Dr. Muwardi

DR Muwardi bwMuwardi dilahirkan pada tanggal 30 Januari 1907 sebagai putra ketujuh dari 11 orang putra-putri M. Sastrowardoyo, Mantri guru Jakenan, Pati, Jawa Tengah.
Ayahnya mencita-citakan agar putra-putrinya menjadi orang pandai dan berkedudukan melebihi sang Ayah. Maka setelah tamat ELS (Europeesche Lagere School, Sekolah rendah berbahasa Belanda), Muwardi dikirim ke Jakarta untuk meneruskan pelajarannya di Sekolah Dokter STOVIA. Usaha orang tuanya itu tidak sia-sia, Muwardi lulus dari STOVIA dan menjadi dokter pada tanggal 1 Desember 1933.
Sewaktu belajar di STOVIA Muwardi menunjukan perhatiannya yang besar kepada pergerakan pemuda. la seorang Jong Java dan giat didalam kepanduanya. Peleburan Jong Java bersama dengan perkumpulan-perkumpulan pemuda kedaerah lainnya, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Minahasa, Sekar Rukun (Sunda), Sangkoro Mudo (Jawa) dll. kedalam Indonesia muda yang berdasar kebangsaan Indonesia, berakibat kepanduan Jong Java menjelma menjadi Pandu Kebangsaan. Muwardi terpilih menjadi Ketua umumnya hingga Pandu Kebangsaan bertukar nama menjadi Pandu Kebangsaan Indonesia (KBI) Muwardi duduk didalam kwartir besarnya. Setelah menjadi Dokter iapun masih giat sebagai anggota Kwartir Besar hingga KBI dibubarkan oleh Jepang.
Disamping kegiatannya dibidang Kepanduan, Muwardi pun ikut aktif dibidang olah raga. Setelah menjadi dokter, ia masih aktif didalam pengurus ISI (Ikatan Sport Indonesia). Kemudian ia terjun pula dibidang politik dengan masuk Parindra (Partai Indonesia Raya) dan membimbing bagian pemudanya, Surya Wirawan.
Kecerdasan Muwardi rupanya selalu diingat oleh gurunya pada STOVIA, terutama setelah STOVIA menjadi Perguruan Tinggi Kedoktera, GHS. Kepada Dr. Muwardi ditawarkan untuk menjadi asisten profesor pada sekolah tinggi kedokteran GHS. Tawaran itu diterima baik olehnya dengan syarat, bahwa ia memperoleh kesempatan belajar untuk menjadi spesialis THT (Telinga, Hidung dan Tenggorokan). Persyaratan itu disetujui dan keinginan Dr. Muwardi menjadi spesialis THT pun tercapai.
Pada tahun 1932 Muwardi mempersunting gadis Suprapti asal Banyumas, lulusan Sekolah Guru Putri (Meisjes Kweekschool) Salatiga yang bekerja menjadi guru Arjuna School di Jakarta. Perkawinannya itu membuahkan 2 orang anak, ialah: 1. Sri Sejati, lahir dalam tahun 1933, kini nyonya Rudioro Rikhmad S.H.; dan 2. Adi Sudarsoyo Muwardi S.H. ,lahir dalam tahun 1935 yang menjadi pengacara di Jakarta.
Perkawinan itu tampak bahagia sekali, sedang Muwardi telah menjadi dokter dan berpraktek di Jakarta, di samping bekerja sebagai spesialis THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan) di rumah sakit CBZ yang sekarang bernama rumah sakit Dokter Cipto Mangunkusumo. Kebahagiaan bersama istri asal Banyumas itu tidak berlangsung lama, karena setelah melahirkan anaknya yang ke dua, Adi Muwardi, sang ibu meninggal dunia karena gangguan kandungan.
Selama 4 tahun Muwardi hidup sebagai duda dengan 2 orang anaknya. Kemudian pada tahun 1939 ia menikah untuk kedua kalinya dengan Susilowati lulusan Middelbare Vakschool, Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta. Muwardi berhasil membimbing istrinya untuk menganggap 2 orang anak peninggalan istrinya yang pertama sebagai anak-anaknya sendiri dan dididik bersama anak-anak yang dilahirkannya, sebanyak 6 orang yaitu : 1. Dra. Ataswarin Kamariah (istri Bambang Sarah); 2. Kusumarita (istri Ir. Atyanto Mokhtar); 3. Dr. Cipto Yuwono Muwardi 4. Ir. Banteng Wicaksono Muwardi; 5. Dr. Happy Anandarin Wahyuningsih (istri Ir, Harjanto Sugiarto). Anak yang ke enam meninggal dunia waktu berumur 3 bulan.
Dr. Muwardi lulus dari STOVIA dengan nilai memuaskan. Ia memang cerdas dan belajar selesai menurut jadwalnya. Setelah lulus, ia memilih bekerja sebagai dokter dan berpraktek.
Setelah KBI dibubarkan oleh Pemerintah Balatentara Jepang, tidak banyak terdengar gerak kegiatan Dr. Muwardi. Namanya baru muncul dalam pembentukan Barisan Pelopor yang nama Jepangnya Shusintai.
Pembentukan Barisan Pelopor oleh Bung Karno dipercayakan kepada Sudiro | pensiunan Walikota/Gubemur Jakarta Raya). Sebagai pemimpin Barisan Pelopor Kotapraja Jakarta diangkat sebagai Ketuanya dr. Muwardi dan Wilopo S.H. sebagai wakilnya. Di samping itu dibentuk Barisan Pelopor Istimewa (Tokubetau Skuisiantai) terdiri dari 100 orang yang di pilih sendiri oleh Bung Karno.
Dalam kedudukannya tersebut dr. Muwardi bekerja sama dengan Pak Diro dan dekat sckali dengan Bung Karno. Barisan istimewa ini selain latihan perang-perangan, digembleng langsung oleh Bung Kamo, Bung Hatta, Otto Iskandardinata dll.
Memasuki Th. 1944 di dalam zaman pemerintah militer Jepang suasana di Indonesia semakin terasa panas. Pada bulan Pebruari 1944 terjadi pemberontakan rakyat di Singaparna Tasikmalaya, Jawa Barat di bawah pimpinan K.H. Zainal Moestafa yang berakhir dengan dibunuhnya pemimpin itu bersama 21 orang lainnya. Setahun kemudian, dalam bulan Pebruari 1944 terjadi pemberontakan Peta di Blitar di bawah pimpinan Soeprijadi yang berakhir dengan dibunuhnya beberapa orang Peta, sedang pemimpinnya, Soeprijadi bagaikan hilang tak tentu rimbanya. Pemberontakan-pemberontakan yang berdiri sendiri-sendiri dan berakhir dengan kegagalan itu disusul tindakan Jepang membubarkan PUTRA di bawah pimpinan 4 serangkai, Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K.H. Mas Mansur dan di ganti dengan Jawa Hokoo Kai (Kebangkitan rakyat di Jawa.) Sekalipun pengantian itu dengan dalih mempersiapkan kemerdekaan. namun tindakan itu merupakan pil pahit bagi para pemimpin Indonesia.
Semua tindakan Jepang yang menghimpit gerak langkah bangsa Indonesia mendesak para pemimpin kita untuk mengadakan siasat baru yang penuh taktik untuk lebih siap dalam tindakannya, manakala datang saatnya merebut kemerdekaan bangsa dan tanah air dengan darah dan jiwa. Dan siasat baru itu ialah a.1. mendirikan pasukan pelopor. Pemuda-pemuda baik yang di Jakarta maupun yang dari daerah-daerah digembleng oleh pemimpin- pemimpin kita. Kursus-kursus politik yang mengandung idiologi dan strategi perjuangan diadakan di gedung Menteng 31 yang sekarang berganti nama Gedung Juang ’45. Disamping itu latihan-latihan fisik diadakan dengan giat, termasuk pencak silat.
Dalam pengemblengan mental dan fisik inilah Dr. Muwardi mencurahkan tenaga dan pemikiran sepenuhnya. Di Jakarta telah dibentuknya barisan pelopor di tiap Kawedanan, Kecamatan hingga di kelurahan-kelurahan, masing-masing berjumlah 25 anggota. Dengan demikian di Jakarta saja sudah terdapat 3000 orang barisan Pelopor terdiri dari pemuda-pemuda Nasionalis.
Meskipun bulan Agustus 1945 perjuangan makin jelas tujuannya, yaitu : Indonesia Merdeka, sekarang ”. Pada waktu perjuangan kemerdekaan makin memuncak, yaitu setelah mendengar dari suara radio luar negeri, bahwa pada tanggal. 13 Agustus 1945 Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, Dokter Muwardi melepaskan pekerjaanya sebagai dokter spesialis THT baik di dalam rumah sakit maupun prateknya. la mencurahkan tenaganya 100% untuk perjuangan kemerdekaan bersama-sama dengan kawan-kawannya, Khususnya, dalam barisan Pelopor.
Pada tanggal 17 Agustus J 945 pagi di waktu segala sesuatunya sudah siap, menjelang Bung Karno dah Bung Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, dr. Muwardi menjadi gelisah, karena sudah hampir pada saat yang ditetapkan, yaitu jam 10.00 Bung Hatta belum datang. Kegelisahannya itu beralasan. Dalam tugasnya sebagai penanggung jawab keamanan kalau-kalau rencana proklamasi diketahui oleh Jepang sebelum proklamasi dibacakan, niscaya akan berantakan semuanya. Maka dr. Muwardi minta kepada Bung Karno agar naskah proklamasi dibacakan oleh Bung Karno sendiri, sebab toh sudah ditandatangani oleh Bung Hatta pada pagi-pagi jam 2.00 Bung Karno menolak dan tetap menunggu kedatangan Bung Hatta. Alhamdulillah akhirnya segala sesuatunya terlaksana menurut rencana. Proklamasi yang ditandatangani oleh Sukarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia, dibacakan oleh bung Karno.
Setelah pembacaan proklamasi dan upacaranya selesai, Bung Hatta dan pemimpin-pemimpin lainnya pulang, dr. Muwardi masih tinggal untuk berunding dengan Pak Diro memilih 6 orang dari Barisan Pelopor yang pendekar pencak untuk menjadi ”perisai” Bung Karno. Pimpinan diserahkan kepada Sumantoyo, sedang petugas lainnya ialah a. I. Sukarto dan Tukimin. Enam orang itu setiap saat menanggulangi segala serangan terhadap Presiden Republik Indonesia dengan kesediaan mengorbankan jiwanya, padahal waktu itu segala apapun dapat terjadi, terutama tindakan oleh fihak Jepang. Ternyata sampai mendetail sekali dr. Muwardi memikirkan keselamatan Kepala Negara kita.
Setelah Bung Karno menjadi Presiden hendak menyusun Kabinet Pemerintah), dr. Muwardi mendapat tawaran langsung dari Bung Karno untuk menjadi menteri pertahanan, namun ia menolak karena hendak meneruskan karirnya sebagai dokter.
Setelah Proklamasi, terjadilah babak baru dalam perjuangan bangsa Indo­nesia, yaitu mempertahankan kemerdekaan. Jepang hendak meniadakan Proklamasi demi pertanggung jawabannya kepada Sekutu, sedang tentara Sekutu diboncengi NICA tentara Belanda hendak merebut dan menghancurkan kemerdekaan Indonesia.
Pada saat-saat itulah dr. Muwardi memberikan seluruh hidupnya untuk perjuangan. la jarang-jarang pulang kerumahnya. la tidak saja memimpin perjuangan Barisan Pelopor, tetapi juga menentukan siasat bersama kawan-kawan perjuangan lainnya, mengambil tindakan cepat, bahkan iapun terjun ke gelanggang perjuangan fisik melawan tentara Inggris di Klender, daerah perbatasan kota Jakarta yang pada waktu itu amat gawat sekali.
Sementara itu tindakan pejuang-pejuang didalam kota tidak semuanya terkontrol. Tidak sedikit kaum petualang yang menyalah gunakan kesempatan mencari keuntungan sendiri. Dalam keadaan yang semrawut seperti itu Barisan Pelopor di boncengi oleh Barisan Usung-usung, barisan yang mengangkut barang-barang apa saja untuk kepentingan sediri sehingga sana sini disinyalir Barisan Pelopor sebagai perampok, pembunuh dan Iain-lain. Oleh karena itu kepada dr. Muwardi dianjurkan supaya kedudukan Barisan Pelopor dipindahkan dari Jakarta. Waktu itu Pemerintah Republik Indonesia pun telah siap-siap hendak berhijrah ke Yogyakarta.
Maka setelah Pemerintah Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946. Pengurus Barisan Pelopor mengadakan perundingan untuk memindahkan markasnya. Keputusan bulat dicapai untuk memindahkan markasnya ke Sala.
Pemindahan markas besar Barisan Pelopor di tandai dengan adanya Kongres di Sala pada tanggal 15 dan 16 Desember 1945. Dalam Kongres itu diputuskan pergantian namanya menjadi ”Barisan Benteng Republik Indonesia” dan memilih pimpinan Markas besarnya yang terdiri dari : Pemimpin Umum Muwardi; Wakil Pemimpin Umum I, Pak Diro; Wakil Pemimpin Umum II, Mulyadi Joyomartono, beberapa Kepala Departemen-Departemen ; dan Sekretariat Umum ini yang di pimpin oleh Yusuf.
Muwardi segera meluaskan sayap Barisan Banteng dengan menyusun cabang-cabang di tiap-tiap Karesidenan, ranting-ranting di Kabupaten, dan anak ranting di Kawedanan. Bersama dengan Sudiro, Mulyadi Joyomartono, Muwardi banyak berkeliling mengadakan inspeksi kedaerah-daerah Jawa Barat, Bandung, Purwakarta, Leles, hingga Jawa Timur, Bojonegoro, Malang dan Iain-lain.
Khusus di Sala di bantuk Divisi Laskar Banteng di bawah pimpinan Anwar Santoso yang mula-mula membawahi 5 resimen, berkedudukan di Kartasura, Sala, Wonogiri dan Sragen.
Di dalam Pimpinan Barisan Banteng diadakan pembagian pekerjaan. Pak Diro dan Imam Sutardjo memimpin bagian politik yang berhasil menerbitkan harian ”Pacific” dan majalah ”Banteng”.
Kegiatannya menjalankan inspeksi ke Bandung menyebabkan ia terlibat dalam peristiwa Bandung Lautan Api pada tgl. 23 Maret 1946 bersama-sama tokoh Barisan Banteng, Toha, A. H. Nasution dan Suprayogi.
Kecuali memimpin Barisan Banteng, dr. Muwardi pun tidak sedikit menyumbangkan pikiran-pikiran perjuangan termasuk strategi militer kepada Komandan Angkatan Perang, khususnya kepada Jenderal Soedirman, dan Jenderal Sumohardjo.
Pengaruh, kecakapan dan kesanggupan dr. Muwardi dalam memimpin peperangan diakui oleh kalangan luas, sedang perhatiaannya kepada politik pun tidak kecil. Hal itu mendapat perhatian besar dari kaum politisi yang berhasrat rembawa dr. Muwardi kedalam perjuangan politik. Pendekatan kaum politisi kepada Muwardi mendapat jalan setelah diketahui bahwa dr. Muwardi tidak ia menyetujui perjanjian Linggarjati yang ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947 di Linggarjati, dekat Cirebon, Jawa Barat.
Linggarjati berakhir setelah terjadi clash I, Belanda menyerang Indonesia pada tgl. 1 Juli 1947. Kemudian diadakan gencatan senjata dan diadakan perundingan Indonesia – Belanda di kapal Renville di bawah pengawasan Komisi .”jasa-jasa baik dari PBB yang berakhir dengan ditandatanganinya Persetujuan Renville pada tgl. 17 Januari 1948.
Persetujuan Renville yang pada hakekatnya mendapat banyak tentangan mengakibatkan pembentukan Kabinet Presidentil dengan Bung Hatta sebagai Perdana Menteri. PKI lewat Partai Sosialis Amir Syarifuddin menuntut kursi Menteri Pertahanan, tetapi ditolak dan kursi itu dirangkap oleh Bung Hatta sendiri.
Amir Syarifuddin dkk, tidak tinggal diam dan bertindak mendirikan FDR Front Demokrasi Rakyat) pada tgl. 26 Pebruari 1948 beranggotakan PKI, Partai Sosialis-Amir Syarifuddin, PBI (Partai Buruh Indonesia), Sobsi (Organisasi Buruh dibawah PKI) dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia).
Golongan lain yang tidak menerima pesetujuan Renville dan tidak setuju dengan FDR, pada tgl. 6 Juni 1948 mendirikan organisasi baru, yaitu GRR Gerakan Revolusi Rakyat) dibawah pimpinan Tan Malaka dan Rustam Effendi. Dokter Muwardi yang sependirian dengan mereka dalam hal anti Linggarjati dan Renville tersebut, ikut aktif dalam pimpinan GRR. Itulah asal mulanya dr. Muwardi terjun aktif dalam politik dan dimusuhi oleh FDR, khususnya PKI. Bertentangan dengan PKI memang besar resikonya, karena golongan ini bersemboyan : ”cita-cita mengalahkan segala cara”. Bulan September 1948 PKI mencetuskan pemberontakan di Madiun yang terkenal disebut ”Madiun – affair”. Banyak dilakukan pembantaian dengan kejam sekali, terutama di daerah Madiun. Dilain-lain tempat dilakukan sebagai tindakan yang rendah dan keji a.l. mengadakan penculikan. Dan saat yang semrawut itulah dr. Muwardi menjadi korban penculikan.
Tanggal 13 September 1948 Dr. Muwardi bangun pagi sekali karena akan melakukan operasi di rumah sakit Jebres. Sebelum berangkat, ia memberi uang Rp. 2.000.000,00 kepada istrinya untuk membeli sprai sambil bercerita bahwa 2 orang anak buahnya telah diambil (baca: diculik). Istrinya memperingatkan sang suami agar berhati-hati.
Muwardi berangkat dengan berpamitan pada istrinya:” Wis yojeng” (Sudah ya, adinda). Baru sarhpai dipintu depan ia kembali karena ada sesuatu yang ketinggalan, lalu berangkat lagi sambil berpamitan dengan kata-kata yang sama.
Istrinya sama sekali tidak mengira, bahwa kata-kata pamit itulah kata-kata yang terakhir dari suaminya, sebab sesudah itu dr. Muwardi tidak pulang lagi untuk selama-lamanya.
Dari rumah dr. Muwardi mampir di Markas Besar Barisan Banteng. Anggota-anggota stafnya masih berkesempatan minta agar pak dokter jangan pergi, namun dr. Muwardi tidak sampai hati menunda operasi pasiennya yang sudah ditentukannya lebih dahulu. Maka pergilah ia dengan naik andong. Dan perjalanan naik andong kerumah sakit Jebres itulah perjalanan terakhir dari dr. Muwardi menunaikan tugasnya sebagai dokter. Sejak itulah ia tidak kembali lagi, karena diculik dan dibawa entah kemana. Meskipun tidak jelas oleh siapa, namun menurut situasinya dapatlah dipastikan dr. Muwardi telah diculik orang-orang PKI seperti halnya 2 orang anak buahnya, yaitu Darmosalimin dan Citromargongso. Dua orang anggota Barisan Banteng yang setia dan tangguh itu jenazahnya di ketemukan kemudian di makam Jokotole, sebelah selatan tanggul Surakarta.
Pencarian dr. Muwardi segera dilakukan, namun sia-sia. Setiapkali ada berita dan tanda-tanda kemungkinan akan makam dr. Muwardi, tentu segera dilakukan pelacakan, baik oleh putranya, Adi Muwardi S.H., maupun oleh kawan-kawan almarhum ex Barisan Banteng. Pencarian dan pelacakan yang telah dilakukan beberapa kali hingga kini tidak menunjukan sesuatu titik terang.
Dokter Muwardi almarhum besar sekali jasanya sejak muda. khususnya dalam perjuangan fisik mengamankan proklamasi dan mempertahankan kemerdekaan. Amal bakti Muwardi diabadikan dengan Bintang Mahaputra klas III. Dan Pemerintah Republik Indonesia dengan S.K. Presiden No. 190 th. 1964 tertanggal 4 Agustus 1964 menganugrahi dokter Muwardi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.