Kapten CZL ANM. Pierre Andries Tendean

Pierre Tendean bwPierre Andries Tendean di lahirkan di Jakarta pada tanggal 21 Februari 1939 sebagai anak bungsu diantara tiga orang bersaudara. Dua orang kakaknya semuaya perempuan. Ayahnya, dr. A.L.Tendean berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, sedangkan ibunya, Cornell M.E, mempunyai darah keturunan Perancis.
Ayahnya kemudian bekerja di Semarang dan waktu terjadi Agresi Militer II Belanda 19 Desember 1948, mereka sekeluarga mengungsi kedaerah Gunung Merapi, Jawa Tengah. Pierre memasuki Sekolah Dasar di Magelang, dan kemudian dilanjutkan ke SMP (Sekolah Menengah Pertama). Pendidikan SMA (Sekolah Menengah Atas) bagian diselesaikan di Semarang. Orang tua Pierre menghendaki agar ia melanjutkan pelajaran ke perguruan tinggi. Sesuai dengan propesi ayahnya, ia dianjurkan memasuki Fakultas Kedokteran. Ternyata Pierre mempunyai pilihan sendiri yakni ingin memasuki AMN (Akademi Militer Nasional, sekarang Akademi Angkatan Bersenjata RI bagian Darat). Namun ia tidak ingin pula mengecewakan orang tuanya. Karena itulah, selain mengikuti testing untuk Akademi Militer Jurusan Teknik (Atekad), ia juga mengikuti testing untuk memasuki Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. Testing untuk memasuki Fakultas Kedokteran tidak dilakukannya dengan sesungguh hati. Akhirnya ia tidak diterima di Fakultas Kedokteran dan bulan November 1958 ia diterima sebagai taruna Akademi Militer Jurusan teknik (sejak tahun 1962 berganti nama menjadi Akademi Teknik Angkatan Darat) di Bandung.
Pierre Tendean lulus dari Akmil Jurtek pada tahun 1962 dengan sangat memuaskan. Pada waktu itu pula ia dilantik sebagai letnan dua. Selama mengikuti pendidikan di akademi militer ini ia memperlihatkan sikap yang baik, sehingga ia disenangi oleh temen-temannya. Malahan ia terpilih menjadi Wakil Ketua Senad Korps Taruna.
Ketika masih menjalani pendidikan, yakni pada waktu masih menjadi Kopral Taruna, Pierre Tendean telah diikutkan dalam operasi militer untuk menumpas pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra. Sebagai taruna Atekad, ia di tempatkan dalam kesatuan Zeni Tempur Operasi Saptamarga.
Jabatan pertama yang dipangku Pierre setelah menyelesaikan pendidikan di Atekad ialah Komandan Peleton pada Batalyon Zeni Tempur 2/Daerah militer (Dam) II Bukit Barisan berkedudukan di Medan. Setahun kemudian Letnan Dua Pierre Tendean dipanggil untuk mengikuti pendidikan Intelijen. Pada waktu, 1963, Indonesia sedang melakukan politik konfrontasi terhadap Malaysia. Pendidikan Intelijen ini diberikan, sebab Pierre akan ditugaskan untuk melakukan penyusupan ke daerah Malaysia. Dalam melaksanakan Tugas ini ia diperbantukan pada Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat yang bertugas di garis depan.
Dua tahun lamanya Pierre Tendean ditempatkan digaris depan dan selama masa itu tiga kali ia melakukan penyusupan kedaerah Malaysia. Pertama kali ia memasuki daerah Malaysia dengan menyamar sebagai wisatawan. Dalam penyusupan ketiga, ditengah laut ia dikejar oleh kapal perusak (destroyer) Inggris. Dengan cepat ia membelokkan speedboatnya dan secara diam-diam ia menyelam ke dalam laut. Sesudah itu ia berenang menuju sebuah perahu nelayan. agar tidak diketahui oleh pengemudi perahu, dengan sangat hati-hati ia bergantung di bagian belakang perahu sementara seluruh badannya dibenamkan ke air. Speeadboat-nya kemudian diperiksa oleh pasukan patroli Inggris. Mereka hanya menemukan seorang pengemudi yang tidak menimbulkan kecurigaan apa-apa. Speadboat itu dibiarkan berlayar. Dengan cara demikian Pierre Tendean terhindar dari penangkapan.
Mungkin disebabkan perawakannya yang tampan mungkin juga disebabkan kelincahannya dalam menjalankan tugas, maka Pierre Tendean menjadi rebutan beberapa perwira tinggi yang berniat untuk mengangkatnya sebagai ajudan. Jenderal Abdul Haris Nasution, Jenderal Hartawan dan Jenderal Dandi Kadarsan, adalah tiga diantara perwira tinggi tersebut. Namun akhirnya Pierre Tendean diangkat menjadi ajudan Jenderal A. H. Nasution yang ketika itu menjadi Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab). Jabatan sebagai ajudan Jenderal Nasution mulai dipangku Pierre tanggal 15 April 1965 sebelum itu pangkatnya sudah dinaikkan menjadi letnan satu. Dalam menjalankan tugas sebagai ajudan inilah Letnan satu Pierre Tendean gugur karena dibunuh oleh orang-orang PKI yang melakukan pemberontakan untuk merebut kekuasaan negara. Pemberontakan itu dikenal dengan nama Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G-30-S/PKI).
Pemberontakan PKI dimulai dengan menculik dan kemudian membunuh pejabat-pejabat teras Angkatan Darat untuk melumpuhkan Angkatan ini. Dalam penilaian PKI, Angkatan darat harus dilumpuhkan terlebih dahulu, sebab Angkatan Darat dianggap sebagai lawan utama mereka. Diantara tokoh-tokoh yang akan di bunuh PKI tercatat nama Jenderal Nasution.
Dinihari tanggal 1 Oktober gerombolan G-30-S/PK1 mendatangi rumah Jenderal Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Mereka berhasil menyergap penjaga yang sedang bertugas di gardu depan rumah. Para penjaga tidak mengira bahwa yang datang itu adalah gerombolan pemberontak, sebab mereka semuanya memakai pakaian seragam Cakrabirawa, pasukan pengawal Istana. Setelah menyergap para penjaga, gerombolan berhasil memasuki rumah. Mereka melepaskan tembakan yang mengenai putri Jenderal Nasution, yakni Ade Irma Suryani yang baru berusia lima tahun. Tetapi Jenderal Nasution, atas desakan istrinya, berhasil meloloskan diri dengan cara memanjat pagar dan dari situ melompat kehalaman rumah yang terletak disamping rumahnya.
Mendengar suara tembakan Letnan Satu Pierre Tendean yang tidur di sebuah kamar di ruang belakang, terbangun. la lari ke ruang muka. Sementara itu terdengar lagi suara tembakan di sebelah kiri rumah. Rupanya gerombolan sedang melepaskan tembakan ke arah Jenderal Nasution yang sedang melompati pagar tembok. Mendengar suara itu Pierre berlari ke paviliun sebelah kanan dan dari situ menuju ke sebelah kiri rumah. Pada saat itulah ia dipergoki oleh gerombolan. Seorang anggota gerombolan bertanya sambil membentak, ”Siapa?!” Tendean menjawab bahwa ia adalah ajudan Jenderal Nasution. Mendengar kata Nasution itu, para penculik menyangka bahwa yang mereka pergoki itu adalah Jenderal Nasution sendiri. Rupanya mereka tidak mengenai betul wajah Nasution. Apalagi waktu itu masih pagi dan cahaya masih remang-remang. Mereka tidak mengenai kata ”ajudan” yang disebutkan oleh Pierre.
Mengira bahwa mereka sudah berhasil menangkap Jenderal Nasution, maka para penculik bergembira. Pierre mereka bawa ke tempat penjagaan di depan rumah. Kedua tangannya dipegang oleh penculik dan kemudian diikat. Sesudah itu ia dinaikkan ke sebuah truk dan dibawa ke Lubang Buaya, di tempat ini ia disiksa bersama perwira-perwira Angkatan Darat lainnya yang berhasil diculik dan dibunuh oleh PKI. Setelah mengalami siksaan yang cukup berat Pierre ditembak. Mayatnya dimasukkan kedalam sebuah sumur tua yang sudah kering. Ke dalam sumur itu dimasukkan pula mayat perwira-perwira lain.
Sumur tua di Lubang Buaya ditemukan oleh kesatuan-kesatuan ABRI yang mengadakan penumpasan terhadap G-30-S/PKI pada tanggal 3 Oktober 1965 berkat petunjuk seorang anggota polri yang pernah ditawan oleh G-30-S/PKI dan berhasil melarikan diri. Keesokan harinya mayat korban keganasan PKI itu dikeluarkan dari sumur. Bertepatan dengan hari Ulang Tahun ke-20 ABRI pada tanggal 5 Oktober 1965 jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Sebelum Pierre Tendean merencanakan akan berangkat ke Semarang pada tanggal 1 Oktober 1965 untuk merayakan hari ulang tahun ibunya yang jatuh pada tanggal 30 September. Rupanya maut telah mendahuluinya. Pieree gugur sebagai Kusuma Bangsa dalam usia muda ketika menjalankan tugas.
Pemerintah menghargai pengabdian Pierre Tendean kepada bangsa dan tanah air. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. III/Koti/tahun l965 tanggal 5 Oktober 1965 Pierre Andries Tendean ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi kapten. Selain itu ia juga menerima penghargaan berupa Satya Lencana Saptamarga.

Posted in Pahlawan Nasional.