Letnan Jenderal. ANM. Soeprapto

Letjen Soeprapto bwSoeprapto dilahirkan tanggal 20 Juni 1920 di Purwokerto, Jawa Tengah. la adalah anak bungsu diantara sepuluh orang bersaudara, enam laki-laki dan empat wanita. Ayahnya bernama R. Pusposupeno dan Ibunya R. A. Alimah, suami-istri yang taat menjalankan ibadah Islam.
Daerah Bayumas terkenal sebagai daerah yang banyak melahirkan tokoh-tokoh militer, antara Iain Jenderal Soedirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Darah militer itu rupanya mengalir pula dalam diri Soeprapto. Waktu kecil ia sudah tertarik bermain perang-perangan. Kakaknya pernah kagum melihat Soeprapto membuat benteng-bentengan dari tanah. Pada waktu duduk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, Sekolah Menengah Pertama sekarang), ia senang membuat gambar kapal terbang, meriam, dan alat-alat perang lainnya. Tetapi Soeprapto juga dikenal berjiwa lembut. Ia memiliki jiwa seni. Waktu belajar di AMS (Algemeene Middelbare School, Sekolah Menengah Atas sekarang), ia memenangkan sayembara mengarang yang diadakan oleh sekolahnya. Judul karangan ialah Mijn Laeaal (cita-citaku). Karangan itu kemudian dimuat dalam majalah Vox yang diterbitkan oleh AMS Yogyakarta. Dalam karangan itu Soeprapto mengajak para pemuda supaya berjuang untuk mencapai cita-cita mereka.
Pendidikan di AMS adalah pedidikan umum terakhir yang ditempuhnya dan diselesaikannya dalam tahun 1941. Pada waktu itu Indonesia sedang berada dalam ancaman perang. Sudah sejak bulan September 1939 di Eropa pecah perang yang melibatkan beberapa negara yang kemudian dikenal dengan Perang Dunia ke II. Di Asia, Jepang mulai memperlihatkan sikap agresifhya. Tujuan Jepang ialah menempatkan wilayah Asia, termasuk Indonesia dibawah kekuasaannya. Maksud itu berarti ancaman terhadap bangsa-bangsa Eropa yang ketika itu masih menguasai bagian terbesar Asia, termasuk Belanda yang menjajah di Indonesia.
Untuk menghindari ancaman Jepang, Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan berlakunya milisi bagi pemuda-pemuda Indonesia. Sebagian pemuda mengikutinya. Soeprapto memasuki pendidikan pada KMA (Koninklijke Militaire Academie) di Bandung. Pendidikan ini tidak sempat diselesaikannya, sebab bulan Maret 1942 Pasukan Jepang mulai melakukan pendaratan di beberapa tempat di Pulau Jawa. Ternyata pasukan Belanda tidak mampu menahan gerak maju pasukan Jepang. Tanggal 9 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Jawa Barat. Sejak saat itu berakhirlah penjajahan Belanda di Indonesia. Tetapi penjajahan baru muncul, yakni Jepang.
Bersama-sama dengan pasukan Belanda lainnya, Soeprapto ditawan Jepang. Beberapa waktu lamanya ia mendekam dalam Kampung tawanan. Kemudian ia berhasil melarikan diri dan kembali ke kampung halamannya di Purwokerto.
Dalam masa pendudukan Jepang perhatian Soeprapto lebih tertuju kepada masalah-masalah sosial, terutama yang erat kaitannya dengan soal-soal kepemudaan. Itulah sebabnya ia mengikuti pendidikan pada Cuo Seinen Kunrensyo (Pusat Latihan Perauda). Selesai pendidikan ini ia bekerja sebagai pegawai di kantor Pendidikan Masyarakat Desa Banyumas, di Purwokerto. Dalam masa ini, karena tugas yang sama, ia berkenalan dengan pemuda Soedirman yang kelak akan menjadi Panglima Besar Angkatan Perang RI.
Pendidikan lain yang diikuti Soeprapto dalam zaman Jepang ialah latihan Keibodan, Seinendan, dan Syuisintai. Latihan-latihan dan kursus-kursus ini banyak manfaatnya kelak, sebab latihan-latihan diberikan menurut cara-cara militer.
Pada waktu Jepang kalah dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Soeprapto sedang berada di Cilacap. Bersama pemuda lain ia menerjunkan diri dalam usaha-usaha merebut senjata dari tangan Jepang. Pada waktu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) terbentuk, Soeprapto segera menggabungkan diri. Ia diserahi tugas sebagai Kepala Bagian II Divisi V/Purwokerto yang ketika itu dipimpin oleh Kolonel Soedirman. Soeprapto diberi pangkat Kapten.
Sebagai bagian dari Divisi Purwokerto, pasukan Soeprapto ikut mengambil bagian dalam pertempuran dengan pasukan Sekutu sejak dari Magelang sampai Ambarawa. Dalam pertempuran di Ambarawa, pasukan Indonesia yang berasal dari berbagai kesatuan dan daerah di pimpin oleh Kolonel Soedirman. Serangan serentak dilancarkan tanggal 12 Desember 1945. Tiga hari kemudian pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.
Prestasi yang diperlihatkan Soedirman dalam pertempuran Ambarawa meyakinkan pemerintah akan kemampuannya. Tanggal 18 Desember 1945 ia dilantik sebagai Panglima Besar TKR. Soedirman mengangkat Soeprapto yang sudah dikenalnya sejak zaman Jepang, sebagai ajudan. Tugas sebagai ajudan Panglima Besar pada waktu itu bukanlah tugas yang ringan. Soeprapto terlibat dalam kesibukan sesuai dengan kesibukan pimpinannya. Pada waktu TKR masih belum teratur. Organisasinya harus disusun agar sempurna dan memenuhi syaiut-syarat sebagai tentara pada umumnya. Disamping itu negara sedang mengalami ancaman dari pihak luar yang ingin menjajah kembali. Keadaan yang demikian tentu saja menyita waktu Jenderal Soedirman, Soeprapto sebagai ajudan tentu saja terlibat.
Dalam masa menjabat sebagai ajudan ini Soeprapto melangsungkan pernikahan pada tanggal 4 Mei 1946 dengan Yulia Suparti. Dari pemikahan ini keduanya memperoleh lima orang anak, tiga laki-laki dan dua perempuan.
Lebih dari dua tahun lamanya Soeprapto bertugas sebagai ajudan Panglima Besar. Sesudah itu ia diangkat menjadi Kepala Bagian II Markas Besar Komando Jawa (dalam ejaan lama disingkat MBKD) sedangkan pangkatnya sudah naik menjadi mayor. Jabatan ini tidak lama dipangkunya, sebab dalam bulan Oktober 1948 ia diangkat manjadi Kepala Staf Devisi II dan sekaligus sebagai perwira diperbantukan pada Staf Gubernur Militer Surakarta, Pati, Semarang dibawah pimpinan Kolonel Gatot Subroto. Pada waktu itu negara sedang menghadapi pemberontakan yang dilancarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemberontakan ini meletus tanggal 18 September 1948 di Madiun. Walaupun akhir September Madiun berhasil dikuasai kembali oleh pasukan pemerintah, namun dibeberapa tempat orang-orang PKI masih mengadakan pengacauan.
Sesudah Perang Kemerdekaan berakhir, Soeprapto diangkat menjadi Kepala Staf Tentara dan Teritorium (TT) IV Diponegoro. Ia berkedudukan di Semarang. Pangkatnya pun sudah dinaikkan menjadi Letnan Kolonel. Jabatan sebagai Kepala Staf (TT) IV pun tidak lama dipangkunya. Bulan Desember 1950 Letnan Kolonel Soeprapto diangkat menjadi Kepala Bagian pada Staf Umum Angkatan Darat. Ia pun pindah dari Semarang ke Jakarta. Karir militernya terus meningkat. Setahun kemudian ia sudah menduduki jabatan Asisten I
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pada waktu yang sama ia juga memegang jabatan sebagai Wakil KSAD. Jabatan rangkap ini tentu saja banyak menyita waktu, tenaga dan pikiranya.
Kedudukan sebagai Wakil KSAD di serahkan kepada Kolonel Zulkifli Lubis bulan Desember 1953. Selanjutnya Soeprapto ditempatkan di Kementrian Pertahanan sebagai perwira diperbantukan oleh Menteri Pertahanan. Beberapa bulan kemudian ia dipindahkan ke Sekretaris Jenderal Kementrian Pertahanan. Sementara itu, Mulai 1 Juli 1954 pangkatnya dinaikkan menjadi kolonel. Secara resmi pemindahannya dari Staf Umum Angkatan Darat ke Kementerian Pertahanan baru terlaksana pada awal tahun 1956. Jabatan yang dipercayakan kepadanya ialah Sekretaris Gabungan Kepala Staf. Dalam masa ini pendidikan ia memperoleh kesempatan untuk mengikuti kursus C Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung kursus ini berlangsung selama enam bulan.
Kemampuan yang diperlihatkan Soeprapto menyebabkan ia diserahi tugas yang penuh tanggung jawab. Setelah menyelesaikan Seskoad, ia diangkat menjadi Deputi KSAD untuk wilayah Sumatra. Waktu itu wilayah Sumatra baru saja di bersihkan dari pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia). Soeprapto yang sejak awal Januari 1960 sudah berpangkat Brigadir Jenderal harus berusaha agar pemberontakan seperti yang dilancarkan PRRI tidak terjadi lagi pada masa-masa yang akan datang. Untuk itu ia harus membina pendekatan kerjasama yang baik dengan aparat pemerintahan dan militer. Ia pun harus bertindak bijaksana menghadapi tokoh -tokoh TNI yang tadinya terlibat dalam PRRI. Seperti Soeprapto sendiri, mereka juga adalah anggota-anggpta TNI yang dalam masa perang kemerdekaan turut berjuang mempertahankan negara.
Tugas-tugas sebagai Deputi KSAD untuk wilayah Sumatra berhasil dijalankan Suprapto dengan baik. Mulai bulan Juli 1962 ia ditarik kembali ke Jakarta dan diserahi tugas sebagai Deputi Administrasi Mentri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad). Setahun kemudian ia memperoleh kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal. Jabatan sebagai Deputi Administrasi Menpangad ini ternyata adalah jabatan terakhir yang dipangku Soeprapto dalam karier militernya. Dalam kedudukan itulah ia diculik dan kemudian dibunuh oleh orang-orang PKI yang melancarkan pemberontakan dalam tahun 1965.
Dalam Pemilihan Umum tahun 1955 PKI keluar sebagai salahsatu partai besar. Sesudah itu mereka berusaha menguasai percaturan politik Indonesia. Dengan berbagai cara PKI berusaha memperlihatkan dirinya sebagai partai yang menyokong kebijaksanaan pemerintah. Demikianlah pada waktu terjadi pemberontakan PRRI/Permesta. PKI dengan gigih menentang pemberontakan ini. Permulaan tahun 1960-an pengaruhnya semakin besar. Kesempatan untuk memperkuat diri, terutama dibidang militer terbuka pada waktu pemerintah mengumumkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang ditujukan untuk menentang pembentukan federasi Malaysia. Dalam rangka Dwikora ini pemerintah memerlukan sukarelawan. PKI berusaha memasukan anggotanya sebanyak-banyaknya menjadi anggota sukarelawan. Dengan demikian diharapkan mereka akan memperoleh keterampilan militer yang kelak akan digunakan untuk melancarkan pemberontakan bersenjata melawan pemerintah.
Besarnya kekuasaan PKI dimungkinkan oleh politik keseimbangan (balance of power) yang diterapkan oleh Presiden Soekarno. Angkatan Darat berada dalam posisi yang sulit. Pimpinan Angkatan Darat cukup menyadari bahwa apabila PKI berkuasa, maka pancasila sebagai ideologi negara akan diganti dengan ideologi komunis. Tetapi Angkatan Darat juga terikat kepada disiplin dan karena itu harus patuh kepada Presiden sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang. Namun dengan berbagai cara pimpinan Angkatan Darat berusaha menghalang-halangi gerakan PKI. Karena itu terjadilah persaingan antara dua kekuatan ini.
Bagi PKI, Angkatan Darat adalah lawan utama yang harus mereka hadapi dalam usahanya merebut kekuasaan negara. Untuk mendiskreditkan Angkatan Darat, PKI melontarkan berbagai issue. Diissuekan bahwa dalam Angkatan Darat ada sebuah dewan yang disebut Dewan Jenderal yang bertugas menilai kebijaksanaan politik Presiden Soekarno. Walaupun pimpinan Angkatan Darat sudah menjelaskan kepada Presiden bahwa dewan yang ada hanyalah sebuah dewan yang mambahas masalah kenaikan pangkat perwira tinggi, namun issue itu tetap dilancarkan oleh PKI. Selain itu diissuekan pula bahwa antara Angkatan Darat dengan sebuah negara asing terdapat hubungan kerjasama untuk menjatuhkan pemerintah. Issue itu dikenal dengan ”Dokumen Gillchrist”.
Dengan alasan yang dibuat-buat bahwa ada negara asing yang akan melancarkan serangan terhadap Indonesia, maka PKI mendesak agar dibentuk Angkatan Kelima. Angkatan ini akan terdiri dari kaum buruh dan tani yang dipersenjatai. Dengan tegas gagasan pembentukan Angkatan Kelima ditentang oleh pimpinan Angkatan Darat, termasuk Mayor Jenderal Soeprapto, karena itulah ia termasuk salah seorang tokoh yang dianggap musuh oleh PKI.
Malam hari tanggal 30 September 1965 Mayor Jenderal Soeprapto merasa tidak enak badan, sebab pada siang harinya sebuah giginya yang sakit baru saja dicabut, karena tidak bisa tidur dan untuk mengalihkan perasaan sakit itu, ia membuat sebuah lukisan yang akan disumbangkannya kepada musium pejuangan di Yogyakarta. Sudah lama ia memikirkan untuk menyempurnakan musium tersebut. Ia pun menaruh perhatian yang serius terhadap perbaikan rumah-rumah sakit Angkatan Darat. Soeprapto ingin agar rumah-rumah sakit itu setaraf dengan rumah-rumah sakit militer di negara-negara maju. Selain membuat likisan untuk musium perjuangan, Soeprapto membuat pula beberapa catatan berkenaan dengan rencana pembangunan kantor pusat Angkatan Darat. Ia tidak tahu, bahwa pada waktu yang bersamaan, di Lubang Buaya, Jakarta, orang-orang PKI sedang melakukan persiapan terakhir untuk melancarkan, pemberontakan pada tahap pertama dari pemberontakan. PKI akan menculik dan kemudian meiuhunuh beberapa orang pejabat leras Angkatan Darat. Mayor Jenderal Soeprapto termasuk salah seorang yang akan diculik dan dibunuh. Pemberontakan yang dilancarkan PKI itu kemudian dikenal dengan nama Gerakan 30 September/PKI (G – 30 – S/PKI).
Kurang lebih jam 4.30 tanggal 1 Oktober 1965 anggota gerombolan G-30-S/PKI membuka pintu pagar rumah Soeprapto. Suara yang ditimbulkannya menyebabkan anjing yang tidur di sebelah kiri rumah terbangun dan menggonggong. Soeprapto pun terbangun. la menanyakan siapa yang ada di pekarangan. Gerombolan penculik mengatakan bahwa mereka adalah anggota Cakrabirawa. Soeprapto dan istrinya tidak menaruh curiga, sebab Cakrabirawa adalah pasukan pengawal Presiden. Soeprapto keluar dan membuka pintu depan. Di teras tampak beberapa orang anggota penculik berseragam Cakrabirawa. Salah seorang melaporkan bahwa Jenderal Soeprapto diperintahkan Presiden untuk menghadap ke istana. Sebagai seorang perwira yang berdisiplin, Soeprapto bersedia pergi. la mengatakan akan berganti pakaian terlebih dahulu. Tetapi para penculik tidak mengijinkan, dan bersamaan dengan itu mereka menodongkan senjata kepada Soeprapto. Dengan cara paksa Soeprapto dibawa keluar pekarangan. la hanya berpakaian piyama dan berkain sarung. Beberapa orang anggota gerombolan menaikkannya ke atas truk dan kemudian membawanya ke Lubang Buaya. Di tempat ini ia dianiaya dan kemudian dibunuh. Mayatnya dimasukkan kedalam sebuah sumur tua. Kedalam sumur itu pula dimasukkan mayat perwira-perwira lain yang berhasil diculik dan dibunuh oleh gerombolan G-30-S/PKI.
Angkatan Darat dibawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto segera mengambil tindakan untuk menumpas pemberontakan PKI. Tanggal 3 Oktober 1965 daerah Lubang Buaya berhasil dibersihkan dari kaum pemberontak. Pada hari itu juga dilakukan usaha mencari mayat perwira-perwira Angkatan Darat yang dibunuh oleh G-30-S/PKI. Sumur tua ditemukan berkat petunjuk seorang anggota polisi yang pernah ditawan oleh gerombolan G-30-S/PKI. Esok harinya mayat para korban berhasil dikeluarkan. Bertepatan dengan Hari ABRI tanggal 5 Oktober 1965, Mayat mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pemerintah menghargai jasa dan pengabdian yang telah diberikan Soeprapto kepada bangsa dan tanah air, khususnya pengorbanannya dalam usaha menegakkan dan mempertahankan Pancasila. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/Koti/1965 tanggal 5 Oktober 1965, Mayor Jenderal Soeprapto ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dan pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi letnan jenderal. la memiliki sepuluh buah bintang jasa sebagai lambang pengabdiannya kepada bangsa dan negara.

Posted in Pahlawan Nasional.