K.H. Abdul Wahid Hasyim

KH Abdul Wahid Hasjim bwSeluruh pendidikannya diperoleh di pesantren, ditambah 2 tahun di Mekah. Kemajuannya didapat dari belajar sendiri. Itulah yang mengantar K.H. Abdul Wahid Hasyim menjadi Menteri Republik Indonesia hingga 5 kali, yaitu :
Menteri Negara dalam Kabinet Presidentil pertama (1945).
Menteri Negara Kabinet Syahril (1946 – 1947)
Menteri Agama Kabinet RIS (1949 – 1950).
Menteri Agama Kabinet Natsir (1950 – 1951), dan
Menteri Agama Kabinet Sukiman (1951 – 1952).
Abdul Wahid yang di waktu kecilnya disebut Gus Wahid, lahir pada hari Jum’at tanggal 1 Juni 1914. la adalah putra lelaki yang pertama dari Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’arie, pendiri pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, Pendiri NU, Pahlawan Kemerdekaan Indonesia. Mula-mula ia diberi nama Mohammad Hasyim, mewarisi nama kakeknya, tetapi karena di anggap tidak serasi, lalu diganti menjadi Abdul Wahid. Ia bersaudara 10 orang, 5 lelaki dan 5 perempuan.
Mulai umur 5 tahun Gus Wahid sudah belajar mengaji Qur’an dari ayahnya. Pagi hari bersekolah di Dalafiyah di Tebuireng, lepas sholat zuhur dan magrib belajar mengaji. Umur 7 tahun ia belajar dari ayahnya pula membaca kitab-kitab Fathul-Qarib, Minhatul Qaqim Mutamminah dan lain-lain yang tidak biasanya dapat dibaca oleh anak berumur 7 tahun. Ia meneruskan pelajaran ke beberapa pesantren yaitu di Siwalan Panji, Sidoharjo, Mojosari, Nganjut dan Lirboyo, Kediri. Di pesantren-pesantren itu ia tidak lama belajar, kemudian pulang ke Tebuireng. Mulai umur 15 tahun ia baru faham huruf latin kemudian ia dengan bersungguh-sungguh mempelajari berbagai pengetahuan. Ia berlanganan majalah Penyebar Semangat (Aliran Dr. Sutomo) Daulat Rakyat (PNI – Hatta) dan Panji Pusaka, terbitan Balai Pustaka, sedang dari luar negeri ia berlangganan Umul Qur’an, Saultul Hijaz, Al-Lhatha’iful Musyawarah, Kullushai-in wad-Dunnya dan Al-Itanain. Sejak itu pula ia belajar bahasa Belanda dengan berlangganan kursus tertulis ”Sumber Pengetahuan” di Bandung. Ia mula-mula mengambil bahasa Belanda dan Arab, kemudian bahasa Inggris.
Mulai saat itu ia gemar dan banyak sekali mcmbaca baik koran-koran, maupun buku-buku. Oleh karena itu, masih dalam usia muda ia harus mengenakan kaca mata akibat amat banyak membaea. Dalam tahun 1932 ia menunaikan ibadah haji ke Mekah dan tinggal disana sambil belajar hingga tahun 1933.
Sepulang dari Mekah, Wahid Hasyim mulai terjun dalam pergerakan. Ia terjun kedalam masyarakat, berjuang dan mendidik. Pesantren Tebuireng adalah pangkalan permulaannya untuk melaksanakan rencana meningkatkan pesantren hingga para santri sejajar dengan kaum intelektual. Diketahuinya bahwa perbedaan santri dan orang terpelajar barat adalah dalam hal pengetahuan umum. Maka pengetahuan umum itulah mulai di kembangkan di pesantren. Kesempatan luas baginy a waktu ia duduk di Pengurus Besar Nahdhatul Ulama bagian Maa’rif (pendidikan). Untuk itu dikeluarkan majalah Suluh N.U. yang khusus mempermasalahkan kamadrasahan.
Kira-kira dalam usia 25 tahun Abdul Wahid kawin dengan putti K.H.M. Bisri, Ulama besar dan salah seorang pendiri NU yang bernama Soleha waktu itu gadis Jombang yang kemudian menjadi ibu Abdul Wahid Hasyim berusia kurang lebih 15 tahun. Suami istri itu berjuang bersama-sama baik dalam NU maupun kemudian sampai dipusat pemerintahan R.I. Sang suami menjadi Hasyim, sang istri anggota DPR. Sekarang Ibu Haji Soleha Abdul Wahid Hasyim masih juga anggota DPR/MPR. Perkawinan itu dikaruniai 6 orang anak, 4 orang pria dan 2 orang wanita.
Tidak lama setelah K.H. Abdul Wahid Hasyim menjadi ketua PB NU, Jepang mendarat di Pulau Jawa pada bulan Maret 1942 semua perkumpulan atau organisasi dilarang bergerak, tak terkecuali NU. Wadah umat islam yang dibenarkan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia Dewan Tertinggi Islam di Indonesia) dibawah pimpinan ketua K.H. Wahid Hasyim. Kedudukan inilah yang mengantarnya ke pusat perjuangn bangsa indonesia di jaman Jepang, menjadi anggota Cuo Sangi In, kemudian Dokuritsu Jumbi Cosakai hingga Panitia Persiapan Indonesia.
K.H. Wahid Hasyim adalah salah seorang dari 9 orang yang menandatangani Piagam Jakarta yang intinya menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar R.I. 1945 . Dalam perundingan dengan para pemimpin lainnya K.H. Wahid Hasyim terkenal teguh pendirian namun luwes sikap dan tenggang rasanya kepada orang lain, hingga terjadi pergaulan akrab dengan orang-orang dari berbagai macam pendirian dan corak pemikiran. Kepemimpinannya tampak jelas dalam usianya yang terhitungrmuda pada waktu itu, sekitar 30 tahun.
Di zaman kemerdekaan ia di angkat beberapa kali duduk dalam kabinet sebagai Menteri seperti sudah diterangkan pada awal tulisan ini.
Dalam kedudukan ini ia memegang peranan penting dalam mengintegrasikan kelasykaran golongan Islam (Ia pendiri Hizbullah bersama K.H. Zainul Arifin dan Iain-lain). Kedalam TRI (Tentara Rakyat Indonesia) yang kemudian menjadi TNI, karena peranan yang penting itulah ia diangkat menjadi penasehat politik Panglima Besar Sudirman. Kedudukan penasehat Panglima Besar itu tetap dipegangnya pada waktu tentara Belanda menyerbu daerah RI (clash ke 1), pemberontakan MUSO-Alimin di Madiun hingga perang gerilya menghadapi Belanda dalam clash ke 2 . Hubungannya dengan pasukan Gerilya dilakukan dengan perantaraan kolonel Latif Hendraningrat.
Pada waktu itu pula ia mulai menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng. Karena sang ayah wafat pada tanggal 25 Juli 1947. Ia terus-menerus dicari dan diuber-uber Belanda dan pernah ditangkap 2 kali di daerah Jombang. Karena itu ia harus berpindah-pindah disekitar Jombang dan Nganjuk. Sedang pada waktu itu ia menderita luka besar pada kakinya yang tidak kunjung sembuh karena mengidap penyakit gula.
Kedudukan K.H. Wahid Hasyim sebagai menteri Agama dalam Kabinet Sukiman telah dimanfaatkan untuk meletakkan sendi administratif organisatoris dan kebijaksanan suatu kementrian agama yang kas Indonesia itu. Ia menegakkan wewenang Peradilan Agama disatu pihak dan pendidikan agama dilain pihak. Dua langkah penting yang nyata mendapat sambutan besar dari masyarakat Islam ialah, memperkokoh dan memperkembangkan sekolah-sekolah Agama Islam tersebut di seluruh tanah air yang tidak dibiayai oleh pemerintah. Peristiwa itu membuktikan betapa K.H. Wahid Hasyim mampu menanggapi dan mengarahkan cita-cita masyarakat. Selama menjadi menteri Agama itupun telah merintis hubungan yang sehat dan saling menghormati antara pemeluk agama-agama besar di Indonesia.
Setelah tidak lagi menjadi Menteri, maka K.H. Wahid Hasyim kembali aktif di dalam partai NU yang waktu itu baru saja memisahkan diri dari masyumi. Pemisahan dari Masyumi partai NU ternyata berbuah baik karena telah menghasilkan NU menjadi salah satu empat besar yang dihasilkan oleh pemilihan umum 1955. Empat besar itu ialah, PNI, Masyumi, PKI dan NU. Dan kini, setelah NU tidak lagi sebagai partai, dan hakekatnya masih tetap besar, didalam masyarakat, khususnya dikalangan partai Ulama, namun jerih payah yang membuahkan kebesaran itu tidak lagi dinikmati oleh pemimpinriya. K..H. Wahid Hasyim. la telah bekerja keras mempersiapkan NU terjun dalam kancah Pemilu 1955, namun ia tidak menyaksikan hiruk pikuk partai yang dicintainya dalam perjuangan Pemilu itu. Ia tidak ikut dalam perjuangan Pemilu, namun telah meletakkan dasar-dasar dan taktik serta strategi perjuangan bersama-sama pemimpin NU lain-lainnya.
K.H. A.Wahid Hasyim tidak mengalami semua itu, karena dalam tahun 1953 telah menghadap Tuhan Allah SWT. Peristiwa yang tidak dapat dihindari terjadi pada suatu pagi dalam perjalanannya dengan kendaraan mobil ke Sumedang untuk memberikan ceramah disana. Cuaca buruk, hujan turun dan jalan aspal menjadi licin. Dijalan Cimindi dekat Bandung seliplah mobil vang ditumpangi K.H.A.Wahid Hasyim . Tubuh K.H.A. Wahid Hasyim terlempar keluar mobil hingga ia tak sadarkan diri. Ia diangkut ke rumah sakit Cimindi.Tidak seorangpun dari yang merawatnya mengetahui bahwa penderita malapetaka itu Ulama besar pemimpin NU, bekas Menteri dari Kabinet-kabinet RI, bahkan mengiranya seorang Cina. Mereka itu baru tahu pada saat K.H.A. Wahid Hasyim mengucapkan lafaz ”Laa illaaha illah”dan kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna lilahi waina illahi roji’un. Beliau wafat pada tanggal 19 April 1953,jam 10.30. Jenazahnya diangkut ke Jakarta, untuk disemayamkan dengan mendapat penghormatan besar dari para pemimpin dan masyarakat, khususnya umat Islam. Kemudian diangkut menuju Jombang, Jawa Timur. Jenazahnya dikebumikan di makam keluarganya di Tebuireng.
Namanya tercatat dengan tinta emas dalam perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden RI No. 206 tahun 1964 tanggal 24 Agustus 1964 menganugerahi Haji Abdul Wahid Hasyim gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.