Sultan Agung Anyokrokusumo

Sultan Agung Anyokrokusumo bwDalam sejarah Indonesia, Sultan Agung Anyokrokusumo tercatat sebagai penguasa lokal Indonesia yang’pertama kali mengorganisir perlawanan terhadap Belanda secara teratur dan besar-besaran. Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah, bila diingat bahwa pasukan yang dikerahkan dalam perlawanan itu berpangkalan di pedalaman Jawa Tengah, sedangkan lawan yang dihadapi berkedudukan di Jakarta. Pada masa itu, dekade ketiga abad ke-17, perhubungan belum selancar seperti sekarang. Jarak yang cukup jauh itu harus ditempuh dengan berjalan kaki melalui hutan-hutan lebat, rawa-rawa dan sungai-sungai, atau dengan kapal-kapal yang sangat sederhana melalui laut.
Dua kali serangan dilancarkan. Walaupun gagal, namun serangan itu telah memperlihatkan sikap Sultan Agung yang menolak adanya kekuasaan asing di sekitar wilayahnya. la dilahirkan tahun 1591. Nama kecilnya ialah Raden Mas Rangsang, cucu dari pendiri kerajaan Mataram, Sutawijaya, yang lebih dikenal dengan nama Panembahan Senopati. Umur 22 tahun, yakni pada tahun 1611, Mas Rangsang sudah dinobatkan sebagai Raja Mataram.
Dalam masa pemerintahan Sultan Agung, Kekuasaan Mataram meliputi wilayah yang luas, dari Cirebon sampai Pasuruan. Tetapi pada masa awal pemerintahannya ia terpaksa menggunakan kekuatan senjata untuk memadamkan pemberontakan yang dilancarkan oleh beberapa orang penguasa daerah yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Perlawanan yang cukup hebat dihadapinya sewaktu ia berusaha menaklukkan penguasa Surabaya yang telah berhasil menyusun kekuatan gabungan dengan penguasa-penguasa daerah pesisir utara Jawa Timur. Namun pada akhirnya pemberontakan ini berhasil dipadamkannya.
Setelah selesai memadamkan pemberontakan. Sultan Agung berhasil menguasai Jawa Barat, yakni Cirebon dan Sumedang. Tetapi pada waktu itu pula ia mulai merasakan adanya ancaman dari kekuasaan asing, yakni VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie = Persekutuan Dagang Belanda). Awal abad ke-17 Belanda sudah menduduki beberapa wilayah Indonesia, antara lain Batavia (Jakarta). Tujuan semula yang semata-mata untuk berdagang, kemudian meningkat kepada usaha untuk menguasai wilayah. Kedudukan Belanda di Jakarta merupakan ancaman terhadap intergritas Mataram. Belanda menuntut hak monopoli atas perdagangan. Sebaliknya, Sultan Agung bersedia berdagang secara bebas dengan bangsa apa pun, asal saja mereka menghormati kadaulatan Mataram. Dari sinilah timbulnya pertentangan antara Mataram dengan VOC.
Pertentangan Mataram – VOC sudah terjadi sejak tahun 1618. Pada tanggal 18 Agustus 1618 Mataram menyerang kedudukan VOC. Alasannya karena kapal-kapal Belanda melakukan perampokan di bandar Jepara. Sesudah itu kantor VOC di Jakarta diperkuat. Sultan Agung menganggap dengan adanya kantor VOC di Jepara, Belanda telah langsung mengancam wilayahnya. VOC, karena memerlukan beras mengirim utusannya ke Jepara. Usaha itu berhasil, tetapi setelah utusan itu membeli beras, ia lalu menyerang Jepara sebagai balas dendam terhadap” penyerangan Mataram atau kantor VOC di Jepara. Korban pihak Jepara kira-kira 30 orang.
Serangan kepada Jepara itu diulangi oleh Jan Pieterszoon Coen dengan mengerahkan 400 orang, namun pertahanan Jepara kuat sehingga tidak dapat dijebolkan. Pada kesempatan itu VOC pun menghancurkan kantor dagang Inggris dan membakarnya habis. Antara tahun 1620-1629 Mataram dalam keadaan bermusuhan dengan VOC. Hubungan antara Mataram dan Malaka tidak bebas lagi dan harus melalui Jakarta. Mataram sudah minta agar VOC mengirim utusan kepada Sultan Agung, tetapi tak pernah dipenuhi. Oleh karena itu Mataram mengadakan persiapan. Kini bagi Mataram tinggal satu jalan yang terbuka, yaitu VOC harus dihancurkan.
Belanda sendiri memang merasa bahwa pada suatu ketika Sultan Agung pasti akan menyerang Batavia. Tetapi mereka tidak percaya bahwa Sultan Agung dapat menggerakkan tentaranya secara besar-besaran ke Batavia. Bukankah jaraknya cukup jauh dan rintangan alamnya begitu besar.
Pimpinan VOC pernah menulis surat kepada Dewan sesudah pasukan Mataram menyerang Batavia, bahwa mustahil Mataram dapat menyerang Batavia. Katanya Mustahillah pasukan Mataram mengirimkan pasukan secara besar-besaran melalui daerah-daerah pedalaman yang jauh sekali. Melalui rawa-rawa luas, daerah-daerah yang kosong, ganas dan berhutan-hutan sampai sungai-sungai disekitar Karawang. Lebih berat dan sulit adalah pengangkutan alat-alat perangnya, seperti meriam, mesiu bergerobak-gerobak dan sebagainya.
Memang serangan Sultan Agung ke Batavia bukanlah pekerjaan ringan. Serangan tersebut membutuhkan perencanaan yang masak dan perbekalan yang cukup. Dalam sejarah peperangan di Indonesia, serangan pasukan Mataram ke Batavia merupakan peristiwa bersejarah yang besar.
Pantai Utara mula-mula mulai ditutup bagi para pedagang asing. Sedangkan Mataram sendiri, secara berturut-turut mengirim perahu-perahunya membawa bahan makanan sebagai taktik akan penyerbuannya. Mula-mula pada bulan April 1628 datang 14 perahu memuat beras di bawah pimpinan Kyai Ronggo dengan tugas mengajukan permintaan agar VOC mau membantu Mataram menyerang Banten, tetapi VOC menolak. Kemudian pada 22 Agustus 1628 masuk 50 kapal di depan bandar Jakarta hingga VOC mulai khawatir. Dua hari kemudian datang tujuh perahu lagi yang minta ijin akan meneruskan pelayaran ke Malaka. VOC berusaha agar perahu-perahu dari Mataram satu sama lain tidak dapat saling berhubungan, namun gagal, bahkan pada pagi harinya 20 buah perahu menyerang benteng Belanda. Holandia. Orang-orang Mataram naik ke darat. Mula-mula mereka tidak langsung mendekati Jakarta, tetapi berada di Marunda. Baru esok harinya meraka melakukan serangan dibawah pimpinan Baurekso, Bupati kendal. Kompeni membakar habis kampung-kampung yang berada di dekat bentengnya sendiri, agar pasukan Mataram tidak dapat berlindung di kampung-kampung itu. Akhirnya pasukan Mataram terpaksa membuat benteng yang dikelilingi parit-parit. Di parit-parit itu terjadi pertempuran. Tanggal 21 September 1628 pasukan Mataram menaiki benteng dengan tangga sambil membunyikan tanda-tanda bahaya untuk mengurangi perhatian pasukan Belanda kepada penyerang-penyerang benteng, namun Belanda pun waspada dan segera menembaki pasukan Mataram dengan gencarnya. Pasukan Mataram secara keseluruhan gagal untuk memasuki benteng. Meskipun demikian ada juga kelompok-kelompok kecil yang berhasil memasuki benteng, dengan tombak mereka mengamuk dan menyerang serdadu-serdadu Belanda. Sesudah ditembaki berkali-kali dengan senapan barulah pasukan Mataram mundur ke hutan-hutan. Kompeni mengerahkan 2.866 orang serdadu di bawah pimpinan Jaccques Leferbres yang menyerbu kampung-kampung tempat tinggal pasukan Mataram. Mereka menyusuri sungai-sungai, memasuki hutan-hutan untuk mengusir pasukan Mataram. Sedangkan pasukan Mataram mengadakan perlawanan sengit. Baurekso dan puteranya tewas dalam pertempuran itu.
Bau mesiu belum lenyap, datanglah pasukan Mataram yang berjalan dari darat dipimpin oleh Suro Agul-agul, Mandurorejo dan Uposanto. Pertempuran sengit segera terjadi. Pasukan Mataram membendung kali Ciliwung dan mengalirkan bangkai-bangkai dan segala yang serba busuk ke Jakarta seperti dahulu waktu mereka berhasil merebut Surabaya. Kali ini cara seperti itu tak berhasil untuk merebut Jakarta. Hingga akhir tahun 1628 pasukan Mataram tidak berhasil menduduki Jakarta.
Tahun berikutnya, 1629, pasukan Mataram berangkat lagi menuju Jakarta dengan perlengkapan senjata api. Mereka datang berkuda membawa bendera dan panji-panji. Gajah dibawa untuk menarik peralatan berat, meriam dan sebagainya. Bahan makanan untuk tentara Mataram disediakan dalam gudang-gudang di Cirebon dan Tegal. Adanya persiapan yang rapi dan persediaan makanan yang cukup itu dibocorkan oleh seorang mata-mata kepada VOC. Belanda lalu membakar semua gudang bahan makanan. Namun demikian penyerangan terjadi juga. Kali ini sasarannya bukan benteng Holandia, tetapi benteng Bommel. Pasukan Mataram menembaki benteng. Sementara itu Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Jenderal VOC, meninggal dunia. Tentara Mataram mundur dari Jakarta dengan meninggalkan korban yang tidak sedikit, dan sebagian ditawan oleh VOC.
Pada tahun 1630 diadakan perundingan antara Mataram dan VOC, tetapi gagal. Kemudian terdengar desas-desus Mataram akan menyerang lagi. Oleh karena itu VOC bertindak, mengirimkan armada terdiri dari delapan buah kapal untuk menghancurkan perahu-perahu Mataram dan perbekalannya di sepanjang pantai utara. Antara tahun 1630-1634 perahu-perahu Mataram sering mengadakan serbuan kecil-kecilan terhadap kapal Belanda. Sejak 1641 hubungan Mataram dengan VOC tidak begitu baik, karena tawanan Belanda tidak dilepaskan oleh Mataram. Hingga Sultan Agung wafat hubungan itu tidak mengalami perbaikkan.
Sultan Agung tidak berhasil mengusir Belanda dari tanah Jawa (Indonesia), namun telah menunjukkan keberanian dan keteguhan hatinya mempertahankan kadaulatan dan kemerdekaannya serta menanamkan benih-benih anti penjajahan. Sebagai raja Jawa ia terpuji dan terkenal bijaksana. la amat patuh dan tekun kepada agama Islam. Ia berhasil memadukan Keislaman dan Kejawaan yang tertuang di dalam penanggalan (kalender) Jawa yang disusunnya. Semula orang Jawa memakai kalender Saka yang mengikuti peredaran matahari, waktu itu sudah sampai tahun 1554. Tahun berikutnya 1555, ditetapkan oleh Sultan Agung mengikuti kalender Hijriyah dengan meneruskan angka tahun Saka, 1555. Perhitungannya berdasarkan peredaran bulan seperti halnya tahun Hijriyah. Hingga sekarang penanggalan Jawa dipakai di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sultan Agung pun terkenal sebagai budayawan yang mahir. Amanatnya tentang ajaran kebatinan, perpaduan lahir dan batin, dituangkan dalam kitab ”Sastra Gending”.
Hingga akhir hayatnya Sultan Agung tidak pernah mau berdamai dengan Belanda. la meninggal dunia pada tahun 1645. Jenazahnya dikebumikan di istana Imogiri yang dibuatnya sendiri untuk makam raja-raja Mataram (kemudian Yogyakarta dan Surakarta).
Kedudukannya sebagai raja Mataram digantikan oleh puteranya, yaitu Amangkurat I pada tahun 1646. Sejak itu tercatat dalam sejarah kemunduran dan kemerosotan Mataram dalam arti wilayahnya dari sedikit ke sedikit jatuh dalam kekuasaan dan akhirnya sebagai daerah jajahan Belanda.
Pemerintah RI menghargai perjuangan yang telah dilakukan Sultan Agung dalam mempertahankan kemerdekaan. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI no. 106/TK/Tahun 1975 tertanggal 3 November 1945, Sultan Agung dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Posted in Pahlawan Nasional.