Jenderal Soedirman

Jenderal Soedirman bwSoedirman dilahirkan tanggal 24 Januari 1916 di dukuh Rembang, Kecamatan Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya, Kardis Kartawiraji dan Ibunya, Siyem, berasal dari rakyat biasa. la mempunyai seorang adik laki-laki, Muhamad Samingan, yang lahir dalam tahun 1918. Sejak masih bayi Sudirman sudah diambil sebagai anak oleh Cokrosunaryo, Asisten Wedana (Camat) Bodas Karangjati, suami Turidowati, kakak siyem.
Masa kanak-kanak dan masa remajanya dijalaninya di Cilacap. Umur tujuh tahum ia memasuki HIS, setingkat Sekoiah Dasar dengan bahasa Belanda yang lama pendidikannya tujuh tahun. Tamat HIS, ia meneruskan sekolahnya ke MULO (setingkat SMP) Wiworo Tomo, tamat pada tahun 1935. Di perguruan swasta ini ia memperoleh pelajaran mengenai nasionalisme yang diajarkan oleh Suwarjo Tirtosupodo.
Di sekolah, Soedirman tidak tergolong murid yang pintar. Angka-angka raportnya biasa saja. Tetapi ia terkenal disiplin sebaga kebiasaan yang ditanamkan oleh Camat Cokrosunaryo di rumah. Di sekolah, ia aktif dalam organisasi kepanduan (pramuka) Hizbul Wadian (HW), yang diasuh oleh Muhamadiyah, Sepak-bola termasuk cabang olah raga yang disenanginya. Ketaatannya dalam menjalankan perintah-perintah agama, menyebabkan ia dijuluki ”haji” oleh teman-temannya.
Dalam HW ia dikagumi karena disiplinnya. Pernah suatu kali HW mengadakan jambore di lereng Gunung Slamet yang terkenal berhawa dingin, terutama dimalam hari. Peserta jambore tidak tahan tinggal di kemah. Mereka bermalam dirumah-rumah penduduk yang terletak tidak jauh dari tempat itu, kecuali seorang, yakni Soedirman yang tetap tinggal dalam kemah.
Setelah menamatkan MULO, Soedirman bekerja sebagai guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan sekaligus menjadi anggota organisasi ini. Dari guru biasa, ia kemudian diangkat menjadi Kepala Sekoiah HIS Muhammadiyah itu. Tahun 1936 ia menikah dengan Alfiah, putri seorang pedagang yang cukup berhasil. Gadis ini sudah dikenalnya sewaktu sama-sama belajar di MULO. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai tujuh orang anak.
Dalam kedudukan sebagai guru dan anggota Muhammadiyah, perhatiannya terhadap masalah-masalah sosial mulai tumbuh dan mengalami perkembangan selama masa pendudukan Jepang. Dengan beberapa temannya, ia mendirikan koperasi yang langsung diketuainya sendiri.
Tujuannya ialah untuk. membantu masyarakat Cilacap dari kesulitan ekonomi yang melanda daerah itu. Untuk tujuan yang sama, ia aktif pula membina Badan Pengurus Makanan Rakyat. Badan yang dibentuk oleh Jepang ini dimaksudkan sebagai alat untuk mengumpulkan bahan makanan bagi keperluan perang. Tetapi Soedirman dengan cara sendiri, menganjurkan kepada rakyat agar mereka menyembunyikan sebagian hasil panen mereka. Gunanya ialah agar mereka tidak kelaparan.
Perhatiannya terhadap masalah-masalah sosial itu menyebabkan ia diangkat menjadi anggota Syu Sangikai (semacam Dewan Perwakilan Rakyat Banyumas. Tugasnya kemudian bertambah lagi dengan pengangkatannya sebagai anggota Jawa Hokokai untuk karesidenan yang sama.
Dalam bulan Oktober 1943 Pemerintah Pendudukan Jepang mengumumkan pembentukan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Dengan demikian pemuda-pemuda Indonesia mendapat kesempatan mengikuti pendidikan militer. Tenaga mereka kelak akan dipakai untuk kepentingan Jepang, menahan serangan Sekutu. Kemudian akan temyata, bahwa tujuan itu tidak tercapai dan pembentukan tentara itu menjadi bumerang bagi Jepang.
Soedirman mengikuti latihan Peta Angkatan ke dua di Bogor. Setelah selesai, ia diangkat menjadi Daidanco (Komandan Batalyon) di Kroya, daerah Banyumas. Tiap-tiap kesatuan Peta dipimpin oleh perwira Indonesia. Orang-orang Jepang yang ada dalam kesatuan itu hanya bertindak sebagai pelatih. Hubungan antara Soedirman dengan pelatih tersebut, tidak selamanya berjalan baik. Seringkali para pelatih bertindak diluar batas dan setiap kali hal itu terjadi, Soedirman pun melancarkan protes. Karena itu ia dicurigai, dianggap sebagai orang yang berbahaya.
Bersama dengan beberapa orang perwira Peta lainnya, yang juga dianggap berbahaya, dalam bulan Juli 1945 Soedirman diperintahkan ke Bogor. Resminya, untuk memperoleh pendidikan yang lebih intensif. Tetapi dibalik itu terkandung niat Jepang untuk melenyapkan perwira-perwira semacam Soedirman. Rencana itu tidak sempat dilaksanakan, sebab tanggal 14 Agustus 1945 Jepang sudah menyerah kembali kepada Sekutu.
Soedirman yang terhindar, dari maut, segera kembali ke Banyumas. Situasi sudah berubah. Tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan diproklamasikan, Jepang membubarkan kesatuan Peta. Senjata mereka dilucuti dan mereka dikembalikan kekampung masing-masing. Soedirman mengumpulkan kembali bekas anak buahnya dan dengan kekuatan itu ia membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) daerah Banyumas, setelah badan ini dibentuk secara resmi oleh pemerintah tanggal 23Agustus 1945.
Dengan kekuatan itu pula ia memulai usaha merebut senjata dari tangan pasukan Jepang. Dalam hal ini ia dibantu oleh Residen Banyumas, Mr. Iskak Cokrohadisuryo dan beberapa tokoh lainnya. Cara yanhg ditempuh ialah berunding dengan komandan Jepang. Dari hasil perundingan itu BKR Banyumas memperoleh senjata yang cukup banyak.
Tanggal 5 Oktober 1945 pemerintah mengumumkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). BKR yang sudah ada meleburkan diri dalam TKR. Begitu pula halnya dengan BKR Banyumas. Soedirman dipilih menjadi komandan resimen. Kepala Staf Umum TKR Letnan Jenderal Urip Sumoharjo, kemudian mengangkatnya menjadi Komandan Devisi V/Banyumas dengan pangkat kolonel.
Sampai bulan November 1945 TKR belum mempunyai panglimanya. Di pucuk pimpinan hanya ada Urip Sumoharjo. Sementera itu situasi semakin genting. Pertempuran melawan Jepang sudah berkobar diberbagai daerah, dan bahkan juga melawan Sekutu dan Belanda. Atas prakarsa Urip, dalam bulan November 1945, di Yogyakarta dilangsungkan rapat komandan-komandan TKR untuk memilih seorang Panglima Besar. Soedirman terpilih untuk menduduki jabatan itu, sedangkan Urip tetap padajabatannya sebagai Kepala Staf Umum. Tetapi pemilihan itu tidak segera mendapat persetujuan dari pemerintah RI.
Sementara itu Soedirman diharuskan berangkat ke front Ambarawa menghadapi pasukan Sekutu, setelah Letnan Kolonel Isdiman, Kepala Staf Divisi V, gugur dalam pertempuran. Ia segera berunding dengan komandan-komandan dari kesatuan TKR lainnya. Dari perundingan itu didapat kata sepakat untuk melancarkan serangan serentak.
Sesuai dengan rencana, pukul 04.30 pagi tanggal 12 Desember 1945. kedudukan pasukan Sekutu diserang dari segala jurusan. Pertempuran berkobar sampai tanggal 15 Desember. Pasukan Sekutu mundur dari Ambarawa ke Semarang.
Prestasi yang dicapai Soedirman dalam memimpin pertempuran Ambarawa itu meyakinkan pemerintah, bahwa ia memang pantas menjadi Panglima Besar TKR dengan pangkat Jenderal.
Dengan jabatan baru itu mulailah kesibukan yang menumpuk. Bersama Urip, pensiunan Mayor KNIL yang ketika itu telah berusia 52 tahun dan berpengalaman selama duapuluh lima tahun sebagai militer profesional, Soedirman menata organisasi tentara yang semrawut. Tanggal1 Januari 1946. nama TKR diganti menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dengan singkatan tetap TKR, dan tanggal 24 Januari berganti lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Sebuah panitia dibentuk untuk lebih menyempumakan organisasi. Hasilnya diumumkan pada bulan Mei 1946 dan bersamaan dengan itu Soedirman dan Urip Sumoharjo dikukuhkan sekali lagi dalam jabatan mereka masing-masing. Dalam upacara yang berlangsung di depan Presiden tanggal 26 Mei 1946, atas nama seluruh anggota TRI,; Soedirman mengucapkan sumpah :
1. Sanggup mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara Republik Indonesia yang telah memproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945.
2. Sanggup taat dan tunduk pada Pemerintah Negara Republik Indonesia yang menjalankan kewajiban menurut Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia dan mempertahankan kemerdekaannya.
Sebagai Panglima Besar dari suatu tentara yang baru dibentuk dan langsung menghadapi tugas-tugas tempur, banyak masalah yang harus dihadapi Soedirman, Disamping TRI sebagai tentara resmi, terdapat pula laskar-laskar yang berinduk kepada partai atau golongan tertentu. Hubungan antara keduanya tidak selalu baik. Soedirman ingin agar kedua aparat pertahanan itu digabungkan menjadi satu. Setelah mengalami berbagai rintangan, barulah dalam bulan Mei 1947 keluar pengumuman pemerintah tentang pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang merupakan gabungan TRI dan laskar-laskar. Selambat-lambatnya tanggal 3 Juni 1947 organisasi itu harus sudah terwujud.
Tetapi sebelum hal itu terlaksana sepenuhnya Belanda sudah melancarkan agresi militernya yang pertama 21 Juli 1947. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) campur tangan. Sebuah badan yang disebut Komisi Tiga Negara dibentuk untuk menyelesaikan sengketa Indonesia dengan Belanda. Akhirnya lahirlah ”Perjanjian Renville” yang ditandatangani tanggal 17 Januari 1948. Akibat perjanjian itu sebagian Angkatan Perang ditarik dari basis-basis pertahanan mereka ke daerah masih dikuasai RI.
Soedirman dan Urip kecewa dengan Renville. Mereka menganggap pemerintah menilai rendah angkatan perangnya sendiri. Urip langsung mengajukan permohonan berhenti dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Perang.
Tahun 1948 memang merupakan tahun yang penuh cobaan bagi Soedirman. la hampir saja tergeser dari kedudukannya. Golongan kiri (komunis) tidak senang melihat peranan Soedirman terlalu besar. Mereka berusaha melanjutkannya dan sekaligus berusaha mcncmpatkan Angkatan Perang di bawah kekuasaan golongan kiri. Usaha itu dilaksanakan melalui Reorganisasi dan Rasionalisasi (Rera) Angkatan Perang. Waktu Amir Syarifuddin, tokoh golongan kiri yang kemudian terlibat dalam pemberontakan Madiun masih menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, Rera sudah mulai dilaksanakan. Soedirman hanya diberi jabatan sebagai panglima Angkatan Perang Mobil. Dalam jabatan itu ia harus tunduk kepada Kepala Staf Angkatan Perang yang pangkatnya lebih rendah. Sukurlah perkembangan politik akhirnya menyelamatkan soal yang gawat itu.
Akhir Januari 1948 Kabinet Amir Syarifuddin jatuh, karena beberapa partai besar tidak menyetujui kebijaksanaannya rnenerima perjanjian Renville. Sebuah kabinet baru di bawah Dr. Mohammad Hatta dibentuk, Hatta tetap melanjutkan perjanjian Renville, tetapi dengan tujuan yang lain, yakni menghilangkan pengaruh golongan kiri dalam Angkatan Perang. Soedirman pun tetap dalam jabatannya sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.
Cobaan yang diterima Soedirman ternyata belum berakhir. Rupanya ia menderita penyakit paru-paru yang sudah parah. Karena itu ia harus menjalani operasi dan sebuah paru-parunya ternyata harus diistirahatkan. Beberapa waktu lamanya, sesudah operasi selesai ia harus istirahat di rumah dibawah pengawasan dokter. Ia tidak dapat menjalankan tugas sehari-hari. Pada waktu itu pula PKI melancarkan pemberontakan di Madiun.
Sementara itu hubungan antara RI dan Belanda semakin buruk. Perundingan-perundingan yang diadakan sebagai kelanjutan Renville, mengalami jalan buntu. Diperkirakan, Belanda akan melancarkan agresi militer kembali. Karena itu, beberapa perwira Angkatan Perang menyarankan kepada Soedirman supaya ia menyingkir ke luar kota, demi kepentingan kesehataanya. Tetapi ia menolak dan mengatakan, ”saya akan meninggalkan Yogyakarta kalau bom pertama Belanda sudah jatuh di kota ini”.
Tanggal 18 Desember 1948 ia mengumumkan bahwa mulai hari itu pimpinan atas Angkatan Perang kembali dipegangnya. Sebenarnya ia masih dalam keadaan sakit, dan harus istirahat. Esok harinya, tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi militer untuk kedua kalinya. Pagi hari itu pasukan para Belanda melancarkan agresi dengan diterjunkan di Lapangan Terbang Muguwo,Yogyakarta, dan dari sana mereka bergerak menuju ke kota Yogyakarta. Di tempat-tempat lainpun pasukan Belanda maju melewati garis demarkasi.
Setelah mengetahui bahwa Maguwo diserang, Soedirman memerintahkan ajudannya menghadap Presiden ke Istana untuk meminta intruksi. Setelah lama ditunggu dan ajudan itu belum juga kembali, maka ia sendiri berangkat ke istana dengan ditemani oleh dokter pribadinya. Waktu itu di istana sedang berlangsung sidang kabinet.
Presiden Sukarno membujuk Soedirman supaya tetap tinggai dalam kota, karena ia masih sakit. Dengan tegas ia menolak dan menjawab,
”Tempat saya yang terbaik adalah ditengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan Gerilya dengan sekuat tenaga seluruh prajurit.”
Sidang kabinet kemudian memutuskan bahwa Presiden, Wakil Presiden dan beberapa orang menteri akan tetap tinggai dalam kota. Mereka kemudian ditawan oleh Belanda.
Sementara menunggu kabinet bersidang, Soedirman menulis perintah harian yang masih sempat disiarkan lewat radio. Intinya ialah agar semua Angkatan Perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda.
Lewat tengah hari, Panglima Besar Angkatan Perang, Jenderal Soedirman meninggalkan Yogyakarta menuju luar kota untuk memimpin perang gerilya. Tujuannya ialah ke Kediri, Jawa Timur, yang sudah disiapkan sebagai markas besar Panglima Besar, Dengan itu mulailah perjalanan yang melelahkan dan penuh bahaya. Dalam keadaan sakit, Panglima Besar harus menempuh jalan-jalan yang sukar dilalui, mendaki gunung, menuruni lurah dan menempuh hutan. Sementara itu pasukan Belanda mencari jejaknya untuk kemudian menangkapnya. Karena sakitnya, kadang-kadang ia harus ditandu. Tidak jarang pula selama berhari-hari ia terpaksa menahan lapar. Persediaan obat habis dan beberapa kali ia jatuh pingsan.
Di daerah Kediri ia bertemu dengan kolonel Sungkono, Gubernur Militer Jawa Timur. Ternyata daerah itu tidak aman lagi sebagai tempat kedudukan Panglima Besar. Karena itu Soedirman kembali ke Jawa tengah, menempuh jalan mengelilingi Gunung Wilis. Di sini penderitaan sungguh-sungguh tidak tertahankan, di kepung Belanda, kekurangan makan dan kehabisan obat; namun ia tetap tabah.
Setelah melewati beberapa desa kecil di pantai selatan, akhirnya bulan April 1949 Soedirman menetap di desa Solo, daerah Surakarta, Jawa Tengah. Di tempat ini keadaan mulai agak teratur. Hubungan dengan Yogya dapat diadakan melalui kurir. Begitu pula Soedirman dapat mengadakan kontak dengan beberapa orang menteri yang ikut bergerilya, Mr. Susanto Tritopojo dan kawan-kawan.
Selama pemimpin gerilya itu, Soedirman tetap mengeluarkan perintah periniuh harian yang berisi amanat, baik untuk anggota angkatan perang maupun untuk rakyat pada umumnya. Iapun mengirim surat kepada tokoh-tokoh partai-partai politik dan selalu menganjurkan agar mereka menghilangkan perbedaan pendapat yang terjadi diantara mereka dan agar segenap pikiran dan tenaga di curahkan untuk menghadai agresi Belanda.
Belanda yang melancarkan agresi keduanya yakin, bahwa RI akan mudah di hancurkan, tetapi dugaan itu meleset. Angkatan perang melakukan gerilya dimana-mana, sehingga Belanda menjadi kewalahan. Dari keadaan ovensif, mereka beralih ke defensif. Serangan umum di Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 1949 di bawah Letnan Kolonel (sekarang Presiden) Suharto merupakan titik balik dalam perang itu. Belanda menjadi kaget dan dunia luar pun tahu, bahwa TNI masih cukup mampu untuk melawan Belanda. Karena terdesak, Belanda bersedia berunding. Tanggal 7 Mei 1949 Roem – Royen Statement ditandatangani. Dengan dasar perjanjian itu Ibukota Yogyakarta dikembalikan kepada RI. Presiden. Wakil Presiden dan beberapa pejabat pemerintah yang di tawan Belanda, dikembalikan ke Yogyakarta. Selanjutnya antara RI dan Belanda akan diadakan Konperensi Meja Bundar.
Jenderal Soedirman diminta agar kembali ke Yogya. Kehadirannya di Ibukota diperlukan, terutama dalam menghadapi perundingan militer. Soedirman tidak bersedia. la tidak setuju dengan cara perundingan yang ditempuh pemerintah, sebab pada waktu itu Angkatan perang cukup mampu untuk mengalahkan Belanda di medan tempur. Beberapa kali pemerintah mengirim utusan ke Solo, namun tidak berhasil menaklukan hati Soedirman. la tidak mau meninggalkan daerah gerilya selagi anak-anaknya, anggota Angkatan perang, masih terlibat dalam perang. Akhirnya pemerintah meminta jasa Kolonel Gatot Subroto.
Gatot menulis surat yang diantarkan oleh seorang kurir. Hubungan antara kedua tokoh ini cukup baik. Soedirman menghargai Gatot sebagai orang yang lebih tua walaupun pangkatnya lebih rendah. Dalam surat itu Gatot memangil Soedirman dengan istilah ”adik”. Gatot mencoba meyakinkan Soedirman bahwa kehadirannya ke Yogya sangat diperlukan. Antara lain dikatakan oleh Gatot, ”ini kali selaku saudara tua dari adik minta ditaati”. Temyata surat itu dapat melunakan pendirian Soedirman.
Tanggal 10 Juli 1949, setelah memimpin gerilya selama kurang lebih tujuh bulan dan melalui jalan sepanjang kira-kira seribu kilo meter, Panglima Besar Angkatan Perang Jenderal Soedirman, kembali ke Yogyakarta. Disepanjang jalan yang dilewati, rakyat berjejal-jejal ingin melihat wajah Panglima besarnya. Di perbatasan antara daerah Sala dan Yogya Sudirman menjadi bimbang. la teringat kembali kepada anak buahnya yang masih bergerilya di daerah pedalaman. Hampir saja ia kembali ke daerah gerilya. Beberapa orang perwira Angkatan Perang yang datang menjemputnya dengan susah payah berusaha meyakinkannya, bahwa kahadirannya di Yogyakarta sangat diperlukan. Akhirnya sikap Soedirman menjadi lunak kembali dan hari itu juga ia tiba diYogyakarta.
Setelah tiba di Yogya kesehatan Soedirman diperiksa kembali. Ternyata paru-paru yang satu lagi sudah terserang pula. Karena itu ia terpaksa dirawat di rumahsakit. Setiap perundingan yang memerlukan kehadiran Soedirman diadakan dirumahsakit.
Sementara itu rasa kurang puas terhadap cara-cara diplomasi yang ditempuh pemerintah masih membekas dihati Soedirman. Tanggal 1 Agustus 1949 ia menulis surat untuk Presiden Sukarno, berisi permohonan untuk berhenti dari jabatan sebagai Panglima Besar dan dari dinas ketentaraan. Surat itu dibicarakan dengan Kolonel Nasution dan Kolonel Simatupang. Setelah dipertimbangkan segala akibatnya, yakni Presiden dan Wakil Presiden akan berhenti, maka surat itu tidak jadi disampaikan.
Kesehatan memang tidak memungkinkan Panglima besar itu bekerja secara aktif. Tetapi kepada delegasi militer yang akan menghadiri Konperensi Meja Bundar di Negeri Belanda dipesankanya agar mereka mempertahankan posisi TNI. Dalam Republik Indonesia Serikat (RIS) yang akan dibentuk, TNI harus menjadi inti Angkatan Perang RIS.
Waktu upacara pengakuan kedaulatan berlangsung tanggal 27 Desember 1949, yang secara resmi mengahiri periode Perang Kemerdekaan, dimana Soedirman telah memberikan andilnya yang sangat besar. Ia terpaksa beristirahat di Magelang. Begitupun sebagai Panglima Besar, ia tidak dapat pindah ke Ja­karta, tempat kedudukan pemerintah setelah pengakuan kedaulatan itu. Di Magelang, kesehatannya tetap tidak berangsur baik. Pukul 18.30 tanggal 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman, Panglima Besar Angkatan Perang RI, meninggal dunia dalam usia yang masih muda, 34 tahun. Jenazahnya dimakamkan esok harinya di Makam Taman Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta, disamping makam Urip Sumohadjo, tokoh yang bekerjasama dengannya dalam membangun Angkatan Perang RI.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa dan perjuangan Soedirman. Berdasarkan surat keputusan Presiden RI No. 314 tahun 1964 tanggal 10 Desember 1964. ia dianugrahi gelar Pahlawan kemerdekaan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.