Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tijahahu bwTahun 1817 penduduk Maluku di bawah pimpinan Pattimura mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda. Perlawanan berkobar pada mulanya di Saparua, kemudian meluas di pulau-pulau lain. Salah satu di antaranya ialah pulau Nusalaut. Pulau ini terletak di sebelah tenggara pulau Saparua, hanya dipisahkan oleh suatu selat. Nusalaut juga disebut Nusahalowano yang berarti ”Pulau Emas”. Disebut demikian bukanlah karena di Nusalaut ada tambang emas, namun hasil cengkihnya terkenal bermutu tinggi dan berjumlah besar hingga dapat mengalirkan ”emas” ke kantong rakyat. Karena cengkihnya dimonopoli Belanda, maka akhirnya rakyat Nusalaut melarat dan tertekan hidupnya.
Nusalaut memang dipandang penting baik oleh Belanda hingga didirikannya benteng di sana, maupun oleh kaum pemberontak yang berpusat di Saparua. Anthone Rebhok, pembantu utama Kapitan Pattimura ditugaskan khusus membina semangat rakyat Nusalaut. Raja Abubu, yaitu Paulus Tiahahu diangkat oleh rakyat sebagai pemimpin perlawanan disana. Meskipun ia telah berusia lanjut, namun pengaruhnya besar sekali.
Waktu diadakan pertemuan besar di hutan Saniri pada tanggal 14 Mei 1817 untuk memilih Paulus Tiahahu datang terlambat. Sebabnya ialah karena ia berusaha membujuk puteri tunggalnya, Martha Christina, agar mau tinggal di rumah, tetapi gadis cilik itu tidak mau dan memaksa ikut ayahnya.
Meskipun Paulus dan puterinya datang terlambat, namun mereka masih sempat ikut mengangkat sumpah setia bersama-sama dengan rakyat banyak yang hadir di hutan Saniri, bahwa tidak akan ada pengkhianatan terhadap perjuangan, dan siapa yang menyeleweng, akan dihukum mati di tiang gantungan.
Sumpah setia yang di ucapkan rakyat dengan hikmat itu besar sekali pengaruhnya kepada jiwa pejuang, khususnya bagi si gadis kecil Martha Christina. Ia dilahirkan kurang lebih pada tahun 1800. Yang tercatat hanyalah waktu perlawanan Maluku meletus pada tahun 1817, gadis kecil dari Nusalaut itu berumur kurang lebih 17 tahun. Ibunya sudah meninggal dunia. Oleh karena itu satu-satunya milik Martha Christina ialah ayahnya yang amat dicintainya. Demikian pula untuk Paulus Tiahahu, gadis cilik itu adalah milik satu-satunya dan segala-galanya yang tak ada bandingannya. Dalam mengikuti perlawanan ia selalu tampak menyandang bedil yang panjangnya hampir sama dengan tinggi badannya. Ia selalu mendampingi ayahnya.
Para raja, patih, dan kapitan Nusalaut sejak semula berpendirian tegas, yaitu mengikuti jejak Kapitan Pattimura. Selanjutnya pun tidak pernah ketinggalan mempertahankan daerah-daerah lain terhadap serangan Belanda.
Setelah benteng Duurstede di Saparua jatuh di tangan rakyat pada tanggal 17 Mei 1817, para pemimpin seluruh Nusalaut yang terdiri dari tujuh negeri, semuanya ikut menandatangani proklamasi. Proklamasi itu menyatakan pertanggung jawaban tentang sebab-sebab mereka melawan Belanda, tidak lain karena Belanda telah menetapkan peraturan-peraturan yang amat memberatkan beban rakyat dan bertindak sewenang-wenang.
Paulus Tiahahu yang ditunjuk oleh Pattimura menjadi Kapitan di Nusalaut telah memilih pembantu utamanya, yaitu raja Hihanussa dari negeri Titawai yang jauh lebih muda dari padanya dan cerdas serta berani. Ia mempunyai bakat dan kecakapan menghimpun barisan rakyat.
Pada hari-hari permulaan perlawanan, benteng Beverwijk di Nusalaut dengan mudah dapat direbut oleh rakyat yang mendadak semua serdadu di dalam benteng itu mati dibunuh rakyat. Keinatu pun diserang oleh pasukan-pasukan rakyat dengan hasil gemilang. Di dalam pertempuran-pertempuran itu menonjollah peranan gadis cilik Martha Christina, terutama dalam mengobarkan semangat juang.
Rakyat Nusalaut senantiasa berjaga-jaga, sebab sewaktu-waktu Belanda tentu akan merebut kembali benteng Beverwijk. Perjuangan di Nusalaut dipercayakan kepada kepala-kepala pasukan rakyat, sebab Paulus Tiahahu bersama puterinya dan para kapitan memenuhi panggilan Pattimura berjuang di Jazirah tenggara Saparua.
Tenaga dan keberanian serta ketangguhan para raja, patih dan kapitan Nusalaut memang dapat diandalkan, tetapi karena para pemimpinnya berjuang di Saparua hingga Nusalaut seolah-olah kosong, maka pertahanan di Nusalaut menjadi lemah. Pengobar semangat rakyat berjuang, yaitu gadis Martha Christina Tijahahu pun mengikuti ayahnya berjuang di Saparua yang terancam oleh serangan pembalasan Belanda. Selain itu terjadi pula pengkhianatan yang dilakukan oleh patih Akoon, Dominggus Tawanakotta. Ia menceritakan kepada pihak Belanda Dominggus Tawanakotta.
Pada tanggal 26 Juli 1817 Komandan Groot memerintahkan Kapten Pool berpatroli dengan kapal Iris di perairan Nusalaut. Pada waktu kapal mendekati negeri Akoon, terlihatlah sebuah perahu dengan bendera putih mendekati kapal Iris. Seketika itu Iris mengurangi kecepatannya sampai perahu berbendera putih itu merapat dengan kapal. Kemudian naiklah patih Akoon, Dominggus Tuwanakotta ke kapal dan dibawa kepada Kapten Pool. Patih Akoon memberikan keterangan tentang perjuangan rakyat di Nusalaut dan membuka rahasia kekuatan rakyat, baik yang di Nusalaut maupun yang mempertahankan benteng Duurstede di Saparua. Keterangan pengkhianatan dari Akoon itu pokoknya ialah:
Sebagian rakyat Nusalaut menentang pemberontakan dan menunggu-nunggu kedatangan Belanda. Mereka telah mufakat akan serentak dengan raja-rajanya menyerahkan orang-orang yang memberontak ke­pada Belanda. Di Benteng Beverwijk di Leinatu hanya ada dua pucuk meriam; besi tumpuannya telah dihancurkan. Benteng itu tidak dijaga. Benteng Duurstede di Saparua masih utuh, hanya meriam-meriamnya telah dipaku oleh Thomas Matulessy dan pintu-pintunya ditutup dengan palang besi. Pantai-pantai penuh dengan kolam yang diberi ranjau. Setiap orang Saparua diberi bedil.
Berdasarkan keterangan yang diberikan Patih Akoon itu, Belanda menyiapkan serangan untuk merebut kembali benteng Beverwijk. Pada tanggal 6 November 1817 tampaklah kapal perang Belanda Zwaluw dimuka Benteng Beverwijk. Kapal yang dipimpin oleh Duval itu kecuali membawa pasukan dari Ambon, juga membawa dua orang raja, yaitu Raja Tahelu dan Raja Waai. Dua orang raja itu turun kedarat dengan sekoci berbendera bendera putih. Di muka pasukan rakyat pengawal benteng Beverwijk mereka membacakan surat dari Laksamana Muda Buyskes yang memimpin tentara Belanda di Ambon. Surat itu berisi seruan kepada rakyat Nusalaut supaya menyerah. Seruan itu ditolak dengan tegas oleh pasukan rakyat. Mereka menyerukan, agar Belanda menghubungi kembali kapalnya. Komandan Duval tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menunggu kesempatan yang lebih baik. Mereka lalu meneruskan patrolinya di sepanjang pesisir.
Belanda kemudian berhasil memperalat seorang guru dari Sila bernama Sosalisa. la datang ke dalam benteng Beverwijk dan mengatakan atas nama raja-raja Nusalaut, bahwa para raja akan mengadakan perdamaian dengan Belanda. Dengan tipu muslihat sang guru itulah, maka Belanda berhasil memasuki benteng pada tanggal 10 November 1817 hingga tanpa perlawanan benteng Beverwijk direbut kembali oleh Belanda. Setelah pertahanan rakyat di benteng Beverwijk menyerah, Belanda mengadakan penangkapan-penangkapan.
Sementara itu pertempuran di Ulat dan Ouw (Saparua) berjalan amat sengit sekali. Enampuluh serdadu Belanda di bawah pimpinan Richermont menyerang, tetapi dipukul mundur. Kekalahan itu dilaporkan kepada opsir Meyer, tetapi tidak dipercayainya. Kemudian opsir Meyer berangkat dengan 100 orang ke Ulat. Rakyat segera menyambutnya dengan tembakan gencar dan Belanda hampir kehabisan peluru. Setelah mendapat kiriman peluru dari kapal, Meyer menyerang lagi dengan sangkur terhunus. Musuh berhasil menerobos tujuh kubu, namun pada waktu mencapai kubu ke delapan, Richermont tertembak mati. Kapten Krieger tertembak hingga hancur senapannya dan tergores dadanya. Ia jatuh pingsan, ditolong oleh kawannya Hooft dan ternyata dada dan perutnya terluka. Meyer memerintahkan maju terus. Serdadu-serdadu sewaannya diancam, siapa yang mundur akan ditembak. 

 

Rakyat bersorak-sorai dan berululele amat riuh sekali. Di tengah-tengah pasukan itulah muncul gadis Martha Christina dengan rambutnya teruraiJce belakang, berbaju biru dan berikat kepala sehelai kain berang (merah). la menyertai ayahnya Paulus Tiahahu untuk memberikan semangat perjuangan kepada pasukan rakyat dan kepada wanita-wanita dari Ulat dan Ouw yang semuanya bersenjata. Untuk pertama kalinya Belanda menghadapi prajurit-prajurit wanita yang bersemangat tinggi dan berhasil memberi dorongan kepada rakyat untuk menghancurkan musuh.
Dalam pertempuran Martha Christina Tijahahu menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Selain mengobarkan semangat perjuangan, ia pun ikut berperang dengan gagah berani, sehingga seorang penulis sejarah bangsa Belanda mencatat dalam bukunya sebagai berikut:
”Benteng Beverwijk bukan saja merupakan peringatan bagi kompeni atas berdirinya kembali kekuasaan Belanda dalam tahun 1817, tetapi juga atas keberanian, sifat yang tidak takut mati dan kesetiaan dari seorang gadis pahlawan, yaitu Khristina Martha. Di mana ayahnya berada, disitu-lah pula terdapat Martha Christina Tijahahu dengan rambutnya yang ber-ombak terurai memegang tombak dan parang”.
Martha Christina Tijahahu memang seorang Srikandi, seorang pejuang wanita yang tangguh, walaupun masih muda usianya. Di tengah medan laga yang seru, tampak Martha Christina Tijahahu yang pantang mundur itu, menarikan tarian perang memberikan semangat kepada pasukannya untuk menghancurkan lawan. Mengenai hal ini Verheul seorang perwira dan penulis Belanda mencatat dalam bukunya sebagai berikut,
”Dalam suasana pertempuran bukan saja ia telah menolong memikul senjata ayahnya, tetapi ia juga telah ikut serta dengan pemimpin-pemimpin perang mengadakan tarian perang dan telah memperlihatkan kecakapan, keberanian dan kewibawaannya.”
Dalam pertempuran di Ulat dan Ouw, tekadnya untuk menghancurkan Belanda benar-benar tampak. Ketika senjata api sudah tidak dapat digunakan lagi karena kehabisan peluru, Martha Christina Tijahahu menggunakan batu-batu untuk melawan musuh. Kepala pasukan Belanda Krieger dilempari batu.
Sementara itu Belanda tidak mau mundur, sedang di lautan pun terjadi pertempuran sengit. Korban dari dua belah pihak tidak sedikit yang jatuh. Di tengah-tengah pertempuran yang dahsyat itu, tiba-tiba terdengar desingan tembakan dari atas pohon kelapa dan jatuhlah opsir Meyer terluka parah oleh tembakan rakyat. Sorak sorai rakyat menjulang ke angkasa, sedang Belanda menarik diri dari pertempuran.
Pada tanggal 12 November 1817 Belanda mengadakan serangan umum. Serangan itu hebat sekali sehingga barisan rakyat kehabisan peluru dan menghujani musuh dengan batu-batu. Jatuhlah pertahanan terakhir kaum pejuang di Lease. Seluruh Ulat dan Ouw rata dengan tanah, dibakar dan dirampok habis-habisan. Pasukan rakyat yang lari ke hutan-hutan terus dikejar oleh pasukan Belanda.
Sementara itu beberapa orang kapitan tertangkap, antara lain Said Perintah, Paulus Tiahahu dengan putrinya Martha Christina, Hihanussa, dari Titawai, Raja Ulat dan Patih Ouw. Semua tawanan diangkut ke kapal Eversten.
Semalam sebelumnya, yaitu pada tangga 10 November 1817 malam Kapitan Pattimura, Panglima perang Rakyat Maluku dengan pengiringnya ditangkap di Bukit Booi karena pengkhianatan Raja Booi. Kapitan Pattimura dan pembantu-pembantunya di bawa ke kapal Eversten. Semua pemimpin perlawanan yang tertangkap itu dirantai tangan dan kakinya. Kemudian pada tanggal 17 Desember 1817 Panglima Perang Rakyat Maluku dengan tiga orang pembantu utamanya, yaitu Kapitan Anthone Rhebok, Letnan Philip Latumahina dan Raja Said Perintah dihukum gantung sampai mati.
Di kapal Eversten Raja Paulus Tiahahu yang sudah berusia lanjut dihadapkan kepada Laksamana Muda Buyskes. Orang tua itu tetap menentang muka Buyskes dengan geram dan gemetaran. Pada ketika itu jatuhlah hukuman atas diri Paulus Tiahahu yang keluar dari mulut Buyskes, ”Raja Paulus Tiahahu akan dihukum mati di Nusalaut”. Paulus Tiahahu tidak mengeluarkan kata sepatah kata pun, namun puterinya yang tidak dirantai maju ke depan dan meminta Buyskes agar dia boleh menggantikan ayahnya menjalani hukuman gantung sampai mati. Permintaan itu tidak pernah mendapat jawaban.
Dengan pengawalan ketat Paulus Tiahahu dibawa ke Nusalaut. Puterinya, Martha Christina Tijahahu selalu mengikuti disampingnya. Pada tanggal 17 November 1817 mereka tiba di depan benteng Beverwijk. Hukuman gantung sampai mati atas diri Paulus Tiahahu akan segera dilaksanakan. Atas perintah pimpinan tentara Belanda, Martha Christina di bawa masuk ke dalam benteng agar tidak menyaksikan pelaksanaan hukuman mati ayahnya. Komisaris Jenderal Belanda menyerahkan Martha Christina kepada Sekolahan di Nusalaut agar gadis itu mandapat pendidikan dan pengarahan, namun Martha Christina melarikan diri dan mengembara di hutan-hutan. Hidupnya hanya dengan makan buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang ada. Akhirnya ia di tangkap bersama-sama dengan para pejuang lain.
Pada akhir Desember 1817 kapal Eversten berangkat dari Ambon ke pulau Jawa, antara lain membawa 39 orang tawanan perang yang telah diputuskan dibuang ke Jawa untuk dipekerjakan di perkebunan kopi. Dalam jumlah 39 orang itulah termasuk pula puteri Nusalaut, Martha Christina. Sejak di tangkap ia diam seribu bahasa, tidak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Ia tetap tegak namun tampak tambah hari tambah lesu. Rambutnya yang hitam pekat tetap terurai ke belakang, karena ia telah bersumpah, ”Tidak akan menggulung rambutnya sebelum mandi dengan darah Belanda.”
Overste Verheul, kapten kapal Eversten yang membawa mereka, berusaha membujuk Martha Christina, namun tidak mendapat jawaban apa pun. Dalam catatannya yang kemudian diumumkan, Verheul menulis, sebagai berikut:
”Segala sesuatu yang saya dengar dan saksikan tentang Martha Christina merupakan bukti jiwa besar dan keberanian seorang pahlawan, kasih terhadap orang tua, dan bertahan dalam berkabung karena kehilangan ayahnya”. Martha Christina menolak untuk berbicara, menolak pula memakan obat, bahkan menolak makan dan minum. Akhirnya badannya menjadi amat lemah. Pada tanggal 1 menjelang 2 Januari 1818 gadis pahlawan, Srikandi Nusalaut. Martha Christina, menghembuskan nafasnya yang terakhir. Jenazahnya diserahkan kepada pelukan laut antara Pulau Bum dan Pulau Tiga (Nusa Ela, Hatala dan Nusalaut), yang ia cintai sepenuh jiwanya dan sepanjang hayatnya, yang kini membenam jasad Srikandinya.
Pemerintah RI berdasarkan SK Presiden RI No. 012/TK/Tahun 1969 tanggal 20 Mei 1969 menganugerahi Martha Chistina Tijahahu gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Posted in Pahlawan Nasional.