Sultan Thaha Syaifuddin

Sultan Thaha Syaifuddin bwThahaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Thaha Syaifuddin dilahirkan tahun 1816. Tiga puluh sembilan tahun kemudian, yakni tahun 1855 ia dinobatkan sebagai Sultan Jambi, menggantikan ayahnya Sultan Fahruddin. Setelah ia memegang tampuk pemerintahan, mulailah ia meninjau kembali perjanjian-perjanjian yang pernah diadakan oleh kerajaan Jambi dengan Belanda. Hubungan antara Jambi dengan Belanda sudah dimulai dalam masa pemerintahan Sultan Abdulkahar. Dalam tahun 1616 Sultan ini mengizinkan Belanda mendirikan kantor dagang di Muara Kumpeh, di tepi Batang Hari. Konsesi yang diberikan kantor Abdulkahar tidak diakui oleh penggantinya, Sultan Sri Ingalogo, bahkan ia memerintahkan anak buahnya membunuh kepala perwakilan Belanda, Sybrandt Swart. Abdulkahar ditangkap Belanda dan di buang ke Ambon. Rasa permusuhan terhadap Belanda berkobar kembali di bawah pemerintahan Sultan berikutnya, yakni Istra Ingalogo. Ia berhasil mengusir orang-orang Belanda dan menutup kantor perwakilan Belanda di Jambi. Tetapi hubungan antara Jambi dan Belanda pulih kembali di bawah pemerintahan Sultan Fahruddin, ayah Sultan Thaha. Belanda kembali membuka kantor dagang di Muara Kumpeh, bahkan menduduki Sabak yang dijaga oleh pasukan yang kuat. Lebih dari itu, kerajaan Jambi ditempatkan di bawah kekuasaan Belanda.
Berbeda dengan ayahnya, Thaha Syaifuddin tidak menyukai Belanda. Ia menyadari, bahwa hubungan dengan Belanda lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Karena itu ia mengumumkan pendiriannya, bahwa ia tidak lagi mengakui kekuasaan Belanda di wilayah kerajaan Jambi. Hal itu berarti ia tidak lagi mengakui perjanjian-perjanjian yang pernah dibuat oleh Sultan-sultan terdahulu dengan Belanda. Selanjutnya ditegaskannya, bahwa ia tidak akan membuat perjanjian apa pun dengan pihak Belanda.
Karena pendirian tersebut pemerintah Belanda mengancam akan menangkap dan mengasingkan Sultan Thaha ke Jakarta. Ancaman itu tidak menyebabkan ia takut dan menurut. Sebaliknya, Sultan Thaha menyiapkan pasukannya untuk menyerang Belanda.
Pemerintah Belanda mengirim residen Palembang Couperts dan Asisten Residen Strom van s’Gravensande ke Jambi untuk mengadakan perjanjian baru dengan sultan, namun usaha itu gagal sama sekali. Sementara itu Belanda bertambah khawatir karena mendengar, bahwa Sultan Thaha mengusahakan bantuan dari luar negeri, yaitu Turki, Inggris dan Amerika. Belanda lalu menyodorkan perjanjian baru yang mereka tetapkan sendiri dan harus ditandatangani Sultan Thaha Syaifuddin dalam 2 x 24 jam. Waktu usul perjanjian dikirimkan kepada Sultan Thaha, Belanda sudah mengirim pasukannya ke Muara Kumpeh di bawah pimpinan Mayor van Langen dengan kekuatan 30 buah kapal perang. Pasukan ini tiba pada tanggal 25 September 1858.
Usui perjanjian Belanda tidak lagi menjadi pembicaraan. Pertempuran sengit segera terjadi. Sultan Thaha memiliki kekuatan yang terdiri dari 30 Buah kapal perang pula yang disiapkan di Muara Tembesi. Istana sultan yang disebut Tanah Pilihan dikosongkan. Sultan dengan keluarganya menyingkir ke Muara Tembesi. Dalam pertempuran itu 3 orang panglima Jambi gugur dan digantikan oleh Raden Mat Tahir.
Di Muara Tembesi Sultan Thaha menyusun pimpinan pembantunya, yaitu:
Pangeran Hadi sebagai panglima; Pangeran Singo sebagai kepala pemerintahan sipil; dan Pangeran Lamong sebagai kepala urusan keuangan.
Meskipun terancam maut, Sultan Thaha tetap kepada pendiriannya yang dinyatakan :
”Saya tidak mau berunding dengan Belanda. Bila saya berunding niscaya hilanglah amal saya empat puluh hari”.
Belanda berusaha mengangkat sultan baru yang juga dari keluarga kesultanan, tetapi tak ada yang bersedia mengikuti kemauan Belanda. Mula-mula mereka meminta Pangeran Ratu yang waktu meletus pertempuran tidak sempat mengikuti Sultan Thaha meninggalkan istana, namun pangeran ini menolak. Kemudian Belanda berhasil membujuk Panembahan Prabu, paman Sultan Thaha. Pada tanggal 2 November 1859 ia dinobatkan sebagai Sultan Jambi dengan gelar Ratu Akhmad Nazaruddin.
Sultan Nazaruddin memenuhi keinginan Belanda dengan menandatangani perjanjian yang memuat ketentuan antara lain yang pokok :
1. Kesultanan Jambi adalah bagian dari jajahan Belanda;
2. Negeri jambi adalah pinjaman yang harus tunduk dan setia kepada pemerintah Hindia Belanda;
3. Bea cukai adalah hak Pemerintah Hindia Belanda; dan
4. Batas negeri Jambi akan ditetapkan oleh Belanda.
Baik pengangkatan Sultan Nazaruddin maupun perjanjian itu tidak di akui Sultan Thaha. Pendirian ini didukung oleh rakyatnya yang menganggap, bahwa wahyu kesultanan Jambi ada pada Sultan Thaha karena ia memiliki keris pusaka Jambi turun-temurun, yaitu keris ”Si Ginjai”.
Sultan Thaha memperoleh kepercayaan besar dari rakyatnya. Ia bersumpah setia bersama rakyatnya. Sumpah setia yang disebut ”Setih Setia” itu besar sekali pengaruhnya ke dalam jiwa rakyat dan mampu mengobarkan semangat perjuangan.
Sementara itu Sultan Thaha berhasil mendapat senjata dengan menukar emas, hasil bumi dan hasil hutan kepada Inggris dan Amerika. Senjata dari Inggris masuk ke daerah Jambi melalui Kuala Tungkal, Siak, Indragiri dan Bengkulu. Mesiu diusahakan dengan cara membuat sendiri. Untuk meningkatkan perjuangan, Sultan Thaha bersama Pangeran Tumenggung Mangkunegara dari Bangka membentuk pasukan Sabilillah. Mereka dilatih oleh ahli-ahli yang didatangkan dari Aceh. Wilayah komandonya dibagi dua, yaitu :
1. Untuk daerah Muara Tembesi sampai Padang dipimpin oleh Sultan Thaha dibantu oleh saudaranya, Pangeran Dipanegara;
2. Daerah mulai dari Muara Tembesi sampai Kerinci di bawah pimpinan Tu­menggung Mangkunegara dengan panglimanya Haji Umar bin Pangeran M. Yasir.
Pembunuhan terhadap orang-orang Belanda terjadi di mana-mana. Benteng Belanda di Jambi diserang oleh rakyat. Akibatnya, kerugian besar bagi Belanda. Kedudukkan Belanda di Surolangun Rawas pada tahun 1890 diserang oleh beberapa hulubalangnya. Belanda memperkuat pasukannya dengan mendatangkan bantuan dari Aceh. Sebaliknya Sultan Thaha mengumpulkan pasukan dari Jambi, Ranti, Maringin, Tebo dan Bungo.
Sebagai persiapan perjuangan jangka panjang sultan memerintahkan supaya tiap rumah memiliki sebuah bedil dan padi supaya disimpan di hutan. Rakyat diperintahkan memperkuat kubu pertahanan masing-masing dan meningkatkan pengrusakan-pengrusakan (sabotase). Kesempatan menyerang harus segera dilaksanakan tanpa menunggu komando.
Pertempuran berkobar di Tanjung Gagak pada tahun 1898 dan menimbulkan banyak korban di dua beiah pihak. Pertempuran pada tahun 1902 mengakibatkan banyak serdadu Belanda tewas terhimpit oleh kayu-kayu balok yang sengaja dibuat rakyat sebagai perangkap. Rakyat mendirikan benteng-benteng di tempat-tempat yang strategis, antara lain di Tanjung, Lembur Maringin, Pelayang, Iiimbur Tembesi, Sungai Mannu, Sungai Alai dan Muara Siau.
Perlawanan Sultan Thaha cukup memusingkan Belanda. Penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan bumiputera Dr. Snouck Hurgronje mengadakan penyelidikan dan kemudian mengusulkan rencana menundukkan Sultan Thaha.
Pada tahun 1881 Sultan Nazaruddin meninggal dunia dan kedudukannya diganti oleh Pangeran Ratu Martaningrat bergelar Sultan Mahilluddin. Pada hakekatnya Sultan Mahilluddin adalah boneka belaka. Selama pemerintahannya, dimana-mana terjadi serangan rakyat terhadap Belanda sehingga mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Oleh karenanya Mahilluddin diberhentikan dengan pensiun dan diganti oleh Pangeran Ratu bergelar Sultan Ahmad Zainuddin. Sebagai Pangeran Ratu atau putera mahkota diangkat putera Sultan Thaha Syaiffuddin yang tidak ikut ayahnya menyingkir. Karena ia baru berusia 3 tahun, maka diangkatlah sebagai walinya 2 orang.
Sultan Ahmad Zainuddin tidak terlalu mematuhi perjanjian dengan Belanda. Dengan izin Sultan Thaha pada tahun 1894 diadakan pertemuan antara Pangeran Ratu (16 tahun) dengan wakil Belanda Roodt van Oldenbarneveldt di kediaman Sultan Thaha di Muara Katalo. Sultan Thaha dan Pangeran Dipanegara hadir pula. Pertemuan itu tidak berhasil menjernihkan suasana.
Pada tanggal 6 Juli 1895 rakyat mencuri sejumlah senjata Belanda di Jambi. Komandan dan wakil urusan politik Belanda mengalami luka-luka pada malam berikutnya. Pelakunya tertembak mati, tetapi Raden Anom yang memimpin serangan itu dapat lolos.
Belanda lalu bertindak keras dengan mengirimkan tentaranya menduduki Muara Tembesi. Tidak ada perlawanan rakyat di sana, karena daerah itu sudah dikosongkan. Sultan Thaha dan Pangeran Dipanegara sudah meninggalkan tempatnya menuju ke Tabir Tengah.
Belandarupanya berbesar hati dan lalu mengadakan patroli ke pedalaman dengan maksud mengejar terus Sultan Thaha hingga menyerah, namun maksud itu tidak berhasil. Sementara itu ditempat-tempat lain terjadi berbagai serangan ataupun perampasan. Pada bulan April 1901 uang 5.000 gulden milik maskapai minyak di Bayung Lincir dirampas. Kedudukan Kontrolir di Surolangun yang sudah diperkuat diserang oleh 100 orang dengan 60 pucuk senjata. Bivak-bivak Belanda terancam serangan pasukan Sultan Thaha yang berjumlah beratus-ratus orang. Lampu-lampu diseberang sungai Tembesi lenyap. Seorang Belanda yang tertidur kedapatan terbunuh dengan pisau. Di Rantau Kapas patroli Belanda ditembaki rakyat.
Belanda terus memperkuat pasukannya dengan mendatangkan bantuan dari Magelang lewat Semarang dan Palembang. Pasukan yang datang pada tanggal 31 Juli 1901 di Surolangun disambut rakyat dengan perlawanan dari tempat kediaman Sultan Thaha di Singkut. Meskipun pasukan Belanda kuat, namun mereka tidak mudah melakukan pengejaran dan menerobos perlawanan rakyat di pedalaman. Tiap kali mereka akan menyerbu pertahanan rakyat, ternyata pertahanan itu sudah kosong. Benteng-benteng rakyat diruntuhkan oleh Belanda, sehingga Sultan Thaha dan pengikutnya makin lama makin terjepit. Dengan segala muslihat Belanda berhasil menarik ke pihaknya pengikut-pengikut sultan yang tidak tahan uji. Dari mereka itu Belanda mendapatkan petunjuk keadaan, kekuatan dan kedudukan pasukan Sultan Thaha.
Dalam tahun 1904 tentara Belanda menyerbu tempat persembunyian Sultan Thaha di Sungai Aro. Pada pukul 05.30 pagi-pagi pusat persembunyian diserang namun Sultan Thaha beserta pengikutnya berhasil lolos ke sebelah hilir Sungai Aro. Dalam pertempuran sengit itu ada 2 orang panglima Jambi tewas, yaitu Jenang Buncit dan Berahim Panjang. Dua mayat itu dibawa Belanda ke Muaro Tebo untuk diteliti. Sebuah laporan Belanda mengatakan, bahwa mayat Jenang Buncit adalah mayat Sultan Thaha. Laporan itu tidak dibenarkan dan ditolak oleh hakim Ahmad yang menyaksikan mayat itu. Oleh karenanya hakim Ahmad ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat.
Sesungguhnya Sultan Thaha berhasil meloloskan diri. la tidak pernah ditangkap oleh Belanda. la meninggal dunia di Muara Tebo pada tanggal 26 April 1904 dalam usia lanjut, yaitu 88 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Muara Tebo.
Sejak penyergapan di Sungai Aro tersebut, pasukan Sultan Thaha bercerai-berai, namun pasukan-pasukan kecil yang terpisah-pisah masih mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Baru pada tahun 1907 perlawanan rakyat Jambi dapat dikatakan padam, yaitu dengan panglimanya yang terakhir Raden Mat Tahir mati dikeroyok oleh serdadu-serdadu Belanda pada tanggal 7 September 1907.
Sampai akhir hayatnya, Sultan Thaha Syaiffuddin, Sultan Jambi terakhir, tidak mau menyerah kepada Belanda.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa dan perjuangnya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 079/TK/Tahun 1977 tanggal 24 Oktober 1977 Sultan Thaha dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.