah Sekolah Dasar, sulit baginya untuk mencari pekerjaan. Barulah dalam tahun 1951 keadaan hidupnya mengalami perubahan. Pada waktu itu Indone­sia sudah merdeka. Kepolisian Negara (sekarang Polri) membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda untuk menjadi anggota Polisi. Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Sasuit Tubun. Ia segera mendaftarkan diri untuk mengikuti pendidikan di SPN (Sekolah Kepolisian Negara) di Ambon. Sebelum diterima, ia harus melalui ujian saringan terlebih dahulu. Ternyata Sasuit Tubun lulus dengan nilai baik.
Pendidikan di SPN berlangsung selama enam bulan. Sasuit Tubun mengikutinya dengan tekun. Dalam masa pendidikan ini sudah terlihat bakatnya sebagai seorang polisi yang baik. Setelah selesai mengikuti pendidikan, sebagai anggota Brimob, Sasuit Tubun berpangkat Agen Polisi Kelas Dua ( Prajurit Dua Polisi).
Setelah bertugas beberapa bulan lamanya di Ambon, Sasuit Tubun di pindahkan ke Jakarta. Ia tetap ditempatkan dalam kesatuan Brimob. Pangkatnya sudah naik menjadi Agen Polisi Kelas Satu (Prajurit Satu polisi).
Tugas Brimob berbeda dengan tugas Polisi Umum. Anggota-anggota Brimob dilatih untuk tugas-tugas tempur. Untuk itu mereka memperoleh pendidikan khusus. Begitu pula dengan Sasuit Tubun. Dalam tahun 1954 ia mendapat perintah untuk mengikuti pendidikan di Megamendung, Bogor. Pendidikan berlangsumg selama 3 bulan.
Dalam tahun 1950-an dibeberapa daerah di Indonesia terjadi pemberontakan. Pemberontakan DVTIl (Darul Islam/Tcntara Islam Indonesia) di Aceh meletus dalam tahun 1953. Pemberontakan ini dipimpin Teungku Daud Beureuh. Pemerintah terpaksa menumpasnya dengan mengerahkan kekuatan bersenjata. Kesatuan-kesatuan Brimob pun ikut dikerahkan. Pada tahun 1955 Karel Sasuit Tubun mengikuti pasukannya yang mendapat tugas melakukan operasi militer terhadap DI/TII di daerah Aceh. Tiga bulan lamanya ia bertugas di daerah ini. Pengalaman itu adalah pengalaman pertama baginya dalam tugas tempur.
Belum lagi pemberontakan DI/TII selesai ditumpas, terjadi pula pemberontakan lain. Pada tahun 1958 golongan separatis mengumumkan berdirinya PRRI/Permesta ( Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/ Perjuangan Semesta) di Sumatra Barat dan Sulawesi Utara. PRRI/Permesta tidak mengakui pemerintah pusat di Jakarta. Pemerintah terpaksa pula mengerahkan kekuatan bersenjata untuk menumpas pemberontakan tersebut. Kekuatan Brimob pun diikutsertakan. Sasuit Tubun mengikuti pula pasukannya yang melakukan operasi militer di daerah Sulawesi Utara.
Sementara itu, dalam tahun 1959, pangkat Sasuit Tubun dinaikkan menjadi Agen Polisi Kepala (Kopral Polisi). Dalam tahun ini pula ia menikah dengan gadis pilihannya, Margaretha, yang berasal dari Jawa. Dari pernikahan itu mereka memperoleh tiga orang anak laki-laki yakni Philipus Sumarna, Petrus Waluyo, dan Paulus Suprapto.
Sesudah beberapa waktu lamanya menyelesaikan tugas di Sulawesi Utara, Sasuit Tubun mendapat perintah lagi untuk mengikuti operasi militer di Sumatra Barat. Ia bertugas di daerah ini selama enam bulan sejak bulan Maret 1960. Selama bertugas di Sumatra Barat ia memperoleh pengalaman yang sangat berharga. Sebagai seorang Katholik yang taat, ia bergaul akrab dengan umat Islam yang fanatik. Sasuit Tubun menyadari bahwa kerukunan beragama dapat diwujudkan di kalangan bangsa Indonesia.
Awal tahun 1960-an ditandai dengan peristiwa besar ditanah air, yakni usaha membebaskan Irian Barat dari Penjajahan Belanda. Usaha-usaha perundingan yang dilakukan pemerintah RI dengan Belanda pada waktu-waktu sebelumnya menemui kegagalan. Tanggal 19 Desember 1961 pemerintah mengumumkan Trikora (Tri Komando Rakyat). Intinya ialah merebut Irian Barat dengan kekuatan senjata.
Kesatuan-kesatuan tempur di kirim ke Irian Barat untuk melakukan tugas-tugas tempur. Begitu pula halnya dengan kesatuan Brimob yang sudah berpengalaman dalam berbagai pertempuran. Sasuit Tubun pun ikut pula dalam tugas membebaskan Irian Barat. Akhimya Belanda bersedia berunding dan menyerahkan Irian Barat kepada Indo­nesia sekalipun secara resmi Irian Barat sudah menjadi wilayah RI, namun keamanan di daerah tersebut masih rawan. Kelompok yang pro Belanda mencoba melancarkan pemberontakan. Untuk menumpasnya pemerintah terpaksa mengerahkan pasukan bersenjata. Dalam rangka menumpas pemberontakan ini Karel Sasuit Tubun mendapat tugas selama 10 bulan. Pada waktu itu pangkatnya sudah naik menjadi Brigadir Polisi (Sersan Polisi). Kenaikan pangkat itu diterimanya bulan November 1963.
Selesai menjalankan tugas di Irian Barat Karel Sasuit Tubun dikembalikan ke induk pasukannya di Kedung Halang, Bogor. Sejak awal tahun 1965 Sasuit Tubun tidak pernah lagi mendapat tugas ke luar daerah. Tetapi keberanian yang diperlihatkannya dalam tugas-tugas tempur menarik perhatian atasannya. Karena itulah mulai bulan April ia mendapat kehormatan menjadi anggota pasukan pengawal kediaman Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena. Pada waktu itu ia bertempat tinggal di Kedung Halang, sedangkan tempat tugasnya di Jakarta Karena itu ia selalu bolak-balik antara Kedung Halang dan Jakarta. Tugas itu dilaksanakannya sampai ia tewas akibat ditembak oleh gerombolan G-30-S/PKI seperti yang diuraikan pada awal tulisan ini.
Pemerintah menghargai jasa dan pengorbanan yang telah diberikan Karel Sasuit Tubun dalam menjalankan tugasnya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 114/ Koti/1965 tanggal 5 Oktober 1965. Karel Sasuit Tubun dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi. Pangkatoya dinaikkan secara anumerta menjadi Ajun Inspektur Polisi Kelas II (Letnan Dua Polisi). Selama menjalankan tugas sebagai anggota Brimob, Karel Sasuit Tubun memperoleh enam buah tanda jasa.

Posted in Pahlawan Nasional.