Sukardjo Wirjopranoto

Sukardjo Wirjopranoto bwSukardjo adalah putra Bapak Wiryodiharjo yang bekerja pada Jawatan Kereta Api pada zaman Hindia Belanda. Ibunya berasal dari Purwokerto, keturunan seorang alim ulama, bernama Kyai Asmadi. Sukardjo dilahirkan di Desa Kasugihan kurang lebih 20 km dari Cilacap, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juni 1903. Ia bersaudara berjumlah tujuh orang dan ia adalah anak keenam.
Ketika Sukardjo berumur tiga tahun, ayahnya meninggal dunia. Oleh karena itu seluruh tanggungjawab untuk membesarkan putra-putrinya terletak pada Ibu Wiryodiharjo. Ia adalah seorang ibu yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. cermat, teguh dan bercita-cita tinggi, terutama dalam memajukan dan mencerdaskan putra-putrinya. Dengan tekun beliau mengatur rumah tangga, memanfaatkan harta peninggalan suaminya berupa ladang dan sawah yang tidak pula besar jumlahnya. Kakak-kakak Sukardjo mengecap pendidikan HIS, sedangkan Sukardjo yang paling dekat dengan ibunya, sebab adiknya meninggal setelah dilahirkan. Berbeda dengan kakak-kakaknya, Sukardjo belajar pada ELS (Europesche Lagere School) sama dengan SD berbahasa Belanda. Mereka berangkat pada waktu subuh ke sekolah dengan naik kereta api setiap hari, dan pulang sudah agak sore.
Semasa kecilnya Sukardjo suka bercerita dan bermain. Ia gemar berkumpul-kumpul dengan teman-temannya. Ia termasuk anak yang cerdik, pandai bergaul, karena itu banyak kawan. Di sekolah ia tidak canggung bergaul dengan kawan-kawannya yang berkulit putih. Sedangkan di kampung ia pun mudah bermain bersama anak-anak tetangganya.
Di sekolah ia tidak menonjol kepandaiannya, tetapi tiap tahun naik kelas. Pada tahun 1917 Sukardjo lulus ELS. Sesudah itu ia melanjutkan pendidikan di sekolah Hukum (Rechts School) di Jakarta. Lima tahun kemudian ia sudah lulus sekolah hukum dan mulai bekerja sebagai pegawai negeri.
Sukardjo besar tinggi perawakannya, selalu berpakaian rapi dan murah senyuman dalam keramahannya. Ia adalah seniman musik pula. Mula-mula ia bekerja di Pengadilan Negeri Purwokerto. Pada usia 22 tahun ia menikah dengan Siti Katijah, seorang saudara sepupunya. Dari perkawinannya ini lahir seorang putra bernama Priono. Kemudian Sukardjo juga menikah untuk kedua kalinya dengan Umaryani setelah ia bercerai dengan Siti Katijah.Pada tahun 1926 Sukadjo di pindahkan ke Magelang, tetapi hanya untuk waktu 40 hari karena suatu peristiwa.
Pada suatu sore ia berjalan-jalan dan berpapasan dengan majikannya, yaitu Kepala Pengadilan Negeri Magelang. Sukardjo sudah hormat tetapi sang kepala menganggap penghormatan Sukardjo kepadanya, kurang memadai. Kepala Pengadilan Negeri bersikap tidak senang, Sukardjo merasa diperlakukan tidak adil. Oleh sebab itu Sukardjo dipindah ke Lumajang.
Sukardjo adalah seorang yang berani dan berprikemanusiaan. ketika ia di Lumajang terjadilah pemberontakan PKI tahun 1926/1927. Seorang putra Dr. Muhammad, bernama Sun yo ikut ditangkap dan di buang ke Digul. Akibatnya banyak orang yang tidak ingin mendatangi rumah Dr. Muhammad. Keadaan itu merupakan pukulan batin bagi Dr. Muhammad. Sukardjo dapat merasakan penderitaan batin keluarga Dr. Muhammad. Oleh karenanya Ia bersama istrinya berkenalan dan mengunjungi dr. Muhammad. Ia pun memberi hiburan untuk menenangkan hati dr. Muhammad sekeluarga. Perbuatan demikian itu dijamannya membahayakan dirinya, tetapi ia seorang yang bijaksana. Sukardjo mulai tertarik pada pergerakan nasional, sejak masa muda ia sudah menjadi anggota Jong Jawa.
Sukardjo kemudian dipindahkan ke Malang dan diangkat menjadi anggota Majelis Hakim (Lid van de Lamdraad). Sebagai Anggota Majelis Hakim ia bekerja tekun dan teliti. Walaupun pangkatnya tinggi, tetapi ia tetap bersikap tepa selira dan jauh dari sikap sombong dan takabur.
Ia menyadari, bahwa sebagai pegawai negeri ia bekerja untuk kepentingan pemerintah Kolonial, padahal dalam hati nuraninya ia ingin mengabdikan dirinya untuk pergerakan nasional. Pada tahun 1929 ia keluar dari dinas pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan menceburkan diri dalam pergerakan nasional. Ia mendirikan kantor pengacara yang diberi nama ”Wisynu ” untuk menegakkan kebenaran dan melindungi rakyat yang lemah. Ia masuk menjadi anggota Budi Utomo (BU), dan kemudian menjadi Ketua Cabang Malang.
Sukardjo Wiyopranoto berusaha menjadi anggota organisasi BU yang baik dan memang patut diteladani. Ia berpendapat, bahwa organisasi tidak dapat hidup kalau tidak ditunjang oleh anggota yang menyadari tujuan organisasi dan tujuan perjuangan bangsa secara keseluruhan. Karena itu Sukardjo berusaha keras untuk menambah jumlah anggota, mempertebal rasa kebangsaan dan harga diri sebagai bangsa, serta percaya pada diri sendiri.
Pada tahun 1937 ia diangkat menjadi anggota Volksraad (Dew an Rakyat) sebagai wakil Budi Utomo. Sejak waktu itu ia menetap di Jakarta. Sebagai angota Volksraad ia termasuk angota Fraksi Nasional di bawah pimpinan M.H. Thamrin bersama R.P. Soeroso, Otto Iskandardinata, Suangkupon dan Moh. Nur yang selalu memperjuangkan kepentingan rakyat dengan kritiknya terhadap pemerintah Kolonial.
Pada zaman perjuangan menuntut parlemen yang sejati atau Indonesia Berparlemen yang dilancarkan oleh GAPI (Gabungan Politik Indonesia), Sukardjo Wiryopranoto mengunjungi berbagai kota sepeti Tanjungkarang, Surabaya, Jakarta, Banjarmasin, Palembang dan Medan untuk menggembleng rakyat.
Pada tahun 1935 Sukardjo Wiryopranoto mengunjungi negara-negara Jepang dan Filipina. Ia terkesan pada Jepang yang telah dapat melepaskan diri dari isolasi dan menjadi negara industri yang besar. Ia juga memuji pendidikan dan pengajaran di Jepang. Mengenai Filipina, Sukardjo berkata bahwa sejak tanggal 15 November 1935, telah lahir suatu bangsa Filipina baru, dengan semangat baru.
Sukardjo adalah seorang berpandangan modern. Ia berpendapat untuk menguasai ilmu sebanyak-banyaknya diperlukan kemahiran bahasa Inggris. Karena itu bahasa Inggris perlu dipelajari dengan sebaik-baiknya.
Sukardjo Wiryopranoto adalah seorang yang aktif, terkenal suka bekerja tanpa mengenai waktu. Sebelum pekerjaannya selesai ia belum akan berhenti. Ia mempunyai sifat tekun, teliti, gesit dan trampil, karena itu pada tahun 1930 pernah pula ia diangkat sebagai anggota Badan Pemerintah Harian dan Dewan Pemerintah dalam membela kepentingan rakyat, dr. Sutomo yang waktu itu menjadi Ketua Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), sangat tertarik kepadanya.
Terhadap ”Petisi Sutarjo (Kartohidikusumo)” yang terkenal dengan tuntutannya agar Indonesia diberi pemerintahan sendiri dalam lingkungan Kerajaan Belanda, Sukadjo Wiryopranoto tidak menyetujuinya. Ia berkata, ”Usui itu tidak ada gunanya, malahan akan melemahkan dan mematikan cita-cita Indonesia Merdeka. Petisi Sutarjo itu berlawanan dengan tujuan perkumpulan politik bangsa Indonesia”.
Sukardjo menghendaki bangsa Indonesia yang bersatu. Ia giat pergi daerah-daerah untuk menganjurkan persatuan. Sikapnya terkenal lues, lugas rakyat Jakarta ia akan berbicara dengan menggunakan bahasa rakyat. Sebaliknya dengan para cerdik pandai ia pun mampu berkomunikasi dengan tepat dan konstruktif. Sukardjo berpendapat, ”Para intelektual merupakan inti dari suatu bangsa. Mereka harus memiliki pandangan yang luas, kritis dan kesadaran kebangsaan”.
Langkah-Iangkah politik Sukardjo didalam Volksraad antara Iain ialah membela nasib pegawai rendah. Ia mengajukan mosi agar pemotongan gaji pegawai rendah diturunkan dari 17% menjadi 15%. Ia peka terhadap situasi dan keadaan masyarakat yang selalu dibawa ke dalam sidang Volksraad. Ia mengusulkan agar pengangkatan anggota-anggota Gemeenteraad bagi orang Indonesia disamakan dengan orang Belanda. Ia juga menghendaki agar orang Indonesia diberi kesempatan untuk menjadi walikota. Cita-cita Sukardjo itu teriaksana ketika pada tahun 1937 Mr. Dr. Subroto diangkat menjadi Walikota Madiun. Pengangkatan ini menimbulkan kegoncangan dikalangan Bangsa Beianda. Dua tahun kemudian Mr. Subroto bahkan diangkat menjadi Walikota Bogor, sedangkan Mr. Susanto Tirtoprojo menggantikan sebagai Walikota Madiun
Ketika Budi Utomo dan PWI dilebur menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) pada tanggal 24 Desember 1935, di Gedung Habiproyo, Surakarta, Sukardjo Wiryopranoto ditunjuk sebagai salah seorang komisaris dalam Pengurus Besar Parindra. Kemudian Sukardjo mengetuai Departemen Propa­ganda. Disamping itu ia membantu pula berbagai urusan : Urusan Politik, Umum, Bagian Pemilihan, Hubungan Luar Negeri dan Komisi Pers dan mengetuai Sarekat Sekerja.
Sukardjo aktif dalam pendirian dan perjuangan GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Pada tahun 1939, GAPI melancarkan perjuangan dengan semboyan ”Indonesia Berparlemen”. Maksudnya agar Volksraad menjadi Dewan Perwakilan Rakyat yang sebenarnya, di mana pemerintah bertanggung jawab kepadanya. GAPI juga berhasil menyelenggarakan Kongres Rakyat Indonesia di Jakarta dengan keputusan : Bahasa Indonesia ditetapkan menjadi bahasa pergaulan resmi, Lagu Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan dan Bendera merah putih menjadi bendera Indonesia. Kongres Rakyat Indonesia kemudian (1947) diganti menjadi Majelis Rakyat Indonesia yang berfungsi sebagai badan perwakilan rakyat, dimana Sukardjo Wiryopranoto duduk sebagai salah seorang pemimpinnya.
Sementara itu, Sukardjo sudah menyatakan diri keluar dari Volksraad dan memusatkan pada perjuangan di Majelis Rakyat Indonesia. Ia mengatakan: ”Dengan berdirinya Majelis Rakyat Indonesia, maka kita menyusun barisan, memusatkan segala semangai dan tenaga menuju ke Indonesia Berparlemen. Merintis jalan ketujuan Indonesia Berparlemen bisa disamakan dengan suatu strategi akan merebut ”Kota”. Artinya kita akan menggunakan segala tenaga dan kekuatan lahi/batin melakukan ”gugur gunung” alias mengadakan ”mobilisasi”, merelakan harta benda, mengikhaskan tenaga, malah kalau perlu sampai juga jiwa kita.
Semua putra dan putri Indonesia harus mencari tempat sendiri-sendiri, dimana mereka bisa berjuang dan berjasa (baca : berkorban). Dimana mereka bisa mengabdi kepada Tanah Air”. Pada kesempatan lain Sukardjo berkata,
”Dengan sikap sama-sama, maka kita akan menjauhkan percekcokan diantara kita, akhimya kita akan ”dimakan” oleh pihak luar. Maka dari itu, hendaknya kita memperkuat persiapan, luar dalam, kiri kanan, muka belakang. Hendaknya kita membuktikan keikhlasan dan kerelaan kita supaya mengerjakan apa yang kita maksudkan ke arah tujuan kita bersama.”
Sukardjo Wiryopranoto mula-mula mengusulkan agar K.H. Mas Mansur, ketua pengurus pusat Muhammadiyah waktu itu, diangkat sebagai ketua Majelis Rakyat Indonesia. Tetapi K.H. Mansur berkeberatan, mengingat tugas kewajibanya sebagai ketua MRI sungguh bukan tugas yang ringan. Akhimya Mr. Sartono yang terpilih menjadi ketua Majelis.
Seperti lain-lain pemimpin pergerakan nasional Sukardjo menaruh perhatian besar kepada pemuda-pemuda bangsanya. Justru para pemuda harus mengisi segala bidang kehidupan demi masa depan bangsanya. Sukarjo menuntut agar pemuda-pemuda Indonesia diberi kesempatan untuk menjadi penerbang, bahkan menjadi perwira di kapal-kapal perang. Dan dalam kalangan marinir pemuda-pemuda kita harus diberi tempat dan kesempatan.
Sukardjo juga menganjurkan agar para pemuda terpelajar ikut bertransmigrasi ke luar Jawa, khususnya ke daerah Lampung. Pengiriman para Kolonist terpelajar ini adalah suatu kejadian yang di sebut historisch gebeuren (tonggak sejarah), satu hal yang pertama-tama dikerjakan. Sudah tentu kita akan bertemu dengan beberapa kesukaran dan kekurangan, akan tetap tinggalah kita berpegang kuat pada semboyan: kita maju terus, berjalan terus, bekerja terus.
Masalah pengangguran yang mengancam hari depan pemuda kita, juga mendapat perhatian besar dari Sukardjo, ia bertindak dan akan mendirikan sebuah panitia bernama ”Menuju Memberantas Pengangguran Pemuda” (MMPP) di kota Malang. Panitia ini bertujuan untuk melatih pemuda pengangguran sehingga menjadi tenaga terampil„dibidang pertanian dan pertukangan, seperti tukang kayu, pandai besi, tukang cukur, tukang listrik, montir mobil, tenaga pembukuan, stenografi, pembuat keramik dan sebagainya.
Dalam Kongres Bahasa Indonesia Pertama di Surakarta pada tanggal 26 Juni 1938, Sukardjo menjadi penasehat. Antara lain ia berkata,
”Bahasa Indonesia akan musnah, jika anak buminya tidak mempergunakan lagi bahasanya, yaitu bahasa Indonesia. Salah satu syarat untuk meninggikan derajat Bangsa dan Nusa ialah memperkokoh Bahasa Indonesia”.
Di samping berpidato dan berbicara, Sukardjo juga berjuang di bidang pers dengan memimpin persuratkabaran dan menulis artikel. Perhatiannya terhadap pers memang besar. Pada tahun 1932 dalam Kongres Indonesia Raya ke-1 di Surabaya Sukardjo membawakan pidato yang berjudul, ”Susunan Negeri, Perhubungannya dengan Kemerdekaan Pers”.
Sebagai ketua Departemen Pers dan Propaganda Parindra Sukardjo telah mengusahakan penerbitan harian ”Berita Umum” di Jakarta dengan pimpinan redaksi Winarno. Harian ini terbit sampai dengan jatuhnya Hindia Belanda.
Pada zaman pendudukan Jepang dengan dilarangnya partai-partai politik, Sukardjo memusatkan perhatiannya kepada jurnalistik. Ia memimpin surat kabar ”Asia Raya” yang mempunyai oplah terbesar waktu itu.
Sukardjo Wiryopranoto diangkat pula menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai.
Pada tahun 1943 ia diangkat menjadi ketua muda Jawa Shinbun Kai, yaitu gabungan atau perserikatan surat kabar di Jawa. sesudah Indonesia merdeka ia menjadi anggota ”Yayasan Dharma” yang menerbitkan majalah ”Mimbar Indonesia di Jakarta”. Majalah M.I. itu menjadi salah satu benteng pertahanan Republik Indonesia di Jakarta yang sudah diduduki Belanda.
Sebelum Agresi Militer II (Desember 1948), Sukardjo Wiryopranoto ditangkap Belanda di Jakarta dan di usir serta dikirim ke Yogyakarta, karena majalah ”Mimbar Indonesia” di anggap berbahaya bagi politik Belanda Sesudah M.I. diizinkan terbit kembali pada bulan Pebruari 1949, ia kembali ke Jakarta.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Sukardjo Wiryopranoto diangkat sebagai juru bicara Negara dalam Kabinet Syahrir. Kemudian sesudah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu pada tahun 1950 ia diangkat menjadi Duta Besar RI di Vatikan merangkap Duta Besar Luar Biasa RI dan Berkuasa Penuh pada Pemerintah Italia.
Kemudian ia ditarik kambali ke tanah air menjabat kepala Direktorat Asia-Pasifik pada Departemen Luar Negeri. Selanjutnya ia ditugaskan menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI pada Pemerintah Republik Rakyat Cina, merangkap kepala perwakilan Diplomatik pada Pemerintah Rakyat Mongolia.
Empat tahun kemudian, pada tahun 1960 Sukardjo diangkat menjadi wakil tetap RI di PBB. Ia amat sibuk dalam tugasnya itu karena bangsa Indonesia sedang berjuang mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Ketika bangsa Indonesia berhasil memasukkan Irian Barat ke wilayah RI, Sukardjo Wiryopranoto meninggal pada tanggal 23 Oktober 1962 di New York. Jenasahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pemerintah RI dengan SK Presiden No. 342/Th.l962 tertanggal 29 Oktober 1962
menganugerahi kepada Sukardjo Wiryopranoto gelar Tokoh Nasional/Pahlawan Kemerdekaan Nasional atas jasa-jasanya pada Nusa dan Bangsa.

Posted in Pahlawan Nasional.