Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang bwRaden Adjeng Kustiyah Wujaningsih Retno Edi yang disebut Puteri Serang atau Nyi Ageng Serang tetap terpuji sepanjang masa sebagai wanita pejuang dan pejuang wanita. Pemerintah RI dengan SK Presiden No. 084/ TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974 menganugerahi Nyi Ageng Serang gelar Pahlawan Nasional.
Siapakah Nyi Ageng Serang itu dan apa jasa pengabdiannya dalam sejarah Indonesia?
Raden Adjeng Wulaningsih (juga disebut Wulangsih) Retno Edi adalah keturunan ke-9 Waliullah Sunan Kalijaga yang dimakamkan di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah, dari isterinya puteri Waliullah Sunan Gunungjati di Cirebon.
Ayah Nyi Ageng Serang ialah Penembahan Notoprodjo yang kemudian terkenal sebagai Penembahan Serang. Beliau mempunyai dua orang anak. Yang tua laki-laki disebut Notoprodjo Muda dan yang kedua wanita Raden Adjeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi yang lahir pada tahun 1752.
Serang sebuah desa terpencil, kurang lebih 40 km di sebelah utara Sala dan sebelah barat laut Sumberlawang dan Gundih (Purwodadi). Letaknya strategis, diantara kota-kota Semarang, Sala dan Yogyakarta. Di zaman pemberontakan Pangeran Mangkubumi (kemudian Sultan Hamengku Buwono I) Serang menjadi tulang punggung pemberontakan. Bupatinya, Pangeran Notoprodjo diangkat menjadi Panglima Perang bergelar Panembahan Serang. Sang panembahan gigih sekali menghadapi kompeni Belanda. Perlawanan panembahan Serang terhenti karena ada perdamaian.
Panembahan Serang di hari tuanya lebih menekuni agamanya. Sesuai dengan gelarnya ”Panembahan” yang berarti pendeta atau ulama dan keturunan wali Sunan Kalijaga ia sungguh alim dan teguh pada pendiriannya sebagai seorang muslim. Putra-putrinya diberikan pendidikan agama bahkan beberapa waktu lamanya mereka dikirim ke Kadilangu, Demak, bekas kediaman Sunan Kalijaga, untuk menuntut dan memperdalam ilmu agama Islam.
Sehabis pemberontakan Mangkubumi yang berakhir dengan Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Panembahan Serang tidak mau kembali ke Sala dan tidak pula ke Yogyakarta. alasannya karena sudah lanjut usia, lebih suka tinggal di Serang. Padahal yang sebenarnya karena tidak setuju politik raja-raja Jawa yang berdamai dengan Belanda (VOC).
Panembahan Serang yang amat dipatuhi seluruh rakyatnya merupakan duri di mata VOC. Oleh karenanya dicari-carinya alasan oleh Belanda untuk menyerang Serang dan membinasakan sang Panembahan, meskipun ia sudah berusia lanjut. Disaat Panembahan Serang sudah menghentikan perlawanannya, justru waktu itu Serang di serang Belanda. Serangan mendadak membuat rakyat kacau balau dan banyak yang melarikan diri ke hutan. Perlawanan dilakukan namun mengalami kekalahan, sebab mereka tidak siap tempur. Dalam pertempuran itu banyak pejuang terbunuh, termasuk Notoprodjo Muda.
Kemudian Panembahan Serang jatuh sakit dan meninggal dunia. Tak lama lagi isterinya menyusul ke alam baka. Raden Adjeng Kustiyah, Putri Serang, sekarang tinggal seorang diri di kabupaten yang besar dan luas. Ia tidak merasa gentar hidup sendiri berkat pendidikan ayah ibunya yang selalu memperkuat keyakinannya dan menebalkan imannya. Pendirian Putri Serang tak tergoyahkan oleh apapun, bahkan siap menghadapi apa pun yang dapat terjadi atas dirinya.
Sebagai seorang gadis. Raden Adjeng Kustiyah mewarisi darah juang dan kepahlawanan dari ayah dan leluhurnya. Ia berdarah patriotik, anti penjajahan dan anti pengaruh asing yang merugikan.
Gadis Kustiyah memang seorang gadis yang membara semangatnya. Ia akan berjuang terus untuk membela rakyat, dan kebenaran, serta berjuang untuk tanah airnya. Karena itu ia tidak rela Belanda menyerbu daerah Serang, karena itu merupakan penghinaan dari bangsa asing. Hatinya makin gemas, dan ia tidak akan menyerah. Bukankah ayah dan ibunya sudah tiada karena bersedih melihat kakaknya gugur oleh serbuan pasukan Belanda itu. Raden Adjeng Kustiyah tidak menyerah kalah bahkan membulatkan tekadnya.
Raden Adjeng Kustiyah berjuang bukan untuk kepentingannya sendiri, tetapi juga untuk masa depan bangsanya, untuk angkatan bangsa yang akan datang. Raden Adjeng Kustiyah mencoba bertahan, tak mau menyerah kepada Belanda, namun seberapalah kekuatan seorang wanita menghadapi kekuatan bersenjata Akhirnya ia di tangkap. Peristiwa itu didengar oleh Sultan Hamengku Buwono II yang segera bertindak, minta kepada Belanda supaya Raden Adjeng Kustiyah diserahkan ke kraton Yogyakarta. Dengan pengawalan serdadu Belanda Putri Serang itu lalu diserahkan ke kraton.
Beberapa waktu sebelumnya Sultan Hamengku Buwono I wafat dan diganti oleh putranya, yaitu Gusti R.M. Sundoro menjadi Sultan Hamengku Buwono II yang dinobatkan pada tanggal 2 April 1792.
Di dalam kraton Putri Serang mendapat perlakuan penuh hormat. la senantiasa tampak melatih diri dan mempertebal imannya. Perangainya amat menarik.
Walaupun tinggal di kraton, Nyi Ageng tetap memikirkan nasib rakyat. Kepada Sultan Hamengku Buwono II, ia berkata,”Apa arti hidup kalau hanya memikirkan kepentingan diri sendiri? Yang lebih baik ialah mementingkan perbaikan nasib rakyat”.
Sultan Hamengku Buwono II dan Raden Adjeng Kustiyah saling menghormati dalam beberapa kali pembicaraan, kedua-duanya saling menunjukan pendiriannya yang sama-sama tidak suka kepada Belanda. Sebenarnya Sultan Hamengku Buwono II memerlukan Raden Adjeng Kustiyah sebagai teman berunding tentang siasat menghadapi Belanda, namun Putri Serang lebih suka tinggal di tempat kelahirannya.
Nyi Ageng Serang makin prihatin hidup di kraton, meskipun serba mewah. Beliau ingin hidup dengan sederhana. Beliau sering kali menyepi, dan berpuasa untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Beliau mendengarkan keluhan rakyat yang tetap tertanam dalam hatinya. Nyi Ageng Serang tidak rela kerajaan Mataram ditindak dan diperlakukan semena-mena oleh Belanda, karena itu Nyi Ageng Serang memperhebat latihan kejiwaan untuk mempersiapkan perjuangan melawan penjajahan. Beliau selalu memberi wejangan kepada para pengikutnya, ”Jiwa dan raga, lahir dan batin manusia itu ada persamaannya dengan rumah dan halamannya. Rumah dan halaman membutuhkan pagar, demikian pula jiwa dan raga kita memerlukan pagar pengaman, berupa santapan rohani agar tetap sehat. Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia harus memiliki jiwa yang putih bersih, hidup jujur, bertekad pada kemauan, waspada dan mampu melenyapkan perbuatan yang kotor. Orang yang mendekatkan diri pada Tuhan tidak akan terperosok hidupnya, bahkan akan mendapat tuntunan-Nya, dan keanugerahan yang tidak ternilai harganya. Akan dihormati, diakui kebenarannya sepanjang masa sebagai seorang yang jujur, berani dan mempunyai tujuan terarah”.
Karena ingin lebih dekat kepada rakyat, maka Raden Adjeng Kustiyah atau Nyi Ageng Serang atas permintaannya sendiri kembali ke Serang dengan mendapat pengawalan dari kraton. Di tempat yang terpencil itu ia tidak banyak mendengar persoalan kraton dengan Belanda. Tak lama kemudian Raden Adjeng Kustiyah kawin dengan Pangeran Mutia Kusumowijoyo. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai seorang putra dan seorang putri yang bernama Raden Adjeng Kustinah. Putri itu kemudian kawin dengan Pangeran Mangkudiningrat, putra Sultan Hamengku Buwono II. Perkawinan ini melahirkan putra tunggal yang terkenal dengan nama R.M. Papak kemudian bergelar Pangeran Notoprodjo atau Aryo Papak.
R.M. Papak itu kemudian bergelar Notoprodjo, sedang ayahnya Pangeran Mutia Kusumowidjoyo terkenal disebut Pangeran atau Adipati Serang. Putra dan ayahnya tersebut terkenal dalam perang Diponegoro sebagai Pahlawan yang gigih dalam barisan pemberontak.
Pada tahun 1807 Hindia Belanda diperintahkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang kejam dan terkenal disebut Jenderal Guntur. Ia banyak mengadakan tindakan di bidang administrasi, peradilan dan mengubah peraturan dalam kraton Surakarta dan Yogyakarta dalam hal protokol. Residen Belanda tidak lagi harus terlalu menghormati kepada Sunan dan Sultan, tetapi diberinya kedudukan yang kurang lebih sama.
Sultan Yogyakarta, Hamengku Buwono II, tidak menyetujui perobahan itu. Akibatnya ia diturunkan dari tahta dan diangkatlah putranya menjadi Sultan Hamengku Buwono III bergelar Sultan Raja, ayah Pangeran Diponegoro yang terkenal. Namun Sultan Hamengku Buwono II (Sepuh) masih diperkenankan tinggal di dalam kraton.
Kemudian terjadilah perobahan mengenai kekuasaan Belanda di Indonesia sebagai akibat negeri Belanda kalah perang di Eropa. Jajahannya, Hindia Belanda, diserahkan kepada Inggris dengan Gubernurnya Stamford Raffles. Dalam kekuasaan Raffles tahta kesultanan Yogyakarta dikembalikan kepada Sultan Hamengku Buwono II dan Sultan Hamengku Buwono III dikembalikan pula menjadi putra mahkota. Pengembalian tahta kepada Sultan Hamengku Buwono II itu mengandung ketetapan baru dalam perjanjian, bahwa Sultan Hamengku Buwono III menyerahkan beberapa daerah dan membayar sejumlah uang. Setelah Raffles kembali ke Jakarta, Sultan Hamengku Buwono II tidak mau menepati perjanjian. Akhirnya ia ditangkap dan diasingkan ke Penang.
Sultan Sepuh yang .diasingkan ke Penang, diikuti pula oleh Pangeran Mangkudiningrat (putra Hamengku Buwono II) yang telah kawin dengan putri Nyi Ageng Serang, Raden Adjeng Kustinah dan telah mempunyai seorang anak, R.M. Papak.
Peristiwa itu merupakan kemalangan baru bagi Nyi Ageng Serang dan menambah keprihatinannya, sekaligus menambah kebenciannya kepada penjajah. Tak lama kemudian R.A. Mangkudiningrat meninggal dunia. Sekarang Nyi Ageng Serang bertindak mengasuh cucunya R.M. Papak dengan mengarungi kesukaran hidup lahir batin. Namun jiwanya tetap kuat membaja tak tergoyahkan oleh penderitaan dalam menghadapi berbagai kemungkinan. Cucu yang tercinta R.M. Papak itu oleh eyangnya diasuh baik-baik dan di idam-idamkan menjadi pejuang mengusir penjajah.
Waktu mendengar Diponegoro telah berperang melawan Belanda. Nyi Ageng Serang segera memerintahkan cucunya R.M. Papak mengerahkan rakyat untuk berjuang di pihak Diponegoro.
Ketika utusan Pangeran Diponegoro menghadap Nyi Ageng Serang untuk meminta bantuan, beliau segera menjawab, ”Baik, permintaan itu saya terima dan akan segera saya laksanakan, katanya kepada Dimas Ontowiryo (Pangeran Diponegoro) dan Pamanda Gusti Pangeran Mangkubumi, bahwa saya akan membawa seorang pemuda sebagai pembantu, yaitu cucunya Raden Mas Papak. la akan membantu perjuangan sampai akhir”. Rakyatnya memang mewarisi semangat Panembahan Serang segera mengangkat senjata di bawah pimpinan R.M. Papak yang didukung sepenuhnya oleh Nyi Ageng Serang. Segala penyerangan, perlawanan dan siasatnya tidak lepas dari petunjuk Putri Serang. Dalam Perang Diponegoro itu R.M. Papak bergelar Basah Notoprodjo.
Pasukan Serang merupakan barisan yang tangguh dan banyak membikin Belanda kucar-kacir, khususnya di daerah Purwodadi, Semarang, Demak, Kudus, Juwono dan Rembang.
Gerakan dari Serang itu telah membuat Pangeran Diponegoro berbesar hati dan sewaktu-waktu perlu ia mengirimkan utusan untuk minta nasehat Putri Serang. Sebagai penasehat Pangeran Diponegoro, Nyi Serang sejajar dengan P. Mangkubumi dan
P. Joyokusumo yang ahli siasat perang.
Atas prakarsa Nyi Ageng Serang yang sudah berusia 73 tahun diadakan pasukan khusus yang bertugas gerilya disebut pasukan ”Sesabet” dengan pimpinan perwira-perwira muda yang gagah berani. Nyi Ageng dalam mendukung pasukan Serang itu kadang-kadang ditandu, naik joli. Siang malam ia berpikir dan bersiasat untuk kemenangan pasukan Diponegoro.
Selendang pusaka Nyi Serang warisan dari K.R. Ageng, permaisuri
Hamengku Buwono I, dipercaya rakyat sebagai pusaka sakti. Sewaktu-waktu selendang itu dilambai-lambaikan, berkobarlah semangat perjuangan rakyat dengan keberaniannya menggempur musuh.
Teknik Nyi Ageng pun mengagumkan. Manakala dekat musuh, pasukannya diperintahkan berkerudung daun lumbu, yaitu daun keladi yang hijau. Kerudung itu dari kejauhan menyerupai tanaman keladi dan pasukannya menyerupai kebun keladi. Dekat musuh mendadak keladi menyerang hingga musuh kalang kabut. Taktik ini banyak berhasil.
Nyi Ageng Serang selalu memberikan dorongan dan kekuatan bathin pada Pangeran Diponegoro. Beliau pernah berkata, ”Diponegoro adalah seorang pribadi yang ulet, tekun dan bersemangat. Sangat sulit mencari orang seperti Diponegoro, baik mengenai kepribadiannya, maupun kegagahan fisiknya, Diponegoro juga seorang yang jujur, berwibawa, sederhanadan tidak mengejar jabatan. Ia hanya mencintai keadilan. Maka ia berjuang mencari keadilan yang selama ini hilang, karena di injak-injak oleh penjajah.
Bilamana engkau mencari seorang yang berani berkorban untuk rakyat maka dialah orangnya. Bilamana engkau mencari seorang yang jujur dan taqwa, maka dialah orangnya. Ia berpendirian keras dan berani karena benar”.
Pada tahun 1826 Sultan Hamengku Buwono II (Sepuh) dipulangkan dari pengasingan untuk kembali lagi bertahta, semata-mata agar dapat melunakkan hati Diponegoro. Sedikitnya diharapkan dapat mempengaruhi Diponegoro, cucunya, hingga mau mengadakan perdamaian. Namun Sultan Sepuh sebenarnya tidak berbuat apa pun ke arah perdamaian, karena ia menyetujui tindakan P. Diponegoro mengangkat senjata untuk mengusir penjajah. Sementara itu P. Mangkudiningrat (putra Hamengku Buwono II dan menantu Nyi Ageng Serang) dan ibunya Kanjeng Ratu Emas, meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari pengasingan.
Bertambah pula kesedihan Nyi Ageng Serang, namun ia tetap berjuang di garis depan. Ia pemah langsung memimpin gerilya di sekitar desa Beku, kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Atas permintaan Diponegoro ia mendekati Yogyakarta dan bermarkas di Prambanan. Dengan demikian ia ada hubungan langsung dengan kraton dan dapat memberikan nasehat kepada Sultan Sepuh (Hamengku Buwono II).
Pangeran Papak Notoprodjo, berjuang dengan gagah berani dan banyak memperoleh kemenangan. Oleh karenanya pasukan Serang amat diperhatikan musuh. Akhirnya tentara Belanda berhasil mengepung mendesak dan menghimpit mereka. Dalam keadaan amat sulit seluruh pasukan Serang berjumlah 850 orang menyerah kepada Kolonial Cleerens di dekat Plered, pada tanggal 21 Juni 1827.
Sejarah berkelanjutan, Diponegoro ditipu dan dikhianati Jenderal De Kock dalam perundingan tanggal 28 Maret 1830 di Magelang. Pangeran itu di tangkap, lalu diasingkan ke Menado yang kemudian dipindahkan ke Ujung Pandang.
Bangsawan yang ikut dajam perundingan khianat, yaitu Kyai Badaruddin dan Basah Mertonegoro dibawa ke Yogyakarta dan ditahan di Kepatihan bersama-sama dengan R.M. Papak yang bergelar Basah Notoprodjo dan Iain-lain bangsawan tawanan perang.
Atas nasehat Nyi Ageng Serang R.M. Papak menyatakan kesediaannya kepada Belanda akan memerintahkan pasukannya meletakkan senjata dengan syarat bahwa dia dibebaskan dan diadakan perundingan.
Persyaratan itu dikabulkan dan perundingan diadakan di Ungaran dengan wakil-wakil Belanda. Kolonial Cochius dan F.G. Valk. Hasilnya R.M. Papak ditetapkan sebagai Pangeran merdeka di Serang yang meliputi daerah kekuasaan Panembahan Serang dahulu, dengan berhak atas gelar Pangeran Adipati.
Beberapa waktu kemudian Nyi Ageng Serang wafat dalam usia 76 tahun dan dalam keadaan tenang. Jenazahnya dimakamkan di desa Beku, kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Di sekitar desa itu Nyi Ageng Serang pernah bergerilya melawan Belanda. Jenazahnya dimakamkan di sana atas permintaan almarhumah. Makamnya sekarang sudah dipugar dan dimuliakan.

Posted in Pahlawan Nasional.