Jenderal Gatot Subroto

Jenderal Gatot Subroto bwGatot Subroto dilahirkan pada tahun 1907. la adalah anak tertua dari Sayid Yudoyuwono. Adik-adiknya ada 7 orang. Pendidikan umum dimulainya di Europesche Lagere School (ELS), setingkat Sekolah Dasar yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak Belanda atau anak-anak Indonesia dari keluarga terpandang. Sebenarnya ia tidak berhak memasuki sekolah tersebut, tetapi bupati Banyumas memberikan bantuannya hingga ia dapat diterima di ELS. Gatot tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di ELS. Ia dikeluarkan dari sekolah gara-gara berkelahi dengan seorang anak Belanda. Pada waktu itu perbuatan seperti itu tidak dapat dibenarkan. Ia pun tidak di izinkan memasuki sekolah pemerintah lainnya. Tetapi untunglah ada seorang anggota keluarganya yang menjadi guru di HIS (Hollandsch Inlandsche School, setingkat SD dengan bahasa Belanda) Cilacap. Guru inilah yang bersedia memberikan bantuan, dan Gatot dapat pindah dari Banyumas ke Cilacap, bersekolah di HIS.
Setelah menamatkan HIS, ia bekerja sebagai pegawai negeri. Tetapi ternyata pekerjaan seperti itu tidak cocok dengan jiwanya. Oleh karena itu ia minta berhenti. Dalam tahun 1928, ketika Gatot sudah berumur 21 tahun, ia mendaftarkan diri ke sekolah militer, Cadet School di Magelang. Ternyata di sekolah ini ia menemukan apa yang dicarinya, sesuatu yang sesuai dengan jiwanya. Setelah tiga tahun dididik di sekolah militer ini, ia lulus. Dengan pangkat sersan Kelas II KNIL (Tentara Kerajaan Belanda), Gatot ditugaskan di Padang Panjang, Sumatra Barat. Lima tahun kemudian ia dikirim ke Sukabumi, Jawa barat, untuk mengikuti pendidikan marsose, kesatuan militer dengan tugas-tugas khusus, dan yang menuntut keberanian yang lebih dari rata-rata kesatuan lain.
Gatot yang bertubuh kekar dan yang sejak kecil sudah memperlihatkan sifat berani, dengan mudah menyelesaikan pendidikan marsose itu. Setelah selesai, ia ditempatkan di Bekasi dan Cikarang, Jawa Barat, daerah yang pada waktu itu sering dilanda kerusuhan dan bersumber pada tindakan-tindakan para lintah darat. Pemerasan yang mereka lakukan, mengelisahkan masyarakat. Rakyat menderita dan dalam keadaan seperti itu pencurian dan penggarongan merupakan kejadian biasa sehari-hari.
Sersan Marsose Gatot Subroto harus mengamankan daerah itu. Yang bersalah ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Seringkali ia harus melakukan tindakan itu terhadap rakyat kecil yang jelas melanggar hukum, khususnya yang menggaggu keamanan. Perasaannya cukup tertekan, tetapi bagaimanapun hukum harus ditegakkan dan itu adalah tugasnya. Suara hatinya mengatakan bahwa gangguan keamanan itu terjadi karena rakyat sudah sangat menderita, Dengan pertimbangan itu, disamping bertindak tegas ia pun mempunyai cara lain untuk menolong mereka.
Seorang anggota KNIL, terlebih lagi pasukan marsose, dikenakan peraturan-peraturan yang cukup keras. Mereka dilarang bergaul dengan rakyat. Hal itu disengaja oleh pemerintah kolonial agar mereka tidak berpihak kepada bangsanya. Tetapi bagi Gatot, larangan itu tidak sepenuhnya ditaati.
Dengan caranya sendiri, ia berusaha membantu keluarga orang-orang yang terpaksa ditangkap dan dihukumnya. Baginya, pelaksanaan tugas dan perasaan kemanusiaan adalah dua hal yang berbeda. Dan ia ingin melaksanakan dua hal itu sebaik mungkin. Sebagian dari gajinya diberikannya kepada keluarga para korban, sebagai modal agar mereka dapat berdagang kecil-kecilan dengan demikian kehidupan anak-anak mereka tertolong. Cara-cara yang dilakukan Gatot, yang menyalahi peraturan yang ada itu rupanya diketahui oleh komandannya. Karena itu ia seringkali mendapat teguran. Di depan komandannya ia patuh tetapi dibelakang ia tetap melanjutkan bantuannya kepada rakyat kecil walaupun berakibat sebagian biaya sekolah adiknya yang ia tanggung harus dikuranginya.
Dari daerah Bekasi – Cikarang Gatot dipindahkan ke Ambon. Disini ia mengalami pertempuran dengan pasukan Jepang, ketika Perang Pacifik pecah. Pasukan Belanda yang bertahan di daerah ini tidak mampu menahan serangan lawannya yang jauh lebih kuat. Setelah pertahanan Ambon bobol, Gatot menyingkir ke Ujungpandang. Dari situ ia kembali kekota kelahirannya, Banyumas dan hidup sebagai seorang sipil. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan diri sama sekali. Jepang mengetahui siapa Gatot Subroto dan kemampuan apa yang dimilikinya. Karena itu ia diminta untuk mengepalai sebuah Detasemen Polisi. Dengan demikian mulailah ia bertugas dibawah pemerintah Jepang.
Dalam masa itu, apa yang menjadi kebiasaannya dalam menghadapi rakyat kecil, tetap dilakukannya. Karena itu ia memperoleh simpati masyarakat. Ketika pemerintah pendudukan Jepang membentuk Peta (Tentara Pembela Tanah Air), Gatot pun inendaftarkan diri. la dikirim ke Bogor untuk mengikuti latihan. Tentu saja baginya yang sudah beipengalaman dalam dinas militer Belanda, latihan itu tidak merupakan hal yang luar biasa Seteiah selesai, ia diangkat menjadi Cudando (Komandan Kompi) di Sumpyuh, Banyumas.
Setiap kesatuan Peta dipimpin oleh orang Indonesia Anggota militer Jepang yang ditempatkan dalam kesatuan itu hanya bertugas sebagai pelatih. Begitu pula halnya dengan kesatuan yang dipimpin Gatot Hubungan antara Gatot dengan para pelatih tidak selamanya berjalan baik. Sering kali para pelatih itu bertindak diluar batas.
Suatu kali dalam tahun 1944, Kompi Gatot mengadakan latihan penjagaan pantai. Gatot melihat bahwa anak buahnya sudah terlalu letih. Ia meminta kepada pelatih supaya latihan itu dihentikan, tetapi hal itu tidak digubris. Gatot tak dapat menahan marahnya Ia melepaskan pedang dan atributnya Sambil meninggalkan tempat latihan, ia berkata dengan lantang, ”Buat apa saya jadi cudanco!”.
Tindakan itu cukup mencemaskan para pelatih. Bila Gatot mengadukan peristiwa itu kepada atasan mereka tak ayal para pelatih akan menerima hukuman. Karena itu latihan segera dihentikan. Pedang Gatot diambil dan dikembalikan kepadanya Para pelatih minta maaf dan sekaligus memohon agar peristiwa itu dianggap selesai.
Pengalaman selama berdinas dalam KNIL membantu Gatot untuk melakukan tugasnya dengan baik. Sebagai bintara, mungkin ia tidak begitu memahami ilmu militer, tetapi seluk-beluk tugas, praktek kerja dan sikap mental prajurit sudah dikuasainya dengan sempurna Karena itulah ia kemudian memperoleh promosi dari cudando menjadi daidanco (Komandan Batalyon). Hal itu berarti bertambahnya kepercayaan atasan dan sekaligus bertambahnya tugas. Namun semuanya dapat dilaksanakan Gatot dengan baik.
Ia berada di Banyumas ketika kemerdekaan Indonesia di proklamasikan. Maka mulailah masa baru baginya dan juga bagi seluruh bangsanya Sekaligus juga tugas baru. Pada hari-hari pertama sesudah proklamasi itu, para pemuda sibuk melakukan usaha-usaha merebut senjata dari pasukan Jepang sebagai modal untuk mempertahankan kemerdekaan. Gatot pun tak terhidar dari usaha itu. Di Banyumas, ia berhasil mengambil alih kekuasaan kepolisian dan sesudah itu ia diangkat menjadi Kepala Kepolisian Karesidenan Banyumas. Bersama-sama dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat), ia aktif berunding dengan komandan militer Jepang dalam usaha memperoleh senjata.
Setelah pemerintah mendekritkan pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Banyumas dibentuk sebuah Divisi yang disebut Divisi V. Kolonel Soedirman diangkat menjadi Komandan Divisi dan Gatot menjadi Kepala Siasat. la ikut mendampingi Soedirman dalam pertempuran Ambarawa.
Disini kepemimpinan Gatot semakin teruji. la diangkat menjadi Komandan Sektor. Kepada anak buahnya selalu dikatakannya, ”Jagalah namamu jangan sampai disebut penghianat bangsa”. Dengan cara itu ia membangkitkan semangat tempur anak buahnya.
Prestasi yang dicapai Gatot membawanya ketingkat yang lebih tinggi dalam hierarki militer. Setelah Kolonel Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar, pimpinan Divisi V
diserahkan kepada Kolonel Sutirto. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Kemudian digantikan oleh Gatot Subroto. Sebagai komandan Divisi, pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel.
Putra Banyumas yang senang humor ini, terbuka untuk didekati oleh anak buahnya. Dalam Divisi V terdapat kesatuan Tentara Pelajar. Mereka dilatih oleh seorang prajurit bekas KNIL. Sifat kebapakan Gatot sangat dihargai oleh para pelajar tersebut. Pada waktu Agresi Militer I Belanda berlangsung, Markas Divisi dikawal oleh satu peleton Tentara Pelajar. Waktu itu pesawat terbang Belanda sudah beberapa kali mengadakan pengintaian diatas kota Purwokerto, tempat kedudukan Divisi V. Suatu malam, dengan menunggang kuda, tanpa memakai baju, Gatot melakukan inspeksi. Ia berhenti didepan pos penjagaan. Sambil bertolak pinggang ia bertanya kepada pelajar yang menjalankan tugas jaga, ”Apakah anak-anak takut ?”. Komandan jaga menjawab dengan polos, ”Takut, Pak.” Dengan tersenyum sambil menganggukan kepala Gatot bereaksi, ”Ya, baik. Orang yang mengatakan tidak takut itu pembohong. Pak Gatot juga takut.” Dengan pendekatan yang demikian anak-anak Tentara Pelajar menghargai Gatot sebagai bapak mereka.
Gatot menikah dalam tahun 1948, dalam usia yang sudah tergolong lanjut, 41 tahun. Gadis pilihannya adalah Supiah yang bertugas dibidang kesehatan. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai enam orang anak, empat laki-laki dan dua perempuan.
Dalam tahun 1948 itu karir Gatot semakin meningkat dan dengan demikian tugasnya pun bertambah berat. Menjelang pemberontakan PKI meletus di Madiun, la diangkat menjadi Panglima Corps Polisi Militer (CPM). Pada waktu itu situasi cukup panas. PKI melakukan agitasi-agitasi menuntut supaya Kabinet Hatta dibubarkan. Mereka mengadakan kekacauan di daerah Sala, agar dengan demikian perhatian pemerintah terpusat ke daerah ini sementara mereka mengadakan persiapan-persiapan untuk melancarkan pemberontakan di Madiun. Culik-menculik, bunuh-membunuh terjadi di Sala yang akhirnya melibatkan pasukan-pasukan yang ada di daerah itu dalam pertempuran.
Untuk mengatasi masalah Sala, Panglima Besar beserta Kepala Staf Markas Besar Angkatan Perang dan Panglima Corps Polisi Militer mengadakan rapat Hasil rapat itu ialah mengusulkan kepada pemerintah agar Kolonel Gatot Subroto di angkat menjadi Gubernur Militer untuk daerah Surakarta, Madiun dan Pati. Usui itu diterima dengan baik, Gatot pun segera bertindak. Anggota-anggota Angkatan perang yang meninggalkan Sala segera dipanggil dengan ancaman apabila mereka tidak memenuhi panggilan dalam batas waktu tertentu, akan dipecat.
Dengan tindakan-tindakan yang tegas, keamanan daerah Sala dapat dipulihkan. Tetapi sementara itu, tanggal 18 September 1948, di Madiun pecah pemberontakan. Gubrenur Militer Gatot Subroto segera menyiapkan pasukan-pasukan untuk menumpasnya. Pasukan-pasukan itu digerakan dari arah barat. Dalam waktu singkat pemberontakan Madiun dapat di padamkan.
Lepas dari tugas yang satu, menyusul tugas yang lain. Tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi militer untuk kedua kalinya. Selaku Gubernur Militer, Gatot segera mengatur siasat gerilya, ia berada di daerah pedalaman, daerah gerilya bersama anak buahnya.
Tercatat dalam masa itu, sebuah kisah yang menggambarkan hubungan baik antara Gatot dengan Jenderal Sudirman. Setelah Roem – Royen Statement dikeluarkan, ibukota RI Yogyakarta dikembalikan oleh Belanda. Pimpinan pemerintahan pun segera kembali ke ibukota tetapi Jenderal Soedirman menolak, dengan alasan tidak sampai hati meninggalkan anak buahnya yang masih bergerilya di daerah pedalaman. Pemerintah meminta jasa baik Gatot dan ia pun menyadari bahwa kehadiran Sudirman di Yogyakarta sangat diperlukan dalam rangka menghadapi perundingan dengan Belanda.
Hubungan Gatot dengan Soedirman selama ini terkenal cukup baik. Sudirman menghargai Gatot yang lebih tua usianya dan lebih berpengalaman sebagai militer. Begitu pula Gatot menghargai Sudirman walaupun masih muda, sebagai atasannya. Gatot menulis surat pribadi kepada Sudirman. Ia meminta agar Panglima besar itu bersedia kembali ke Yogya, demi untuk kepentingan perjuangan selanjutnya. Antara lain dikatakannya, ”Ini kali sebagai saudara tua dari adik, minta ditaati.”Surat Gatot inilah yang berhasil melunakan hati Soedirman.
Sesudah pengakuan kedaulatan, Kolonel Gatot Subroto diserahi tugas sebagai Panglima Tentara dan Teritorium Jawa Tengah berkedudukan di Semarang. Dalam kedudukan ini ia melancarkan operasi-operasi militer untuk memulihkan keamanan yang diganggu oleh pemberontak dibawah pimpinan Amir Fatah dan Kyai Somolangu.
Dua tahun kemudian, tahun 1952, Gatot dipindah ke Ujungpandang. Jabatan yang dipangkunya ialah Panglima Tentara dan Teritoriun VII Wirabuana. Di sini pun ia terlibat dalam tugas-tugas menumpas gangguan keamanan akibat pemberontakan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) di bawah pimpinan Kahar Muzakkar. Selain melaksanakan operasi tempur, ia pun melancarkan kampanye untuk menghimbau para pemberontak agar masuk kembali ke dalam TNI. Hasilnya cukup meggembirakan. Banyak diantara pemberontak yang sadar. Mereka dilantik sebagai anggota TNI dan disalurkan kebidang pekerjaan yang mereka senangi.
Tetapi kebijaksanaan yang ditempuh Gatot tidak diterima oleh semua pihak, dua orang anggota Parlemen, Bebasa Daeng Lalo dan Rondonuwu, mencela kebijaksanaan itu dan mengirim surat ke Parlemen. Mereka menuduh Gatot telah menyalahi kebijaksanaan yang telah digariskan oleh pemerintah pusat.
Masalah itu menjadi berlarut-larut. Bersamaan dengan itu anggota Parlemen membicarakan pula kebijaksanaan yang di tempuh oleh pimpinan Angkatan Darat. Pihak Angkatan Darat yang tersinggung karena masalah intern mereka dicampuri ; oleh Parlemen, yang sebagian besar anggotanya orang-orang yang selama Perang Kemerdekaan bekerjasama dengan Belanda, melancarkan protes. Tanggal 17 Oktober 1952 terjadilan demontrasi di depan istana. Pimpinan Angkatan Darat meminta kepada Presiden Sukarno agar Parlemen dibubarkan. Tuntutan itu ditolak.
Ekses-ekses dari Peristiwa 17 Oktober ini merembet ke daerah-daerah. Tanggal 18 Oktober 1952 Panglima Panglima Tentara dan Teritoriun VII, Kolonel Gatot Subroto, didaulat oleh Kepala Staf, Letnan Kolonel Warrow. Ia dituduh secara terang-terangan terlibat dalam Peristiwa 17 Oktober.
Kejadian itu sangat mengecewakannya. Sebagai militer tua, ia memilih mundur daripada melibatkan diri dalam soal-soal politik. Ia seorang militer profesional, dan baginya tugas adalah tugas.
Sesudah mengundurkan diri dari dinas militer, Gatot menetap di Semarang dan hidup sebagai rakyat biasa. la bermaksud menghabiskan hari tuanya di Ungaran. Di sebuah rumah yang baru dibangunnya. Tetapi jalan hidupnya ternyata lain. la memulai karir sebagai militer dan rupanya harus mengakhirinya sebagai militer pula. Dalam .tahun 1956 pemerintah memanggil Gatot kembali untuk menduduki jabatan Kepala Staf Angkatan Darat. la tak mungkin menolak, karena kehidupan militer adalah dunianya, Dalam tugas yang baru ini ia kemudian ikut menangani pemberontakan PRRI/Permesta yang melanda daerah Sumatra dan Sulawesi Utara sejak tahun 1958. Dalam hal ini ia terpaksa berhadapan dengan teman-temannya sendiri. Bahkan ia harus menerima penyerahan Kolonel Simbolon ketika yang terakhir ini mengakhiri pemberontakannya.
Gatot Subroto menaruh perhatian yang cukup besar terhadap pendidikan militer. Ia merasakan betapa perlunya pendidikan militer formal sebagai syarat bagi pembinaan generasi penerus ABRI meskipun ia sendiri tak pernah mengalaminya. Dari Gatotlah lahir gagasan untuk mendirikan sebuah akademi militer gabungan. yang telah terwujud dalam bentuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), walaupun ia sendiri tidak sempat menyaksikannya.
Sewaktu menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, beberapa kali Gatot Subroto mengadakan kunjungan ke luar negeri, antara lain ke Amerika Serikat, Uni Sovyet, Mesir, Republik Rakyat Cina dan beberapa negara Asia lainnya. Dalam kunjungan itu pribadinya selalu menarik perhatian, seorang perwira Amerika menyamakan Gatot Subroto dengan Faton, Jenderal Amerika yang dalam perang dunia II menjalankan tugas-tugasnya dengan cara praktis dan wajar, tetapi menimbulkan inspirasi yang hampir fanatik terhadap bawahan.
Gatot Subroto mencapai pangkat terakhir sebagai Letnan Jenderal. Dengan pangkat itu ia meninggal dunia tanggal 11 Juni 1962 sebagai akibat serangan jantung. Sebenamya pemerintah sudah merencanakan jabatan baru bagi Gatot Subroto yakni sebagai Penasehat Militer Presiden, jika masa jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat sudah berakhir.
Jenasah Gatot Subroto dimakamkan di Ungaran, sesuai dengan amanatnya. Ia memiliki 17 bintang jasa, dan pangkatnya dinaikkan menjadi jenderal anumerta. Pemerintah menghargai jasa-jasa dan perjuangannya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 222 tahun 1962, tanggal 18 Juni 1962 Gatot Subroto dianugerahi gelar Tokoh Nasional/Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.